Anda di halaman 1dari 4

Nama : MOH.

GOFALDI

NIM : A031191138

Tugas : Rmk 9 Etika Profesi Akuntan Publik

KASUS ETIKA DALAM PRAKTEK AKUNTANSI KEUANGAN DAN

AKUNTANSI MANAJEMEN

A. Tanggung Jawab Akuntansi Keuangan Dan Akuntansi Menejemen


Etika dalam akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen merupakan suatu bidang
keuangan yang merupakan sebuah bidang yang luas. Akuntansi keuangan merupakan
bidang akuntansi yang mengkhususkan fungsi dan aktivitasnya pada kegiatan
pengolahan data akuntansi dari suatu perusahaan dan penyusunan laporan keuangan
untuk memenuhi kebutuhan berbagai pihak yaitu pihak internal dan pihak external.
Sedangkan seorang akuntan keuangan bertanggung jawab untuk:

1. Menyusun laporan keuangan dari perusahaan secara integral, sehingga dapat


digunakan oleh pihak internal maupun pihak external perusahaan dalam
pengambilan keputusan.
2. Membuat laporan keuangan yang sesuai dengan karakteristik kualitatif laporan
keuangan IAI, 2004 yaitu dapat dipahami, relevan materialistis, keandalan, dapat
dibandingkan, kendala informasi yang relevan dan handal, serta penyajian yang
wajar.

Akuntansi manajemen merupakan suatu sistem akuntansi yang berkaitan dengan


ketentuan dan penggunaan informasi akuntansi untuk manajer atau manajemen dalam
suatu organisasidan untuk memberikan dasar kepada manajemen untuk membuat
keputusan bisnis yang akan memungkinkan manajemen akan lebih siap dalam
pengelolaan dan melakukan fungsi control. Tanggung jawab yang dimiliki oleh seorang
akuntan manajemen, yaitu:

1. Perencanaan, menyusun dan berpartisipasi dalam mengembangkan sistem


perencanaan, menyusun sasaran-sasaran yang diharapkan, dan memilih cara-
cara yang tepat untuk memonitor arah kemajuan dalam pencapaian sasaran.
2. Pengevaluasian, mempertimbangkan implikasi-implikasi historical dan kejadian-
kejadian yang diharapkan, serta membantu memilih cara terbaik untuk bertindak.
3. Pengendalian, menjamin integritas informasi finansial yang berhubungan dengan
aktivitas organisasi dan sumber-sumbernya, memonitor dan mengukur prestasi,
dan mengadakan tindakan koreksi yang diperlukan untuk mengembalikan
kegiatan pada cara-cara yang diharapkan.
4. Menjamin pertanggungjawaban sumber, mengimplementasikan suatu sistem
pelaporan yang disesuaikan dengan pusat-pusat pertanggungjawaban dalam
suatu organisasi sehingga sistem pelaporan tersebut dapat memberikan
kontribusi kepada efektifitas penggunaan sumber daya dan pengukuran prestasi
manajemen.
5. Pelaporan eksternal, ikut berpartisipasi dalam proses mengembangkan prinsip-
prinsip akuntansi yang mendasari pelaporan eksternal.

B. Contoh Kasus Etika dalam Praktek Akuntansi Keuangan dan Akuntansi


Manajemen
1. Pada Desember 2006, Indonesia Corruptin Watch (ICW) melaporkan kasus dugaan
korupsi ke KPK dalam ruislaag (tukar guling) antara asset PT. Industri sandang
Nusantara (ISN), sebuah BUMN yang bergerak di bidang tekstil, dengan asset PT.
GDC sebuah perusahaan swasta. Dalam ruislaag tersebut PT.ISN menukarkan
tanah seluas 178.497 m² di kawasan Senayan dengan tanah seluas 47 ha beserta
pabrik dan mesin di karawang. Berdasarkan hasil temuan BPK semester II Tahun
anggaran 1998/1999, menyatakan ruislaag itu berpotensi merugikan keuangan
Negara sebesar Rp 121,628 Miliar. Kerugian itu terdiri dari kekurangan luas
bangunan pabrik dan mesin milik PT. GDC senilai Rp 63, 954 Miliar, berdasarkan
penilaian aktiva tetap oleh PT. Sucofindo pada 1999 penyusutan nilai asset pabrik
milik PT. GDC senilai Rp 31,546 Miliar dan kelebihan perhitungan harga tanah
senilai Rp 0,127 miliar. Selain itu juga ditemukan bahwa terdapat nilai saham yang
belum dibayarkan oleh PT. GDC sebesar Rp 26 Miliar. Telaah : Karena
ketidakjelasan prosedur dan syarat-syarat tukar guling aset, sehingga sangat rawan
untuk diselewengkan. Seharusnya keputusan tukar guling tidak hanya menjadi
wewenang salah satu pejabat saja melainkan harus melibatkan beberapa pejabat
sebagai controller yang baik. Selain itu juga diperlukan sebuah aturan baku oleh
perusahaan mengenai tukar guling, sehingga kemungkinan adanya tindak
penyelewengan dapat diminimalisir. Selain itu dibutuhkan juga pengawasan dari
lembaga bersangkutan terhadap penelitian team yang meneliti kelengkapan
mengenai status aset, dokumen kelengkapan aset, sehingga tidak ada manipulasi
dari nilai aset tersebut serta proses tukar menukar. Walaupun menggunakan jasa
appraisal, penilaian asset tetap juga harus dikontrol untuk mencegah kecurangan.

Solusi :

Dari kasus diatas dapat dibuktikan bahwa PT.ISN memiliki pengendalian intern yang
sangat buruk. Sehingga PT. ISN rawan dicurangi oleh rekanan-rekanan bisnisnya
maupun oleh oknum pejabat perusahaan yang ingin mengambil keuntungan. Oleh
karena itu, hal pertama yang harus dibenahi oleh PT. ISN adalah soal pengendalian
internalnya.

2. PT. Kimia Farma merupakan salah satu dari produsen obat milik pemerintah yang
ada di Indonesia. Pada Audit tanggal 31 Desember 2011, manajemen Kimia Farma
melaporkan adanya laba bersih yaitu sebesar Rp 132 milyar, dan laporan tersebut di
audit oleh Hans Tuanakotta & Mustofa(HTM). Namun, Kementrian BUMN dan
BAPEPAM menilai bahwa laba bersih tersebut terlalu besar dan mengandung unsur
rekayasa. Setelah dilakukan audit ulang, pada 3 Oktober 2002 laporan keuangan
Kimia Farma 2001 disajikan kembali dan hasilnya telah ditemukan kesalahan yang
cukup mendasar. Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yang disajikan
hanya sebesar Rp 99,56 miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau
24,7% dari laba awal yang telah dilaporkan. Kesalahan itu timbul pada unit Industri
Bahan Baku yaitu kesalahan berupa overstated penjualan sebesar Rp 2,7 miliar,
pada unit Logistik Sentral berupa overstated persediaan barang sebesar Rp 23,9
miliar, pada unit Pedagang Besar Farmasi berupa overstated persediaan sebesar
Rp 8,1 miliar dan overstated penjualan sebesar Rp 10,7 miliar. Diduga upaya
penggelembungan dana yang dilakukan oleh pihak direksi Kimia Farma, dilakukan
untuk menarik para investor untuk menanamkan modalnya kepada PT. Kimia
Farma. Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai
yang ada dalam daftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui
direktur produksinya, menerbitkan dua buah daftar harga persediaan pada tanggal 1
dan 3 Februari 2002. Daftar harga per 3 Februari ini telah digelembungkan nilainya
dan dijadikan dasar penilaian persediaan pada unit distribusi Kimia Farma per 31
Desember 2001. Kesalahan penyajian berkaitan dengan penjualan adalah dengan
dilakukannya pencatatan ganda atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut
dilakukan pada unit-unit yang tidak disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil
dideteksi. Berdasarkan penyelidikan Bapepam, disebutkan bahwa KAP yang
mengaudit laporan keuangan PT Kimia Farma telah mengikuti standar audit yang
berlaku, namun gagal mendeteksi kecurangan tersebut. Selain itu, KAP tersebut
juga tidak terbukti membantu manajemen melakukan kecurangan tersebut.Sebagai
akibat dari kejadiannya, ini maka PT Kimia Farma dikenakan denda sebesar Rp 500
juta, direksi lama PT Kimia Farma terkena denda Rp 1 miliar, serta partner HTM
yang mengaudit Kimia Farma didenda sebesar 100 juta rupiah. Kesalahan yang
dilakukan oleh partner HTM tersebut adalah bahwa ia tidak berhasil mengatasi risiko
audit dalam mendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan PT Kimia
Farma, walaupun ia telah menjalankan audit sesuai SPAP.

Dari kasus pelanggaran etika di atas kita bisa menyimpulkan bahwa kesadaran
seseoranglah yang harusnya lebih di perdalam meskipun sudah ada kode etik yang
diterapkan namun nyatanya masih banyak para akuntan di luar sana yang masi
melanggarnya bahkan tidak memperdulikan apa yang akan terjadi. Dan ini seharusnya
menjadi pelajaran bagi institusi akuntan. Seharusnya ada regulasi dengan membuat
hukuman yang berat bagi pelanggar etika yang menjalankan prkateknya tidak sesuai
dengan kode etik yang sudah ditetapkan.