Anda di halaman 1dari 3

a. Bagaimana perasaan kelompok pertama kali bertemu ODHA?

Perasaan kelompok mahasiswa saat bertemu ODHA yaitu sangat antusias dikarenakan kelompok
akan mendengarkan dan menyimak informan berbicara terkait dengan HIV/AIDS. Selain itu informan
memberikan informasi dan sharing bareng dengan kelompok mahasiswa membuat kelompok
mahasiswa jadi nambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman berbicara dengan ODHA.

Apa yang kelompok lakukan untuk mengatasi stigma kelompok terhadap ODHA / rasa khawatir
saat berinteraksi?

Kelompok melakukan pendekatan partisipasi dan partnership serta sharing bareng untuk
mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. Stigma mengenai penyakit HIV/AIDS yang
mengarah pada ODHA menjadi hambatan komunikasi dalam melakukan proses-proses sosial.
Mereka akan membatasi interaksi dengan lingkungan sosialnya karena khawatir akan reaksi dan
penerimaan dirinya. Tetapi Informan (Bu Sinta dan Pak Romi) merasa aman dengan membuka status
dirinya kepada kelompok mahasiswa yang mau menerima mereka karena adanya rasa percaya diri,
aman, serta dapat sharing ke kelompok mahasiswa dan dapat berinteraksi dengan bagus. Sehingga
informan/ODHA tidak merasa khawatir saat berinteraksi dengan mahaiswa.

Gambarkan status kesehatan odha saat ini

Odha dapat beraktivitas dengan normal, odha dapat berinteraksi dengan bagus dan tidak menarik diri,
odha dapat menyampaikan materi dengan baik dan penuh pecaya diri.

Riwayat minum ARV

Odha (pak Rohmi) mengatakan bahwa sejak 2012 sudah hidup dengan HIV positif, sudah selama 10
tahun odha meminum ARV

Odha (ibu sinta) mengatakan bahwa sejak 2012 sudah hidup dengan HIV positif, sudah selama 17 tahun
odha meninum ARV

Tingkat kepatuhannya

Pak Rohmi mengatakan patuh dalam minum obat ARV walaupun merasa bosan tetapi odha mempunya
prinsip yaitu hanya boleh telat selama 10 menit saja disaat bosan/ malas minum obat ARV.

Ibu Sinta mengatakan patuh dalam meminum obat ARV, disaat banyak masalah didalam hidup akan
merasa semakin bosan saat minum obat ARV dan merasa capek selalu meminumobat ARV, tapi kembali
dengan komitmen dan dengan motivasi ingin ingin melihat anaknya tumbuh dewasa, ingin melihat
anaknya menyelesaikan pendidikannya denang baik, dan ingin melihat anaknya menikah jadi harus
sehat dan patuh meminum obat ARV.

Penanganan ODHA menangani stigma

Ibu Sinta mengatakan mendapatkan stigma dan diskriminasi pertama kalo ketika mengakses pelayanan
kesahatan ketika melahirkan anak ke 2, di situ beliau berfikir jangankan masyarakat awam petugas
kesehatan pun takut. Akhirnya itu yang membuat beliau termotivasi untuk bergabung dengan LSM
kesehatan untuk tahu lebih banyak tentang HIV/AIDS semengerikan apa penyakit itu, ketika beliau
sudah banyak tau tentang penyakit HIV/AIDS, bertemu dengan teman-teman yang sepenanggungan/
senasib, dan membentuk kelompok dukungan sebaya mulai dari situ kecemasan beliau berkurang,
menguatkan dan memotivasi beliau bahwa beliau tidak sendiri serta masih banyak orang- orang
nasibnya sama seperti beliau, dan itu membuat beliau lebih bersyukur.

Pengalaman ODHA terkait pemberdayaan secara ekonomi dan sosial

Apa yang dapat kelompok sintesis kan dari hasil interaksi tersebut?

Apa yang perlu di pertahankan dan di tingkatkan oleh perawat dalam perawatan HIV/Aids,

serta peran ODHA keluarga dan masyarakat.

Peran keluarga terhadap ODHA yaitu, Saat ODHA memasuki masa transisi sejak mengetahui dirinya
terinfeksi virus HIV, peran keluarga menjadi penting dan menjadi satu kesatuan sistim dalam melihat
dan memahami permasalahan yang sedang terjadi, karena keluarga adalah tempat seorang anak
mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan juga untuk bersosialisasi. Untuk mempertahankan pola hidup
dan melanjutkan satu generasi agar tetap bertahan, maka keluarga sangat diharapkan untuk memainkan
peran yang besar dalam memberi perawatan dan dukungan kepada anggota-anggotanya yang terinfeksi
HIV/AIDS. Hal ini sangat penting karena dukungan yang diberikan oleh keluarga merupakan suatu mata
rantai dalam proses kesembuhan dan proses persiapan ODHA agar dapat kembali bersosialisasi dengan
lingkungannya dan menjalani hidup yang wajar.

Adapun Dukungan Yang Diberikan Keluarga yaitu:

1. Dukungan Emosional. Dukungan emosional merupakan suatu upaya yang diberikan dalam
memperlihatkan perasaan maupun kasih sayang terhadap seseorang ketika berada dalam
kondisi labil. Hal ini seperti yang ditunjukan oleh keluarga ketika ada anggota keluarga yang
terinfeksi HIV/AIDS
2. Dukungan Penghargaan. Perhatian dan penerimaan keluarga kepada ODHA, merupakan suatu
semangat bagi ODHA dalam menjalani kehidupan mereka. Adanya penerimaan dari keluarga
berdampak secara signifikan dalam proses pengobatan yang dilakukan oleh ODHA.
3. Dukungan Materi. Berbagai cara dilakukan oleh keluarga untuk membantu pengiobatan
anaknya. Mereka melakukan berbagai cara untuk memperoleh uang agar dapat membeli obat
yang dikonsumsi oleh anggota keluarga yang terinfeksi.
4. Dukungan Informasi. Upaya yang dilakukan oleh keluarga besar saat menerima atau mengetahui
tentang kondisi anggota keluarga yang terinfeksi HIV adalah berusaha untuk mencari informasi
sebanyak mungkin terkait dengan penyakit yang dialami oleh anak atau anggota keluarganya,
disamping itu mereka meminta saran dari berbagai pihak yang berkepentingan terkait dengan
kondisi yang dialami oleh anak/anggota keluarga lainnya.
5. Dukungan Bersosialisasi. Setelah mengumpulkan informasi dan memperoleh saran dari berbagai
pihak maka keluarga berusaha untuk terlibat di lembaga-lembaga yang memberikan pelayanan
kepada orang dengan HIV/AIDS yaitu melalui kepompokkelompok dukungan. Upaya yang
dilakukan keluarga merupakan suatu cara untuk membantu Orang Dengan HIV/AIDS tidak
merasa terisolasi dari lingkungan sosialnya. (Rahakbauw, 2018)

Peran masyarakat terhadap ODHA yaitu :

Salah satu caranya adalah melalui forum dialog yang difasilitasi untuk mendukung upaya pengurangan
stigma dan diskriminasi terhadap ODHA termasuk memobilisasi massa dalam memberikan dukungan
dan pelayanan kepada mereka yang terinfeksi virus HIV. Selain itu peran masyarakat itu bisa melalui
penyampaian pesan moral untuk senantiasa menghormati dan membantu satu sama lain. Kegiatan
lainnya terkait dengan upaya pencegahan penyebaran kasus HIV & AIDS dan pengurangan stigma serta
diskriminasi terhadap ODHA adalah dengan menyebarluaskan informasi kepada para stakeholder,
seperti pihak Dinas Kesehatan, Trantib, polisi, paramedis serta kepada kelompok masyarakat madani
lainnya. Keberadaan tokoh-tokoh tersebut sangat penting dalam membantu mengubah persepsi negatif
masyarakat terhadap ODHA. (Latifa & Purwaningsih, 2016)

Anda mungkin juga menyukai