Anda di halaman 1dari 17

1

BAB II

LANDASAN TEORITIS

A. Kajian Teoritis

1. Persepsi

1.1 Pengertian Persepsi

Persepsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan

“tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu proses seseorang

mengetahui melalui panca inderanya1. Persepsi diartikan sebagai suatu

proses pengamatan seseorang terhadap lingkungan dengan

menggunakan indera-indera yang dimiliki sehingga ia menjadi sadar

akan segala sesuatu yang ada dilingkungannya.2

Menurut Bimo Walgito persepsi adalah suatu proses yang

didahului oleh penginderaan, yaitu merupakan proses yang berwujud

diterimanya stimulus oleh individu melalui alat inderanya atau juga

disebut proses sensoris. Namun proses itu tidak berhenti sampai di situ

saja, melainkan stimulus itu diteruskan dan selanjutnya merupakan

proses persepsi3. Sedangkan menurut Sarlito W. Sarwono dalam

Rohmaul Listyana dan Yudi Hartono berpendapat persepsi secara

umum merupakan proses perolehan, penafsiran, pemilihan dan

pengaturan informasi indrawi. Persepsi berlangsung pada saat

1
Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 2003), 863
2
2 Indra Tanra, “Persepsi Masyarakat Tentang Perempuan Bercadar”, Jurnal Equilibrium
Pendidikan Sosiologi, Vol. III No. 1/Mei 2015, 118
3
Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: Andi Offset, 2004), 87
2

seseorang menerima stimulus dari dunia luar yang ditangkap oleh

organ-organ bantunya yang kemudian masuk kedalam otak. Persepsi

merupakan proses pencarian informasi untuk dipahami yang

menggunakan alat pengindraan.4

Dengan demikian persepsi adalah suatu proses pengolahan

informasi yang diterima oleh panca indera dari lingkungan dan

diteruskan ke otak untuk diseleksi sehingga menimbulkan penafsiran

yang berupa penilaian dari penginderaan atau pengalaman sebelumnya

1.2 Bentuk-Bentuk Persepsi

Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang

diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa

bentuk :

a. Persepsi melalui Indera Penglihatan

Alat indera merupakan alat utama dalam individu

mengadakan persepsi. Seseorang dapat melihat dengan

matanya tetapi mata bukanlah satu-satunya bagian hingga

individu dapat mempersepsi apa yang dilihatnya, mata

hanyalah salah satu alat atau bagian yang menerima

stimulus, dan stimulus ini dilangsungkan oleh syaraf

sensoris ke otak, hingga akhirnya individu dapat menyadari

apa yang dilihat.

b. Persepsi melalui Indera


4
Rohmaul Listyana dan Yudi Hartono, “Persepsi dan Sikap Masyarakat Terhadap
Penanggalan Jawa dalam Penentuan Waktu Pernikahan (Studi Kasus Desa Jonggrang Kecamatan
Barat Kabupaten Magetan Tahun 2013)”, Jurnal Agastya, Vol. 5, No 1/Januari 2015, 121
3

Pendengaran Orang dapat mendengar sesuatu dengan

alat pendengaran, yaitu telinga. Telinga merupakan salah

satu alat untuk dapat mengetahui sesuatu yang ada di

sekitarnya. Seperti halnya dengan penglihatan, dalam

pendengaran individu dapat mendengar apa yang mengenai

reseptor sebagai suatu respon terhadap stimulus tersebut.

Kalau individu dapat menyadari apa yang didengar, maka

dalam hal ini individu dapat mempersepsi apa yang

didengar, dan terjadilah suatu pengamatan atau persepsi.

c. Persepsi melalui Indera Pencium

Orang dapat mencium bau sesuatu melalui alat indera

pencium yaitu hidung. Sel-sel penerima atau reseptor bau

terletak dalam hidung sebelah dalam. Stimulusnya berwujud

benda-benda yang bersifat khemis atau gas yang dapat

menguap, dan mengenai alat-alat penerima yang ada dalam

hidung, kemudian diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak,

dan sebagian respon dari stimulus tersebut orang dapat

menyadari apa yang diciumnya yaitu bau yang diciumnya.

d. Persepsi melalui Indera Pengecap

Indera pengecap terdapat di lidah. Stimulusnya

merupakan benda cair. Zat cair itu mengenai ujung sel


4

penerima yang terdapat pada lidah, yang kemudian

dilangsungkan oleh syaraf sensoris ke otak, hingga akhirnya

orang dapat menyadari atau mempersepsi tentang apa yang

dikecap itu.

e. Persepsi melalui Indera Peraba (kulit)

Indera ini dapat merasakan rasa sakit, rabaan, tekanan

dan temperatur. Tetapi tidak semua bagian kulit dapat

menerima rasa-rasa ini. Pada bagian-bagian tertentu saja

yang dapat untuk menerima stimulus-stimulus tertentu.

Rasa-rasa tersebut di atas merupakan rasa-rasa kulit yang

primer, sedangkan di samping itu masih terdapat variasi

yang bermacam-macam. Dalam teknan atau rabaan,

stimulusnya langsung mengenai bagian kulit bagian rabaan

atau tekanan. Stimulus ini akan menimbulkan kesadaran

akan lunak, keras, halus, kasar5.

Bentuk persepsi pada intinya merupakan persepsi yang tidak

hanya dilakukan oleh penglihatan saja, namun dengan alat indera

secara lengkap agar menghasilkan suatu data yang maksimal dan

sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. Dimana stimulus itu

bersifat kuat maka hasil yang didapat agar lebih spesifik.

1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Menurut Pareek (1996) dalam Rahmat Dahlan faktor-faktor

yang mempengaruhi persepsi adalah faktor internal individu seseorang


5
Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: Andi Offset, 2004), 90
5

dan faktor eksternal atau objek persepsi. Faktor-faktor internal yang

mempengaruhi persepsi sebagai berikut :

a. Latar belakang

Latar belakang yang mempengaruhi hal-hal yang

dipilih dalam persepsi. Contohnya orang yang

pendidikannya lebih tinggi atau pengetahuan ilmu

agamanya luas yang memiliki cara tertentu untuk

menyeleksi sebuah informasi.

b. Pengalaman.

Hal yang sama dengan latar belakang ialah faktor

pengalaman, pengalaman mempersiapkan seseorang untuk

mencari orang-orang, hal-hal, dan gejala-gejala yang

mungkin serupa dengan pengalaman pribadinya.

c. Kepribadian.

Dimana pola kepribadian yang dimiliki oleh

individu akan menghasilkan persepsi yang berbeda.

Sehubungan dengan itu maka proses terbentuknya persepsi

dipengaruhi oleh diri seseorang persepsi antara satu orang

dengan yang lain itu berbeda atau juga antara satu

kelompok dengan kelompok lain.

d. Sistem nilai.

Sistem nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat

juga berpengaruh pula terhadap persepsi


6

e. Penerimaan diri.

Penerimaan diri merupakan sifat penting yang

memepengaruhi persepsi6.

2. Pedagang Kaki Lima

2.1 Pengertian Pedagang Kaki Lima

Salah satu alternatif dalam mengurangi angka pengangguran.

Tidak sebandingnya antara lapangan pekerjaan dengan angka para

pencari kerja menyebabkan sebagian masyarakat menciptakan

lapangan pekerjaan yang bersifat informal untuk memenuhi

kebutuhan hidupnya.

Pedagang kaki lima yang menjajakan barang dagangannya

diberbagai sudut kota sesungguhnya dalah kelompok masyarakat

yang tergolong marjinal dan tidak berdaya 7. Pedagang kaki lima

adalah suatu pekerjaan yang paling nyata dan paling penting bagi

golongan rakyat kecil dikebanyakan kota di negara-negara

berkembang pada umumnya.8

Pedagang kaki lima adalah orang-orang golongan ekonomi

lemah, yang berjualan barang–barang kebutuhan sehari- hari

makanan, atau jasa yang modalnya relatif sangat kecil, modal

6
Rahmat Dahlan, “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Persepsi Nazhir Terhadap Wakaf
Uang”, Jurnal Zakat dan Wakaf, Vol.4 No. 1/Juni 2017, 10
7
Didik J. Rachbini dan Abdul Hamid, Ekonomi Informal Perkotaan Gejala Involusi
Gelombang Kedua, (Jakarta: LP3ES, 1991), 53
8
Gasper Liauw, Administrasi Pembangunan Studi Kajian PKL, (Bandung: Refika
Aditama, 2015), 30
7

sendiri atau modal orang lain, baik berjualan di tempat terlarang

maupun tidak. Pedagang Kaki Lima merupakan pedagang yang

terdiri dari orang–orang yang menjual barang– barang atau jasa dari

tempat-tempat masyarakat umum, terutama di jalan– jalan atau di

trotoar.9

Pedagang adalah mereka yang melakukan perbuatan

perniagaan (Perdagangan) sebagai pekerjaanya sehari-hari. Secara

“etimologi”atau bahasa, pedagang biasa diartikan sebagai jenis

pekerjaan yang berkaitan dengan jual beli. Pedagang adalah orang

yang bekerja dengan cara membeli suatu barang yang kemudian

barang tersebut dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi

sehingga mendapat keuntungan dari barang tersebut. Kaki lima

diartikan sebagai lokasi berdagang yang tidak permanen atau tetap.

Dengan demikian, pedagang kaki lima dapat diartikan sebagai

pedagang yang tidak memiliki lokasi usaha yang permanen atau

tetap. Sedangkan menurut kamus umum Bahasa Indonesia oleh

W.J.S Poerwadarminta, istilah kaki lima adalah lantai yang diberi

atap sebagai penghubung rumah dengan rumah, arti yang kedua

adalah lantai (tangga) dimuka pintu atau di tepi jalan. Arti yang

kedua ini lebih cenderung diperuntukkan bagi bagian depan

bangunan rumah toko, dimana di jaman silam telah terjadi

kesepakatan antar perencana kota bahwa bagian depan dari toko

lebarnya harus sekitar lima kaki dan diwajibkan dijadikan suatu


9
Aris Ananta, Ekonomi Sumber Daya Manusia, (Jakarta: LPFE UI, 2003), 37
8

jalur dimana pejalan kaki dapat melintas. Namun ruang selebar kira-

kira lima kaki itu tidak lagi berfungsi sebagai jalur lintas bagi

pejalan kaki, melainkan telah berubah fungsi menjadi area tempat

jualan barang-barang pedagang kecil, maka dari situlah istilah

pedagang kaki lima dimasyarakatkan.

Adapun peranan pedagang kaki lima dalam perekonomian

antara lain :

a. Dapat menyebarluaskan hasil produksi tertentu.

b. Mempercepat proses kegiatan produksi karena barang yang

dijual cepat laku.

c. Membantu masyarakat ekonomi lemah dalam pemenuhan

kebutuhan dengan harga yang relative murah.

d. Mengurangi pengangguran. 10

Sedangkan kelemahan pedagang kaki lima adalah :

a. Menimbulkan keruwetan dan kesemprawutan lalu lintas

b. Mengurangi keindahan dan kebersihan kota/wilayah.

c. Mendorong meningkatnya urbanisasi.

d. Mengurangi hasil penjualan pedagang toko

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dijelaskan bahwa

pedagang kaki lima merupakan gambaran yang sering kita lihat dan

jumpai dalam kehidupan sehari-hari, sehingga orang yang menggelar


10
Gilang Permadi, Pedagang Kaki Lima., 32
9

barang dagangannya dipinggir jalan, teras-teras toko, halaman atau

lapangan pada sebuah pasar ini identik di sebut PKL. Perkembangan

yang cukup pesat melahirkan kondisi di mana PKL dianggap sebagai

pengganggu, perusak keindahan, ketertiban dan kenyamanan kota.

Pedagang kaki lima memperoleh beberapa ciri seperti kegiatan yang

tidak teratur, tidak tersentuh peraturan, bermodal kecil dan bersifat

harian, tempat tidak tetap berdiri sendiri, berlaku dikalangan

masyarakatyang berpenghasilan rendah, tidak membutuhkan keahlian

dan keterampilan khusus, lingkungan kecil atau keluarga serta tidak

mengenal perbankan, pembukuan maupun perkreditan

2.2 Karakteristik Pedagang Kaki Lima (PKL)

Pedagang kaki lima (Sektor Informal) adalah mereka yang

melakukan kegiatan usaha dagang perorangan atau kelompok yang

dalam menjalankan usahanya menggunakan tempat-tempat fasilitas

umum, seperti terotoar, pingir- pingir jalan umum, dan lain

sebagainya. Ciri-ciri atau sifat pedagang kaki lima antara lain :

a. Pada umumnya tingkat pendidikannnya rendah.

b. Memiliki sifat spesialis dalam kelompok barang/jasa yang

diperdagangkan. Barang yang diperdagangkan berasal dari

produsen kecil atau hasil produksi sendiri.

c. Pada umumnya modal usahanya kecil, berpendapatan rendah,

erta kurang mampu memupuk dan mengembangkan modal.


10

d. Hubungan pedagang kaki lima dengan pembeli bersifat

komersial11

2.3 Faktor yang Menyebabkan Pedagang Memilih Lokasi untuk

Usaha

Tujuan utama dari kegiatan perdagangan adalah untuk menjual

barang dagangan dengan mendapatkan keuntungan. Kegiatan

perdagangan dilakukan ditempat-tempat yang mudah dijangkau

oleh konsumen. PKL yang menjual dagangan di lokasi yang ramai,

untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Sasaran penjualan produk

PKL ditujukan kepada masyarakat dari golongan ekonomi

menengah ke bawah, sehingga harga yang ditawarkan relatif murah

dibandingkan dengan harga yang ditawarkan di pertokoan. Faktor

yang mempengaruhi lokasi kegiatan dagang PKL, yaitu :

a. Faktor Keramaian lokasi.

b. Kemungkinan konsumen berbelanja tinggi.

c. Kenyamanan dan keamanan.12

Lokasi pedagang kaki lima yang dianggap aman dan nyaman,

yaitu lokasi yang bebas dari ancaman yang mengganggu. Seperti

penertiban atau gangguan dari preman-preman. Para pedagang kaki

lima (PKL) yang menjajakan barang dagangannya diberbagai sudut

11
Gilang Permadi, Pedagang Kaki Lima., 37

12
Alisjahbana, Marginalisasi Sektor Informal Perkotaan, (Surabaya: ITS Press, 2006)
11

kota sesungguhnya adalah kelompok masyarakat yang tergolong

marginal, dan tidak berdaya. 13

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dijelaskan bahwa

pedagang kaki lima dapat dikatakan marginal hal ini disebabkan sebab

bahwasannya Pedagang kaki lima rata - rata tersisih dari arus

kehidupan kota dan kemajuan kota itu sendiri. Sedangkan dikatakan

tidak berdaya hal ini dikarenakan bahwa pedagang kaki lima biasanya

tidak terjangkau dan tidak terlindungi oleh hukum dan sering kali

menjadi objek penertiban dan penataan kota yang tak jarang bersifat

represif.

Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh pedagang kaki lima,

yaitu :

a. Menurunkan Kualitas fisik suatu kawasan tertentu karena tidak

tertata dan mengganggu sirkulasi pergerakan masyarakat,

b. Menimbulkan kesan kumuh. Terganggunya lahan parkir

karena di gunakan sebagai lahan usaha oleh PKL,

c. Penggunaan trotoar sesuai fungsi peruntukannya, Kehadiran

PKL menimbulkan sampah yang tidak sedikit setiap harinya14

3. Pendapatan

3.1 Pengertian Pendapatan

13
Soetandoyo, Hukum dalam Masyarakat, (Surabaya: Bayumedia, 2008), 91.

14
Arsyad Lincolin, Ekonomi Pembangunan, (Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi,
2005), 34
12

Pendapatan merupakan salah satu unsur yang paling penting

dalam sebuah usaha guna untuk mengembangkan usaha berkelanjutan

yang timbul dari aktivitas perusahaan. Pendapatan dapat diartikan

sebagai pembayaran yang diperoleh karena hasil bekerja atau menjual

jasa, berbeda dengan pengertian kekayaan. Kekayaan seseorang bisa

jauh lebih besar dari pendapatannya. Banyak pengusaha-pengusaha di

Indonesia kalau diukur dari tingkat pendapatan mereka tidak terlalu

berlebihan, tetapi mereka sangat kaya.15

Pendapatan sangat berpengaruh bagi keseluruhan hidup

perusahaan, semakin besar pendapatan yang diperoleh maka semakin

besar kemampuan perusahaan untuk membiayai segala pengeluaran

dan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh perusahaan. Selain

itu pendapatan juga berpengaruh terhadap laba rugi perusahaan yang

tersaji dalam laporan laba rugi maka, pendapatan adalah darah

kehidupan dari suatu perusahaan.

3.2 Jenis-jenis Pendapatan

Ada tiga jenis dalam perhitungan pendapatan antara lain:

a. Pendapatan Total / Total Revenue (TR)

Hasil kali jumlah barang yang terjual dengan tingkat

harganya.

b. Pendapatan Rata-Rata/Avarege Revenue (AR)

15
Tulus T.H. Tambunan, Perekonomian Indonesia, (Jakarta: Ghalia
Indonesia: 2003), 97.
13

Pendapatan rata-rata yang diperoleh atas penjualan per unit

barang

c. Pendapatan Marginal/Marginal Revenue (MR)

Kenaikan pendapatan yang diperoleh produsen sebagai

akibat kenaikan satu unit output yang terjual16

3.3 Karakteristik Pendapatan

Walaupun jenis pendapatan yang dimiliki setiap

perusahaan berbeda-beda, tetapi dari sudut akuntansi seluruh

pendapatan tersebut mulai dari kelompok pendapatan yang

berasal dari penjualan barang jadi hingga pendapatan dari

penjualan jasa memiliki karakteristik yang sama dalam

pencatatannya. Karakteristik pendapatan adalah :

a. Bahwa pendapatan itu muncul dari kegiatan-kegiatan

pokok perusahaan dalam mencari laba.

b. Bahwa pendapatan itu sifatnya berulang-ulang atau

berkesinambungan kegiatankegiatan pokok tersebut pada

dasarnya berada dibawah kendali manajemen.17

3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi volume

pendapatan dalam perusahaan adalah sebagai berikut :

16
Zaini Ibrahim, Pengantar Ekonomi Mikro, (Depok: Media Damar Madani,
2015)
17
Hery dan Widyawati Lekok. Akuntansi Keuangan Menengah. Jakarta: Bumi Aksara (2012: hal.
24)
14

a. Kondisi dan kemampuan penjualan

b. Kondisi pasar

c. Modal

d. Kondisi operasional perusahaan18

4. Pandemi Covid 19

Badan kesehatan dunia menyepakati kondisi dunia saat ini dengan

memberikan pernyataan bahwa COVID-19 adalah “pandemi”. Namun

apa itu pandemi dan apa yang harus dipahami oleh seluruh masyarakat

dunia tentang pandemi menjadi sangat penting dalam menentukan arah

kebijakan dan juga sikap manusia dalam menanggulanginya.

Kurangnya pengetahuan membuat banyak orang dapat menyikapi

pandemi dengan kesalahan dan membuat pandemi semakin memburuk.

Menurut WHO (World Health Organization) pandemi adalah

penyebaran penyakit baru ke seluruh dunia (World Health

Organization, 2020). Namun, tidak ada definisi yang dapat diterima

tentang istilah pandemi secara rinci dan lengkap, beberapa pakar

mempertimbangkan definisi berdasarkan penyakit yang secara umum

dikatakan pandemi dan mencoba mempelajari penyakit dengan

memeriksa kesamaan dan perbedaannya. Penyakit dipilih secara

empiris untuk mencerminkan spektrum etiologi, mekanisme

penyebaran, dan era kegawatdaruratannya, beberapa penyakit yang

pernah menjadi pandemi antara lain: acute hemorrhagic conjunctivitis

18
Mulyadi. Sistem Akuntansi, Edisi ke-3, Cetakan ke-5. Penerbit Salemba. Empat, (2010, hal.127)
15

(AHC), AIDS, kolera, demam berdarah, influenza dan SARS

(Morens, Folkers and Fauci, 2009).

B. Kajian Penelitian Terdahulu Yang Relevan

Hasil penelitian yang relevan memuat hasil-hasil penelitian

teradahulu sebelumnya yang dilakukan oleh peneltian lain dan memiliki

kaitan dengan penelitian yang sedang dilaksanakan. Berdasarkan judul

dan penelitian “Pengaruh Persepsi Pedagang Kaki Lima Terhadap

Pendapatan Saat Pendemi” Persamaan pada kajian ini adalah sama-

sama mengkaji tentang persepsi terhadap seseorang atau khayalan

umum terkait suatu kejadian atau peristiwa, baik tempat lokasi

penelitian juga berbeda dengan penelitian sebelumnya.

Dengan memnggunakan hasil-hasil penelitian terdahulu yang

terbaru dan terkini sebagai landasan berfikir diharapkan permasalahan

yang akan dikaji dapat dikemukakan lebih spesifik lagi. Diantaranya

penelitian terdahulu adalah sebagai berikut :

1. Yepi Ratmanti, 2020 dengan judul “Faktor-faktor Rendahnya

Pendapatan Pedagang Kaki Lima di Nuwo Intan Kota Metro” Pada

penelitian tersebut membahas apa yang menyebabkan rendahnya

pendapatan pedagang kaki lima, sedangkan pada penelitian ini

mengkaji lebih dalam yakni bagaimana perspektif pedagang kaki

lima terhadap pendapatan yang diperoleh saat pandemi terjadi.

2. Pada penelitian Ivanna Frestilya, 2020 dengan judul “ Perspektif

Masyarakat terhadap Kualitas Pelayanan Karywan Bank Bengkulu


16

di Kota Bengkulu” Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian

ini terletak pada lokasi. Perspektif pada penelitian ini merujuk pada

perspektif pedagang kaki lima terhadap suatu hal sedangkan

penelitian sebelumnya perspektif masyarakat terhadap kualitas

pelayanannya .

C. Konsep Operasional

Konsep operasional adalah konsep secara jelas mengenai variable-

variable penelitian untuk memberikan hasil penelitian yang seragam pada

semua pengamat (Purwanto, 2007:93). Konsep operasional juga

menjelaskan tentang bagaimana kegiatan yang harus dilakukan untuk

memperoleh data atau indikator yang dimaksud (Masyuri dan Zainuddin,

2008 : 131)

Tabel 1. Konsep Operasional

No Variabel Definisi Operasional Indikator

1 Persepsi Suatu proses pengolahan a. Latar belakang

informasi yang diterima oleh b. Penerimaan diri

panca indera dari lingkungan dan c. Sistem nilai

diteruskan ke otak untuk diseleksi

sehingga menimbulkan penafsiran

yang berupa penilaian dari

penginderaan atau pengalaman


17

sebelumnya

2 Pendapatan Bayaran atau upah hasil dari a. Hasil bayaran

Pedagang bekerja yang dilakukan oleh meningkat

kaki lima pedagang kaki lima b. Hasil bayaran

menurun

c. Tidak ada

perubahan

yang signifikan

Anda mungkin juga menyukai