Anda di halaman 1dari 18

PATOLOGI KLINIK

CASE STUDY
4-2
Kelas B
Kelompok 2

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
2021
01 Hana Novilia (2019210161)

Nama 02 Dina Yuliana Citra (2019210162)

Anggota 03 Gracia Kristina (2019210163)

Kelompok
04 Ariefta Vera Utami (2019210168)

05 Irsyad Sulton S. (2019210170)

06 Dea Nove A. (2019210173)


Identitas Pasien
Nama : Ny. X

Umur : 43 tahun

Jenis kelamin : Wanita

Keluhan utama pemeriksaan : Pasien datang ke


Lab Klinik untuk melakukan laboratorium akibat
keluhan sakit kepala yang berat.

Riwayat penyakit : Diabetes Melitus Tipe 2

Riwayat pengobatan : Glyburide 5 mg

Diagnosis : Diabetes Melitus Tipe 2


Identitas Laboratorium
Nama Dokter : Dr. Dody

Tanggal Pemeriksaan : 18 April 2021

Waktu : 13.30 WIB

Tempat Pemeriksaan : RS. Limita


Bogor

Nomor Laboratorium : 19998735


Hasil
Laboratorium
Nilai rujukan sesuai PERKENI 2015
Pre Analitik
Persiapan Pasien :
1.Gula Darah-Glukosa Darah Puasa
Pasien diharuskan berpuasa 8-14 jam sebelum pengambilan darah,kecuali minum air putih saja.

2. Lipid Darah-Trigliserida dan Kolesterol Total


- Pasien dalam keadaan steady metabolic state
- Pasien mengatur diet dan berat badan < 2 minggu sebelum pelaksanaan tes
- Pasien tidak boleh melakukan aktivitas yang berlebihan selama 24 jam sebelum pemeriksaan
- Turniket tidak boleh dipakai >1 menit selama venipuncture
- Sebelum pasien melakukan tes tidak dianjurkan untuk merokok, minum kopi, teh ataupun bahan
lain yang dapat mengganggu hasil tes
- Spesimen puasa atau tidak puasa untuk pemeriksaan kolesterol total
- Perlu puasa 12 jam untuk trigliserida dan direkomendasikan untuk lipoprotein,karena
pemeriksaan trigliserida sangat dipengaruhi kadarnya oleh asupan makanan dari luar
- Penyimpanan -20oC untuk kolesterol total dan -70oC untuk trigliserida
Pre Analitik
• Sampel yang digunakan
– Gula darah : dapat digunakan darah vena atau kapiler dan apabila tidak
langsung dianalisis dapat diberi antikoagulan NAF untuk mencegah hemolisis,
plasma harus cepat dipisahkan <60 menit.
– Tes lipid dapat digunakan serum atau plasma. Dapat digunakan EDTA. Untuk
pengujian kolestrol total serum dapat disimpan dalam suhu 4 C atau
dibekukan. Untuk penyimpanan dalam suhu -70 C digunakan untuk
pemeriksaan Trigliserida, HDL, LDL dll.
Aspek 1. Kadar Gula Darah
Parameter : Glukosa puasa 70-100 mg/dl

Analitik Metode yang digunakan:


- Metode Enzimatik
Pemeriksaan kadar glukosa darah dapat dilakukan dengan metode
kimia dan enzymatik. Pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan
bahan plasma darah vena. Metode enzimatik, merupakan metode
yang memberikan hasil spesifitas tinggi, karena hanya glukosa yang
terukur. Cara ini digunakan untuk menentukan nilai batas, terdapat
dua macam metode enzimatik yang digunakan yaitu glucose oxidase
dan metode hexokinase.
a. Metode glucose oxidase
Prinsip pemeriksaan : enzim glukosa oxidase mengkatalisis reaksi
oksidase menjadi glukono lakton dan hidrogen peroksida.
b. Metode hexokinase
Merupakan metode pengukuran kadar gula darah yang dianjurkan
WHO dan IFCC.
pemeriksan glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dl. Glukosa puasa
adalah kondisi tidak ada asupan makanan kalori minimal 8 jam.
Aspek 2. HbA1c
Parameter : HbA1c(%) < 5,7

Analitik
Metode yang digunakan:
- Tes HbA1C (glycated haemoglobin test)
Tes ini akan mengukur kadar gula darah yang terikat pada hemoglobin, yaitu protein dalam sel
darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. Untuk menjalani tes HbA1C,
pengidap tidak perlu berpuasa terlebih dahulu. Untuk mengukur tingkat glikohemoglobin,
sampel darah akan diambil dari pembuluh vena di lengan Anda dengan jarum kecil.

3. Glycated albumin (GA)


Parameter : GA normal 11-16 %
Albumin Glikat adalah albumin yang berikatan dengan glukosa. GA menggambarkan rata-
rata glukosa darah 2-4 minggu sebelum pengukuran. Jumlah GA menurun jika kadar glukosa
darah berkurang dan meningkat ketika kadar glukosa darah tinggi.
Pemeriksaan GA merupakan indeks kontrol glikemik jangka pendek (15-20 hari) yang tidak
dipengaruhi oleh gangguan metabolisme hemoglobin dan masa hidup eritrosit seperti
HbA1c.
Metoda Pemeriksaan Glycated Albumin / Albumin Glikat
1. boronate affinity chromatography (BAC)
2. enzyme linked boronate immunoassay (ELBIA)
3. metoda enzimatik
Aspek 4. Glukosa 2 jam Post Prandial (GD2PP)
Parameter : GD2PP <140 mg/dl

Analitik Tes dilakukan bila ada kecurigaan DM. Pasien makan makanan yang
mengandung 100gr karbohidrat sebelum puasa dan menghentikan merokok
serta berolahraga. Glukosa 2 jam Post Prandial menunjukan DM bila kadar
glukosa darah ≥ 200 mg/dl, sedangkan nilai normalnya ≤ 140 mg/dl.

5. Glukosa jam ke-2 pada Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)


Apabila pada pemeriksaan glukosa darah sewaktu kadar glukosa plasma tidak
normal, yaitu antara 140-200 mg/dl, maka pada mereka ini harus dilakukan
pemeriksaan tes toleransi glukosa oral untuk meyakinkan apakah diabetes
melitus atau bukan. Sesuai dengan kesepakatan WHO tahun 2006 maka tes
toleransi glukosa oral harus dilakukan dengan memberikan 75 gram glukosa
(rata-rata pada orang dewasa) atau 1,75 gr per kilogram berat badan pada
anak-anak. Serbuk glukosa ini dilarutkan dalam 250-300 ml air kemudian
dihabiskan dalam waktu 5 menit. TTGO dilakukan setelah pasien berpuasa
minimal 8 jam. Penilaian adalah sebagai berikut; 1) Toleransi glukosa normal
apabila ≤ 140 mg/dl; 2) Toleransi glukosa terganggu (TGT) apabila kadar
glukosa > 140 mg/dl tetapi < 200 mg/dl; dan 3) Toleransi glukosa ≥ 200
mg/dl disebut diabetes melitus.
POST ANALITIK
Pengendalian pasien terhadap
kondisi diabetesnya

Untuk mengendalikan kondisi diabetesnya pasien harus menerapkan pola


hidup sehat, seperti:
Mengikuti pola makan sehat

latihan jasmani yang teratur
Meningkatkan kegiatan jasmani dan
Melakukan pemantauan glukosa darah mandiri

BAGAIMANA EFEK TERAPI GLYBURIDE 5 MG


BERDASARKAN HASIL PEMERIKSAAN LAB?

Menurut kelompok kami, efek terapi dari


Glyburide / Glibenclamide (Golongan
Sulfonilurea) masih kurang efektif.

Jadi kami menyarankan untuk adanya kombinasi terapi yaitu


antara Glyburide 5 mg dengan Acarbose 80 mg.
Resiko komplikasi yang dapat dialami
Resiko komplikasi yang dapat dialami oleh pasien DM tipe 2 adalah :
• Penyakit kardiovaskular seperti jantung, stroke, dan tekanan darah yang
tinggi
• Kerusakan saraf atau neuropati
• Kerusakan mata seperti glaukoma dan katarak
• Kerusakan ginjal
• Infeksi kulit karena jamur dan bakteri
Mengetahui adanya
kondisi resistensi
insulin pada pasien
Salah satu pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi kondisi resistensi insulin
adalah dengan metode HOMA-IR (Homeostatic Model Assessment of Insulin
Resistance) dengan menggunakan kadar glukosa puasa dengan insulin.

HOMA-IR tinggi menunjukkan resistensi insulin yang tinggi. Pemeriksaan ini


diperlukan persiapan puasa selama 10 – 12 jam sebelum diambil spesimen dan
bahan pemeriksaan yang diperlukan yaitu darah dari pembuluh darah vena.
Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil tes lab yang dijalani pasien terdapat nilai HbA1c, trigliserida dan
albumin urin yang tidak sesuai dengan nilai rujukan
2. Nilai HbA1c pada pasien adalah 8,5% mengindikasi adanya komplikasi yang dialami
pasien
3. Nilai trigliserida pada pasien tinggi yang mengindikasi adanya hipertrigliserida, jika
dibiarkan dapat terjadi resiko penyakit jantung
4. Efek samping utama dari terapi ini adalah naiknya berat badan dan hipoglikemia,
dan akan menurunkan nilai HbA1c sebanyak 1 - 2%. Efek terapi tunggal dari
Glyburide / Glibenclamide (Golongan Sulfonilurea) masih kurang efektif.
Dikarenakan, sejak 5 bulan yang lalu setelah diberikan terapi tersebut glukosa darah
dari pasien sekarang sudah kembali normal. Namun, yang perlu diperhatikan
sekarang adalah nilai HbA1c dari pasien masih di atas kadar normal.
5. Disarankan untuk kombinasi terapi yaitu antara Glyburide 5 mg dengan Acarbose 80
mg. Alasan kami memilih Acarbose 80 mg adalah karena terapi ini cukup efektif juga
untuk penderita pasien DM tipe 2, dan dapat membantu menghalangi penyerapan
karbohidrat dari usus ke pembuluh darah. Dan kombinasi antara Glyburide 5 mg
dengan Acarbose 80 mg tidak memiliki interaksi obat, jadi kombinasi ini aman untuk
digunakan.
DAFTAR PUSTAKA

PERKENI, 2015, Pengelolaan dan Pencegahan


Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia, PERKENI,
Jakarta.

Patologi Klinik. Pemeriksaan Laboratorium Untuk


Penyakit Diabetes Melitus. Fakultas Farmasi
Universitas Pancasila, Jakarta.
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai