Anda di halaman 1dari 10

TUGAS MATA KULIAH MANAJEMEN ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN

KONSEP PERENCANAAN DAN KONSEP SUPERVISI

Oleh :
Kelompok I
I GUSTI AYU DWI PUTRI HENDRAYANI P07124218003
NI KADEK MITA WIDIARI P07124218004
MADE CHIKA DEVIRYA P07124218007

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR
JURUSAN KEBIDANAN
DENPASAR
2022
A. Konsep Perencanaan
1. Pengertian Perencanaan
Perencanaan (planning) dapat juga didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang
terkoordinasi untuk mencapai tujuan tertentu dalam kurun waktu tertentu. Dengan begitu, di
dalam perencanaan akan terdapat aktivitas pengujian beberapa arah pencapaian, mengkaji
ketidakpastian, mengukur kapasitas, menentukan arah pencapaian, serta menentukan langkah
untuk mencapainya. Perencanaan (planning) adalah fungsi dasar (fundamental) manajemen,
karena organizing, staffing, directing, dan controlling pun harus terlebih dahulu di rencanakan.
Perencanaan ini adalah dinamis.Perencanaan ini di tujukan pada masa depan yang penuh dengan
ketidakpastian, karena adanya perubahan kondisi dan situasi. Hasil perencanaan baru akan
diketahui pada masa depan. Agar risiko yang ditanggung itu relatif kecil, hendaknya semua
kegiatan, tindakan, dan kebijakan direncanakan terlebih dahulu. Perencanaan ini adalah masalah
”memilih”, artinya memilih tujuan, dan cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut dari
beberapa alternatif yang ada. Tanpa alternatif, perencanaan pun tidak ada. Perencanaan pun tidak
ada. Perencanaan merupakan kumpulan dari beberapa keputusan.
2. Tujuan membuat Perencanaan
a. Mengantisipasi dan beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi.
b. Memberikan arahan (direction) kepada para adiminitrator maupun non administrator agar
berkerja sesuai dengan rencana.
c. Menghindari atau setidaknya meminimalisir potensi terjadinya tumpang tindih dan
pemborosan dalam pelaksanaan perkerjaan.
d. Menetapkan standar tertentu yang harus digunakan dalam bekerja sehingga memudahkan
dalam pengawasan atau kontrol.
3. Jenis-jenis Perencanaan
a. Perencanaan Berdasarkan Ruang Lingkup
1) Rencana strategis (strategic planning), yaitu perencanaan yang di dalamnya terdapat uraian
mengenai kebijakan jangka panjang dan waktu pelaksanaan yang lama. Umumnya jenis
perencanaan seperti ini sangat sulit untuk diubah.
2) Rencana taktis (tactical planning), yaitu perencanaan yang di dalamnya terdapat uraian
tentang kebijakan yang bersifat jangka pendek, mudah disesuaikan aktivitasnya selama
tujuannya masih sama.
3) Rencana terintegrasi (integrated planning), yaitu perencanaan yang di dalamnya terdapat
penjelasan secara menyeluruh dan sifatnya terpadu.
b. Perencanaan Berdasarkan Tingkatan
1) Rencana induk (master plan), yaitu perencanaan yang fokus kepada kebijakan organisasi
dimana di dalamnya terdapat tujuan jangka panjang dan ruang lingkupnya luas.
2) Rencana operasional (operational planning), yaitu perencanaan yang fokus kepada pedoman
atau petunjuk pelaksanaan program-program organisasi.
3) Rencana harian (day to day planning), yaitu perencanaan yang di dalamnya terdapat aktivitas
harian yang bersifat rutin.
c. Perencanaan Berdasarkan Jangka Waktu
1) Rencana jangka panjang (long term planning), yaitu perencanaan yang dibuat dan berlaku
untuk jangka waktu 10 – 25 tahun.
2) Rencana jangka menengan (medium range planning), yaitu perencanaan yang dibuat dan
berlaku untuk jangka waktu 5 – 7 tahun.
3) Rencana jangka pendek (short range planning), yaitu perencanaan yang dibuat dan hanya
berlaku selama kurang lebih 1 tahun.
4. Syarat-syarat Perencanaan Yang Baik
a. Mempunyai tujuan yang jelas. Jika ingin membuat suatu perencanaan, haruslah ada tujuan
yang pasti dan jelas agar bisa mengatur strategi untuk mencapai suatu tujuan.
b. Sifatnya simple atau sederhana. Perencanaan harus bersifat sederhana agar mudah dimengerti
dan mudah mengatur strategi. 
c. Memuat analisis terhadap pekerjaan yang dikerjakan. Perencanaan yang dibuat harus tertera
analisa yang sudah diperkirakan oleh perusahaan.
d. Bersifat fleksibel. Suatu perencanaan harus bersifat fleksibel, karena ketika pelaksanaan tidak
semua berjalan sesuai rencana, harus tergantung situasi dan kondisi yang terjadi.
e. Mempunyai keseimbangan Keselarasan tanggung jawab dan tujuan tiap bagian dalam
perusahaan dengan tujuan akhir perusahaan yang telah ditetapkan.
5. Strategi dalam Menyusun Perencanaan
a. Identifikasi Posisi Strategis
Saat mengidentifikasi posisi strategis, ingatlah bahwa tujuan harus realistis dan terukur.
Gunakan misi, visi, nilai-nilai perusahaan, dan budaya kerja di perusahaan untuk mempermudah
identifikasi posisi.
b. Kumpulkan Orang dan Informasi
Setelah menetapkan posisi strategis, kumpulkan orang-orang yang akan terlibat dalam
proses perencanaan. Pastikan bahwa data dan informasi yang akan digunakan akurat sehingga
dapat dijadikan sebagai landasan dalam membuat keputusan. Periksa apakah ada masalah
internal atau eksternal yang mungkin dapat mempengaruhi tujuan. 
c. Lakukan Analisis SWOT
Analisis SWOT sering digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan bisnis,
serta mengidentifikasi peluang dan ancaman yang mungkin muncul. Setelah tim
mengidentifikasi semua kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman, tim yang terlibat dalam
rencana strategis dapat bekerja sama untuk mengembangkan tujuan baru yang akan membantu
bisnis menghadapi segala kemungkinan dengan cara yang lebih positif.
d. Merumuskan Rencana Strategis
Setelah berhasil mengidentifikasi posisi strategis dan memiliki serangkaian tujuan yang
sejalan dengan misi perusahaan, tahapan selanjutnya adalah merumuskan rencana strategis. Saat
mengembangkan rencana, pertimbangkan aspek apa yang akan berdampak terbesar pada bisnis
dan mana yang paling membantu meningkatkan posisi perusahaan. Jangan lupa untuk
menggunakan pengukuran untuk memastikan dan mengontrol perkembangan dari implementasi
rencana.
e. Jalankan Rencana Strategis 
Perusahaan yang telah merumuskan rencana strategis siap untuk menerapkannya.
Langkah ini merupakan fase tindakan dari proses rencana strategis. Mulailah dengan membuat
semua orang yang terlibat dan membagikan tugas di antara individu atau divisi. Luangkan waktu
untuk memeriksa apakah individu atau divisi telah bekerja dengan benar. Jika ternyata tidak
memenuhi tujuan, lakukan perubahan jika diperlukan.
f. Pantau Performa Secara Terus-menerus
Proses perencanaan strategis tidak akan efektif jika semua orang dalam tim melakukan
kekeliruan. Alasan inilah yang mengharuskan perusahaan untuk terus memantau, mengelola
kinerja dan menyesuaikan komponen. Penting juga untuk meminta pertanggungjawaban dari
individu yang terlibat atas tugas yang diberikan. Pemantauan kinerja dan performa juga bisa
membantu pembentukan  rencana di masa depan. 

B. Konsep Supervisi
1. Pengertian
Supervisi berasal dari kata super (bahasa latin yang berarti di atas) dan videre (bahasa
latin yang berarti melihat). Bila dilihat dari asal kata aslinya, supervise berarti “melihat dari
atas”. Pengertian supervisi merupakan pengamatan secara langsung dan berkala oleh “atasan”
terhadap pekerjaan yang dilakukan “bawahan” untuk kemudian bila ditemukan masalah, segera
diberikan bantuan yang bersifat langsung guna mengatasinya (Marquis & Huston, 2010).
Supervisi adalah segala bantuan dari pemimpin/ penanggung jawab kepada perawat yang
ditujukan untuk perkembangan para perawat dan staf lainnya dalam menscapai tujuan asuhan
keperawatan. Kegiatan supervisi semacam ini merupakan dorongan, bimbingan dan kesempatan
bagi pertumbuhan perkembangan keahlian dan kecakapan para perawat (Mangkunegara, 2012).
2. Prinsip Supervisi
a. Supervisi bersifat memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada guru dan staf
sekolah lain untuk mengatasi masalah dan mengatasi kesulitan dan bukan mencari-cari
kesalahan.
b. Pemberian bantuan dan bimbingan dilakukan secara langsung, artinya bahwa pihak yang
mendapat bantuan dan bimbingan tersebut tanpa dipaksa atau dibukakan hatinya dapat
merasa sendiri serta sepadan dengan kemampuan untuk dapat mengatasi sendiri.
c. Apabila supervisor merencanakan akan memberikan saran atau umpan balik, sebaiknya
disampaikan sesegera mungkin agar tidak lupa. Sebaiknya supervisor memberikan
kesempatan kepada pihak yang disupervisi untuk mengajukan pertanyaan atau tanggapan.
d. Kegiatan supervisi sebaiknya dilakukan secara berkala misalnya 3 bulan sekali, bukan
menurut minat dan kesempatan yang dimiliki oleh supervisor.
e. Suasana yang terjadi selama supervisi berlangsung hendaknya mencerminkan adanya
hubungan yang baik antara supervisor dan yang disupervisi tercipta suasana kemitraan yang
akrab. Hal ini bertujuan agar pihak yang disupervisi tidak akan segan-segan mengemukakan
pendapat tentang kesulitan yang dihadapi atau kekurangan yang dimiliki.
f. Untuk menjaga agar apa yang dilakukan dan yang ditemukan tidak hilang atau terlupakan,
sebaiknya supervisor membuat catatan singkat, berisi hal-hal penting yang diperlukan untuk
membuat laporan.
Sedangkan menurut Tahalele dan Indrafachrudi (1975) prinsip-prinsip supervisi sebagai
berikut; (a) supervisi harus dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif, (b) supervisi harus
kreatif dan konstruktif, (c) supervisi harus ”scientific” dan efektif, (d) supervisi harus dapat
memberi perasaan aman pada guru-guru, (e) supervisi harus berdasarkan kenyataan, (f) supervisi
harus memberi kesempatan kepada supervisor dan guru-guru untuk mengadakan “self
evaluation”.
3. Fungsi Supervisi
Supervisi memiliki empat fungsi yang saling berhubungan, apabila ada salah satu fungsi
yang tidak dilakukan dengan baik akan memengaruhi fungsi yang lain. Keempat fungsi
supervisi yaitu:
a. Manajemen (pengelolaan)
Fungsi ini bertujuan memastikan bahwa pekerjaan staf yang supervisi dapat
dipertanggungjawabkan sesuai dengan standar yang ada, akuntabilitas untuk melakkan pekerjaan
yang ada dan meningkatkan kualitas layanan. Supaya fungsi pengelolaan dapat berjalan dengan
baik, maka selama kegiatan supervisi dilakukan pembahasan mengenai hal- hal sebagai berikut :
1) Kualitas kinerja perawatan dalam memberi asuhan.
2) Kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan pekerjaan dan pemahaman terhadap prosedur
tersebut.
3) Peran, dan tanggung jawab staf yang disupervisi dan pemahaman terhadap peran, termasuk
batas – batas peran.
4) Pengembangan dan evaluasi rencana kegiatan atau target dan tujuan yang
b. Pembelajaran dan pengembangan
Fungsi ini membantu staf merefleksikan kinerja mereka sendiri, mengidentifikasi proses
pembelajaran, kebutuhan pengembangan, dan mengembangkan rencana atau mengidentifikasi
peluang untuk memenuhi peluang tersebut. Pembelajaran dan fungsi pengembangan dapat
dicapai dengan cara :
1) Membantu staf yang disupervisi mengidentifiasi gaya belajar dan hambatan belajar.
2) Menilai kebutuhan pengembangan dan mengidentifikasi kesempatan belajar
3) Member dan menerima umpan balik yang konstruktif mengenai pekerjaan yang sudah
dilakukan oleh staf
4) Mendorong staf yang disupervisi untuk merefleksikan kesempatan belajar yang dilakukan
c. Memberi Dukungan
Fungsi memberi dukungan dapat membantu staf yang disupervisi untuk meningkatkan
peran staf dari waktu ke waktu. Pemberian dukungan dalam hal ini meliputi :
1) Menciptakan lingkungan yang aman pada saat supervisi dimana kepercayaan dan kerahasiaan
dibuat untuk mengklarifikasi batas-batas antara dukungan dan konseling.
2) Memberikan kesempatan staf yang disupervisi untuk mengekspresikan perasaan dan ide-ide
yang berhubungan dengan pekerjaan.
3) Memantau kesehatan staf yang mengacu pada kesehatan kerja atau konseling.
d. Negosiasi
Fungsi ini dapat menigkatkan hubungan antara staf yang disupervisi, tim, organisasi dan
lembaga lain dengan siapa mereka bekerja.
4. Prosedur Supervisi
Secara umum proses pelaksanaan supervisi dilaksanakan melalui tiga tahap yaitu:
a. Perencanaan
Kegiatan perencanaan mengacu pada kegiatan identifikasi permasalahan. Langkah-
langkah yang dilaksanakan dalam perencanaan supervisi adalah :
1) Mengumpulkan data melalui kunjungan kelas, pertemuan pribadi atau rapat staf,
2) Mengolah data dengan melakukan koreksi kebenaran terhadap data yang dikumpulkan,
3) Mengklasifikasi data sesuai dengan bidang permasalahan,
4) Menarik kesimpulan tentang permasalahan sasaran sesuai dengan keadaan yang sebenarnya,
5) Menetapkan teknik yang tepat digunakan untuk memperbaiki atau meningkatkan
profesionalisme pendidik.
b. Pelaksanaan
Kegiatan pelaksanaan merupakan kegiatan nyata yang dilakukan untuk memperbaiki atau
meningkatkan kemampuan pendidik. Kegiatan pelaksanaan merupakan kegiatan pemberian
bantuan dari supervisor kepada Pendidik, agar dapat terlaksana dengan efetif pelaksanaannya
harus sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan dan ada follow up untuk melihat
keberhasilan proses dan hasil pelaksanaan supervisi.
c. Evaluasi
Kegiatan evaluasi merupakan kegiatan untuk menelaah keberhasilan proses dan hasil
pelaksanaan supervisi. Evaluasi dilaksanakan secara komprehensif. Sasaran evaluasi supervisi
ditujukan kepada semua orang yang terlibat dalam proses pelaksanaan supervisi. Hasil dari
evaluasi supervisi akan dijadikan pedoman untuk menyusun program perencanan berikutnya.
Soetopo dan Soemanto (1984: 84-85) mengemukakan evaluasi berpedoman pada tujuan yang
telah ditetapkan dan tujuan supervisi dirumuskan sesuai dengan corak dan tujuan sekolah.
Prosedur pelaksanaan supervisi menempuh tiga tahapan, yaitu pertemuan pendahuluan, observasi
pendidik yang sedang mengajar, dan pertemuan balikan (Burhanuddin dkk, 2007:36).
5. Teknik Supervisi
Dalam pelaksanaan supervisi yang baik, terdapat dua teknik yaitu:
a. Langsung
Teknik langsung merupakan teknik pengamatan yang langsung dilaksanakan supervisi
dan harus memerhatikan hal berikut, yaitu:
1) Sasaran pengamatan
Pengamatan langsung yang tidak jelas sasarannya dapat menimbulkan kebingungan.
Untuk mencegah keadaan ini, maka pengamatan langsung ditujukan pada sesuatu yang bersifak
pokok dan strategis.
2) Objektifitas pengamatan
Pengamatan langsung yang tidak berstandarisasi dapat menganggu objektifitas. Untuk
mencegah keadaan seperti ini maka diperlukan suatu daftar isian atau check list yang telah
dipersiapkan.
3) Pendekatan pengamatan
Pengamatan langsung sering menimbulkan berbagai dampak kesan negatif, misal rasa
takut, tidak senang, atau kesan menganggu pekerjaan. Dianjurkan pendekatan pengamatan
dilakukan secara edukatif dan suportif, bukan kekuasaan atau otoriter.
Teknik supervisi dimana supervisor berpartisipasi langsung dalam melakukan supervisi.
Kelebihan dari teknik ini pengarahan dan petunjuk dari supervisor tidak dirasakan sebagai suatu
perintah, selain itu umpan balik dan perbaikan dapat dilakukan langsung saat ditemukan adanya
penyimpangan
b. Tidak Langsung
Teknik supervisi yang dilakukan melalui laporan baik tertulis maupun lisan sehingga
supervisor tidak melihat langsung apa yang terjadi di lapangan.
DAFTAR PUSTKA

A.A Anwar Prabu Mangkunegara. 2012. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya

Griffin. 2003. Pengantar Manajemen. Penerbit Erlangga – Jakarta


Handoko, T. Hani. 1999. Manajemen. BPFE – Yogyakarta
Husein Umar. 2003. Business An Introduction. Jakarta: SUN.
LinovHr. 2020. Perencanaan Strategis: Pengertian, Konsep, dan manfaat untuk bisnis.
https://www.linovhr.com/perencanaan-strategis/ diakses pada tanggal 1 Maret 2022
(10:20 wita)
Marquis, B. L. & Huston, C. J. 2010. Kepemimpinan dan manajemen keperawatan : teori dan
aplikasi, (Ed. 4). Jakarta : EGC
Stoner, James A.F. 1996. Manajemen (Terjemahan). Penerbit Erlangga – Jakarta