Anda di halaman 1dari 14

ETIKA DALAM PENELITIAN

Oleh :

NI KETUT YUNI ARISTADEWI (P07124218001)


NI KADEK AYU DIANTARI LESTARI (P07124218002)
NI KADEK MITA WIDIARI (P07124218004)
MADE VIRA YUDIA RARTRI (P07124218009)
DWI WULAN TUISNAYANI PUTRI (P07124218010)

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR
JURUSAN KEBIDANAN PRODI SARJANA TERAPAN
KEBIDANAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat-Nya Makalah dengan judul “Etika Dalam Penelitian” dapat diselesaikan
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Makalah ini kami susun berdasarkan
beberapa sumber buku dan literatur yang kami peroleh melalui internet. Dalam
penyusunan makalah ini guna penyempurnaannya kami mendapatkan banyak
dukungan dari berbagai pihak. Maka pada kesempatan ini kami mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak atas bantuan, dukungan, bimbingan dan saran
kepada kami dalam menyusun makalah ini.

Kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari
para pembaca untuk perbaikan makalah ini nantinya. Akhir kata kami berharap
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan kami pada
khususnya. Atas segala perhatiannya kami mengucapkan terimakasih

Denpasar, November 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................i

DAFTAR ISI....................................................................................................................ii

BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................................1

A. Latar Belakang............................................................................................................1

B. Tujuan ........................................................................................................................2

BAB II

A. Manusia Sebagai Subyek Penelitian........................................................................3


B. Hewan Sebagai Subyek Penelitian...........................................................................4

BAB III

A. Kesimpulan...............................................................................................................10
B. Saran ........................................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu hal yang paling penting ketika melakukan penelitian adalah
dalam hal pengumpulan data ataupun sampel, karena dalam hal itu seorang
peneliti memerlukan interaksi dengan banyak pihak yang dibutuhkan dalam
penelitiannya. Dalam setiap penelitian sudah pasti harus mengikuti prosedur-
prosedur yang telah ditetapkan dimana dia meneliti, apalagi jika pengumpulan
data dilakukan yang berhubungan dengan masyarakat. Sudah tentu saja harus
mengikuti segala norma atauetika dalam masyarakat tersebut. Oleh karena itu,
seorang peneliti dalam meneliti serta mengumpulkan data harus dan wajib
memiliki juga menjunjung tinggi etika penelitian, karena dengan adanya etika
tersebut maka si peneliti akan dengan mudah sosial dan berhubungan dengan
responden. Sehingga data yang diinginkan permainan kata-kata dapat
terkumpul sesuai dengan yang diharapkan. Jadi yang sangat diperlukan dalam
menghadapi masyarakat adalah suatu tata krama dalam bersosialisasi atau yang
lebih dikenal dengan etika penelitian. Tidak hanya bersosialisasi dengan
masyarakat saja yang dibutuhkan etika, ketika seorang peneliti mencari sumber
pustaka pun wajib memiliki etika penelitian, dimana sang peneliti
membubuhkan sumber rujukan atau kutipan yang di ambil. Ini semua untuk
menghindari adanya penjiplakan atau sering dikenal plagiat yang dilakukan
orang lain tanpa menyebutkan sumbernya, dan seolah-olah itu karangan asli
dari peneliti atau penulis itu sendiri yang menulis, meneliti atau
mengerjakannnya. Sehingga diperlukan kode etik dalam penulisan karya
ilmiah.
Berdasarkan penjelasan diatas mengenai etika dalam penelitian,
maka penulis ingin memaparkan beberapa hal menyangkut dengan “Etika
dalam Penelitian” yang berhubungan dengan mata kuliah Metode Penelitian.
Semoga pemaparan dan penjelasan yang singkat ini berguna serta bermanfaat
bagi kita semua.

1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penjelasan terkait etika penelitian pada manusia sebagai
subyek penelitian?
2. Bagaimana penjelasan terkait etika penelitian pada hewan coba sebagai
subyek penelitian?

C. Tujuan
1. Mengetahui penjelasan terkait etika penelitian pada manusia sebagai
subyek penelitian.
2. Mengetahui penjelasan terkait etika penelitian pada hewan coba sebagai
subyek penelitian.

2
BAB II
KAJIAN TEORI

A. Manusia Sebagai Subyek Penelitian


Deklarasi Helsinki, pertama kali dipublikasikan tahun 1964 oleh the
World Medical Association, menetapkan rekomendasi yang memandu para
dokter dalam penelitian biomedis yang melibatkan subjek manusia. Deklarasi
ini mengatur etika penelitian Internasional dan mendefinisikan aturan untuk
penelitian yang digabung dengan perawatan klinis dan penelitian non
terapeutik. Deklarasi Helsinki telah direvisi secara berkala dan merupakan
dasar Praktik Klinis yang baik (Good Clinical Practices) yang digunakan
sekarang.
Deklarasi Helsinki mengemukakan isu berikut :
1. Penelitian medis dikenai standar etika yang menaikkan harkat semua
manusia dan melindungi kesehatan dan hak-haknya
2. Protokol penelitian harus dirumuskan dengan jelas ke dalam protokol
percobaan dan ditelaah oleh komisi independen sebelum dimulai
3. Izin termaklum (informed consent) dari semua partisipasi penelitian adalah
keharusan
4. Penelitian harus dilaksanakan oleh individu yang berkualitas medis/ilmiah
5. Risiko tidak melampaui manfaat.
Laporan Belmont, Ethical Principles and Guidelines for the Protection
Of Human Subject of Research, dipublikasikan oleh teh National Commission
for the Protection of Human Subject of Biomedical dan Behavioral Research
pada tanggal 18 April 1979 . Laporan Belmont mengidentifikasikan tiga
prinsip, atau putusan preskriptif umum, yang relevan dengan penelitian yang
melibatkan subjek manusia.

B. Hewan Sebagai Subyek Penelitian


1. Penelitian Kesehatan
Penelitian kesehatan meliputi penelitian biomedik, epidemiologi,
sosial, serta perilaku. Sebagian penelitian kesehatan dapat dilakukan

3
secara in vitro, memakai model matematik, atau simulasi komputer. Jika
hasil penelitian akan dimanfaatkan untuk manusia, diperlukan penelitian
lanjutan dengan menggunakan bahan hidup (in vivo) seperti galur sel dan
biakan jaringan. Walaupun demikian, untuk mengamati, mempelajari, dan
menyimpulkan seluruh kejadian pada mahluk hidup secara utuh diperlukan
hewan percobaan karena hewan percobaan mempunyai nilai pada setiap
bagian tubuh dan terdapat interaksi antara bagian tubuh tersebut. Hewan
percobaan dalam penelitian disebut sebagai semi final test tube. Sampai
saat ini peneliti kesehatan masih melakukan penelitian dengan
memanfaatkan hewan percobaan, namun masih ada kekurangan dalam
penanganan dan perawatan hewan percobaan tersebut sebagaimana
layaknya diatur dalam etika pemanfaatan hewan percobaan.
2. Perlunya Hewan Percobaan
Bahan uji (obat) yang ditujukan untuk penggunaan pada manusia,
perlu diteliti dengan menyertakan subjek manusia sebagai final test tube.
Relawan manusia secara etis boleh diikutsertakan jika bahan yang akan
diuji telah lolos pengujian di laboratorium secara tuntas, dilanjutkan
dengan menggunakan hewan percobaan untuk kelayakan dan
keamanannya.
Hewan percobaan adalah setiap hewan yang dipergunakan pada
sebuah penelitian biologis dan biomedis yang dipilih berdasarkan syarat
atau standar dasar yang diperlukan dalam penelitian tersebut. Dalam
menggunakan hewan percobaan untuk penelitian diperlukan pengetahuan
yang cukup mengenai berbagai aspek tentang sarana biologis, dalam hal
penggunaan hewan percobaan laboratorium. Pengelolaan hewan percobaan
diawali dengan pengadaan hewan, meliputi pemilihan dan seleksi jenis
hewan yang cocok terhadap materi penelitian.
Pengelolaan dilanjutkan dengan perawatan dan pemeliharaan hewan
selama penelitian berlangsung, pengumpulan data, sampai akhirnya
dilakukan terminasi hewan percobaan dalam penelitian.

4
Rustiawan A," menguraikan beberapa alasan mengapa hewan percobaan
tetap diperlukan dalam penelitian khususnya di bidang kesehatan, pangan
dan gizi antara lain:
a. Keragaman dari subjek penelitian dapat diminimalisasi
b. Variabel penelitian lebih mudah dikontrol
c. Daur hidup relatif pendek sehingga dapat dilakukan penelitian yang
bersifat multigenerasi,
d. Pemilihan jenis hewan dapat disesuaikan dengan kepekaan hewan
terhadap materi penelitian yang dilakukan
e. Biaya relatif murah
f. Dapat dilakukan pada penelitian yang berisiko tinggi
g. Mendapatkan informasi lebih mendalam dari penelitian yang
dilakukan karena kita dapat membuat sediaan biologi dari organ
hewan yang digunakan
h. Memperoleh data maksimum untuk keperluan penelitian simulasi, dan
i. Dapat digunakan untuk uji keamanan, diagnostik dan toksisitas.
Penelitian yang memanfaatkan hewan coba, harus menggunakan
hewan percobaan yang sehat dan berkualitas sesuai dengan materi
penelitian. Hewan tersebut dikembangbiakkan dan dipelihara secara
khusus dalam lingkungan yang diawasi dan dikontrol dengan ketat
Tujuannya adalah untuk mendapatkan defined laboratory animals sehingga
sifat genotipe, fenotipe (efek maternal), dan sifat dramatipe (efek
lingkungan terhadap fenotipe) menjadi konstan. Hal itu diperlukan agar
penelitian bersifat reproducible, yaitu memberikan hasil yang sama apabila
diulangi pada waktu lain, bahkan oleh peneliti lain. Penggunaan hewan
yang berkualitas dapat mencegah pemborosan waktu, kesempatan, dan
biaya.
Berbagai hewan kecil memiliki karakteristik tertentu yang relatif
serupa dengan manusia, sementara hewan lainnya mempunyai kesamaan
dengan aspek fisiologis metabolis manusia. Tikus putih sering digunakan
dalam menilai mutu protein, toksisitas, karsinogenik, dan kandungan
pestisida dari suatu produk bahan pangan hasil pertanian.

5
Saat ini, beberapa strain tikus digunakan dalam penelitian di
laboratorium hewan coba di Indonesia, antara lain: Wistar; (asalnya
dikembangkan di Institut Wistar), yang turunannya dapat diperoleh di
Pusat Teknologi Dasar Kesehatan dan Pusat Teknologi Terapan Kesehatan
dan Epidemiologi Klinik Badan Litbangkes; dan Sprague- Dawley; (tikus
albino yang dihasilkan di tanah pertanian Sprague-Dawley), yang dapat
diperoleh di laboratorium Badan Pengawasan Obat dan Makanan dan
Pusat Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes
3. Etika Pemanfaatan Hewan Uji Coba
Etika Pemanfaatan Hewan Coba Hewan percobaan yang digunakan
pada penelitian akan mengalami penderitaan, yaitu:ketidaknyamanan,
ketidak-senangan, kesusahan, rasa nyeri, dan terkadang berakhir dengan
kematian. Berdasarkan hal tersebut, hewan yang dikorbankan dalam
penelitian yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh manusia patut dihormati,
mendapat perlakuan yang manusiawi, dipelihara dengan baik, dan bisa
disesuaikan pola kehidupannya seperti diusahakan agar di alam. Peneliti
yang akan memanfaatkan hewan percobaan pada penelitian kesehatan
harus mengkaji kelayakan dan alasan pemanfaatan hewan dengan
mempertimbangkan penderitaan yang akan dialami oleh hewan percobaan
dan manfaat yang akan diperoleh untuk manusia.
4. Prinsip Etika Penelitian Dalam Pelaksanan Penelitian
Peneliti harus membuat dan menyesuaikan protokol dengan standar yang
berlaku secara ilmiah dan etik penelitian kesehatan. Etik penelitian
kesehatan secara umum tercantum dalam World Medical As-sociation,
yaitu:
a. Respect (menghormati hak dan martabat makhluk hidup, kebebasan
memilih dan berkeinginan, serta bertanggung jawab terhadap dirinya,
termasuk di dalamnya hewan coba),
b. Beneficiary (bermanfaat bagi manusia dan makhluk lain, manfaat yang
didapatkan harus lebih besar dibandingkan dengan risiko yang diterima),
dan

6
c. Justice (bersikap adil dalam memanfaatkan hewan percobaan). Contoh
sikap tidak adil, antara lain: hewan disuntik/ dibedah berulang untuk
menghemat jumlah hewan, memakai obat eu-thanasia yang menimbulkan
rasa nyeri karena harga yang lebih murah.
Ilmuwan penelitian kesehatan yang menggunakan model hewan
menyepakati bahwa hewan coba yang menderita dan mati untuk
kepentingan manusia perlu dijamin kesejah- teraannya dan diperlakukan
secara manusiawi. Dalam penelitian kesehatan yang memanfaatkan hewan
coba, juga harus diterapkan prinsip 3 R dalam protokol penelitian, yaitu:
1. Replacement
Replacement adalah keperluan memanfaatkan hewan percobaan sudah
diperhitungkan secara seksama, baik dari pengalaman terdahulu maupun
literatur untuk menjawab pertanyaan penelitian dan tidak dapat digantikan
oleh mahluk hidup lain seperti sel atau biakan jaringan. Replacement
terbagi menjadi dua bagian, yaitu: relatif (mengganti hewan perco-baan
dengan memakai organ/jaringan hewan dari rumah potong, hewan dari
ordo lebih rendah) dan absolut (mengganti hewan percobaan dengan kultur
sel, jaringan, atau program komputer).
2. Reduction
Reduction diartikan sebagai pemanfaatan hewan dalam penelitian sesedikit
mungkin, tetapi tetap mendapatkan hasil yang optimal. Jumlah minimum
biasa dihitung menggunakan rumus Frederer yaitu (n-1) (t-1) >15, dengan
n adalah jumlah hewan yang diperlukan dan t adalah jumlah kelompok
perlakuan. Kelemahan dari rumus itu adalah semakin sedikit kelompok
penelitian, semakin banyak jumlah hewan yang diperlukan, serta
sebaliknya. Untuk mengatasinya, diperlukan penggunaan desain statistik
yang tepat agar didapatkan hasil penelitian yang sahih.
3. Refinement.
Refinement adalah memperlakukan hewan percobaan secara manusiawi
(humane), memelihara hewan dengan baik, tidak menyakiti hewan, serta
meminimalisasi perlakuan yang menyakitkan sehingga menjamin

7
kesejahteraan hewan coba sampai akhir penelitian. Pada dasarnya prinsip
refinement berarti membebaskan hewan coba dari beberapa kondisi, yaitu :
a. Bebas dari rasa lapar dan haus, dengan memberikan akses makanan dan air
minum yang sesuai dengan jumlah yang memadai baik jumlah dan
komposisi nutrisi untuk kesehatannya. Makanan dan air minum memadai
dari kualitas, dibuktikan melalui analisa proximate makanan, analisis mutu
air minum, dan uji kontaminasi secara berkala. Analisis pakan hewan
untuk mendapatkan komposisi pakan, menggunakan metode standar."
b. Hewan percobaan bebas dari ketidak-nyamanan, disediakan lingkungan
bersih dan paling sesuai dengan biologi hewan percobaan yang dipilih,
dengan perhatian terhadap: siklus cahaya, suhu, kelembaban lingkungan,
dan fasilitas fisik seperti ukuran kandang untuk kebebasan bergerak,
kebiasaan hewan untuk mengelompok atau menyendiri.
c. Hewan coba harus bebas dari nyeri dan penyakit dengan menjalankan
program kesehatan, pencegahan, dan pemantauan, serta pengobatan
tehadap hewan percobaan jika diperlukan. Penyakit dapat diobati dengan
catatan tidak mengganggu penelitian yang sedang dijalankan. Bebas dari
nyeri diusahakan dengan memilih prosedur yang meminimalisasi nyeri
saat melakukan tindakan invasif, yaitu dengan menggunakan analgesia dan
anesthesia ketika diperlukan.
Euthanasia dilakukan dengan metode yang manusiawi oleh orang
yang terlatih untuk meminimalisasi atau bahkan meniadakan penderitaan
hewan coba. Hewan juga harus bebas dari ketakutan dan stress jangka
panjang, dengan menciptakan lingkungan yang dapat mencegah stress,
misalnya memberikan masa adaptasi/aklimatisasi, memberikan latihan
prosedur penelitian untuk hewan. Semua prosedur dilakukan oleh tenaga
yang kompeten, terlatih, dan berpengalaman dalam
merawat/memperlakukan hewan percobaan untuk meminimalisasi stres.
Hewan diperbolehkan mengekspresikan tingkah laku alami dengan
memberikan ruang dan fasilitas yang sesuai dengan kehidupan biologi dan
tingkah laku spesies hewan percobaan. Hal tersebut dilakukan dengan
memberikan sarana untuk kontak sosial (bagi spesies yang bersifat sosial),

8
termasuk kontak sosial dengan peneliti; menempatkan hewan dalam
kandang secara individual, berpasangan atau berkelompok; memberikan
kesempatan dan kebebasan untuk berlari dan bermain.
Di dalam protokol penelitian harus dijelaskan secara rinci berbagai
hal berikut: pemilihan, strain, asal hewan, aklimatisasi, pemeliharaan,
tindakan yang direncanakan, (termasuk tindakan untuk
meringankan/mengurangi rasa nyeri dan meniadakan penderitaan hewan),
pihak yang bertanggung jawab terhadap perawatan hewan, dan cara
menewaskan, serta cara membuang kadaver. Uraian perlakuan pada hewan
percobaan dapat dianalogikan sebagai informed consent bagi hewan dan
menjadi penilaian dalam etika penelitian yang menggunakan hewan coba

9
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Penelitian kesehatan meliputi penelitian biomedik, epidemiologi,
sosial, serta perilaku. Sebagian penelitian kesehatan dapat dilakukan
secara in vitro, memakai model matematik, atau simulasi komputer. Jika
hasil penelitian akan dimanfaatkan untuk manusia, diperlukan penelitian
lanjutan dengan menggunakan bahan hidup (in vivo) seperti galur sel dan
biakan jaringan. Hewan yang dikorbankan dalam penelitian yang hasilnya
dapat dimanfaatkan oleh manusia patut dihormati, mendapat perlakuan
yang manusiawi, dipelihara dengan baik, dan bisa disesuaikan pola
kehidupannya seperti diusahakan agar di alam. Peneliti yang akan
memanfaatkan hewan percobaan pada penelitian kesehatan harus mengkaji
kelayakan dan alasan pemanfaatan hewan dengan mempertimbangkan
penderitaan yang akan dialami oleh hewan percobaan dan manfaat yang
akan diperoleh untuk manusia.
B. Saran
Diharapkan mahasiswa dapat memahami dengan baik teori dan melatih
diri sehingga nantinya dapat menerapkan sesuai dengan prosedur yang
ada.

10
DAFTAR PUSTAKA

Black’s Law Dictionary, 7 ed (2018) Minnesota: West Publishing Company.


Ridwan, E. 2013. Etika Pemanfaatan Hewan Percobaan dalam Penelitian
Kesehatan. J Indon Med Assoc 63(3): 113-115

11