Anda di halaman 1dari 14

EFEKTIVITAS AUDIT PEMERITAH TERHADAP TINGKAT KORUPSI

DI SULAWESI TENGAH

KONSEP RISET

Disusun Oleh
MUHAMMAD ALIZA SHOFY
NIM. 176020310011021

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITASI BRAWIJAYA
MALANG
2021
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia memiliki 34 provinsi dengan 508 kota dan kabupaten

(Kemendagri RI, 2019). Setiap provinsi, kota, dan kabupaten memiliki

kewenangan untuk mengelola keuangan dan kinerjanya sendiri (Undang-

Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah). Undang-

undang tersebut dikeluarkan untuk mendukung desentralisasi sebagai salah

satu reformasi sektor publik Indonesia. Dengan memberikan otonomi

kepada pemerintah daerah untuk mengatur diri, pemerintah Indonesia

menganggap bahwa desentralisasi dapat mempercepat pembangunan

ekonomi di setiap pemerintah daerah. Selain itu, daerah dapat

meningkatkan pembangunan nasional.

Beberapa masalah muncul karena desentralisasi. Rodrigo dkk.

(2009) menjelaskan bahwa pembuatan peraturan di pemerintah daerah

dengan kualitas yang sama seperti di pemerintah negara bagian menjadi

salah satu tantangan di negara desentralisasi dan juga masalah korupsi.

Menurut Maravic (2007), desentralisasi menggeser korupsi dari negara

bagian ke tingkat pemerintah daerah, yang disebut desentralisasi korupsi.

Rinaldi dkk. (2007) juga beranggapan bahwa korupsi di daerah dapat

meningkat karena desentralisasi. Selain itu, desentralisasi dapat

menciptakan ‘politik uang’ pada pemilihan gubernur dan walikota.


Hukum Indonesia mengatur bahwa setiap pemerintah daerah harus

melaporkan keuangan dan kinerjanya setiap tahun melalui laporan

keuangan. Laporan ini diaudit oleh lembaga audit eksternal dengan

memberikan opini sesuai standar akuntansi sektor publik. Pemerintah

daerah juga diaudit oleh lembaga audit internal untuk pengelolaan

keuangan dan kinerja mereka. Audit ini dilakukan untuk menjaga tata

kelola pemerintah daerah yang baik melalui transparansi dan akuntabilitas.

Setyaningrum (2015) berpendapat bahwa masyarakat dapat menggunakan

laporan keuangan pemerintah daerah sebagai alat monitoring untuk

mengevaluasi kinerja pemerintah daerah.

Fungsi audit pemerintah di Indonesia dapat dibedakan menjadi

lembaga audit eksternal dan internal. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

adalah lembaga audit eksternal. BPK melakukan audit keuangan dan

memberikan opini atas laporan keuangan pemerintah daerah. Mereka juga

melakukan audit kinerja dan audit tujuan khusus. Pemerintah daerah dan

pemerintah pusat memiliki lembaga audit internal sendiri yang melakukan

audit, kecuali audit keuangan atas laporan keuangan. Tugas lembaga audit

intern adalah memastikan bahwa sistem pengendalian intern pemerintah

telah dilaksanakan sebagaimana yang diminta oleh Peraturan Pemerintah

Republik Indonesia nomor 60 tahun 2008.

Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dijelaskan dalam Undang-

Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana

Korupsi pasal 2 dan 3 adalah perbuatan melawan hukum yang


memperkaya orang atau orang lain dan merugikan keuangan negara.

Artinya tindak pidana korupsi dapat dituntut jika merugikan keuangan

negara. Tindak pidana korupsi di Indonesia dapat diselidiki oleh Komisi

Pemberantasan Korupsi Indonesia atau Kepolisian Republik Indonesia

atau lembaga Kejaksaan Republik Indonesia. Penyidik lembaga penegak

hukum dapat mengadili tindak pidana korupsi dan menghitung kerugian

keuangan negara sendiri atau meminta kepada lembaga lain yang memiliki

kompetensi dan keahlian profesional dalam menghitung kerugian

keuangan negara melalui pemeriksaan pemeriksaan atau pemeriksaan

perhitungan kerugian keuangan negara.

Banyak negara menghadapi masalah korupsi yang dapat

membahayakan perekonomian negara-negara tersebut. Studi terbaru oleh

Transparency International (TI, 2017) menempatkan Indonesia pada posisi

ke-90 dari 176 negara. Skor Indonesia adalah 37 sedangkan skor rata-rata

semua negara adalah 43. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia dianggap

sebagai negara dengan tingkat korupsi yang tinggi. Studi lain

memperkirakan kerugian keuangan negara akibat korupsi di Indonesia

sekitar Rp 31,077 triliun pada tahun 2015 (ICW, 2019).

Suatu hasil survei bisnis yang dirilis Political & Economic Risk

Consultancy atau PERC mengatakan bahwa pada tahun 2019 Indonesia

merupakan negara terkorup nomor 2 dengan skor 8,09 dari 16 negara

tujuan investasi di Asia Pasifik. Survei tersebut dilakukan terhadap 900

responden ekspatriat di Asia. Persepsi diukur menggunakan skala yaitu


skor 0 sampai dengan 10. Skor 0 adalah nilai terbagus dan 10 nilai

terburuk. Nilai tersebut tidak jauh berbeda dengan skor Indonesia tahun

2010 yaitu 9,07 yang saat itu menempati posisi pertama negara terkorup di

Asia Pasifik. Posisi kedua ditempati Kamboja, kemudian Vietnam,

Filipina, Thailand, India, China, Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, Makao,

Jepang, Amerika Serikat, Hongkong, Australia, dan Singapura sebagai

negara yang paling bersih (PERC, 2019).

Gambar 1.1 Perbandingan penanganan Korupsi 2016-2020


Sumber : (ICW, 2020)

Berdasarkan 1.1 grafik di atas diketahui bahwa penanganan perkara

korupsi yang dilakukan oleh penegak hukum sejak semester I 2016 hingga

semester I 2020 mengalami fluktuasi. Begitu pun juga terhadap para pihak

yang ditetapkan sebagai tersangka. Meskipun demikian, total nilai

kerugian negara yang berhasil diperkirakan hilang atau telah dihitung oleh

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan/atau Badan Pengawasan

Keuangan dan Pembangunan (BPKP) mengalami peningkatan.

Rata-rata kasus korupsi yang dapat disidik oleh penegak hukum

pada semester I setiap tahunnya sebanyak 181 kasus. Sedangkan rata-rata


para pihak yang ditetapkan sebagai tersangka semester I setiap tahunnya

sebanyak 412. Penurunan kinerja penegak hukum mulai terlihat sejak

semester I 2018. Pun adanya peningkatan di semester I tahun selanjutnya,

angkanya tidak signifikan. Hal yang sama juga terlihat pada aspek

penetapan tersangka. Sedangkan pada aspek nilai kerugian negara,

terjadinya kenaikan yang sangat signfikan sejak semester I 2018 hingga

semester I 2020.

Dari informasi di atas setidaknya menunjukkan dua hal. Pertama,

tingkat transparansi penanganan kasus korupsi yang ditangani oleh

institusi penegak hukum rendah jika ditinjau dari segi kasus. Sebab

informasi yang diolah dan didapatkan oleh ICW berdasarkan dari

pemberitaan dan siaran pers yang disampaikan oleh penegak hukum.

Kedua, mekanisme pengawasan terhadap penggunaan anggaran negara

malfungsi. Buktinya, selama periode semester I sejak tahun 2016 hingga

2020 total anggaran negara yang dikorupsi sebesar Rp28,8 triliun.


Tabel 1.2 Pemetaan Korupsi Berdasarkan Modus

Sumber : (ICW, 2020)

Modus yang paling dominan dilakukan oleh para pelaku korupsi

adalah penggelapan. Ada sebanyak 47 kasus korupsi dengan nilai kerugian

negara sebesar Rp233,7 miliar yang melibatkan 83 orang dengan berbagai

latar belakang profesi. Rata-rata kerugian negara yang ditimbulkan akibat

modus penggelapan adalah sebesar Rp4,9 miliar.

Pelaku didominasi oleh Aparatur Sipil Negara (ASN), Kepala Desa

dan Direktur/Karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Rata-rata

uang negara yang digelapkan oleh ASN sebesar Rp1,4 miliar. Sementara

itu, rata-rata kerugian keuangan negara yang ditimbulkan oleh Kepala

Desa karena melakukan penggelapan sebesar Rp460 juta. Sedangkan,

rerata kontribusi Direktur/Karyawan BUMN dalam mengambil uang

negara dengan menggunakan modus penggelapan sangat besar, yakni

sekitar Rp20,1 miliar.


Penghitungan besaran kerugian dilakukan dengan audit

Penghitungan Kerugian Keuangan Negara (PKKN). Salah satu instansi

yang berwenang adalah Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan

(BPKP). Dasar kewenangan BPKP diatur dalam PP No 192 Tahun 2014.

BPKP Pada Tahun 2020 memiliki target penguatan pengawasan yaitu

meningkatkan kepatuhan, efektivitas, status opini BPK terhadap

pengelolaan keuangan negara serta menurunkan tingkat penyalahgunaan

wewenang pada masing-masing instansi pemerintah. Dengan demikian

program ini diharapkan dapat meningkatkan penyelenggaraan

pemerintahan yang bersih dan bebas KKN.

Hingga akhir tahun 2020, 3 unit telah melakukan self assessment

menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), 29 unit

melakukan self assessment menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan 12

unit mendaftar Zona Integritas (ZI) menuju WBK, sebuah pencapaian

kinerja yang baik jika dibandingkan dengan tahun 2019, dimana hanya 1

unit mendaftar ZI menuju WBK. Provinsi yang masuk kedalam Zona

Integritas adalah Perwakilan BPKP Aceh, Perwakilan BPKP Provinsi

Jambi, Perwakilan BPKP Provinsi Jawa Barat, Perwakilan BPKP Provinsi

Jawa Tengah, Perwakilan BPKP Provinsi Kalimantan Tengah, Perwakilan

BPKP Provinsi Kalimantan Timur, Perwakilan BPKP Provinsi Kalimantan

Utara, Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Tengah, Perwakilan BPKP

Provinsi Sulawesi Tenggara, Perwakilan BPKP Provinsi Gorontalo,

Perwakilan BPKP Provinsi Nusa Tenggara Barat, Perwakilan BPKP


Provinsi Papua. Namun, dari semua provinsi yang masuk ke Zona

Intergritas Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Tenggara kurang bagus

dalam hasil penilaian kinerja. Berdasarkan hasil kinerja di 2020

Perwakilan BPKP Provinsi Sulawesi Tengah kurang dalam sasaran

kegiatan 1 dan 2, dapat dilihat pada Gambar 1 dibawah ini :

Gambar 1. Penilaian Kinerja BPKP Sulawesi Tengah


Sumber : Penilaian Kinerja BPKP Sulawesi Tengah (2020)

Berdasarkan Gambar 1 diatas dapat dilihat bahwa Sasaran

Kegiatan 1 (Meningkatnya Pengawasan Pembangunana atas Akuntabilitas

Keuangan Negara/Daerah) Nilainya 89%, Sasaran Kegiatan 2

(Meningkatnya Pengawasan Pembangunan Atas Pembangunan Nasional)

nilainya 33%, Sasaran Kegiatan 3 (Meningkatnya Pengawasan

Pembangunan Atas Badan Usaha) nilainya 201%, Sasaran Kegiatan 4

(Meningkatnya Pengawasan Pembangunan Atas Efektivitas Pengendalian

Korupsi) nilainya 121%, Sasaran Kegiatan 5 (Meningkatnya Pengawasan

Pembangunan Atas Kualitas Pengendalian Internal) nilainya adalah 107%,


dan sasaran kegiatan 6 (Meningkatnya Kualitas Layanan "Ketatausahaan"

Unit Kerja) nilainya 104%.

Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah yang merupakan salah satu

kejaksaan yang ada di indonesia. Dalam penanganan kasus semua

perkaran di tahun 2020 Kejati sulteng menangani selama tahun 2020

menangani kasus korupsi sebanyak 56 kasus korupsi, namun kasus korupsi

yang terselesaikan hanya 11 kasus korupsi, dan masih menyisakan 45

kasus korupsi yang belum terselesaikan dan dari angka tersebut dapat

dilihat bahwa 80% kasus belum terselesaikan. Dapat disimpulkan kinerja

Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah belum baik dari angka tersebut (Kejati

Sulteng, 2021).

Studi Liu dan Lin (2012) secara empiris menyelidiki peran

pemerintah Cina dalam mengaudit. Menggunakan data panel di provinsi-

provinsi Tiongkok dari 1999 hingga 2008, ia menganalisis bagaimana

deteksi penipuan dan tindakan tindak lanjut berkontribusi pada perang

melawan korupsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan

positif antara tingkat korupsi di provinsi-provinsi China dengan jumlah

penyimpangan yang ditemukan dalam audit pemerintah. Hasil lainnya

adalah tingkat korupsi berkorelasi negatif dengan upaya perbaikan pasca

audit. Masyitoh (2014) mempelajari dampak opini dan temuan audit BPK

terhadap persepsi korupsi di pemerintah daerah Indonesia. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara opini audit BPK atas

laporan keuangan pemerintah daerah dengan tingkat persepsi korupsi.


Lembaga audit memiliki peran dalam pemberantasan korupsi.

Kebutuhan akan audit menjadi krusial untuk menyelesaikan masalah

keagenan. Audit adalah alat pemantauan dimana prinsipal dapat

mendeteksi perilaku tidak teratur oleh agen. Teori polisi, seperti yang

dibahas dalam Hayes et al. (2014) menyatakan bahwa masyarakat

menyerukan audit karena ingin ditemukan penyimpangan pada

pengeluaran pemerintah. BPKP sebagai lembaga audit internal memiliki

beberapa tugas sebagaimana disyaratkan dalam Peraturan Presiden

Republik Indonesia nomor 192 Tahun 2014. BPKP harus mengevaluasi

pelaksanaan sistem pengendalian intern pemerintah dan sistem

pengendalian fraud yang dapat mencegah, mendeteksi, dan menangkal

korupsi. BPKP dapat melakukan pemeriksaan penyidikan, melakukan

pemeriksaan perhitungan kerugian keuangan negara dan memberikan

keterangan ahli mengenai penyimpangan yang berindikasi korupsi.

Pertanyaan penelitian yang muncul dari pembahasan ini adalah

sejauh mana penyimpangan yang ditemukan dalam audit fraud BPKP

mempengaruhi tingkat korupsi di provinsi-provinsi di Indonesia. Namun,

mungkin ada kausalitas terbalik antara upaya deteksi kecurangan audit dan

tingkat korupsi. Di tempat-tempat yang lebih korup, lembaga audit akan

lebih berupaya mendeteksi penyimpangan. Oleh karena itu, pertanyaan

selanjutnya adalah sejauh mana tingkat korupsi di provinsi-provinsi di

Indonesia dapat mempengaruhi upaya audit kecurangan BPKP.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas,

dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana penyimpangan yang ditemukan dalam audit fraud BPKP

sulawesi tengah mempengaruhi tingkat korupsi di provinsi sulawesi

tengah?

2. Bagaimana tingkat korupsi di provinsi sulawesi tengah dapat

mempengaruhi upaya audit kecurangan BPKP sulawesi tengah ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dalam

penelitian ini adalah untuk mengetahui :

1. Sejauh mana penyimpangan yang ditemukan dalam audit fraud BPKP

sulawesi tengah mempengaruhi tingkat korupsi di provinsi sulawesi

tengah?

2. Sejauh mana tingkat korupsi di provinsi sulawesi tengah dapat

mempengaruhi upaya audit kecurangan BPKP sulawesi tengah ?

1.4 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis
Manfaat dari penelitian ini adalah membantu pengembangan

ilmu Akuntansi di Indonesia

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan mampu memberi tambahan referensi

bagi penyelenggara negara untuk dapat mendeteksi dan mencegah

korupsi di pemerintah daerah dan memberi tambahan referensi bagi

semua organisasi sektor publik yang memiliki wewenang dalam

pembentukan pedoman untuk mengurangi korupsi yang terjadi di

instansi pemerintahan Indonesia

Research Framework

Adanya audit pemerintahan


dan pengungkapan laporan Maraknya kasus korupsi di
keuangan yang dapat lingkungan pemerintah
meningkatkan akuntabilitas daerah tingkat provinsi
dan transparans

GAP

Basis Teori:
Teori Keagenan (Agency Theory)
Teori Signal (Signaling Theory
AUDIT PEMERINTAH TINGKAT KORUPSI

ALAT ANALISIS
REGRESI / SPSS

Anda mungkin juga menyukai