Jelajahi eBook
Kategori
Jelajahi Buku audio
Kategori
Jelajahi Majalah
Kategori
Jelajahi Dokumen
Kategori
NPM : 17010026
Grup : 1T2
2017
BAB I
PENDAHULUAN
Proses menggulung benang dalam suatu bentuk dan volume tertentu sesuai dengan kebutuhan
merupakan proses pengelosan. Bentuk gulungan benang yang akan dirubah adalah bentuk
gulungan dari streng ke cones, serta gulungan dalam bentuk cones ke cones lain. Hal tersebut
bertujuan untuk meningkatkan mutu benang yang meliputi kekuatan, kerataan, kebersihan
benang. Dan juga membuat gulungan benang sesuai bentuk dan volume, sesuai dengan
kebutuhan proses selanjutnya.
BAB II
DASAR TEORI
Proses menggulung benang dalam suatu bentuk dan volume tertentu sesuai dengan kebutuhan
merupakan proses pengelosan. Mesin yang digunakan untuk tujuan tersebut adalah mesin kelos.
Mesin kelos merupakan salah satu diantara sekian proses persiapan pertenunan. Setidaknya ada
empat tujuan proses pengelosan, yaitu sebagai berikut :
a. Meningkatkan mutu benang yang meliputi kekuatan, kerataan, kebersihan benang dan
sambungan-sambungan yang kurang baik.
b. Meningkatkan mutu gulungan benang yang meliputi kerataan permukaan, kekerasan,
bentuk gulungan benang.
c. Membuat gulungan benang sesuai dengan bentuk dan volume sesuai dengan
kebutuhan proses selanjutnya.
d. Meningkatkan mutu dan efesiensi pada proses selanjutnya.
Cara kerja mesinnya adalah benang (penggulungnya) pada bobbin terjadi karena gerakan
poros friksi (drum). Fungsi dari cakra sebagai penahan agar gulungan ditiap-tiap pinggir tidak
meleset, terutama untuk benang-benang yang licin dan yang mengalami perpindahan tempat.
Mesin kelos yang termasuk dalam jenis penggulungan pasif antara lain:
1) Mesin kelos eksentrik
Mekanisme kerja mesin ini dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut:
Sebuah poros eksentrik dapat menggerakakn dua buah peluncur pengantar benang dengan
berputarnya poros eksentrik, hal ini merupakan panjangnya traverse benang yang digulung
pada bobbin (panjang bobbin). Hubungan antara poros eksentrik dengan poros pnggulung
melalui perntara roda-roda gigi dengan salah satu roda gigi dapat diganti-ganti (change
wheel) dengan demikian perbandingan kecepatan treves pengantar benang dengan kecepatan
penggulung pada bobbin dapat diatur fungsinya untuk menentukan besarnya sudut gulungan
pada bobbin yang akan dihasilkan, yaitu dengan perubahan posisi benag-benang diatas
bobbin
Kekurangan dari mesin ini yaitu:
Benang yang ditarik dengan kecepatan tinggi dapat menyebabkan benang bertambah
berbulu.
Besarnya produksi mesin kelos ini tergantung pada tekanan spindle terhadap poros friksi
(pengaruh slip).
ALAT
1. Mesin winding
2. Jangka sorong
3. Alat kebut benang
4. Timbangan digital
5. Streng
6. Penggaris
7. Stop watch
8. Rol meter
9. Stroboscope
10. Haspel (Kincir)
BAHAN
1. Benang Ne1
2. Paper cone
BAB IV
LANGKAH KERJA
BAB V
PEMBAHASAN
= 97,42 – 43,96
= 53,46 gram
φ pulley 1(aktif )
N drum = N motor × φ pulley 2( pasif )
6,56
= 1400 ×
20
= 459,2 RPM
produksi nyata
Efisiensi = × 100 %
produksi teoritis
53,46
= ×100 %
102,27
= 52,27 %
Berikut alur proses benang di mesin winding Streng to Cone
PULLEY
2
MOTOR
PULLEY 1
= 283,86 – 39,67
= 244,19 gram
φ pulley 1(aktif )
N drum = N motor × φ pulley 2( pasif )
6,56
= 1400 ×
13
= 706 RPM
produksi nyata
Efisiensi = × 100 %
produksi teoritis
244,19
= ×100 %
273,49
= 89,28 %
Volume benang
πh
= (( D 12+ D 1 D2+ D22 )−(d 21 +d 1 d2 + d22 ))
12
3,14 x 15,1
= (( 7,692 ¿ + ( 7,69 ) ( 10,41 )+(10,41)2) −¿ )
12
= 3,9511 ((247,5571) – (88,7677))
CONE PEPER
DRUM ALUR
PULLEY 2
BELT
MOTOR
PULLEY 1
CONE ISI
BAB VI
DISKUSI
Saat praktikum mesin winding seringkali tidak berjalan lancar dikarenakan adanya benang
yang putus, dan sering terjadi benang yang putus berulang kali karena sambungan benang yang
kurang kuat dan mengakibatkan proses pengelosan terhenti setiap kali benang putus sampai
benang tersambung lagi. Benang yang sering putus tersebut sangat berpengaruh pada hasil
produksi per satuan waktu. Semakin besar efisiensinya, semakin besar produk yang dihasilkan
mesin per satuan waktu. Saat praktikum kita membutuhkan waktu yang lumayan lama saat
penyambungan benang, dikarenakan masih pemula, sehingga waktunya banyak terbuang.
Faktor lain yang mempengaruhi hasil produksi dari streng ke cone yaitu kurang terurainya
benang streng karena pengebutan yang tidak sempurna yang menyebabkan benang streng pada
haspel ada yang kusut, sehingga tidak dapat ditarik pengantar benang dan putus. Atau sudut
pengantar benang yang tidak berjalan semestinya, mengakibatkan hasil penggulungan yang
dihasilkan tidak rata di cone dan menumpuk di satu tempat saja tidak merata di seluruh bagian
cone. Selain itu banyak benang yang putus pada haspel sehingga saat benang putus kesusahan
mencari ujung benang yang akan disambung lagi agar proses tetap berjalan.
Oleh karena itu sebaiknya saat melakukan pengebutan benang usahakan keadaan telapak
tangan harus melebar agar benang dapat terurai baik, dan usahakan agar benang terurai dan
sejajar secara sempurna sehingga pada saat melakukan proses pengelosan benang tidak mudah
putus.
Untuk praktikum pengelosan benang dari cones ke cones lebih mudah dibandingkan dengan
membetuk gulungan dari streng ke cones. Pada proses cones ke cones lebih efisien dikarenakan
benang yang tergulung di cones sudah rapi dan teratur.
Adapun hal hal yang harus diperhatikan ketika akan melakukan praktikum cones ke cones yaitu:
1. Ukuran cones harus diperhatikan, cones yang digunakan harus sesuai dengan spindle.
Karena apabila paper cone miring, maka gulungan benang pada paper cone tidak akan rata
dan akan menyebabkan benang akan menggulung dengan sembarang dan hasilnya jelek
2. Saat menempelkan benang ke cones pada drum beralur harus secara perlahan mengikuti arah
gerak drum beralur, jangan langsung dilepaskan supaya benang tidak mengalami tarikan
berlebih dan putus.
3. Apabila ring tension terlalu ringan, gulungan benang akan gembos namun apabila ring
tension terlalu berat, benang akan mudah putus oleh karena itu ring tension harus di
perhatikan dan harus sesuai dengan nomor benang.
Pada proses ini, efisiensi produksi pengelosan benang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal,
diantaranya :
1. Kualitas benang yang dikelos.
2. Frekuensi putus benang pada saat pengelosan.
3. Tegangan yang diberikan pada pengantar benang.
BAB VII
KESIMPULAN
BAB VIII
DAFTAR PUSTAKA
http://rizkipurwaningwulan.blogspot.co.id/2014/01/praktikumpengelosan-winding-i.html
http://pengelosan.blogspot.co.id/2013/01/pengelosan.html
(Diakses pada tanggal 8 Maret 2018)