Anda di halaman 1dari 5

PENDAPAT ULAMA TENTANG PRO DAN KONTRA IJTIHAD

PADA MASA SEKARANG

PENDAHULUAN
Menelaah kembali ijtihad di era modern menjadi suatu kebutuhan. Banyak pihak
meyakini pintu ijtihad sudah tertutup, namun tidak sedikit pula yang menyatakan pintu ijtihad
akan tetap terbuka sepanjang zaman. Pro kontra ini sejatinya membuka peluang terhadap
pemikiran agar terus menerus melakukan kajian atas upaya dinamisasi ijtihad sebagai
salah satu metode pengambilan hukum yang bersumber dari ajaran Islam. Era modernitas tak
terelakkan, datang beriringan dengan kemajuan teknologi. Juga diikuti dengan kemajuan
pemikiran, budaya, dan peradab- an. Di zaman modernitas semacam ini, konservatisme
semakin tidak me- nemukan tempat. Siapa pun yang tidak beranjak dari pemikiran tradisi-
onalnya, bersiaplah menanti „kematian‟. Dia akan ditinggalkan dan ter- singkir dengan
sendirinya dari konstelasi zaman. Tidak hanya manusia, namun juga agama. Agama apa pun
yang tidak mampu mengikuti perkembangan zaman, dipastikan agama itu akan menghilang.
Perlahan namun pasti pemeluknya akan beralih pada agama lain, yang lebih fleksibel dan
tangguh menjawab tantangan perubahan. Sejak awal kelahirannya, Islam sebagai agama telah
menyimpan potensi ketangguhan dan fleksibelitas itu, seperti tertuang dalam ajarannya.
Sehingga tidak ada satu permasalahan pun di dunia ini, yang tidak terakomodir dalam Islam.
Sebagai agama pemungkas, Islam sanggup menjawab setiap tantangan yang disuguhkan
peralihan zaman.
Perubahan zaman itu selalu menyodorkan beragam permasalahan. Setiap permasalahan
itu pasti terjawab oleh Islam. Hanya saja, tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama
dalam menggali solusi atas setiap permasalahan itu dalam ajaran Islam. Oleh karenanya,
dalam Islam terdapat tingkatan sumber pengambilan hukum, yang bisa dijadikan pedoman
dalam mencari solusi setiap permasalahan tersebut. Salah satu dari sumber pengambilan
hukum itu adalah ijtihad.

Ijtihad (bahasa Arab: ‫ )اجتهاد‬adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya
bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu
perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal
sehat dan pertimbangan matang. Namun, pada perkembangan selanjutnya diputuskan bahwa
ijtihad sebaiknya hanya dilakukan para ahli agama.Islam.

Tujuan
Tujuan ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam
beribadah kepada Allah di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu. Orang yang
melakukan ijtihad disebut mujtahid"dan Mujtahid itu adalah orang yang melakukan ijtihad". .
Fungsi Ijtihad
Meski Al Quran sudah diturunkan secara sempurna dan lengkap, tidak berarti semua hal dalam
kehidupan manusia diatur secara detail oleh Al Quran maupun Al Hadist. Selain itu ada
perbedaan keadaan pada saat turunnya Al Quran dengan kehidupan modern. Sehingga setiap
saat masalah baru akan terus berkembang dan diperlukan aturan-aturan turunan dalam
melaksanakan Ajaran Islam dalam kehidupan beragama sehari-hari.
Jika terjadi persoalan baru bagi kalangan umat Islam di suatu tempat tertentu atau di suatu
masa waktu tertentu maka persoalan tersebut dikaji apakah perkara yang dipersoalkan itu
sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Quran atau Al Hadist. Sekiranya sudah ada maka
persoalan tersebut harus mengikuti ketentuan yang ada sebagaimana disebutkan dalam Al
Quran atau Al Hadits itu. Namun jika persoalan tersebut merupakan perkara yang tidak jelas
atau tidak ada ketentuannya dalam Al Quran dan Al Hadist, pada saat itulah maka umat Islam
memerlukan ketetapan Ijtihad. Tapi yang berhak membuat Ijtihad adalah mereka yang
mengerti dan paham Al Quran dan Al Hadist.

Jenis-jenis ijtihad
Ijmak
Ijmak artinya kesepakatan yakni kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu hukum-
hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits dalam suatu perkara yang terjadi.
Adalah keputusan bersama yang dilakukan oleh para ulama dengan cara ijtihad untuk
kemudian dirundingkan dan disepakati. Hasil dari ijma adalah fatwa, yaitu keputusan bersama
para ulama dan ahli agama yang berwenang untuk diikuti seluruh umat...

Qiyâs
Qiyas adalah menggabungkan atau menyamakan artinya menetapkan suatu hukum atau suatu
perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalam
sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi
sama. Dalam Islam, Ijma dan Qiyas sifatnya darurat, bila memang terdapat hal-hal yang
ternyata belum ditetapkan pada masa-masa sebelumnya. Beberapa definisi qiyâs (analogi):
1. Menyimpulkan hukum dari yang asal menuju kepada cabangnya, berdasarkan titik
persamaan di antara keduanya.
2. Membuktikan hukum definitif untuk yang definitif lainnya, melalui suatu persamaan di
antaranya.
3. Tindakan menganalogikan hukum yang sudah ada penjelasan di dalam [Al-Qur'an] atau
[Hadis] dengan kasus baru yang memiliki persamaan sebab (iladh).
4. Menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu hal yg belum di terangkan oleh al-qur'an dan
hadits.
Istihsân
Beberapa definisi Istihsân:
1. Fatwa yang dikeluarkan oleh seorang fâqih (ahli fikih), hanya karena dia merasa hal itu
adalah benar.
2. Argumentasi dalam pikiran seorang fâqih tanpa bisa diekspresikan secara lisan olehnya
3. Mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima, untuk maslahat orang banyak.
4. Tindakan memutuskan suatu perkara untuk mencegah kemudharatan.
5. Tindakan menganalogikan suatu perkara di masyarakat terhadap perkara yang ada
sebelumnya..

Maslahah Murshalah
Adalah tindakan memutuskan masalah yang tidak ada naskahnya dengan pertimbangan
kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarik manfaat dan menghindari
kemudharatan.

Sududz Dzariah
Adalah tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh atau haram demi
kepentingan umat.

Istishab
Adalah tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa
mengubahnya, contohnya apabila ada pertanyaan bolehkah seorang perempuan menikah lagi
apabila yang bersangkutan ditinggal suaminya bekerja di perantauan dan tidak jelas kabarnya?
maka dalam hal ini yang berlaku adalah keadaan semula bahwa perempuan tersebut statusnya
adalah istri orang sehingga tidak boleh menikah(lagi) kecuali sudah jelas kematian suaminya
atau jelas perceraian keduanya.

Urf
Adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat
setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan prinsipal dalam
Alquran dan Hadis.

Tingkatan-tingkatan
Ijtihad Muthlaq
Ijtihad Muthlaq adalah kegiatan seorang mujtahid yang bersifat mandiri dalam berijtihad dan
menemukan sebab-sebab hukum dan ketentuan hukumnya dari teks Al-Qur'an dan sunnah,
dengan menggunakan rumusan kaidah-kaidah dan tujuan-tujuan syara', serta setelah lebih
dahulu mendalami persoalan hukum, dengan bantuan disiplin-disiplin ilmu.
Landasan Ijtihad

Dasar hukum ijtihad bisa diperoleh dari al-Qur‟an dan Hadits Nabi. Di antaranya Nabi
Muhammad Saw bersabda:

‫اذااجتهد احالكم فأصاب فلو اجران وان اجتهد فأخطأ فلو أجر واحد‬
Artinya: “Apabila seorang hakim memutus suatu perkara berdasarkan ijtihadnya yang benar,
maka dia memperoleh dua pahala. Jika dia ber- ijtihad dalam suatu perkara, ternyata
ijtihadnya itu salah, maka dia pun masih memperoleh satu pahala.”
Dasar ijtihad juga menggunakan hadits yang diperoleh dari Sahabat Muadz bin Jabal
ketika ia diutus oleh Nabi ke daerah Yaman sebagai hakim. Sebelum berangkat bertugas,
Muadz bin Jabal terlebih dahulu menjalani pembekalan langsung dari Nabi. Dalam
pembekalan itu, Nabi memiliki cara tersendiri, seperti tergambar dalam hadits berikut.

Jenis-jenis Ijtihad (Mujtahid)


Jenis-jenis mujtahid disebut juga tingkatan mujtahid. Muhaimin mengatakan tingkatan
ijtihad ada dua, yaitu mujtahid muthlaq dan muj- tahid madzhab. Mujatahid mutlaq adalah
mujtahid yang mampu menggali hukum-hukum agama dari sumbernya. Di samping itu, ia
pun mampu menerapkan dasar-dasar pokok sebagai landasan ijtihad.
Mujtahid muthlaq ada dua. Pertama, mujtahid muthlaq mustaqil, yaitu mujtahid yang
dalam ijtihadnya menggunakan metode dan dasar- dasar yang ia susun sendiri. Ia tidak taqlid
kepada mujtahid lainnya. Bah- kan metode dan dasar-dasar yang ia susun menjadi mazhab
tersendiri. Yang termasuk kelompok mujtahid muthlaq mustaqil adalah empat mazhab fiqh,
masing-masing Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, dan Imam Hambali.
Kedua, mujtahid muthlaq muntasib, yaitu mujtahid yang telah men- capai derajad
muthlaq mustaqil, tetapi ia tidak menyusun metode ter- sendiri. Kelompok ini tidak taqlid
kepada imamnya tanpa dalil dan keterangan. Ia menggunakan keterangan imamnya untuk
meneliti dalil- dalil dan sumber-sumber pengambilannya. Contohnya, al-Muzanni dari
mazhab Syafii, al-Hasan bin Iyad dari mazhab Hanafi.
Sedangkan mujtahid mazhab ialah mujtahid yang mampu menge- luarkan hukum-
hukum agama yang tidak dan atau belum dikeluarkan oleh mazhabnya dengan cara
menggunakan metode yang telah disusun oleh mazhabnya. Seperti Abu Jakfar al-Thahtawi
dalam mazhab Hanafi.
Mujtahid mazhab dibagi dua; pertama, mujtahid takhrij; kedua, mujtahid tarjih atau
mujtahid fatwa.

Ijtihad fi al-Madzhab, (al-madzhab:adalah pendapat imam tentang hukum agama).


Seorang ulama berijtihad mengenai hukum syara', dengan menggunakan metode istinbath
hukum yang telah dirumuskan oleh imam mazhab, baik yang berkaitan dengan masalah-
masalah hukum syara' yang tidak terdapat dalam kitab imam mazhabnya, meneliti pendapat
paling kuat yang terdapat di dalam mazhab tersebut, maupun untuk memberikan fatwa hukum
yang disesuaikan kepada masyarakatnya. Secara lebih sempit, ijtihad tingkat ini
dikelompokkan menjadi 3 tingkatan.
1. Ijtihad at-Takhrij, yaitu kegiatan ijtihad yang dilakukan seorang mujtahid dalam mazhab
tertentu untuk melahirkan hukum syara' yang tidak terdapat dalam kumpulan hasil ijtihad
imam mazhabnya, dengan berpegang kepada kaidah-kaidah atau rumusan-rumusan hukum
imam mazhabnya. Pada tingkatan ini kegiatan ijtihad terbatas hanya pada masalah-
masalah yang belum pernah difatwakan imam mazhabnya, ataupun yang belum pernah
difatwakan oleh murid-murid imam mazhabnya.
2. Ijtihad at-Tarjih, yaitu kegiatan ijtihad yang dilakukan untuk memilah pendapat yang
dipandang lebih kuat di antara pendapat-pendapat imam mazhabnya, atau antara pendapat
imam dan pendapat murid-murid imam mazhab, atau antara pendapat imam mazhabnya
dan pendapat imam mazhab lainnya. Kegiatan ulama pada tingkatan ini hanya melakukan
pemilahan pendapat, dan tidak melakukan istinbath hukum syara'.
3. Ijtihad al-Futya, yaitu kegiatan ijtihad dalam bentuk menguasai seluk-beluk pendapat-
pendapat hukum imam mazhab dan ulama mazhab yang dianutnya, dan memfatwakan
pendapat-pendapat terebut kepada masyarakat. Kegiatan yang dilakukan ulama pada
tingkatan ini terbatas hanya pada memfatwakan pendapat-pendapat hukum mazhab yang
dianutnya, dan sama sekali tidak melakukan istinbath hukum dan tidak pula memilah
pendapat yang ada di dalamnya.