Anda di halaman 1dari 18

SPEKTROMETRI SERAPAN ATOM (SSA)

A. TUJUAN
1. Memahami prinsip kerja Spektrometri Serapan Atom (SSA).
2. Menentukan konsentrasi unsur Fe di dalam suatu sampel.

B. DASAR TEORI
Spektrometri atomik adalah metode pengukuran spektrum yang berkaitan
dengan serapan dan emisi atom. Bila suatu molekul mempunyai bentuk spektra
pita, maka suatu atom mempunyai spektra garis. Atom-atom yang terlibat dalam
metode pengukuran spektrometri atomik haruslah atom-atom bebas yang garis
spektranya dapat diamati. Pengamatan garis spektra yang spesifik ini dapat
digunakan untuk analisis unsur baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Absorbsi (serapan) atom adalah suatu proses penyerapan bagian sinar oleh
atom-atom bebas pada panjang gelombang () tertentu dari atom itu sendiri
sehingga konsentrasi suatu logam dapat ditentukan. Karena absorbansi sebanding
dengan konsentrasi suatu analit, maka metode ini dapat digunakan untuk sistem
pengukuran atau analisis kuantitatif.
Spektrometri Serapan Atom (SSA) dalam kimia analitik dapat diartikan
sebagai suatu teknik untuk menentukan konsentrasi unsue logam tertentu dalam
suatu cuplikan. Teknik pengukuran ini dapat digunakan untuk menganalisis
konsentrasi lebih dari 62 jenis unsur logam.
Teknik Spektrometri Serapan Atom (SSA) dikembangkan oleh suatu tim
peneliti kimia Australia pada tahun 1950-an, yang dipimpin oleh Alan Walsh, di
CSIRO (Commonwealth Science and Industry Research Organization) bagian
kimia fisik di Melbourne, Australia.
Unsur-unsur dalam cuplikan diidentifikasi dengan sensitivitas dan limit
deteksi pada teknik pengukuran ini dapat mencapai  1 mg/L (1 ppm) bila
menggunakan lampu nyala biasa dan dapat dicapai sampai 0,1 ppm dengan
menggunakan prosedur SSA yang lebih canggih.
1 Spektrometri Serapan Atom (SSA)
Dyah Kumala Sari (010800215)
Dalam spektroskopi atomik, faktor-faktor yang dapat menyebabkan
pelebaran garis spektra merupakan suatu problem dalam sistem analisis metode
ini. Dua hal yang paling sering menimbulkan problem ini adalah pelebaran efek
Doppler (Doppler Boardening) dan pelebaran tekanan (Pressure Boardening).

Pelebaran Efek Doppler (Doppler Boardening)


Selama proses atomisasi atau ionisasi, suatu spesies yang sedang diukur
dapat bergerak menjauhi atau melalui detektor. Hal ini dapat menimbulkan
loncatan Doppler pada spektra garis yang dihasilkan, sehingga garis spektra yang
seharusnya berkisar antara 1-15 nm menjadi kira-kira 100 kali lebih lebar. Tidak
banyak hal yang dapat dilakukan untuk menghindari efek Doppler ini kecuali
hanya mengenali mengapa hal tersebut terjadi.

Pelebaran Tekanan (Pressure Boardening)


Efek ini dapat timbul bila suatu analit bertabrakan dengan spesies lain
karena perubahan energi. Efek ini semakin besar pengaruhnya sejalan dengan
kenaikan suhu. Efek pelebaran tekanan ini dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Hubungan antara energi kinetik dengan jumlah atom


yang terbentuk pada suhu yang berbeda

Prinsip Dasar SSA :


1. Cuplikan atau larutan cuplikan dibakar dalam suatu nyala atau dipanaskan
dalam suatu tabung khusus (misal tungku api).

2 Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Dyah Kumala Sari (010800215)
2. Dalam setiap atom tersebut ada sejumlah tingkat energi diskrit yang
ditempati oleh elektron. Tingkat energy biasanay dimulai dengan E0 bila
berada pada keadaan dasar (grouns state level) sampai E1, E2 sampai E.

Gambar 2. Diagram Tingkat Energi Elektronik

Gambar 3. Diagram Peristiwa Absorpsi Radiasi

Atom yang tidak tereksitasi, berada dalam keadaan dasar (ground state).
Untuk mengeksitasi atom, satu atau lebih elektron harus berpindah ke tingkat
energi yang lebih tinggi dengan cara penyerapan energi oleh atom itu. Energi
dapat disuplai oleh foton atau dari peristiwa tabrakan yang disebabkan oleh
panas. Dengan peristiwa itu, elektron terluar akan menjauhi inti paling tidak
adalah ke tingkat energi pertama E1. Energi yang dibutuhkan adalah setara
dengan selisih dari energi tingkat satu dengan energi dasar.
E = E1 – E0 (1)

3 Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Dyah Kumala Sari (010800215)
Energi yang dibutuhkan untuk transisi elektron itu dapat dipenuhi oleh foton atau
cahaya yang setara dengan :
E = hv (2)
Dengan h = tetapan Planck dan v = frekuensi
Bila dikalikan dengan  maka :

(3)

Dimana c = kecepatan cahaya pada keadaan vakum


Untuk beberapa peristiwa eksitasi misalnya pada UV atau sinar-X
spektrometri selisih energi (E1 -E0) sangat lebar, berkisar 100-900 nm.
Dalam SSA, selisih energi (E1 -E0) kecil, hal ini disebabkan karena hanya
bagian elektron terluar yang teresksitasi, disebabkan oleh pengendalian suhu yang
cermat. Bila suhu terlampau tinggi sebagian atom akan terionisasi.

(4)

Atom-atom dalam kabut tersebut bergerak dengan kecepatan tinggi dan


saling bertabrakan, serta menyerap dalam kisaran  yang sangat sempit. Oleh
karena energi gap E1 -E0 sempit ini, walaupun pada proses pembakaran terjadi
kabut dari berbagai atom, tapi hanya atom tertentu yang dapat menyerap sumber
enrergi atau foton. Hal ini merupakan sifat selektif yang spesifik dari SSA.
Kespesifikan itu juga merupakan suatu kekurangan karena lebar pita
penyerapan yang sempit dengan lebar berkisar 0,001 nm menjadi kendala dalam
analisis. Tidak ada monokromator yang mampu menghasilkan pita radiasi yang
sekecil puncak absorpsi atom (0,001 nm). Bila digunakan sumber radiasi kontinu,
monokromator akan melakukan suatu pita yang lebarnya 3-10 nm jadi hanya
sebagian kecil radiasi yang diabsorpsi yaitu  1 o/oo. Dalam keadaan demikian
hukum Beer tidak berlaku karena perubahan relatif intensitas pita radiasi yang
dilakukan sangat kecil dibandingkan dengan perubahan radiasi yang bersesuaian
dengan puncak absorpsi.

4 Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Dyah Kumala Sari (010800215)
Untuk mengatasi hal ini, digunakan sumber radiasi yang mengemisi garis
dengan  yang sama dengan radiasi elemen yang akan dianalisis yang dihasilkan
oleh Hollow Cathode Lamp (HCL) atau Electrodeless Discharge Lamp (EDL).

Gambar 4. Diagram Peristiwa Absorpsi Cahaya

Di dalam Hollow Cathode Lamp (HCL) atau Electrodeless Discharge


Lamp (EDL), atom elemen yang dimaksud dalam keadaan gas dieksitasikan
dengan pengawamuatan (discharge) listrik. Atom-atom yang tereksitasi
mengemisikan radiasi khas bila kembali ke tingkat energi yang lebih rendah.
Sebagian dari radiasi yang diemisi akan mempunyai  persis sama dengan garis
absorpsi resonansi. Dengan sumber radiasi yang dipilih dengan cermat, garis-
garis emisi dapat mempunyai pita yang lebarnya lebih kecil dari pita absorpsi.
Walaupun masalah pita radiasi sudah dapat dipecahkan, SSA ini maish
mempunyai keterbatasan, yaitu untuk setiap analisis diperlukan adanya HCL yang
sesuai dengan elemen yang dianalisis.
Persyaratan lain untuk memperoleh sinyal penyerapan yang tinggi adalah
sebagian besar atom dalam keadaaan energi dasar (ground state) dan sejumlah
besar elektron harus dapat dieksitasi ke tingkat energi pertama (E1) ketika foton
dengan frekuensi yang tepat diserap.

Pembentukan Atom-Atom Bebas


Kemampuan menghasilkan atom bebas merupakan kunci sukses dalam AAS atau
AES. Untuk menghasilkan atom-atom bebas digunakan atomizer yang dapat
berupa nyala api, karbon atomizer, atau plasma atomizer (misal generator hidrid).
Untuk memecah ikatan molekul yang mengubahnya menjadi atom bebas, suatu
5 Spektrometri Serapan Atom (SSA)
Dyah Kumala Sari (010800215)
atomizer harus dapat memberikan energi yang cukup. Energi ini mempengaruhi
jumlah atom bebas yang terbentuk, tergatung pada jenis ikatan kimia molekul
cuplikan. Sebagai contoh, untuk pembentukan atom bebas besi yang terdapat
dalam larutan Fe Cl3 jumlahnya akan berbeda bila dibandingkan dengan larutan
kompleks Fe-EDTA, walaupun konsentrasi besinya sama. Fenomena ini menjadi
dasar mengenai efek-efek ion-ion penggangu.

Pembentukan Atom-Atom Bebas dengan Nyala


Titik-titik air yang halus dihasilkan dari nebulizer yang menghisap larutan
cuplikan yang kemudian disemburkan ke bagian tengah pembakar yang telah
menyala. Pelarut cuplikan menguap lebih dulu meninggalkan partikel padat yang
kecil-kecil. Partikel-partikel ini kemudian meleleh dan menguap membentuk
campuran senyawa yang kemudian terurai menjadi atom-atom bebas. Atom-atom
logam yang akan dianalisis menyerap energi dengan bertabrakan dan lalu
tereksitasi.
Sistem pengatoman dalam spektrofotometer serapan atom merupakan
bagian yang sangat penting karena pada sistem ini ditempatkan senyawa yang
akan dianalisis. Pada sistem pengatoman, unsur yang akan dianalisis diubah
bentuknya dari ion dalam larutan menjadi atom netral dalam keadaan dasar pada
nyala.
Persamaan (5) dan (6) merupakan contoh reaksi terjadinya atom bebas dari
Natrium.
Atomisasi NaCl  Na + Cl (5)
Eksitasi Na + hv  Na* (6)
Bila suhu nyala terlalu tinggi akan terjadi peristiwa ionisasi sebagai berikut :
Ionisasi Na  Na* + e- (7)

Bagian ini terdiri dari system pengabut (nebulizer) dan sistem pembakar
(burner) sehingga sering disebut system pengabut pembakar. Untuk

6 Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Dyah Kumala Sari (010800215)
menghasilkan nyala yang diperlukan dalam spektrofotometer serapan atom,
dipakai bermacam-macam campuran gas sebagai gas pengoksidasi dan bahan
bakar yang jenis serta komposisinya tergantung pada suhu nyala api yang
dikehendaki.
Tabel Campuran Gas Pembakar – Oksidan
Oksidan Gas Pembakar Temperatur
Udara Asetilen 2300 0C
Udara Hidrogen 2000 0C
Argon Hidrogen 1000 0C
Nitrous Oksida Asetilen 2900 0C

Pada waktu spektrofotometer serapan atom digunakan, diperlukan tekanan


dan aliran gas yang konstan. Hal ini diperlukan untuk menjaga agar suhu konstan.

Pembentukan Atom-Atom Bebas Selain dengan Nyala


Pada sistem pengatoman tanpa nyala biasanya memakai tungku grafit.
Proses atomisasi dengan grafit ini berlangsung dalam ruang tertutup yang dialiri
gas inert (biasanay argon). Sedangkan untuk system pengatoman dengan cara
plasma atau pembentukan hidrid biasanya untuk menetapkan raksa (Hg), karena
raksa pada suhu biasa mudah menguap, dan dalam keadaan atom bebas.

Instrumentasi
Suatu alat absorpsi atom terjadi dari komponen-komponen dasar yang
sama seperti spetrofotometer biasa, jadi mengandung : sumber radiasi,
monokromator, tempat cuplikan (dalam hal ini nyala), detector dan indicator
penguatan (amplifier). Spektrofotometer absorpsi atom ada yang single-beam dan
ada pula yang double-beam.

7 Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Dyah Kumala Sari (010800215)
Gambar 5. Bagan Spektrometer Serapan Atom

Gambar 6. Skema Spektrometer Serapan Atom


Keterangan :
A. Sumber Radiasi
B. Burner
C. Monokromator
D. Detektor
E. Amplifier
F. Display (Readout)

8 Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Dyah Kumala Sari (010800215)
C. ALAT DAN BAHAN
 Alat yang digunakan :
1. Unit Spektrometri Serapan Atom
2. Neraca analitik
3. Labu takar
4. Pipet tetes
5. Bulbpet
6. Buret
7. Statif
8. Gelas beker
9. Kertas timbang
10. Sendok sungu
11. Botol semprot
12. Kipas angin
13. Beker Teflon
14. Kompor listrik
15. Gelas arloji
16. Batang pengaduk
17. Botol plastik
18. Tissue

 Bahan yang digunakan :


1. Aquadest
2. (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O
3. Serbuk bayam
4. HNO3 pekat
5. H2SO4 pekat

9 Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Dyah Kumala Sari (010800215)
D. LANGKAH KERJA
 Preparasi Larutan Standar
1. Dibuat larutan standar Fe 1000 ppm sebanyak 100 ml dengan cara
menimbang (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O sebanyak 0,7006 gram, kemudian
dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan dilarutkan dengan aquades
serta ditandabataskan.
2. Larutan standar Fe 1000 ppm diencerkan menjadi 100 ppm sebanyak 250
ml.
3. Larutan standar Fe 100 ppm yang telah dibuat sebelumnya kemudian
diencerkan kembali sehingga diperoleh 8 variasi konsentrasi larutan, yaitu
2 ppm, 4 ppm, 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, 50 ppm, dan 60 ppm.
Masing-masing larutan dibuat sebanyak 50 ml. Larutan ini digunakan
untuk membuat kurva kalibrasi.

 Preparasi Cuplikan
1. Sampel yang berupa serbuk bayam ditimbang sebanyak 0,5058 gram.
2. Serbuk bayam dimasukkan ke dalam beker Teflon, kemudian
ditambahkan 1-2 ml H2SO4 pekat dan HNO3 pekat. Beker teflon ditutup
dengan gelas arloji, kemudian dipanaskan dengan hati-hati di atas kompor
listrik.
3. Setelah semua sampel bayam larut dan larutan berubah warna menjadi
bening, beker Teflon kemudian diangkat dari kompor listrik dan
didinginkan.
4. Larutan sampel kemudian diencerkan ke dalam labu takar 50 ml.

 Pengukuran Cuplikan
1. Unit AAS diaktifkan kemudian dilakukan pengukuran absorbansi blanko
dengan 3 kali penyedotan.

10 Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Dyah Kumala Sari (010800215)
2. Dilakukan pengukuran absorbansi untuk 8 variasi larutan standar.
3. Dilakukan pengukuran absorbansi larutan sampel.
4. Data yang diperoleh kemudian disimpan sesuai dengan nama kelompok.

E. DATA PERCOBAAN
 Pembuatan Larutan Standar Fe
 Massa (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O =
0,7006 gram
 Konsentrasi larutan awal = 1000
ppm
 Volume awal = 250 ml
 Tabel 1. Pengenceran Larutan Standar 1000
ppm
Konsentrasi Volume Konsentrasi Volume Akhir
Awal (ppm) Awal (ml) Akhir (ppm) (ml)
1000 25 100 250

 Tabel 2. Pengenceran Larutan Standar 100


ppm
Konsentrasi Volume Konsentrasi Volume
No.
Awal (ppm) Awal (ml) Akhir (ppm) Akhir (ml)
1 100 1 2 50
2 100 2 4 50
3 100 5 10 50
4 100 10 20 50
5 100 15 30 50
6 100 20 40 50
7 100 25 50 50
8 100 30 60 50

 Spectrometer Parameters
Element = Fe
Wave length = 248,3
11 Spektrometri Serapan Atom (SSA)
Dyah Kumala Sari (010800215)
Bandpass = 0,2
Lamp Current = 75%
Number of resamples = 3
Background correction = D2
Measurements time = 4 secs

 Flame Parameters
Flame Type = Air – C2H2
Fuel Flow = 0,9 L/min
Burner Height = 3 mm

 Tabel 3. Pengukuran Absorbansi Blanko


Konsentrasi Larutan Absorbansi (A)
Ā
(ppm) 1 2 3
0 0 -0.001 -0.002 -0.001

 Tabel 4. Pengukuran Absorbansi Larutan Standar


Konsentrasi Larutan Absorbansi (A)
No. Ā
(ppm) 1 2 3
1 2 0.022 0.022 0.022 0.022
2 4 0.041 0.041 0.04 0.041
3 10 0.104 0.104 0.103 0.103
4 20 0.221 0.22 0.222 0.221
5 30 0.307 0.307 0.305 0.307
6 40 0.397 0.398 0.396 0.397
7 50 0.475 0.477 0.475 0.476
8 60 0.544 0.543 0.544 0.544

 Tabel 5. Pengukuran Absorbansi Larutan Sampel


Absorbansi (A)
Sampel Ā
1 2 3
0,5058 gram / 50 ml 0,02 0,02 0,02 0,02
Keterangan :
 Massa sampel = 0,5058 gram
12 Spektrometri Serapan Atom (SSA)
Dyah Kumala Sari (010800215)
 Volume awal = 50 ml

F. PERHITUNGAN
1. Pembuatan Larutan Standar
Volume Larutan = 100 ml
= 0,1 L
Konsentrasi larutan = 1000 ppm
= 1000 mg/L
=

Massa (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O = =

= 700,25 mg
= 0,70025 gram
Untuk membuat larutan standar Fe 1000 ppm sebanyak 200 ml dibutuhkan
(NH4)2Fe(SO4)2.6H2O sebanyak 0,70025 gram, kemudian dilarutkan dan
ditandabataskan hingga 100 ml.

2. Penentuan Kurva Kalibrasi


Tabel 6. Penentuan Kurva Kalibrasi
No. Konsentrasi Larutan Fe (ppm) Ā
1 0 -0.001
2 2 0.022
3 4 0.041
4 10 0.103
5 20 0.221
6 30 0.307
7 40 0.397
8 50 0.476

13 Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Dyah Kumala Sari (010800215)
9 60 0.544

Grafik Hubungan Antara Konsentrasi (ppm) dengan Absorbansi (A)

Dari grafik tersebut diperoleh persamaan garisnya adalah :


y = 0,009x + 0,011 dengan R2 = 0,994 atau R = 0,997
dimana :
x : konsentrasi larutan (ppm)
y : absorbansi (A)
3. Penentuan Konsentrasi Fe dalam Sampel Bayam
Dari data pada Tabel 5. Pengukuran Absorbansi Larutan Sampel diperoleh
bahwa :
Absorbansi Rerata ( = 0,02
Kemudian disubstitusikan ke persamaan garis pada kurva :
y = 0,009x + 0,011
Maka konsentrasinya (CS) adalah :

14 Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Dyah Kumala Sari (010800215)
Jadi, konsentrasi Fe dalam sampel bayam adalah 1 ppm

Untuk menentukan pada hasil CS, maka terlebih dahulu ditentukan nilai CS
untuk setiap absorbansi pada cuplikan dengan mensubstitusikannya ke dalam
persamaan garis y = 0,009x + 0,011 ; sehingga diperoleh hasil sebagai
berikut :
Tabel 7. Penentuan CS pada Sampel
Absorbansi
No. Ā A-Ā (A - Ā)2
(A)
1 0,02 0 0
2 0,02 0,02 0 0
3 0,02 0 0
JUMLAH

Jadi,

Konsentrasi Fe dalam sampel bayam (0,5058 gram / 50 ml) adalah sebesar


1 ppm.

G. PEMBAHASAN

15 Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Dyah Kumala Sari (010800215)
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk memahami prinsip kerja
Spektrometri Serapan Atom (SSA) serta menentukan konsentrasi unsur di dalam
suatu sampel. Dalam pelaksanaannya, digunakan Spektrometri Serapan Atom di
laboratorium Instrumentasi Kimia dan unsur yang dianalisis adalah unsur Fe yang
ada pada sampel bayam.
Sampel yang dapat dianalisis dalam instrumen SSA harus berwujud cair,
oleh karena itu sampel bayam sebelumnya harus didestruksi terlebih dahulu
dengan menggunakan H2SO4 pekat dan HNO3 pekat sambil dipanaskan. Proses
destruksi ini bertujuan untuk mempersiapkan sampel bayam agar dapat dianalisis
(berwujud cair). Tujuan penggunaan H2SO4 dan HNO3 pekat ini adalah untuk
melarutkan serbuk bayam serta untuk menghilangkan senyawa organik yang ada
pada bayam sehingga benar-benar diperoleh kandungan Fe yang terukur dalam
sampel bayam. Selain itu, dalam proses destruksi ini juga dilakukan dengan
pemanasan menggunakan penangas pasir. Pemanasan berfungsi untuk
mempercepat dan menyempurnakan proses destruksi. Digunakan penangas pasir
dalam proses pemanasan karena panas yang diterima lebih merata. Setelah semua
serbuk bayam larut dan diperoleh larutan yang bening, kemudian larutan tersebut
diencerkan hingga 50 ml.
Sampel yang telah didestruksi tersebut kemudian diukur dengan alat SSA.
Prinsip kerja SSA adalah sampel cair yang memasuki alat pertama kali
dikabutkan di nebulizer. Titik-titik air yang halus dihasilkan dari nebulizer yang
menghisap larutan cuplikan yang kemudian disemburkan ke bagian tengah
pembakar (burner) yang telah menyala dan mengalami deatomisasi. Lalu
direaksikan dengan sumber energi eksterna yang berupa HCL maka atom pada
keadaan dasar membutuhkan energi yang besar dan untuk mendapatkan energi
tersebut, atom akan menyerap energi dari sumber cahaya yang ada pada SSA.
Sebelum melakukan pengukuran absorbansi larutan sampel, terlebih dahulu
melakukan pengukuran absorbansi larutan standar Fe. Setelah diketahui
absorbansi dari larutan standar, kemudian dibuat kurva kalibrasinya. Dari hasil

16 Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Dyah Kumala Sari (010800215)
percobaan diperoleh kurva kalibrasi dengan persamaan garis : y = 0,009x + 0,011
denga R = 0,997. Nilai R ini menunjukkan linieritas suatu hasil pengukuran. Bila
nilai R semakin mendekati 1 maka hasil pengukuran tersebut semakin linier.
Dari persamaan garis pada kurva kalibrasi ini dapat digunakan untuk menghitung
besarnya konsentrasi Fe dalam sampel dengan mensubstitusikan nilai y dengan
absorbansi rerata dari sampel dimana nilai x adalah konsentrasinya. Dari hasil
perhitungan diperoleh besarnya konsentrasi Fe dalam sampel bayam (0,5058 gr /
50 ml) adalah sebesar 1 ppm.

H. KESIMPULAN
1. Prinsip kerja analisa menggunakan alat SSA yaitu suatu sampel dibuat dalam
bentuk larutan kemudian dikabutkan, lalu disemburkan ke bagian burner dan
mengalami deatomisasi. Kemudian direaksikan dengan sumber energi
(radiasi) maka atom pada keadaan dasar membutuhkan energi yang besar dan
untuk mendapatkannya atom tersebut menyerap energi dari sumber cahaya
(foton) yang ada pada alat SSA.
2. Konsentrasi Fe dalam larutan sampel bayam (0,5058 gr / 50 ml) adalah
sebesar 1 ppm.

I. DAFTAR PUSTAKA
Christina P, Maria.2006. Instrumentasi Kimia I. Yogyakarta : STTN-BATAN.
Christina P, Maria.2006. Petunjuk Praktikum Instrumentasi Kimia “Analisis
Kesalahan Dalam Spektrometri Serapan Atom”. Yogyakarta : STTN-
BATAN.
J, Basset et all.1939.Buku Ajar VOGEL, Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.
London : Woolwich Polytechnic.

17 Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Dyah Kumala Sari (010800215)
Yogyakarta, 14 Januari 2009
Asisten, Praktikan,

Maria Christina P, S.ST Dyah Kumala Sari

18 Spektrometri Serapan Atom (SSA)


Dyah Kumala Sari (010800215)