Anda di halaman 1dari 16

Laporan Pendahuluan

A. Definisi
Menurut Satyanegara (2010), Menigitis bakterialis adalah suatu infeksi
purulen lapisan otak yang pada orang dewasa biasanya hanya terbatas didalam
ruanglapisan otak yang pada orang dewasa biasanya hanya terbatas didalam ruang
subaraknoid, namun pada bayi cenderung meluas sampai kerongga subdural sebagai
subaraknoid, namun pada bayi cenderung meluas sampai kerongga subdural
sebagaisuatu efusi atau emplema subdural (leptomeningitis) atau bahkan ke dalam
otak suatu efusi atau emplema subdural (leptomeningitis) atau bahkan ke dalam
otak (meningoensafalitis).
Sedangkan menurut Jhuda & Rahil (2012), meingitis adalah radang dari
selaput otak yaitu lapisan aracnoid dan piameter yang disesbabkan oleh bakteri dan
virus. Selain itu meningitis diartikan juga sebagai infeksi akut yang mengenai selaput
mengineal yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme dengan ditandai
adanya gejala spesifik dari sistem saraf pusat yaitu gangguan kesadaran, gejala
rangsang meningkat, gejala peningkatan tekanan intrakranial, dan gejala defisit
neurologi (Widagdo, 2011).
B. Etiologi
1. Bakteri: mycrobacterium tuberculsa, diplococcus pneumoniae (pneumokok),
neisseria meningitis (meningokok), streptococus haemolyticuss, staphylococcus
aureus, haemophilus influenzae, escherichia coli, klebsiella pneumoniae,
peudomonas aeruginosa.
2. Penyebab lainnya lues, virus, toxoplasma gondhii dan ricketsia
3. Faktor predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandingkan dengan
wanita.
4. Faktor maternal : ruotur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir
kehamilan
5. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunologbulin
6. Kelainan saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem
persarafan.
C. Fatofisiologi
Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring dan diikuti dengan
septikemia, yang menyebar ke meningen otal dan medula spinalis bagian atas. Faktor
predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas, otitis media, mastoiditis,
anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lalin, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala
dan pengaruh imunologis.
Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah dan
saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen, semuanya ini
penghubung yang menyokong perkembangan bakteri. Organisme masuk ke dalam
aliran darah dan menyebabkan reaksu radang di dalam meningen dan di bawah
korteks, yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral.
Jarngan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen,
baskulitis dan hipoperfusi, eksudat puluren dapat menyebai sampai dasar otak dan
medula spinalis.
Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikell serebral, meningitis
bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial, yang terdiri dari
peningkatan permeailitas pada darah, daerah pertahanan otak (barier otak), edema
serebral dan peningkatan tekanan intra kranial (TIK).
Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi
meningitis, infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal, kolaps
sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindrim waterhouse-
friderchssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pebuluh darah
yang disebabkan oleh meningokokus.
D. Klasifikasi
Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi
pada cairan otak, yaitu :
1. Meningitis Serosa
Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang
jernih. Penyebab terseringnya ada;ah mycrobacterium tuberculosa. Penyebab
lainya, virus, toxoplasma gondhii dan ricketsia.
2. Meningitis purulenta
Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula
spinalis. Penyebabnya antara lain : diplococcus pneumoniae (pneumokook),
neisseria meningitis (meningokok), strepcoccus haemolyticuss, staphylococcus
aureus, haemophilus influenzae, escherichia coli, klebsiella pneumoniae,
peudomonas aeruginosa.
E. Manifestasi Klinis
Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK
1. Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering muncul)
2. Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi latergik, tidak respontif, dan
koma.
3. Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sebagai berikut:
 Rigiditas nukal (kaku leher), upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran
karena adanya spasme otot-otot leher.
 Tanda kernik positif, ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadaan
fleksi ke arah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna.
 Tanda brudzinki, bila leher pasen di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut
dan pinggul, bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremotas dibawah pada salah
satu sisi ektremita yang berlawanan.
4. Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya
5. Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat
eksudat puluren dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan
karakteristik tanda-tanda vital melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi,
pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat
kesadaran.
6. Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis menigokokal.
7. Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba
muncul, lesi purpura yang melebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler
diseminata.
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Analisis CSS dari fungsi lumbal :
 Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keru ran keruh/berkabut,
jumlah sel lah sel darah putih dan protein meningkat glukosa  putih dan protein
meningkat glukosa meningkat, kul meningkat, kultur positip terhadap beberapa
jenis tur positip terhadap beberapa jenis bakteri.
 Meningitis Meningitis virus : tekanan tekanan bervariasi, bervariasi, cairan CSS
biasanya biasanya jernih, jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein
biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur
kh  biasanya dengan prosedur khusus.
2. Glukosa serum : meningkat (meningitis)
3. LDH serum : meningkat (meningitis bakteri)
4. Sel darah putih : Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningka sedikit
meningkat dengan peningkatan neutrofil tan neutrophil
5. Elektrolit darah : Abnormal .
6. ESR/LED : meningkat pada meningitis
7. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat
infeksi
8. MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak
ventrikel;hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor.
9. Ronsen dada/kepala/ sinus ; mungkin ada indikasi sumber infeksi intrakanial.
G. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis lebih bersifat mengatasi etiologi dan perawat perlu
menyesuaikan dengan standar pengobatan sesuai tempat bekerja yang berguna
sebagai bahan kolaboras kolaborasi dengan tim dengan tim medis. Secara ringkas
penatalaksanaan pe medis. Secara ringkas penatalaksanaan pengobatan me ngobatan
meningitis meliputi ningitis meliputi pemberian  pemberian antibiotic antibiotic yang
mampu melewati melewati barier darah otak ke ruang subarachnoid subarachnoid
dalam konsentrasi yang cukup untuk menghentikan perkembangbiakan bakteri.
Baisanya menggunakan sefaloposforin generasi keempat atau sesuai dengan hasil uji
resistensi antibiotic agar pemberian antimikroba lebih efektif digunakan.
Obat anti-infeksi (meningitis tuberkulosa):
1. Isoniazid 10-20 mg/k 20 mg/kgBB/24 jam, oral 24 jam, oral, 2x seha 2x sehari
maks ri maksimal 500 mg sela mg selama 1 setengah tahun.
2. Rifampisin 10- pisin 10-15 mg/kgBB/24 jam, oral, 1 x sehari selama 1 tahun 1
tahun.
3. Streptomisin s omisin sulfat 20- ulfat 20-40 mg/kgBB/24 kgBB/24 jam, IM, 1-2
IM, 1-2 x sehari x sehari selama 3 bulan 3 bulan.
Pengobatan simtomatis:
1. Antikonv Antikonvulsi, D ulsi, Diazepam iazepam IV; 0,2-0,5 m 2-0,5
mgkgBB/dosis, a dosis, atau rec tau rectal: 0,4- tal: 0,4-0,6 mg/kgBB,atau fenitoin
5 mg/kgBB/24 jam, 3 x sehari atau Fenobarbital 5-7 mg/kgBB/24 jam, 3 x sehari.
2. Antipir Antipiretik: paraset parasetamol/asa amol/asam salisil salisilat 10
mg/kgBB/dosis. B/dosis.
3. Antiedema serebri: Diuretikosmotik (seperti manitol) dapat digunakan
untuk mengobati edema serebri.
4. Pemenuhan oksigenasi dengan O2.
5. Pemenuhan hidrasi atau pencegahan syok hipovolemik: pemberian tambahan
volume cairan intravena.
H. PATHWAY
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Identitas pasien

Nama :

Umur :

Jenis kelamin :
Agama: -
Pendidikan:
Pekerjaan:
Gol. Darah: -
Alamat: .

1. Riwayat Kesehatan Pasien

a. Keluhan utama: suhu badan tinggi, kejang, kaku kuduk dan penurunan tingkat
kesadaran.
b. Riwayat Riwayat penyakit penyakit sekarang sekarang : pada pengkajian pengkajian
klien dengan meningitis meningitis didapatk didapatkan keluhan an keluhan yang
berhubungan dengan akibat infeksi d yang berhubungan dengan akibat infeksi dan
peningka an peningkatan tekanan tan tekanan intracranial, diantaranya sakit kepala dan
demam. Sakit kepala dihubungkan dengan meningitis yang selalu berat dan akibat dari
iritasi meningen.Demam ada dan tetap tinggi selama perjalanan penyakit.
c. Riwayat penyakit dahulu : infeksi jalan napas bagian atas, ototos media, anemia sel
sabit dan hemoglobinopatis lain, tindakan bedah syaraf, riwayat trauma
kepala,pengaruh imunologis.
d. Pengkajian psiko-sosio-spiritual:ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal dan pandangan terhadap
dirinya yang salah (gangguan citra diri). Pada kilen anak perlu diperhatikan
dampak hospitaslisasi dan family center
2. Pemeriksaan Fisik

1) Tanda-tanda vital
a. Peningkatan suhu lebih dari tan suhu lebih dari normal, yaitu 38-41 ‘C, dimul al, yaitu
38-41 ‘C, dimulai dari fase siste dari fase sistemik,kemerhan, panas, kulit kering,
berkeringat.Keadaan tersebu dihubungkan dengan proses inflamasi  proses inflamasi
dan iritasi dan iritasi meningen yan meningen yang sudah mengg g sudah mengganggu
pusat anggu pusat pengatur su pengatur suhu tubuh.
b. Penurunan Penurunan denyut nadi, berhubungan berhubungan dengan tanda
peningkatan peningkatan tekanan tekanan intracranial.
c. Peningkatan frekuensi pernapasan, berhubu an, berhubungan dengan laju ngan dengan
laju metabolism umum dan adanya infeksi pada sistem pernapasan sebelum mengalami
meningitis.

2) B1 (breathing)
a. Inspeksi adanya batuk, produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu napas,
dan peningkatan frekuensi pernapasan yang disertai adanya gangguan pada sistem
pernapasan.
b. Palapasi thorax apabila ter Palapasi thorax apabila terdapat deformitas dapat deformitas
tulang dada tulang dada.
c. Auskultasi adanya bunyi napas tambahan seperti ronkhi pada klien dengan meningitis
tuberkolosa dengan penyebaran primer dari paru.

3) B2 (Blood)
Pengkajian pada sistem kardiovaskuler dilakukan pada klien meningitis tahap lanjut
apabila sudah mengalami renjatan (syok).Pada klien meningitis meningokokus terjadi
infeksi fulminating denga tanda-tanda septicemia: demam tinggi yang tiba-tiba muncul,
lesi purpura yang menyebar (sekitar wajh dan ekstrimitas) syok dan tanda-tanda
koagulasi intravascular diseminata.

4) B3 (Brain)
Pemeriksaan fokus dan lebih lengkap disbanding pengkajian pada sistem lain.
5) Tingkat kesadaran
Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien meningitis berkisar antara letargi, stupor,
dan semikomatosa.
6) Fungsi serebri
Status mental: observasi penampilan dan tingkah laku, nilai gaya bicara dan observasi
ekspresi wajah dan aktivitas motoric. Pada klien meningitis tahap lanjut biasanya ststus
mental mengalami perubahan.

7) Pemeriksaan saraf kranial


a. Saraf I,pada klien meningitis tidak ada kelainan
b. Saraf II, pemeriksaan pemeriksaan ketajaman ketajaman penglihatan penglihatan pada
kondisi kondisi normal dan pemeriksaan  pemeriksaan papilledema papilledema pada
meningitis meningitis supuratif supuratif yang disertai disertai abses serebri serebri dan
efusi subdural yang menyebabkan peningkatan TIK.
c. Saraf III, I f III, IV, dan VI, pe n VI, pemeriksaan fungsi dan reaksi pupil tanpa kel npa
kelainan pada klien meningitis tanpa penurunan kesadaran.
d. Saraf V : tidak didapatkan paralisis otot wajah dan reflek kornea tidak ada kelainan.
e. Saraf VII : persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris.
f. Saraf VIII : tidak ditemukan tili konduktif dan tuli persepsi.
g. Saraf IX dan X, kemampuan menelan baik.
h. Saraf XI, t f XI, tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan tr s dan trapezius.

8) Sistem motoric
Kekuatan otot menurun, pada Kekuatan otot menurun, pada meningi meningitis tahap
tis tahap lanjut kontrolkese lanjut kontrolkeseimbangan dan imbangan dan koordinasi
mengalami perubahan

9) Pemeriksaan reflex
Pemeriksaan reflex dalam, pengetukan pada tendon, ligamntum, atau periosteum
periosteum derajat derajat reflex pada respon normal. normal. Refles patologis
patologis terjadi terjadi pada klien dengan tingkat kesadaran koma.
10) Gerakan involunter 
Tidak ditemukan adanya tremor, kedutan syaraf, dan dystonia. Pada keadaan tertentu
biasanya mengalami kejang umum terutama pada anak dengan meningitis yang disertai
peningktan suhu tubuh yang tinggi

11) Sistem sensorik 


Pemeriksaan terkait peningkatan tekanan intracranial, tanda tanda peningkatan TIK
sekunder akibat eksudat purulent dan TIK sekunder akibat eksudat purulent dan edema
sere edema serebri diantaranya perubaha bri diantarany perubahan TTV (melebarnya
tekanan pulsa dan bradikardia), pernapasan tidak teratur,sakit kepala, muntah dan
penurunan tingkat kesadaran.Adanya ruam merupakan ciri menyolok adanya meningitis
meningokokal (Neisseria meningitis).

12) B4 (Bladder)
Pemeriksaan pada sistem perkemihan didapatkan berkurangnya volume keluaran
urine.Hal tersebut berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan curah jan
penurunan curah jantung ke ginjal.

13) B5 (Bowl)
Mual hingga muntah karena peningkatan produksi asam lambung.Pada klien
meningitiss pemenuhan nutrisi menurun karena anoreksia dan adanya kejang.

14) B6 (Bone)
Adanya bengkak dan nyeri pada sendi-sendi besar (lutut dan pergelangan kaki).Petekia
dan lesi purpura yang didahului oleh ruam.Pada kasus berat klien dapat ditemukan
ekimosis yang besar pada wajah dan ekstrimitas.Klien sering mengalami penurunan
kekuatan otot dan kelemahan fisik sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
 Pengkajian pada anak pada anak bergantung pada usia pada usia anak dan luasnya
penyebaran infeksi di meningen. Pada infeksi di meningen. Pada penilai penilaian
klinis, gejala an klinis, gejala meningit meningitis pada is pada anak dibagi
menjadi anak dibagi menjadi 3 meliputi anak, bayi dan neonates.
 Anak: timbul sakit secara tiba-tiba, tiba-tiba, adanya demam, sakit kepala, kepala,
panas dingin, dingin,muntah, dan kejang-kejang. Anak cepat rewel dan agitasi serta
menjadi fotopobia, delirium, halusinasi, tingkah laku agresif atau mengantuk,
stupor,dan koma.Gejala pada pernapasan atau gastrointestinal meliputi sesak
napas,muntah dan diare. Tanda yang khas adalah adanya tahanan pada kepala jika
difleksikan, kaku leher, tanda kerning dan brudzinski(+). Perfusi yang
tidak optimal bisa mengakibatkan tanda klinis kulit dingin dan sianosis gejala lain
yang lebih spesifikadalah petekia/purpura pada kulit bila anak mengalami infeksi
meningokokus(meningokoksemia), keluarnya cairan dari telinga pada anak yang
mengalami meningitis pneumokokus dan sinus dermal kongenital akibat infeksi E.
colli.
 Pada bayi: pada umur 3 bulan sampai 2 tahun ditemukan adanya demam, nafsu
makan menurun, muntah, rewel, mudah lelah, kejang-kejang, dan menangis
meraung-raung. Tanda khas pada kepala adalah penonjolan pada fontanel.
 Pada neonates: menolak untuk makan, kemampuan untuk menetek buruk, muntah
dan kadang ada diare. Tous otot melemah, pergerkan dan kekuatan mengansi
melemah. mengansi melemah.Pada ksus lanjut ksus lanjut terjadi hipertermi terjadi
hipertermia.demam a.demam, icterus icterus, rewel,mengantuk, kejang-kejang,
frekuensi napas tidak teratur, sianosis, penurunan berat badan.Pada badan.Pada
fase yang lebih berat terjadi terjadi kolaps kardiovaskuler, kardiovaskuler, kejang
kejang dan apne.

B. Diagnos Diagnosa Keperawatan


1. Hipertemi b/d peningkatan set point.
2. Intoleransi Aktivitas b/d Kelemahan otot umum sekunder.
3. Ketidakefektifan jalan nafas b/d kejang.
4. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak b/d edema serebral/penyumbatan.
5. Resiko defisit volume cairan b/d syok hispovolemik.

C. Intervensi

No Diagnosa Noc Nic


1. Hipertermia a. Termoregulasi Perawatan demam
Batasan karakteristik Kriteria hasil : 1) Pantau suhu dan tanda-
a. Apnea 1) Merasa merinding saat tanda vital lainya
b. Bayi tidak dapaT dingin 2) Monitor warna kulit dan
mempertahankan 2) Berkeringat saat panas suhu
menyusu 3) Tingkat pernapasan 3) Monitor asupan dan
c. Gelisah 4) Melaporkan keluaran, sadari perubahan
d. Hipotensi kenyamanan suhu kehilangan cairan yang tak
e. Kulit kemerahan 5) Perubahan warna kulit dirasakan
f. Kulit terasa hangat 6) Sakit kepala 4) Beri obat atau cairan IV
g. Latergi 5) Tutup pasien dengan
h. Kejang selimut atau pakaian ringan
i. Koma 6) Dorong konsumsi cairan
j. Stupor 7) Fasilitasi istirahat, terapkan
k. Takikardia pembatasan aktivitas jika di
l. Takipnea perlukan
m. Vasodilatasi 8) Berikan oksigen yang
Faktor yang sesuai
berhubungan 9) Tingkatkan sirkulasi udara
a. Peningkatan laju 10) Mandikan pasien dengan
metabolism spon hangat dengan hati-
b. Penyakit hati.
c. Sepsis Pengaturan suhu
1) monitor suhu paling tidak
setiap 2 jam sesuai
kebutuhan
2) monitor dan laporkan
adanya tanda gejala
hipotermia dan hipertermia
3) tingkatka intake cairan dan
nutrisi adekua
4) berikan pengobatan
antipiretik sesuai
kebutuhan.
Manajemen pengobatan
1) Tentukan obat apa yang di
perlukan, dan kelola
menurut resep dan/atau
protocol
2) Monitor efektivitas cara
pemberian obat yang sesuai.
Manajemen kejang
1) Pertahankan jalan nafas
2) Balikkan badan pasien ke
satu sisi
3) Longgarkan pakaian
4) Tetap disisi pasien selama
kejang
5) Catat lama kejang
6) Monitor tingkat obatobatan
anti epilepsy dengan benar.
2 Ketidakefektifan pola a. Status penrnapasan : Terapi oksigen
nafas ventilasi 1) Bersihkan mulut, hidung
Batasan karakteristik Kriteria hasil dan secret trakea dengan
a. Bradipnea 1) Frekuensi pernapasan tepat
b. Dispnea 2) Irama pernapasan 2) Pertahankan kepatenan
c. Penggunaan otot 3) Kedalaman pernapasan jalan nafas
bantu penapasan 4) Penggunaan otot bantu 3) Berikan oksigen tambahan
d. Penurunan kapasitas nafas seperti yang diperintahkan
vital 5) Suara nafas tambahan 4) Monitor aliran oksigen
e. Penurunan tekanan 6) Retraksi dinding dada 5) Periksa perangkat
ekspirasi 7) Dispnea saat istirahat pemberian oksigen secara
f. Penurunan tekanan 8) Atelektasis. berkala untuk memastikan
Inpsirasi b. Status bahwa kosentrasi yang telah
g. Pernapasan bibir pernapasan :kepatena di tentukan sedang di
h. Pernapasan cuping n jalan nafas berikan
hidung Kriteria Hasil : 6) Pastikan penggantian
i. Pola nafas abnormal 1) frekuensi pernapasan masker oksigen/kanul nasal
j. Takipnea. 2) pernapasan cuping setiap kali perangkat diganti
Faktor yang hidung 7) Pantau adanya tandatanda
berhubungan mendesah keracunan oksigen dan
a. Cedera medula kejadian atelektasis.
Spinalis Monitor neurologi
b. Gangguan 1) Pantau ukuran pupil, bentuk
Neurologis kesimetrisan dan reaktivitas
c. Nyeri 2) Monitor tingkat kesadaran
3) Monitor GCS
4) Monitor status pernapasan.
Monitor tanda-tanda vital
1) Monitor TD, nadi, suhu,
dan RR
2) Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
3) Monitor kualitas nadi
4) Monitor frekuensi dan
irama pernapasan
5) Monitor suara paru
6) Monitor pola pernapasan
abnormal
7) Monitor suhu, warna, dan
kelembapan kulit.
8) Identifikasi dari penyebab
perubahan vital sign
3. Kekurangan volume a. Keseimbangan cairan Manajemen cairan
cairan Kriteria hasil : 1) Timbang BB setiap hari dan
Batasan karakteristik 1) Tekanan darah monitor status pasien
a. Haus 2) Keseimbangan intake 2) Hitung atau timbang popok
b. Kelemahan output dalam 24 jam dengan baik
c. Kulit kering 3) Berat badan stabil 3) Jaga dan catat intake dan
d. Membran mukosa 4) Turgor kulit output
kering Peningkatan 5) Kelembaban 4) Monitir status hidrasi
frekuensi nadi membran mukosa 5) Monitor hasil laboratorium
e. Peningkatan 6) Serum elektrolit yang relevan dengan
hematocrit 7) HematokriT dengan retensi cairan
f. Peningkatan 8) Edema perifer 6) Monitor status
kosentrasi urine 9) Bola mata cekung dan hemodinamik
g. Peningkatan suhu lembek 7) Monitor tanda-tanda vital
tubuh 10) Kehausan 8) Berikan terapi IV seperti
h. Penurunan berat 11) Pusing. yang ditentukan
badan tiba-tiba 9) Berikan cairan dengan tepat
i. Penurunan haluan b. Dehidrasi 10) Tingkatkan asupan oral
urine Kriteria hasil : 11) Dukung pasien dan
j. Penurunan pengisian 1) Warna urine keruh keluarga untuk membantu
vena 2) Fontanela cekung dalam pemberian makan
k. Penurunan tekanan 3) Nadi cepat dan lambat dengan baik
darah 4) Peningkatan BUN 12) Berikan produkproduk
l. Penurunan turgor blood urea Nitrogen) darah.
kulit. 5) Peningkatan suhu
Faktor yang tubuh. Manajemen elektrolit
berhubungan 1) Monitor nilai serum
a. Kegagalan elektrolit abnormal
mekanisme regulasi 2) Monitor manifestasi
b. Kehilangan cairan ketidakseimbangan
aktif. elektrolit
3) Pertahankan kepatenan
akses IV
4) Berikan cairan sesuai resep,
jika diperlukan
5) Ambil specimen sesuai
order untuk dapat
melakukan analisis level
elektrolit (ABG, urine, dan
level serum) dengan tepat
6) Konsultasikan dengan
dokter jika tanda-tanda dan
gejala ketidakseimbangan
cairan dan/elektrolit
menetap atau memburuk
7) Monitor respon pasien
terhadap terapi elektrolit
yang diberikan.

Manajemen muntah
1) Identifikasi faktorfaktor
yang dapat menyebabkan
atau berkontribusi terhadap
muntah (obat-obatan dan
prosedur)
2) Posisikan untuk mencegah
aspirasi
3) Tunggu minimal 30 menit
setelah episode mutah
sebelum menawarkan
cairan kepada pasien
4) Tingkatkan pemberian
cairan secara bertahap jika
tidak ada muntah yang
terjadi selama 30 menit.