Anda di halaman 1dari 6

Sejarah Alkali Tanah

Logam-logam alkali tanah menunjukan kecenderungan sifat yang sama dengan yang
terobservasi pada logam-logam alkali. Akan tetapi berilium berbeda dari yang lainnya dalam
golongan dan berbeda sangat jauh dibandingkan perbedaan antara litium dengan logam-logam
alkali lainnya. Alasan utamanya adalah bahwa atom berilium dan ion Be2+ keduanya sangat
kecil dan peningkatan ukuran relatif dari Be2+ ke Mg2+ adalah empat kali lipat lebih besar
dibandingkan antara Li+ dan Na+. Berilium juga menunjukan sifat kemiripan diagonal dengan
aluminium pada golongan 13 (IIIA). Penemuan berilium pada tahun 1798 diikuti oleh
penemuan-penemuan yang lainnya. Logam berilium pertama kali dibuat oleh F. WÖhler pada
tahun 1828, dia menyarankan nama dengan kiasan pada mineral tersebut (Bah. Latin beryllus
- beryl). Logamnya secara terpisah diisolasi pada tahun yang sama oleh A.-B Bussy dengan
metode yang sama yaitu reduksi BeCl2 dengan logam K. Pembuatannya secara elektrolisis
pertama kali dilakukan oleh P. Lebeau pada tahun 1898. Senyawa-senyawa Mg dan Ca, seperti
halnya logam-logam tetangganya Na dan K telah dikenal sejak dahulu kala, walaupun sifat
kimiawinya belum diketahui hingga abad ketujuhbelas. Batu magnesia adalah nama yang
diberikan pada mineral putih lunak steatite (kalau tidak disebut batusabun atau bubuk bedak)
yang ditemukan di kabupaten Magnesia, Thessally, sedangkan kalsium diambil dari kata Latin
calx, calcis - kapur. Bangsa Romawi menggunakan adonan semen yang dibuat dari pasir dan
kapur (diperoleh dengan pemanasan batu kapur, CaCO3) dan bahan ini lebih tahan terhadap
cuaca lembab di Italia. Nama-nama unsur-unsur ini diberikan oleh H. Davy pada tahun 1808
ketika Davy mengisolasi Mg dan Ca, demikian juga Sr dan Ba dengan metode elektrolisis.
Suatu mineral yang ditemukan pada tahun 1787 di tambang timbal (Pb) dekat Strontian,
Skotlandia, oleh A. Crawford pada tahun 1790 ditunjukan bahwa ini merupakan suatu unsur
yang baru. Hal ini dikonfirmasi oleh T.C. Hope pada tahun berikutnya yang secara nyata oleh
Hope dengan membedakannya dalam senyawa-senyawa Ba, Sr dan Ca. Mineral yang
mengandung barium telah dikenal sejak abad ketujuhbelas, namun nanti pada antara tahun
1774 dan 1779 oleh C.W. Scheele dan J.G. Gahn yang bekerja secara terpisah menunjukan
bahwa batang logam (spar) berat merupakan BaSO4 dan disebut barite atau barytes.
Radium yang merupakan unsur paling akhir dari golongan ini diisolasi dalam jumlah yang
sangat kecil sebagai klorida oleh P. dan M. Curie pada tahun 1898 setelah proses bersejarah
pada berton-ton mineral pitchblende. Unsur ini diberi nama oleh M. Curie dalam mengkiaskan
keradioaktifannya (Bah. Latin radius, sinar); unsurnya sendiri pertama kali diisolasi secara
elektrolisis melalui suatu amalgama oleh M. Curie dan A. Debierne pada tahun 1910 dan
senyawanya menghasilkan warna merah tua pada uji nyala.

Terdapat dan Kelimpahan


Berilium tidak terlalu familiar, sebagian karena kelimpahannya yang sedikit dan
sebagiannya karena kesulitan untuk mengesktraksinya. Berilium ditemukan dalam jumlah
yang kecil sebagai mineral silikat beryl Be3Al2Si6O18, dan phenacite Be2SiO4. Magnesium
merupakan unsur keenam paling limpah di muka bumi (2,76%). Garam magnesium terdapat
sekitar 0,13% dalam air laut. Unsur ini dapat ditemukan dalam mineral dolomite
[MgCO3.CaCO3], magnesite MgCO3, epsomite MgSO4.7H2O dan kieserite MgSO4.H2O.
Mineral carnallite [KCl.MgCl2.6H2O] ditambang sebagai sumber kalium. Mg juga terdapat
secara luas dalam mineral mineral silikat termasuk olivine (Mg,Fe)2SiO4, talc
Mg3(OH)2Si4O10, chrysotile Mg3(OH)4Si2O5 (asbestos) dan mica seperti
K+[Mg3(OH)2(AlSi3O10]–. Kalsium merupakan unsur keenam paling limpah di muka bumi
(4,66%) dan terdapat di seluruh bumi dalam mineral-mineral yang umum. Terdapat tumpukan
sedimen CaCO3 yang begitu besar pada pegunungan sebagai batu kapur serta juga pada batu
karang di laut. Walaupun batu kapur warna tipikal putih, namun di banyak tempat warnanya
kuning, oranye atau coklat karena mengandung sejumlah kecil besi. Ada dua bentuk kristal
CaCO3 yaitu calcite dan aragonite. Calcite adalah mineral yang lebih umum, membentuk kristal
rombohedral yang tak-berwarna. Aragonite adalah ortorombik dan umumnya berwarna merah-
kecoklatan atau kuning. Batu kapur secara komersial penting sebagai sumber kapur, CaO.
Fluoroapatite [3(Ca3(PO4)2).CaF2] secara komersial penting sebagai sumber posfat. Gypsum
CaSO4.2H2O dan anhidrat CaSO4 merupakan mineral utama kalsium. Gypsum digunakan
dalam pembuatan semen Portland, papan plester dan dalam pembuatan gelas. Stronsium dan
barium sangat kurang kelimpahannya, tetapi dikenal karena terdapat sebagai bijih kaya yang
mudah untuk diekstraksi. Stronsium ditambang sebagai celestite SrSO4 dan strontianite SrCO3.
Barium ditambang sebagai baryte BaSO4, dan radium sangat jarang sekali serta bersifat
radioaktif.

Ekstraksi
Logam-logam golongan ini tidak mudah diproduksi dengan reaksi reduksi karena
sifatnya sebagai reduktor yang kuat dan akan bereaksi dengan karbon membentuk karbida.
Logam-logam ini merupakan elektropositif yang kuat dan bereaksi dengan air sehingga larutan
akuanya tidak dapat digunakan untuk menggantikan logam-logam ini dengan logam lain atau
untuk proses produksi secara elektrolisis. Elektrolisis larutan akuanya dapat dilakukan
menggunakan katoda merkuri, tetapi pemisahan logamnya dari amalgama adalah tidak mudah.
Semua logam-logam alkali tanah dapat diperoleh dengan elektrolisis leburan klorida, dengan
penambahan natrium klorida untuk menurunkan titik leburnya walaupun stronsium dan barium
cenderung untuk membentuk suspensi koloid.

Dalam proses yang lama, BeO diekstraksi dari beryl Be3Al2Si6O18 dengan perlakuan
pemanasan dengan alkali diikuti dengan perlakuan terhadap asam sulfat menghasilkan BeSO4.
Penambahan NH4OH menghasilkan Be(OH)2 yang pada pemanasan menghasilkan BeO.
Alternatifnya, berilium diesktraksi dari mineral silikat melalui perlakuan dengan HF,
membentuk kompleks yang larut yaitu natrium tetrafluoroberyllat Na2[BeF4] dan kemudian
mengkonversi kompleks ini menjadi hidroksida dan selanjutnya menjadi oksida. Be dan BeO
kedua mempunyai sifat keramik sehingga digunakan pada reaktor nuklir, dan untuk tujuan ini
keduanya harus benar-benar murni. Magnesium merupakan satu-satunya logam alkali tanah
yang diproduksi dalam skala yang besar. Mg sangat penting sebagai logam struktural berat
yang ringan karena densitasnya yang rendah (1,74 g cm–3, dibandingkan baja 7,8 g cm–3 atau
aluminium 2,7 g cm–3). Logam ini beserta alloynya digunakan dalam pembuatan kerangka atau
peralatan pesawat terbang serta mesin kendaraan bermotor. Mg diproduksi dengan reduksi
temperatur tinggi dan dengan elektrolisis.
Dalam proses Pidgeon magnesium diproduksi dengan mereduksi dolomite terkalsinasi dengan
besisilikon pada temperatur 1150 oC dibawah tekanan tereduksi.
[CaCO3.MgCO3] + CaO.MgO Mg + Ca2SiO4 + Fe
Elektrolisis dapat dilakukan entah dengan leburan MgCl2 atau pada MgCl2 hidrat. MgCl2
tersebut diproduksi dengan dua cara:
1. Proses Air Laut Dow
Air laut mengandung sekitar 0,13% ion Mg2+ dan ekstraksi magnesium bergantung
pada fakta bahwa Mg(OH)2 sangat kurang larut dibandingkan Ca(OH)2. Kapur
Ca(OH)2 ditambahkan pada air laut dan ion-ion kalsium tersebut larut dan Mg(OH)2
mengendap. Produk yang dihasilkan ini kemudian difiltrasi, dan diperlakukan dengan
HCl untuk menghasilkan magnesium klorida dan selanjutnya di elektrolisis.
2. Proses Air Garam Natural Dow
Dolomite [MgCO3.CaCO3] dikalsinasi (dipanaskan dengan kuat) menghasilkan
dolomite terkalsinasi MgO.CaO. Produk ini kemudian diperlakukan dengan HCl
menghasilkan larutan CaCl2 dan MgCl2. Selanjutnya ini kemudian diperlakukan dengan
dolomite terkalsinasi lagi dan CO2 ditiupkan ke dalamnya. CaCO3 diendapkan
meninggalkan suatu larutan MgCl2 yang kemudian dielektrolisis.

Logam kalsium digunakan untuk membuat alloy dengan Al untuk bantalan poros. Logam ini
digunakan pada industri besi dan baja untuk mengontrol karbon pada besi tuang dan sebagi
pengusir untuk unsur-unsur P, O dan S. Penggunaan lainnya adalah reduktor dalam produksi
logam-logam lainnya - Zr, Cr, dan Th serta untuk mengeluarkan N2 dalam jumlah kecil dari
gas argon. Logam kalsium diperoleh dengan cara elektrolisis leburan CaCl2 yang diperoleh
entah sebagai produk sampingan dari proses Solvay atau dari CaCO3 dan HCl. Logam-logam
lainnya Sr dan Ba diproduksi dalam jumlah yang sangat kecil sekali dengan proses elektrolisis
terhadap leburan kloridanya atau dari oksidanya melalui reduksi dengan aluminium (reaksi
thermite).

Sifat-sifat Umum
Logam-logam alkali tanah berwarna keperakan dan agak rendah densitasnya. Seperti halnya
logam-logam alkali, densitas logam-logam alkali tanah umumnya meningkat dengan
peningkatan nomor atomnya (Tabel 3.1). Logam-logam alkali tanah mempunyai ikatan logam
yang lebih kuat dibandingkan logam-logam alkali, suatu karakter yang nyata dari besarnya
entalpi atomisasi yang signifikan. Ikatan logam pada logam alkali tanah juga direfleksikan pada
kedua karakter lainnya yaitu titik didihnya yang tinggi dan kekerasannya yang lebih besar.
Walaupun densitasnya meningkat dari atas ke bawah dalam golongan (paralel dengan logam
alkali), titik didih dan entalpi atomisasinya berubah sangat kecil. Radius ionnya meningkat dari
atas ke bawah dalam golongan namun lebih kecil dibandingkan logam-logam alkali. Logam-
logam alkali tanah secara kimiawi kurang reaktif dibandingkan logam-logam alkali, tetapi tetap
lebih reaktif dibandingkan unsur-unsur logam lainnya. Contohnya kalsium, stronsium dan
barium semuanya bereaksi dengan air dingin, dan dari semuanya barium bereaksi dengan
hebat:
Ba(s) + 2 H2O(l) Ba(OH)2(aq) + H2(g)
Seperti halnya logam-logam alkali, reaktifitas logam alkali tanah meningkat ketika massa
atomnya meningkat dalam golongan. Jadi magnesium tidak bereaksi dengan air dingin, tetapi
akan bereaksi secara lambat dengan air panas menghasilkan magnesium hidroksida dan gas
hidrogen. Ion-ion logam alkali tanah selalu mempunyai bilangan oksidasi +2 dan senyawanya
umumnya stabil, tak-berwarna kecuali terdapat anion yang berwarna. Ikatan-ikatan dalam
logam alakli tanah kebanyakan bersifat ionik, tetapi sifat kovalen khsusunya terdapat dalam
senyawa magnesium.

Tabel 3.1 Beberapa Sifat Logam-logam Alkali Tanah.


Titik lebur DHatomisasi Densitas Energi Ionisasi Afinitas Elektron
Unsur Titik didih (oC) Elektronegatifitas
(oC) (kJ mol–1) (g cm–1) (kJ mol–1) (kJ mol–1)

Be 1287 (2500) 324 1.85 1.57 899 –50

Mg 649 1105 149 1.74 1.29 738 –40

Ca 839 1494 177 1.55 1.03 590 –30

Sr 768 1381 164 2.63 0.96 549 –30

Ba 727 (1850) 175 3.62 0.88 503 –30

Ra (700) (1700) 178 - (0.9) 509 –30

Garam-garam logam alkali tanah hampir selalu berupa hidrat, contohnya kalsium
klorida dapat dibuat sebagai heksahidrat, tetrahidrat, dihidrat dan monohidrat selain bentuk
anhidratnya. Tabel 3.2 menunjukan bilangan hidrasi yang umum (jumlah molekul dari air
kristal) untuk beberapa senyawa-senyawa logam alkali yang umum. Ketika densitas muatan
dari logam menjadi lebih kecil demikian juga dengan bilangan hidrasinya. Kalau semua garam-
garam Golongan 1 yang umum larut dalam air, kebanyakan Golongan 2 adalah tak larut. Secara
umum, senyawa-senyawa dengan anion-anion mononegatif seperti klorida dan nitrat yang larut
dalam air, dan dengan anion bermuatan lebih dari negatif satu seperti karbonat dan posfat tidak
larut dalam air. Ada juga beberapa garam-garam anion yang menunjukan kecenderungan yang
penting dalam solubilitas, khususnya sulfat yang berubah dari atas ke bawah dalam golongan
dari yang dapat larut hingga tak-larut sedangkan hidroksida berubah dari yang tak-larut hingga
dapat larut.
Untuk logam-logam alkali tanah, nilai energi kisinya lebih tinggi daripada nilai-nilai senyawa
logam alkali, sebab efek peningkatan muatan pada ion-ion. Mengambil salah satu anion, energi
kisinya menurun ketika ukura logam bertambah. Energi hidrasi juga menurun ketika ion-ion
logam menjadi lebih besar. Agar supaya suatu zat dapat melarut, energi hidrasi harus melebihi
energi kisi. Perhatikan senyawa-senyawa yang berkaitan seperti klorida dari logam-logam
Golongan 2, dari atas ke bawah dalam golongan ion-ion logam menjadi lebih besar sehingga
kedua energi kisi dan energi hidrasinya menurun. penurunan energi kisi yang menguntungkan
peningkatan solubilitas, tetapi penurunan energi hidrasi akan menguntungkan penurunan
solubilitas. Kedua faktor ini berubah dalam arah yang berlawanan dan total efeknya bergantung
pada mana yang dari keduanya yang berubah lebih besar. Untuk kebanyakan senyawa, dari
atas ke bawah dalam golongan energi hidrasi menurun lebih cepat daripada energi kisinya
sehingga senyawa-senyawanya menjadi kurang larut ketika logam-logam menjadi lebih besar.
Akan tetapi, dengan fluorida dan hidroksida energi kisi menurun lebih cepat daripada energi
hidrasinya sehingga solubilitasnya meningkat seiring dengan penurunan dalam golongan.

Tabel 3.2 Bilangan Hidrasi yang Biasa untuk Garam-garam Logam Alkali Tanah.
Unsur MCl2 M(NO3)2 MSO4

Mg 6 6 7

Ca 6 4 2

Sr 6 4 0

Ba 2 0 0

Intisari
Sifat logam alkali tanah cenderung sama dengan alkali, kecuali Berilium menunjukkan
kemiripan dengan aluminium pada golongan 13. Berilium memiliki kelimpahan yang tidak
terlalu besar (sedikit). Alkali tanah tidak mudah diproduksi dengan reaksi reduksi karena
sifatnya sebagai oksidator kuat. Alkali tanah adalah elektropositif yang kuat dan bereaksi
dengan air. Dapat dihasilkan dengan proses Pidgeon, dan proses elektrolisis (Mg). Logam
alkali tanah memiliki warna keperakan dengan densitas rendah, densitas meningkat dengan
peningkatan nomor atom. Secara kimiawi logam alkali tanah kurang reaktif dibandingkan
logam alkali, tetapi lebih realtid dibandingkan unsur logam lainnya. Tidak seperti alkali yang
umumnya larut dalam air, alkali tanah tidak larut. Nilai energi kisi alkali tanah lebih tinggi
daripada alkali karena peningkatan muatan pada ion-ion. Dalam satu golongan, logam
bertambah besar sehingga energi kisi dan energi hidrasi menurun. Energi kisi menurun maka
solubilitas meningkat, energi hidrasi menurun maka solubilitas menurun.