Anda di halaman 1dari 11

PANDUAN PENANGANAN - Baca-saja

2) Dasar Dugaan Pelanggaran Disiplin Profesi Keadaan dan situasi yang dapat

digunakan sebagai dasar dugaan pelanggaran disiplin profesi oleh seorang staf medis adalah hal-hal
yang menyangkut, antara lain a) kompetensi klinis b) penatalaksanaan kasus medis c) pelanggaran
disiplin protest d) penggunaan obat dan alat kesehatan yang tidak sesuai dengan standar pelayanan

kedokteran di rumah sakit o) kutidakmampuan bekerja sama dengan stat rumah sakit yang dapat

membahayakan pasien

3) Pemeriksaan

a) dilakukan oleh para perdisiplinan profesi b) melalui proses pembuktian; c) dicatat oleh petugas
sekretariat Komite medik d) terlapar dapat didampingi oleh pernanil dari rumah sakit tersebut: e)
panel dapat menggunakan keterangan ahli sesuai kebutuhan

seluruh pemeriksaan yang dilakukan oleh panel disiplin profesi bersifat tertutup dan pengambilan
keputusannya bersifat rahasia

4) Keputusan Keputusan panel yang dibentuk oleh subkomite euka dan disiplin profesi diambil
berdasarkan suara terbanyak, untuk menentukan ada atau tidak pelanggaran disiplin profesi
kedokteran di rumah sakit Bilamana terlapor merasa keberatan dengan keputusan panel, maka yang
bersangkutan dapat mengajukan keberatannya dengan memberikan bukti baru kepada
subkomiteetika dan disiplin yang kemudian akan membentuk panel batu. Keputusan ini bersifat final
dan dilaporkan kepada direksi rumah sakit melalui komile medik

5) Tindakan Pendisiplinan Perilaku Profesional Rekomendasi pemberian tindakan pendisiplinan


profesi pada staf medis oleh subkomite ctia dan disiplin profesi di rumah sakit berapa al peringatan
tertulis

Imitasi (reduksi) kewenangan kinis (clinical potwiegel bekerja dibawah supervisi dalam waktu
tertentu oleh orang yang mempunyai

kewenangan untuk pelayanan medis tersebut d) pencabutan kewenangan klinis (clinical privilege)
sementara itu selamanya 6) Pelaksanaan Keputusan Keputusan subkomiteebka dan disiplin profesi
tentang

pemberian tindakan disiplin profesi diserahkan kepada kepala direktur rumah sakit oleh ketua
komitemadik sebagai rekomendasi, selanjutnya kepala direktur rumah

BAB IV DOKUMENTASI

Tindakan Pendisiplinan Perilaku Profesional Rekomendasi pemberian tindakan pendisiplinan profesi


pada staf medis alah subkomiteetka dan disiplin profesi di rumah sakit didokumentasikan dalam
Kombe Media
Pelanggaran adalah perbuatan yang melanggar Etika dan Disiplin Profesi sebagaimana yang diatur
dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) dan Peraturan Konsil kedokteran Indonesia Nomor
4 Tahun 2011 tentang Disiplin Profesional Dokter dan Dokter Gigi

BAB II RUANG LINGKUP

Pelanggaran disiplin profesi dalam Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 4 Tahun 2011
tentang Disiplin Profesional Dokter dan Dokter Gigi tersebut dapat dikelompokkan dalam 3 hal yakni:

a) melaksanakan praktik dengan tidak kompeten b) tugas dan tanggung jawab profesional pada
pasien tidak dilaksanakan dengan

baik dan c) berperilaku tercela yang merusak martabat dan kehormatan profesi kedokteran

Dalam peraturan tersebut juga menyebutkan tentang 28 bentuk pelanggaran disiplin tersebut:

1) melakukan Praktik Kedokteran dengan tidak kompeten; 2) tidak merujuk pasien kepada Dokter
atau Dokter Gigi lain yang memiliki

kompetensi yang sesuai 3) mendelegasikan pekerjaan kepada tenaga kesehatan tertentu yang tidak

memiliki kompetensi untuk melaksanakan pekerjaan tersebut 4) menyediakan Dokter atau Dokter
gigi pengganti sementara yang tidak memiliki

kompetensi dan kewenangan yang sesuai atau tidak melakukan pemberitahuan

perihal penggantian tersebut: 5) menjalankan Praktik Kedokteran dalam kondisi tingkat kesehatan
fisik ataupun

mental sedemikian rupa sehingga tidak kompeten dan dapat membahayakan

pasien; 6) tidak melakukan tindakan/asuhan medis yang memadai pada situasi tertentu

yang dapat membahayakan pasien; 7) melakukan pemeriksaan atau pengobatan berlebihan yang
tidak sesuai dengan

kebutuhan pasien; 8) tidak memberikan penjelasan yang jujur, etis, dan memadai (adequate

information) kepada pasien atau keluarganya dalam melakukan Praktik

Kedokteran; 9) melakukan tindakan/asuhan medis tanpa memperoleh persetujuan dari pasien

atau keluarga dekat, wali, atau pengampunya; 10) tidak membuat atau tidak menyimpan rekam
medis dengan sengaja; 11)melakukan perbuatan yang bertujuan untuk menghentikan kehamilan
yang tidak

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 12)melakukan perbuatan


yang dapat mengakhiri kehidupan pasien atas permintaan

sendiri atau keluarganya;


Sub komite etika dan disiplin profesi pada komite medik di rumah sakit dibentuk dengan tujuan: a)
melindungi pasien dari pelayanan staf medis yang tidak memenuhi syarat

tukan asuhan klinis Pilih Semua Pencarian Cerdas

dis di rumah sakit

Setiap staf medis dalam melaksanakan asuhan medis di rumah sakit harus menerapkan prinsiy
prinsip profesionalisme kedokteran dan kinerja profesional yang baik

Peningkatan profesionalisme staf medis dilakukan dengan melaksanakan og pembinaan


profesionalisme kedokteran dan upaya pendisiplinan berperilaku profesional staf medis di
lingkungan rumah sakit. Dalam penanganan asuhan medis tidak jarang dijumpai kesulitan dalam
pengambilan keputusan etis sehingga diperlukan adanya

suatu unit kerja yang dapat membantu memberikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan
etis tersebut Staf medis dapat meminta pertimbangan pengambilan keputusan etis pada suatu kasus
pengobatan di rumah sakit melalui kelompok profesinya kepada komite medik

Pengaturan dan penerapan penegakan disiplin profesi bukanlah sebuah penegakan disiplin
kepegawaian yang diatur dalam tata tertib kepegawaian pada umumnya. Subkomite ini memiliki
semangat yang berlandaskan, antara lain:

1) peraturan internal rumah sakit; 2) peraturan internal staf medis; 3) etik rumah sakit, 4) norma
etika medis dan norma-norma bioetika

Tolok ukur dalam upaya pendisiplinan perilaku profesional staf medis, antara lain:

a) pedoman pelayanan kedokteran di rumah sakit b) prosedur kerja pelayanan di rumah sakit: c)
daftar kewenangan klinis di rumah sakit; d) pedoman syarat-syarat kualifikasi untuk melakukan
pelayanan medis (white

paper) di rumah sakit; e) kode etik kedokteran Indonesia: 1) pedoman perilaku profesional
kedokteran (buku penyelenggaraan praktik

kedokteran yang baik); g) pedoman pelanggaran disiplin kedokteran yang berlaku di Indonesia; h)
pedoman pelayanan medik/klinik: 1) standar prosedur operasional asuhan medis.

BAB III

TATA LAKSANA

Subkomite etika dan disiplin profesi menyusun materi kegiatan pembinaan profesionalisme
kedokteran. Pelaksanaan pembinaan profesionalisme kedokteran dapat diselenggarakan dalam
bentuk:

a) ceramah b) diskusi.
PANDUAN PEMBINAAN ETIKA DAN DISIPLIN PROFESI

BABI

DEFINISI Etika berasal dari bahasa Latin mores dan ethos, yang merupakan rangkaian: mores of
community (kesopanan masyarakat) dan ethos of the people (akhlak manusia). Etik asuhan
kedokteran merupakan peraturan tentang sikap dan tindakan seorang dokter terhadap penderita
yang menjadi tanggung jawabnya.

Disiplin Profesi Kedokteran yaitu ketaatan terhadap aturan-aturan dan/atau ketentuan penerapan
keilmuan dalam pelaksanaan praktik kedokteran yang bertujuan untuk memberikan perlindungan
kepada masyarakat, mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, serta menjaga
kehormatan profesi; yang harus diikuti oleh dokter dan dokter gigi

Pembinaan adalah usaha tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna untuk
memperoleh hasil yang baik

BAB II

RUANG LINGKUP

Sub komite etika dan disiplin profesi pada komite medik di rumah sakit dibentuk dengan tujuan: a)
melindungi pasien dari pelayanan staf medis yang tidak memenuhi syarat

(unqualified) dan tidak layak (unfit/unproper) untuk melakukan asuhan klinis

(clinical care) b) memelihara dan meningkatkan mutu profesionalisme staf medis di rumah sakit

Setiap staf medis dalam melaksanakan asuhan medis di rumah sakit harus menerapkan prinsip-
prinsip profesionalisme kedokteran dan kinerja profesional yang baik Upaya peningkatan
profesionalisme staf medis dilakukan dengan melaksanakan program pembinaan profesionalisme
kedokteran dan upaya pendisiplinan berperilaku profesional staf medis di lingkungan rumah sakit.
Dalam penanganan asuhan medis tidak jarang dijumpai kesulitan dalam pengambilan keputusan etis
sehingga diperlukan adanya

suatu unit kerja yang dapat membantu memberikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan
etis tersebut. Staf medis dapat meminta pertimbangan pengambilan keputusan etis pada suatu
kasus pengobatan di rumah sakit melalui kelompok profesinya kepada komite medik

Pengaturan dan penerapan penegakan disiplin profesi bukanlah sebuah penegakan disinin
kendawaian yang diatur dalam tata tertih kepadawaian nada limumnya
21)melakukan pelecehan Seksual, tindakan intimidasi, atau tindakan kekerasan

terhadap pasien dalam penyelenggaraan Praktik Kedokteran; 22) menggunakan gelar akademik atau
sebutan profesi yang bukan haknya; 23)menerima imbalan sebagai hasil dari merujuk, meminta
pemeriksaan, atau

memberikan resep obatlalat kesehatan; 24)mengiklankan kemampuan/pelayanan atau kelebihan


kemampuanl pelayanan

yang dimiliki baik lisan ataupun tulisan yang tidak benar atau menyesatkan 25) adiksi pada narkotika,
psikotropika, alkohol, dan zat adiktif lainnya, 26)berpraktik dengan menggunakan surat tanda
registrasi, surat izin praktik,

dan/atau sertifikat kompetensi yang tidak sah atau berpraktik tanpa memiliki surat izin praktik sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang

berlaku 27)tidak jujur dalam menentukan jasa medis; 28)tidak memberikan informasi, dokumen,
dan alat bukti lainnya yang diperlukan

MKDKI I MKDKI-P untuk pemeriksaan atas pengaduan dugaan pelanggaran Disiplin Profesional
Dokter dan Dokter Gigi:

ВАВ Ш TATA LAKSANA

Penegakan disiplin profesi dilakukan oleh sebuah panel yang dibentuk oleh ketua subkomite etika
dan disiplin profesi.

Panelle

Panel terdiri 3 (tiga) orang staf medis atau lebih dalam jumlah ganjil dengan susunan sebagai berikut.
a) 1 (satu) orang dari subkomite etik dan disiplin profesi yang memiliki disiplin ilmu

yang berbeda dari yang diperiksa; b) 2 (dua) orang atau lebih staf medis dari disiplin ilmu yang sama
dengan yang

diperiksa dapat berasal dari dalam rumah sakit atau luar rumah sakit, baik atas permintaan komite
medik dengan persetujuan kepala/direktur rumah sakit atau

kepala/direktur rumah sakit terlapor. c) Panel tersebut dapat juga melibatkan mitra bestari yang
berasal dari luar rumah

sakit. Pengikutsertaan mitra bestari yang berasal dari luar rumah sakit mengikuti ketentuan yang
ditetapkan oleh rumah sakit berdasarkan rekomendasi komite medik.

Langkah-langkah: 1) Upaya Pendisiplinan Perilaku Profesional Mekanisme pemeriksaan pada upaya

pendisiplinan perilaku profesional adalah sebagai berikut: a. Sumber Laporan

Notifikasi (laporan) yang berasal dari perorangan, antara lain: 1) manajemen rumah sakit 2) staf
medis lain; 3) tenaga kesehatan lain atau tenaga non kesehatan;
4) pasien atau keluarga pasien. b. Notifikasi (laporan) yang berasal dari non perorangan berasal dari:

1) hasil konferensi kematian;

III
v

Panel terdiri 3 (tiga) orang staf medis atau lebih dalam jumlah ganjil dengan susunan sebagai berikut
a) 1 (satu) orang dari subkomite etik dan disiplin profesi yang memiliki disiplin ilmu

yang berbeda dari yang diperiksa; b) 2 (dua) orang atau lebih staf medis dari disiplin ilmu yang sama
dengan yang

diperiksa dapat berasal dari dalam rumah sakit atau luar rumah sakit, baik atas permintaan ki
kepala/direktu

Pilih Semua Pencarian Cerdas c) Panel tersebu

sakit. Pengikutsertaan mitra bestari yang berasal dari luar rumah sakit mengikuti ketentuan yang
ditetapkan oleh rumah sakit berdasarkan rekomendasi komite medik.

Langkah-langkah: 1) Upaya Pendisiplinan Perilaku Profesional Mekanisme pemeriksaan pada upaya


pendisiplinan perilaku profesional adalah sebagai berikut: a. Sumber Laporan

Notifikasi (laporan) yang berasal dari perorangan, antara lain: 1) manajemen rumah sakit 2) staf
medis lain; 3) tenaga kesehatan lain atau tenaga non kesehatan;

4) pasien atau keluarga pasien. b. Notifikasi (laporan) yang berasal dari non perorangan berasal dari:

1) hasil konferensi kematian: b) hasil konferensi klinis.

2) Dasar Dugaan Pelanggaran Disiplin Profesi Keadaan dan situasi yang dapat

digunakan sebagai dasar dugaan pelanggaran disiplin profesi oleh seorang staf medis adalah hal-hal
yang menyangkut, antara lain: a) kompetensi klinis; b) penatalaksanaan kasus medis; c) pelanggaran
disiplin profesi: d) penggunaan obat dan alat kesehatan yang tidak sesuai dengan standar pelayanan

kedokteran di rumah sakit: e) ketidakmampuan bekerja sama dengan staf rumah sakit yang dapat

membahayakan pasien.

3) Pemeriksaan:

a) dilakukan oleh panel pendisiplinan profesi: b) melalui proses pembuktian; c) dicatat oleh petugas
sekretariat komite medik; d) terlapor dapat didampingi oleh personil dari rumah sakit tersebut e)
panel dapat menggunakan keterangan ahli sesuai kebutuhan; 1) seluruh pemeriksaan yang dilakukan
oleh panel disiplin profesi bersifat tertutup

dan pengambilan keputusannya bersifat rahasia

4) Keputusan

Keputusan panel yang dibentuk oleh subkomite etika dan disiplin profesi diambil berdasarkan suara
terbanyak, untuk menentukan ada atau tidak pelanggaran disiplin profesi kedokteran di rumah sakit.
Bilamana terlapor merasa keberatan dengan keputusan panel, maka yang bersangkutan dapat
mengajukan keberatannya dengan memberikan bukti baru kepada subkomite etika dan disiplin yang
kemudian akan

0
paper) di rumah sakit e) kode etik kedokteran Indonesia: 1) pedoman perilaku profesional
kedokteran (buku penyelenggaraan praktik

kedokteran yang baik); g) pedoman pelanggaran disiplin kedokteran yang berlaku di Indonesia; h)
pedoman pelayanan medik/klinik: i) standar prosedur operasional asuhan medis.

BAB HII TATA LAKSANA

Subkomite etika dan disiplin profesi menyusun materi kegiatan pembinaan profesionalisme
kedokteran. Pelaksanaan pembinaan profesionalisme kedokteran dapat diselenggarakan dalam
bentuk:

a) ceramah, b) diskusi

yang dilakukan bekerja sama dengan unit kerja rumah sakit terkait seperti pendidikan dan latihan
(diklat), komite medik, bidang pelayanan medik, dan sebagainya

BAB IV DOKUMENTASI

Semua kegiatan Pembinaan Etika dan Disiplin Profesi dicatat dan didokumentasikan dalam Arsip
Komite Medik.
terhadap pasien tanpa alasan yang layak dan sah sesuai dengan ketentuan etika

profesi atau peraturan perundang-undangan yang berlaku 17) membuka rahasia kedokteran;
18)membuat keterangan medis yang tidak didasarkan kepada hasil pemeriksaan

yang diketahuinya secara benar dan patut; 19) turut serta dalam perbuatan yang termasuk tindakan
penyiksaan (torture) atau

eksekusi hukuman mati; 20)meresepkan atau memberikan obat golongan narkotika, psikotropika,
dan zat

adiktif lainnya yang tidak sesuai dengan ketentuan etika profesi atau peraturan

perundang-undangan yang berlaku; 21)melakukan pelecehan Seksual, tindakan intimidasi, atau


tindakan kekerasan

rhadap pasien dalam penyelenggaraan Praktik Kedokteran; 22) menggunakan gelar akademik atau
sebutan profesi yang bukan haknya; 23)menerima imbalan sebagai hasil dari merujuk, meminta
pemeriksaan, atau

memberikan resep obatlalat kesehatan; 24)mengiklankan kemampuan/pelayanan atau kelebihan


kemampuanl pelayanan

yang dimiliki baik lisan ataupun tulisan yang tidak benar atau menyesatkan; 25) adiksi pada
narkotika, psikotropika, alkohol, dan zat adiktif lainnya: 26)berpraktik dengan menggunakan surat
tanda registrasi, surat izin praktik,

dan/atau sertifikat kompetensi yang tidak sah atau berpraktik tanpa memiliki surat izin praktik sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang

berlaku 27) tidak jujur dalam menentukan jasa medis; 28)tidak memberikan informasi, dokumen,
dan alat bukti lainnya yang diperlukan

MKDKI I MKDKI-P untuk pemeriksaan atas pengaduan dugaan pelanggaran Disiplin Profesional
Dokter dan Dokter Gigi:

BAB III TATA LAKSANA

Penegakan disiplin profesi dilakukan oleh sebuah panel yang dibentuk oleh ketua subkomite etika
dan disiplin profesi.

Panel terdiri 3 (tiga) orang staf medis atau lebih dalam jumlah ganjil dengan susunan sebagai berikut.
a) 1 (satu) orang dari subkomite etik dan disiplin profesi yang memiliki disiplin ilmu

yang berbeda dari yang diperiksa; b) 2 (dua) orang atau lebih staf medis dari disiplin ilmu yang sama
dengan yang

diperiksa dapat berasal dari dalam rumah sakit atau luar rumah sakit, baik atas permintaan komite
medik dengan persetujuan kepala/direktur rumah sakit atau
kepala/direktur rumah sakit terlapor c) Panel tersebut dapat juga melibatkan mitra bestari yang
berasal dari luar rumah

sakit. Pengikutsertaan mitra bestari yang berasal dari luar rumah sakit mengikuti ketentuan yang
ditetapkan oleh rumah sakit berdasarkan rekomendasi komite merlik