Anda di halaman 1dari 5

1.1.1.

1 Pemeriksaan Ekstraoral
a. Pembesaran rahang
Ekspansi kista akan menstimulasi pembentukan dari lapisan tulang periosteum baru yang
menyebabkan pembesaran rahang dan menyebabkan deformitas wajah (facial deformity). Saat
kista membesar/berekspansi, tulang yang menutupi pusat kecembungan kista akan menjadi tipis
dan akan terteakn. Kemudian, permukaan luar/outer shell tulang yang rapuh akan retak dan
menimbulkan sensasi ‘egg shell cracking’ saat palpasi.
b. Neurapraksia
Neurapraksia (tidak berfungsinya sistem saraf yang bersifat sementara tanpa adanya disrupsi
fisik pada akson) pada bundle/rangkaian neurovascular di mandibular dapat dikarenakan adanya
infeksi akut pada kista mandibular yang menyebabkan tekanan dari akumulasi pus pada sac.
c. Sinus tract
Dapat ditemukan sinustract pada beberapa kasus saat kista sudah terbebas keluar secara
ekstraoral (maupun intraoral).
d. Sinusitis
Jika kista yang infeksi berada di dalam antrum maksila, dapat terjadi sinusitis.
1.1.1.2 Pemeriksaan Intraoral
a. Gigi nonvital
Kista periapikal ataupun kista radicular biasa berhubungan dengan gigi nonvital ataupun
sisi akar (root stump).
b. Pembesaran rahang
Ekspansi kista akan menstimulasi pembentukan dari lapisan tulang periosteum baru yang
menyebabkan pembesaran rahang dan menghilangkan vestibulum bukal di intraoral.
c. Perkusi gigi
Perkusi gigi yang dilakukan di daerah kista tulang yang soliter menghasilkan suara yang
tumpul dan kosong/hampa yang akan berkontras dengan suara bernada tinggi yang dihasilkan
saat dilakukan perkusi pada gigi normal. Gigi disekitar kista fissural, kista lateral periodontal,
kista tulang soliter, kista nonodontogenik dan kerokista odontogenik adalah vital. Gigi yang
berada/berhubungan berdekatan dengan kista periapikal nonvital.
d. Sinus tract
Dapat ditemukan sinustract pada beberapa kasus saat kista sudah terbebas keluar secara
intraoral (maupun ekstaoral).
e. Loosening teeth
Kegoyangan pada gigi dapat ditemukan dikarenakan adanya pembesaran rahang.
f. Kehilangan gigi
Kehilangan gigi pada rahang dapat diakibatkan adanya keratokista odontogenik.
g. Solitary bone cyst
Solitary bone cyst dapat ditemukan di mandibular saat kista periodontal ada pada prosesus
alveolar. Dentigerous cysts biasa berhubungan dengan gigi kaninus, premolar dan molar yang
impaksi. Kista nonodontogenik seperti nasopalatine cyst biasanya terjadi pada rahang atas
dimana Stafne’s bone cyst secara khusus terjadi di kanal mandibular. Keratokista odontogenik
biasa berhubungan dengan region molar tiga rahang bawah.

1.1.2 Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan Radiograf
- Kista odontogenik biasanya akan terlihat radiolusen dengan margin opak yang berbatas
jelas walaupun terdapat beberapa variasi pola standarnya.
- Gambar periapikal dan oklusal akan memberikan informasi yang penting selama
menyangkut kista berukuran kecil. Pada kista berukuran besar dibutuhkan tambahan
radiografi ekstraoral seperti radiografi lateral oblique dan posteroanterior view untuk
mandibula dan radiografi intraoral Water’s view untuk maksila.
-

- Radiografi oklusal secara khusus digunakan untuk melihat tingkat kerusakan tulang
palatum pada kista maksila.
- Later oblique view memberikan gambaran yang berguna saat kista terdapat di border
bawah dari mandibular dan posteroanterior view memberikan gambaran yang
komprehensif dari kista yang terdapat di simpisis mandibular, badan dan ramus
mandibular.
- Water’s view digunakan jika kista berada di sinus maksila
- Orthopantomograms membantu untuk melihat keseluruhan rahang.

Contrast studies
Jika menentukan ukuran yang tepat dan hubungan/batasan kista yang telah meluas
diragukan maka dapat diinjeksikan water-soluble contrast solutions kedalam kavitas kista
setelah menghilangkan cairan kista. Injeksi ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk
menghindari nyeri berlebih akibat tekanan didalam kavitas kista. Aspirasi dari kavitas
kista juga harus dilakukan untuk menghindari tekanan negative didalam kavitas. Pewarna
radioopak dimasukkan dan radiograf yang diperlukan diambil setelah contrast medium
diambil dengan aspirasi.

b. Aspirasi
Aspirasi mengindikasikan lesi kista dan juga membantu membedakan kista maksila
dengan sinus maksila. Aspirasi dilakukan dibawah anastesi lokal dengan bantuan wide bore
needle. Cairan yang didapat dari aspirasi dipelajari untuk mendapatkan asal lesi. Aspirasi
yang terdapat udara mengindikasikan bahwa jarum sudah memasuki antrum. Jika tidak ada
isi saat aspirasi maka mengindikasikan tumor.

Aspirat kista dan gambaran spesifiknya


No Jenis kista Aspirat Gambaran spesifik
.
1. Kista Dentigerous Bening, cairan berwarna pipet Mengandung Kristal
polos kolesterol atau material
purulent jika infeksi
Total protein > 4.0 g/100
mL
2. OKC Cairan kotor berwarna putih Epitelium parakeratin
krim, cairan kental atau ortokeratin
Total protein < 5.0 g/100
mL (maoritasnya
mengandung albumin)
3. Kista periodontal Mengandung serous caseous Mengandung Kristal
kolesterol
Total protein 5 g/100mL
– 11 g/100 mL
4. Kista dermoid Terdapat material sebaseus
yang kental
5. Kista fissural Terdapat material mukus
6. Infeksi kista Mengandung pus atau cairan Terdapat sel inflamasi
berwarna kecoklatan, dapat seperti leukosit PMN, sel
terdapat cairan busa, cholesterol clefts
seropurulen/serosanguineous
atau darah atau kavitas kosong
7. Mucocele/Ranula Umumnya mukos
8. Kista gingiva Cairan bening
9. Heamangioma/AV Darah merah terang atau darah
malformation gelap seperti darah vena
10. Kista tulang Serous/serosanginous/darah/ka-
soliter vitas kosong
11. Kista tulang Kavitas kosong berisi udara
Stafne

c. Biopsi
Biopsi adalah gold standard untuk menentukan jenis kista dan untuk memberdakannya
dari neoplasma lainnya

Ref : S.M. Balaji, Padma Preetha Balaji. Textbook of Oral dan Maxillofacial Surgery. 3rd
ed. 2018. P 1284 - 1291