Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

BRONKIEKTASIS

Oleh:
Indah Mayang Sari
010215807

Pembimbing:
dr. Daniel Maranatha, Sp.P
dr. M. Jusuf Wibisono, Sp.P(K)
dr. Donny Irfandi

BAGIAN / SMF ILMU PENYAKIT PARU


FK UNAIR – RSU. DR. SOETOMO
SURABAYA
2007
PENDAHULUAN
Bronkiektasis merupakan pelebaran dan distorsi bronkus ukuran sedang (diameter
jalan nafas >2 mm) yang bersifat permanen dan irreversibel. Dilatasi bronkus
sering berhubungan dengan pneumonia akut dan dengan beberapa tipe atelektasis,
tetapi pada pneumonia atau atelektasis, dilatasi akan sembuh sendiri (90% dalam
3 bulan). Bronkiektasis bukan merupakan penyakit tunggal, dapat terjadi melalui
berbagai cara dan merupakan akibat dari beberapa keadaan yang mengenai
dinding bronkial, baik secara langsung maupun tidak, yang mengganggu sistem
pertahanannya. Keadaan ini mungkin menyebar luas, atau mungkin muncul di
satu atau dua tempat. Secara khusus, bronkiektasis menyebabkan pembesaran
pada bronkus yang berukuran sedang, tetapi bronkus berukuran kecil yang berada
dibawahnya sering membentuk jaringan parut dan menyempit. Kadang-kadang
bronkiektasis terjadi pada bronkus yang lebih besar, seperti yang terjadi pada
aspergilosis bronkopulmoner alergika (suatu keadaan yang disebabkan oleh
adanya respon imunologis terhadap jamur Aspergillus).
Dalam keadaan normal, dinding bronkus terbuat dari beberapa lapisan yang
ketebalan dan komposisinya bervariasi pada setiap bagian dari saluran
pernapasan. Lapisan dalam (mukosa) dan daerah dibawahnya (submukosa)
mengandung sel-sel yang melindungi saluran pernafasan dan paru-paru dari zat-
zat yang berbahaya. Sel-sel ini terdiri dari:
- sel penghasil lendir
- sel bersilia, yang memiliki rambut getar untuk membantu menyapu partikel-
partikel dan lendir ke bagian atas atau keluar dari saluran pernafasan
- sel-sel lainnya yang berperan dalam kekebalan dan sistem pertahanan tubuh,
melawan organisme dan zat-zat yang berbahaya lainnya.
Struktur saluran pernafasan dibentuk oleh serat elastis, otot dan lapisan kartilago
(tulang rawan), yang memungkinkan bervariasinya diameter saluran pernafasan
sesuai kebutuhan. Pembuluh darah dan jaringan limfoid berfungsi sebagai
pemberi zat makanan dan sistem pertahanan untuk dinding bronkus.
Pada bronkiektasis, daerah dinding bronkus rusak dan mengalami peradangan
kronis, dimana sel bersilia rusak dan pembentukan lendir meningkat. Ketegangan
dinding bronkus yang normal juga hilang. Area yang terkena menjadi lebar dan
lemas dan membentuk kantung yang menyerupai balon kecil. Penambahan lendir
menyebabkan kuman berkembang biak, yang sering menyumbat bronkus dan
memicu penumpukan sekresi yang terinfeksi dan kemudian merusak dinding
bronkus. Peradangan dapat meluas ke kantong udara kecil (alveoli) dan
menyebabkan bronkopneumonia, jaringan parut dan hilangnya fungsi jaringan
paru-paru. Pada kasus yang berat, jaringan parut dan hilangnya pembuluh darah
paru-paru dapat melukai jantung. Peradangan dan peningkatan pembuluh darah
pada dinding bronkus juga dapat menyebabkan batuk darah. Penyumbatan pada
saluran pernafasan yang rusak dapat menyebabkan rendahnya kadar oksigen
dalam darah.

EPIDEMIOLOGI
Bronkiektasis merupakan penyebab utama kematian pada negara yang kurang
berkembang. Terutama pada negara yang sarana medis dan terapi antibiotika
terbatas. Bronkiektasis umumnya terjadi pada penderita dengan umur rata-rata 39
tahun, terbanyak pada usia 60 – 80 tahun. Sebab kematian yang terbanyak pada
bronkiektasis adalah karena gagal napas. Lebih sering terjadi pada perempuan
daripada laki-laki, dan yang bukan perokok.

PATOLOGI
Gambaran makroskopis
Makroskopis paru bronkiektasis tampak dilatasi permanen dari jalan nafas
subsegmental yang mengalami inflamasi, berliku-liku, dan sebagian atau
seluruhnya dipenuhi mukus. Proses ini meliputi bronkiolus, dan bagian akhir jaln
nafas yang ditandai dengan fibrosis jalan nafas kecil. Pada aspergilosis
bronkopulmonary alergika, perubahan umumnya terjadi pada jalan nafas yang
proksimal. Bronkiektasis yang disebabkan oleh kistik fibrosis umumnya lebih
pada lobus superior.
Klasifikasi menurut Reid (atas dasar hubungan patologi dan bronkografi):
1. bronkiektasis silindris, meliputi edema mukosa yang difus, bronkus
tampak seperti bentukan pipa berdilatasi, jalan nafas yang lebih kecil
dipenuhi oleh mukus.
2. bronkiektasis varicose, merupakan bentukan intermediate, bronkus
mempunyai gambaran yang irregular atau bentukan manik-manik yang
berdilatasi menyerupai varises vena.
3. bronkiektasis sakuler atau kistik, bronkus mengalami ulserasi dengan
neovaskularisasi bronkus sehingga bronkus tampak seperti gambaran
balon, yang kadang-kadang ada gambaran udara.

Gambaran mikroskopis
Seluruh lapang pandang tampak inflamasi kronik pada dinding bronkus dengan
sel inflamasi dan mukus di dalam lumen. Terdapat destruksi pada lapisan elastin
pada dinding bronkus dengan fibrosis. Netrofil merupakan populasi sel terbanyak
dalam lumen bronkus, sedangkan sel yang terbanyak pada dinding bronkus adalah
mononuklear.

PATOGENESIS
Belum diketahui secara sempurna, tetapi nampaknya yang menjadi penyebab
utama adalah keradangan dengan destruksi otot, jaringan elastik dan tulang rawan
dinding bronkus, oleh mukopus yang terinfeksi yang kontak lama dan erat dengan
dinding bronkus. Mukopus mengandung produk-produk neutrofil yang bisa
merusak jaringan paru (protease serin, elastase, kolagenase), oksida nitrit, sitokin
inflamasi (IL8) dan substansi yang menghambat gerakan silia dan mucociliary
clearance. Terjadi mukokel yang terinfeksi setelah dilatasi mekanik bronkus yang
telah lunak oleh pengaruh proteolitik. Inflammatory insult yang pertama akan
diikuti oleh kolonisasi bakteri yang akan menyebabkan kerusakan bronkus lebih
lanjut dan predisposisi untuk kolonisasi lagi dan ini merupakan lingkaran yang
tidak terputus. Pada akhirnya terjadi fibrosis dinding bronkus dan jaringan paru
sekitarnya menyebabkan penarikan dinding bronkus yang sudah lemah sehingga
terjadi distorsi. Distensi juga bisa diperberat oleh atelektasis paru sekitar bronkus
yang menyebabkan bronkus mendapatkan tekanan intratorakal yang lebih besar.
Berdasarkan perubahan patologi di bronkus, bronkiektasis dibagi menjadi:
1. Bronkiektasis fokal, meliputi satu lobus, segmen, atau subsegmen dari paru
2. Bronkiektasis difus, meliputi kedua paru.

Gambar 1. Bronkiektasis silindris dengan


penampakan seperti cincin. Diameter jalan
nafas lebih besar daripada pembuluh darah
yang berdekatan.

Gambar 2. Bronkiektasis silindris dan kistik


pada lobus inferior kanan.

Gambar 3. bronkiektasis varicose dengan


area bronkus yang dilatasi dan konstriksi
bergantian.
ETIOLOGI
1. Bronkiektasis Fokal, biasanya disebabkan sekunder dari obstruksi bronkus
karena benda asing, karsinoma, limfadenitis sekitar dan sekret kental.
2. Bronkiektasis Difus, disebabkan oleh pneumonia, penyakit granulomatous
kronik, kelainan hipersensitivitas dan imunodefisiensi, kelainan genetik dan
penyakit rematik.
Saat ini penyebab tersering adalah penyakit granulomatous seperti TB,
sarkoidosis, histoplasmosis, coccidiodomycosis.

GEJALA KLINIS
Anamnesis
• Batuk kronik berdahak mukopurulen/purulen dalam jumlah banyak (wet
bronchiectasis).
Volume sputum 24 jam dapat digunakan sebagai indikator berat ringan
penyakit.
Menurut Ellis dan kawan-kawan, berdasarkan volume sputum, derajat
bronkiektasis dibagi menjadi:
1. volume sputum <10 ml/hari merupakan bronkiektasis ringan
2. volume sputum 10-150 ml/hari merupakan bronkiektasis sedang
3. volume sputum >150 ml/hari merupakan bronkiektasis berat.
• Batuk berulang tanpa dahak, kadang disertai batuk darah
(dry bronchiectasis).
Batuk darah bisa mengancam jiwa karena berasal dari arteri bronkialis dengan
tekanan sistemik. Batuk darah dapat dijumpai ± 50 % kasus.
• Sesak nafas dan wheezing bisa dijumpai dan lebih persisten bila penyakit
bertambah progresif.
• Penurunan berat badan
• Lelah
• Clubbing fingers (jari-jari tangan menyerupai tabung genderang)

Pemeriksaan Fisik
Dijumpai ronki basah kasar, halus persisten.
Ada periode eksaserbasi yang ditandai panas, peningkatan batuk dan jumlah
sputum.

DIAGNOSIS
Diagnosis bronkiektasis ditegakkan atas dasar :
- Gejala klinis :
batuk berdahak, bau, banyak, dan bila diendapkan ada 3 lapis:
lapisan atas : lapisan cairan dengan busa
lapisan tengah : keruh dan mukopurulen
lapisan bawah : purulen dan putih padat

- Radiologis
• Foto toraks
Dapat normal. Dikatakan 7-20 % foto toraks normal pada yang
terdiagnosis bronkiektasis.
Gambaran yang menyokong bronkiektasi adalah:
- tram track / tram line (dua garis sejajar menyerupai rel
trem) atau adanya bayangan cincin bila terpotong melintang pada
bronkiektasis silindris.
- Tooth paste line pada bronkiektasis varicose.
- Kista terisolasi / menggerombol dengan diameter 3 cm,
kadang-kadang tampak air fluid level pada bronkiektasis sakuler.
- Densitas linier yang tebal atau berbentuk Y atau V (gloves-
finger sign) bila ada sumbatan mukus.
• HR (High resolution) CT scan merupakan alat diagnosis yang akurat untuk
diagnosis.
• Bronkografi, secara tradisional merupakan gold standard namun saat ini
tidak dikerjakan karena kontras tidak tersedia.
- pemeriksaan sputum (gram dan TTH)
- biakan kuman dan jamur
- tes kepekaan antibiotika
- tes faal paru
- fiber optic bronchoscopy

DIAGNOSIS BANDING
1. bronkitis kronis.
2. karsinoma bronkogenik.
3. kistik fibrosis
4. tuberkulosis paru
5. kelainan jantung kongenital (dengan sianosis dan jari tabuh)

PENATALAKSANAAN
Tujuan dari pengobatan adalah menghilangi masalah yang mendasari,
mengendalikan infeksi terutama selama fase eksaserbasi akut, meningkatkan
kebersihan sekret tracheobronchial dengan mengendalikan pembentukan dahak,
membebaskan penyumbatan saluran pernafasan serta mencegah komplikasi.
a. Terapi medis
1. Fisioterapi dada : postural drainage, perkusi dada, latihan batuk.
Hal ini dilakukan untuk membuang dahak.
2. Hidrasi
3. Bronkodilator
Untuk memperbaiki obstruksi dan meningkatkan kebersihan sekret,
terutama pada paien dengan hiperaktifitas jalan nafas atau obstruksi jalan
nafas yang reversibel.
4. Kortikosteroid bila diperlukan
5. Antibiotik.
Umumnya diberikan saat eksaserbasi. Pemilihan didasarkan hasil pemeriksaan
kultur sputum dan bronchoalveolar lavage (BAL). Jika kumannya campuran
berikan spectrum luas seperti amoxicillin 500 mg sehari 3 kali, tetracycline
500 mg sehari 3 kali atau cotrimoxazol sehari 2 kali 2 tablet. Pada infeksi
oleh pseudomonas, pilihannya : gentamycin 3 – 5 mg/kgBB/hari sehari 2-3
kali, tobramycin 3-5 mg/kgBB/hari 3 kali pemberian, dan ciprofloxacin
500mg sehari 2 kali.
b. Pembedahan
Indikasi:
1. Gejala klinis berulang dan refrakter karena lesi lokal.
2. Hemoptosis massif dan lokasi perdarahan diketahui/dicurigai.
Bila tidak mungkin untuk operasi, maka dilakukan embolisasi arteri
bronkialis.

PENYULIT
1. batuk darah masif
2. pneumoni
3. abses paru
4. kor pulmonale
5. emfisema
6. efusi pleura / empiema
7. gagal nafas
8. infeksi intrakranial (abses serebri atau ventrikulitis)

PROGNOSIS
Pada umumnya, prognosis dari bronkiektasis adalah baik. Prognosis tergantung
dari penyebab, lokasi, dan luasnya kelainan. Dengan antibiotika dan hygiene
saluran nafas, prognosis membaik.

PENCEGAHAN
Imunisasi campak dan pertusis pada masa kanak-kanak membantu menurunkan
angka kejadian bronkiektasis. Vaksin influenza berkala membantu mencegah
kerusakan bronkus oleh virus flu. Vaksin pneumokok membantu mencegah
komplikasi berat dari pneumonnia pneumokok. Minum antibiotik dini saat infeksi
juga mencegah bronkiektasis atau memburuknya penyakit. Pengobatan dengan
imunoglobulin pada sindroma kekurangan imunoglobulin mencegah infeksi
berulang yang telah mengalami komplikasi. Penggunaan anti peradangan yang
tepat (seperti kortikosteroid), terutama pada penderita bronkopneumonia alergika
aspergilosis, bisa mencegah kerusakan bronkus yang akan menyebabkan
terjadinya bronkiektasis. Menghindari udara beracun, asap (termasuk asap rokok)
dan serbuk yang berbahaya (seperti bedak atau silika) juga mencegah
bronkiektasis atau mengurangi beratnya penyakit.
Masuknya benda asing ke saluran pernafasan dapat dicegah dengan:
- memperhatikan apa yang dimasukkan anak ke dalam mulutnya
- menghindari kelebihan dosis obat dan alcohol
- mencari pengobatan medis untuk gejala neurologis (seperti penurunan
kesadaran) atau gejala saluran pencernaan (seperti regurgitasi atau batuk
setelah makan).
Tetes minyak atau tetes mineral untuk mulut atau hidung jangan digunakan
menjelang tidur karena dapat masuk ke dalam paru. Bronkoskopi dapat digunakn
untuk menemukan dan mengobati penyumbatan bronkus sebelum timbulnya
kerusakan yang berat.

PENUTUP
Bronkiektasis bukan merupakan penyakit tunggal, dapat terjadi melalui berbagai
cara dan merupakan akibat dari beberapa keadaan yang mengenai dinding
bronkial, baik secara langsung maupun tidak, yang mengganggu sistem
pertahanannya. Pengobatan pada bronkiektasis bertujuan untuk mengendalikan
infeksi, mengendalikan pembentukan dahak, membebaskan penyumbatan saluran
pernafasan serta mencegah komplikasi. Dengan antibiotik dan hygiene saluran
nafas yang tepat maka prognosis dari penyakit ini baik. Bronkiektasis dapat
dicegah dengan melakukan imunisasi campak dan pertusis pada masa kanak-
kanak
DAFTAR PUSTAKA
Barker, Alan F. 2004. Cecil Textbook of Medicine 22nd Edition. W. B. Saunders
Company.
Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo. 1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi
Bag/SMF Ilmu Penyakit Paru. Surabaya. Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo.
Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi
Bag/SMF Ilmu Penyakit Paru edisi III. Surabaya. Rumah Sakit Umum Dokter
Soetomo.
Steven E. Weinberger. 2001. Harrison's Principles of Internal Medicine 15th
Edition CD-ROM. McGraw-Hill.
Thomas O'Riordan, Adam Wanner. 2003. Baum's Textbook of Pulmonary
Diseases 7th Edition. Lippincott Williams & Wilkins Publishers.
Warrel, David A. 2003. Oxford Textbook of Medicine 4th Edition. Oxford Press.
http://id.wikipedia.org/wiki/Bronkientasis. 16 Mei 2007. 00.35.