Anda di halaman 1dari 12

DASAR TEORI MENENTUKAN KADAR ASAM ASETAT

Dasar Teori
Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan
menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan
berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatan
reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang
melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan
pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya. (disini hanya dibahas tentang titrasi asam
basa).
Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya diletakan di
dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai “titer”
dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. Baik titer maupun titrant biasanya berupa larutan.
Titrasi asam basa disebut juga titrasi adisi alkalimetri. Kadar atau konsentrasi asam
basa larutan dapat ditentukan dengan metode volumetri dengan teknik titrasi asam basa.
Volumetri adalah teknik analisis kimia kuantitatif untuk menetapkan kadar sampel dengan
pengukuran volume larutan yang terlibat reaksi berdasarkan kesetaraan kimia. Kesetaraan
kimia ditetapkan melalui titik akhir titrasi yang diketahui dari perubahan warna indicator dan
kadar sampel untuk ditetapkan melalui perhitungan berdasarkan persamaan reaksi.
Asidimetri dan alkalimetri adalah analisis kuantitatif volumetri
berdasarkan reaksi netralisasi. Keduanya dibedakan pada larutan standarnya. Analisis
tersebut dilakukan dengan cara titrasi. Pada titrasi basa terhadap asam cuka, reaksinya
adalah :
NaOH(aq) + CH3COOH(aq)→ CH3COONa(aq) + H2O
Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dilakukan analisis
volumetri adalah sebagai berikut :
  Reaksinya harus berlangsung sangat cepat.
  Reaksinya harus sederhana serta dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi yang
kuantitatif/stoikiometrik.
  Harus ada perubahan yang terlihat pada saat titik ekuivalen tercapai, baik secara kimia
maupun secara fisika.
  Harus ada indikator jika reaksi tidak menunjukkan perubahan kimia.

Pada titrasi asam asetat dengan NaOH (sebagai larutan standar) akan dihasilkan
garam yang berasal dari asam lemah dan basa kuat. Garam natrium asetat ini akan terurai
sempurna karena senyawa itu adalah garam, sedang ion asam asetat akan terhidrolisis oleh
air.
CH3COONa→ CH3COO- + Na+
CH3COO- + H2O→ CH3COOH + OH-
Ion asetat akan terhidrolisis oleh molekul air, menghasilkan molekul
asam-asam dan ion hidroksi. Oleh karena itu, larutan garam dari basa kuat dan asam lemah
seperti natrium asetat, akan bersifat basa dalam air (pH >7). Apabila garam tersusun dari basa
lemah dan asam kuat, larutan garamnya akan bersifat asam (pH <7). Sedang garam yang
tersusun dari basa dan asam kuat, larutan dalam air akan bersifat netral (pH = 7). Hidrolisis
hanya terhadap asam lemah, basa lemah, ion basa dan ion asam lemah. Titik ekuivalen pada
proses titrasi asam cuka dengan larutan natrium hidroksida akan diperoleh pada pH >7. Untuk
mengetahui titik ekuivalen diperlukan indikator tertentu sebagai penunjuk selesainya proses
titrasi. Warna indikator berubah oleh pH larutan. Warna pada pH rendah tidak sama dengan
warna pada pH tinggi. Dalam titrasi asam asetat dengan NaOH dipakai indikator semacam
itu.
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam basa, yaitu:
  Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi dilakukan, kemudian
membuat plot antara pH dengan volume titrasi untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah
dari kurva titrasi tersebut adalah “titik ekuivalen”.
  Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrasi sebelum proses titrasi
dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah
titrasi kita hentikan.

Pada analisis asam asetat dalam cuka perdagangan akan diperoleh informasi apakah
kadar yang tertulis pada etiket sudah benar dan tidak menipu. Analisis dilakukan dengan
menitrasi larutan asam asetat perdagangan dengan larutan NaOH standar.
CH3COOH(aq) + NaOH(aq)→ CH3COONa(aq) + H2O
Gram ekuivalen dari asam asetat dapat dihitung yaitu :
Grek asam asetat = VNaoH × MNaoH
Dalam hal ini molaritas NaOH sama dengan normalitas NaOH karena valensi NaOH = 1.
VNaoH = volume NaOH yang diperlukan untuk menetralkan semua asam asetat dalam larutan.
Karena valensi asam asetat = 1, maka 1 grek asam asetat = 1 mol
Berat asam asetat (garam) = grek asam asetat × BM asam asetat.
Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedekat mungkin
dengan titik equivalent, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indikator yang tepat dan
sesuai dengan titrasi yang akan dilakukan. Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara
melihat perubahan warna indikator disebut sebagai “titik akhir titrasi”.

                         III.            Alat dan Bahan


1.      Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini, yaitu :
a.     Labu ukur 100ml
b.     Buret 25ml
c.     Erlenmeyer
d.    Pipet gondok
e.     Pipet

2.      Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini, yaitu :
a.     Asam Oksalat (H2C2O4.2H2O)
b.     Larutan NaOH
c.     Asam Cuka perdagangan
d.    Indikator pp

IV.        Cara Kerja


A.       Penentuan Molaritas H2C2O4
1.        Siapkan larutan NaOH, dimasukkan ke dalam buret 25 ml.
2.        Ditimbang 1,26 gram Asam Oksalat, dimasukkan dalam labu ukur 100 ml dan ditambah
dengan aquadest hingga 100 ml.
3.        Satu buret disiapkan dan dicuci, diisi larutan NaOH yang telah disiapkan.
4.        Dituang 10 ml larutan Asam Oksalat ke dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan 7 tetes
indikator pp, kemudian titrasi dengan larutan NaOH hingga berwarna merah jambu.
5.        Pada titrasi kedua, larutan Asam Oksalat ditambahkan indikator pp sebanyak 5 tetes.
6.        Kemudian titrasi dengan larutan NaOH sampai berwarna merah jambu.

B.       Penetapan Kadar Asam Cuka Perdagangan


1.        Siapkan larutan NaOH, dimasukkan kedalam buret 25 ml.
2.        Diambil 10 ml larutan cuka dengan pipet ukur, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur
kapasitas 100 ml dan diencerkan hingga 100 ml.
3.        Kemudian dari pengenceran itu diambil 10 ml larutan cuka dan kemudian dimasukkan ke
dalam labu ukur 50 ml dan diencerkan hingga 50 ml.
4.        Diambil 10 ml larutan cuka, kemudian dimasukkan ke dalam erlenmeyer.
5.        Ditambahkan indikator pp sebanyak 3 tetes.
6.        Titrasi dengan larutan NaOH hingga larutan berwarna merah jambu.
7.        Ulangi titrasi hingga dua kali.
V.           Hasil dan Pembahasan
A.    Hasil
A.1. Hasil Pengamatan
  PENGAMATAN 1
Titrasi asam oksalat
Titrasi I Titrasi II Vrata-rata
V NaOH 22,1 ml 21,1 ml 21,6 ml
VH2C2O4.2H2O 10 ml 10 ml 10 ml
Banyaknya indicator pp 7 tetes 5 tetes

         PENGMATAN 2
Titrasi asam cuka
Titrasi I Titrasi II Vrata-rata
Skala awal buret 25 ml 25 ml 25 ml
25 ml - 9,8 ml 25 ml - 9,5 ml
Skala akhir buret 15,35 ml
= 15,2 ml = 15,5 ml
Vol. NaOH 9,8 ml 9,5 ml 9,65 ml

A.2. Perhitungan
Standarisasi Larutan NaOH
Konsentrasi Larutan Asam Oksalat
Diketahui :
Massa asam oksalat = 1,26 gr
MR asam oksalat = 126
Volume larutan asam oksalat = 100 mL = 0,1 L
Ditanyakan :
1.        mol asam oksalat ?
2.        Molaritas asam oksalat ?
3.        Normalitas asam oksalat ?
Jawab :
1.     

2.     

3.     
. 0,1 mol/L

Penentuan Konsentrasi NaOH


Diketahui :
Volume NaOH rata-rata saat titrasi = 21,6 ml
Volume asam oksalat saat titrasi = 10 ml
Normalitas asam oksalat = 0,2 ek/L
Ditanya :
Normalitas NaOH yang dititrasi = …………..?

Pada saat titik ekivalen titrasi


Jumlah ekuivalen asam = Jumlah ekuivalen basa
(N . V)asam = (N . V)basa
Noksalat . Voksalat = NNaOH . VNaOH
0,2 ek/L . 10 ml = NNaOH . 21,6 ml
NNaOH =
NNaOH = 0,093 N
Jadi Normalitas larutan NaOH rata-rata adalah 0,093 N.

Penentuan Konsentrasi Asam Asetat dalam Asam Cuka


Diketahui :
Volume asam asetat yang dititrasi = 10 ml
Volume rata-rata NaOH untuk titrasi = 9,65 ml
Normalitas NaOH digunakan untuk titrasi = 0,093 N
Ditanya :
Normalitas asam asetat yang dititrasi = …………..?
Jawab :
Pada saat titik ekivalen titrasi
jumlah ekuivalen asam = jumlah ekuivalen basa
(N . V)asam = (N . V)basa
N asetat . Vasetat = N NaOH . VNaOH
N asetat . 10 ml = 0,093 N . 9,65 ml
Nasetat =
Nasetat = 0,089 N
Jadi Normalitas larutan CH3COOH adalah 0,089 N.

Karena asam asetat adalah asam monopotrik, maka n asam asetat = 1 ek/mol,
sehingga:
Masetat = Nasetat / n
Masetat = 0,089 N / 1
Masetat = 0,089 N
Sebelum dititrasi, asam asetat telah diencerkan terlebih dahulu. Sehingga data yang telah
diperoleh dari perhitungan di atas adalah konsentrasi asam asetat setelah diencerkan.
Konsentrasi asam asetat sebelum diencerkan dapat dihitung sebagai berikut:
(M . V)sebelum pengenceran = (M . V)setelah pengenceran
Msebelum pengenceran = Masetat .
Msebelum pengenceran = 0,089 .
Msebelum pengenceran = 0,89 M

Konsentrasi asam asetat dinyatakan dalam persentase (b/v) adalah:


% CH3COOH (b/v) = Masetat x MRasam asetat x x 100
= 0,89 M x 60 gr/mol x x 100
= 5,34 % (b/v)

B.     Pembahasan
Reaksi yang terjadi antara asam oksalat dengan NaOH adalah sebagai berikut :
2NaOH + H2C2O4 → Na2C2O4 + 2H2O
Pada standarisasi NaOH terhadap asam oksalat indicator yang
digunakan adalah fenolftalein atau PP 1 %, pada saat indicator ditambahkan warna larutan
tetap bening, setelah dititrasi dengan NaOH sebanyak rata-rata 21,6 ml larutan berubah
menjadi warna pink atau merah muda. Perubahan warna pada larutan disebabkan oleh
resonansi isomer elektron. Berbagai indicator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda,
sehingga menunjukan warna pada range pH yang berbeda. Indicator fenolftalein adalah
indicator yang dibuat dengan kondensasi anhidrida fthalein dengan fenol.  Jika indicator ini
digunakan, maka akan menunjukan pH yang berkisar antara 8,2 – 10,0 atau berlangsung
antara basa kuat dengan asam kuat.
Dari hasil praktikum, didapatkan kadar NaOH rata-rata pada proses
titrasi yang dilakukan adalah sebanyak 0,093 N.
Setelah larutan baku NaOH tersebut sudah diketahui konsentrasinya,
maka larutan tersebut sudah dapat digunakan untuk menentukan kadar asam cuka. Pada
percobaan ini, menetapkan asam cuka untuk mengetahui apakah kadar yang tertera pada
etiket cuka sesuai dengan kadar yang sebenarnya. Analisis dilakukan secara alkalimetri yaitu
dengan cara menitrasi larutan asam asetat dengan larutan baku NaOH.
Untuk menganalisis asam cuka dapat dilakukan dengan titrasi
netralisasi. Titrasi ini merupakan titrasi alkalimetri, proses titrasi dengan larutan standar basa
untuk menitrasi asam bebas.
Setelah kita mengetahui normalitas dari larutan NaOH, maka
dilakukan langkah selanjutnya yaitu menetapkan kadar asam cuka perdagangan. NaOH rata-
rata yang digunakan pada penetapan kadar asam cuka perdagangan sebesar 9,65 ml, sehingga
konsentrasi asam cuka perdagangan (CH3COOH) dapat diketahui sebesar 0.089 N.
Ada dua cara untuk mengetahui titik ekivalen pada titrasi, yaitu :
1.    Memakai pH meter untuk memonitor pH selama titrasi dilakukan. Kemudian membuat plot
antara pH dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva
titrasi tersebut dinamakan titik ekivalen. Cara ini jarang dilakukan karena harus
menggunakan sarana yang mendukung.
2.    Memakai indicator asam basa, indicator ditambahkan 2 hingga 3 tetes pada titran sebelum
proses  titrasi dilaukan. Indikator ini akan berubah warna ketika titik ekivalen terjadi. Pada
saat inilah titrasi dihentikan.
Perubahan warna diharapkan tidak terlalu muda dan juga tidak terlalu
tua. Agar mendapatkan hasil titrasi yang maksimal. Warna yang cocok adalah warna yang
berada di tengah-tangah. Tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua.

VI.             EVALUASI
A.      Analisisis Data/Pertanyaan
1)   Apakah yang dimaksud dengan larutan standar?
2)   Apa itu larutan standar primer dan sekunder?
3)   Bila larutan asam kuat dititrasi dengan basa kuat memakai indicator pp, apakah tepat bila
titrasi sebaliknya juga memakai pp? Jelaskan!
B.       Jawaban
1)   Larutan standard adalah larutan yang diketahui konsentrasinya, yang akan digunakan pada
analisis volumetrik.
2)   Pembuatan langsung larutan dengan melarutkan suatu zat murni dengan berat tertentu,
kemudian diencerkan sampai memperoleh volume tertentu secara tepat. Larutan ini disebut
larutan standard primer, sedangkan zat yang digunakan disebut standard primer.
Larutan yang konsentrasinya tidak dapat diketahui dengan cara menimbang zat kemudian
melarutkannya untuk memperoleh volume tertentu, tetapi dapat distandardkan dengan larutan
standard primer, disebut larutan standard sekunder.
3)   Ya, karena jika mereaksikan asam kuat dan basa kuat maka yang tepat menjadi indilkatornya
ialah pp. Jika yang menjadi titran itu merupakan larutan basa kuat, perubahannya warna ungu
muda. Karena indikator pp itu memiliki trayek pH antara 8 - 10 jadi sangat tepat untuk
digunakan.

VII.          Kesimpulan
           Titrasi asam basa atau yang lebih dikenal dengan nama asidi – alkalimetri merupakan
analisis konvensional, dimana menggunakan larutan yang bersifat asam maupun basa.
           Dasar dari analisis ini adalah reaksi yang terjadi dari senyawa yang bersifat asam dengan
senyawa lain yang bersifat basa. Alam analisis titrimetri asam – basa untuk menunjukkan
ketuntasan suatu reaksi maka dapat digunakan pH meter dan larutan indikator yang harus di
sesuaikan dengan titik ekivalen yang akan dicapai dari reaksi yang terjadi nantinya.
           Persamaan reaksi asam oksalat dengan NaOH :
2NaOH + H2C2O4 → Na2C2O4 + 2H2O
Persamaan reaksi asam cuka dengan NaOH :
NaOH + CH3COOH → CH3COONa + H2O
           Pada saat proses standarisasi NaOH terbentuk larutan berwarna merah jambu dengan
konsentrasi NaOH sebesar 0,093 N.
           Pada proses penetapan asam cuka terbentuk larutan berwarna merah jambu dengan
konsentrasi asam cuka sebesar 0,089 N.
           Pada standarisasi didapat bahwa konsentrasi asam asetat sebelum diencerkan adalah 0,89 M.
           Konsentrasi asam asetat dinyatakan dalam % (b/v) sebesar 5,34 % (b/v).
.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Himawan, Herson Cahaya. 2013. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Bogor: Laboratorium
Farmasi Program Studi S1 Farmasi Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor.
2.      2007. Kimia Untuk SMF kelas XII Berdasarkan Kurikulum SMF 2004. Jakarta

Diposting oleh Intan Milasary di 02.31


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Beranda


Langganan: Posting Komentar (Atom)

Mengenai Saya

Intan Milasary
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog
 ▼  2015 (8)
o ▼  Desember (8)
 Praktikum Kimia Fisika PPenetapan Derajat Ionisasi...
 Praktikum kimia fisika Penetapan kelarutan zat ele...
 Praktikum Kimia Fisika Tegangan Permukaan
 Praktikum Kimia Fisika Adsorpsi
 Praktikum Kimia Fisika Penetapan Kekentalan Cairan...
 Praktikum Kimia Fisika Diagram Terner
 Laporan Kimia Fisika Keseimbangan Fase dan Entalpi...
 Laporan Praktikum Kimia Dasar Titrasi NaOH
DASAR TEORI ASAM DAN BASA
A.Teori Asam Basa Arrhenius

Sejak beabad-abad yang lalu, para pakar mendefinisikan asam dan basa berdasarkan sifat
larutannya. Larutan asam mempunyai rasa masam dan bersifat korosif (merusak logam,
marmer dan berbagai bahan lain), sedangkan larutan basa berasa agak pahit dan bersifat
kaustik (licin, seperti bersabun).Konsep yang cukup memuaskan tentang asam dan basa, dan
yang tetap diterima hingga sekarang, dikemukakan oleh Svante August Arrhenius (1859-
1927) pada tahun 1884.
Asam
Menurut Arrhenius, asam adalah senyawa yang jika dilarutkan ke dalam air menghasilkan ion
H+.

Sifat-sifat asam diantaranya adalah:


a.      Terasa masam
b.      Bersifat korosif (merusak logam, marmer, dan berbagai bahan lain)
c.       Terionisasi menghasilkan ion H+
d.      Memiliki pH < 7
e.       Memerahkan lakmus biru
Contoh senyawa yang termasuk pada asam, yaitu:
¨      HCl
¨      H2SO4
¨      CH3COOH
¨      H3PO4

Basa
Menurut Arrhenius, basa adalah senyawa yang jika dilarutkan ke dalam air menghasilkan ion
OH-.

Sifat-sifat basa diantaranya adalah:


a.      Terasa pahit
b.      Bersifat kaustik (licin seperti bersabun)
c.       Terionisasi menghasilkan ion OH-
d.      Memiliki pH > 7
e.       Membirukan lakmus merah
Contoh senyawa yang termasuk pada basa, yaitu:
¨      NaOH
¨      Ba(OH)2
¨      NH4OH
¨      KOH

B. Teori Asam Basa Bronsted Lowry

Menurut Bronsted Lowry,asam adalah zat yang dapat memberi proton,sedangkan basa adalah
zat yang dapat menerima proton.Jadi asam=donor proton,basa=akseptor proton.
Konsep asam basa ini lebih luas daripada teori asam basa Arrhenius karena:
1) Konsep asam basa Bronsted Lowry tidak terbatas dalam pelarut air,tetapi juga  menjelaskan
reaksi asam basa dalam pelarut lain atau bahkan reaksi tanpa pelarut.
2) Asam basa Bronsted Lowry dapat berupa kation atau anion.Konsep ini dapat menjelaskan
sifat asam dari NH4Cl,di mana pembawa sifat asamnya adalah NH 4+ yang dalam air dapat
melepas proton.

C. Teori Asam Basa Lewis

Lewis memberikan pengertian asam dan basa berdasarkan serah terima pasangan
elektron,yaitu:
Asam = akseptor pasangan elektron
Basa = donor pasangan elektron
Konsep ini dapat menjelaskan reaksi-reaksi yang bersuasana asam basa walaupun tidak
melibatkan proton ion H+.

Untuk mengenali sifat suatu larutan dapat diketahui dengan menggunakan indikator asam
basa. Indikator asam basa adalah suatu zat yang memberikan warna berbeda pada larutan
asam dan larutan basa. Dengan adanya perbedaan warna tersebut, indikator asam basa dapat
digunakan untuk mengetahui apa suatu zat termasuk larutan asam atau larutan basa.

1. Indikator Alami

Indikator alami adalah indikator yang berasal dari bahan alam,seperti tumbuh-
tumbuhan.Indikator tersebut dapat terbuat dari  bumbu dapur,bunga,dan bbuah-buahan yang
harus dibuat dalam bentuk larutan dengan cara mengekstraknya,kemudian diteteskan pada
larutan asam atau basa.Perubahan warna yang terjadi pada setiap indikator tidak sama.

2. Indikator Buatan

Salah satu indikator buatan asam basa yang biasa digunakan adalah kertas lakmus,kertas
indikator uiversal,dan larutan indikator universal.
Lakmus berasal dari spesies lumut kerak yang dapat berbentuk larutan atau kertas.
Lakmus yang sering digunakan berbentuk kertas, karena lebih sukar teroksidasi dan
menghasilkan perubahan warna yang jelas.

Ada 2 jenis kertas lakmus, yaitu:


-       Kertas lakmus merah
Kertas lakmus merah berubah menjadi berwarna biru dalam larutan basa dan pada larutan
asam atau netral warnanya tidak berubah (tetap merah).
-       Kertas lakmus biru
Kertas lakmus biru berubah menjadi berwarna merah dalam larutan asam dan pada larutan
basa atau netral warnanya tidak berubah (tetap biru).
       Kertas indikator universal dapat berubah warna tertetu sesuai tingkat keasaman atau
kebasaan zat.Perubahan warna terjadi ketika indikator dicelupkan kedalam asam atau basa.
       Larutan indikator universal yang sering digunakan adalah fenolftalein,metil jingga,metil
merah dan bromtimol biru.Jika kita meneteskan larutan asam atau basa kedalam larutan
indikator universal ,kita dapat melihat perubahan warna larutan indikator.
MENENTUKAN NaHCO3
Titrasi asam basa adalah di mana reaksi  antara analit dan titrannya adalah merupakan
reaksi asam basa .asidumetri adalah penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa
yang bersifat basa dengan  mengggunakan standar senyawa asam .yang sudah di ketahui
konsentrasinya.reaksi antara asam dan basa pada dasrnya termasuk reaksi netralisasi,yaitu
reaksi antara donor proton(asam) dan penerima  proton disebut akseptor proton (basa).jika
asam dan basa sama-sama kuat ,maka saat titik akhir titrasi larutan akan netral ,sedangkan
jika salah satu lemah maka garam akan terhirolisa maka larutan sedikit asam atau basa .

Penetapan kadar natrium hydrogen karbonat NaHCo3 dapat di lakukan dengan titrasi
asam basa menggunakan larutan standar HCl menurut reaksi

 NaHCo3+ HCl                                NaCl+H2O+CO2


Larutan HCl dapat di standarkan dengan boraks yang merupakan reaksi asam kuat dengan
basa lemah .boraks di gunakan sebagai bahan standar dalam penetapan normalitas HCl
karena mudah di peroleh dalam keadaan murni ,cukup stabil,dan mempunyai berat ekuivalen
yang tinggi.reaksi yang terjadi adalah sebagi berikut:
Na2B4O7.10H2 +2HCl                                                  4H3 BO3 + 2NaCl+5H2O
Proses titrasi di lakukan dengan penanbahan asam standar  kedalam basa.asam    akan
bereaksi dengan basa mengakibatkan penurunan pH secara bertahap .penentuan titik
ekuivalen dilakukan dengan dua cara menggunakan indicator dan menggunakan pH meter.
https://laporan-kimia-analisis.blogspot.co.id/2015/06/laporan-resmi-praktikum-asidimetri.html