Anda di halaman 1dari 5

Differences of Recovery time of Intestinal Peristaltic on Surgical Patients with General

Anesthesia Taken with Early Ambulation of Active and Passive ROM in Wira Bhakti
Tamtama Hospital Semarang

Nofie Windiarto

Abstract

Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) is the most common complaints during
recovery time of patients after surgery in the recovery room. A patient who has not recovered
from intestinal peristaltic after anesthesia may suffer ileus or intestinal obstruction when given
nutrient intake.
The research objective was to know the differences between recovery time of intestinal
peristaltic on surgical patients with general anesthesia taken with early ambulation of active and
passive ROM. This research was a quasi-experiment with one group pre-test and post-test design.
The results illustrated that the long recovery time of intestinal peristaltic between the
respondents who took active ROM of early ambulation and passive ROM had significant
average. The average recovery time of intestinal peristaltic with active ROM was 28.50 minutes,
and respondents with passive ROM was 42.50 minutes. Wira Bhakti Tamtama Hospital was
expected to implement standard operating procedures (SOP) or a fixed procedure (Protap),
especially active ROM ambulation on post-operative patients with general anesthesia, and to
socialize earl ambulation usefulness in patients so that the risk of post-operative complications
can be avoided.

Keywords: Early Ambulation, ROM Active, ROM Passive, Intestinal Peristaltic

PENDAHULUAN bila pada waktu tersebut diberikan asupan


nutrisi. Oleh karena itu pasien sering
Dewasa ini pasien yang mendapatkan tindakan mengeluh karena harus menunggu waktu yang
lama untuk dapat makan dan minum, sehingga
operasi bedah semakin banyak. Hal ini
pasien menanggung rasa lapar dan haus yang
dibuktikan dengan adanya kecenderungan cukup lama. Dampak negatif yang lain dari
peningkatan tindakan operasi bedah di semakin lamanya pasien mendapatkan asupan
beberapa rumah sakit dari tahun ke tahun.  makanan dan nutrisi adalah pemulihan
Tindakan Anastesi atau pembiusan yang kesegaran dan kebugaran pasien semakin
bersifat umum (general anesthesia) lama, dan ini akan berakibat lama perawatan
merupakan tindakan medis yang seringkali semakin lama. Waktu perawatan Length of
stay (LOS) merupakan salah satu indikator
dilakukan pada seorang pasien yang akan
penilaian dalam akreditasi sebuah rumah sakit.
dilakukan tindakan operasi bedah. Semakin lama length of stay maka penilaian
Seorang pasien yang belum pulih peristaltik terhadap rumah sakit tersebut semakin buruk.
ususnya setelah pembiusan dapat menderita Dampak negatif lain yang diakibatkan
illeus / obstruksi usus (gangguan pada usus) lamanya pemulihan pasien pasca operasi,

 
menyebabkan pasien harus berlama-lama Tabel 4.1. Distribusi responden berdasarkan
dalam posisi tirah baring. Posisi tirah baring jenis kelamin
yang lama akan meningkatkan terjadinya
komplikasi yang serius seperti pembentukan No Jenis Kelamin Jumlah (n) Persentase (%)
suatu thrombus sehingga aliran balik vena 1 Wanita 11 55
mengalami hambatan.3
2 Pria 9 45
Perlu upaya pencarian jalan keluar untuk
mengatasi lamanya pemulihan peristaltik usus Total 20 100
pada pasien pasca operasi dengan tindakan
anestesi umum. Berdasarkan beberapa hasil
penelitian membuktikan bahwa tindakan Umur
ambulasi dini akan mempercepat pemulihan
pasien pasca operasi. Pada saat ini peneliti Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 20
ingin mengatahui perbedaan lama waktu responden penelitian 50% berumur antara 17-
pemulihan peristaltik usus antara pasien yang 25 tahun (10 orang), 6 orang (30%) berumur
dilakukan ambulasi dini ROM aktif dan ROM 26-34 tahun dan 4 orang (20%) berumur 35-
pasif. 45 tahun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada tabel berikut:

METODE Tabel 4.2: Distribusi responden berdasarkan


umur
Penelitian ini merupakan merupakan penelitian
quasi-eksperimen, dengan desain The One No Umur Jumlah (n) Persentase (%)
Group Pre Test-Post Test Design. Sampel 1 17-25 thn 10 50
adalah pasien pasca operasi abdomen denan
anestisi umum di Rumah Sakit Bhakti Wira 2 26-34 thn 6 30
Tamtama, Semarang. Jumlah sampel sebanyak 3 35-45 thn 4 20
20 pasien dimana 10 pasien dilakukan
Total 20 100
ambulasi dini ROM aktif dan 10 pasien
 
dilakukan ambulasi dini ROM pasif.
Tingkat Pendidikan
HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa
mayoritas responden mempunyai tingkat
A. Karakteristik Sampel pendidikan SMA sebanyak 16 Orang (80,0%),
4 orang berpendidikan setingkat sarjana
Jenis Kelamin (20,0%).
Hasil dari penelitian yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa dari 20 sampel ini, Tabel 4.3 : Distribusi responden berdasarkan
lebih dari separuhnya (55%) responden tingkat
berjenis kelamin wanita dan sisanya 45%
Tingkat Jumlah Persentase
berjenis kelamin pria. Untuk lebih No
Pendidikan (n) (%)
jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah
ini : 1  SMA  16  80 

2  Sarjana  4  20 

Total 20  100 

 
B. Lama Waktu Pemulihan Peristaltik dalam mencampur dan menggerakkan
Usus makanan di saluran pencernaan. Di setiap
segmen otot polos longitudinal dan sirkuler
Tabel 4.4 Hasil Uji Statistik akan memperlihatkan depolarisasi spontan
yang inheren. Depolarisasi inheren dapat
Kelompok Mean Min Max SD t P meningkat intensitasnya dan meningkatkan
potensial aksi sehingga akan terjadi proses
ROM kontraksi otot. Frekuensi kontraksi otot
28.50 15 50 10.865 bervariasi, bersifat ritmik dan berjalan dalam
Aktif
2.822 0.011 gelombang peristaltik ke bagian distal. Juga di
ROM
42.50 25 60 11.316 sebutkan bahwa motilitas saluran cerna
pasif
ditentukan oleh konstraksi otot serta input
hormonal dan saraf.
Berdasarkan tabel 4.4 dapat disimpulkan Menurut Brunner & Sudart, 2002,disfungsi
bahwa dari 10 sampel penelitian yang gastrointestinal seperti distensi pasca operasi,
dilakukan ambulasi dini ROM aktif pasca penurunan peristaltik dan pengerasan feses
operasi abdomen, waktu terendah tercapainya dapat dicegah dengan meningkatkan hidrasi
pemulihan peristaltik usus yang ditandai dan aktivitas yang adekuat 6. Teori lain
dengan terdengarnya bunyi usus terjadi pada menurut Mochtar, 1995 menyebutkan bahwa
menit ke 15, dan paling lama menit ke 50. dengan bergerak akan merangsang peristaltik
Sedangkan dari 10 pasien yang dilakukan usus kembali normal. Aktifitas juga akan
tindakan ambulasi dini ROM pasif, waktu membantu mempercapat organ-organ tubuh
terendah tercapainya pemulihan peristaltik bekerja seperti semula.
usus terjadi pada menit ke 25 dan terlama
terjadi pada menit ke 60. Peristaltik usus antara responden yang
Berdasarkan uji statistik dengan teknik uji melakukan ambulasi dini ROM aktif dengan
independent T test diperoleh hasil nilai t yang melakukan ambulasi dini ROM pasif
sebesar 2,822 dengan nilai p sebesar 0.011 (ά memiliki perbedaan nilai rata-rata lama waktu
<0.05). Hal ini berarti ada hubungan atau pemulihan peristaltik usus yang cukup
perbedaan yang signifikan lama waktu signifikan yaitu 28,50 menit untuk ROM aktif
pemulihan peristaltik usus pada pasien yang dan 42,50 menit untuk ROM pasif. Ada
dilakukan ambulasi dini ROM aktif dengan beberapa dampak dari dilakukannya ambulasi
ROM pasif pada pasien pasca operasi terhadap sistem pencernaan khususnya
abdomen. peristaltik usus menurut Smeltzer, 2001 yaitu
memudahkan terjadinya flatus, mencegah
Dalam penelitian ini, dari 10 responden yang distensi abdomen, mencegah konstipasi dan
melakukan ambulasi dini ROM aktif 5 orang ileus paralitik. Secara teori disebutkan bahwa
responden bunyi peristaltik usus dapat ambulasi dini pada pasien pasca operasi
didengar pada menit ke 30 – 40, 4 orang menunjukkan adanya dampak pada sistem
responden bunyi peristaltik usus dapat gastrointestinal yaitu adanya gerakan
didengar pada menit 15 -25, dan hanya 1 peristaltik usus sehingga dapat memudahkan
responden bunyi peristaltik usus didengar pada terjadinya flatus, mencegah distensi abdomen
menit ke 50. Hal ini sesuai dengan teori yang dan nyeri akibat adanya gas dalam abdomen.
disampaikan oleh Telford,1999 dimana Di samping itu juga mencegah konstipasi serta
disebutkan bahwa saluran pencernaan terdiri mencegah ileus paralitik. 
dari 2 lapisan otot utama yaitu lapisan
longitudinal yang terletak disebelah luar dan Pada pasien yang mengalami konstipasi dapat
lapisan otot sirkuler yang berada disebelah dipengaruhi oleh respon dari neuroendokrin
dalam.3 Dua lapisan otot inilah yang berperan terhadap faktor stress, anastesi,narkotika

 
ataupun kurangnya kegiatan fisik serta SARAN
kurangnya intake makanan tinggi serat. Berdasarkan hasil penelitian diatas, ada
Sehingga pemberian obat-obatan narkotika beberapa saran yang dijadikan sebagai bahan
untuk mengatasi nyeri setelah operasi dapat pertimbangan sebagai berikut:
mempengaruhi sistem pencernaan. Mual, 1. Pihak Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama
muntah selain terjadi karena pemakaian Kepada pihak Rumah Sakit Bhakti Wira
narkotik juga disebabkan oleh distensi Tamtama Semarang di harapkan dapat
abdomen, nyeri dan ketidak seimbangan membuat Standard Operating Procedure
elektrolit. 19 (SOP) / Prosedur Tetap (Protap) tentang
Selama latihan, darah akan mengalir melalui ambulasi dini khususnya ROM aktif, bagi
perut oleh karena itu dengan latihan yang pasien pasca operasi serta
teratur dapat meningkatkan nafsu makan, mensosialisasikan kegunaan ambulasi
tonus otot meningkat yang mana akan dini pada pasien pasca operasi sehingga
meningkatkan digestif dan eliminasi. 3 resiko komplikasi pasca operasi dapat
Adanya hubungan atau perbedaan antara yang dihindari.
melakukan ambulasi dini ROM aktif dan ROM 2. Pasien
pasif terhadap peristaltik usus, hal Memberi pengetahuan dan pemahaman
dimungkinkan karena ke dua kelompok tentang manfaat ambulasi dini, sehingga
melakukan arahan dari peneliti sesuai dengan menumbuhkan motivasi bagi pasien pasca
yang telah ditetapkan baik secara prosedur operasi untuk semangat melakukan
maupun lisan, sehingga pada akhirnya didapat ambulasi dini khususnya ROM aktif.
hasil penelitian sesuai dengan yang di
harapkan. 3. Peneliti lain
Bagi calon peneliti selanjutnya di
sarankan untuk melakukan penelitian
KESIMPULAN ambulasi dini pada semua pasien pasca
operasi dengan anastesi umum.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan
maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
DAFTAR PUSTAKA
1. Lama waktu tercepat terjadinya pemulihan
peristaltik usus pada responden yang Data Rumah sakit Bhakti WiraTamtama
melakukan ambulasi dini ROM aktif (Urminkes RS.BWT,2008
terjadi pada menit 15 dan terlama terjadi Kurniadi Kadarsah, Rudi. 2004. Pemberian
pada menit 50, dengan rata-rata lama Preemetif Metoklopramid untuk
waktu terjadinya pemulihan peristaltik Pencegahan Mual dan Muntah Paska
usus terjadi pada menit 28.50. Operasi. Jakarta: DEXAMEDIA
2. Lama waktu tercepat terjadinya pemulihan Taylor, Lilis C & Lemone P, 1997,
peristaltik usus pada responden yang Fundamental of Nursing; The Art and
melakukan ambulasi dini ROM pasif Science of Nursing Care (3rd Ed),
terjadi pada menit 25 dan terlama terjadi Philadelphia: JB Lippincott Co.
pada menit 60, dengan rata-rata lama
waktu terjadinya pemulihan peristaltik Rahmasari, Ikrima (2008), Pengaruh Range Of
usus terjadi pada menit 42.50. Motion (Rom) Secara Dini Terhadap
3. Terbukti adanya perbedaan lama waktu Kemampuan Activities Daily Living
terjadinya pemulihan peristaltik usus (Adl) Pasien Post Operasi Fraktur
antara pasien yang melakukan ambulasi Femur Di RSUI Kustati Surakarta.
dini ROM aktif dan ROM pasif, dengan Skripsi, Universitas Muhammadiyah
nilai p value < 0,05. Surakarta.

 
http://etd.eprints.ums.ac.id/890/. Brunner &Sudart, 2002, Buku Ajar
diakses September 2009. Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta
Andari, V. Wiwik Dwi (2008), Pengaruh ;EGC.
Terapi Latihan Dini Terhadap Burch John C and Fisher H.C, MD, (1946),
Percepatan Ambulasi Pasien Rawat Early Ambulation In Abdominal
Inap Paska Operasi Seksio Saesaria Surgery, Journal,791-796
Di Rumah Sakit Panti Wilasa Condon Telford,1999,Textbook of
Citarum Semarang. Skripsi, Surgery,Philadelia;Sounder
Universitas Muhammadiyah Company.
Surakarta . Kehlet H, (1997), Multimedia Approach to
http://etd.eprints.ums.ac.id/927/ , Control Post Operative
diakses September 2009. Pathophysiology and Rehabilitation,
Nicki Jackson, Early ambulation after cardiac British Journal Of Anasthesia, 606-
surgery, Centre for Clinical 617.
Effectiveness, Monash Institute of Long C. Barbara,2002, Keperawatan Medical
Health Services Research, Monash Bedah (Terjemahan), Jakarta;EGC
Medical Centre, August 2002, Meeker,M.H.,&Rothrock,J.C.(1999).Alexande
Australia. r’s care of the patient in surgery.
http://www.med.monash.edu.au/healt St.Louis:Mosby Year Book.`
hservices/cce/ , diakses September Nursalam, 2003, Konsep & Penerapan
2009. Metodologi Penelitian Ilmu
Medical Dictionary Online, Early Ambulation, Keperawatan, Jakarta : Salemba
http://www.online-medical- Medika
dictionary.org/Early+Ambulation.asp Oswary, 1989 , Bedah dan Perawatannya,
?q=Early+Ambulation , diakses Jakarta : Gramedia.
September 2009. Quinn,D.M.(Ed.).(1999). Ambulatory surgical
G. H. Miller 1, The Effects Of General nursing core curriculum.Philadelphia
Anesthesia On The Muscular Activity : WB Saunders.
Of The Gastrointestinal Tract A Rushman G.B, Davies N.J.H, Cashman J.N
Study Of Ether, Chloroform, Ethylene ,1999, Synopsis Of Anasthesia, (12th
And itrous-Oxide, Journal of Ed),British; Reed Educational and
Pharmacology And Experimental Professional publishing Ltd
Therapeutics, by American Society Swearingen, 2001, Keperawatan Medical
for Pharmacology and Experimental Bedah Ed.2, Jakarta; EGC.
Therapeutics Sutrisno Hadi,2002,Metodologi Research (jilid
http://jpet.aspetjournals.org/ , diakses 2), Yogyakarta : Penerbit Andi.
September 2009. Urminkes,2008, Laporan tahunan jumlah
Alimul Aziz,2002 , Riset Keperawatan dan pasien rawat inap RS. Bhakti wira
Teknik Penulisan Ilmiah, Jakarta : Tamtama, Semarang
Salemba Medika White Paul F,PhD,MD FANZCA, (2004),
Aldreta,J.A.(1998).Modifications to the Anesthesia For Ambulatory Surgery.
postanesthesia score for use in Journal Of Ambulation research, 27
ambulatory surgery.Journal of (Suppl.1) S43-57
Perianesthesia Nursing,12 (3), 148
.155.