Anda di halaman 1dari 12

Prevalensi Penyakit Prostat dengan Analisa Hormonal dan

Epidemiologikal pada Populasi Pria yang Dipilih secara Acak di


Kroasia
Josip Galic dan Dalibor Simunovic
Jurusan Urology (Ilmu Penyakit Saluran Kencing), University Hospital ”Osijek”,
Osijek, Kroasia

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian kami adalah untuk meneliti kelaziman/umumnya penyakit
prostat pada kebanyakan populasi pria. Selain itu, pada analisa sejarah medis
yang diperluas, analisa perilaku dan hormonal juga ditunjukkan. 1000 calon
diseleksi diambil dari populasi pria relawan. 977 dari mereka dilibatkan dalam
penelitian ini, dan 23 ditolak karena data yang tidak lengkap, ketidakbersediaan
pada pemeriksaan dan alasan lain. Sampel darah diambil dari semua peserta,
diadakan juga angket dan pemeriksaan fisik (dengan pemeriksaan yang berkaitan
dengan dubur). Berdasarkan pada hasilnya, jawaban dan pemeriksaan dari
semua peserta dibagi menjadi 4 golongan. Kejadian pembesaran kelenjar prostat
jinak ada 23.1 %, prostastitis 5.1 % dan kanker prostat 3.7 %, dimana hal
tersebut dalam nilai-nilai yang diharapkan. Data sejarah keluarga hanya
memberikan sedikit data khusus. Gejala-gejala sistem urinaria yang lebih rendah
ditemukan pada subjek dengan pembesaran kelenjar prostat dan prostatitis,
menunjukkan gejala-gejala saling melengkapi yang kuat. Hasil-hasil tersebut
mengindikasikan bahwa penyalahgunaan prosedur sangat berkaitan dengan
subjek dengan kanker prostat, walaupun kaitan ini tidak dikonfirmasikan oleh
semua penulis. Pada skala hormonal, kami menemukan level testosteron yang
dibuang lebih tinggi pada subjek dengan kanker prostat, sesuatu yang tidak
dibuktikan oleh beberapa penulis. Estrogen ditemukan pada level yang lebih
tinggi dan laporan-laporan baru-baru ini menunjukkan level yang lebih tinggi
pada metabolites (produk-produk metabolisme) pada subjek dengan kanker
prostat. Kami juga menemukan level vitamin D yang lebih rendah pada subjek
dengan pembesaran kelenjar prostat ringan dan kanker prostat. Karena vitamin
D dikenal untuk menghambat perkembangbiakan sel, level yang lebih rendah
adalah confirmatory, dengan kehilangan peranan perlindungannya melawan
kanker prostat. Hasil kami menunjukkan bahwa populasi pria di Kroasia (paling
tidak di Slavonia) dengan penyakit prostat masih dalam batasan-batasan
dibandingkan dengan populasi-populasi di negara-negara Eropa yang telah
berkembang, walaupun pada batas yang lebih rendah. Karena angka kejadian
penyakit yang diteliti meningkat diseluruh Eropa, kita juga bisa mengharapkan
hal yang sama di negara kita.
Kata kunci: kelaziman, epidemiology, prostat, penyaringan, hormon

Pembukaan
Perawatan medis yang lebih baik, pilihan terapi yang telah ditingkatkan,
dikembangkan, dan terkini, telah membuat perubahan penting di seluruh dunia.
Saat ini, seorang dokter modern sedang menghadapi jumlah pasien populasi lebih
tua yang meningkat pada praktek sehari-hari dengan kebutuhan khusus untuk
perawatan yang tidak hanya menghasilkan kontrol terhadap penyakit yang lebih
baik, tapi juga penyembuhan penyakit dan kualitas hidup yang lebih baik. Belum
lama, masa hidup untuk pria yang diharapkan pada kebanyakan negara adalah di
bawah 70 tahun, tapi sekarang kami dapat laporan bahwa harapan hidup untuk
pria lebih dari 80 tahun di beberapa negara yang telah berkembang. Penyakit-
penyakit prostat kebanyakan timbul pada populasi pria yang lebih tua, walaupun
pada beberapa kasus dapat terjadi pada periode dekade keempat atau bahkan
ketiga, dan sekarang menjadi sebuah masalah kesehatan yang utama. Obat modern
benar-benar membuat reaksi cocok yang cukup, dan beberapa treatment yang
telah dikembangkan dengan baik bisa didapat, dengan menawarkan hasil yang
sangat baik. Namun, mekanisme tertentu terhadap perkembangan pembesaran
kelenjar prostat jinak, kanker prostat atau prostatitis dan faktor predisposisi belum
didokumentasikan dengan baik, dan beberapa penelitian memberi data yang
kontroversial. Hanya kemunculan androgenlah yang tidak diragukan lagi
berhubungan dengan penyakit-penyakit yang disebutkan di atas. Semua hal ini
adalah alasan untuk angka kejadian yang sangat berbeda terhadap penyakit prostat
di seluruh dunia. Ada perbedaan yang telah dicatat dengan baik antara negara-
negara Eropa (angka kejadian yang lebih tinggi) atau USA (angka kejadian yang
paling tinggi di dunia) dengan negara-negara di Asia dimana angka kejadian
berada pada level yang paling rendah (terutama kanker prostat). Beberapa
penelitian telah menunjukkan bahwa tidak didokumentasikan dengan baik, tapi
faktor ekstrinsik yang ada dikorelasikan dengan perkembangan kanker prostat,
seperti ditunjukkan pada kejadian kanker prostat yang lebih tinggi pada orang
Jepang yang tinggal di Amerika daripada orang asli Jepang, tapi masih lebih
rendah dibandingkan dengan orang non Jepang yang tinggal di Amerika.
Kejadian/insiden dan prevalensi penyakit-penyakit prostat yang meningkat di
seluruh dunia dapat dilihat di negara-negara di Asia, dimana 118% peningkatan
diteliti. Hal ini dijelaskan oleh industrialisasi di negara-negara Asia yang
menyebabkan gaya hidup tertentu (termasuk diet) dijauhi/ditinggalkan. Status
sosial ekonomi populasi yang lebih rendah diketahui meningkatkan resiko kanker
prostat yang sedang berkembang dan menunjukkan tingkatan yang telah
berkembang/meluas. Penelitian kami sebelumnya telah mengkonfirmasi bahwa
subjek orang Kroasia dengan kanker prostat ditunjukkan dalam prosentase yang
lebih tinggi dengan penyakit yang telah berkembang dibandingkan dengan negara-
negara di Eropa. Situasi apa yang terjadi di Kroasia, angka kelaziman untuk
penyakit prostat di populasi kita? Laporan tahunan oleh Kantor Pusat Statistik
Kroasia menunjukkan peningkatan pada banyak kasus kanker prostat yang
didiagnosa baru-baru ini, membuat kanker prostat, dengan 13% dari kesemua
kasus kanker, tipe kanker paling umum ketiga di populasi kita. Kelaziman kanker
pembesaran kelenjar prostat jinak (BPH) dan prostatitis tidak
didokumentasikan/dicatat dengan baik. Tujuan penelitian kami, sebagai bagian
dari projek penyaringan prostat dengan dana bantuan dari Kementrian Ilmu
Pengetahuan Kroasia, adalah untuk menilai angka kelaziman untuk BPH, kanker
prostat, dan prostatitis pada populasi pria Kroasia murni yang telah diseleksi.
Selain itu, kami menganalisa korelasi sejarah medis sebelumnya dan sejarah
keluarganya, gejala-gejala sistem urinaria, status hormonal dan vitamin, dan
penanda tumor pada diagnosa penyakit-penyakit yang telah dipilih dan kekuatan
diskriminasi antara BPH, kanker prostat dan prostatitis diantara mereka sendiri
dan populasi pria sehat.

Metode dan Subject

Pada penelitian ini populasi pria tua dari dua desa kecil di bagian Timur
Slavonia, Kroasia, kebanyakan bersifat agraris, dengan media publik dan dokter
keluarga yang telah diseleksi, untuk berpartisipasi dalam sebuah eksperimen
sukarela. Semua pria yang berumur labih dari 40 tahun diterima untuk penelitian
ini. Pada pemeriksaan tersebut, setiap subjek pertama kali diminta untuk mengisi
angket sederhana dan valid yang terdiri dari 28 pertanyaan dibuat dalam satu cara
yang dibutuhkan tapi penjelasan awal dan tidak ada intervensi lain yang diisi
tanpa intervensi dari sisi, hal tersebut mengeliminasi/menyingkirkan pengaruh
pihak lain pada hasil jawaban. Angket tersebut disusun dari beberapa bagian
sebagai berikut: 1. catatan kesehatan pribadi dan keluarga dengan penekanan
khusus pada catatan penyakit-penyakit saluran kencing keluarga; 2. anamnesis
pada potensi dan masalah libido atau disfungsi, masalah pembatasan diri, dan
penyalahgunaan alkohol; 3. Anamnesis pada gejala-gejala sistem urinaria yang
lebih rendah, pola perkencingan dan gejala-gejala sistem gastrointestial. Setelah
mengisi angket-angket tersebut, sampel darah diambil untuk analisis faktor-faktor
tertentu. Diantaranya adalah rangkaian penanda tumor, seperti PSA, PSA yang
terbuang, TPS, PAP, NSE, CEA, index PSA dan fosfatase alkalin. Hormon dan
vitamin berikut ini juga dianalisa: FSH, LH, prolaktin, T3, TSH, cortisone,
androstedione, DHEAS, testosteron bebas, testoteron yang terbuang, estrogen,
progesteron, 25 OH vitamin D dan 1,25 OH2 vitamin D. Semua sampel darah
diambil antara jam 3 dan 4 sore pada saat yang besamaan di tiap subjek.
Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan orientasi, pemeriksaan urologikal, dan
pemeriksaan prostat rectal untuk tiap-tiap subjek. Untuk subjek-subjek yang
dicurigai menderita kanker prostat ditemukan (DRE abnormal atau PSA yang
tinggi (>4 ng/mL)), sebuah biopsy prostat 12 akar muncul. Pada subjek-subjek
dengan diagnosa kanker prostat, diadakan pemeriksaan tambahan, meliputi
ultrasound (pada abdomen, ginjal, dan kandung kemih), urografi ke dalam
pembuluh darah, ultrasound prostat transrektal, sinar x dada, CT abdomen dan
pelvis dan scan tulang.

Berdasarkan jawaban-jawaban, penemuan laboratorium, dan pemeriksaan


fisik, semua subjek diklasifikasikan menjadi empat kelompok yang berbeda. 1.
Control (KONTROL) – subjek dengan tanpa bukti penyakit saluran kencing; 2.
Pembesaran kelenjar prostat ringan (BPH) – subjek dengan diagnosa prostat yang
meluas (lebih dari 20 cm diverifikasi dengan ultrasound transektal) dan adanya
gejala-gejala sistem saluran kencing yang lebih rendah (LUTS); 3. kanker rostat
(CANCER) – dengan kanker prostat yang diverifikasi biopsi, 4. Prostatitis
(PROSTATITIS) – pada subjek dengan prostat normal atau yang meluas,
penemuan rektal yang normal atau abnormal pada prostat, PSA yang normal atau
lebih tinggi, anamnesis positif pada gejala-gejala sistem urin yang lebih rendah,
sakit pelvis, analisa bakteri positif pada cairan prostat dan dengan penemuan-
penemuan biopsi respon inflamasi kronis dalam jaringan prostat sebagai
komponen utama, dengan tanpa bukti tumor. Di masing-masing kelompok level
rata-rata penanda tumor, hormon, dan vitamin dihitung, dan perbedaan pada
masing-masing kelompok versus kontrol diuji menggunakan tes Mann-Whitney
(analisa awal menggunakan analisa varians dengan tes ANOVA menunjukkan
bahwa data tidak dalam distribusi standar). Arti gejala dan data anamnesis di
masing-masing kelompok versus kotrol dan antara kelompok-kelompok dites
menggunkan tes Fischer eksak dengan software StatDirect.

Hasil

Dari total 1000 subjek dikumpulkan, dari mereka 977 subjek masuk
penelitian kami, dan 23 subjek ditemukan tidak cocok karena ketidak bersediaan
mereka untuk mengikuti pemeriksaan medis atau karena data yang didapat tidak
lengkap.
Berdasarkan aturan-aturan dan penemuan-penemuan, subjek-subjek
tersebut dibagi menjadi empat kelompok sebagai berikut: 1. CONTROL – 667
subjek dengan rata-rata usia 63.5 tahun; 2. BPH – 225 subjek dengan rata-rata usia
69.2 tahun; 3. CANCER – 36 subjek dengan rata-rata usia 71.3 tahun; dan 4.
PROSTATITIS – 49 subjek dengan rata-rata usia 64.8 tahun. Kelaziman
hiperplasia prostat ringan pada populasi kami 23.1%, kanker prostat 3.7% dan
prostatitis 5.1%. Gambaran detail dari masing-masing kelompok ditunjukkan pada
tabel 1.

Taip kelompok kemudian dianalisa dalam hal ini distribusi usia dalam
dekade terpilih dan kelaziman penyakit yang diobservasi sebagai variabel umur.
Mayoritas subjek kami pada semua kelompok ditemukan usia antara 60 sampai 70
tahun, kecuali untuk subjek dengan kanker prostat, yang mayoritas usia antara 70-
80 tahun, seperti yang diharapkan. Kurva distribusi usia menunjukkan distribusi
standar. Kejadiannya meningkat dengan usia yang meluas untuk kelompok BPH
dan CANCER, tapi kejadian prostatitis perlahan-lahan menurun dengan usia.
Kejadian yang rendah pada kanker prostat pada subjek-subjek yang lebih tua dari
80 tahun tidaklah mengejutkan ketika harapan hidup pria-pria di Kroasia
dimasukkan sebagai pertimbangan (sekitar 65 tahun).

Analisa data anamnesis menunjukkan bahwa sejarah keluarga positif


kanker prostat dan problem pengawasan diri adalah yang paling umum pada
kelompok PROSTATITIS, sejarah keluarga positif kanker kandung kemih,
potensi atau masalah libido dan penyalahgunaan narkoba adalah yang paling
umum pada kelompok CANCER, sedangkan angka paling tinggi pada subjek
dengan sejarah tuberkulosis yang telah ditangani dan disembuhkan adalah pada
kelompok CONTROL. Analisa detail dengan perbedaan yang telah dihitung
antara data anamnesis di masing-masing kelompok ditunjukkan pada tabel 3.

Analisa gejala-gejala sistem urin dan pola urin yang lebih redah
menunjukkan bahwa darah dalam urin, strangulasi kencing, urinasi yang
sering/sering kencing dan aliran yang lemah adalah yang paling banyak muncul
dalam kelompok PROSTATITIS, sedangkan darah dalam semen dalam angka
yang paling tinggi yang muncul pada kelmpok CANCER, dan urgensi adalah
yang paling sering pada subjek dengan BPH. Data rinci ditunjukkan pada tabel 4.
Analisa statistis perbandingan ekspresi gejala diantara semua kelompok-kelompok
dan kelompok kontrol, dan antara kelompok-kelompok itu sendiri, ditunjukkan
dalam tabel 5.

Level rata-rata dari PSA bebas, PSA serum, PAP dan antigen
carcinoembrional (CEA) adalah yang tertinggi pada subjek dengan kanker prostat
dan indeks PSA (rasio antara PSA bebas dan PSA total) adalah yang terendah
pada kanker prostat (kelompok CANCER). Level rata-rata NSE adalah yang
tertinggi di kelompok CONTOL, dan level phosphatase alkalin adalah yang
tertinggi di subjek dengan hyperplasia prostat ringan (kelompok BPH). Level
penanda tumor pada masing-masing kelompok ditunjukkan pada tabel 6. Analisa
perbedaan statistikal pada level penanda tumor yang telah diukur di antara
masing-masing kelompok ditampilkan pada tabel 7.

Seperti telah disebutkan, spektrum hormon yang lebar dan konsentrasi


serum dua vitamin telah diukur, dan level rata-rata dari masing-masing dengan
kelompok khusus ditunjukkan di tabel 8. Level FSH, prolaktin, TSH, dan
androtesdione, free testosteron, estrogen, SHBG, dan 1,25 (OH)2 vitamin D
adalah yang tertinggi pada kelompok CANCER. T3, cortisone, testosteron yang
dibuang, dan progesteron ditemukan pada level tertinggi rata-rata dalam subjek
dengan kelompok BPH. DHEAS dengan 25 (OH) vitamin D adalah yang tertinggi
rata-rata pada kelompok CONTROL, sedangkan kelompok PROSTATITIS level
rata-rata tertingginya adalah LH. Arti dari level-level hormon yang telah dihitung
saat membandingkan masing-masing kelompok ditunjukkan pada tabel 9.

Karena kami mengkonfirmasi diagnosa kanker prostat pada 36 subjek,


diadakan pemeriksaan lebih lanjut, dan pembedaan yang cocok telah dilakukan.
Pada pemerikasaan rektal, kecurigaan akan kanker prostat ditemukan pada 69.4%
subjek yang menderita kanker, tapi 30.6% pemeriksaan rektal adalah normal.
Level PSA berada di bawah 4 ng/mL pada 3 subjek, antara 4 dan 10 ng/mL pada
20 subjek, dan lebih dari 10 ng/mL pada 13 subjek. Kanker prostat dapat dilihat
dengan menggunakan ultrasound transektal pada 66.7 subjek, dan pada lebih dari
95% kasus hipoechogenic. Tidak ada bukti uropathy obstractive ditemukan pada
subjek baik urografi urasound atai intravenous. Penyakit yang telah dilokalisasi
ditemukan pada 77.8% subjek dan 22.2% subjek penyakit yang telah meluas
maupun metastatik. Tingkatan TNM menunjukkan bahwa T2 bukan yang paling
umum pada 55.5% dari semua subjek, kemudian T1 pada 30.6%, T3 pada 8.3%
dan TO terakhir pada 5.5%. Jaringan getah bening positif ditemukan pada 16.7%
subjek dan jaringan getah bening jauh atau metastatis visceral ditemukan pada
11.1% subjek. Angka Gleason 4 dan 8 adalah yang paling umum dengan 22.2%
dari subjek kami di tingkatan itu, kemudian angka 5 dengan 19.4% dari semua
subjek, diikuti dengan angka Gleason 6 dan 7 ditemukan pada 16.7% dari subjek
kami. Bahkan sebuah kasus angka Gleason ditemukan, tetap saja merupakan
penemuan yang langka.

Pembahasan dan Kesimpulan

Rata-rata usia dari populasi kami adalah 66.2% tahun dengan subjek sehat
(CONTROL) menjadi yang termuda, diikuti oleh PROSTATITIS, ADENOMA,
dan yang terakhir kelompok CANCER sebagai yang tertua. Diharapkan bahwa
subjek dengan prostatitis adalah yang rata-ratanya termuda dibandingkan subjek
lain di kelompok yang lain, seolah-olah itu adalah penyakit bagi pria muda, dan
pada gejala-gejala di subjek yang lebih tua, yang berkontribusi lebih pada seluruh
status kesehatan mereka dan angka gejala.

Kelaziman BPH pada populasi kami adalah 23% dengan tidak melihat
pada distribusi usia, dan ini berhubungan dengan kelaziman BPH dari 20% (pada
pria berusia 40-50 tahun) hingga 80% (pada berusia 70-80 tahun), tapi sangat
penting bahwa hanya 25-50% dari para pria yang menunjukkan gejala-gejala
medis, dan pada analisa kami, kami memasukkan adanya gejala-gejala. Kelaziman
protastitis pada populasi kami dalam rentangan data yang dipublikasikan dengan
rentangan 3% sampai 11.8% (dan bahkan hingga 32% oleh beberapa penulis).
Kelaziman kanker prostat adalah 3.7% dan seperti yang diharapkan, meningkat
pada kelompok subjek yang lebih tua.

Anamnesi kanker prostat positif dalam keluarga adalah yang tertinggi pada
subjek dengan prostatitis, seperti dilaporkan oleh penulis sebelumnya, dan
anamnesi positif kanker kandung kemih keluarga adalah yang tertinggi pada
subjek dengan kanker prostat, walaupun penemuan-penemuan ini secara statistik
tidak signifikan pada semua kelompok juga tidak dapat digunakan untuk
diskriminasi/pembedaan kelompok. Angka lebih tinggi pada potensi dan masalah
libido dilaporkan terjadi pada subjek dengan kanker prostat dibandingkan pada
kelompok BPH, dan hal ini penting jika dibandingkan dengan kelompok
CONTROL (p<0.011 dan p<0.001 untuk potensi dan p<0.011 dan p<0.035 untuk
masalah libido dulunya), tapi penemuan-penemuan ini tidak valid karena
diskriminasi di antara kelompok-kelompok, karena perbedaan-perbedaan tidak
berarti saat kelompok-kelompok selain CONTROL dibandingkan silang.
Hubungan penyalahgunaan alkohol dengan kanker prostat telah dibuktikan dan
tidak dibuktikan oleh beberapa penelitian. Pada penelitian yang serupa, hanya
jumlah alkohol yang lebih besar yang dihubungkan dengan resiko kemunculan
kanker prostat yang lebih tinggi. Pada populasi kami, lebih dari 41% dari semua
subjek dengan kanker prostat dilaporkan mengalami penyalahgunaan alkohol, dan
hal ini secara signifikan baik untuk kelompok CONTROL (p<0.028), untuk BPH
(p<0.01) dan PROTASTITIS (p<0.03). Adanya darah di urin lebih tinggi pada
subjek dengan prostatitis dibandingkan dengan adenoma, tapi tanpa gejala yang
berarti di antara kelompok-kelompok. Adalah sebuah fakta bahwa prostatitis
dalah mayoritas kasus yang disertai dengan respon yang dapat menyebabkan
hematuria, sama halnya bahwa hematuria pada subjek dengan BPH atau kanker
prostat adalah yang paling banyak ditemukan dengan penyakit yang telah
berkembang (prostat yang lebih besar atau invasi kanker prostat). Penjelasan yang
sama dapat digunakan untuk adanya darah di semen. Prosentase lebih tinggi pada
subjek dengan gejala sistem urin lebih rendah (disuria, urin yang sering/sering
kencing, urgensi, dan aliran yang lemah) ada pada semua kelompok dibandingkan
dengan CONTROL, tapi hal ini dapat digunakan untuk diagnosa BPH dan
PROSTATITIS seperti pada kelompok-kelompok ini, hal ini penting secara
statistik. Hal berikut ini menunjukkan bahwa ada gejala yang kuat antara yang
sangat berbeda di populasi kami yang memerlukan kepuasan yang baik untuk
menghindari diagnosa yang salah dengan treatment yang tidak memadai. Dari
semua gejala-gejala saluran urin, sering kencing mempunyai hubungan paling
kuat dengan kelompok PROSTATITIS, dengan membedakan kekuatan subjek-
subjek yang lain. Sejak pengenalan PSA sebagai bagian dari pendeteksian kanker
prostat, angka deteksi meningkat dan bahkan masalah overdiagnosa muncul. PSA
yang lebih tinggi dari 4ng/mL masih diperhitungkan sebagai batas nilai dari
kecurigaan kanker, tapi PSA yang dihubungkan dengan usia sekarang juga
diperkenalkan. Seperti yang diharapkan, PSA bebas dan PSA total adalah yang
tertinggi pada subjek kami dengan kanker prostat, ditambah indeks PSA adalah
yang terendah pada kelompok yang sama. Perbedaanya sangat dikaitkan dengan
kanker prostat dan dapat membedakan kanker dari penyakit prostat lain.
Walaupun PSA tidak lagi digunakan dan rekomendasi baru-baru ini tidak
menguntungkan pada penggunaannya dalam screening kanker prostat, kami
menemukan bahwa secara statistik lebih tinggi pada ADENOMA dan CANCER
dibandingkan dengan kelompok CONTROL. Juga, nilai PAP adalah yang
terendah pada subjek dengan prostatitis dibandingkan dengan ADENOMA
(p<0.003) atau kelompok CANCER (p<0.003). Penjelasan anomali ini belum
pasti. Dari penanda tumor yang telas dianalisa, CEA (carcinoembrional antigen)
dinaikkan dalam kanker prostat. Hal ini dijelaskan dengan nilainya yang lebih
tinggi pada banyak carcinomas. Analisa hormonal yang kami tunjukkan sangatlah
luas, tapi jumlah yang terbatas pada perbedaan di antara subjek-subjek telah
ditemukan. Kami telah menemukan level lebih tinggi dari testosteron bebas dan
terbuang pada kelompok Cancer (tapi hanya testosteron terbuang yang berarti)
dan dal laporan pada subjek level androgen pada kanker prostat adalah
kontroversial. Peranan estrogen pada kanker payudara adalah fakta yang
didokumentasikan dengan baik, tapi beberapa penelitian terakhir melaporkan level
produk metabolisme estrogen yang lebih tinggi ditemukan pada subjbjek denagn
kanker prostat seperti yang telelah kami temukan yaitu level estrogen yang telah
menigkat pada kelompok ADENOMA dan CANCER. Vitamin D dan produk-
produk metabolismenya (1,25-OH2 vitamin D) menghambat perkembangbiakan
sel dan oleh beberapa penulis adalah merupakan mekanisme protektif melawan
perkembangan kanker prostat. Penelitian-penelitian yang sama telah menunjukkan
level vitamin D yang lebih rendah dan produk-produk metabolismenya
berhubungan dengan perkembangan kanker prostat dan BPH, tesis ini dipahami
dengan baik. Level vitamin D yang lebih rendah dtemukan pada subjek-subjek
kami dengan kanker prostat, sedangkan 1,25-OH2 vitamin D diukur pada level
yang lebih tinggi, sehingga kami meyimpulkan bahwa pada subjek-subjek kami
dengan kanker prostat kami telah menemukan level vitamin D yang lebih rendah,
mengingat fungsinya sebagai peranan protektif/pelindung. Jika kami juga
mempertimbangkan bahwa populasi ini kebanyakan adalah populasi pertanian
yang diketahui pekerja keras, dengan pertimbangan level penerimaan cahaya
matahari, kamudian data ini menunjukkan sebuah kegagalan hubungna
metabolisme vitamin D pada subjek dengan kanker prostat.

Kesimpulannya, penelitian yang didesain dengan cara ini telah


memberikan kami pandangan atas apakah situasi nyata di populasi pedesaan di
Kroasia. Semua angka kelaziman di dalam batasan yang dilaporkan, dalam area
batasan yang lebih rendah. Anamnesis penyakit urin keluarga yang positif
dikaitkan denagn beberapa resiko kanker prostat; tapi pada skala efek yang lebih
rendah. Alkohol ditemuakn sebagai faktor pendamping pada perkembangan
beberapa tipe kanker, dan mayoritas laporan menyimpulkan bahwa tidak ada
hbungan yang kuat antara penyalahgunaan alkohol dengan kanker prostat.
Bebarapa penelitian tidak menyetjuinya, tapi kami menemukan adanya hubungan
pada populasi kami. Gejala sistem urin lebih rendah yang saling melengkapi
antara BPH dan prostattitis diketahui dengan baik, demikian pula dengan populasi
pria di bagian Slavonia Kroasia. Praktek klinis yang baik dengan tes yang
mencukupi akan mengurangi kesalahan pada diagnosa dan treatment, karena
bahkan saat ini, walaupun jarang, kadang muncul treatment protasttiits tapi salah
diagnosa BPH. Sebagai tambahan untuk penggunaan PSA pada screening kanker
prastat, pnggunaan PSA indeks sangatlah direkomendasikan. Analisa hormonal
dan vitamin D tidak mengungkapkan sesuatu yang luar biasa, jadi dengan
pengecualian jumlah vitamin B yang meningkat, tidak ada rekomendasi yang
dapat dibuat untuk investigasi hormonal. Secara umum, populasi pria kami
ditunjukkan denagn semua karakteristik yang nampak pada banyak negara maju di
Eropa. Negara-negara itu sekarang melaporkan bukti-bukti yang meningkat dan
kelaziman berbagai tipe penyakit prostat, jadi merupakan hal yang logis jika kami
berasumsi bahwa kami sejalan. Analisa pertama yang dikembangkan ini akan
memberi investigasi yang lebih detil dan spesifik pada tujuan dasar atas
pemahaman yang lebih baik dan hal itu memberikan treatment lebih baik pada
penyakit kelenjar prostat di populasi target lain di masa yang akan datang.