Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Produktivitas 5 (2018)

JURNAL PRODUKTIVITAS
ro JurnalFakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Pontianak

www.openjurnal.unmuhpnk.ac.id/index.php/jp

Pengaruh Net Profit Margin, Return on Asset, Return on


Equity, Dan Earning Per Share Terhadap Harga Saham Pada
Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi
Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
1
Andika Fahruzzi, 2 Dedi Hariyanto, 3 Heni Safitri
Prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Muhammadiyah Pontianak, Indonesia

INFO ARTIKEL ABSTRACT


Net Profit Margin (NPM), This study aims to determine how much the effect of the company's financial
Return on Assets (ROA),
Return on Equity (ROE),
performance focused on Net Profit Margin (NPM), Return on Assets (ROA), Return
Earning Per Share (EPS), on Equity (ROE) and Earning Per Share (EPS) to Stock Price on Manufacturing
Harga Saham
Company of Consumer goods Industry Sector Listed in BEI as of 31 December
2016. The sampling technique used in this research is saturated sampling method
and the sample used is 37 companies. The analysis technique used is Multiple Linear
Regression, Correlation Coefficient, and Coefficient of Determination. Hypothesis
Examination used F- test simultaneously and Hypothesis Examination used t-test
partially. The Result of simultaneous test (F-test) indicate that independent variable
that is NPM, ROA, ROE and EPS together have no significant effect on attached
variable Stock Price on Manufacturing Company of Consumer goods Industry Sector
Listed in BEI as of 31 December 2016. The partial test (t test) of NPM ROA ROE
variable has no significant effect on the Stock Price on Manufacturing Company of
Consumer goods Industry Sector Listed in BEI as of 31 December 2016. And the
EPS variable has a significant effect on the Stock Price on Manufacturing Company
of Consumer goods Industry Sector Listed in BEI as of 31 December 2016.

1. Pendahuluan

Pada era globalisasi sekarang ini, perkembangan Indonesia semakin pesat dapat dilihat dari banyaknya pembangunan di
berbagai bidang terutama sektor ekonomi. Salah satu badan usaha yang menjadi penggerak perekonomian nasional adalah
pasar modal. Pasar modal merupakan tempat memperjualbelikan sekuritas. Dengan adanya pasar modal, pihak yang kelebihan
dana (investor) dapat menginvestasikan dana yang dimilikinya dengan harapan memperoleh keuntungan, sedangkan
perusahaan dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi. Kinerja keuangan yang baik merupakan suatu
tantangan penting yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan go public, termasuk perusahaan-perusahaan manufaktur.
Dalam menilai kinerja suatu perusahaan, investor biasanya melihat prospek dan laporan keuangan perusahaan. Salah satu
bentuk yang lazim digunakan dalam menganalisis laporan keuangan adalah analisis rasio keuangan. Net Profit Margin (NPM)
merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur hasil bersih dari setiap satuan pendapatan yang dilakukan oleh perusahaan
dalam kurun waktu tertentu. Return on Asset (ROA) menunjukkan kemampuan mengukur efektifitas perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aset yang dimilikinya. Return on Equity (ROE) digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba perusahaan dari pembagian laba dengan ekuitas selama tahun terakhir.
Earning Per Share (EPS) suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan dari tap lembar saham.
Industri Barang Konsumsi merupakan salah satu sektor industri yang di perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Sektor
industri barang konsumsi terdiri dari 37 emiten perusahaan, merupakan salah satu sektor yang memberikan peluang yang
cukup besar dalam berinvestasi. Kebutuhan masyarakat akan barang konsumsi semakin tinggi seiring berjalannya waktu.

*Kontak penulis
Andikafahruzzi74@gmail.com

http://openjurnal.unmuhpnk.ac.id/index.php/jp
ISSN: 2355-1038 (Print) ISSN: 2621-5098 (Onl
34
A..Fahruzzi Jurnal Produktivitas 5 (2018)

2. Metode Penelitian

2.1 Bentuk Penelitian

Menurut Subana (2011:26): “Deskriptif kuantitatif yaitu penelitian ini dimaksudkan untuk mengangkat fakta, keadaan
variabel, dan fenomena-fenomena yang terjadi saat sekarang (ketika penelitian berlangsung) dan menyajikan apa adanya”.
Berdasarkan karakteristik masalah dalam penelitian ini mempunyai hubungan kausal yaitu hubungan sebab akibat antara variabel
bebas dengan variabel terikat.

2.2 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumenter yaitu pengamatan yang dilakukan
tanpa melibatkan diri dan hanya sebagai pengamat. Data dikumpulkan dengan cara mengamati serta mencatat, dan mempelajari
uraian-uraian dari buku, karya ilmiah berupa jurnal, skripsi, tesis, dokumen-dokumen yang terdapat dalam Indonesian Capital
Market Directory (ICMD) dan annual report pada periode pengamatan, serta mengambil data melalui internet yang terkait
dengan penelitian ini, seperti melalui website www.idx.co.id dan www.sahamok.co.id.

2.3 Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang termasuk kedalam Sektor Industri Barang Konsumsi yang
terdaftar di BEI Tahun 2016. Metode pengumpulan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sampling jenuh.
Menurut Sugiyono (2014:122): “Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai
sampel”.

2.4 Teknik Analisis Data

Teknik yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah uji regresi linier berganda dan uji hipotesis
(Koefisien korelasi dan Koefisien determinasi, uji t, uji F). Perhitungan variabel-variabelnya melalui program SPSS.

3. Hasil dan Pembahasan

3.1 Uji Normalitas


Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam residual dari model regresi yang dibuat berdistribusi normal ataukah
tidak. Umumnya regresi dengan residual yang berdistribusi normal diperoleh dari variabel terikat dan variabel bebas keduanya
mempunyai distribusi normal atau tidak. Hasil perhitungan uji normalitas dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Hasil Uji normalitas

Hasil uji normalitas menunjukkan Net Profit Margin, Return on Asset, Return on Equity, Earning Per Share dan Harga
Saham semua data tidak terdistribusi normal dengan Sig 0,000 < 0,05. Dalam statistika, data yang tidak terdistribusi normal bisa
dilakukan dengan transformasi data. Maka dari itu peneliti melakukan transformasi data agar data dapat terdistribusi secara
normal. Adapun hasil uji normalitas setelah transformasi data dapat dilihat sebagai berikut.

35
A..Fahruzzi Jurnal Produktivitas 5 (2018)

Tabel 2 Hasil Uji normalitas setelah transformasi

Hasil uji normalitas menunjukkan Net Profit Margin, Return on Asset, Return on Equity, Earning Per Share dan Harga
Saham terdistribusi normal dengan Sig 0,083 > 0,05.

3.2 Uji linearitas

Uji ini digunakan untuk melihat apakah spesifikasi model yang digunakan sudah benar atau tidak. Apakah fungsi dalam suatu
studi empiris sebaiknya berbentuk linier, kuadrat atau kubik. Dengan uji ini akan diperoleh informasi apakah model empiris
sebaiknya linier, kuadrat atau kubik. Berikut hasil yang diperoleh dari tabel:

Tabel 3. Hasil Uji Linearitas

Pada tabel linearitas diperoleh nilai sebesar R square 0,182 dan jumlah data 37. Jadi apabila kedua data tersebut dikalikan,
hasilnya adalah 6,73 menghasilkan c2 hitung. Sedangkan nilai c2 tabel 52,19 dengan tingkat kesalahan 5%. Maka c2 hitung < c2
tabel yaitu dengan nilai 6,73 < 52,19 maka dapat disimpulkan bahwa model yang digunakan adalah model linear.

3.3 Uji Auto korelasi


Uji auto korelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada
periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem auto
korelasi. Hasil uji auto korelasi dengan Uji Durbin-Watson (DW-test) dapat dilihat melalui tabel berikut

Tabel 4. Hasil uji auto korelasi

Pada tabel uji auto korelasi menunjukkan nilai DW sebesar 2,174 akan dibandingkan dengan nilai tabel yang memiliki
signifikansi 5%, jumlah sampel 37 dan jumlah variabel bebas 4. Oleh karena nilai ini lebih besar dari batas atas (du) 1,723 dan
kurang dari 4-du, maka dapat disimpulkan tidak terdapat auto korelasi.

3.4 Uji Multikolinieritas


Uji multikolinieritas dilakukan untuk menganalisa korelasi antara variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak
terjadi korelasi diantara variabel bebas. Model regresi yang baik adalah bebas dari gejala multikolinier. Hasil pengujian
multikolinieritas dapat dilihat pada tabel berikut ini:

36
A..Fahruzzi Jurnal Produktivitas 5 (2018)

Tabel 5. Hasil Uji Multikolinieritas

Pada tabel uji multikolinieritas menunjukkan perhitungan nilai tolerance semua variabel independen memiliki nilai > 0,1 dan
hasil perhitungan nilai VIF menunjukkan semua variabel independen memiliki nilai VIF < 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa
tidak ada multikolinieritas antar variabel independen dalam model regresi.

3.5 Uji Heteroskedastisitas


Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu
pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah yang tidak mengandung gejala heteroskedastisitas atau
mempunyai varians homogen. Jika suatu model regresi yang mengandung gejala heteroskedastisitas akan memberikan hasil
prediksi yang menyimpang. Berikut ini hasil uji heteroskedastitas dengan grafik scatterplot:

Gambar 1. Hasil Uji heteroskedastisitas

Dari gambar grafik dilihat bahwa titik-titik menyebar secara acak baik diatas maupun dibawah angka nol pada sumbu Y,
maka dalam hal ini dapat dikatakan bahwa tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.

3.6 Analisis Regresi Linier Berganda


Uji regresi linier berganda untuk menghitung besarnya pengaruh secara kuantitatif dari suatu perubahan kejadian Net Profit
Margin (NPM), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Earning Per Share (EPS) terhadap kejadian lainnya Harga
Saham. Hasil perhitungan uji regresi berganda dapat dilihat pada tabel berikut:

37
A..Fahruzzi Jurnal Produktivitas 5 (2018)
Tabel 6. Hasil Uji Regresi Linier Berganda

Dari tabel di atas dapat diketahui model regresi berganda antar variabel bebas dan terikat dapat diformulasikan dalam bentuk
persamaan sebagai berikut:
Y = 3862,943 + 12690,482X1 + 2053,494X2 - 511,988X3 + 0,675X4
Model persamaan regresi yang dapat dituliskan dari hasil tersebut dalam bentuk persamaan regresi adalah sebagai berikut:
1. Nilai konstanta (α) sebesar 3862,943 menjelaskan bahwa apabila Net Profit Margin (NPM), Return on Asset (ROA), Return
on Equity (ROE), dan Earning Per Share (EPS) sama dengan nol, maka pengaruh terhadap Harga Saham adalah sebesar
3862.943.
2. Apabila Net Profit Margin (NPM) meningkat sebesar satu satuan maka pengaruh terhadap Harga Saham akan naik sebesar
12690,482.
3. Apabila Return on Asset (ROA) meningkat sebesar satu satuan maka pengaruh terhadap Harga Saham akan naik sebesar
2053,494.
4. Apabila Return on Equity (ROE) meningkat sebesar satu satuan maka pengaruh terhadap Harga Saham akan turun sebesar
511,988.
5. Apabila Earning per Share (EPS) meningkat sebesar satu satuan maka pengaruh terhadap Harga Saham akan naik sebesar
0,675.

3.7 Koefisien Korelasi Berganda


Analisis korelasi dilakukan dalam rangka menguji hipotesis asosiatif, yaitu dugaan hubungan antar variabel dalam populasi
melalui data hubungan variabel dalam sampel. Hasil perhitungannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel 7. Hasil Uji Koefisien Korelasi Berganda (R)

Pada tabel dilihat nilai R (korelasi) diperoleh sebesar 0,426 hal ini berarti hubungan antara Net Profit Margin (X1), Return on
Asset (X2), Return on Equity (X3), dan Earning Per Share (X4) terhadap Harga Saham memiliki hubungan yang sedang.

3.8 Koefisien Determinasi (R2)


Koefisien determinasi adalah nilai yang menunjukkan seberapa besar variabel bebas dapat menjelaskan variabel terikat. Uji
ini untuk mengetahui seberapa besar kontribusi Net Profit Margin (NPM), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan
Earning Per Share (EPS) terhadap variabel Harga Saham. Berikut tabel hasil uji koefisien determinasi:

Tabel 8. Hasil Uji Koefisien Determinasi R²

Pada tabel diketahui nilai koefisien determinasi (R2) atau R Square diperoleh 0,182 atau 18% pengaruh terhadap Harga
Saham dijelaskan oleh variabel Net Profit Margin (NPM), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Earning Per
Share (EPS), sedangkan sisanya yaitu 0,818 atau 82% dipengaruhi variabel-variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

38
A..Fahruzzi Jurnal Produktivitas 5 (2018)
3.9 Uji Pengaruh Simultan (Uji F)

Uji pengaruh simultan (Uji F) pada dasarnya menunjukkan apakah semua Net Profit Margin (NPM), Return on Asset (ROA),
Return on Equity (ROE), dan Earning Per Share (EPS) yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-
sama terhadap Harga Saham. Hasil perhitungan Uji F dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 9. Hasil Uji F

Berdasarkan tabel Uji F menunjukkan bahwa secara bersama-sama variabel independen tidak memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap dependen. Hal ini dapat dibuktikan dari nilai Fhitung 1,775 lebih kecil dari Ftabel sebesar 2,66 serta pada
nilai Sig. 0,158 > 0,05. Dengan demikian H0 diterima dan Ha ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Net Profit
Margin (NPM), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Earning Per Share (EPS) secara bersama-sama tidak
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Harga Saham perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi Tahun 2016.

3.10 Uji Pengaruh Parsial (Uji t)


Uji pengaruh parsial (Uji t) dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing atau secara parsial variabel bebas atau Net
Profit Margin (NPM), Return on Asset (ROA), Return on Equity (ROE), dan Earning Per Share (EPS) terhadap variabel terikat
atau Harga Saham. Sementara itu secara parsial pengaruh dari kedua variabel bebas tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 10. Hasil Uji t

Dari tabel menunjukkan hasil uji pengaruh parsial (Uji t) menghasilkan nilai Sig. yang akan diinterpretasikan sebagai berikut:
1. Hasil dari uji t (parsial) menunjukkan bahwa NPM tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Harga Saham. Hal ini dapat
dibuktikan dari nilai thitung sebesar 0,251 lebih kecil dari t tabel sebesar 1,687 serta pada nilai Sig. sebesar 0,804 yang lebih
besar dari 0,05. Dengan demikian H0 diterima dan Ha ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel NPM tidak
memiliki pengaruh signifikan terhadap Harga Saham perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi Tahun 2016.
2. Hasil dari uji t (parsial) menunjukkan bahwa ROA tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Harga Saham. Hal ini dapat
dibuktikan dari nilai t hitung sebesar 0,055 lebih kecil dari t tabel sebesar 1,687 serta pada nilai Sig. sebesar 0,957 yang lebih
besar dari 0,05. Dengan demikian H0 diterima dan Ha ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel ROA tidak
memiliki pengaruh signifikan terhadap Harga Saham perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi Tahun 2016.
3. Hasil dari uji t (parsial) menunjukkan bahwa ROE tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Harga Saham. Hal ini dapat
dibuktikan dari nilai thitung sebesar -0,273 lebih kecil dari t tabel sebesar 1,687 serta pada nilai Sig. sebesar 0,787 yang lebih
besar dari 0,05. Dengan demikian H0 diterima dan Ha ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel ROE tidak
memiliki pengaruh signifikan terhadap Harga Saham perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi Tahun 2016.
4. Hasil dari uji t (parsial) menunjukkan bahwa EPS memiliki pengaruh signifikan terhadap Harga Saham. Hal ini dapat
dibuktikan dari nilai t hitung sebesar 2,421 lebih besar dari t tabel sebesar 1,687 serta pada nilai Sig. sebesar 0,021 yang lebih
kecil dari 0,05. Dengan demikian Ha diterima dan H0 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel EPS memiliki
pengaruh signifikan terhadap Harga Saham perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi Tahun 2016.

3.11 Pembahasan Hasil Penelitian

1. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel NPM tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Harga
Saham dalam Industri Barang Konsumsi Tahun 2016. Pengaruh yang tidak signifikan ini mengindikasikan bahwa jika NPM
semakin rendah, maka belum tentu prediksi Harga Saham mengalami penurunan. Begitu juga sebaliknya, jika NPM semakin
tinggi, maka belum tentu prediksi Harga Saham mengalami kenaikan. Dalam hal ini manajemen mengalami kegagalan
memperoleh laba dalam hal operasional (penjualan) pada akhirnya akan mengurangi kepercayaan investor untuk
berinvestasi. Hasil penelitian ini didukung berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Putra, Zulkirom dan Rahayu (2014)
39
A..Fahruzzi Jurnal Produktivitas 5 (2018)
menyatakan bahwa secara statistik NPM memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap harga penutupan saham perusahaan
(Studi perusahaan Property dan Real Estate yang terdaftar di BEI periode 2010-2012) dengan nilai sig. 0,068 > 0,05.
Berdasarkan pembahasan tersebut maka NPM dapat tidak digunakan sebagai pertimbangan dalam melakukan investasi
saham pada perusahaan Industri Barang Konsumsi.
2. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel ROA tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Harga
Saham dalam Industri Barang Konsumsi Tahun 2016. ROA tidak berpengaruh terhadap Harga Saham karena investor lebih
berorientasi dalam investasi dengan memperhatikan return yang diterima dibandingkan dengan kemampuan perusahaan
dalam memperoleh laba dengan menggunakan aktiva. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Amalya (2018) bahwa secara parsial variabel ROA tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Harga Saham Perusahaan
Pertambangan Sektor Batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012-2014. Berdasarkan pembahasan tersebut
maka ROA tidak dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam melakukan investasi saham pada perusahaan Industri Barang
Konsumsi.
3. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel ROE tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Harga
Saham dalam Industri Barang Konsumsi Tahun 2016. ROE digunakan untuk mengukur besarnya pengembalian terhadap
investasi para pemegang saham. Atau dalam pengertian lain ROE merupakan perbandingan antara laba bersih dengan modal
sendiri. Variabel ROE dalam penelitian ini tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Harga Saham. Berarti hal ini
mengindikasikan bahwa hasil pengembalian atas ekuitas yang diperoleh perusahaan tidak menyebabkan naiknya Harga
Saham. Artinya naik atau turunnya pengembalian atas ekuitas secara parsial tidak mempengaruhi harga saham, sehingga
pasar tidak terlalu merespon besar kecilnya ROE sebagai bahan pertimbangan investasi yang akan dilakukan investor. Hasil
ini didukung oleh penelitian Perdana, Darminto, dan Sudjana (2013) menyatakan bahwa ROE tidak berpengaruh signifikan
terhadap Harga Saham Perusahaan Industri Manufaktur yang tercatat di Bursa Efek Indonesia Periode 2006-2010.
4. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel EPS memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Harga Saham
dalam Industri Barang Konsumsi Tahun 2016. EPS digunakan untuk mengukur seberapa besar tiap lembar saham dapat
menghasilkan keuntungan untuk pemiliknya. Dalam penelitian ini EPS memiliki pengaruh yang signifikan sehingga dapat
disimpulkan EPS merupakan hal utama yang perlu diperhatikan investor dalam membuat keputusan investasinya. Nilai EPS
yang meningkat menunjukkan bahwa jumlah laba yang dibagikan kepada investor semakin tinggi, sehingga dengan
meningkatnya EPS ini akan menarik investor untuk membeli saham, dengan permintaan saham yang meningkat maka Harga
Saham perusahaan juga akan ikut meningkat. Hasil penelitian ini didukung berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Safitri (2013) menyatakan bahwa secara statistik EPS memiliki pengaruh positif signifikan terhadap Harga Saham dalam
kelompok JII Tahun 2008-2011 dengan nilai sig. 0,000 < 0,05. Berdasarkan pembahasan tersebut maka EPS dapat digunakan
sebagai pertimbangan dalam melakukan investasi saham pada perusahaan Industri Barang Konsumsi.

4. Kesimpulan dan Saran

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dilakukan, adapun hasilnya sebagai berikut:
1. Hasil uji koefisien korelasi berganda dilihat nilai R (korelasi) yang diperoleh sebesar 0,426 hal ini berarti bahwa hubungan
antara Net Profit Margin (X1), Return on Asset(X2), Return on Equity (X3), dan Earning Per Share(X4) terhadap Harga
Saham sebesar 0,426 yang berarti memiliki hubungan yang sedang.
2. Hasil uji koefisien determinasi (R2) atau R Square yang diperoleh sebesar 0,182. Hal ini berarti bahwa 18% (1 x 0,182 x
100%) pengaruh terhadap Harga Saham dijelaskan oleh variabel Net Profit Margin (NPM), Return on Asset (ROA), Return
on Equity (ROE), dan Earning Per Share (EPS), sedangkan sisanya yaitu sebesar 82% (1 - 0,560 x 100%) Harga Saham
dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
3. Hasil uji pengaruh simultan (Uji F) secara bersama-sama variabel bebas tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel
terikat. Hal ini dapat dibuktikan dari nilai f hitung < f tabel yaitu 1,775 > 2,66 serta memiliki nilai probabilitas (sig) sebesar
0,158 > 0,05.
4. Hasil uji pengaruh parsial (Uji t) masing-masing variabel bebas tidak memiliki pengaruh terhadap Harga Saham. Net Profit
Margin (X1) nilai thitung sebesar 0,251 lebih kecil dari t tabel sebesar 1,687 pada nilai probabilitas (sig) sebesar 0,804 > 0,05
berarti tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham (Y), Return on Asset (X2) nilai thitung sebesar 0,055 lebih kecil
dari ttabel sebesar 1,687 pada nilai probabilitas (sig) sebesar 0,957 > 0,05 berarti tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga
Saham (Y), Return on Equity (X3) nilai thitung sebesar -0,273 lebih kecil dari t tabel sebesar 1,687 pada nilai probabilitas (sig)
sebesar 0,787 > 0,05 berarti tidak berpengaruh signifikan terhadap Harga Saham (Y), Earning per Share (X1) nilai t hitung
sebesar 2,421 lebih besar dari t tabel sebesar 1,687 pada nilai probabilitas (sig) sebesar 0,021 < 0,05 berarti mempunyai
pengaruh signifikan terhadap Harga Saham (Y).

4.2 Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan diatas, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut:
1. Bagi peneliti selanjutnya, sebaiknya menambah jumlah variabel yang digunakan dalam penelitian atau menggunakan
variabel yang lebih berpengaruh terhadap Harga Saham, sehingga dapat diketahui dengan pasti variabel apa saja yang dapat
mempengaruhi Harga Saham.
2. Bagi perusahaan, sebaiknya perusahaan semakin mengoptimalkan kinerjanya untuk meningkatkan nilai perusahaan,
khususnya yang berkaitan dengan variabel-variabel yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menilai dan memprediksi

40
A..Fahruzzi Jurnal Produktivitas 5 (2018)
Harga Saham, karena dengan meningkatkan nilai perusahaan maka para investor tertarik untuk melakukan investasi pada
perusahaan yang bersangkutan.
3. Bagi investor saham, sebaiknya memperhatikan variabel EPS sebagai acuan investasi di Industri Barang Konsumsi. Dari
hasil penelitian ini membuktikan bahwa variabel EPS memiliki pengaruh signifikan terhadap Harga Saham perusahaan
Sektor Industri Barang Konsumsi Tahun 2016.

Daftar Pustaka

Amalya, Neneng Tirta. 2018. Pengaruh Return on Asset, Return on Equity, Net Profit Margin, dan Debt Equity Ratio Terhadap
Harga Saham. Jurnal Sekuritas. Vol. 1 (3), Universitas Pamulang.

Azis. Musdalifah, Sri Mintarti, dan Maryam Nadir. 2015. Manajemen Investasi Fundamental, Teknikal, Perilaku Investor dan
Return Saham. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Deepublish, Yogyakarta.

Ginting, Suriani dan Suriany. 2013. Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi Harga Saham pada perusahaan manufaktur di
Bursa Efek Indonesia. Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil. Vol. 03 (02), 61-65.

Bursa Efek Indonesia 2016, Data Emiten Di Bursa Efek Indonesia (Online). Tersedia dalam http://www.idx.co.id/index.html,
diakses tanggal 16 Oktober 2017.
.
Hadi, Nor. 2013. Pasar Modal. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Graha Ilmu, Yogyakarta.

Harahap, sofyan safri. 2011. Analisis Kritis dan Laporan Keuangan. Edisi Pertama. Cetakan Kesepuluh. PT RajaGrafindo,
Jakarta.

Kartika, Dyah Ayu, 2018, “Emiten Bank & Barang Konsumsi Kuasai 10 Market Cap Terbesar. Bisnis.com, dalam
m.bisnis.com/amp/read/20180814/192/827951/emiten-bank-barang-konsumsi-kuasai-10-market-cap-terbesar, diakses
tanggal 9 Oktober 2018.

Kevin, Anthony, 2018, “Keyakinan Konsumen Naik, Saham Barang Konsumsi Menguat. CNBC Indonesia, dalam
https://www.cnbcindonesia.com/market/20180710093346-17-22754/keyakinan-konsumen-naik-saham-barang-konsumsi-
menguat. diakses tanggal 9 Oktober 2018.

Kevin, Anthony 2018, “Saham barang konsumsi akan terpengaruh pelemahan penjualan, dalam
https://www.cnbcindonesia.com/market/20180207190732-17-3829/saham-barang-konsumsi-akan-terpengaruh-pelemahan-
penjualan, diakses tanggal 9 Oktober 2018

Martalena dan Maya Marlinda. 2011. Pengantar Pasar Modal. Penerbit Andi, Yogyakarta.

Nugraha, Rheza Dewangga dan Budi Sudaryanto. 2016. Analisis Pengaruh Dividend Payout Ratio (DPR), Debt to Equity Ratio
(DER), Return on Equity (ROE), dan Total Asset Turnover (TATO) terhadap Harga Saham (Studi Kasus pada Industri
Dasar dan Kimia yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2014. Journal of Management. Vol. 05 (04), 1-
12.

Perdana, Rizky Agustine Putri, Darminto, Nengah Sudjana. 2013. Pengaruh Return on Investment, Return on Equity, Net Profit
Margin, dan Earning Per Share terhadap Harga Saham (Studi pada perusahaan Makanan dan minuman yang Go Public di
Bursa Efek Indonesia periode 2008-2011). Jurnal Administrasi dan Bisnis. Vol. 2 (1), Fakultas Imu Administrasi
Malang.

Priyatno, Dwi. 2012. Belajar Cepat Oleh Data Statistik Dengan SPSS. C.V ANDI OFFSET, Yogyakarta.

Putra, Yoga Pratama, Moch. Zulkirom AR, dan Sri Mangesti Rahayu. 2015. Pengaruh Return on Equity (ROE), Earning Per
Share (EPS), dan Debt Equity Ratio (DER) terhadap Harga Saham (Studi pada perusahaan Properti dan Real Estate yang
terdaftar di BEI periode 2010-2012). Jurnal Administrasi dan Bisnis. Vol. 8 (2), Universitas Brawijaya.

Rahardjo, budi. 2007. Keuangan Dan Akuntansi Untuk Manajer Dan Non Keuangan. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Graha
Ilmu, Yogyakarta.

Safitri, Abied Luthfi. 2013. Pengaruh Earning per Share, Price Earning Ratio, Return on Asset, Debt to Equity Ratio dan
Market Value Added Terhadap Harga Saham Dalam Kelompok Jakarta Islamic Index. Management Analysis Journal
Vol. 2 (2), 1-8. Universitas Negeri Semarang.

Saham OK. 2016. Kapitalisasi Pasar Tahun 2016 (Online). Tersedia dalam https://www.sahamok.com/amp/, diakses tanggal 16
Oktober 2017.
Santoso, Singgih. 2014. SPSS 22 From Essential to Expert Skill. Gremedia, Jakarta.
41
A..Fahruzzi Jurnal Produktivitas 5 (2018)

Sirait, Pirmatua. 2017. Analisis Laporan Keuangan. Ekuilibria, Yogyakarta.

Subana, H.M. 2011. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. Edisi Pertama. Cetakan Keempat. Graha Ilmu, Bandung.

Subhan, Azis Muhamad dan Pardiman. 2016. Pengaruh Net Profit Margin, Return on Equity Dan Earning Per Share Terhadap
Harga Saham Perusahaan Industri Barang Konsumsi Yang Tercatat Di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2011. Jurnal
Profita Edisi 3 Tahun 2016

Sugiyono. 2014. Metodologi Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Zulfikar. 2016. Pengantar Pasar Modal dengan Pendekatan Statistika. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Deepublish,
Yogyakarta.

42