Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS KERUSAKAN STRUKTUR

BANGUNAN GEDUNG BAPPEDA WONOGIRI

(The Analysis of Structure Failure at Bappeda Wonogiri Building)

Henry Hartono 1)
1)
Staf pengajar jurusan Teknik Sipil – Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A.Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta. E-mail : Henry_hmt@plasa.com.

ABSTRACT

The BAPPEDA office building of Wonogiri regency is an office owned by The Government of Wonogiri Regency
that has a function as a Development Planning Board and Research Office of the Regional Development in Wonogiri
regency. The building was built in 1997 with the main structure of reinforced concrete. The idea of using this reinforced
concrete based on the easiness in constructing, improving and maintaining the infrastructures. Counted less than 5 (five)
years of age of the building, several parts of the building structures indicates several damages on it’s structure element,
such ini front terrace, first floor and in the column of ground floor, those indications were accumulated in a porousity.
This research was intended to know the main cause of porousity and to decide the repairment method. This research was
carried out visually on the structure element, according to the research result, it was found that there were porousities on
the concrete and cracks on the metal sheet of the terrace, first floor and ground floor. From the technical research, found
that during the concrete processing and the supervision did not follow the proper arrangement of concrete. The cracks
found in this research could be differentiated into small and moderate cracks. The cracks repairment were set up
according to its level damages, such light repairment was done by removing the cement floor, the moderate repairment
by doing epoxy grouting, while heavy repairment was done the metal sheet and floor beam by prepacked concrete
process and on the floor column by adding steel frames.

Keywords : BAPPEDA building, porousity, cracks, steel frame corrotion

PENDAHULUAN dari luar (Tjokrodimuljo, 1996), seperti yang terjadi


di struktur gedung BAPPEDA Wonogiri, yaitu
Gedung Kantor Badan Perencanaan merembesnya air pada plat dan balok lantai 1, serta
Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten kolom lantai dasar, seperti dilukiskan pada Gambar 4
Wonogiri dibangun pada tahun 1997 dibiayai dari dan 5 (terlampir).
dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Merembesnya air pada struktur gedung
(APBD) Kabupaten Wonogiri. Gedung ini BAPPEDA tersebut apabila berlangsung lama atau
merupakan bangunan gedung berlantai 3 (tiga) berulang-ulang akan mengakibatkan kerusakan
dengan luas masing – masing lantai 600 m², dan struktur, yaitu terjadi korosi pada baja tulangan yang
terletak di jalan Pemuda Wonogiri. selanjutnya akan terjadi penurunan mutu beton dan
Dalam pembangunannya melalui beberapa dampak yang lebih besar lagi akan terjadi
tahapan yang meliputi perencanaan teknis, berkurangnya kehandalan struktur.
pelaksanaan fisik dan pengendalian/pengawasan. Berdasarkan uraian tersebut diatas dan melihat
Perencanaan teknis dilaksanakan oleh DPU kondisi struktur gedung BAPPEDA saat ini, perlu
Kabupaten Wonogiri, sedangkan pembangunan segera diketahui penyebab terjadinya rembesan air
fisiknya dilaksanakan oleh kontraktor. dan metode perbaikannya. Dengan tujuan itulah
Pengendalian/pengawasan dilakukan oleh DPU dilaksanakan penelitian ini.
Wonogiri dan instansi lain yang terkait. Dengan melihat kondisi struktur gedung
Struktur gedung BAPPEDA menggunakan BAPPEDA yang ada saat ini, peneliti mengangkat
beton bertulang dengan pertimbangan lebih mudah permasalahan tersebut dengan rumusan masalah
dan fleksibel dalam pelaksanaannya. sebagai berikut : Seberapa besar kerusakan struktur
Selain kelebihan dari pemakaian beton gedung , faktor-faktor apa saja yang menyebabkan
bertulang tersebut, harus diakui beton bertulang terjadinya rembesan air pada struktur gedung dan
mempunyai kelemahan yang perlu mendapat bagaimana cara perbaikan yang tepat dan ekonomis
perhatian selama dalam pelaksanaannya. Di terhadap kerusakan struktur gedung BAPPEDA
antaranya beton bertulang sulit untuk dapat kedap Wonogiri.
air secara sempurna atau mudah terjadi rembesan air

Dinamika TEKNIK SIPIL, Volume 7, Nomor 1, Januari 2007 : 63 – 71 63


Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan beton merupakan faktor penyebab rusaknya lapisan
sebagai berikut : Mengetahui seberapa besar tingkat tersebut yang berlanjut dengan terkorosinya besi di
kerusakan struktur bangunan gedung, mengetahui dalam beton.
faktor-faktor penyebab terjadinya rembesan air Berkaitan dengan kerusakan bangunan beton
pada struktur gedung dan menetapkan metode akibat korosi, perlu adanya pemodelan perhitungan
perbaikan yang tepat dan ekonomis. masa layan bangunan beton berdasarkan pada
Manfaat dari penelitian ini adalah: kerusakan bangunan tersebut akibat korosi baja
Memberikan suatu masukan pada para Akademisi tulangan. Masa layan suatu bangunan adalah waktu /
tentang alternatif penanganan perawatan bangunan, masa sejak bangunan mulai berfungsi sampai dengan
terutama yang menggunakan sumber dana terbatas bangunan tersebut tidak dapat berfungsi lagi akibat
dan hasil penelitian ini memberikan masukan kepada adanya kerusakan – kerusakan sehingga kinerja
instansi teknis di Kabupaten Wonogiri, bahwa bangunan itu menurun (Anggraeni, Y.L.D. Adianto,
permasalahan yang terjadi pada bangunan gedung dan Agus S.S., 2005). Perhitungan pemodelan ini
Pemerintah tidak hanya pada perancangan struktur dibagi dalam 3 (tiga) periode seperti pada gambar 1.
dan pelaksanaan konstruksi saja, tetapi perlu
dipikirkan masalah pengoperasian, perawatan
infrastruktur, dan pengendalian dalam
pelaksanaannya. Batas kerusakan maksimal
Dalam penelitian ini permasalahan dibatasi
pada ruang lingkup pembahasan masalah sebagai Berat
Periode I Periode II Periode III
Senyawa
berikut : Meneliti permasalahan yang terjadi pada Hasil T1 TII TIII
struktur lantai dasar yaitu merembesnya air pada plat Korosi
lantai 1, balok lantai 1 dan kolom lantai dasar, (mg/mm2)
menentukan metode perbaikan dan langkah
perbaikan guna mempertahankan kondisi struktur t1 t2 t3
bangunan, pengamatan kondisi struktur dilakukan
secara visuil , analisis dilaksanakan berdasarkan hasil Waktu (tahun)
pengamatan visuil dan kajian dokumen teknis. Gambar 1. Model kerusakan bangunan beton akibat korosi
Kajian studi dan penelitian terhadap perawatan (Sudjono, 2005)
bangunan telah banyak dilakukan oleh peneliti
terdahulu, yaitu penelitian terhadap kerusakan Pemodelan perhitungan masa layan bangunan
bangunan akibat gempa dan kebakaran, namun beton dimodelkan (Anggraeni,Y.L.D.Adianto, dan
penelitian mengenai merembesnya air pada struktur Agus S.S., 2005) sebagai berikut :
bangunan bertingkat sampai dengan penulisan ini,
belum pernah ditemukan dalam pustaka maupun Tlayan = TI + TII +TIII (1)
penulisan ilmiah lainnya. Penulisan hasil penelitian
ini pertama kalinya diinformasikan pada jurnal hasil Periode pertama atau TI adalah periode dari waktu
penelitian. bangunan selesai dibangun sampai dengan waktu
Untuk mendukung penelitian ini perlu berinfiltrasinya gas CO2 ke permukaan baja tulangan
dipahami pengertian korosi pada beton, yaitu: Korosi secara difusi. Persamaan untuk menghitung lama
(Kennet dan Chamberlain, 1991) adalah penurunan periode TI (Anggraeni,Y.L.D. Adianto, dan Agus
mutu logam akibat reaksi elektro kimia dengan S.S., 2005) :
lingkungannya. Korosi atau pengkaratan merupakan
fenomena kimia pada bahan – bahan logam yang C = K (t)0.5 (2)
pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion
pada permukaan logam yang kontak langsung dengan : C = tebal selimut beton (mm)
dengan lingkungan berair dan oksigen. Salah satu K = kecepatan netralisasi (mm/tahun05)
penyebab ambruknya suatu infrastruktur seperti t = waktu (tahun)
bangunan gedung, jembatan, jalan layang atau Periode kedua atau TII adalah waktu yang
dermaga adalah terkorosinya besi dalam beton dibutuhkan senyawa hasil reaksi korosi tepat mengisi
infrastruktur tersebut. Besi dalam beton sebenarnya pori – pori antara permukaan baja tulangan dengan
tahan terhadap korosi karena sifat alkali dari beton beton. Setelah semua pori – pori di zona transisi
(pH = 12 – 13), sehingga terbentuk lapisan pasif di terisi senyawa hasil korosi, senyawa ini yang
permukaan besi dalam beton. Besi baru terkorosi bila berikutnya memberikan gaya tekan pada selimut
lapisan ini rusak. Proses karbonisasi (Carbonation) beton. Jika tekanan dari senyawa hasil korosi ini
dan intrusi ion – ion klorida dan gas CO2 ke dalam lebih besar dari kekuatan selimut beton, maka

64 Analisis Kerusakan Struktur Bangunan Gedung.........................(Henry Hartono)


terjadilah keretakan. Periode ketiga atau TIII adalah 1. Pemeliharaan bangunan. Pemeliharaan
waktu rusaknya bangunan beton, yaitu kondisi bangunan dapat diartikan sebagai berikut :
bangunan mengalami keretakan, kinerjanya lebih a. Pemeliharaan bangunan adalah usaha
rendah dari kinerja yang diijinkan. Lama periode mempertahankan kondisi bangunan agar
ketiga atau TIII dapat dimodelkan (Anggraeni, Y.L.D. tetap berfungsi sebagaimana mestinya atau
Adianto, dan Agus S.S., 2005) sebagai berikut : dalam usaha meningkatkan wujud bangunan,
serta menjaga terhadap pengaruh yang
M − Mtr M merusak.
TIII = = − TII (3) b. Pemeliharaan bangunan juga merupakan
1,5r 1,5r
upaya untuk menghindari kerusakan
komponen / elemen bangunan akibat
M keusangan/kelusuhan.
TII + TIII = (4)
1,5r 2. Perawatan bangunan. Perawatan bangunan dapat
diartikan sebagai usaha memperbaiki kerusakan
dengan M adalah berat total dari senyawa hasil yang terjadi agar bangunan dapat berfungsi
korosi (mg/mm2). Mtr adalah berat dari senyawa hasil dengan baik sebagaimana mestinya.
Dalam memahami suatu kerusakan struktur
korosi yang mengisi pori – pori di zona transisi
beton perlu diketahui tentang mutu dan pengolahan
(mg/mm2), dan r adalah kecepatan reaksi korosi
beton.
tulangan beton (mg/mm2/tahun).
Kuat tekan beton
DO2 Karena sifat utama dari bahan beton sangat
r= .CO2 (5) kuat menerima beban tekan, maka untuk mengetahui
C
mutu beton, pada umumnya ditinjau terhadap kuat
dengan DO2 adalah koefisien difusi gas O2 beton tersebut. Mutu beton dibedakan dalam 3 (tiga)
(mm2/tahun). C adalah tebal selimut beton (mm), CO2 hal, yaitu :
adalah konsentrasi gas O2 di permukaan beton a. Beton dengan f’c kurang dari 10 MPa,
(0,0000222 mg/mm3). digunakan untuk beton non struktur.
b. Beton dengan f’c = 10 MPa ke atas dan
Tabel 1. Koefisien difusi gas O2 kurang dari 20 MPa biasanya digunakan
Jenis r DO2 untuk beton struktur.
Cr mg/ WO (%) c. Khusus struktur bangunan tahan gempa
semen mm2/tahun mm2/tahun
1 1 60 499435,9 dipakai mutu beton f’c minimal 20 MPa.
1 60 645412,4 Faktor-faktor yang mempengaruhi kuat tekan
1 65 804056,7 beton yaitu = faktor air semen, faktor-faktor sifat
Semen 1 70 972768,3 agregat, jenis semen, umur beton dan perbandingan
Portland 1 75 1331247,1 campuran beton.
normal 1 85 1705390,6 Pengolahan beton merupakan faktor yang perlu
0,95 95 1620121,1 diperhatikan, agar mutu beton tersebut sesuai dengan
0,9 95 1534851,5 yang disyaratkan. Pengolahan beton ini meliputi :
0,8 95 1364312,5 pengadukan beton, pengangkutan beton, penuangan
(Sumber : Anggraeni,Y.L.D.Adianto,dan Agus S.S., 2005) beton, pemadatan, perataan dan perawatan beton.
Kuat tekan beton akan menurun apabila terjadi
dengan Cr = faktor reduksi semen Portland normal kerusakan pada beton. Macam kerusakan beton :
(=1) a. Retak (crack)
Wo = W / C dari campuran beton (%) Crack adalah retak pada permukaan beton
karena mengalami penyusutan, lendutan akibat beban
Terjadinya korosi pada suatu bangunan hidup (live load)/ beban mati (dead load), akibat
mempengaruhi masa layan bangunan tersebut, karena gempa bumi maupun perbedaan temperatur yang
kinerja komponen struktur bangunan menurun. tinggi pada waktu proses pengeringan, crack dapat
Guna mencapai umur bangunan sesuai dengan dibedakan menjadi 3 (tiga) macam yaitu :
rencana diperlukan pemeliharaan bangunan dan 1). Retak kecil dengan lebar retakan kurang dari 0,5
perawatan bangunan secara terus menerus mm.
(Persyaratan Teknis bangunan Gedung, Departemen 2). Retak sedang dengan lebar retakan antara 0,5
Kimpraswil, 1996), yaitu : mm sampai 1,2 mm.

Dinamika TEKNIK SIPIL, Volume 7, Nomor 1, Januari 2007 : 63 – 71 65


3). Retak besar dengan lebar retakan lebih dari 1,2 c). Tahap III : Pada tahap ini dilakukan analisis
mm. data lapangan dan analisis dokumen
teknis, membandingkan dengan
b. Pengelupasan (spalling) landasan teori,
Pengelupasan (spalling) pada struktur yaitu d). Tahap IV : Pada tahap ini ditentukan metode
terkelupasnya selimut beton besar atau kecil perbaikan dan kesimpulan.
sehingga tulangan pada beton tersebut terlihat, hal ini
apabila dibiarkan dengan bertambahnya waktu,
tulangan akan berkarat / korosi akhirnya patah
(Crane, 1985 dan Roomfield, 1997). Mulai
Untuk perbaikan beton perlu dipilih bahan
perbaikan yang memenuhi sifat bahan (Suhendro,
2001) yaitu : Persiapan bahan dan peralatan
1). Stabilitas bentuk ........................................................................................... Tahap I
2). Koefisien muai panas
3). Modulus Elastisitas Penelitian Penelitian dokumen Pengamatan
kondisi
4). Permeabilitas teknis visuil
struktur
Sistem atau metode perbaikan beton harus
....................................................................................Tahap II
dipilih/disesuaikan berdasarkan tingkat
kerusakannya. Macam metode perbaikan beton yaitu:
Analisis data
a). Coating .........................................................................................Tahap III
b). Injection (Grouting)
c). Shotcrete Penentuan metode perbaikan
d). Prepacked concrete
e). Jacketing .........................................................................................Tahap IV
f). Penambahan tulangan Kesimpulan

Gambar 2. Bagan Alir Penelitian


METODE PENELITIAN
Bahan Penelitian yang digunakan berupa data
dokumen teknis dan elemen struktur yang ada pada 2. Pelaksanaan Penelitian
gedung BAPPEDA Wonogiri. Peralatan Penelitian 2a). Pengamatan Visuil. Kerusakan yang
yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai terjadi pada gedung kantor BAPPEDA Kabupaten
berikut : Wonogiri diklasifikasikan sesuai dengan volume
1). Sikat baja, untuk membersihkan permukaan bidang kerusakan atau bidang struktur yang
objek penelitian. mengalami rembesan air dalam waktu relatif lama,
2). Alat pengukur, untuk mengukur panjang dan dan selalu berulang pada waktu hujan. Penelitian ini
lebar objek yang diteliti. meliputi plat lantai teras depan, plat lantai 1, balok
3). Kamera Foto, untuk memotret objek penelitian. lantai teras depan, balok dan plat lantai I dan kolom
4). Kompresor udara, untuk memberikan tekanan. struktur lantai dasar. Alat yang dipakai dalam
5). Tabung injection, tempat bahan grouting (bahan penelitian ini adalah :
epoxy) • Sikat baja
• Alat pengukur / meteran
Proses Penelitian • Kamera Foto.
Dalam proses penelitian ini dibagi dalam 2b). Pengujian Porositas. Penelitian porositas
empat kegiatan, yaitu : beton dilakukan pada plat beton yang masih kering
1. Tahapan Penelitian atau tidak terjadi rembesan air. Tujuan dari penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam 4 tahapan ini hanya terbatas untuk mengetahui hasil kepadatan
yang dituliskan seperti dalam bentuk bagan alir pada beton plat lantai.
Gambar 1, yang meliputi : Alat yang dipakai dalam penelitian ini adalah :
a). Tahap I : Pada tahap ini yang dipersiapkan
• Sikat baja
bahan dan peralatan,
• Alat pengukur / meteran
b). Tahap II : Pada tahap ini yang dilakukan
• Kamera Foto
adalah pengamatan visuil, penelitian
kondisi beton dan penelitian dokumen • Kompresor udara
teknis, • Tabung injection

66 Analisis Kerusakan Struktur Bangunan Gedung.........................(Henry Hartono)


Tabel 2. Kerusakan dan Rembesan air yang terjadi
Kompressor pada Struktur.
Jenis Kerusakan Rembesan
No
air Struktur yang terjadi air
Cat mengelupas,
Kolom retak kecil,
Plat lantai korosi besi beton Ada (parah
Plat 1
teras depan terlihat dari sekali)
bawah (warna
plat coklat)
Sebagian cat
Retak Rembesan air rusak /
mengelupas,
Ada (tidak
sebagian bidang
2 Plat lantai I begitu
Gambar 3. Pelaksanaan pengujian porositas beton berwarna coklat
parah)
akibat korosi
baja tulangan
dan retak kecil
3. Analisis dokumen teknis Cat mengelupas,
Dari pengamatan visuil terhadap kondisi sebagian bidang
Ada (tidak
struktur bangunan Gedung kantor BAPPEDA 3
Balok lantai balok berwarna
begitu
Kabupaten Wonogiri, ditemukan kerusakan struktur teras depan coklat akibat
parah)
korosi baja
atau merembesnya air pada plat lantai, balok lantai tulangan
dan kolom, maka sesuai dengan tujuan dan manfaat Cat – catan Ada (tidak
penelitian ini, yaitu untuk mengetahui penyebab 4 Balok lantai I mengelupas begitu
kerusakan elemen struktur perlu mengkaji dokumen parah)
teknis pembangunannya yang meliputi gambar Cat mengelupas,
sebagian korosi
perencanaan dan rencana kerja dan syarat-syarat Kolom
besi beton
Ada (tidak
(RKS). 5 struktur begitu
terlihat pada
lantai dasar parah)
4. Analisis pengawasan proyek permukaan
Menurut Peraturan Beton SK.SNI 91, bidang kolom
pelaksanaan pekerjaan beton harus diawasi Kolom
6 struktur Cat mengelupas Tidak ada
sepanjang seluruh tahapan pekerjaan oleh seorang lantai I
pengawas ahli yang mampu dan bertanggung jawab
kepada pengawas ahli tersebut. Perlunya pengawasan
pada setiap tahapan karena kekuatan beton yang
diproduksi di lapangan mempunyai kecenderungan B. Hasil Pengujian Porositas Beton
untuk bervariasi dari adukan yang satu ke adukan Penelitian porositas beton dengan memilih
yang selanjutnya. Besar variasi ini bergantung pada beton yang masih kering yaitu pada plat lantai 1
berbagai faktor, antara lain mutu bahan agregat, cara (satu) untuk mengetahui bahwa porositas dan retak
pengadukan dan stabilitas pekerjaan. beton tidak hanya terjadi pada elemen struktur yang
Atas dasar adanya variasi kekuatan beton itu, mengalami rembesan air saja.
maka diperlukan pengawasan terhadap mutu beton Dari pelaksanaan penelitian ini diketahui
agar diperoleh kuat tekan beton yang hampir bahwa cairan epoxy yang diinjection pada 2 (dua)
seragam dan memenuhi kuat tekan beton yang tempat dapat mengisi rongga-rongga udara pada plat
disyaratkan sesuai dengan peraturan beton yang beton. Hal ini menunjukkan, bahwa struktur beton
berlaku. pada plat lantai 1 gedung BAPPEDA sebagian
Dalam pelaksanaan pembangunan gedung mempunyai tingkat porositas yang tinggi.
BAPPEDA Wonogiri, pengawasan tidak sesuai Porositas pada beton tersebut akibat dari
dengan peraturan yang berlaku, yaitu tidak sesuai pelaksanaan pembuatan beton yang tahap
Peraturan Beton SK.SNI 91. pemadatannya tidak sesuai dengan yang disyaratkan.
Dari uraian di atas menunjukkan, bahwa dalam
pembuatan beton terjadi gelembung udara yang
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN terbentuk selama atau sesudah pemadatan akibat
penggunaan air yang berlebihan.
A. Hasil Pengamatan Visuil
Dari pengamatan visuil pada elemen struktur
pada gedung Kantor BAPPEDA Wonogiri diketahui
kerusakan seperti pada Tabel 2 berikut.

Dinamika TEKNIK SIPIL, Volume 7, Nomor 1, Januari 2007 : 63 – 71 67


Tabel 3. Data hasil pengamatan pegujian porositas banyak berpedoman pada peraturan-peraturan
beton. pekerjaan beton atau tidak mensyaratkan secara tegas
Kriteria sesuai dengan landasan teori, antara lain campuran
Hasil pengamatan waktu
No
Jenis
penelitian porositas layan / beton, pengolahan beton dan pemeriksaan beton.
Struktur RKS yang belum sesuai dengan peraturan –
beton periode
layan peraturan pekerjaan beton adalah :
Ada rembesan air a). Campuran beton
Plat lantai (parah) dengan
1 TII Campuran beton untuk komponen struktur dibuat
teras depan warna coklat
kehitaman dengan campuran 1 PC : 2 Psr : 3 Kr, tetapi
Rembesan air tidak bangunan lain yang kedap air, persyaratan
2 Plat lantai I
begitu parah, tetapi
TII
campuran tidak tercantum.
warna air rembesan b). Pengolahan beton
coklat kehitaman
Pengadukan beton tidak tercantum harus
Rembesan air tidak
begitu parah, warna menggunakan beton molen. Oleh karena itu,
Balok pemborong sering melakukan dengan manual.
air rembesan coklat
3 lantai teras TII
depan
kehitaman, sebagian c). Pemeriksaan beton
permukaan balok Pemeriksaan kualitas beton tidak tercantum
nampak berongga
harus dilaksanakan dalam setiap volume tertentu.

Rembesan air tidak D. Hasil Kajian pengawasan proyek


begitu parah, warna Dari data-data yang terkumpul dalam
Balok
4 air rembesan tidak TII Pembangunan Gedung kantor BAPPEDA Wonogiri
lantai I
coklat
tidak dilakukan pengujian kelecakan beton maupun
pengujian kuat tekan beton atas perintah pengawas
proyek.
Kriteria Dari kajian terhadap data-data tersebut dan
Hasil pengamatan waktu
No
Jenis
penelitian porositas layan /
dokumen pengawasan, maka dapat disimpulkan,
Struktur bahwa rembesan air pada struktur Gedung kantor
beton periode
layan BAPPEDA Wonogiri karena porositas beton.
Kolom
Rembesan air tidak Adanya porositas beton salah satu penyebabnya
begitu parah, warna karena kurangnya pengawasan dalam tahapan-
5 struktur TI
air rembesan tidak
lantai dasar
coklat
tahapan pekerjaan beton.
Kolom E. Analisis Kerusakan Struktur
Tidak terjadi TI
6 struktur
rembesan air Dengan diadakannya uji injeksi bahan epoxy
lantai I
terhadap plat lantai teras depan, dan plat lantai 1,
ternyata bahan epoxy dapat mengisi rongga – rongga
udara. Pada plat lantai teras depan bahan epoxy
diinjeksikan pada satu tempat, sedang pada plat
C. Hasil Kajian Dokumen Teknis lantai satu diinjeksikan pada dua tempat.
Penyebab terjadinya keretakan pada beton
1. Gambar Perencanaan adalah :
Dalam penelitian,bidang atau struktur yang 1. Proses pemadatan beton yang tidak sempurna
paling besar mengalami rembesan air adalah plat mengakibatkan beton berongga yang akhirnya
lantai teras. Hal ini dimungkinkan karena lantai teras menimbulkan keretakan.
merupakan bidang terbuka yang sebagian besar tanpa 2. Perawatan beton yang tidak sesuai dengan
atap. Adapun finishing dari lantai teras sebagian persyaratan teknis pada saat beton berumur
dengan keramik (48m2), dan sebagian lagi (32 m2) sampai dengan 28 hari, mengakibatkan
dengan plesteran 1 Pc : 3 pasir. pengerasan beton permukaan dan bagian dalam
2. Rencana kerja dan syarat – syarat (RKS, beton tidak bersamaan, karena bagian luar sudah
1997) mengeras, sedang bagian dalam belum terjadi
Dari kajian terhadap RKS Pembangunan pengerasan, akhirnya mengakibatkan keretakan.
Gedung Kantor BAPPEDA Kabupaten Wonogiri, Dengan demikian adanya keretakan pada beton
menunjukkan bahwa RKS tersebut belum dapat dan rembesan air akan terjadi proses keasaman pada
sepenuhnya sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan baja tulangan, akibat selanjutnya baja akan
beton. Hal ini dikarenakan RKS tersebut belum mengembang dan menjadi keropos. Baja yang

68 Analisis Kerusakan Struktur Bangunan Gedung.........................(Henry Hartono)


mengembang atau bertambahnya volume baja akan meneliti tingkat keretakan beton dan diklasifikasikan
mengakibatkan keretakan yang lebih parah dan sebagai berikut :
kerusakan beton. Baja yang keropos akan putus a. Retak kecil yaitu retak dengan lebar 0,25
sehingga fungsi baja tulangan dalam beton yaitu sampai dengan 10 mm.
menahan gaya tarik akan berkurang dan pada tahap b. Retak sedang yaitu retak dengan lebar 10
tertentu akan tidak berfungsi sama sekali. mm sampai dengan 35 mm.
Akibat selanjutnya akan terjadi keruntuhan c. Retak besar yaitu retak dengan lebar 35 mm
struktur pada struktur yang mengalami keretakan dan sampai dengan 75 mm.
rembesan air. Tujuan pengelompokan ini dilakukan karena
jenis atau spesifikasi bahan yang digunakan berbeda-
beda, adapun perbaikan retak pada beton dilakukan
F. Metode Perbaikan Struktur dengan jalan injeksi atau grouting dengan bahan
Dari analisis kerusakan pada struktur Gedung produk FOSROC jenis Epoxy Grouts, yaitu
kantor BAPPEDA Wonogiri yang berupa rembesan a. Retak kecil atau berpori-pori kecil
air pada plat, balok lantai, dan kolom, selanjutnya menggunakan Conbextea EP 10 TG.
mengklasifikasikan perbaikan serta menentukan b. Retak sedang menggunakan Conbextea EP
metode perbaikannya seperti uraian berikut ini : 40 TG.
c. Retak besar menggunakan Conbextea EP 65
1. Klasifikasi perbaikan struktur TB.
1a). Perbaikan ringan. Perbaikan ini meliputi Adapun pelaksanaan perbaikan retak kecil
perbaikan akibat kerusakan kosmetik yaitu perbaikan meliputi :
hanya pada permukaan struktur yang berupa a. Plat lantai 1, yaitu plat antara As 6D – J
plesteran dan cat – catan. sampai dengan As 5D – J Luas = 36,00 m2
1b). Perbaikan sedang. Perbaikan ini meliputi b. Balok lantai 1
perbaikan struktur melalui beberapa pemilihan c. Kolom lantai dasar dan lantai 1
metode perbaikan. Perbaikan ini dilakukan pada Perbaikan retak sedang meliputi :
struktur yang mendapat rembesan air hujan tidak a. Plat lantai 1
langsung dan jarak dari sumber rembesan lebih dari 2 b. Balok lantai 1
m. Perbaikan ini terjadi pada plat lantai dan balok c. Kolom lantai
lantai 1. Perbaikan retak besar pada Gedung BAPPEDA
1c). Perbaikan berat. Perbaikan berat ini tidak ada.
dilakukan pada struktur bangunan yang pada waktu 2c). Perbaikan berat. Untuk perbaikan berat
hujan mendapat rembesan air secara langsung, pada Gedung Kantor BAPPEDA ini dilakukan pada
berulang-ulang dan berlangsung lama. : Plat lantai teras, balok lantai dan kolom.
Struktur bangunan yang masuk klasifikasi
perbaikan berat ini merupakan struktur bangunan 3. Alternatif perbaikan dan memilih metode
yang sudah mengalami rembesan air hujan mulai perbaikan
selesainya dibangun yaitu bulan Maret 1998 sampai Dari penjelasan pada sub bab metode
saat ini. perbaikan struktur yaitu sub bab metode perbaikan,
telah dijelaskan alternatif perbaikan untuk perbaikan
2. Metode Perbaikan ringan dan perbaikan sedang. Adapun alternatif
2a). Perbaikan ringan. Perbaikan ini meliputi perbaikan berat ditentukan oleh jenis kerusakan
pengelupasan plesteran lama karena plesteran yang strukturnya yang meliputi : coating, injection,
lama sudah rusak (berlumut) dan diganti dengan shotcrete, prepacked concrete, jacketing dan
plesteran baru dengan campuran 1 Pc : 3 pasir. penambahan tulangan.
Sebelum plesteran baru ini dilaksanakan, balok 3a). Coating. Perbaikan coating adalah
beton dibiarkan terbuka beberapa waktu sambil melapisi permukaan beton dengan cara mengoleskan
menunggu perbaikan strukturnya. Adapun perbaikan atau menyemprotkan bahan yang bersifat plastik dan
ini dilaksanakan pada seluruh plesteran yang rusak cair. Lapisan ini digunakan untuk menyelimuti beton
akibat rembesan air yang secara visuil kelihatan terhadap lingkungan yang merusak beton. Metode ini
basah dan cat-catan mengelupas. tidak direkomendasikan karena dengan coating atau
2b). Perbaikan sedang. Pada perbaikan melapisi permukaan beton akan menyebabkan air
struktur ini yang perlu dilakukan adalah meneliti dalam beton terperangkap atau tidak terjadi
terlebih dahulu keretakan pada struktur dengan penguapan.
mengupas seluruh plesteran pada struktur yang 3b). Injection (grouting). Perbaikan injection
secara visuil mengalami rembesan air. Selanjutnya adalah memasukkan bahan yang bersifat encer

Dinamika TEKNIK SIPIL, Volume 7, Nomor 1, Januari 2007 : 63 – 71 69


kedalam celah atau retakan pada beton, kemudian KESIMPULAN DAN SARAN
diinjection dengan tekanan, sampai terlihat pada
lubang atau celah lain telah terisi atau mengalir Dari hasil penelitian dan analisis data
keluar. Metode ini direkomendasikan untuk bangunan Gedung kantor BAPPEDA Wonogiri dapat
perbaikan dengan mempertimbangkan dan diambil kesimpulan sebagai berikut :
menggabungkan dengan metode perbaikan yang lain. 1). Berdasarkan hasil penelitian dan kajian, bahwa
3c). Shotcrete. Perbaikan Shotcrete adalah rembesan air pada gedung Kantor BAPPEDA
menembakkan mortar atau beton dengan ukuran digolongkan pada kerusakan yang bervariasi,
agregat yang kecil, pada permukaan beton yang akan yaitu kerusakan ringan, sedang dan berat.
diperbaiki. Shotcrete dapat digunakan untuk Dengan total kerusakan : 56 m3 beton dari
perbaikan permukaan yang vertikal maupun volume keseluruhan : 304 m3.
horisontal dari bawah. Metode ini tidak 2). Berdasarkan pengamatan dan kajian teknis
direkomendasikan karena metode ini hanya cocok rembesan air pada struktur Gedung kantor
untuk retak yang lebar, sedangkan permasalahan dari BAPPEDA Wonogiri akibat porositas beton
struktur Gedung kantor BAPPEDA Wonogiri adalah yang tinggi dan terjadinya cracks.
korosi pada struktur dengan retak beton yang kecil 3). Berdasarkan analisis perbaikan elemen struktur,
dan sedang. perbaikan rembesan air pada Gedung Kantor
3d). Prepacked Concrete. Perbaikan prepacked BAPPEDA Wonogiri, menggunakan metode
concrete adalah mengupas beton, kemudian epoxy injection pada kerusakan ringan dan
dibersihkan dan diisi dengan beton segar, beton baru sedang, prepacked concrete dan penambahan
ini dibuat dengan cara mengisi ruang kosong dengan tulangan pada kerusakan berat.
agregat sampai penuh. Kemudian diinjection dengan Dari hasil penelitian ini disarankan :
mortar yang sifat susutnya kecil dan mempunyai 1). Untuk kerusakan struktur Gedung Kantor
ikatan yang baik dengan beton lama. Metode ini BAPPEDA Kabupaten Wonogiri segera
direkomendasikan dengan tambahan, bahwa sebelum mendapat perhatian penanganan agar kerusakan
pelaksanaan harus diketahui seberapa besar tingkat lebih lanjut dapat dihindarkan.
korosi baja tulangan. Apabila tingkat korosi masih 2). Dalam suatu perencanaan Gedung Pemerintah
bisa ditoleransi atau bisa dibersihkan dengan bahan perlu memperhatikan nantinya pemeliharaan
kimia, maka metode ini bisa dilaksanakan. infrastrukturnya.
3e). Jacketing. Perbaikan jacketing adalah 3). Untuk mendapatkan hasil yang baik dari suatu
melindungi beton terhadap kerusakan dengan pembangunan gedung agar dalam perencanaan,
menggunakan bahan selubung, dapat berupa baja, pelaksanaan konstruksi dan pengendalian
karet , beton komposit. berpedoman pada peraturan – peraturan yang
3f). Penambahan tulangan. Perbaikan berlaku.
penambahan tulangan untuk memperkuat elemen
struktur seperti plat, balok dan kolom yang sudah
rusak cukup parah, agar dapat berfungsi lagi sebagai UCAPAN TERIMA KASIH
pemikul beban. Metode ini direkomendasi dengan
mempertimbangkan tingkat kerusakan tulangan baja. Ucapan terima kasih disampaikan kepada :
Apabila tulangan baja terjadi korosi, maka metode 1). Kepala BAPPEDA dan staff atas
ini bisa dilaksanakan. terselenggaranya penelitian ini oleh tim
Dari beberapa metode perbaikan tersebut, penelitian UMS.
untuk perbaikan rembesan air pada struktur Gedung 2). Djoko Prasetyanto yang telah membantu dalam
Kantor BAPPEDA Wonogiri direkomendasikan pelaksanaan penelitian.
sebagai berikut :
(a). Untuk rembesan air dengan retak kecil dan
sedang perbaikan dilakukan dengan epoxy DAFTAR PUSTAKA
injection.
(b). Untuk rembesan air dengan waktu rembesan Anonim,1997. Rencana Kerja dan syarat-syarat
lama dan berulang-ulang yaitu pada kolom, (RKS), Surat perjanjian Pemborongan
balok dan plat teras depan menggunakan metode Pembangunan Gedung kantor BAPPEDA
perbaikan, dengan gabungan antara epoxy Wonogiri,Wonogiri.
injection, prepacked concrete dan penambahan Anggraeni, I., Y.L.D.Adianto, dan Agus S.S., 2005.
tulangan, atau secara sendiri-sendiri bergantung Studi Analisis Masa Layan Bangunan Beton
pada tingkat korosi atau kondisi baja tulangan Bertulang Berdasarkan Kerusakan yang
Diakibatkan Korosi yang Disebabkan Infiltrasi

70 Analisis Kerusakan Struktur Bangunan Gedung.........................(Henry Hartono)


Gas CO2. Jurnal Teknik Sipil Universitas Roomfield, J.P. 1997. Corrosion of Steel in
Katholik Parahyangan, Bandung, V.7. No. 1. Concrete. Reprinted 1998 by E & FN Spon, an
Juni. imprint of Routledge 11 New Fette Lane,
Crane, A.P.1985. Corrosion of Reinforcement in London.
Concrete Construction. North and Saouth Sudjono, A.S., 2005. Prediksi Waktu Layan
America and the of World : Halsted Press : a Bangunan Beton Terhadap Kerusakan Akibat
division of John Wiley & Sons 605 Third Korosi Baja Tulangan. Jurnal Keilmuan dan
Avenue, New York. Penerapan Teknik Sipil, Universitas Kristen
Departemen Pekerjaan Umum. 1991. Peraturan Petra Surabaya, V.7 No.1. Maret
Beton Bertulang SK.SNI – 1991. Suhendro, B. 2001. Metode Pelaksanaan Proyek
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Gedung Bertingkat (High Rise Building),
1996. Persyaratan Teknis bangunan Gedung, Proceeding Kursus Singkat “Perancangan
Jakarta. Campuran, Evaluasi dan Rehabilitasi Struktur
Kennet, R.T., dan Chamberlain, J. 1991. Korosi : Beton”, 3 – 4 September 2001, Yogyakarta.
untuk Mahasiswa Sains dan Rekayasa. PT. Tjokrodimuljo, K. 1996. Teknologi Beton, Nafiri,
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Yogyakarta.

LAMPIRAN

Gambar 4. Rembesan air pada plat lantai Gambar 5. Rembesan air pada balok lantai

Dinamika TEKNIK SIPIL, Volume 7, Nomor 1, Januari 2007 : 63 – 71 71