Anda di halaman 1dari 24

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil Penelitian

Dalam bab ini akan diuraikan hasil dari pengumpulan data dan kuesioner

tentang Hubungan pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi usia

0-12 bulan di Posyandu Desa Pandantoyo, Kecamatan Kertosono, Kabupaten

Nganjuk tahun 2013, pada tanggal 1 Juni 2013 sampai 30 Juni 2013 dengan

jumlah responden 52 ibu bayi usia 0-12 bulan. Data yang diperoleh akan disajikan

dalam bentuk tabel dan narasi. Pada penyajian hasil dibagi dalam dua bagian yaitu

1) Data umum menampilkan karakter responden berdasarkan : umur ibu,

pendidikan terakhir ibu, pekerjaan, penghasilan keluarga, umur bayi, dan jenis

kelamin bayi 2) Data khusus meliputi pemberian ASI dan pemberian susu

formula, kejadian diare dan identifikasi pemberian susu formula dengan kejadian

diare pada bayi usia 0-12 bulan.

4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Posyandu Desa Pandantoyo Kecamatan

Kertosono Kabupaten Nganjuk dengan batas wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah Barat : Desa Kemaduh

2. Sebelah Utara : Desa Pisang

3. Sebelah Timur : Desa Banaran

4. Sebelah Selatan : Desa Lambang Kuning dan Desa Nglawak

82
4.1.2 Ketenagaan

Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk memiliki

tenaga kesehatan yang meliputi :

1. Bidan : 1 orang

2. Prawat : 2 orang

Fasilitas kesehatan yang ada di Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono

Kabupaten Nganjuk untuk mendukung pelaksanaan program kesehatan meliputi :

1. Puskesmas Pembantu : berjumlah 1 Puskesmas Pembantu

2. BPM : berjumlah 1 BPM (Bidan Praktek Mandiri)

3. Posyandu : berjumlah 5 Posyandu

4.2 Data Umum

4.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Data karakteristik responden berdasarkan umur di Posyandu Desa

Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Tahun 2013 dapat dilihat

pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di Posyandu Desa


Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Tahun 2013
Umur Responden Jumlah Prosentase
kurang dari 20 tahun 3 5,8 %
20 tahun sampai dengan 35 tahun 46 88,5 %
lebih dari 35 tahun 3 5,8 %
Total 52 100 %
Sumber : Data Primer Tahun 2013

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar

responden berumur antara 20 tahun sampai dengan 35 tahun yaitu sejumlah 46

82
responden (88,5 %), sedangkan sebagian kecil responden berumur kurang dari 20

tahun dan lebih dari 35 tahun yaitu masing-masing sejumlah 3 responden (5,8%).

4.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Data karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir di Posyandu

Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Tahun 2013 dapat

dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir di


Posyandu Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk
Tahun 2013
Pendidikan Terakhir Jumlah Prosentase
Tidak Sekolah 0 0%
Tamat SD 8 15,4 %
Tamat SMP 10 19,2 %
Tamat SMA 33 63,5 %
Perguruan Tinggi/Akademi 1 1,9%
Total 52 100 %
Sumber : Data Primer Tahun 2013

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar

responden berpendidikan terakhir SMA yaitu sejumlah 33 responden (63,5 %),

sedangkan sebagian kecil responden berpendidikan terakhir Perguruan

Tinggi/Akademi yaitu sejumlah 1 responden (1,9%).

4.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

Data karakteristik responden berdasarkan pekerjaan di Posyandu Desa

Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Tahun 2013 dapat dilihat

pada tabel dibawah ini.

82
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Posyandu
Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Tahun
2013
Pekerjaan Jumlah Prosentase
Ibu Rumah Tangga 47 90,4 %
Buruh 2 3,8 %
Pedagang/Wiraswasta 3 5,8 %
Petani 0 0%
PNS 0 0%
Total 52 100 %
Sumber : Data Primer Tahun 2013

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar

responden tidak bekerja atau Ibu Rumah Tangga yaitu sejumlah 47 responden

(90,4 %), sedangkan sebagian kecil responden bekerja sebagai buruh yaitu

sejumlah 2 responden (3,8%).

4.2.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan Keluarga

Data karakteristik responden berdasarkan penghasilan keluarga di Posyandu

Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Tahun 2013 dapat

dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Penghasilan Keluarga di


Posyandu Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk
Tahun 2013

Penghasilan Keluarga Jumlah Prosentase


kurang dari Rp 500.000,- 19 36,5 %
Rp 500.000,- sampai Rp 1.000.000,- 26 50, %
Rp 1.001.000,- sampai Rp 1.500.000,- 6 11,5 %
Rp 1.501.000,- sampai Rp 2.000.000,- 0 0%
lebih dari Rp 2.000.000,- 1 1,9 %
Total 52 100 %
Sumber : Data Primer Tahun 2013

Berdasarkan Tabel 4.4 dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar

responden berpenghasilan antara RP 500.000,- sampai Rp. 1.000.000,- yaitu

82
sejumlah 26 responden (50 %), sedangkan sebagian kecil responden

berpenghasilan lebih dari Rp 2.000.000,- yaitu sejumlah 1 responden (1,9%).

4.2.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Bayi

Data karakteristik responden berdasarkan umur bayi di Posyandu Desa

Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Tahun 2013 dapat dilihat

pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan umur bayi di Posyandu


Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Tahun
2013
Umur Bayi Jumlah Prosentase
0-3 bulan 6 11.5
4-6 bulan 5 9.6
7-9 bulan 9 17.3
9-12 bulan 32 61.5
Total 52 100 %
Sumber : Data Primer Tahun 2013

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar

responden yang diteliti adalah responden yang mempunyai bayi umur 9-12 bulan

yaitu sejumlah 32 responden (61,5 %), sedangkan sebagian kecil responden yang

diteliti adalah responden yang mempunyai bayi umur 4-6 bulan yaitu sejumlah 5

responden (9,6 %).

4.2.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Bayi

Data karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin bayi di Posyandu

Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Tahun 2013 dapat

dilihat pada tabel dibawah ini.

82
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Bayi di
Posyandu Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk
Tahun 2013
Jenis Kelamin Jumlah Prosentase
Laki-laki 15 28,8 %
Perempuan 37 71,2 %
Total 52 100 %
Sumber : Data Primer Tahun 2013

Berdasarkan Tabel 4.6 dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar

responden yang diteliti adalah responden yang mempunyai bayi perempuan yaitu

sejumlah 37 responden (71,2 %), sedangkan sebagian kecil responden yang diteliti

adalah responden yang mempunyai bayi laki-laki yaitu sejumlah 15 responden

(28,8%).

4.3 Data Khusus

4.3.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Pemberian ASI dan Susu

Formula

Data karakteristik responden berdasarkan pemberian ASI dan susu formula

di Posyandu Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Tahun

2013 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI dan Susu Formula di Posyandu
Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Tahun
2013
Diberikan susu Jumlah Presentasi
ASI 41 78,8 %
Susu Formula 11 21,2 %
Jumlah 52 100 %
Sumber : Data Primer Tahun 2013

Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar

responden memberikan susu ASI yaitu sejumlah 41 responden (78,8 %) dan

82
sebagian kecil responden memberikan susu formula yaitu sejumlah 11 responden

(21,2 %).

4.3.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Kejadian Diare

Data karakteristik responden berdasarkan kejadian diare di Posyandu Desa

Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Tahun 2013 dapat dilihat

pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi kejadian diare di Posyandu Desa Pandantoyo


Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk Tahun 2013
Kejadian diare Jumlah Presentasi
Diare 19 36,5 %
Tidak Diare 33 63,5 %
Jumlah 52 100 %
Sumber : Data Primer Tahun 2013

Berdasarkan Tabel 4.8 dapat diinterpretasikan bahwa sebagian besar

responden yang bayinya tidak pernah menderita diare yaitu sejumlah 33

responden (63,5%) dan sebagian kecil responden yang bayinya pernah menderita

diare yaitu sejumlah 19 responden (36,5 %).

4.4 Analisa Hubungan Pemberian Susu Formula dengan Kejadian Diare

pada Bayi usia 0-12 bulan di Posyandu Desa Pandantoyo, Kecamatan

Kertosono, Kabupaten Nganjuk tahun 2013

Data karakteristik berdasarkan hubungan pemberian susu formula dengan

kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan di Posyandu Desa Pandantoyo,

Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk tahun 2013 dapat dilihat pada tabel

dibawah ini.

82
Tabel 4.9 Tabulasi silang hubungan pemberian susu formula dengan kejadian
diare pada bayi usia 0-12 bulan di Posyandu Desa Pandantoyo,
Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk tahun 2013
Sumber : Data Primer 2013
Diare Tidak Diare Total
Diberi ASI 5 33 38
(9,62 %) (63,46 %) (73,08 %)
Diberi susu formula 14 0 14
(26,92 %) (0 %) (26,92 %)
Total 19 33 52
(36,54 %) (63,46 %) (100 %)

Berdasarkan Tabel 4.9 tabulasi silang diatas, dapat diinterpretasikan bahwa bayi

yang diberi ASI dan pernah mengalami diare yaitu sejumlah 5 responden (9,62

%), bayi yang diberi ASI dan tidak pernah mengalami diare yaitu sejumlah 33

responden (63,46 %), bayi yang diberi susu formula dan pernah mengalami diare

yaitu sejumlah 14 responden (36,54 %), dan bayi yang diberi susu formula yang

tidak pernah mengalami diare yaitu sejumlah 0 responden (0 %).

4.5 Hasil Uji Statistik

Setelah diketahui hasil dari tabel cross tabulations atau tabulasi silang antara

pemberian susu formula dengan kejadian diare, kemudian data dianalisa untuk

mencari hubungan kedua variabel dengan rumus Chi-Square. Berdasarkan hasil

82
uji Chi-Square dengan menggunkan SPSS 16.0 for windows XP didapatkan X2

Hitung = 33,274 sedangkan X2 Tabel (α =0,05) df 1 =3,841 maka Ho ditolak, Ha

diterima dan dapat diambil kesimpulan Ada hubungan yang signifikan antara

pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan di

Posyandu Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk tahun

2013.

82
BAB 5

PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Menurut Elisabeth dalam Nursalam (2003) usia adalah umur individu yang

terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun terakhir. Sedangkan

Hurlock semakin cukup umur, tingkat kematangan dan ketekunan seseorang akan

lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat

seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang yang belum tinggi

kedewasaanya. Hal ini sebagai bagian dari pengalaman dan kematangan jiwa

(Wawan, 2010 : 17).

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berumur antara

20-35 tahun sebanyak 46 responden (88,5 %), sedangkan sebanyak 3 responden

berumur kurang dari 20 tahun, dan sebanyak 3 responden lainnya berumur lebih

dari 35 tahun.

Berdasarkan data tersebut maka disimpulkan bahwa sebagian besar

responden adalah ibu-ibu yang masih dalam masa produktif dimana pada masa

tersebut daya tangkap ibu terhadap segala bentuk informasi yang disampaikan

oleh tenaga kesehatan akan memperluas pengetahuan ibu tentang pemberian susu

formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan di Posyandu Desa

Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk tahun 2013.

82
5.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendidikan

terakhir SMA sebanyak 33 responden (63,5 %), sedangkan sebagian kecil

responden berpendidikan terakhir Perguruan Tinggi/Akademi yaitu sejumlah 1

responden (1,9%).

Pendidikan adalah suatu proses pertumbuhan dan perkembangan

manusia, usaha mengatur pengetahuan semula yang ada pada seorang individu itu.

Menurut Tirtahardja disebutkan fungsi dan tujuan pendidikan yaitu menanamkan

pengetahuan, mengubah sikap dan persepsi, menanamkan tingkah laku dan

kebiasaan. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan motivasi dari

lingkungan sekitar termasuk guru, orang tua dan lingkungan, sekitar yang

mempengaruhi konsentrasi. Pendidikan menjadi tolak ukur yang penting dan

manfaat menentukan status ekonomi, status sosial dan perubahan-perubahan

positif. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin banyak pula ilmu yang

telah diperolehnya, sehingga dengan banyaknya ilmu menunjukkan pengetahuan

yang tinggi dan sikap yang baik. Seseorang berpendidikan tinggi dan

berpengetahuan luas akan lebih bisa menerima alasan untuk memberikan ASI

eksklusif karena pola pikirnya yang lebih realistis dibandingkan yang tingkat

pendidikan rendah.

82
5.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak bekerja atau

sebagai ibu rumah tangga yaitu sebanyak 47 responden (90,4 %), sedangkan

sebagian kecil responden bekerja sebagai buruh yaitu sejumlah 2 responden

(3,8%).

Pekerjaan juga mempunyai hubungan yang erat dengan status sosial

ekonomi, sedangkan sikap yang timbul dalam keluarga sering berkaitan dengan

jenis pekerjaan yang mempengaruhi pendapatan keluarga. Pekerjaan adalah

sesuatu kegiatan yang dilakukan untuk menafkahi diri dan keluarga. Pekerjaan

bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah

yang membosankan, berulang dan banyak tantangan. Sedangkan bekerja pada

umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan

mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga. Ibu yang bekerja

mempunyai lingkungan yang lebih luas dan informasi yang didapatpun lebih

banyak sehingga dapat merubah perilaku-perilaku positif. Kesibukan sosial

lain serta kenaikan tingkat partisipasi wanita dalam angkatan kerja dan

adanya emansipasi dalam segala bidang kerja dan di kebutuhan masyarakat

menyebabkan turunnya kesediaan menyusui dan lamanya menyusui. Pada ibu

yang tidak bekerja akan memiliki banyak waktu untuk berinteraksi dengan

bayinya, sehingga kemungkinan sikap yang baik dalam pemberian ASI eksklusif

akan semakin besar. Lain halnya dengan ibu yang bekerja, mereka lebih banyak

menghabiskan waktunya untuk fokus pada pekerjaannya.

82
5.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai

penghasilan keluarga Rp 500.000,- sampai Rp 1.000.000,- yaitu sebanyak 26

responden (50 %), sedangkan sebagian kecil responden berpenghasilan lebih dari

Rp 2.000.000,- yaitu sejumlah 1 responden (1,9%). Status Sosial ekonomi adalah

tingkat kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Semakin

tinggi tingkat pendapatan seseorang semakin tinggi juga pendidikan, dan

semakin tinggi juga pengetahuan. Hal ini memberikan hubungan antara

pemberian ASI dengan ekonomi/penghasilan ibu dimana ibu yang mempunyai

ekonomi rendah mempunyai peluang lebih memilih untuk memberikan ASI

dibanding ibu dengan sosial ekonomi tinggi. Bertambahnya pendapatan

keluarga atau status ekonomi yang tinggi serta lapangan pekerjaan bagi

perempuan berhubungan dengan cepatnya pemberian susu formula, artinya

mengurangi kemungkinan untuk menyusui bayi dalam waktu yang lama. Dengan

pendapatan keluarga yang memadai diharapkan orang tua bisa memenuhi

kebutuhan anak dan menunjang tumbuh kembang anak tetapi tetap

memperhatikan usia dan nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi. Untuk mengatasi

sikap yang tidak baik dalam memberikan ASI Eksklusif maka perlu dilakukan

upaya yang serius dari berbagai pihak khususnya lembaga – lembaga kesehatan.

Upaya yang bisa dilakukan seperti memberikan penyuluhan pada saat ibu

antenatal care dan postpartum tentang manfaat dan keuntungan dari ASI

Eksklusif sehingga ibu lebih banyak yang cenderung memberikan ASI-nya pada

bayi.

82
5.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Bayi

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang diteliti

adalah responden yang mempunyai bayi umur 9-12 bulan yaitu sejumlah 32

responden (61,5 %), sedangkan sebagian kecil responden yang diteliti adalah

responden yang mempunyai bayi umur 4-6 bulan yaitu sejumlah 5 responden (9,6

%).

Umur adalah salah satu faktor yang menentukan jenis makanan apa yang

sesuai untuk diberikan pada bayi. Untuk bayi kurang dari 6 bulan, sebaiknya bayi

hanya diberi ASI saja dikarenakan alat pencernaan bayi masih belum sempurna.

Setelah umur 6 bulan, bayi sudah mulai diberikan makanan secara bertahap. Awal

diberikan bubur susu, bubur lumat, nasi tim, dan seterusnya.

5.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Bayi

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang diteliti

adalah responden yang mempunyai bayi perempuan yaitu sejumlah 37 responden

(71,2 %), sedangkan sebagian kecil responden yang diteliti adalah responden yang

mempunyai bayi laki-laki yaitu sejumlah 15 responden (28,8%).

Jenis kelamin tidak mempengaruhi terjadinya diare pada bayi, hanya saja

perkembangan dan pertumbungan pada masa bayi ini lebih cenderung lebih cepat

bayi laki-laki daripada perempuan.

82
5.7 Karakteristik Responden Berdasarkan Pemberian Susu Formula

Tabel 4.7 menunjukkan bahwa sebagian besar responden memberikan ASI

pada bayinya yaitu sejumlah 41 responden (78,8 %) dan sebagian kecil responden

memberikan susu formula yaitu sejumlah 11 responden (21,2 %).

Susu formula adalah susu dibuat dari susu sapi yang diubah komposisinya

sehingga dapat dipakai sebagai pengganti ASI. Kejadian diare pada bayi dapat

disebabkan karena kesalahan dalam pemberian makan, dimana bayi sudah

diberi makan selain ASI (Air Susu Ibu) sebelum berusia 6 bulan, khususnya susu

formula. Pemberian susu formula pada bayi baru lahir beresiko tinggi bagi

kesehatannya. Diketahui pencampuran dengan tingkat pengenceran yang salah

dan kebersihan air pencampur yang buruk menyebabkan bayi mudah terserang

penyakit Frekuensi pemberian susu formula tidak disarankan berlebihan dan

sebaiknya diimbangi oleh pemberian ASI. Hal ini diberikan agar meminimalkan

terjadinya infeksi pada saluran pencernaan anak usia 0-18 bulan seperti intoleransi

laktosa (Anonim, 2007 : 56).

Bayi yang diberi susu formula berkemungkinan 14,2 kali lebih sering

terkena diare dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI. Keadaan ini

menggambarkan seluruh produk ASI dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi.

Hal ini dapat disebabkan karena ASI mengandung nilai gizi yang tinggi, adanya

antibodi, sel-sel leukosit, enzim, hormon, dan lain-lain yang melindungi bayi

terhadap berbagai infeksi (Purwanti, 2005 : 9).

82
5.8 Karakteristik Responden Berdasarkan Kejadian Diare

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.8 diketahui bahwa sejumlah 19

responden (36,5 %) termasuk pada kategori bayinya pernah mengalami diare, dan

33 responden (63,5 %) termasuk pada kategori bayinya tidak pernah mengalami

diare.

Pemberian susu formula pada bayi baru lahir beresiko tinggi bagi

kesehatannya. Diketahui pencampuran dengan tingkat pengenceran yang salah

dan kebersihan air pencampur yang buruk menyebabkan bayi mudah terserang

penyakit salah satunya diare. Diare merupakan salah satu penyebab utama

kematian dan kesakitan terutama pada anak balita. Kematian dan kesakitan anak

balita masih menunjukkan angka yang cukup tinggi terutama dinegara

berkembang termasuk Indonesia. Sekitar 80% kematian karena diare terjadi pada

anak di bawah 2 tahun. Salah satu sebab diantaranya akibat pemberian susu

formula yang tidak higienis (Zulfito, 2007 : 7).

5.9 Hubungan pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi

usia 0-12 bulan

Penelitian ini, penulis hanya membahas tentang hubungan pemberian susu

formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan. Dari hasil penelitian

diketahui bahwa terdapat Hubungan antara pemberian susu formula dengan

kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan.

Pemberian susu formula pada bayi baru lahir beresiko tinggi bagi

kesehatannya. Begitu pula pencampuran dengan tingkat pengenceran yang

82
salah dan kebersihan air pencampur yang buruk menyebabkan bayi mudah

terserang penyakit. Frekuensi pemberian susu formula tidak disarankan

berlebihan dan sebaiknya diimbangi oleh pemberian ASI eksklusif. Hal ini

diberikan agar meminimalkan terjadinya infeksi pada saluran pencernaan bayi

usia 0-12 bulan seperti intoleransi laktosa. Dari hasil survei Kementrian

Kesehatan tahun 2007, angka kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan yang

mendapatkan ASI eksklusif lebih sedikit bila dibandingkan dengan anak yang

diberikan susu formula. Hal ini dikarenakan ASI eksklusif adalah asupan

yang aman dan bersih bagi bayi dan mengandung antibodi penting yang ada

dalam kolustrum, sehingga sangat kecil kemungkinan bagi kuman penyakit untuk

dapat masuk ke dalam tubuh bayi (Sadiyah, 2012 : 50-51).

Diare dapat dikatakan sebagai masalah pediatrik sosial karena diare

merupakan salah satu penyakit utama yang terdapat di negara berkembang,

dimana adanya faktor yang mempengaruhi terjadinya diare pada balita itu

sendiri yaitu diantaranya faktor penyebab (agent), penjamu (host), dan faktor

lingkungan (environment). Faktor penyebab (agent) yang dapat menyebabkan

kejadian diare pada balita diantaranya karena faktor infeksi, faktor malabsorbsi,

faktor makanan. Sedangkan dari faktor penjamu (host) yang menyebabkan diare

pada balita yaitu dari faktor status gizi balita dan faktor perilaku hygiene yang

buruk misalnya dalam perilaku mencuci tangan, kebersihan putting susu,

kebersihan dalam botol susu dan dot susu pada balita. Kemudian dari faktor

lingkungan (environment) yang menyebabkan balita terkena diare yaitu dari

kondisi sanitasi lingkungan yang kurang baik misalnya dalam penggunaan

82
kebersihan air yang digunakan untuk mengolah susu dan makanan balita

(Indarwati, 2011 : 9).

Perilaku yang kurang sehat sangat beresiko bagi bayi untuk terkena diare

karena pencernaan bayi belum mampu mencerna makanan selain ASI, bayi

kehilangan kesempatan untuk mendapatkan zat kekebalan yang hanya dapat

diperoleh dari ASI, adanya kemungkinan makanan yang diberikan bayi sudah

terkontaminasi oleh bakteri karena alat yang digunakan untuk memberikan

makanan atau minuman kepada bayi tidak steril. Berbeda dengan makanan padat

ataupun susu formula, ASI bagi bayi merupakan makanan yang paling sempurna.

Hal ini disebabkan karena ASI selain sebagai sumber nutrisi dapat memberi

perlindungan kepada bayi melalui berbagai zat kekebalan yang dikandungnya,

meskipun ibu dalam kondisi kekurangan gizi sekalipun, ASI tetap mengandung

nutrisi esensial yang cukup untuk bayi dan mampu mengatasi infeksi

melalui komponen sel fagosit dan imunoglobin. Adanya antibodi penting yang

ada dalam kolostrum dan ASI (dalam jumlah yang sedikit), selain itu ASI juga

selalu aman dan bersih sehingga sangat kecil kemungkinan bagi kuman penyakit

untuk dapat masuk ke dalam tubuh anak (Sadiyah, 2012 : 15)

Berdasarkan tabel 4.9 dapat dilihat bahwa bayi yang diberi ASI dan pernah

mengalami diare yaitu sejumlah 5 responden (9,62 %), bayi yang diberi ASI dan

tidak pernah mengalami diare yaitu sejumlah 33 responden (63,46 %), bayi yang

diberi susu formula dan pernah mengalami diare yaitu sejumlah 14 responden

(36,54 %), dan bayi yang diberi susu formula yang tidak pernah mengalami diare

yaitu sejumlah 0 responden (0 %). Sedangkan hubungan antara pemberian susu

82
formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan, berdasarkan uji Chi-

Square diperoleh nilai p value 0,000. Hal ini menunjukkan adanya hubungan

antara pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pemberian susu formula

berhubungan dengan kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan.

5.10 Keterbatasan, Kelemahan, dan Kelebihan dari Peneliti

5.10.1 Keterbatasan

Populasi yang digunakan hanya terbatas pada bayi usia 0-12 bulan di

Posyandu Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk.

Dikarenakan adanya keterbatasan biaya, waktu dan tenaga dan ini merupakan

penelitian pertama yang dilaksanakan oleh peneliti.

5.10.2 Kelemahan

Kelemahan dalam penelitian ini adalah penelitian hanya pada kejadian

diare pada bayi usia 0-12 bulan.

5.7.3 Kelebihan

Kelebihan yang berkaitan dengan proses penelitian yang dilaksanakan, pada

pengisian kuisioner oleh responden semuanya didampingi oleh peneliti untuk

mengurangi ketidakjujuran dalam pengisisian kuisioner.

82
BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang hubungan pemberian

susu formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan di Posyandu Desa

Pandantoyo, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk tahun 2013 dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut :

1. Dari 52 responden yang dilakukan penelitian, bayi usia 0-12 bulan di

Posyandu Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk

tahun 2013 yang diberi susu formula adalah sebanyak 11 bayi (21,2 %).

2. Dari 52 responden yang dilakukan penelitian, bayi usia 0-12 bulan di

Posyandu Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk

tahun 2013 yang pernah menderita diare adalah sebanyak 19 bayi (36,54

%).

3. Berdasarkan hasil uji Chi-Square dengan menggunkan SPSS 16.0 for

windows XP didapatkan X2 Hitung = 33,274 sedangkan X2 Tabel (α =0,05) df

1 =3,841 maka Ho ditolak, Ha diterima dan dapat diambil kesimpulan

Ada hubungan yang signifikan antara pemberian susu formula dengan

kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan di Posyandu Desa Pandantoyo

Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk tahun 2013.

82
6.2 Saran

6.2.1 Bagi Institusi

Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan untuk sumber kepustakaan

bagi institusi pendidikan dan menjadi suatu masukan yang berarti dan bermanfaat

untuk penelitian selanjutnya tentang hubungan pemberian susu formula dengan

kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan.

6.2.2 Bagi peneliti

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi pengalaman yang berharga

untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam melakukan penelitian.

6.2.3 Bagi tempat penelitian

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dan digunakan sebagai

masukan di Posyandu Desa Pandantoyo, Kecamatan Kertosono, Kabupaten

Nganjuk tentang hubungan pemberian susu formula dengan kejadian diare pada

bayi usia 0-12 bulan. Sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam memberikan

pelayanan yang bermutu.

6.2.4 Bagi Masyarakat

Diharapkan dari hasil penelitian ini masyarakat dapat mengerti dan

mengetahui resiko pemberian susu formula yaitu salah satunya diare, dan

masyarakat mengerti ASI adalah makanan terbaik bagi bayi 0-12 bulan.

82
Hasil analisa SPSS :

82
82
82