Anda di halaman 1dari 10

Hubungan Pemberian Susu Formula

dengan Kejadian Diare pada


Bayi Usia 0-12 Bulan

Eka Deviany Widyawaty


Akademi Kebidanan Wiyata Mitra Husada
ekadeviany49@gmail.com

ABSTRAK
Pemberian susu formula pada bayi baru lahir berisiko tinggi bagi kesehatannya. Diketahui
pencampuran dengan tingkat pengenceran yang salah dan kebersihan air pencampur yang buruk
menyebabkan bayi mudah terserang penyakit salah satunya diare. Diare merupakan salah satu
penyebab utama kematian dan kesakitan terutama pada anak balita. Kematian dan kesakitan anak
balita masih menunjukkan angka yang cukup tinggi terutama dinegara berkembang termasuk
Indonesia. Sekitar 80% kematian karena diare terjadi pada anak di bawah 2 tahun. Salah satu sebab
diantaranya akibat pemberian susu formula yang tidak higienis.
Penelitian ini merupakan penelitian analitik yang bersifat cross sectional. Sampel diambil
dengan teknik simple random sampling sejumlah 52 responden. Variabel independent adalah
pemberian susu formula, sedangkan variabel dependent adalah kejadian diare pada bayi usia 0-12
bulan. Pengumpulan data menggunakan kuisioner. Untuk menganalisis hubungan pemberian susu
formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan digunakan Uji Chi-Square dengan (α =
0,05).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi yang diberi ASI tetapi diare yaitu sejumlah 5 bayi
dan bayi yang di beri susu formula dan diare sejumlah 14 bayi. Dari hasil analisis menggunakan Uji
Chi-Square disimpulkan ada hubungan pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi usia
0-12 bulan di Posyandu Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk tahun 2013.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pemberian susu formula pada pada bayi 0-
12 bulan berisiko terjadinya diare.
Kata kunci : susu formula, diare

ABSTRACT
Giving of formula milk at newborn baby of high risk to its health. Known by mixing with wrong
thinning storey level and hygiene of water of pencampur ugly cause come down with easy baby one of
them diarrhoea. Diarrhoea represent one of the the root cause painfulness and death especially at
child of balita. Death and painfulness of child of balita still show number which high enough
especially developing countries of is including Indonesia. About 80% death because diarrhoea
happened at child under 2 year. One of the cause among others effect of giving of formula milk which
is not hygienic.
The study is a cross sectional analytic. Samples were taken by simple random sampling
technique a number 52 respondent. Independent variable is the feeding formula milk, while the
dependent variable is the accident diarrhea. Collecting data using questionnaries. To analyze feeding
relationship with the incidence of diarrhea in baby is 0-12 age used Chi-Square test with a
significance (α = 0,05).
The result showed that baby was gived exclusive breastfeeding but diarrhea is 5 baby, while
baby was gived formula milk and diarrhea is 14 baby. From the analysis using Chi-Square test
concluded there is formula feeding relationship with the incidence of diarrhea in baby 0-12 age in
infants in countryside of Kutorejo, district of Kertosono, sub-province of Nganjuk.
Based on the description above it can be that formula milk feeding relationship with the
incidence of diarrhea in baby 0-12 age can be diarrhea.
Keyword : formula milk, diarrhea
1. PENDAHULUAN penggunaan kebersihan air yang
Susu formula adalah susu dibuat digunakan untuk mengolah susu dan
dari susu sapi yang diubah komposisinya makanan balita (Indarwati, 2011 : 9).
sehingga dapat dipakai sebagai Faktor-faktor yang mempengaruhi
pengganti ASI. Kejadian diare pada bayi pemberian susu formula menurut ada
dapat disebabkan karena kesalahan beberapa faktor ibu mempengaruhi
dalam pemberian makan, dimana bayi pemberian susu formula pada bayi usia
sudah diberi makan selain ASI (Air Susu 0-12 bulan yaitu faktor pendidikan,
Ibu) sebelum berusia 6 bulan, khususnya pengetahuan, pekerjaan, ekonomi,
susu formula. Pemberian susu formula budaya, psikologis, informasi susu
pada bayi baru lahir beresiko tinggi bagi formula, kesehatan (Indrawati, 2011 : 5).
kesehatannya. Diketahui pencampuran Bayi yang diberi susu formula
dengan tingkat pengenceran yang salah berkemungkinan 14,2 kali lebih sering
dan kebersihan air pencampur yang terkena diare dibandingkan dengan bayi
buruk menyebabkan bayi mudah yang mendapat ASI. Keadaan ini
terserang penyakit salah satunya diare. menggambarkan seluruh produk ASI
Diare merupakan salah satu penyebab dapat terserap oleh sistem pencernaan
utama kematian dan kesakitan terutama bayi. Hal ini dapat disebabkan karena
pada anak balita. Kematian dan ASI mengandung nilai gizi yang tinggi,
kesakitan anak balita masih adanya antibodi, sel-sel leukosit, enzim,
menunjukkan angka yang cukup tinggi hormon, dan lain-lain yang melindungi
terutama dinegara berkembang termasuk bayi terhadap berbagai infeksi
Indonesia. Sekitar 80% kematian karena (Purwanti, 2005 : 9).
diare terjadi pada anak di bawah 2 tahun.
Salah satu sebab diantaranya akibat 2. TINJAUAN TEORI
pemberian susu formula yang tidak 2.1 Konsep Dasar Susu Formula
higienis (Zulfito, 2007 : 7). Susu formula adalah susu dibuat
Diare dapat dikatakan sebagai dari susu sapi yang diubah komposisinya
masalah pediatrik sosial karena diare sehingga dapat dipakai sebagai
merupakan salah satu penyakit utama pengganti ASI (Zulfito, 2007 : 7).
yang terdapat di negara berkembang, Jenis – jenis susu formula yaitu
dimana adanya faktor yang sebagai berikut :
mempengaruhi terjadinya diare pada 1. Starting formula (complete infant
balita itu sendiri yaitu diantaranya formula), yaitu formula awal (0 – 6
faktor penyebab (agent), penjamu bulan)
(host), dan faktor lingkungan a. Complete starting formula
(environment). Faktor penyebab (agent) Untuk bayi lahir normal tanpa
yang dapat menyebabkan kejadian diare ada syarat khusus.
pada balita diantaranya karena faktor b. Adapted starting formula
infeksi, faktor malabsorbsi, faktor Untuk bayi yang lahir dengan
makanan. Sedangkan dari faktor pertimbangan khusus untuk
penjamu (host) yang menyebabkan fisiologisnya dengan syarat
diare pada balita yaitu dari faktor status rendah mineral, digunakan lemak
gizi balita dan faktor perilaku hygiene tumbuhan sebagai sumber energi,
yang buruk misalnya dalam perilaku dan susunan zat gizi yang
mencuci tangan, kebersihan putting mendekati ASI. Susu jenis ini
susu, kebersihan dalam botol susu dan merupakan jenis yang paling
dot susu pada balita. Kemudian dari banyak mengalami penyesuaian
faktor lingkungan (environment) yang dan banyak beredar di pasaran.
menyebabkan balita terkena diare 2. Folow up formula (6 – 12 bulan)
yaitu dari kondisi sanitasi lingkungan 3. Special formula (formula diet)
yang kurang baik misalnya dalam a. Susu bebas laktosa
Susu ini untuk bayi yang kognitif merupakan hal yang sangat
mengalami intoleransi laktosa, penting dalam membentuk tindakan
dimana kondisi pencernaan bayi seseorang, salah satunya kurang
tidak tahan terhadap laktosa. memadainya pengetahuan ibu
b. Susu dengan protein hidrolisate mengenai pentingnya ASI yang
dan lemak sederhana menjadikan penyebab atau masalah
Susu ini ditujukan untuk bayi dalam peningkatan pemberian ASI.
dengan diare akut/kronis. Ibu yang memiliki pengetahuan
c. Susu formula bayi prematur dan kurang tentang pentingnya
BBLR (Berat Badan Lahir pemberian ASI ekslusif cenderung
Rendah kurang dari 2500 gram) memiliki perilaku yang kurang
d. Susu penambah energi baik dalam pemberian ASI
Susu ini dikategorikan sebagai eksklusif dan beranggapan makanan
menu tambahan atau pelengkap. pengganti ASI (susu formula) dapat
Bisa dikatakan juga sebagai membantu ibu dan bayinya, sehingga
pengganti makanan, karena ibu tidak memberikan ASI secara
kandungan gizinya cukup ekslusif kepada bayinya.
komplit. Biasanya diberikan pada 3. Ketidaktahuan ibu tentang pentingnya
anak yang sulit makan dan nafsu ASI, cara menyusui dengan benar,
makannya kurang. dan pemasaran yang dilancarkan
(Zulfito, 2007 : 7) secara agresif oleh para produsen
Menurut Indarwati, ada beberapa susu formula merupakan faktor
faktor ibu mempengaruhi pemberian penghambat terbentuknya kesadaran
susu formula pada bayi usia 0-12 orang tua dalam memberikan ASI
bulan yaitu faktor pendidikan, eksklusif dan kurangnya pengertian
pengetahuan, pekerjaan, ekonomi, perihal manfaat memberi ASI
budaya, psikologis, informasi susu ekslusif, iklan produk susu dan
formula, kesehatan. makanan buatan yang berlebihan
1. Pendidikan adalah suatu proses sehingga menimbulkan pengertian
pertumbuhan dan perkembangan yang tidak benar. Bahkan
manusia, usaha mengatur menimbulkan pengertian bahwa
pengetahuan semula yang ada pada susu formula lebih baik
seorang individu itu. Pendidikan dibandingkan ASI.
menjadi tolak ukur yang penting 4. Pekerjaan adalah sesuatu kegiatan
dan manfaat menentukan status yang dilakukan untuk menafkahi diri
ekonomi, status sosial dan dan keluarga. Ibu yang bekerja
perubahan-perubahan positif. mempunyai lingkungan yang lebih
Seseorang berpendidikan tinggi dan luas dan informasi yang didapatpun
berpengetahuan luas akan lebih bisa lebih banyak sehingga dapat
menerima alasan untuk memberikan merubah perilaku-perilaku positif.
ASI eksklusif karena pola pikirnya Kesibukan sosial lain serta kenaikan
yang lebih realistis dibandingkan tingkat partisipasi wanita dalam
yang tingkat pendidikan rendah. angkatan kerja dan adanya
Kriteria pendidikan yaitu sebagai emansipasi dalam segala bidang kerja
berikut SD/sederajat, SMP/sederajat, dan di kebutuhan masyarakat
SMA/sederajat, Perguruan Tinggi. menyebabkan turunnya kesediaan
2. Pengetahuan adalah hasil menyusui dan lamanya menyusui.
penginderaan manusia atau hasil 5. Sosial ekonomi adalah tingkat
tahu seseorang terhadap objek kemampuan seseorang untuk
malalui indera yang dimilikinya memenuhi kebutuhan hidup.
(mata, hidung, telinga dan Semakin tinggi tingkat pendapatan
sebagainya). Pengetahuan atau seseorang semakin tinggi juga
pendidikan, dan semakin tinggi juga tempat praktek swasta dan klinik-
pengetahuan. Hal ini memberikan klinik kesehatan masyarakat.
hubungan antara pemberian ASI 8. Masalah kesehatan seperti adanya
dengan ekonomi/ penghasilan ibu penyakit yang diderita sehingga
dimana ibu yang mempunyai dilarang oleh dokter untuk menyusui,
ekonomi rendah mempunyai peluang yang dianggap baik untuk
lebih memilih untuk memberikan kepentingan ibu dan bayi (seperti:
ASI dibanding ibu dengan sosial gagal jantung, Hb rendah dan HIV-
ekonomi tinggi. Bertambahnya AIDS).
pendapatan keluarga atau status (Indarwati, 2011 : 5-7)
ekonomi yang tinggi serta lapangan
pekerjaan bagi perempuan 2.2 Konsep Dasar Diare
berhubungan dengan cepatnya Diare adalah kehilangan banyak cairan
pemberian susu botol. Artinya dan elektrolit melalui tinja. Bayi kecil
mengurangi kemungkinan untuk mengeluarkan kira-kira 5 g/kgBB/hari.
menyusui bayi dalam waktu yang Jumlah ini akan meningkat sampai 200
lama. g/kgBB/hari pada orang dewasa (Nelson,
6. Meniru teman, tetangga atau orang 2000 :1273)
terkemuka yang memberikan susu Berdasarkan jenisnya diare dibagi
botol. Persepsi masyarakat gaya tiga yaitu sebagai berikut :
hidup mewah membawa dampak 1. Diare Akut
menurutnya kesediaan menyusui. Diare akut berlangsung kurang dari 7
Bahkan adanya pandangan bagi hari hingga 14 hari. Penyebab diare akut
kalangan tertentu bahwa susu botol yang paling sering ditemukan adalah
sangat cocok buat bayi dan organisme menular. Diare akut dapat
terbaik. Hal ini dipengaruhi oleh pula disebabkan oleh obat-obat atau
gaya hidup yang selalu mau meniru toksin yang termakan, penggunaan
orang lain. Merasa ketinggalan kemoterapi, pemberian kembali nutrisi
zaman jika menyusui bayinya. enteral setelah puasa yang lama atau
Budaya modern dan perilaku situasi tertentu, seperti lari maraton.
masyarakat yang meniru negara barat 2. Diare Kronis
mendesak para ibu untuk segera Diare kronis adalah diare yang menetap
menyapih anaknya dan memilih air selama berminggu-minggu atau
susu buatan sebagai jalan keluarnya. berbulan-bulan. Pada kebanyakan kasus,
7. Takut kehilangan daya tarik sebagai penyebab diare kronik adalah sindroma
seorang wanita. Adanya anggapan usus iritatif, tetapi adapun penyebab
para ibu bahwa menyusui akan diare kronik yang asal mulanya tidak
merusak penampilan. Padahal jelas diantaranya obat-obatan,
setiap ibu yang mempunyai bayi penyalahgunaan obat-obat laktasif,
selalu mengalami perubahan pertumbuhan bakteri yang berlebihan,
payudara, walaupun menyusui atau malabsorpsi karbohidrat, malabsorpsi
tidak menyusui. Peningkatan sarana asam empedu, dan lain sebagainya.
komunikasi dan transportasi yang 3. Diare persisten
memudahkan periklanan distribusi Diare persisten adalah diare yang mula-
susu buatan menimbulkan mula bersifat akut namun berlangsung
tumbuhnya kesediaan menyusui dan lebih dari 14 hari. Episode ini dapat
lamanya baik di Desa dan dimulai sebagai diare cair atau disentri.
perkotaan. Distribusi, iklan dan (Isselbacher, 2000 : 253-254)
promosi susu buatan berlangsung Penyebab diare digolongkan menjadi
terus dan bahkan meningkat titik dua penyebab yaitu secara langsung dan
hanya di televisi, radio dan surat secara tidak langsung. Penyebab langsung
kabar melainkan juga ditempat- merupakan penyakit langsung yang
disebabkan antara lain melalui infeksi 3. Selanjutnya faktor lingkungan
bakteri, virus dan parasit, malabsorbsi, (environment) yang merupakan
alergi, keracunan bahan kimia maupun epidemiologi diare atau penyebaran
keracunan oleh racun yang diproduksi diare sebagian besar disebabkan
oleh jasad ikan, buah dan sayuran. karena faktor lingkungan yaitu sanitasi
Sedangkan penyebab tidak langsung lingkungan yang buruk dan lingkungan
merupakan faktor-faktor yang sosial ekonomi.
mempermudah atau mempercepat (Indarwati, 2011 : 10)
terjadinya diare seperti keadaan gizi, Patofisiologi diare adalah sebagai
sanitasi lingkungan, perilaku hidup besih berikut :
dan sehat, kependudukan, sosial ekonomi 1. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi
(Indarwati, 2011 : 9). dehidrasi) yang mengakibatkan
1. Faktor penyebab (agent) diare dapat gangguan keseimbangan asam basa
dibagi menjadi empat faktor yaitu 2. Gangguan gizi akibat kelaparan
meliputi faktor infeksi, faktor (masukan kurang, pengeluaran
malabsorbsi, faktor makanan dan bertambah)
faktor psikologis. 3. Hipoglikemia
a. Infeksi 4. Gangguan sirkulasi darah
1) Enteral, yaitu infeksi yang terjadi (Ngastiyah, 2006 : 225)
dalam saluran pencernaan dan Tanda dan gejala pada anak yang
merupakan penyebab utama mengalami diare adalah sebagai berikut :
terjadinya diare 1. Cengeng, rewel
2) Parental, yaitu infeksi di bagian 2. Gelisah
tubuh lain di luar alat alat 3. Suhu meningkat
pencernaan, misalnya otitis media 4. Nafsu makan menurun
akut (OMA), tonsilofaringitis, 5. Feses cair dan berlendir, kadang juga
bronkopneumonia, ensafilitis, dan disertai dengan ada darahnya. Kelamaan,
sebagainya feses ini akan berwarna hijau dan asam
b. Malabsorbsi 6. Dehidrasi, bila menjadi dehidrasi berat
1) Karbohidrat akan terjadi penurunan volume dan
2) Lemak tekanan darah, nadi cepat dan kecil,
3) Protein peningkatan denyut jantung, penurunan
c. Makanan, misalnya pemberian susu kesadaran, dan diakhiri dengan syok.
formula, makanan basi, beracun, dan Berat badan menurun
alergi 7. Turgor kulit menurun
d. Psikologis, misalnya rasa takut atau 8. Mata dan ubun-ubun cekung
cemas 9. Selaput lendir dan mulut serta kulit
(Vivian, 2010 : 92) menjadi kering
2. Kemudian faktor penjamu (host) (Vivian, 2010 : 93)
yang menyebabkan diare yaitu Menurut Widjaja (2003) agen infeksi
keadaan gizi dan perilaku masyarakat. yang menyebabkan penyakit diare biasanya
Sedangakan menurut Yankes ditularkan melalui jalur fecal-oral, yang
Pangalengan (2009), faktor penjamu disebabkan karena :
yang menyebabkan terjadinya diare 1. Menelan makanan atau minum air yang
yaitu tidak memberikan ASI sampai 2 terkontaminasi (terutama makanan
tahun, keadaan gizi yang kurang, anak- sapihan) atau air.
anak yang sedang menderita campak 2. Kontak dengan tangan yang
dalam waktu 4 minggu terakhir terkontaminasi dan langsung dipakai
diakibatkan dari penurunan kekebalan untuk memegang makanan tanpa
tubuh panderita, umur, dan perilaku mencuci.
manusia yang tidak sehat. 3. Tidak memadainya penyediaan air
bersih.
4. Air tercemar oleh tinja. d. Memperbaiki curah jantung
5. Kurangnya sarana kebersihan e. Mencari faktor penyebab
(pembuangan tinja disembarang tempat). f. Mengobati penyebab
6. Kebersihan perorangan dan lingkungan g. Mencegah terjadinya kejang
yang jelek. (Saifuddin, 2007 : 379)
7. Penyimpanan makanan yang tidak 2. Diatetik (pemberian makanan)
sesuai. Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak
8. Tindakan penyapihan yang tidak baik diatas 1 tahun dengan berat badan
(memperhentikan ASI terlalu dini, susu kurang dari 7 kg jenis makanan yaitu
botol, pemberian ASI yang selang seling sebagai berikut :
dengan susu botol pada usia 4-6 bulan a. Susu (ASI atau susu formula yang
pertama). mengandung laktosa rendah dan
9. Faktor lain yang menunjang penularan asam lemak tidak jenuh, misalnya
penyakit diare adalah pendidikan yang LLM, almiron atau sejenis
kurang, tahayul, iklim yang panas dan lainnya).
lembab, jumlah anggota keluarga yang b. Makanan setengah padat (bubur)
besar, tingkat penghasilan, dan lain-lain. atau makanan padat (nasi tim),
Dengan bertambahnya pengetahuan, bila anak tidak mau minum susu
cara pengobatan terhadap penyakit diare karena dirumah tidak biasa.
dapat diperbaiki. c. Susu khusus yang disesuaikan
(Djojoningrat, 2006 : 45) dengan kelainan yang ditemukan
Adapun komplikasi diare adalah misalnya susu yang tidak
sebagai berikut : mengandung laktosa atau asam
1. Dehidrasi akibat kekurangan cairan dan lemak yang berantai sedang atau
elektrolit. tidak jenuh.
2. Renjatan hipovolemik akibat (Ngastiyah, 2006 : 229)
menurunnya volume darah dan apabila 3. Obat-obatan
penurunan volume darah mencapai 15 - a. Jumlah cairan yang diberikan
25 % berat badan maka akan adalah 100 ml/kg BB/hari
menyebabkan penurunan tekanan darah. sebanyak 1 kali setiap 2 jam, jika
3. Hipokalemia dengan gejala yang muncul diare tanpa dehidrasi. Sebanyak
adalah meteorismus, hipotoni otot, 50 % cairan ini diberikan dalam 4
kelemahan, bradikardia, dan perubahan jam pertama dan sisaya adlibitum.
pada pemeriksaan EKG. b. Sesuaikan dengan umur anak :
4. Hipoglikemia 1) < 2 tahun diberikan ½ gelas
5. Intoleransi laktosa sekunder sebagai 2) 2 – 6 tahun diberikan 1 gelas
akibat defisiensi enzim laktosa karena 3) > 6 tahun diberikan 400 cc (2
kerusakan vili mukosa usus halus. gelas)
6. Kejang c. Apabila dehidrasi ringan dan
7. Malnutrisi energi protein karena selain diarenya 4 kali sehari, maka
diare dan muntah, biasanya penderita diberikan cairan 25 – 100
mengalami kelaparan. ml/kg/BB dalam sehari atau setiap
(Vivian, 2010 : 93) jam 2 kali.
Prinsip perawatan diare adalah d. Oralit diberikan sebanyak ± 100
sebagai berikut : ml/kgBB setiap 4 – 6 jam pada
1. Pemberian cairan (rehidrasi awal dan kasus dehidrasi ringan sampai
rumatan) berat. Beberapa cara untuk
Prinsip penanganan dehidrasi, yaitu membuat cairan rumah tangga
sebagai berikut: (cairan RT), yaitu :
a. Mengatasi dehidrasi 1) Larutan gula garam (LGG)
b. Mencegah terjadinya syok 1 sendok the gula pasir + ½
c. Menjaga jalan nafas tetap bebas sendok teh garam dapur halus +
1 gelas air masak atau air teh menerus menyusui bayi pada saat
hangat bayinya sakit dan setelah sembuh
2) Air tajin (2 liter + 5 gram dari sakit.
garam) 2. Memperbaiki cara Penyapihan
Untuk mencegah terjadinya diare, Makanan tambahan yang bergizi dan
bermacam- macam cara telah dilakukan bersih dimulai ketika seorang anak
agar penyebab diare tidak masuk kedalam sekitar berumur sekitar 4- 6 bulan.
tubuh. Ada 6 cara yang telah Awalnya, makanan bubur lunak
direkomendasikan oleh (Depkes RI, 2007) adalah yang terbaik.
dan terbukti cukup efektif dalam mencegah a. Diet anak harus semakin bervariasi
penyakit diare, yaitu : dan meliputi: makanan pokok yang
1. Pemberian ASI ada dalam masyarakat (biasanya
a. Ibu sebaiknya hanya memberikan sereal atau umbi-umbian) buncis atau
air susu ibu untuk bayi mereka kacang-kacangan; beberapa makanan
selama 4-6 bulan, pertama dan yang berasal dari hewan, misalnya
kemudian dilanjutkan dengan susu, telur, atau daging dan sayuran
pemberian ASI sampai 2 tahun berdaun hijau atau berwarna jingga
pertama atau lebih, sambil b. Anak juga harus dibeli buah-buahan
memberikan makanan tambahan. atau jus buah, dan minyak sayur atau
b. Seorang Ibu baru harus diajarkan lemak harus ditambahkan pada
mengenai bagaimana cara makanan penyapihannya
menempatkan payudara kedalalam c. Minum lebih baik diberikan dengan
mulut bayi. Hal ini paling baik menggunakan cangkir atau sendok
dilakukan oleh seorang petugas daripada dengan botol
kesehatan wanita atau wanita lain d. Anggota keluarga harus menyuci
yang telah berhasil menyusui tangan mereka sebelum menyiapkan
anaknya sendiri. makanan penyapihan dan sebelum
c. Agar pemberian ASI berlangsung memberikan makanan pada bayinya
sangat efektif, maka ibu harus e. Makanan harus disajikan dalam
Mulai memberikan ASI segera suatu wadah yang bersih,
mungkin setelah bayi tersebut menggunakan panci dan perkakas
lahir, Menyusui menjadi yang bersih
kebutuhan (semakin sering anak f. Makanan yang tidak dimasak harus
mengisap, suplai susu semakin dibersihkan dengan air bersih
Banyak), mengeluarkan ASI sebelum dimakan
secara manual untuk menghindari g. Makanan yang dimasak harus
pembesaran payudara. dimakan selagi hangat, sebelumnya,
d. Selama periode pemisahan bayi makanan yang akan disajikan harus
sebaiknya tidak memberikan dipanaskan kembali dimakan
cairan apapun kepada bayi, seperti h. Makanan yang akan disimpan harus
misalnya air, air gula, atau susu ditutup dan disimpan dalam lemari es
formula, selama 4-6 bulan pertama (jika memungkinkan)
dari kehidupanya, apabila ibu 3. Penggunaan air untuk higienis dan air
bekerja diluar rumah dan tidak untuk minum
memungkinkan bagi ibu untuk a. Menggunakan air yang dapat
merawat anaknya, maka seorang disediakan dengan mudah untuk
ibu harus menyusui sebelum hygiene perorangan dan domestik
meninggalkan rumah, pada saat b. Air untuk minum sebaiknya
kembali pada malam harinya, dan didapatkan dari sumber-sumber air
pada saat kapan saja ketika yang ada sumber air harus dijaga
seorang ibu sedang bersama dengan : menghindari dari hewan,
anaknya. Seorang ibu harus terus lokalisasi jamban lebih dari 10 meter
dari sumber air dan bukit, dan Populasi dalam penelitian ini adalah
menggali parit saluran air dari sumber semua bayi usia 0-12 bulan di Posyandu
kearah yang lebih rendah untuk Desa Pandantoyo, Kecamatan
mengalirkan air buangan. Kertosono, Kabupaten Nganjuk tahun
c. Air diletakan dan disimpan dalam 2013, yaitu sebanyak 61 bayi. Sampel
wadah yang bersih dan tertutup. dalam penelitian ini adalah bayi usia 0-
Pengambilan air dan wadah 12 bulan di Posyandu Desa Pandantoyo,
penyimpanan harus menggunakan Kecamatan Kertosono, Kabupaten
gayung bertangkai panjang yang Nganjuk tahun 2013 yang sampel telah
bersih memenuhi kriteria inklusi yang
d. Air yang digunakan untuk membuat berjumlah 52 bayi usia 0-12 bulan.
makanan dan minuman harus direbus Dalam penelitian ini, peneliti
terlebih dahulu menggunakan teknik simple random
4. Mencuci tangan sampling.
Seluruh keluarga harus mencuci tangan Instrumen yang dipakai dalam
mereka pada saat : penelitian ini adalah kuesioner. Jenis
a. Membersihkan anak yang habis kuesioner yang digunakan adalah
membuang air besar, dan setelah kuesioner tertutup dimana angket
membuang kotoran anak tersebut dibuat sedemikian rupa
b. Setelah membersihkan buang air sehingga responden hanya tinggal
besar memilih atau menjawab pada jawaban
c. Sebelum menyajikan makanan yang sudah ada (Hidayat, 2010 : 98).
d. Sebelum makan Jumlah kuesioner dalam penelitian ini
e. Sebelum memberi makan anak berjumlah 20 soal.
5. Penggunaan Jamban
Seluruh keluarga harus memiliki jamban 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
yang bersih dan fungsi dengan baik serta Pemberian susu formula pada
membersihkanya secara teratur. bayi baru lahir beresiko tinggi bagi
6. Membuang kotoran anak secara benar kesehatannya. Begitu pula
a. Kotoran anak atau bayi harus segera pencampuran dengan tingkat
diangkat, dibungkus dengan daun pengenceran yang salah dan
atau koran dan dipendam atau kebersihan air pencampur yang buruk
dibuang didalam jamban menyebabkan bayi mudah terserang
b. Setelah anak buang air besar harus penyakit. Frekuensi pemberian susu
segera dibersihkan dan tangan anak formula tidak disarankan berlebihan
harus dicuci dan sebaiknya diimbangi oleh
(Sadiyah, 2012 : 32-35) pemberian ASI eksklusif. Hal ini
diberikan agar meminimalkan terjadinya
3. METODE PENELITIAN infeksi pada saluran pencernaan bayi
Pada penelitian ini peneliti usia 0-12 bulan seperti intoleransi
bertujuan untuk menganalisa hubungan laktosa. Dari hasil survei Kementrian
pemberian susu formula dengan Kesehatan tahun 2007, angka kejadian
kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan diare pada bayi usia 0-12 bulan yang
di Posyandu Desa Pandantoyo, mendapatkan ASI eksklusif lebih
Kecamatan Kertosono, Kabupaten sedikit bila dibandingkan dengan anak
Nganjuk tahun 2013”. Jenis penelitian yang diberikan susu formula. Hal ini
analitik, dan rancangan penelitian yang dikarenakan ASI eksklusif adalah
digunakan cross sectional. asupan yang aman dan bersih bagi
Penelitian ini dilakukan di Posyandu bayi dan mengandung antibodi penting
Desa Pandantoyo, Kecamatan yang ada dalam kolustrum, sehingga
Kertosono, Kabupaten Nganjuk pada sangat kecil kemungkinan bagi kuman
bulan Juni tahun 2013 selama 2 minggu.
penyakit untuk dapat masuk ke dalam ASI bagi bayi merupakan makanan yang
tubuh bayi (Sadiyah, 2012 : 50-51). paling sempurna. Hal ini disebabkan
Diare dapat dikatakan sebagai karena ASI selain sebagai sumber
masalah pediatrik sosial karena diare nutrisi dapat memberi perlindungan
merupakan salah satu penyakit utama kepada bayi melalui berbagai zat
yang terdapat di negara berkembang, kekebalan yang dikandungnya,
dimana adanya faktor yang meskipun ibu dalam kondisi
mempengaruhi terjadinya diare pada kekurangan gizi sekalipun, ASI tetap
balita itu sendiri yaitu diantaranya mengandung nutrisi esensial yang
faktor penyebab (agent), penjamu cukup untuk bayi dan mampu
(host), dan faktor lingkungan mengatasi infeksi melalui komponen
(environment). Faktor penyebab (agent) sel fagosit dan imunoglobin. Adanya
yang dapat menyebabkan kejadian diare antibodi penting yang ada dalam
pada balita diantaranya karena faktor kolostrum dan ASI (dalam jumlah yang
infeksi, faktor malabsorbsi, faktor sedikit), selain itu ASI juga selalu aman
Diare Tidak Total dan bersih sehingga sangat kecil
Diare kemungkinan bagi kuman penyakit
Diberi 5 33 38 untuk dapat masuk ke dalam tubuh anak
ASI (9,62 %) (63,46 %) (73,08 %) (Sadiyah, 2012 : 15)
Diberi 14 0 14 Tabel 3.1 Tabulasi silang hubungan pemberian
susu (26,92 %) (0 %) (26,92 %) susu formula dengan kejadian diare
formul pada bayi usia 0-12 bulan di
a Posyandu Desa Pandantoyo,
Total 19 33 52 Kecamatan Kertosono, Kabupaten
(36,54 %) (63,46 %) (100 %) Nganjuk tahun 2013
makanan. Sedangkan dari faktor Sumber : Data Primer 2013
penjamu (host) yang menyebabkan
diare pada balita yaitu dari faktor status Berdasarkan tabel 3.1 dapat dilihat
gizi balita dan faktor perilaku hygiene bahwa bayi yang diberi ASI dan pernah
yang buruk misalnya dalam perilaku mengalami diare yaitu sejumlah 5
mencuci tangan, kebersihan putting responden (9,62 %), bayi yang diberi
susu, kebersihan dalam botol susu dan ASI dan tidak pernah mengalami diare
dot susu pada balita. Kemudian dari yaitu sejumlah 33 responden (63,46 %),
faktor lingkungan (environment) yang bayi yang diberi susu formula dan
menyebabkan balita terkena diare pernah mengalami diare yaitu sejumlah
yaitu dari kondisi sanitasi lingkungan 14 responden (36,54 %), dan bayi yang
yang kurang baik misalnya dalam diberi susu formula yang tidak pernah
penggunaan kebersihan air yang mengalami diare yaitu sejumlah 0
digunakan untuk mengolah susu dan responden (0 %). Sedangkan hubungan
makanan balita (Indarwati, 2011 : 9). antara pemberian susu formula dengan
Perilaku yang kurang sehat sangat kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan,
beresiko bagi bayi untuk terkena diare berdasarkan uji Chi-Square diperoleh
karena pencernaan bayi belum mampu nilai p value 0,000. Hal ini menunjukkan
mencerna makanan selain ASI, bayi adanya hubungan antara pemberian susu
kehilangan kesempatan untuk formula dengan kejadian diare pada bayi
mendapatkan zat kekebalan yang hanya usia 0-12 bulan.
dapat diperoleh dari ASI, adanya Berdasarkan uraian diatas dapat
kemungkinan makanan yang diberikan disimpulkan bahwa pemberian susu
bayi sudah terkontaminasi oleh bakteri formula berhubungan dengan kejadian
karena alat yang digunakan untuk diare pada bayi usia 0-12 bulan.
memberikan makanan atau minuman
kepada bayi tidak steril. Berbeda dengan 5. KESIMPULAN
makanan padat ataupun susu formula,
Ada hubungan yang signifikan D-IV Gizi klinik Jurusan
antara pemberian susu formula dengan Kesehatan Politeknik Negeri
kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan Jember, Jember.
di Posyandu Desa Pandantoyo Saifuddin, Abdul Bari. 2007. Buku
Kecamatan Kertosono Kabupaten Acuan Nasional Pelayanan
Nganjuk tahun 2013. Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : Yayasan
6. SARAN Bina Pustaka Sarwono
Perlu dilakukan penelitian lebih Prawirohardjo.
lanjut tentang cara pemberian susu Vivian, Nanny Lia Dewi. 2010. Asuhan
formula pada setiap responden dengan Neonatus Bayi dan Anak
kejadian diare pada bayi. Balita. Jakarta : Salemba
Medika.
7. DAFTAR PUSTAKA Zulfito, M. 2007. Buku Pintar Menu
Bayi Cetakan I. Jakarta :
Djojoningrat. 2006. Ilmu Penyakit Wahyu Media.
Dalam Edisi 4. Jakarta:
Pusat. Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran.
Indarwati, Puspitasari. 2011. Gambaran
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Pemberian
Susu Formula Pada Ibu
Yang Mempunyai Bayi Usia
0 – 6 Bulan di Bidan
Praktek Swasta Hj. Renik
Suprapti Kelurahan
Bantarsoka Kecamatan
Purwokerto Barat
Kabupaten Banyumas Tahun
2011. Karya Tulis Ilmiah,
Program studi DIII
Kebidanan Stikes Harapan
Bangsa, Banyumas.
Isselbacher. 2000. Harrison Prinsip-
prinsip Ilmu penyakit dalam
volume 1 edisi 13. Jakarta :
EGC.
Ngastiyah. 2006 . Perawatan Anak Sakit
Edisi 2. Jakarta : EGC.
Purwanti, S.H. 2005 . Konsep
Penerapan ASI Eksklusif.
Jakarta : EGC.
Sadiyah, Lailatus. 2012. Perbedaan
Pemberian Asi Eksklusif dan
Susu Formula Terhadap
Frekuensi Diare Akut Anak
Umur 0-18 Bulan Di
Puskesmas Sumbersari
Kabupaten Jember. Karya
Tulis Ilmiah, Program Studi