Anda di halaman 1dari 9

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Susu formula adalah susu dibuat dari susu sapi yang diubah komposisinya

sehingga dapat dipakai sebagai pengganti ASI. Kejadian diare pada bayi dapat

disebabkan karena kesalahan dalam pemberian makan, dimana bayi sudah

diberi makan selain ASI (Air Susu Ibu) sebelum berusia 6 bulan, khususnya susu

formula. Pemberian susu formula pada bayi baru lahir beresiko tinggi bagi

kesehatannya. Diketahui pencampuran dengan tingkat pengenceran yang salah

dan kebersihan air pencampur yang buruk menyebabkan bayi mudah terserang

penyakit salah satunya diare. Diare merupakan salah satu penyebab utama

kematian dan kesakitan terutama pada anak balita. Kematian dan kesakitan anak

balita masih menunjukkan angka yang cukup tinggi terutama dinegara

berkembang termasuk Indonesia. Sekitar 80% kematian karena diare terjadi pada

anak di bawah 2 tahun. Salah satu sebab diantaranya akibat pemberian susu

formula yang tidak higienis (Zulfito, 2007 : 7).

Diare dapat dikatakan sebagai masalah pediatrik sosial karena diare

merupakan salah satu penyakit utama yang terdapat di negara berkembang,

dimana adanya faktor yang mempengaruhi terjadinya diare pada balita itu

sendiri yaitu diantaranya faktor penyebab (agent), penjamu (host), dan faktor

lingkungan (environment). Faktor penyebab (agent) yang dapat menyebabkan

kejadian diare pada balita diantaranya karena faktor infeksi, faktor malabsorbsi,

1
2

faktor makanan. Sedangkan dari faktor penjamu (host) yang menyebabkan diare

pada balita yaitu dari faktor status gizi balita dan faktor perilaku hygiene yang

buruk misalnya dalam perilaku mencuci tangan, kebersihan putting susu,

kebersihan dalam botol susu dan dot susu pada balita. Kemudian dari faktor

lingkungan (environment) yang menyebabkan balita terkena diare yaitu dari

kondisi sanitasi lingkungan yang kurang baik misalnya dalam penggunaan

kebersihan air yang digunakan untuk mengolah susu dan makanan balita

(Indarwati, 2011 : 9).

Susu formula disusun agar komposisi dan kadar nutrisinya memenuhi

kebutuhan bayi secara fisiologis serupa dengan komposisi ASI, namun beberapa

peran ASI belum mampu digantikan oleh susu formula seperti peran

bakteriostatik, anti alergi atau peran psikososial. Hal tersebut terjadi karena anak

sebelum usia 6 bulan sistem pencernaan bayi belum sempurna dan belum mampu

menolak faktor alergi ataupun kuman yang masuk. Bayi yang diberikan susu

formula biasanya mudah sakit dan sering mengalami problema kesehatan seperti

sakit diare dan lain-lain yang memerlukan pengobatan sedangkan anak yang

diberikan ASI biasanya jarang mendapat sakit dan apabila sakit biasanya ringan

dan jarang memerlukan perawatan (Purwanti, 2005 : 45)

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian susu formula menurut ada

beberapa faktor ibu mempengaruhi pemberian susu formula pada bayi usia 0-12

bulan yaitu faktor pendidikan, pengetahuan, pekerjaan, ekonomi, budaya,

psikologis, informasi susu formula, kesehatan (Indrawati, 2011 : 5).

2
3

Baik tenaga kesehatan maupun masyarakat luas masih banyak yang

berpikir bahwa susu formula memiliki kualitas gizi yang sama baiknya atau

bahkan lebih baik dari ASI, sehingga sering kita dengar, sebagian masyarakat

mengatakan dengan bangga bahwa buah hatinya minum susu dengan merk

tertentu dimana semakin mahal harga sebuah produk susu formula maka semakin

tinggi derajat orangtua di mata masyarakat. Faktanya ternyata susu formula

memiliki risiko tinggi terhadap masa depan kesehatan anak manusia. Bukan

sekedar risiko jangka pendek dan menengah, namun yang perlu diperhatikan

adalah risiko jangka panjang dari penggunaan susu formula. Selain faktor

pengetahuan ibu, atau kurangnya informasi yang ibu dapat setelah melahirkan,

pengaruh kemajuan teknologi dalam perubahan sosial budaya juga menyebabkan

ibu-ibu di perkotaan umumnya, memberikan susu formula, karena susu formula

merupakan alternatif tercepat yang mereka pilih untuk mengatasi kebutuhan bayi

selama mereka bekerja, hal ini menjadi kendala tersendiri bagi kelangsungan

pemberian ASI eksklusif (Wahyu, 2008 : 8).

Perilaku yang kurang sehat sangat beresiko bagi bayi untuk terkena diare

karena pencernaan bayi belum mampu mencerna makanan selain ASI, bayi

kehilangan kesempatan untuk mendapatkan zat kekebalan yang hanya dapat

diperoleh dari ASI, adanya kemungkinan makanan yang diberikan bayi sudah

terkontaminasi oleh bakteri karena alat yang digunakan untuk memberikan

makanan atau minuman kepada bayi tidak steril. Berbeda dengan makanan padat

ataupun susu formula, ASI bagi bayi merupakan makanan yang paling sempurna.

Hal ini disebabkan karena ASI selain sebagai sumber nutrisi dapat memberi

3
4

perlindungan kepada bayi melalui berbagai zat kekebalan yang dikandungnya,

meskipun ibu dalam kondisi kekurangan gizi sekalipun, ASI tetap mengandung

nutrisi esensial yang cukup untuk bayi dan mampu mengatasi infeksi

melalui komponen sel fagosit dan imunoglobin. Adanya antibodi penting yang

ada dalam kolostrum dan ASI (dalam jumlah yang sedikit), selain itu ASI juga

selalu aman dan bersih sehingga sangat kecil kemungkinan bagi kuman penyakit

untuk dapat masuk ke dalam tubuh anak (Sadiyah, 2012 : 15)

Bayi yang diberi susu formula berkemungkinan 14,2 kali lebih sering

terkena diare dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI. Keadaan ini

menggambarkan seluruh produk ASI dapat terserap oleh sistem pencernaan bayi.

Hal ini dapat disebabkan karena ASI mengandung nilai gizi yang tinggi, adanya

antibodi, sel-sel leukosit, enzim, hormon, dan lain-lain yang melindungi bayi

terhadap berbagai infeksi (Purwanti, 2005 : 9).

Penyakit diare di Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan

masyarakat yang utama. Hal ini disebabkan karena masih tingginya angka

kesakitan diare yang menimbulkan banyak kematian terutama pada balita. Di

Indonesia dilaporkan secara keseluruhan pada tahun 2012 diperkirakan angka

kesakitan diare sebesar 423 per 1000 penduduk pada semua usia sehingga

dari data diatas dapat kita peroleh prosentase dari jumlah kasus diare di Indonesia

mencapai 42,3 % (Anonim, 2012 : 14).

Sesuai data yang diperoleh dari jurnal kemenkes provinsi Jawa Timur,

jumlah penderita diare di Jawa Timur mencapai 1.063.949 kasus dan 403.611

4
5

kasus diantaranya balita. sehingga dapat diketahui prosentase dari jumlah kasus

diare pada balita di Provinsi Jawa Timur mencapai 37,94 % dari semua umur.

Sementara itu, kejadian diare di Kabupaten Nganjuk pada tahun 2012 untuk kasus

diare pada balita mencapai 11553 balita dari 167.442 balita, sehingga dapat

diketahui prosentase dari jumlah kasus diare pada balita di Kabupaten Nganjuk

mencapai 6,9% (Anonim, 2012 : 18).

Kecamatan Kertosono merupakan salah satu dari 20 kecamatan yang ada di

Kabupaten Nganjuk. Berdasarkan data dari Puskesmas Kertosono, penderita diare

pada tahun 2012 mencapai 301 penderita secara keseluruhan, sedangkan

pada balita menurut kategori usia kurang dari satu tahun mencapai 22,59% (68

balita). Sedangkan angka kesakitan pada balita di Desa Pandantoyo pada tahun

2012 mencapai 6 bayi dari 61 bayi, sehingga diketahui prosentase dari angka

kesakitan diare pada bayi adalah 9,8%.

Dari banyaknya kejadian diare tersebut, pemerintah mengupayakan

penanggulangan penyakit diare, terutama diare pada bayi sudah dilakukan melalui

peningkatan kondisi lingkungan baik melalui program proyek desa tertinggal

maupun proyek lainnya, namun sampai saat ini belum mencapai tujuan yang

diharapkan, karena kejadian penyakit diare masih belum menurun. Apabila diare

pada balita ini tidak ditangani secara maksimal dari berbagai sektor dan bukan

hanya tanggung jawab pemerintah saja tetapi masyarakatpun diharapkan dapat

ikut serta menanggualangi dan mencegah terjadinya diare pada bayi, karena

apabila hal tersebut tidak dilaksanakan maka dapat menimbulkan kerugaian baik

5
6

itu kehilangan biaya untuk pengobatan yang cukup besar ataupun dapat pula

menimbulkan kematian pada bayi yang terkena diare (Wahyu, 2008 : 9).

Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk mengambil judul

penelitian tentang “Hubungan pemberian susu formula dengan kejadian diare

pada bayi usia 0-12 bulan di Posyandu Desa Pandantoyo, Kecamatan Kertosono,

Kabupaten Nganjuk”.

1.2 Identifikasi Penyebab Masalah

Dengan melihat data diatas maka faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian

diare pada bayi diantaranya : agent (faktor infeksi, faktor malabsorbsi, faktor

makanan termasuk pemberian susu formula), host (faktor status gizi bayi dan

faktor perilaku hygiene yang buruk misalnya dalam perilaku mencuci tangan,

kebersihan puting susu, kebersihan dalam botol susu dan dot susu pada bayi),

dan environment (kondisi sanitasi lingkungan yang kurang baik misalnya

dalam penggunaan kebersihan air yang digunakan untuk mengolah susu dan

makanan bayi). Susu formula yang diberikan pada bayi akan terkontaminasi

bakteri dan virus apabila teknik pemberiannya tidak benar hal tersebut dapat

mengakibatkan diare pada bayi.

Dari faktor tersebut di atas yang masih perlu dilakukan penelitian tentang

hubungan pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi usia 0-12

bulan di Posyandu Desa Pandantoyo, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk

tahun 2013.

6
7

1.3 Rumusan Masalah

Dengan memperhatikan latar belakang diatas, maka peneliti merumuskan

masalah sebagai berikut “Adakah hubungan antara pemberian susu formula

dengan kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan di Posyandu Desa Pandantoyo,

Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk tahun 2013 ?”.

1.4 Tujuan

1.4.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan pemberian susu formula pada bayi usia 0-12 bulan

dengan kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan di Posyandu Desa Pandantoyo,

Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk tahun 2013.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi pemberian susu formula di Posyandu Desa Pandantoyo,

Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk tahun 2013.

2. Mengidentifikasi kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan di Posyandu Desa

Pandantoyo, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk tahun 2013.

3. Menganalisa hubungan antara pemberian susu formula dengan kejadian

diare pada bayi usia 0-12 bulan di Posyandu Desa Pandantoyo, Kecamatan

Kertosono, Kabupaten Nganjuk tahun 2013.

7
8

1.5 Manfaat

1.5.1 Manfaat Teoritis

Menerapkan ilmu yang didapatkan dalam meningkatkan perkembangan ilmu

kesehatan secara nyata khususnya mengenai pemberian susu formula dengan

kejadian diare pada bayi usia 0-12 bulan dan bagi peneliti selanjutnya dapat

digunakan sebagai referensi dalam penelitian selanjutnya tentang diare.

1.5.2 Manfaat Praktis

1. Bagi Institusi

Hasil penelitian ini dimaksudkan untuk sumber bagi institusi pendidikan dan

menjadi suatu masukan yang berarti dan bermanfaat untuk penelitian

selanjutnya tentang hubungan pemberian susu formula dengan kejadian

diare pada bayi usia 0-12 bulan di Posyandu Desa Pandantoyo, Kecamatan

Kertosono, Kabupaten Nganjuk tahun 2013.

2. Bagi peneliti

Hasil penelitian ini merupakan pengalaman yang berharga untuk

meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam melakukan penelitian.

3. Bagi tempat penelitian

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dan digunakan sebagai masukan di

Posyandu Desa Pandantoyo, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk

tentang hubungan pemberian susu formula dengan kejadian diare pada bayi

usia 0-12 bulan. Sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam

memberikan pelayanan yang bermutu.

8
9

4. Bagi Masyarakat

Hasil penelitian ini dimaksudkan agar masyarakat mengerti dan mengetahui

resiko pemberian susu formula yaitu salah satunya diare, dan masyarakat

mengerti ASI adalah makanan terbaik bagi bayi 0-12 bulan.