Anda di halaman 1dari 5

Fungsi Pergerakan Usus Halus

Pergerakan usus halus berfungsi agar proses digesti dan absorbsi bahan-bahan makanan
dapat berlangsung secara maksimal. Pergerakan pada usus halus terdiri dari:

1. Pergerakan Segmentasi atau mencampur (mixing)

Pergerakan mencampur (mixing) atau pergerakan segmentasi yang mencampur makanan


dengan enzim-enzim pencernaan agar mudah untuk dicerna dan diabsorbsi.

Otat yang berperan sebagai actor utama pada kontraksi segmentasi untuk mencampur
makanan adalah otot longitudinal. Bila bagian mengalami distensi oleh makanan, dinding usus
halus akan berkontraksi secara lokal. Tiap kontraksi ini melibatkan segmen usus halus sekitar 1-4
cm. Pada saat satu segmen usus halus yang berkontraksi mengalami relaksasi, segmen lainnya
segera akan memulai kontraksi, demikian seterusnya. Bila usus halus berelaksasi, makanan akan
kembali keposisisnya semula. Gerakan ini berulang terus sehingga makanan akan bercampur
dengan enzim pencernaan dan mengadakan hubungan dengan mukosa usus halus dan selanjutnya
terjadi absorbsi. Kontraksi segmentasi berlangsung oleh karena adanya gelombang lambat yang
merupakan basic electrical rhytm (BER) dari otot polos saluran cerna. Proses kontraksi
segmentasi berlangsung 8 sampai 12 kali/menit pada duodenum, 9 kali/menit, dan sekitar 7
kali/menit pada ileum, dan setiap kontraksi berlangsung 5 sampai 6 deik.

2. Pergerakan Peristaltik atau Propulsif.

Pergerakan profulsif atau gerakan peristaltic yang mendorong makanan kea rah usus
besar (colon). Pembagaian pergerakan ini sebenarnya sulit dibedakan oleh kareana sebagianbesar
pergerakan usus halus merupakan kombinasi dari kedua gerakan tersebut di atas. Gerakan
peristaltic pada usus halus mendorong makanan menuju kearah kolon dengan kecepatan 0,5
sampai 2 cm/detik, dimana pada bagian proksimal lebih cepat dibandingkan pada bagian distal.
Gerakan peristaltic ini sangat lemah dan biasanya menghilang setelah berlangsungsekitar 3
sampai 5 cm, dan jarang lebih dari 10 cm. rata-rata pergerakan makanan pada usus halus hanya 1
cm/menit. Ini berarti pada keadaan normal , makanan dari pylorus akan tiba di ileocaecal
junction dalam waktu 3-5 jam.

Jenis-Jenis Neurontransmiter yang Disekresi oleh Neuron-Neuron Enterik

Dalam usaha untuk lebih memahami berbagai fungsi sistem saraf enterik gastrointestinal, para
peneliti dari seluruh dunia telah mengidentifikasikan selusin atau lebih zat-zat neurontransmiter
yang berbeda yang dilepaskan oleh ujung-ujung saraf dari berbagai tipe neuron enterik. Dua dari
neurontransmiter yang telah kita kenal adalah (1) asetilkolin, dan (2) norepinefrin/Adrenalin.
Asetilkolin paling sering merangsang aktivitas gastrointestinal. Norepinefrin/Adrenalin, hampir
selalu menghambat aktivitas gastrointestinal. Hal ini juga berlaku pada epinefrin, yang mencapai
traktus gastrointestinal terutama lewat aliran darah setelah disekresikan oleh medula adrenal ke
dalam sirkulasi. Substansi transmiter lain yang disebutkan tadi adalah gabungan dari bahan-
bahan eksitator dan inhibitor.

Asetilkolin (Ach) merupakan neurontransmiter yang dikeluarkan oleh semua serat praganglion
otonom, serat pascaganglion parasimpatis, dan neuron motorik.

Epinefrin/Adrenalin hormon primer yang dikeluarkan oleh medula adrenal

Tempat pengeluaran Asetilkolin dan Norepinefrin


ASETILKOLIN NOREPINEFRIN/ADRENALIN
Semua ujung (terminal) praganglion system Sebagian besar ujung pascaganglion simpatis
saraf otonom

Semua ujung pascaganglion parasimpatis Medulla adrenal

Ujung pascaganglion simpatis di kelenjanr Susunan saraf pusat


keringat dan sebagian pembuluh darah di otot
rangka

Ujung neuron aferen yang mempersarafi otot


rangka (neuron motorik)

Susunan saraf pusat

Pengaturan Otonom Traktus Gastrointestinal

Jalur saraf otonom terdiri dari suatu rantai dua neuron, dengan neurotransmitter terakhir yang
berbeda antara saraf simpatis dan parasimpatis. Setiap jalur saraf otonom  yang berjalan dari SSP
ke suatu organ terdiri dari SSP ke suatu organ terdiri dari suatu rantai yang terdiri dari dua
neuron. Badan sel neuron yang pertama di rantai tersebut terletak di SSP. Aksonnya, serat
preganglion, bersinaps dengan badan sel neuron kedua, yang terdapat di dalam suatu ganglion di
luar SSP. Akson neuron kedua, serat pascaganglion, mempersarafi organ-organ efektor.

Sistem saraf otonom terdiri dari dua divisi-sistem simpatis dan parasimpatis. Serat-serat saraf
simpatis berasal dari daerah torakal dan lumbal korda spinalis. Sebagian besar serat preganglion
simpatis berukuran sangat pendek, bersinaps dengan badan sel neuron pascaganglion didalam
ganglion yang terdapat di rantai ganglion simpatis yang terletak di kedua sisi korda spinalis.
Serat pascaganglion panjang yang berasal dari rantai ganglion itu berakhir di organ-organ
efektor. Sebagian serat praganglion melewati rantai ganglion tanpa membentuk sinaps dan
kemudian berakhir di ganglion kolateral simpatis yang terletak disekitar separuh jalan antara SSP
dan organ-organ yang dipersarafi, dengan serat pascaganglion menjalani jarak sisanya.

Serat-serat praganglion parasimpatis berasal dari daerah cranial dan sacral SSP. Serat-serat ini
berukuran lebih panjang dibandingkan dengan serat praganglion simpatis karena serat-serat itu
tidak terputus sampai mencapai ganglion terminal yang terletak di dalam atau dekat dengan
organ efektor. Serat-serat pascaganglion yang sangat pendek berakhir di sel-sel organ yang
bersangkutan itu sendiri.

Serat-serat praganglion simpatis dan parasimpatis mengeluarkan neurotransmitter yang sama,


yaitu asetilkolin (Ach), tetapi ujung-ujung pasca ganglion kedua system ini mengeluarkan
neurotransmitter yang berlainan (neurotransmitter yang mempengaruhi organ efektor). Serat-
serat pascaganglion parasimpatis mengeluarkan asetilkolin. Dengan demikian, serat-serat itu
bersama dengan semua serat praganglion otonom, disebut serat kolinergik. Sebaliknya sebagian
besar serat pascaganglion simpatis disebut serat adrenergic, karena mengeluarkan noradrenalin,
lebih umum dikel sebagai norepinefrin/Adrenalin. Baik asetilkolin maupun
norepinefrin/Adrenalin juga berfungsi sebagai zat perantara kimiawi di bagian tubuh lainnya.

v   Persarafan Parasimpatis

Persarafan parasimpatis ke usus dibagi atas divisi kranial dan divisi sakral. Kecuali untuk
beberapa serabut parasimpatiske regio mulut dan faring dari saluran pencernaan, serabut saraf
parasimpatis kranial hampir seluruhnya di dalam saraf vagus. serabut-serabut ini memberi
inervasi yang yang luas pada esofagus, lambung, pankreas, dan sedikit usus sampai separuh
bagian pertama usus besar.

Parasimpatis sakral bersal darisegmen sakral kedua, ketiga, dan keempat dari medula spinalis
serta berjalan melalui saraf pelvis ke seluruh bagian distal usus besar dan sepanjang anus. Arean
sigmoid, rektum, dan anus diperkirakan mendapat persarafan parasimpatis yang lebih baik
daripada nagian usus yang lain. Fungsi serabut ini terutama untuk menjalankan reflak defekasi.

Neuron-neuron postganglionik dari sistem parasimpatis gastrointestinal terletak terutama di


pleksus mienterikus dan pleksus submukosa. Perangsangan saraf parasimpatis ini menimbulakan
peningkatan umum dari aktivitas seluruh sistem saraf enterik. Hal ini kemudian akan
memperkuat aktivitas sebagian besar fungsi gastrointestinal.

v   Persarafan Simpatis

Serabut-serabut simpatis yang berjalan ke traktus gastrointestinal bersal dari medula spinalis
antara segmen T-5 dan L-2. Sebagian besar serabut preganglionik yang mempersarafi usus,
sesudah meninggalkan medula, memasuki rantai simpatis yang terlatak di sisi lateral kolumna
spinalis, dan banyak dari serabut ini kemudian berjalan melalui rantai ke ganglia yang terletak
jauh seperti ganglion seliaka dan berbagai ganglion mesenterica. Kabanyakan badan neuron
simpatik postganglionik berada di ganglia ini, dan serabut-serabut post ganglionik lalu menyebar
melalui saraf simpatis postganglionik ke semua bagian usus. Sistem simpatis pada dasarnya
menginervasi seluruh traktus gastrointestinal, tidak hanya meluas dekat dengan rongga mulut dan
anus, sebagaimana yang berlaku pada sistem parasimpatis. Ujung-ujung saraf simpatis sebagian
besar menyekresikan norepinefrin dan juga epinefrin dalam jumlah sedikit.

Pada umumnya, perangsangan sistem saraf simpatis menghambat aktivitas traktus


gastrointestinal, menimbulkan banyak efek yang berlawanan dengan yang ditimbulkan oleh
sistem parasimpatis. Sistem simpatis menghasilkan pengaruhnya melalui dua cara: (1) pada tahap
yang kecil melalui pengaruh langsung sekresi norepinefrin untuk menghambat otot polos traktus
intestinal (kecuali otot mukosa yang tereksitasi oleh norepinefrin), dan (2) pada tahap yang besar
melalui pengaruh inhibisi dari norepinefrin pada neuron-neuron pada seluruh sistem saraf
enterik.

Perangsangan yang kuat pada sistem simpatis dapat menginhibisi peregerakan motor usus begitu
hebat sehingga dapat benar-benar menghentikan pergerakan makanan melalui traktus
gastrointestinal.

Efek sistem saraf otonom pada pada berbagai organ

ORGAN Jenis reseptor simpatis Efek stimulasi simpatis Efek stimulasi


parasimpatis
Saluran  α, β2 (organ-organ)  ↓motilitas (gerakan)  ↑ motilitas
pencernaan

Pembahasan Mengenai Hasil yang didapat

Selain sistem saraf enterik, kontrol pada traktus gastrointestinal juga dipengaruhi oleh saraf
ekstrinsik, yaitu sistem saraf otonom. Jalur saraf otonom terdiri dari suaru rantai dua neuron,
dengan neurontransmiter terakhir yang berbeda antara saraf simpatis dan saraf parasimpatis.
Dalam hal ini serabut saraf simpatis memiliki hasil kerja yang berlawanan dari serabut saraf
parasimpatis. Serabut saraf parasimpatis berguna untuk meningkatkan aktivitas traktus
gastrointestital dalam percobaan ini adalah pergerakan atau motilitas usus. Sedangkan serabut
saraf simpatis bekerja dengan efek yang berlawanan yaitu menghambat aktivitas traktus
gastrointestinal. Pada masing-masing serabut mengsekresikan neurontransmiter yang berbeda
untuk menghasilkan efek tersebut. Asetilkolin pada saraf parasimpatis dan Epinefrin pada saraf
simpatis.

Dari hasil praktikum diatas dapat terlihat bahwa dengan pemberian larutan epinefrin akan
menghasilkan penurunan frekuensi dan amplitudo jika dibandingkan dengan kontrolnya. Hal ini
dapat terjadi karena epinefrin memberikan efek simpatis pada otot usus sehingga menghasilkan
penurunan motilitas usus.

Sedangkan pada pemberian larutan asetilkolin akan terlihat adanya peningkatan frekuensi dan
amplitudo dari peregangan usus. Karena asetilkolin merupakan neurotransmitter yang dihasilkan
pada pasca ganglion saraf parasimpatis yang berpengaruh terhadap peningkatan  motilitas usus.
DAFTAR PUSTAKA

 Sherwood, L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi 2. Jakarta; EGC. 2001
 Guyton, AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 11. Jakarta; EGC. 2007
 Despopoulos. Agamemnon. Stefan Sibernagl. Color atlas of physiology. 5th Edition. New
York; Thieme Stuttgart. 2003
 Ganong, WF. Review of medical physiology. 20th Edition. USA; McGraw-Hill. 2001

Anda mungkin juga menyukai