Anda di halaman 1dari 4

MORBIDITAS PSIKIATRIK PADA ANAK DENGAN EPILEPSI

Fahmida Ferdous, Md Faruq Alam, Mohammad Muntasir Maruf, Shoebur Reza


Choudhury, Md Mashukur, Rahman Chisty, Sayeda Afroza, Hariprakash Chakravarty

RINGKASAN
Penderita penyakit kejiwaan relatif sering terjadi pada epilepsi. Sekarang ada
kesepakatan umum bahwa insiden gangguan neurobehaviour lebih tinggi pada pasien dengan
epilepsi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui proporsi gangguan kejiwaan di antara
anak-anak yang menderita epilepsi. Ini adalah studi cross sectional yang dilakukan selama
periode dari Juli 2009 hingga Juni 2011 di departemen Pediatri di Sir Salimullah Medical
College dan Rumah Sakit Mitford, Dhaka, Bangladesh. Dalam studi 104 anak-anak, usia 5-16
tahun, memiliki epilepsi secara sengaja dimasukkan dan pasien dengan kejang demam
dieksklusi. Data dikumpulkan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner semi-
terstruktur dan diagnosis gangguan kejiwaan ditetapkan sesuai dengan Diagnostik dan
Statistik Manual Gangguan Mental, edisi ke- 4 , revisi teks (DSM-IV-TR). Hasil
menunjukkan bahwa di antara semua pasien 56,7% adalah laki-laki dan 43,3% adalah
perempuan. Kebanyakan dari mereka (80,8%) berusia 5-10 tahun. Di antara mereka, 57,7%
dari kasus terkait dengan gangguan kejiwaan, di mana 21,2% memiliki cacat intelektual,
10,6% gangguan komunikasi, 7,7% gangguan belajar, 6,7% gangguan depresi mayor, 5,8%
ADHD dan 1,9% memiliki gangguan autistik. Studi ini menunjukkan bahwa sejumlah besar
anak-anak dengan epilepsi telah menderita penyakit kejiwaan. Jadi, selama diagnosis epilepsi,
penilaian psikologis dini harus dilakukan.

PENGANTAR
Epilepsi adalah penyakit neurologis yang biasanya dimulai pada masa kanak dan
ditandai dengan kejang, atau disfungsi otak paroksismal karena pelepasan neuron yang
berlebihan dengan prevalensi seumur hidup 1% hingga 2%.1 Ini adalah gangguan neurologis
yang paling umum di seluruh dunia yang mempengaruhi sekitar 50 juta orang dan 80% anak-
anak yang terkena dampaknya diperkirakan hidup di negara berpenghasilan rendah.2-4 Anak-
anak dengan epilepsi memiliki beban yang tinggi dari komorbiditas kejiwaan dan
perkembangan saraf, dan mereka mengalami hasil psikososial jangka panjang yang buruk
bahkan setelah remisi epilepsi di masa dewasa.1,5 Epilepsi mempengaruhi fungsi fisik, mental
dan perilaku dan berhubungan dengan risiko kematian dini yang lebih tinggi karena cedera
otak traumatis, status epileptikus, bunuh diri, pneumonia dan kematian mendadak, dan hal itu
menyumbang 1,4% dari semua tahun kehidupan yang hilang.3 Sekarang ada kesepakatan
umum bahwa insiden gangguan neurobehaviour lebih tinggi pada pasien dengan epilepsi
daripada pada populasi pada umumnya.6 Komorbiditas pada epilepsi bisa melemahkan, tetapi
mereka sering diabaikan. Untungnya, sejumlah upaya yang terbaru meningkatkan perhatian
terhadap komorbiditas.7 Epilepsi telah lama dianggap sebagai faktor risiko untuk psikosis.8
Ada juga peningkatan risiko untuk mengembangkan komorbiditas kejiwaan lainnya. Padahal
peningkatan prevalensi masalah perilaku sering didokumentasikan pada anak-anak dengan
kejang kronis, beberapa penelitian juga menunjukkan peningkatan prevalensi masalah
perilaku pada anak-anak dengan onset baru atau serangan kejang baru-baru ini. Mitchell et
al. (1994) menindaklanjuti anak-anak selama 18 hingga 30 bulan. Mereka menemukan bahwa
tingkat keparahan kejang dan prevalensi masalah perilaku tetap ada relatif stabil dari waktu ke
waktu.9 Tujuan penelitian ini adalah untuk melaporkan komorbiditas kejiwaan di antara anak-
anak dengan epilepsi di rumah sakit perawatan tersier di Bangladesh.

BAHAN DAN METODE


Studi cross sectional ini dilakukan selama periode dari Juli 2009 hingga Juni 2011 di
departemen pediatri di Sir Salimullah Medical College dan Rumah Sakit Mitford, Dhaka,
Bangladesh. Sebanyak 104 anak dengan epilepsi, berusia 5-16 tahun, terdaftar secara
berurutan dalam penelitian dan pasien dengan kejang demam dieksklusi. Informed consent
diambil dari orang tua atau wali sebelum pendaftaran dalam penelitian ini. Diagnosis epilepsi
telah dikonfirmasi oleh seorang ahli saraf. Kemudian data dikumpulkan melalui wawancara
tatap muka menggunakan kuesioner semi-terstruktur. Penilaian psikiatrik dilakukan oleh
psikiater yang bekerja di departemen Psikiatri di SSMC dan Rumah Sakit Mitford dan
diagnosis ditetapkan berdasarkan DSM-IV-TR.10 Analisis data dilakukan dengan
menggunakan SPSS (Paket Statistik untuk Ilmu Sosial) versi 16.

HASIL
Di antara 104 anak yang terdaftar, 56,7% adalah laki-laki dan 43,3% adalah
perempuan dengan rasio laki-laki perempuan 1.3 : 1. Sebagian besar dari mereka (80,8%)
berusia 5-10 tahun dan sisanya berusia 11-16 tahun. Riwayat kejang pada keluarga terdapat
dalam 4,8% kasus. Mengenai kondisi sosial ekonomi, sebagian besar (52,9%) kasus berasal
dari kelas yang lebih rendah (Tabel 1). Di antara semua anak 64,4% mengalami kejang
parsial, 30,4% kejang absans dan 5,2% memiliki kejang tonik klonik general. Di antara 104
kasus yang diteliti mayoritas (57,7%) memiliki gangguan kejiwaan yang terkait. Di antara
gangguan, paling umum (21,2%) adalah cacat intelektual (Tabel 2).

DISKUSI
Komorbiditas psikiatrik pada orang dengan epilepsi memiliki implikasi klinis dan
terapetik yang penting. Ada beberapa studi berbasis populasi mengevaluasi prevalensi kondisi
kejiwaan pada orang dengan epilepsi. Sebagian besar studi melibatkan kelompok pasien
tertentu dari pusat tersier atau klinik khusus. Dalam penelitian kami, 57,7% dari kasus
memiliki gangguan kejiwaan yang terkait. Dharmadhikari dan Sinha menemukan prevalensi
komorbiditas psikiatris sekitar 31%.11 Studi lain menemukan bahwa gangguan kejiwaan
mempengaruhi 41% pasien dengan epilepsi.3 Perbedaannya bisa dijelaskan dengan perbedaan
dalam pengaturan penelitian dan distribusi ukuran sampel. Dalam penelitian kami Gangguan
Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif (ADHD) ditemukan pada 5,8% responden. Masalah
perhatian dapat dipengaruhi oleh aktivitas epileptiformis. ADHD tampaknya menjadi lazim di
antara anak-anak yang telah menerima diagnosis baru epilepsi serta pada anak-anak yang
memiliki epilepsi kronis. Studi lain menemukan bahwa ADHD di antara anak-anak dan
remaja dengan epilepsi, diperkirakan antara 12 hingga 39%, jauh lebih tinggi daripada
populasi umum.12 Studi lain menemukan ADHD di 2,67% responden yang lebih sedikit dari
temuan penelitian ini.11 Depresi pada epilepsi juga sangat umum, terutama pada pasien dengan
kejang parsial yang berasal dari lobus temporal. Dalam penelitian kami, ditemukan bahwa
6,7% memiliki gangguan depresi mayor. Beberapa penulis menyebutkan depresi sebagai
komorbiditas psikiatri yang paling umum pada epilepsi.7 Banyak hipotesis telah diajukan
untuk menjelaskan hubungan antara depresi dan epilepsi. Beberapa peneliti menemukan
bahwa kejang menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap depresi dengan mengurangi
ekspresi reseptor serotonin.7 Penelitian lain mengungkapkan komorbiditas kejiwaan yang
ditemukan di antara pasien dengan epilepsi adalah depresi, neurosis (gangguan kecemasan
non-psikotik) dan psikosis.3 Telah diamati bahwa 25%-40% dari individu dengan kondisi
neurologis tertentu seperti epilepsi akan mengembangkan gangguan depresi yang ditandai dan
gejala psikotik di beberapa titik selama perjalanan penyakit.3 Dalam penelitian kami,
komorbiditas lain termasuk penyalahgunaan zat, skizofrenia, dan fobia sosial. Beberapa
penelitian mengungkapkan korelasi antara psikosis dan epilepsi dan menemukan bahwa
tingkat prevalensi untuk psikosis pada pasien epilepsi sekitar 5,6%.8 Penelitian saat ini
dilakukan di antara pasien yang dirawat di rumah sakit perawatan tersier di Bangladesh dan
sampel yang relatif lebih kecil. Jadi, studi meliputi ukuran sampel yang lebih besar, termasuk
beberapa pusat, evaluasi masyarakat, dan penilaian di perawatan primer akan lebih baik untuk
menggeneralisasikan hasil.

KESIMPULAN
Penelitian ini menemukan anak-anak dengan epilepsi dengan jumlah yang cukup
signifikan menderita gangguan kejiwaan. Anak-anak dengan epilepsi membutuhkan evaluasi
menyeluruh oleh penyedia layanan kesehatan yang relevan untuk diagnosis dini dari penyakit
yang terkait sehingga mereka bisa mendapatkan lebih banyak manfaat selain pengobatan
epilepsi. Tetapi, hasil penelitian tidak mencerminkan situasi negara secara keseluruhan. Studi
yang luas berbasis epidemiologi diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan studi.