Anda di halaman 1dari 17

BAB II

PENGOLAHAN BAHAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Pengolahan Bahan Pustaka


Pengolahan bahan pustaka telah dilakukan orang sejak zaman dahulu kala, dalam
upaya mempermudah para pemakai perpustakaan menggunakan koleksi perpustakaan.
Sistem dan cara-cara pengolahan bahan pustaka mengalami perkembangan. Hal itu
mengikuti perkembangan jumlah, jenis bahan pustaka, frekuensi, dan ruang lingkup
pemakai bahan pustaka .
Kegiatan pengolahan bahan pustaka merupakan salah satu kegiatan penting yang
harus dilakukan oleh suatu perpustakaan sebelum melakukan kegiatan pelayanan kepada
pengguna atau merupakan serangkaian pekerjaan yang dilakukan sejak bahan pustaka
diterima perpustakaan sampai dengan siap di pergunakan oleh pemakai. Kegiatan
pengolahan bahan pustaka bertujuan untuk memudahkan penemuan kembali bahan
pustaka dan agar semua koleksi dapat ditemukan /ditelusur dan juga agar dapat
dipergunakan dengan mudah oleh pemakai, Pengolahan merupakan pekerjaan yang
berurutan, mekanis, dan sistematik. Pengolahan data dilakukan dengan manual dan
komputerisasi.
Pengolahan bahan pustaka merupakan langkah yang harus dilakukan dalam suatu
perpustakaan, sejak bahan pustaka datang ke perpustakaan sampai saat siap untuk
dimanfaatkan atau dipinjam oleh pemakai. Menurut teori yang diperoleh setiap bahan
pustaka yang masuk menjadi milik perpustakaan, oleh karena itu bahan pustaka tersebut
harus diolah terlebih dahulu agar siap pakai. Adapun ruang lingkup pengolahan bahan
pustaka ini sangat luas, karena meliputi berbagai jenis bahan pustaka dan berbagai aspek
pengolahan

2.2. Tujuan dan Fungsi Pengolahan Bahan Pustaka


2.2.1. Tujuan Pengolahan Bahan Pustaka
Setelah mengetahui pengertian dari pengolahan bahan pustaka dan menyadari
pentingnya pengolahan bahan pustaka dalam perpustakaan maka kita harus mengetahui
tujuan utama dari pengolahan bahan pustaka. Adapun tujuan utama dari pengolahan
bahan pustaka ialah :

Universitas Sumatera Utara


1. untuk mempermudah pemakai mengatur koleksi yang ada agar siap pakai dan
berdaya guna secara optimal.
2. agar semua koleksi dapat ditemukan /ditelusur dan dipergunakan dengan
mudah oleh pemakai, karena Pengolahan merupakan pekerjaan yang
berurutan, mekanis dan sistematik.

2.2.2. Fungsi Pengolahan Bahan Pustaka


Pengolahan bahan pustaka memiliki fungsi sebagai prosedur yang mengolah
koleksi bahan pustaka, dengan adanya pengolahan bahan pustaka, suatu perpustakaan
akan menjadi lebih berstruktur. Oleh karena itu setiap bahan pustaka atau informasi yang
dibutuhkan oleh pengguna sedapat mungkin harus disediakan oleh perpustakaan.
Disamping itu perpustakaan harus mampu menjamin bahwa setiap informasi atau koleksi
yang berbentuk apapun mudah diakses oleh semua masyarakat yang memerlukan.
Agar informasi atau bahan pustaka di perpustakaan dapat dimanfaatkan atau
ditemukan kembali dengan mudah, maka dibutuhkan system pengelolaan dengan baik
dan sistematis yang biasa disebut dengan kegiatan pengolahan (processing of library
materials) atau pelayanan teknis (technical service).

2.3. Prinsip-Prinsip Pengolahan Bahan Pustaka


Dalam pengolahan bahan pustaka terdapat beberapa prinsip menjadi pedoman
dalam melakukan pengolahan bahan pustaka. Adapun prinsip-prinsip pengolahan bahan
pustaka adalah sebagai berikut:
a. mempermudah pengaturan, penataan, dan penempatan
b. membantu mempermudah penelusuran oleh pemakai
c. tersedianya sarana penelusuran
d. teridentifikasinya semua koleksi dengan rapi dan baik
e. terpenuhinya informasi sebagai kelengkapan sumber informasi, seperti label,
no panggil kartu buku katalog yang disejajarkan menurut sistem tertentu
f. konsisten
Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulakan bahwa dengan mematuhi
prinsip-prinsip diatas maka pengolahan bahan pustaka akan berjalan dengan baik dan
teratur.

Universitas Sumatera Utara


2.4. Tahapan Pengolahan Bahan Pustaka
Pengolahan bahan pustaka adalah kegiatan yang dilaksanakan setelah bahan
pustaka tersebut selesai diproses oleh tim pengadaan atau penerimaan, adapun uraian
kerja pengolahan bahan pustaka di perpustakaan ialah:
2.4.1 Inventarisasi
Inventarisasi adalah kegiatan pencatatan data-data fisik buku kedalam sarana
pencatatan, yang berupa lembaran lepas, kartu, maupun buku dan sering disebut buku
induk. Setiap ekslempar bahan pustaka mempunyai satu nomor induk. Adapun informasi
lain yang perlu dicatat dalam buku induk adalah judul, pengarang, asal perolehan, nomor
induk, bahasa, jumlah ekslempar, dan judul (Rohanda : 2008).
Bahan pustaka yang telah diterima di perpustakaan perlu dicek terlebih dahulu
sebelum dilakukan katalogisasi, baik bahan pustaka yang berasal dari pembelian maupun
dari hadiah, tukar-menukar, sumbangan ataupun sumber lainnya.
Apabila yang diterima sudah dapat dipastikan sesuai untuk perpustakaan, perlu
segera dilakukan pemberian jati diri terhadap buku tersebut, yaitu dengan cara memberi
stempel/cap pada buku dan membubuhkan nomor induk pada tempat tertentu yang
disediakan.
Adapun langkah-langkah menginventarisasi buku adalah :
1. Pemberian Stempel Buku
a. Stempel Milik Perpustakaan
Semua buku yang sudah masuk ke perpustakaan perlu dibubuhi stempel
Kepemilikan. Tempat-tempat yang perlu dibubuhi stempel yaitu : dibalik halaman
judul, bagian yang tidak ada tulisan atau gambar, pada halaman akhir, dan pada
halaman yang di anggap rahasia.
Adapun bentuk stempel Kepemilikan, tidak ada ketentuan yang mengikat apakah
bulat, bulat telur, persegi panjang atau bentuk-bentuk lainya.

Universitas Sumatera Utara


contoh gambar stempel Kepemilikan :

Milik Perpustakaan

Sumber : Eryono, 1994 : 20

b. Stempel Inventarisasi
Disamping stempel Kepemilikan, setiap buku perlu pula dibubuhkan stempel
inventarisasi. Stempel ini dibubuhkan pada halaman bakik judul tanpa
mengganggu teks yang ada.
Stempel Inventarisasi berisi kolom data asal perolehan buku, nomor induk buku,
tanda buku dan tanggal pendaftarannya pada buku induk perpustakaan.

Contoh Stempel Inventarisasi :


Tanggal Terima :
Asal dari :
Harga :

Tanda Buku :
Nomor Induk :
Tgl Inventarisasi :
Sumber : Eryono, 1994 : 20

2. Pemberian Nomor Buku


Setiap buku yang akan menjadi koleksi perpustakaan, yang harus disusun di rak buku
harus diberikan nomor. Pemberian nomor tidak hanya nomor induk saja, tetapi juga
pemberian nomor berdasarkan klasifikasi (call number). Nomor induk adalah nomor
urut buku yang sudah ada dari nomor satu sampai nomor terakhir menunjukkan
nomor buku. Adapun hal-hal yang dicatat dalam buku induk adalah
a. Kolom nomor induk
Setiap buku didaftar pada buku induk dan memperoleh nomor induk yang berasal
dari nomor urut pendaftaran pada kolom nomor induk. Nomor induk pendaftaran
dapat dimulai dengan nomor satu dan seterusnya secara urut tanpa memperbaharuinya
setiap tahun, atau setiap awal tahun dimulai kembali dengan nomor yang baru.

Universitas Sumatera Utara


b. Kolom tanggal pendaftaran
Kolom ini diisi ketika suatu buku didaftar. Tetapi perlu dijaga agar buku yang
diterima secepatnya didaftar pada buku induk. Pencatatan tanggal lengkap dengan
bulan dan tahunnya.
c. Kolom nama pengarang
Kolom ini diisi dengan nama pengarang buku baik perorangan atau badan. Cara
menuliskan nama orang pada prinsipnya seperti cara menuliskan nama pada tajuk
d. Kolom judul buku
Judul buku yang ditulis dalam kolom ini adalah judul yang tercantum dalam halaman
judul secara lengkap. Jika judul terlalu panjang dapat dipersingkat, dengan memotong
bagian yang kurang penting.
e. Kolom penerbit
Jilid tertentu dalam buku berjilid, dicantumkan nomor jilidnya pada kolom ini dengan
angka romawi. Buku yang tidak berjilid, kolom ini dikosongkan saja.
f. Kolom tahun terbit
Kolom ini diisi dengan nama badan yang menerbitkan buku, baik badan pemerintah
maupun badan swasta. Dalam menuliskan nama penerbit tidak perlu mencantumkan
jenis badan seperti PT, Penerbit, Yayasan, Company, dan sebagainya.
g. Kolom tahun terbit
Kolom ini diisi dengan tahun penerbitan buku. Buku dari cetakan ulang dicatat tahun
copyright dan tahun cetak ulang.
h. Kolom asal/sumber
Kolom ini diisi dari mana buku diterima (berasal), misalnya hadiah dari siapa, titipan
siapa, dan seterusnya.
i. Kolom harga buku
Kolom ini diisi dengan harga yang tercantum di buku atau harga pembelian.
j. Kolom jumlah halaman
Kolom ini diisi dengan jumlah halaman yang terdapat pada buku tersebut
k. Kolom keterangan
Kolom ini diisi dengan hal-hal lain yang dianggap perlu. Misalnya jika diketahui
buku dengan nomor induk tertentu hilang, maka perlu dicatat dalam kolom
keterangan.

Universitas Sumatera Utara


2.4.2 Katalogisasi
Pengatalogan merupakan sarana yang efisien membantu pengguna perpustakaan
dalam memperoleh dokumen. Kegiatannya meliputi pembuatan deskripsi bibliografi,
penentuan tajuk subjek, dan klasifikasi.
Menurut Gober “Katalogisasi atau pengatalogan adalah proses pembuatan
katalog, dimana dalam katalog dicantumkan data penting yang terkandung di dalam
bahan pustaka, baik ciri fisik maupun isi intelektual, seperti nama pengarang, judul,
penerbit dan subjek.”
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa katalogisasi merupakan proses
pengambilan keputusan yang menuntut kemampuan menginterpretasikan dan
menerapkan berbagai standar sehinga hal-hal penting dari bahan pustaka terekam menjadi
katalog.
Adapun Fungsi dari katalog yaitu mencatat setiap karya pegarang yang dimiliki
perpustakaan dari segi nama pengarang, judul buku, dan subyek yang terkandung di
dalamnya secara taat asas dan juga memberikan petunjuk dimana setiap karya pengarang
yang dimiliki perpustakaan itu disimpan.
Ada beberapa macam bentuk katalog sesuai dengan perkembangan perpustakaan,
diantaranya adalah :
a. katalog buku
b. katalog berkas, merupakan katalog kumpulan kertas.
c. Katalog kartu yaitu, kartu katalog berukuran 7,5cm x 12,5cm, kemudian
kartu katalog dijajarkan dalam laci
d. Katalog komputer (OPAC) yaitu, terbacakan komputer.

Universitas Sumatera Utara


Contoh dari bentuk katalog :
614.1
Pra Prakoso, Djoko
D Dasar-dasar ilmu kedokteran Kehakiman/ Djoko Prakoso rdejgezfh
[and] I Ketut Murtika.—cet.2.—Jakarta : Rineka Cipta, 1992.
vii, 239 p. : Ilus.; 21cm.
ISBN : 979-518-214-2

1. MEDICAL JURISPRUDENCE
Murtika, I Ketut

Lokasi : KPS, 1
No. Registrasi : 9302422* 9302423 <2 Eks>.

2.4.2.1 Deskripasi Bibliografi


Deskripsi bibliografi disebut juga katalogisasi deskriptif yang merupakan aspek-
aspek fisik dari bahan pustaka yang diolah. Karena itu pengatolog harus mengenali
dengan baik bagian-bagian sebuah buku.
Menurut Arief (2004:78) “Deskripsi bibliografi adalah data-data yang terdiri dari
pegrang, pengarang tambahan, judul, anak judul, judul seragam, penerbit, tempat terbit,
edisi, tahun terbit, bibliografi,jumlah halaman, dan lain-lain”.
Berikut ini akan dipaparkan tabel dari sumber informasi utama dan tanda baca
pada sebuah deskripsi bibliografi,
1. sumber informasi
Tabel 1.
Sumber Informasi Utama
No. DAERAH SUMBER INFORMASI UTAMA
1 Judul dan pernyatan bertanggung Halaman judul
jawab.
2 Edisi Halaman judul, halaman lain, kolofon
3 Data khusus (tidak dipakai) -
4 Terbitan dan pubikasi Halaman judul

Universitas Sumatera Utara


halaman lain
kolofon
5 Deskripsi fisik Terbitan tersebut
6 Seri Halaman judul seri
Halaman buku
Monograf
Kulit buku
Bagian dari publikasi
7 Catatan Sumber apa saja
8 Nomor standar dan harga Sumber apa saja
Sumber : www.gober31.multiply.com

2. Tanda baca
penggunaan tanda baca diberikan pada tabel 2 dibawah ini
Tabel 2.Tanda baca
No. DAERAH TANDA BACA UNSUR
1 Judul dan pernyatan Judul sebenarnya
bertanggung jawab. = Judul paralel
: Judul lain/anak judul
/ Pernyataan tanggung jawab
; Pernyataan tanggung jawab
kedua dan selanjutnya
2 Edisi .-- Pernyataan edisi
/ Pernyataan tanggung jawab
; Pernyataan tanggung jawab
kedua dan selanjutnya
sesuai dengan edisi
3 Data khusus (tidak .--
dipakai)
4 Terbitan dan pubikasi .-- Tempat terbit
Nama penerbit
Tahun terbit

Universitas Sumatera Utara


5 Deskripsi fisik Jumlah halaman
: Pernyataan ilustrasi
; Tinggi buku
+ Lampiran

6 Seri .-- Pernyataan seri


: Pernyataan anak seri
; Nomor seri

7 Catatan : Bibliografi
: Indeks
8 Nomor standar dan harga : ISBN
Sumber: www.gober31.multply.com

3. Perincian Unsur
a. Daerah judul dan pernyataan tanggung jawab
i. judul sebenarnya
disalin seperti yang tercantum pada halaman judul, judul yang terlalu panjang
boleh disingkat dengan menghilangkan bagian akhir dan diganti dengan
tanda tiga titik (...)
ii. judul paralel, adalah judul resmi yang diterjemahkan ke dalam bahasa lain,
adakalanya ditambahkan anak judul sebagai keterangan judul yang lain untuk
memperjelas judul resmi.
iii. Pernyataan penanggung jawab, tidak terbatas pada pernyataan pengarang,
tetapi dapat pula meliputi editor, penghimpun, penggambar, penerjemah, dan
lainnya yang terdapat pada halaman judul tanpa menyertakan keterangan
jabatan, gelar, dan sejenisnya. Untuk pernyataan pengarang yang lebih dari
tiga pengarang dicatat hanya pengatang utama disertai tanda : [et. al.]

Universitas Sumatera Utara


b. Daerah Edisi
Pernyatan edisi disalin sesuai dengan yang tercantum pada bahan pustaka
c. Daerah data khusus
Pernyataan daerah ini tidak digunakan untuk monograf tercetak
d. Daerah penerbitan dan distribusi
Daerah ini terdiri dari tempat terbit, nama penerbit, dan tahun terbit
i. Tempat terbit adalah nama kota tempat penerbit, jika tempat terbit tidak
diketahui, tempat terbit dinyatakan dengan [s.l.] (sine loco).
ii. Penerbit adalah nama badan yang menerbitkan buku tersebut. Jika nama
penerbit tidak diketahui, maka penerbit dinyatakan dengan [s.n.] (sine
nomine).
iii. Tahun terbit dinyatakan dengan tahun masehi, jika tahun terbit tidak
diketahui digunakan tahun copyright atau tahunnya diperkirakan diberi
tanda plus minus atau tanda tanya (?)
e. Daerah deskripsi fisik
Daerah ini terdiri atas jumlah halaman atau jumlah jilid, pernyataan illustrasi,
ukuran dan lampiran serta tambahan.
f. Daerah seri
Daerah ini terdiri dari judul seri, pernyataan anak seri (sub seri), Nomor seri
dan ISSN dan terbitan yang merupakan bagian dari beberapa seri (ditulis
dalam tanda kurung).
g. Daerah catatan
nomor daerah ini terdiri dari judul seri, pernyataan anak seri (sub seri),
Nomor seri dan ISSN (Internasional Standart Serial Number) dan terbitan
yang merupakan bagian dari beberapa seri (ditulis dalam tanda kurung).
h. standar dan harga
Daerah ini mencakup segala sesuatu yang dianggap penting, namun tidak
dicantumkan dalam daerah lain yang sudah ditentukan. Unsur-unsur yang
sering diperlukan diantaranya adalah:
i. Judul asli, judul asli dari buku terjemahan dicatat disini
ii. Bentuk karya akademis, seperti disertasi, tesis atau skripsi
iii. Bibliografi dan indek

Universitas Sumatera Utara


2.4.2.2 Menentukan Tajuk Entri Utama
Tajuk entri utama biasanya nama engaran baik nama perorangan maupun nama
badan, yaitu badan yang bertanggung jawab terhadap kepengarangan buku. Dalam hal-
hal tertentu tajuk entri utama tidak berupa nama pengarang, melainkan judul buku.
Dalam penentuan tajuk adalah memilih kata utama dari tajuk dan susunan kata
dalam tajuk. Uraian dalam pembuatan tajuk meliputi :
a. pembuatan pokok pada judul dan penanggung jawab
1. Judul dan pengarang aspeknya
2. Keterangan kepengarangan, yaitu siapa saja yang terlibat dalam
kepengarangan buku.
3. Edisi atau cetakan
4. Imprit, yang terdiri atas tempat terbit, penerbit, dan tahun terbit
b. Pembuatan Deskripsi Fisik
1. jumlah halaman buku, baik yang berupa angka Romawi kecil maupun
angka Arab.
2. Keterangan Ilustrasi
3. Keterangan seri bagi buku berseri
c. Pembuatan Cacatan
Pembuatan catatan digunakan untuk hal-hal penting yang tidak termuat dalam
daerah judul dan penanggung jawab
d. Pembuatan Jejakan
Pembuatan jejakan ialah petunjuk untuk membuat tajuk-tajuk tambahan yang
diperlukan.
e. Pembuatan nomor panggil (call number).
Pembuatan nomor panggil digunakan untuk nomor panggil pada bahan
pustaka

2.4.2.3 Menentukan Tajuk Subjek


Penentuan tajuk sujek adalah satu kegiatan menentukan isi atau subjek pustaka
dalam bentuk kata. Penentuan tajuk subjek berguna untuk mengetahui masalah yang akan
dibicarakan dalam suatu terbitan dan untuk memudahkan bahan pustaka yang membahas
suatu pokok masalah tertentu yang sedang dicari oleh penguna. Tajuk subjek ditentukan
dengan cara memperhatikan judul buku, daftar isi, pendahuluan dan yang lainya.

Universitas Sumatera Utara


Dalam penentuan tajuk subjek ada beberapa pedoman yang dapat digunakan oleh
perpustakaan. Sebagaimana dengan yang dikemukakan oleh Departemen Pendidikan
Nasional Republik Nasional Republik Indonesia(2004 : 60) dalam Widari (2008 : 8)
bahwa pedoman tersebut adalah sebagai berikut :
1. library of Congress Subject Headings
2. Sear Lists Subject Headings
3. Medical Subject Heading (MES)
Untuk mencapai keseragaman dalam penentuan tajuk subjek maka perpustakaan
berpedoman kepada daftar tajuk subjek sehingga penentuan tajuk subjek dapat dilakukan
secara konsisten.
Selain itu terdapat beberapa sistem pengklasifikasian dengan berpedoman dengan
skema klasifikasi. Ada beberapa jenis skema klasifikasi antara lain, Dewey Decimal
Classification (DDC), Universal Decimal Classification (UDC), Library of Congress
Classification (LCC), Colon Classification (CC), dan lain-lain. Diantara beberapa sistem
klasifikasi tersebut, DDC merupakan sistem klasifikasi yang tertua, terpopuler dan
terbanyak pemakainya di seluruh dunia.

2.4.3 Klasifikasi Persepuluhan Dewey


Dewey Decimal Classification (DDC) atau klasifikasi persepuluhan Dewey di
ciptakan oleh seorang berkebangsaan Amerika yang bernama Melvil Dewey (1851-
1932). Dia adalah seorang mahasiswa dari Amherst College, Massachusetts. Tahun 1876
menerbitkan DDC edisi pertama dengan judul “A Classification and Subject Index for
Cataloging and Arranging The Book and Pamphlet of a Library”. Pada tahun 2003 telah
terbit edisi ke 22, disamping edisi lengkap DDC juga tersedia dalam bentuk “edisi
ringkas”. Edisi ringkas dimaksudkan untuk digunakan pada perpustakaan yang memiliki
koleksi kurang dari 20.000 judul.
Minimal setiap sepuluh tahun DDC keluar dengan edisi revisi terbarunya. Untuk
komunikasi dengan warta (newsletter) dengan judul DC & (Decimal Classification
Added, notes and Decisions).
Secara umum DDC terdiri dari :
1. Bagan

Universitas Sumatera Utara


Sistem klasifikasi Dewey disebut “persepuluhan” karena Dewey membawa
sistem pengelompokan, baik untuk kelompok yang paling global maupun
mengembangkan masing-masing kelompok selanjutnya.
Pada uraian tersebut diketahui bahwa pada tahap pertama dalam sistem
klassifikasinya membagi pengetahuan manusia itu menjadi 10 kelompok. Kesepuluhan
kelompok itu masing-masing diberi notasi dan merupakan kelas utama dan masig-masing
diberi notasi, sehingga menghasilkan kelas sebagai berikut :
000 – Karya Umum
100 – Filsafat
200 – Agama
300 – ilmu Sosial
400 – Bahasa
500 – Ilmu Murni
600 – Ilmu Terapan
700 – Kesenian
800 – Kesusastraan
900 – Sejarah, Biografi dan Geografi
Selanjutnya setiap kelas utama dapat dibagi menjadi 10 divisi yang merupakan
subordinasi dari padanya.contoh kelas 600 dapat dirinci sebagai berikut :
600 – Ilmu Terapan
610 – Ilmu Kedokteran
620 – Teknik
630 – Pertanian dan Teknologi
640 – Ekonomi Rumah Tangga
650 – Manajemen
660 – Tehnik Kimia
670 – Produksi
680 – Produksi yang Lebih Khusus
690 – Bangunan
Selanjutnya setiap divisi dapat dirinci menjadi 10 seksi yang merupakan subordinasi.
Contoh ada kelas 600 sebagai berikut :
610 – Ilmu Kedokteran
611 – Anatomi, fungsi sel-sel, dan ilmu jaringan tubuh

Universitas Sumatera Utara


612 – Psikologi
613 – Kesehatan dan Keamanan
614 – Ilmu Hukum kedokteran
615 – Ilmu Farmasi dan Pengobatan
616 – Ilmu Penyakit
617 – Jenis-Jenis Cabang Ilmu Kedokteran
618 – Cabang Ilmu Kedokteran Lainnya
Selanjutnya dapat dibagi lagi secara desimal apabila dikehendaki.

2. Tabel-tabel Pembantu
Selain tabel utama, DDC mempunyai 7 buah tabel pembantu yaitu :
1) Tabel Subdivisi Standar (T1)
2) Tabel Wilayah (T2)
3) Tabel Bentuk Sastra (T3)
4) Tabel Bentuk Bahasa (T4)
5) Tabel Ras, Suku, Etnik, dan Kebangsaan (T5)
6) Tabel Bahasa (T6)
7) Tabel Orang-orang/profesi (T7)

3. Indeks DDC
Salah satu kelebihan DDC sebagai suatu sistem klasifikasi adalah tersedianya indeks.
Indeks ini sangat membantu dan bermanfaat jika seseorang melakukan proses
klasifikasinya.
Contoh indeks relatif untuk subjek “Arsitekur” terdapat sebagai berikut:
Arsitektur 720
Abad pertengahan 723
Dekorasi 729
Gambar 720.28
Konstruksi 721.3
Seni lukis 758.7

Universitas Sumatera Utara


2.4.4 Katalog
2.4.4.1 Katalog Tercetak
Katalog perpustakaan tercetak tediri dari berbagai bentuk fisik antara lain, katalog
berbentuk buku (book catalog), katalog berbentuk kartu (card catalog), catalog berbentuk
mikro (microform catalog) dalam Hasugian (2003).

1. Katalog Buku
Katalog berbentuk buku telah lama digunakan di perpustakaan, katalog tersebut
sering juga disebut katalog tercetak (printed catalog). Keuntungan dari katalog berbentuk
buku ialah dapat dicetak sesuai dengan kebutuhan, dapat diletakkan pada berbagai
tempat, dan mudah disebarluaskan ke perpustakaan lain. Entri katalog berbentuk buku
dapat ditemukan dengan cepat, mudah menyimpannya, mudah menanganinya, bentuknya
ringkas dan rapi. Kelemahan dari katalog berbentuk buku ialah cepat usang dan
ketinggalan jaman. Hal itu terjadi karena setiap perpustakaan memperoleh buku baru,
berarti katalog sebelumnya harus diperbaharui kembali, atau setidak-tidaknya membuat
suplemen. Dengan demikian katalog berbentuk buku tidak luwes. Biaya pembuatan
katalog berbentuk buku cenderung lebih mahal karena bentuk dan jumlah cantumannya
sering berubah. Sehingga perpustakaan meninggalkannya dan kemudian secara bertahap
beralih ke bentuk katalog yang lain, terutama katalog kartu.

2. Katalog Kartu
Katalog kartu adalah bentuk katalog perpustakaan yang semua deskripsi
bibliografinya dicatat pada kartu berukuran 7,5 x 12,5 cm. katalog kartu disusun secara
sistematis pada laci katalog. Katalog kartu masih banyak digunakan pada berbagai jenis
perpustakaan di Indonesia hingga saat ini. Keuntungan dari katalog kartu ialah bersifat
praktis, sehingga setiap kali penambahan buku baru di perpustakaan tidak akan
menimbulkan masalah, karena entri baru dapat disisipkan pada jajaran kartu yang ada.
Penggunaan katalog kartu tidak dipengaruhi faktor luar, misalnya terputus aliran listrik,
dan kemungkinan rusak sangat kecil terkecuali misalnya perpustakaan terbakar.
Kelemahannya ialah satu laci katalog hanya menyimpan satu jenis entri saja., sehingga
pengguna sering harus antri menggunakannya, terutama bila melakukan penelusuran
melalui entri yang sama. Sulit menggunakannya jika berada pada jumlah yang besar,
karena harus memilah-milah jajaran kartu sesuai urutan indeksnya.

Universitas Sumatera Utara


3. Katalog Mikro
Bentuk fisik perpustakaan lainnya ialah katalog mikro. Katalog berbetuk mikro
semakin terkenal sejalan dengan pengembangan Computer-Output Microform (COM).
COM dibuat pada salah satu bentuk microfilm atau microfiche. Katalog dalam bentuk
mikro lebih murah dibandingkan dengan katalog berbentuk buku, dan terbukti bahwa
biaya pemeliharaannya lebih murah dari pada katalog kartu. Bentuknya ringkas dan
mudah menyimpannya. Namun disisi lain, banyak pelanggan menemukan versi
microfiche yang tidak menyenangkan digunakan.

2.4.4.2 Katalog Online


Katalog online merupakan sistem katalog perpustakaan yang menggunakan
komputer. Pangkalan data biasanya dirancang dan dibuat sendiri oleh perpustakaan, baik
menggunakan perangkat lunak komersial. Sesuai dengan namanya, katalog online
berfungsi sebagai sebuah sarana penelusuran koleksi suatu perpustakaan.
Katalog memberikan informasi bibliografis serta suatu buku di perpustakaan.
Katalog online ini dapat menelusuri bahan perpustakaan dengan titik cari (access point)
dengan segala aspek pendekatan pada data katalog. Semua pendekatan dapat dilakukan
pada katalog online, bahkan dapat mencari melalui dua kata yang ada pada judul dengan
jarak kata tertentu.
Contoh katalog online adalah Online Public Access Catalog (OPAC). Online
Public Access Catalog (OPAC) merupakan suatu sistem temu balik informasi berbasis
komputer untuk menelusuri koleksi perpustakaan.
Sampai saat ini Online Public Access Catalog (OPAC) belum terumuskan dalam
bahasa Indonesia secara pasti, ada perpustakaan yang menyebutnya dengan istilah
katalog talian, katalog online dan katalog terpasang, dan ada juga yang tetap
menyebutnya dengan OPAC. Selain itu ada juga perpustakaan yang menyebutnya dengan
katalog Akses Umum Talian, disingkat KAUT.
Online Public Access Catalog (OPAC) dibuat dengan menggunakan format
MARC (Machine Readable Catalogue), yaitu format katalog dimana data bibliografis
disimpan atau dimasukkan ke dalam tengara (tag) yang telah ditentukan. Dengan
demikian terdapat keseragaman format sehingga segulung pita magnetik berisi data buku.
Penyimpanan itu berdampak terhadap proses temu balik dan pertukaran data bibliografis.

Universitas Sumatera Utara


2.4.5 Pelabelan dan Penyampulan
Pelabelan dilakukan untuk memudahkan pengguna mengenali bahan pustaka.
Dengan kata lain pelabelan merupakan suatu pekerjaan memberi perlengkapan pada buku
yang terutama juga untuk dipergunakan sebagai alat dalam perlengkapan dalam tugas
perpustakaan dalam melayani peminjaman dan pengembalian buku.
Pelabelan merupakan kegiatan pemasangan kelengkapan bahan pustaka sebagai
identitas buku seperti label buku, dan lembaran tanggal kembali. Dengan demikian
sebelum label ditempelkan pada punggung buku, terlebih dahulu diisi dengan nomor
penempatan buku yang memuat keterangan nomor klas, tiga huruf nama pengarang
utama dan satu huruf pertama judul. Label tersebut kemudian ditempelkan pada
punggung buku kira-kira 2,5 cm dari bawah dalam posisi buku berdiri. Sedangkan
lembaran tanggal kembali ditempelkan pada halaman buku bagian depan ataupun
belakang berguna untuk mengetahui tanggal berapa buku tersebut akan dikembalikan ke
perpustakaan. Disamping itu ada kegiatan lain yang harus dilakukan yakni penyampulan
buku. Hal ini dilakukan agar buku terlihat bersih dan rapi.

2.4.6 Penyusunan Buku


Penyusunan buku merupakan kegiatan menempatkan buku yan sudah selesai
diolah dan telah dilengkapi degan label di dalam rak buku, disusun berurutan sesuai
dengan nomor klas buku. Dengan kata lain penyusunan buku adalah kegiatan
menempatkan buku-buku yang sudah selesai diolah dan telah dilengkapi dengan label di
dalam rak/lemari. buku diatur sesuai dengan sandi buku yang merupakan kode kelompok
subjek/isi buku. Dengan demikian dalam penyusunan buku di rak selalu diperhatikan
nomor panggil buku karena fungsinya sebagai petunjuk tempat dan nomor urut dimana
nomor urut ditempatkan.
Penyusunan, penataan, dan penempatan koleksi pada rak buku dipergunakan oleh
pengunjung perpustakaan.
Penyusunan ada dua cara, yaitu :
1. Penempatan tetap
Penempatan tetap ialah buku yang sudah ditempatkan tidak akan berubah
lokasinya.
2. Penempatan relatif
Penempatan relatif ialah buku bisa bergeser sesuai dengan kebutuhan.

Universitas Sumatera Utara