Anda di halaman 1dari 2

Di Indonesia sendiri pendidikan psikologi dipelopri oleh Slamet Iman Santoso.

Pendidikan ini
diharapkan dapat membentuk suatu lembaga yang mampu menempatkan the right man in the
right place, karena pada masa itu banyak kejadian di mana orang-orang yang kurang kompeten
menduduki posisi penting sehingga membuat keputusan yang salah
Awal dari pendidikan psikologi dilakukan di lembaga psikoteknik yang dipimpin oleh Teutelink
yang kemudian menjadi program stiudy psikologi yang pernah bernaung di bawah brbagai
fakultas di lingkungan Universitas Indonesia. Di Jakarta, mata kuliah filsafat dinaungi fakultas
sastra; mata kulah statistik oleh fakultas ekonomi, dan mata kuliah faat oleh fakultas
kedokteran.
Program studi psikologi kemudian pada tahun 1956-1960 menjadi jurusan psikologi pada
fakultas kedokteran UI. Pada tahun 1960 psikologi menjadi fakultas yang berdiri sendiri di UI
(Somadikarta et. Al. 2000). Kurikulum dan pelaksanaan program study psikologi dimulai
sebelum tahun 1960, dibina oleh para pakar yang mendapat pendidikan Doktor (S3) dan
Doploma dari negeri Belanda dan Jerman. Liepokliem mendirikan bagian klinis dan psikoterapi
bertempat di barak I RSUP (RSCM). Yap Kie Hien mendirikan bagian psikologi eksperimen di
salemba. Myra Sidharta mendirikan klinik bimbingan anak. Koestoer dan Moelyono memimpin
agian psikologi kejuruan dan perusahaan (sekarang psikologi industri dan organisasi) kemudian
diperkuat oleh A.S.Munandar. bagian posikologi sosial dirintis oleh Marat kemudian dipimpin
oleh Z.Joesoef. setelah kepergian Liepokliem ke Australia, bagian psikologi klinis dan
psikoterapi berganti nama menjadi bagian psikologi klinis dan konseling dipimpin oleh Yap Kie
Hien (1960-1969). Namun dengan adanya pengertian yang luas tentang psikologi klinis, maka
nama bagian psikologi klinis-konseling berganti lagi menjadi bagian psikologi klinis.
Sejak tahun 1992, pendidikan akademik dan pendidikan profesi psikolog dipisahkan untuk
memungkinkan sarjana psikologi meneruskan ke bidang lain yang mereka minati. Sebelumnya,
sarjana psikologi adalah juga psikolog karena pendidikan praktik digabungkan pendidikan
akademik. Sejak tahun 20200, suatu forum menyepakati bahwa prasyarat bagi pendidikan
profesi psikolog – agar dapat melakukan praktik psikologi – adalah tingkat S2, namun hal itu
baru diberlakukan di UI saja. Forum ini terdiri dari dekan-dekan Fakultas Psikologi – yang kini
mencapai 20 Fakultas Psikologi negeri dan swasta – dan organisasi Himpunan Psikologi
Indonesia (Himpsi).
Sejak 1994, psikolog yang berpraktik – artinya memberikan konsultasi psikologi, melakukan
asesmen atau psikodiagnostik, dan melakukan konseling dan terapi – diwajibkan memiliki Izin
Praktik Psikolog. Izin ini diperoleh setelah mereka memperoleh rekomendasi dari oeganisasi
profesi – dulu Ikatan Sarjana Psikologi, sekarang Himpsi. Izin diterbitkan oleh Departemen
Tenaga Kerja (1994-2000) dan rencananya akan dikeluarkan oleh Himpsi sendiri.
Di Indonesia pendidikan profesi spesialis psikologi klinis secara formal belum diadakan,
padahal sebenarnya sudah cukup banyak pakar yang berpengalaman di berbagai bidang
psikologi klinis seperti terapi tingkahlaku, family therapy, counseling. Upaya untuk membuka
jalur pendidikan spesialistik-profesional semestinya didukung oleh organisasi profesi
(ISPSI/HIMPSI) karena pihak pemerintah – yakni Direktorat Pendidikan Tinggi Dep. Pendidikan
Naisonal – lebih mengutamakan pendidikan akademik S1, S2, dan S3.

Daftar Pustaka
Wiramihardja,Prof.Dr.Sutardjo S.(2004).Psikologi “Pengantar Psikologi Klinis”.Refika aditama :
Bandung
Slamet, Suprapti I.S-Sumarmo Markam. (2003). Pengantar Psikologi Klinis. UI Press : Jakarta