Anda di halaman 1dari 7

Hasil Lembar Kerja Mahasiswa 3

Dasar-dasar Komunikasi

Kelompok :6

Nama Anggota :

1. M. Zidan Irza H. 2010811067

2. Alfina Rizqyani 2010811071

3. Rey Dhiemaz Gilang P. 2010811074

4. Viny Nakita Vakumalia 2010811081

Sistem Komunikasi Intrapersonal

Komunikasi intrapersonal merupakan komunikasi dengan diri sendiri dengan tujuan


untuk berfikir, melakukan penalaran, menganalisis dan merenung. Komunikasi intrapersonal
atau komunikasi antar pribadi merupakan komunikasi yang berlangsung dalam diri
seseorang.orang itu berperan baik sebagai komunikator maupun sebagai komunikan (Effendi,
1993).

Charles V. Roberts (1983) mendefiniskan komunikasi intrapersonal sebagai semua


penguraian, pemrosesan, penyimpanan, dan pengkodean pesan fisiologis dan psikologis yang
muncul di dalam individu pada tingkat sadar dan tidak sadar kapanpun mereka
berkomunikasi dengan dirinya sendiri atau orang lain untuk tujuan mendefinisikan,
mempertahankan, dan/atau mengembangkan masalah sosial, psikologis, dan/atau diri fisik
(Rahmiana, 2019).

Komunikasi intrapersonal tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses-proses


tertentu yang pada akhirnya memunculkan kesimpulan pada diri seseorang. Proses
komunikasi ini berlangsung dalam diri seseorang lalu diterjemahkan melalui sistem
komunikasi intrapribadi (Permatasari & Supratman, 2021).

1. Sensasi

Sensasi menjadi tahapan paling awal dalam menerima suatu informasi.


Berasal dari kata “sense”, sensasi memiliki arti, yaitu alat pengindraan yang
menghubungkan antara organisme dengan lingkungannya. Ketika informasi diubah
menjadi impuls saraf oleh alat pengindraan tersebut ke dalam bahasa yang
dimengerti oleh otak, maka sensai akan muncul (Ritonga, 2019). Adapun pengertian
dari sensasi fungsi alat indera manusia sangat berperan penting dalam menerima
informasi dari lingkungan (Permatasari & Supratman, 2021). Dengan alat indera,
manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungan sekitarnya. Selanjutnya, dengan
indera juga, individu dapat memperoleh pengetahuan dan semua keterampilan yang
diperlukan untuk berinteraksi dengan dunianya (Lefrancois, 1974; 39 dalam
Zulkarnain, 2016).

Proses komunikasi intrapersonal dimulai dengan adanya sebuah stimulus.


Komunikasi intrapersonal adalah reaksi terhadap stimuli yang dapat berupa stimuli
internal atau stimuli eksternal. Seorang ahli komunikasi yang bernama Mark Knapp
menunjukkan sebuah kerangka kerja yang berguna untuk memahami proses
komunikasi intrapersonal. Menurut Knapp, terdapat dua faktor yang mempengaruhi
komunikasi intrapersonal yaitu stimuli internal dan stimuli eksternal. a. Stimuli
internal meliputi motif-motif peribadi, sikap, dan konsep diri. b. Stimuli eksternal
meliputi berbagai kejadian, obyek, dan orang yang berada di luar individu. Seorang
individu akan membentuk persepsi, perasaan, dan makna penafsiran sebuah kesan
yang dibuat tentang dirinya dan sekitarnya pada saat tertentu. Stimuli-stimuli
tersebut kemudian ditangkap oleh organ-organ sensor dan mengirimkannya ke otak.
Proses ini disebut dengan resepsi (Rahmiana, 2019).

2. Persepsi

Persepsi adalah pengalaman objek, peristiwa, atau hubungan yang diperoleh


dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (Ritonga, 2019). Secara
sederhana persepsi adalah memberikan makna pada hasil cerapan panca indera.
Selain dipengaruhi oleh sensasi yang merupakan hasil cerapan panca indera,
persepsi dipengaruhi juga oleh perhatian (attention), harapan (expectation),
motivasi dan ingatan (Yanti, 2017). Presepsi bersifat individual dimana hasil dari
stimulus indera setiap orang berbeda walaupun orang tersebut mengalami
pengalaman yang sama (Permatasari & Supratman, 2021).

Dalam proses komunikasi intrapersonal organ-organ kemudian menangkap


sebuah stimulis dan mengirimkannya ke sistem saraf pusat melalui sistem saraf
peripheral. Ketika kita menerima seluruh stimuli yang diarahkan kepada kita, kita
memberi perhatian hanya kepada beberapa stimuli saja. Hal ini disebabkan karena
kita menerapkan persepsi selektif. Hanya stimuli yang tinggi saja yang diterima
sedangkan stimuli yang rendah akan dikesampingkan (Rahmiana, 2019).

3. Memori

Memori memiliki peran penting dalam mempengaruhi persepsi dan


berpikir. Memori merupakan sistem yang sangat terstruktur yang memungkinan
organisme untuk merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuan itu
untuk membimbing perilaku mereka (Schlesinger dan Groves, 1976; 325 dalam
Zulkarnain, 2016). Memori memiliki tiga proses yaitu perekaman, penyimpanan,
dan pemanggilan. Perekaman merupakan pencetakan informasi yang didapat
melalui indera dan syaraf internal, penyimpanan merupakan berapa lama informasi
berada pada individu serta dalam bentuk apa dan dimana, pemanggilan merupakan
mengingat kembali informasi yang sudah didapat dan disimpan (Permatasari &
Supratman, 2021).

Dalam proses komunikasi intrapersonal, memori memproses stimuli yang


terjadi dalam tiga tingkatan yaitu kognitif, emosional, dan fisiologis. Proses kognitif
berhubungan dengan intelektual diri termasuk penyimpanan, retrieval, pemilahan,
dan asimilasi informasi. Proses emosional berkaitan dengan emosi diri. Semua
emosi dan sikap, kepercayaan, dan pendapat berinteraksi untuk menentukan respon
emosi terhadap berbagai stimulus. Proses fisiologis terjadi pada tingkatan fisiologis
dan hal ini berkaitan dengan psikologis diri. Respon semacam ini direfleksikan
melalui perilaku fisik seperti aktivitas otak, tekanan darah, dan lain-lain (Rahmiana,
2019).

4. Berpikir

Dalam berfikir kita akan melibatkan semua proses yang kita sebut diatas,
yaitu: sensasi, persepsi, dan memori. Saat berfikir maka memerlukan penggunaan
lambang, visual atau grafis. Berfikir dilakukan untuk memahami realitas dalam
rangka mengambil keputusan, memecahkan persoalan, dan menghasilkan yang baru
dengan mengolah dan memanipulasikan informasi untuk memenuhi kebutuhan atau
memberikan respons. Secara garis besar ada dua macam berfikir, autuistic dan
realisti (Yanti, 2017). Terdapat dua macam berfikir, yaitu berfikir autistik atau
melamun dimana seseorang akan menangkap kehidupannya sebagai sebuah fantasi
dan berfikir realistik atau nalar yang mana seseorang akan berfikir untuk
menyesuaikan dengan dunia nyata (Permatasari & Supratman, 2021).

Berpikir deduktif berarti menarik kesimpulan dari dua proposisi, yang


pertama menyatakan proposisi umum dalam logika yang disebut silogisme.
Sebalikya, berpikir induktif diawali dari hal yang khusu dan kemudian mengambil
kesimpulan secara umum. Berpikir evaluatif adalah pemikiran kritis, yang menilai
apakah suatu ide benar atau tidak. Dalam pemikiran evaluatif kita tidak menambah
atau mengurangi ide (Ritonga, 2019).

5. Problem Solving

Problem solvig adalah suatu proses mental dan intelektual dalam


menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang
akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat (Hamalik, 1994:
151 dalam Hefni, 2017). Ketika sedang menghadapi suatu masalah, individu harus
menyesuaikan dengan situasi serta kondisi masalah yang dihadapi pada saat itu
(Ginanjar, 2017). Terdapat lima proses atau tahapan dalam memecahkan masalah,
yaitu (Arsyad, 2017; Ginanjar, 2017):

a. Terjadinya suatu peristiwa ketika perilaku yang biasa dihambat karena


sebab-sebab tertentu.

b. Mencoba menggali memori untuk mengetahui cara-cara apa saja yang


efektif pada masa lalu.

c. Mencoba seluruh kemungkinan pemecahan yang pernah diingat atau


apa yang dipikirkan.

d. Menggunakan lambang-lambang verbal atau grafis untuk mengatasi


masalah.

e. Muncul solusi bagi masalah (insight solution)

6. Decision Making

Salah satu fungsi utama dalam berpikir adalah untuk menetapkan suatu
keputusan (Ginanjar, 2017). Menurut Facione dan Facione (2007: 98 dalam Hefni,
2017), pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran
dari proses mental atau kognitif yang membawa pada pemilihan suatu jalur
tindakan diantara beberapa alternatif yang tersedia. Terdapat beberapa asumsi
yang mendasari proses decision making adalah sebagai berikut (Arsyad, 2017):

a. Keputusan merupakan hasil berpikir

b. Keputusan selalu melibatkan pilihan dari berbagai alternatif

c. Keputusan selalu melibatkan tindakan nyata walaupun pelaksanaannya


bisa ditunda

Faktor personal penentu decision making (Yanti, 2017):

a. Kognisi: Kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki.

b. Motif: Tujuan yang ingin dicapai.

c. Sikap: Sikap terhadap sesuatu hal yang berpengaruh terhadap


pengambilan keputusan.

Ditahapan paling awal, individu menggunakan informasi atau pengalaman


sebelumnya untuk mendeskripsikan sesuatu, menentukan bentuk, karakteristik
atau penampilan, situasi atau orang. Pada tahap ini individu melakukan klarifikasi
(Arysad, 2017).

Setelah klarifikasi, maka dilakukan evaluasi. Beberapa hubungan


diidentifikasi pada tahap ini untuk kemudian menentukan tindakan apa yang tepat.
Setelah melakukan serangkaian tindakan, diharapkan adanya umpan balik sebagai
hasil dari tindakan yang dilakukan (Arsyad, 2017).

7. Berpikir Kreatif

Menurut James C. Coleman dan Coustance L. Hammen, berfikir kreatif


adalah “thinking which produces new methods, new concepts, new understanding,
new invebtions, new work of art.” Yang berarti “berpikir yang menghasilkan
metode baru, konsep baru, pemahaman baru, penemuan baru, karya seni baru.”
(Juhana, 2019). Terdapat tiga syarat yang dipenuhi dalam berpikir kreatif, sebagai
berikut (Yanti, 2017; Arsyad, 2017):

a. Kreativitas melibatkan respon atau gagasan baru atau yang secara


statistik sangat jarang terjadi.

b. Kreativitas harus mampu memecahkan masalah secara realistis.


c. Kreativitas merupakan usada untuk mempertahanakn insight yang
orisinal, menilai dan mengembangkannya sebaik mungkin.

Para psikolog menyebut ada lima tahap berpikir kreatif:

a. Orientasi, merumuskan masalah serta mengindentifikasi aspek-aspek


dari masalah.

b. Preparasi, dimana pikiran mencoba mengumpulkan sebanyak mungkin


informasi yang relevan dengan masalah.

c. Inkubasi, pikiran beristirahat sejenak ketika berbagai solusi menemui


jalan buntu. Pada tahap ini proses pemecahan belangsung di alam
bawah sadar kita.

d. Iluminasi, masa inkubasi berakhir ketika pemikir menerima inspirasi,


serangkaian intuisi yang memecahkan masalah

e. Verifikasi, tahap terakhir untuk menguji dan mengevaluasi secara kritis


solusi dari masalah yang diajukan pada tahap keempat.

Ketika orang berfikir kreatif, cara berfikir yang digunakannya adalah


berfikir analogis. Berfikir kreatif serta berfikir tidak kreatif dibedakan oleh Guilford
dengan konsep konvergen dan divergen. Menurut Guilvord, orang yang kreatif
ditandai dengan cara berfikir divergen. Yakni, mencoba menghasilkan sejumlah
kemungkinan jawaban. Berfikir konvergen erat kaitannya dengan kecerdasan
sedangkan divergen kreatifitas. Berfikir divergen dapan diukur dengan fluecy,
flexibility dan originality (Juhana, 2019).
DAFTAR PUSTAKA

Effendi, O. U. (1993). Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hefni, Harjani. (2017). Komunikasi Islam. Jakarta: Prenamedia Group.

Juhana, R. (2019). PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP SALES PROMOTION GIRL


DI PT. GUDANG GARAM TBK. KOTA BANDUNG. 14 Maret 2021.

Permatasari, D. W. dan Supratman, L. P. (2021). Proses Komunikasi Intrapersonal Remaja


Dalam Mendengarkan Lagu Korea. Jurnal e-Proceeding of Management Vol. 8, No.
5. https://openlibrarypublications.telkomuniversity.ac.id/index.php/management/
article/view/16665/16371. 14 Maret 2022.

Rahmiana. (2019). Komunikasi Interpersonal Dalam Komunikasi Islam. PEURAWI, 80—


81.

Ritonga, M. Husni. (2019). PSIKOLOGI KOMUNIKASI. Medan: Perdana Publishing.

Ginanjar, Dede. (2017). Proses Komunikasi Intrapersonal Dewasa Muda Dalam


Menentukan Keputusan Untuk Menjadi Wirausahawan.
http://eprints.kwikkiangie.ac.id/2266/. 14 Maret 2022.

Yanti, F. (2017). Ragam Komunikasi Dalam Al-Qur’an. Jurnal Ilmu Dakwah dan
Pengembangan Komunitas, 62—63.

Zulkarnain, Iskandar. (2016). KEPERCAYAAN DALAM KOMUNIKASI POLITIK:


TINJAUAN PSIKOLOGI KOMUNIKASI. Medan: USU Press.