Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

KATARAK
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Stase Keperawatan Keluarga
Program Profesi Ners Angkatan XI

Disusunoleh :

AJENG SINTA NURYANI

KHG.D21061

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XI

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN KARSA HUSADA GARUT

Tahun Ajaran 2021


I. KONSEP DASAR KATARAK
A. Pengertian
Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih.
Biasanya terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul pada saat
kelahiran (katarak kongenital). (Brunner & Suddarth, 2021).
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan lensa yang dapat terjadi
akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau
akibat keduanya.(Tamsuri, 2021)
Katarak merupakaan keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut
atau bahan lensa di dalam kapsul lensa atau suatu keadaan patologik lensa
dimana lensa menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi
protein. Kekeruhan dapat terjadi akibat gangguan metabolisme normal
lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu(Ilyas, 2015).
B. Etiologi
Berbagai macam hal yang dapat mencetuskan katarak antara lain (Corwin,
2000):
1. Usia lanjut dan proses penuaan 
2. Kongenital atau bisa diturunkan
3. Pembentukan katarak dipercepat oleh factor lingkungan, seperti
merokok atau bahan beracun lainnya.  
4. Katarak bias disebabkan oleh cedera mata, penyakit metabolic
(misalnya diabetes) dan obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid).  
Katarak juga dapat disebabkan oleh beberapa faktor risiko lain, seperti:
1. Katarak traumatik yang
disebabkan oleh riwayat trauma/cedera pada mata.
2. Katarak sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, seperti:
penyakit/ gangguan metabolisme, proses peradangan pada mata, atau
diabetes melitus.
3. Katarak yang disebabkan oleh paparan sinar radiasi.
4. Katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jangka
panjang, seperti kortikosteroid dan obat penurun kolesterol.
5. Katarak kongenital yang dipengaruhi oleh faktor genetik 

C. Tanda dan Gejala


1. Penglihatan akan suatu objek benda atau cahaya menjadi kabur,
buram. bayangan benda terlihat seakan seperti bayangan semu atau
seperti asap
2. Kesulitan melihat ketika malam hari
3. Mata terasa sensitif bila terkena cahaya
4. Bayangan cahaya yang ditangkap seperti sebuah lingkaran
5. Membutuhkan pasokan cahaya yang cukup terang untuk membaca
atau beraktifitas lainnya.
6. Sering mengganti kacamata atau lensa kontak karena merasa sudah
tidak nyaman menggunakannya
7. Warna cahaya memudar dan cenderung berubah warna saat melihat,
misalnya cahaya putih yang ditangkap menjadi cahaya kuning
8. Jika melihat dengan satu mata, bayangan benda atau cahaya terlihat
ganda

D. Klasifikasi
Berdasarkan garis besar katarak dapat diklasifikasikan dalam golongan
berikut:
1. Katarak perkembangan (developmental) dan degenerative
2. Katarak trauma : katarak yang terjadi akibat trauma pada lensa mata
3. Katarak komplikata (sekunder): penyakit infeksi tertentu dan
penyakit seperti DM dapat mengakibatkan timbulnya kekeruhan
pada lensa yang akan menimbulkan katarak komplikata.
4. Berdasarkan usia pasien , katarak dapat dibagi dalam :
a. Katarak kongenital , katarak yang ditemukan pada bayi ketika
lahir ( sudah terlihat pada usia dibawah 1 tahun )
b. Katarak juvenil , katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun dan
dibawah usia 40 tahun
c. Katarak presentil ,katarak sesudah usia 30-40 tahun
d. Katarak senilis, katarak yang terjdi pada usia lebih dari 40
tahun. Jenis katarak ini merupakan proses degeneratif
(kemunduran ) dan yang paling sering ditemukan
Adapun tahapan katarak senilis
1) Katarak insipien: pada stadium insipien (awal) kekeruhan lensa
mata masih sangat minimal , ahkan tidak terlihat tanpa
menggunakan alat perriksa. Kekeruhan lensa berbentuk bercak-
bercak kekeruhan yang tidak teratur. Penderita pada stadium ini
sering kali tidak merasa akan keluhan atau gangguan pada
pengelihatannya sehingga cenderung diabaikan.
2) Katarak immataur : lensa masih memiliki bagian yang jernih
3) Katarak matur : pada stadium ini proses kekeruhan lensa terus
berlangsung dan bertambah sampai menyeluruh bagian lensa
sehngga keluhan yang sering disampaikan oleh penderita
katarak pada saat ini adalah kesulitan membaca , penglihatan
kabur dan kesulitan melakukan aktifitas sehari- hari
4) Katarak hipermatur : terdapat bagian permukaan lensa yang
sudah merembes melalui kapsul lensa dan bisa menyebabkan
peradangan pada struktur mata yang lainnya.
F. Patofisiologi
Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih,
transparan, berbentuk seperti kancing baju dan mempunyai kekuatan
refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis. Pada
zona sentral terdapat nukleus, di perifer ada korteks, dan yang mengelilingi
keduanya adalah kapsul anterior dan posterior. Dengan bertambahnya usia,
nucleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan. Disekitar
opasitas terdapat densitas seperti duri di anterior dan posterior nukleus.
Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling
bermakna, nampak seperti kristal salju pada jendela.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya
transparansi. Perubahan pada serabut halus multipel (zunula) yang
memanjang dari badan silier ke sekitar daerah diluar lensa, misalnya dapat
menyebabkan penglihatan mengalamui distorsi. Perubahan kimia dalam
protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan
pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori
menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air
ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan
mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim
mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim
akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan
pasien yang menderita katarak.

G. Pemeriksaan Diagnostik
a. Kartu mata snellen /mesin telebinokuler : mungkin terganggu dengan
kerusakan kornea, lensa, akueus/vitreus humor, kesalahan refraksi,
penyakit sistem saraf, penglihatan ke retina.
b. Lapang Penglihatan: penurunan mungkin karena massa tumor, karotis, 
glukoma.
c. Pengukuran Tonografi : TIO (12 – 25 mmHg)
d. Pengukuran Gonioskopi membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup
glukoma.
e. Tes Provokatif: menentukan adanya/ tipe glaucoma
f. Oftalmoskopi: mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optik,
papiledema, perdarahan.
g. Darah lengkap, LED: menunjukkan anemi sistemik / infeksi.
h. EKG, kolesterol serum, lipid
i. Tes toleransi glukosa : kotrol DM
j. Keratometri.
k. Pemeriksaan lampu slit.
l. A-scan ultrasound (echography).
m. Penghitungan sel endotel penting untuk fakoemulsifikasi & implantasi.
n. USG mata sebagai persiapan untuk pembedahan katarak.
H. Penatalaksanaan Medis
Tersedia dua teknik terapi pada katarak melalui pembedahan yaitu
ekstraksi katarak intra kapsular (EKIK) dan ekstraksi katarak
ekstrakapsular (EKEK). Indikasi dari pembedahan adalah kehilangan
penglihatan yang menggangu aktivitas normal atau katarak yang
menyebabkan glaukoma. Katarak diangkat dibahwah anestesi local dengan
rawat jalan. Kehilangan penglihatan berat dan akhirnya kebutaan akan
terjadi kecuali dilakukan pembedahan(Baughman, 2000).
a. Secara Medis
Solusi untuk menyembuhkan penyakit katarak secara medis
umumnya dengan jalan operasi.penilaian bedah didasarkan pada
lokasi,ukuran dan kepadatan katarak.Katarak akan dibedah bila sudah
terlalu luas mengenai bagian dari lensa mata atau katarak total.Lapisan
mata diangkat dan diganti lensa buatan(lensa intraokuler).pembedahan
katarak bertujuan untuk mengeluarkan lensa yang keruh.Lensa dapat
dikeluarkan dengan pinset atau batang kecil yang dibekukan.kadang
kadang dilakukan dengan menghancurkan lensa dan mengisap
keluar.Adapun tekhnik yang digunakan pada operasi katarak adalah :
1) Fakoemulsifikasi
Merupakan teknologi terkini,hanya dengan melakukan
sayatan (3mm) pada kornea. Getaran ultrasonic pada alat
fakoemulsifikasi dipergunakan untuk mengambil lensa yang
mengalami katarak,lalu kemudian diganti dengan lensa tanam
permanent yang dapat dilipat. Luka hasil sayatan pada kornea
kadang tidak memerlukan penjahitan, shg pemulihan
penglihatan segera dapat dirasakan. Teknik fakoemulsifikasi
memakan waktu 20-30 menit dan hanya memerlukan pembiusan
topical atau tetes mata selama operasi.
2) Ekstra kapsuler
Dengan teknik ini diperlukan sayatan kornea lebih panjang,
agar dapat mengeluarkan inti lensa sec utuh, kemudian sisa
lensa dilakukan aspirasi. Lensa mata yang telah diambil
digantikan dengan lensa tanam permanent. Diakhiri dengan
menutup luka dengan beberapa jahitan.
a) Ekstra Capsular Catarak Ekstraktie(ECCE)
Korteks dan nucleus diangkat, kapsul posterior
ditinggalkan untuk mencegah prolaps vitreus, melindungi
retina dari sinar ultraviolet dan memberikan sokongan
untuk implantasi lensa intra okuler.
b) Intra Capsular Catarak Ekstraktie(ICCE)
 Lensa diangkat seluruhnya
 Keuntungannya prosedur mudah dilakukan
 Kerugiannya mata berisiko mengalami retinal
detachment (lepasnya retina )

b. Terapi
Obat tetes mata dapat digunakan sebagai terapi pengobatan. Ini
dapat diberikan pada pasien dengan katarak yang belum begitu
keparahan. Senyawa aktif dalam obat tetes mata dari keben yang
bertanggung jawab terhadap penyembuhan penyakit katarak adalah
saponin. Saponin ini memiliki efek meningkatkan aktifitas proteasome
yaitu protein yang mampu mendegradasi berbagai jenis protein
menjadi polipeptida pendek dan asam amino. Karena aktivitas inilah
lapisan protein yang menutupi lensa mata penderita katarak secara
bertahap “diicuci” shg lepas dari lensa dan keluar dari mata berupa
cairan kental berwarna putih kekuningan.
SARAN
Untuk pencegahan penyakit katarak dianjurkan untuk banyak
mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung vit.C, vit.A,
dan vit E.
I. Komplikasi
a. Hilangnya vitreous. Jika kapsul posterior mengalami kerusakan
selama operasi maka gel vitreous dapat masuk ke dalam bilik anterior,
yang merupakan resikoterjadinya glaucoma atau traksi pada retina.
Keadaan ini membutuhkan pengangkatan dengan satu instrument yang
mengaspirasi dan mengeksisi gel (virektomi). Pemasanagan lensa
intraocular sesegera mungkin tidak bias dilakukan pada kondisi ini.
b. Prolaps iris. Iris dapat mengalami protrusi melalui insisi bedah pada
periode pasca operasi dini. Terlihat sebagai daerah berwarna gelap
pada lokasi insisi. Pupil mengalami distorsi. Keadaan ini
membutuhkan perbaikan segera dengan pembedahan.
c. Endoftalmitis. Komplikasi infeksi ekstraksi katarak yang serius,
namun jarang terjadi.

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN YANG


MENGALAMI KATARAK
A. Pengkajian
Dalam melakukan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan dasar
utama dan hal yang penting di lakukan baik saat pasien pertama kali
masuk rumah sakit maupun selama pasien dirawat di rumah sakit.
a. Biodata
Identitas klien : nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
suku/ bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat dan nomor register.
b. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama Penurunan ketajaman penglihatan dan silau.
2) Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat kesehatan pendahuluan pasien diambil untuk menemukan
masalah primer pasien, seperti: kesulitan membaca, pandangan
kabur, pandangan ganda, atau hilangnya daerah penglihatan soliter.
Perawat harus menemukan apakah masalahnya hanya mengenai
satu mata atau dua mata dan berapa lama pasien sudah menderita
kelainan ini. Riwayat mata yang jelas sangat penting. Apakah
pasien pernah mengalami cedera mata atau infeksi mata, penyakit
apa yang terakhir diderita pasien.
3) Riwayat kesehatan sekarang
Eksplorasi keadaan atau status okuler umum pasien. Apakah ia
mengenakan kacamata atau lensa kontak?, apakah pasien
mengalami kesulitan melihat (fokus) pada jarak dekat atau jauh?,
apakah ada keluhan dalam membaca atau menonton televisi?,
bagaimana dengan masalah membedakan warna atau masalah
dengan penglihatan lateral atau perifer.
4) Riwayat kesehatan keluarga
Adakah riwayat kelainan mata pada keluarga derajat pertama atau
kakek-nenek.
c. Pemeriksaan fisik
Pada inspeksi mata akan tampak pengembunan seperti mutiara
keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan
oftalmoskop(Smeltzer, 2002). Katarak terlihat tampak hitam terhadap
refleks fundus ketika mata diperiksa dengan oftalmoskop direk.
Pemeriksaan slit lamp memungkinkan pemeriksaan katarak secara
rinci dan identifikasi lokasi opasitas dengan tepat. Katarak terkait usia
biasanya terletak didaerah nukleus, korteks, atau subkapsular. Katarak
terinduksi steroid umumnya terletak di subkapsular posterior.
Tampilan lain yang menandakan penyebab okular katarak dapat
ditemukan, antara lain deposisi pigmen pada lensa menunjukkan
inflamasi sebelumnya atau kerusakan iris menandakan trauma mata
sebelumnya (Bruce, Cris, & Anthiny, 2005)
d. Perubahan pola fungsi
Data yang diperoleh dalam kasus katarak, menurut (gordon) adalah
sebagai berikut :
1) Persepsi tehadap kesehatan
Bagaimana manajemen pasien dalam memelihara kesehatan,
adakah kebiasaan merokok, mengkonsumsi alkohol,dan apakah
pasien mempunyai riwayat alergi terhadap obat, makanan atau
yang lainnya.
2) Pola aktifitas dan latihan
Bagaimana kemampuan pasien dalam melakukan aktifitas atau
perawatan diri, dengan skor : 0 = mandiri, 1= dibantu sebagian, 2=
perlu bantuan orang lain, 3= perlu bantuan orang lain dan alat, 4=
tergantung/ tidak mampu.
3) Pola istirahat tidur
Berapa lama waktu tidur pasien, apakah ada kesulitan tidur seperti
insomnia atau masalah lain. Apakah saat tertidur sering terbangun.
4) Pola nutrisi metabolik
Adakah diet khusus yang dijalani pasien, jika ada anjuran diet apa
yang telah diberikan. Kaji nafsu makan pasien sebelum dan setelah
sakit mengalami perubahan atau tidak, adakah keluhan mual dan
muntah, adakah penurunan berat badan yang drastis dalam 3 bulan
terakhir.
5) Pola eliminasi
Kaji kebiasaan BAK dan BAB pasien, apakah ada gangguan atau
kesulitan. Untuk BAK kaji warna, bau dan frekuensi sedangkan
untuk BAB kaji bentuk, warna, bau dan frekuensi.
6) Pola kognitif perseptual
Status mental pasien atau tingkat kesadaran, kemampuan bicara,
mendengar, melihat, membaca serta kemampuan pasien
berinteraksi. Adakah keluhan nyeri karena suatu hal, jika ada kaji
kualitas nyeri.
7) Pola konsep diri
Bagaimana pasien mampu mengenal diri dan menerimanya seperti
harga diri, ideal diri pasien dalam hidupnya, identitas diri dan
gambaran akan dirinya.
8) Pola koping
Masalah utama pasien masuk rumah sakit, cara pasien menerima
dan menghadapi perubahan yang terjadi pada dirinya dari sebelum
sakit hingga setelah sakit.
9) Pola seksual reproduksi
Pola seksual pasien selama di rumah sakit, menstruasi terakhir dan
adakah masalh saat menstruasi.
10) Pola peran hubungan
Status perkawinan pasien, pekerjaan, kualitas bekerja, sistem
pendukung dalam menghadapi masalah, dan bagaiman dukungan
keluarga selama pasien dirawat di rumah sakit.
11) Pola nilai dan kepercayaan
Apa agama pasien, sebagai pendukung untuk lebih mendekatkan
diri kepada Tuhan atas sakit yang diderita.
e. Pemeriksaan Diagnostik
1) Kartu mata Snellen / mesin telebinokular (tes ketajaman
penglihatan dan sentral penglihatan): mungkin terganggu dengan
kerusakan lensa, system saraf atau penglihatan ke retina atau jalan
optik.
2) Pemeriksaan oftalmoskopi: mengkaji struktur internal okuler,
mencatat atrofi lempeng optic, papiledema, perdarahan retina, dan
mikroaneurisme.
3) Darah lengkap, laju sedimentasi (LED): menunjukkan anemi
sistemik / infeksi
4) EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid: dilakukan untuk
memastikan aterosklerosis.
5) Tes toleransi glukosa / FBS: menentukan adanya/ kontrol diabetes.
B. Diagnosis Keperawatan
a. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan Katarak
b. Risiko cedera yang dibuktikan oleh faktor internal (peningkatan
tekanan intra orbital (TIO)), Gangguan penglihatan
c. Ansietas berhubungan dengan rencana operasi, kekhawatiran
(SDKI, 2018)
C. Rencana Keperawatan

Diagnosis Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


Gangguan persepsi sensori Setelah dilakukan intervensi - Minimalisasi
penglihatan berhubungan keperawatan selama ….x24 Rangsangan
Katarak jam, maka Persepsi Sensori 1. Periksa status mental,
Membaik status sensori, dan tingkat
Gejala dan Tanda Mayor kenyamanan (misalnya
Subjektif : Kriteria Hasil: nyeri, kelelahan)
1. Mendengar suara bisikan 5 (menurun) 2. Diskusikan tingkat
atau melihat bayangan 1. Verbalisasi mendengar toleransi terhadap beban
2. Merasakan sesuatu melalui bisikan sensori (misalnya bising,
indera perabaan, penciuman 2. Verbalisasi melihat bayangan terlalu terang)
atau pengecapan 3. Verbalisasi merasakan 3. Jadwalkan aktivitas
Objektif : sesuatu melalui indra harian dan waktu
1. Distorsi sensori perabaan istirahat
2. Respon tidak sesuai 4. Verbalisasi merasakan 4. ajarkan cara
3. Bersikap seolah melihat, sesuatu melalui indra meminimalisasi stimulus
mendengar, mengecap, penciuman (misalanya mengatur
meraba, atau mencium 5. Verbalisasi merasakan pencahayaan ruangan,
sesuatu sesuatu melalui indra mengurangi kebisingan,,
Gejala dan Tanda Minor pengecapan membatasi pengunjung)
Subjektif: 6. Distorsi sensori 5. Kolaborasi pemberian
1. Menyatakan kesal 7. Perilaku halusinasi obat yang mempengaruhi
Objektif: 8. Menarik diri persepsi stimulus
1. Menyendiri 9. Melamun
2. Melamun 10. Curiga
3. Konsentrasi buruk 11. Mondar-mandir
4. Disorientasi waktu, tempat, 5 (membaik)
orang atau situasi 1. Respon sesuai stimulus
5. Curiga 2. Konsentrasi
6. Melihat ke satu arah Orientasi
7. Mondar-mandir
8. Bicara sendiri

Risiko cedera yang Setelah dilakukan intervensi - Pencegahan Cedera


dibuktikan oleh faktor keperawatan selama ….x24 1. Identifikasi area
internal (peningkatan jam, maka Tingkat Cedera lingkungan yang
tekanan intra orbital (TIO)), Menurun. berpotensi menyebabkan
Gangguan penglihatan cedera
Kriteria Hasil: 2. Sediakan pencahayaan
Dengan Faktor Risiko: 5 (meningkat) yang memadai
Eksternal : 1. Toleransi aktivitas 3. Sosialisasikan pasien dan
1. Terpapar patogen 2. Nafsu makan keluarga dengan
2. Terpapar zat kimia 3. Toleransi makanan lingkungan ruang ruawat
toksik 5 (menurun) (mis. penggunaan,
3. Terpapar agen 1. Kejadian cedera telepon, tempat tidur,
nosocomial 2. Luka/lecet penerangan ruangan,
4. Ketidakamanan 3. Ketegangan otot lokasi kamar mandi)
transportasi 4. Fraktur 4. Gunakan pengaman
Internal : 5. Perdarahan tempat tidur sesuai
1. Ketidaknormalan profil 6. Ekspresi wajah dengan kebijakan
darah kesakitan fasilitas pelayanan
2. Perubahan orientasi 7. Agitasi kesehatan
afektif 8. Iritabilitas 5. Diskusikan bersama
3. Perubahan sensasi 9. Gangguan mobilitas anggota keluarga yang
4. Disfungsi autoimun 10. Gangguan kognitif dapat mendampingi
5. Disfungsi biokimia 5 (membaik) pasien
6. Hipoksia jaringan 1. Tekanan darah 6. Jelaskan alas an
7. Kegagalan mekanisme 2. Frekuensi nadi intervensi pencegahan
pertahanan tubuh 3. Frekuensi napas jatuh ke pasien dan
8. Malnutrusi 4. Denyut jantung apical keluarga
9. Perubahan fungsi 5. Denyut jantung
psikomotor radialis
10. Perubahan fungsi 6. Pola istirahat/tidur
kognitif
Ansietas berhubungan Setelah dilakukan intervensi - Reduksi Ansietas
dengan rencana operasi , keperawatan selama ….x24 1. Identifikasi saat tingkat
kekhawatiran mengalami jam, maka tingkat ansietas ansietas berubah (mis,
kegagalan. menurun. kondisi, waktu, stressor)
Dengan kriteria hasil: 2. Monitor tanda-tanda
Gejala dan Tanda mayor 5 (menurun) ansietas (verbar dan
Subyektif : 1. verballsasi kebingungan nonverbal)
1. Merasa bingung 2. verballsasi khawatir 3. Ciptakan suasana
2. Merasa khawatir dengan akibat kondisi yang terapeutik untuk
akibat kondisi yang dihadapi menumbuhkan
dihadapi 3. perilaku gelisah kepercayaan
3. Sulit berkonsentrasi 4. perilaku tegang 4. Temani pasien untuk
Objektif: 5. keluhan pusing mengurangi kecemasan,
1. Tampak gelisah 6. anoreksia jika perlu
2. Tampak tegang 7. palpitasi 5. Motivasi
3. Sulit tidur 8. frekuensi pernapasan mengidentifikasi situasi
9. frekuensi nadi yang memicu kecemasan
Gejala dan Tanda Minor 10. tekanan darah 6. Anjurkan keluarga untuk
Subyektif: 11. diaphoresis tetap bersama pasien, jika
1. Mengeluh pusing 12. tremor perlu
2. Anoreksia 13. pucat 7. Latih kegiatan
3. Palpitasi 5 (membaik) pengalihan untuk
4. Merasa tidak berdaya 1. konsentrasi mengurangai ketegangan
Objektif: 2. pola tidur 8. Latih teknik relaksasi
1. frekuensi nafas meningkat 3. perasaan keberdayaan
2. frekuensi nadi meningkat 4. kontak mata
3. tekanan darah meningkat 5. pola berkemih - Persiapan Pembedahan
4. diaforesis 6. orientasi 1. Identifikasi kondisi
5. tremor umum pasien (mis.
6. muka tampak pucat kesadaran, hemodinamik,
7. suara bergetar konsumsi antikoagulan,
8. kontak mata buruk jenis operasi, jenis
9. sering berkemih anastesi, penyakit
10. berorientasi pada masa lalu penyakit,[seperti DM,
hipertensi, jantung,
PPOK, asma],
pengetahuan tentang
operasi, kesiapan
psikologis)
2. Onitor tekanan, darah,
suhu, nadi, pernapasan,
BB, EKG
3. Monitor kadar gula
4. Puasakan minimal 6 jam
sebelum pembedahan
5. Jelaskan tentang
prosedur, waktu dan
lamanya operasi
6. Kolaborasi dengan dokter
bedah jika mengalami
peningkatan suhu tubuh,
hiperglikemi,
hipoglikemi atau
perburukan kondisi
DAFTAR PUSTAKA

Baughman, D. C. (2000). Keperawatan Medikal Bedah: Buku Saku Untuk


Brunner dan Suddart, alih bahasa oleh Yasmin Asih. Jakarta: EGC.
Bruce, J., Cris, C., & Anthiny, B. (2005). Lecture Notes Oftamology, alih bahasa
oleh Asri Dwi Rachmanwati. Jakarta: Erlangga.
Brunner, & & Suddarth. (2001). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Corwin. (2000). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Ilyas, S. (2005). Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga (3rd ed.). Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.
Ilyas, S. (2009). Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. In Perpustakaan
Universitas Indonesia. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Litbang Kemkes. (2013). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013. Laporan
Nasional 2013.
PPNI, Tim Pokja SDKI DPP. (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesi
(SDKI) (I). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.
PPNI, Tim Pokja SIKI DPP. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
PPNI, Tim Pokja SLKI DPP. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Smeltzer, S. C. (2002). Buku Ajar Keperawatan Mdikal Bedah Brunner &
Suddarth. Jakarta: EGC.
Tamsuri, A. (2011). Klien Gangguan Dan Penglihatan : Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta: EGC.
Vaughan, & Asbury. (2009). Opthamology Umum (17th ed.). Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai