Anda di halaman 1dari 8

PERHITUNGAN BIAYA BERDASARKAN AKTIVITAS DAN ANALISIS

PROFITABILITAS PELANGGAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Untuk dapat mencapai kualitas produk yang baik dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan
perusahaan harus mampu hanya menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan
pelanggan. Untuk mewujudkan perlu suatu filosofi untuk menghilangkan pemborosan. Selain
itu, usaha menghasilkan produk yang bermutu hanya dapat dicapai bila proses bermutu dapat
dicapai. Perbaikan-perbaikan yang dapat dilakukan penghematan di berbagai bidang hanya
dapat dilakukan dalam suatu proses yang berlangsung panjang dan terus menerus dan
berkesinambungan. Metode ABC (Activity Based Costing ) merupakan system tive lain
terhadap metode pembiayaan tradisional atas biaya overhead.
Dalam analisis profitabilitas pelanggan ini dihitung revenue (pendapatan) yang dilakukan
oleh seorang customer sepanjang dia menjadi pelanggan produk perusahaan itu (lifetime
value of customer). Kemudian estimasi revenue ini dibandingkan dengan biaya akuisisi
(customer acquisition cost) dan juga biaya pemeliharaan supaya pelanggan loyal
(maintenance cost). Jika potensi revenue lebih tinggi, berarti pelanggan itu menguntungkan.
Namun jika lebih rendah, maka pelanggan itu tidak memberikan sumbangan profit bagi
perusahaan.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Peran Strategis dari Perhitungan Biaya Berdasarkan
Aktivitas?
2. Apa yang dimaksud dengan Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas?
3. Bagaimana Tahap-tahap dalam Mengembangkan Sistem Perhitungan Biaya
Berdasarkan Aktivitas?
4. Bagaimana Manfaat dari Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas?
5. Apa yang dimaksud dengan Perbandingan Perhitungan Biaya Berdasarkan Volume
dan Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas?
6. Bagaimana Menghitung Biaya Kapasitas pada Perhitungan Biaya Berdasarkan
Aktivitas?
7. Apa yang dimaksud dengan Manajemen Berdasarkan Aktivitas?
8. Bagaimana Penerapan Perhitungan/Manajemen Biaya Berdasarkan Aktivitas di Dunia
Nyata?
1.3.Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui Peran Strategis dari Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas
2. Untuk mengetahui Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas
3. Untuk mengetahui Tahap-tahap dalam Mengembangkan Sistem Perhitungan Biaya
Berdasarkan Aktivitas
4. Untuk mengetahui Manfaat dari Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas
5. Untuk mengetahui Perbandingan Perhitungan Biaya Berdasarkan Volume dan
Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas
6. Untuk mengetahui Menghitung Biaya Kapasitas pada Perhitungan Biaya Berdasarkan
Aktivitas
7. Untuk mengetahui Manajemen Berdasarkan Aktivitas
8. Untuk mengetahui Penerapan Perhitungan/Manajemen Biaya Berdasarkan Aktivitas
di Dunia Nyata

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.  Peran Strategis dari Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas
       Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas (activity based costing—ABC) merupakan
metode untuk menemukan biaya yang akurat. Sementara ABC merupakan inovasi yang
relatif baru dalam akuntansi biaya, ABC dapat digunakan secara cepat oleh perusahaan yang
bergerak dalam bidang industri dan dalam organisasi pemerintahan dan nirlaba. Di sini ada
suatu contoh cepat tentang bagaimana ABC bekerja, dan mengapa ABC itu menjadi penting.
biaya produksi tidak langsung (overhead) yang tidak dapat ditelusuri ke setiap produk,
mencakup aktivitas-aktivitas sebagai berikut: perolehan bahan baku, penyimpanan dan
penanganan bahan baku, inspeksi produk, supervisi produksi, penjadwalan pekerjaan,
pemeliharaan peralatan, dan pemotongan kain. pemanfaatan aktivitas-aktivitas ini tidak
dibebankan secara proporsional kepada jumlah unit yang diproduksi, beberapa manajer akan
dibebankan terlalu tinggi dan manajer lain dibebankan terlalu rendah menurut pendekatan
dalam biaya produk-beberapa produk akan dibebankan terlalu tinggi dan produk lainnya akan
dibebankan terlalu rendah karena penggunaan aktivitas tidak dalam proporsi terhadap volume
output.

2.2.  Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas


       Untuk mengembangkan sistem perhitungan biaya, kita perlu memahami hubungan antara
sumber daya, aktivitas, dan produk atau jasa. Banyak sumber daya yang digunakan pada
operasi dapat ditelusuri ke masing-masing produk atau jasa dan diidentifikasi sebagai biaya
bahan baku langsung dan atau biaya tenaga kerja langsung. Sebagian besar biaya overhead
hanya berkaitan dengan produk atau jasa akhir secara tidak langsung. Sistem perhitungan
biaya mengidentifikasi biaya dengan aktivitas yang mengonsumsi sumber daya dan
membebankan biaya sumber daya pada objek biaya seperti produk, jasa, atau tempat
penampungan biaya perantara berdasarkan aktivitas yang dilakukan pada objek biaya
tersebut.
Sumber Daya, Aktivitas, Penggerak Biaya untuk Konsumsi Sumber Daya, dan Penggerak
Biaya untuk Konsumsi Aktivitas
Aktivitas (activity) merupakan tugas atau tindakan spesifik dari pekerjaan yang dilakukan.
Aktivitas dapat berupa satu tidakan atau batch dari beberapa tindakan. Contohnya,
memindahkan persediaan dari bengkel kerja A ke bengkel kerja B merupakan aktivitas yang
mungkin hanya membutuhkan satu tindakan. Persiapan produksi merupakan aktivitas yang
dapat mencakup beberapa tindakan. Aktivitas yang sering kali dicatat pada apa yang disebut
dengan kamus aktivitas. Suatu ilustrasi aktivitas utama dalam rantai pasokan internal
perusahaan ditunjukkan oleh Supply Chain Council pada apa yang disebut dengan SCOR
(Supply Chain Operations Reference) pada situs Council.
Sumber daya (resource) merupakan elemen ekonomis yang dibutuhkan atau dikonsumsi
dalam melaksanakan aktivitas. Gaji dan perlengkapan, merupakan sumber daya yang
dibutuhkan atau digunakan dalam melaksanakan aktivitas produksi.
 Penggerak daya (cost driver) merupakan faktor yang menyebabkan atau mengaitkan
perubahan biaya dari aktivitas. Karena penggerak biaya menyebabkan atau berkaitan dengan
perubahan biaya, jumlah penggerak biaya yang terukur atau terhitung merupakan dasar yang
sangat baik untuk membebankan biaya sumber daya pada aktivitas dan membebankan biaya
dari aktivitas ke objek biaya.
Penggerak biaya dapat berupa penggerak biaya untuk konsumsi sumber daya atau penggerak
biaya untuk konsumsi aktivitas. Penggerak biaya untuk konsumsi sumber daya (resource
consumption cost driver) merupakan ukuran jumlah sumber daya yang dikonsumsi oleh suatu
aktivitas. Penggerak biaya ini adalah penggerak biaya untuk membebankan biaya sumber
daya yang dikonsumsi oleh atau berkaitan dengan suatu aktivitas ke aktivitas atau tempat
penampungan biaya tertentu. Contoh penggerak biaya untuk konsumsi sumber daya adalah
jumlah barang yang dibeli atau dijual, perubahan desain produk, dan jumlah mesin.
Penggerak biaya untuk konsumsi aktivitas (activity consumption cost driver) mengukur
jumlah aktivitas yang dilakukan untuk suatu objek biaya. Penggerak biaya tersebut digunakan
untuk membebankan biaya aktivitas dari tempat penampungan biaya ke objek biaya. Contoh
penggerak biaya untuk konsumsi aktivitas adalah jumlah jam mesin dalam proses produksi
produk X, atau jumlah batch yang digunakan untuk memproduksi produk Y.
Apakah yang Dimaksud dengan Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas?
Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas (activity based costing—ABC) merupakan
pendekatan perhitungan biaya yang membebankan biaya sumber daya ke objek biaya seperti
produk, jasa, atau pelanggan berdasarkan aktivitas yang dilakukan untuk objek biaya.
Anggapan dasar dari pendekatan perhitungan biaya ini adalah bahwa produk atau jasa
perusahaan merupakan hasil aktivitas dan aktivitas tersebut menggunakan sumber daya yang
menyebabkan timbulnya biaya. Biaya sumber daya dibebankan pada aktivitas berdasarkan
aktivitas yang menggunakan atau mengonsumsi sumber daya (penggerak biaya untuk
konsumsi sumber daya) dan biaya aktivitas dibebankan ke objek biaya berdasarkan aktivitas
yang dilakukan untuk objek biaya (penggerak biaya untuk konsumsi aktivitas). Perhitungan
biaya berdasarkan aktivitas mengakui hubungan sebab akibat atau hubungan langsung antara
biaya sumber daya, penggerak biaya, aktivitas, dan objek biaya dalam membebankan biaya
pada aktivitas dan kemudian pada objek biaya.
Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas membebankan biaya overhead pabrik ke objek biaya
seperti produk atau jasa dengan mengidentifikasi sumber daya dan aktivitas juga biayanya
serta jumlah yang dibutuhkan untuk menghasilkan output. Dengan menggunakan penggerak
biaya untuk konsumsi sumber daya, perusahaan menentukan biaya sumber daya yang
dikonsumsi oleh aktivitas, menghitung biaya dari suatu unit aktivitas, dan kemudian
membebankan biaya dari suatu aktivitas ke objek biaya dengan mengalikan biaya dari setiap
aktivitas dengan jumlah aktivitas yang dikonsumsi oleh setiap objek biaya.
Prosedur Pembebanan Biaya Dua Tahap
     Prosedur pembebanan biaya dua tahap (two stage cost assignment) membebankan biaya
sumber daya seperti biaya overhead pabrik ke tempat penampungan biaya aktivitas dan
kemudian ke objek biaya untuk menentukan jumlah biaya sumber daya bagi setiap objek
biaya.
Suatu perhitungan biaya berdasarkan aktivitas berbeda dari sistem perhitungan biaya
berdasarkan volume dalam hal mengaitkan penggunaan sumber daya pada aktivitas dan
mengaitkan biaya aktivitas produk, jasa, atau pelanggan.
Kesimpulan, sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas berbeda dari sistem perhitungan
biaya berdasarkan volume pada dua hal: Pertama, sistem perhitungan biaya berdasarkan
aktivitas mendifinisikan tempat penampungan biaya sebagai aktivitas dan juga bukan sebagai
pusat biaya pabrik atau deartemen produksi. Kedua, penggerak biaya yang digunakan sistem
perhitungan biaya berdasarkan aktivitas untuk membebankan biaya aktivitas ke objek biaya
merupakan penggerak biaya berdasarkan aktivitas atau aktivitas-aktivitas yang dilakukan
untuk objek biaya.
2.3. Tahap-tahap dalam Mengembangkan Sistem Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas
       Mengembangkan sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas membutuhkan tiga
tahap: (1) mengidentifikasi biaya sumber daya dan aktivitas, (2) membebankan biaya sumber
daya ke aktivitas, serta (3) membebankan biaya aktivitas ke objek biaya. Tahap 1 dan 2
merupakan tahap 1 dari Tampilan 5.2, dan tahap 3 setara dengan tahap 2 dari tampilan
tersebut.
2.3.1. Tahap 1: Mengidentifikasi Biaya Sumber Daya dan Aktivitas
       Tahap pertama dalam mendesain sistem ABC adalah melakukan analisis aktivitas untuk
mengidentifikasi biaya sumber daya dan aktivitas perusahaan.  Melalui analisis aktivitas,
perusahaan mengidentifikasi pekerjaan yang dilakukannya untuk menjalankan operasinya.
Tingkatan Aktivitas
1.      Aktivitas tingkat unit (unit level activity) dilakukan pada setiap satu unit produk atau
jasa perusahaan.
2.      Aktivitas tingkat kelompok (bacth level activity) dilakukan pada setiap batch atau
kelompok unit produk atau jasa.
3.      Aktivitas tingkat produk (product level activity) mendukung proses produksi produk
atau jasa spesifik.
4.      Aktivitas tingkat fasilitas (facility level activity) mendukung operasi secara umum.
2.3.2. Tahap 2: Membebankan Biaya Sumber Daya pada Aktivitas
       Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas menggunakan penggerak biaya untuk konsumsi
sumber daya untuk membebankan biaya sumber daya ke aktivitas. Penggerak biaya untuk
konsumsi sumber daya biasanya mencakup jumlah (1) jam tenaga kerja untuk aktivitas tenaga
kerja yang intensif; (2) karyawan untuk aktivitas yang terkait dengan penggajian; (3)
persiapan untuk aktivitas yang terkait dengan batch, (4) perpindahan untuk aktivitas
penanganan bahan baku; (5) jam mesin untuk aktivitas perbaikan dan pemeliharaan, serta (6)
luas lantai per meter persegi untuk aktivitas perawatan secara umum dan kebersihan.
2.3.3. Tahap 3: Membebankan Biaya Aktivitas ke Objek Biaya
       Tahap terakhir adalah membebankan biaya aktivitas atau tempat penampungan biaya ke
objek biaya berdasarkan penggerak biaya untuk konsumsi aktivitas yang tepat. Outputnya
adalah objek biaya untuk aktivitas yang dilakuakan oleh perusahaan atau organisasi.

2.4.  Manfaat dari Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas


       Manfaat utama perhitungan biaya berdasarkan aktivitas yang telah dialami banyak
perusahaan di antaranya adalah:
1.      Pengukuran profitabilitas yang lebih baik.
2.      Pengambilan keputusan yang lebih baik.
3.      Perbaikan proses.
4.      Estimasi biaya.
5.      Biaya dari kapasitas yang tidak digunakan.
       Masing-masing dari manfaat tersebut dapat berkontribusi secara signifikan kepada
kompetisi perusahaan dengan membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih baik
serta mengimplementasikan strateginya.
2.5.  Perbandingan Perhitungan Biaya Berdasarkan Volume dan Perhitungan Biaya
Berdasarkan Aktivitas
2.5.1. Perhitungan Biaya Berdasarkan Volume
      Sistem perhitungan biaya berdasarkan volume membebankan biaya overhead
pabrik (factory overhead—FOH) berdasarkan jam tenaga kerja langsung (direct labor hours
—DLH).
2.5.2. Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas
    Dalam menggunakan perhitungan biaya berdasarkan aktivitas, HBT mengidentifikasi
aktivitas, biaya yang dianggarkan, dan penggerak biaya untuk konsumsi aktivitas—informasi
yang dibutuhkan untuk menyelesaikan Tahap 3: membebankan biaya aktivitas ke objek
biaya.
2.5.3. Lima Tahap Pengambilan Keputusan Strategis untuk Haymarket BioTech Inc.
1.        Menentukan isu strategis di sekitar masalah.
2.        Mengidentifikasi tindakan alternatif.
3.        Memperoleh informasi dan melakukan analisis atas alternatif.
4.        Berdasarkan pada strategi dan analisis, memilih dan mengimplementasikan alternatif
yang diharapkan.
5.        Menyediakan evaluasi secara terus-menerus atas efektifitas implementasi pada Tahap
4.
2.6.  Menghitung Biaya Kapasitas pada Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas
Aplikasi perhitungan biaya berdasarkan aktivitas yang diilustrasikan di atas menggunakan
tarif konsumsi aktivitas berdasarkan biaya aktivitas yang dianggarkan dan konsumsi aktivitas
yang dianggarkan. Metode ini digunakan untuk menentukan tarif biaya overhead pabrik yang
telah ditentukan sebelumnya. Karena anggaran merupakan tingkat pengeluaran yang
direncanakan, kita dapat berkata bahwa biaya aktivitas yang dianggarkan merupakan tingkat
pengeluaran yang direncanakan, dan dikonsumsi aktivitas yang dianggarkan berdasarkan
pada tingkat pemakaian yang direncanakan.
2.7.  Manajemen Berdasarkan Aktivitas
2.7.1. Apakah yang Dimaksud dengan Manajemen Berdasarkan Aktivitas
  Manajemen berdasarkan aktivitas (activity based management—ABM) mengelola sumber
daya dan aktivitas untuk memperbaiki nilai produk atau jasa bagi pelanggan serta
meningkatkan kompetisi dan profitabilitas perusahaan.
Aplikasi ABM dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori: ABM operasional dan ABM
strategis. ABM operasional meningkatkan efisiensi operasi dan tingkat utilitas aktiva serta
menurunkan harga. Aplikasi ABM operasional menggunakan teknik manajemen seperti
analisis aktivitas, perbaikan proses bisnis, manajemen kualitas total, dan pengukuran kinerja.
2.7.2. Analisis Aktivitas
            Perusahaan melakukan suatu aktivitas karena salah satu dari berbagai alasan sebagai
berkut:
·         Dibutuhkan untuk memenuhi spesifikasi produk, jasa, atau memuaskan permintaan
pelanggan.
·         Dibutuhkan untuk menopang organisasi.
·         Dinilai menguntungkan bagi perusahaan.
2.7.3. Analisis Nilai Tambah

Aktivitas bernilai tambah tinggi (high-value-added- activity) meningkatkan nilai produk atau


jasa secara signifikan bagi pelanggan. Penghapusan aktivitas bernilai tambah tinggi
menurunkan nilai produk atau jasa secara signifikan bagi pelanggan. Memasukkan pelapis
pada suku cadang, menuangkan cairan logam ke dalam cetakan, dan menyiapkan lahan untuk
penanaman merupakan contoh aktivitas bernilai tambah tinggi. Memasang piranti lunak
untuk melindungi komputer dari komukasi internet yang tidak beraturan merupakan aktivitas
bernilai tambah tinggi bagi pelanggan yang terganggu dengan adanya email yang tidak
diinginkan. Mendesain, memproses, serta mengirimkan produk dan jasa merupakan aktivitas
bernilai tambah tinggi.
     
      Aktivitas bernilai tambah rendah (low-value-added activity) menghabiskan waktu,
sumber daya, atau ruang, tetapi menambahkan sedikit kontribusi untuk memuaskan
kebutuhan pelanggan. Jika dihapuskan, nilai atau kepuasan pelanggan berkurang sedikit atau
tidak berubah. Memindahkan bagian antarproses, waktu tunggu, perbaikan, dan pengerjaan
ulang merupakan contoh-contoh aktivitas bernilai tambah  rendah.
            Pengurangan atau pengahapusan aktivitas bernilai tambah rendah mengurangi
biaya. Aktivitas bernilai tambah rendah adalah aktivitas yang:
·                     Dapat dihapuskan tanpa memengaruhi bentuk, kesesuaian, atau fungi produk
atau jasa.
·                     Dimulai dengan awalan “re” (seperti pengerjaan ulang atau barang yang
dikembalikan- misal: rework).
·                     Menyebabkan pemborosan dan menambahkan sedikit atau tidak sama sekali
nilai bagi produk atau jasa.
·                     Diduplikasi pada departemen lain atau menambah tahap yang tidak dibutuhkan
dalam proses bisnis Menghasilkan output yang tidak dibutuhkan atau tidak diinginkan.

2.8.  Penerapan Perhitungan/Manajemen Biaya Berdasarkan Aktivitas di Dunia Nyata


Penerapan perhitungan/manajemen biaya berdasarkan aktivitas (activity-based
costing/management--- ABC/M) kini menjadi lazim pada sebagian besar industri. Bagian ini
mengilustrasikan beberapa contoh penerapan pada industry manufaktur dan jasa serta di
dalam pemerintah.

2.8.1.  Analisis Biaya Pelanggan


               Tidak seluruh pelanggan membutuhkan aktivitas yang serupa, baik sebelum maupun
setelah penjualan. Contoh aktivitas spesifik yang berkaitan dengan pelanggan mencakup :
·         Biaya pemprosesan pesanan
·         Biaya penagihan, pengumpulan piutang, dan pemprosesan pembayaran
·         Biaya piutang usaha dan penyimpanan persediaan
·         Biaya pelayanan pelanggan
·         Biaya penjualan dan pemasaran
               Analisis biaya pelanggan (customer cost analysis) mengidentifikasikan aktivitas dan
penggerak biaya untuk melayani pelanggan sebelum dan setelah penjualan, tidak termasuk
biaya produk. Secara tradisional, biaya-biaya ini tersembunyi dalam fungsi dukungan bagi
pelanggan, pemasaran, dan penjualan. ABC/M membantu manajer untuk memahami biaya-
biaya yang mereka hasilkan untuk melayani pelanggan.
       Aktivitas yang berbeda-beda seringkali mempunyai penggerak biaya yang berbeda-
beda. Berdasarkan aktivitas dan penggerak biaya pada pelanggan yang dilakukan untuk
memperoleh dan menyelesaikan transaksi, biaya-biaya pelanggan dapat diklarifikasikan ke
dalam kategori sebagai berikut:
·  Biaya pelanggan tingkat unit- sumberdaya yang dikonsumsi untuk setiap unit yang dijual
kepada pelanggan. Contohnya mencakup komisi penjualan berdasarkan jumlah unit terjual
atau dolar yang terjual, biaya pengriman ketika biaya pengangkutan didasarkan pada jumlah
unit yang dikirimkan, dan biaya penyimpanan kembali dari setiap unit yang diretur.
·  Biaya pelanggan tingkat kelompok produk – sumber daya yang dikonsumsi untuk setiap
transaksi penjualan. Contohnya mencakup biaya pemprosesan pesanan, biaya penagihan, dan
pencatatan retur penjualan atau penyisihan setiap kali terjadi retur atau penyisihan yang
diperbolehkan.
·  Biaya mempertahankan pelanggan – sumber daya dikonsumsi untuk melayani pelanggan
tenaga memperhatikan jumlah, unit atau batch produk yang terjual. Contohnya adalah biaya
perjalanan tenaga penjualan untuk mendatangi pelanggan biaya pemprosesan laporan
bulanan, dan biaya penagihan atas pembayaran yang terlambat.
·  Biaya saluran distribusi – sumber daya yang dikonsumsi pada setiap saluran distribusi yang
digunakan oleh perusahaan untuk melayani pelanggan. Contohnya adalah biaya operasional
gudang regional untuk melayani pelanggan utama dan pusat distribusi yang tersentralisasi
untuk melayani toko-toko ritel kecil.
·  Biaya mempertahankan penjualan – sumber daya yang dikonsumsi untuk mempertahankan
aktivitas penjualan dan pelayanan yang tidak dapat ditelusuri pada setiap unit, kelompok
produk, pelanggan atau saluran distribusi. Contohnya adalah pengeluaran umum perusahaan
untuk aktivitas penjualan, gaji, tunjangan, dan bonus manajer penjualan umum.
2.8.2.  Analisis Profitabillitas Pelanggan
Analisis profitabilitas pelanggan (customer profitability analysis) mengombinasikan analisis
pendapatan dan biaya dari pelanggan untuk menilai profitabilitas pelanggan serta membantu
mengidentifikasi tindakan untuk meningkatkan profitabilitas pelanggan. Tampilan 5.20
mengilustrasikan analisis profitabilitas pelanggan untuk Winsome.
                  Alasan bahwa GereCo tidak sama menguntungkannya dengan HomeServ yang
berkaitan dengan aktivitas penjualan. Winsome memberikan GereCo. Jauh lebih banyak
persyaratan penjualan yang lebih menguntungkan dari pada yang diberikan kepada
HomeServ. GereCo juga memiliki retur dan penyisihan penjualan dalam jumlah besar;
GereCo. Melakukan retur dua kali lipat dari HomeServ.

Anda mungkin juga menyukai