Anda di halaman 1dari 74

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA KELUARGA

TN. A DENGAN KASUS DIABETES MELITUS DI RT 02 DESA


PAKU ALAM KEC. SUNGAI TABUK KAB. BANJAR

Untuk Menyelesaikan Tugas Profesi Keperawatan Komunitas & Keluarga


Program Profesi Ners

Di Susun Oleh:
Eka Shandika Ade Pratiwi
NIM: 11194562110099

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MULIA
BANJARMASIN
2022
LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL KASUS : Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Diabetes


Melitus Pada Keluarga Ny.A
TEMPAT PENGAMBILAN : Desa paku Alam RT 02 Kec. Sungai Tabuk Kab.
KASUS Banjar
NAMA : Eka Shandika Ade Pratiwi, S.Kep.
NIM : 11194692110099

Banjarmasin, November 2021

Menyetujui

Puskesmas Sungai Tabuk 2 Program Studi Profesi Ners


Preseptor Klinik (PK) Universitas Sari Mulia Banjarmasin
Preseptor Akademik (PA)

Rizqah Amalia , S.Kep., Ns Rian Tasalim, S.Kep., Ns., M.Kep


NRPTT:01520162303 NIK 1166093011044
LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL KASUS : Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Diabetes


Melitus Pada Keluarga Ny.A
TEMPAT PENGAMBILAN : Desa paku Alam RT 02 Kec. Sungai Tabuk Kab.
KASUS Banjar
NAMA : Eka Shandika Ade Pratiwi, S.Kep.
NIM : 11194692110099

Banjarmasin, November 2021

Menyetujui

Puskesmas Sungai Tabuk 2 Program Studi Profesi Ners


Preseptor Klinik (PK) Universitas Sari Mulia Banjarmasin
Preseptor Akademik (PA)

Rizqah Amalia , S.Kep., Ns Rian Tasalim, S.Kep., Ns., M.Kep


NRPTT:01520162303 NIK 1166093011044
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN....................................................................................ii

KATA PENGANTAR.............................................................................................v

BAB I.................................................................................................................... 1

PENDAHULUAN...................................................................................................1

A. Latar Belakang...........................................................................................1

B. Tujuan........................................................................................................3

C. Rumusan masalah.....................................................................................3

D. Manfaat......................................................................................................3

BAB II................................................................................................................... 4

TINJAUAN TEORI................................................................................................4

A. Konsep Hipertensi......................................................................................4

B. Keluarga.....................................................................................................8

C. Struktur Keluarga.......................................................................................9

D. Tipe Keluarga...........................................................................................10

E. Peran Keluarga Dan Perawat Keluarga...................................................12

F. Fungsi Keluarga.......................................................................................13

G. Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan...............................................14

H. Tahapan Perkembangan Keluarga...........................................................15

I. Keluarga Mandiri......................................................................................18

J. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga...................................................20

BAB III................................................................................................................ 32

ASKEP KELUARGA...........................................................................................32

A. Data Umum Keluarga...............................................................................32

B. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga..........................................34

C. Lingkungan..............................................................................................35

D. Sosial.......................................................................................................37

E. Struktur Keluarga.....................................................................................37
F. Fungsi Keluarga.......................................................................................38

G. Stress dan Koping Keluarga.....................................................................39

H. Riwayat Kesehatan Keluarga...................................................................40

I. Harapan Keluarga....................................................................................41

J. Pemeriksaan Fisik Keluarga.....................................................................42

K. Tipologi Masalah Kesehatan....................................................................44

L. Perencanaan Asuhan Keperawatan Keluarga Integerasi Dokumentasi


Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan NANDA/INCP, NOC, NIC.................48

M. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan Keluarga..............................51

Daftar Pustaka....................................................................................................59
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Mahasa Esa
(TYME), berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat melaksanakan penulisan
laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan ini.
Adapun laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan keluarga ini
disusun guna memenuhi tugas profesi keperawatan stase komunitas & keluarga
agar bisa tercapai sistem pembelajaran semester ini.
Dalam rangka pembuatan laporan ini penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Kepala puskesmas
2. Pembimbing akademik
3. Pembimbing klinik
4. Pembakal
5. Ketua RT 02
6. Kader
7. Masyarakat RT 02
8. Anggota kelompok stase keperawatan komunitas dan keluarga kelompok
pertama
Penyusun menyadari dalam pembuatan laporan pendahuluan dan asuhan
keperawatan keluarga ini tentunya masih banyak kekurangan. Guna
memperbaiki laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan keluarga ini agar
menjadi lebih baik, maka penyusun sangat mengharapkan saran dan kritik dari
semua pihak yang membaca laporan ini.

Banjarmasin, November 2021

Penulis

vii
2

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang terjadi baik saat


pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau bila tubuh tidak dapat
secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya. Insulin adalah
hormon yang mengatur gula darah. Peningkatan kadar gula darah
(Hiperglikemia) merupakan efek umum DiabetesMellitusyang tidak
terkontrol dan seiring berjalannya waktu menyebabkan kerusakan serius
pada banyak sistem tubuh, terutama saraf dan pembuluh darah.
DiabetesMellitus berdasarkan klasifikasinya ada 3yaitu Diabetes Mellitus
tipe I, Diabetes Mellitus tipe II, Diabetes Gestasion.(Brunner & Suddarth,
2013)
Diabetes Mellituskini menjadi masalah kesehatan yang besar di
dunia.Berdasarkan laporan WHO global menunjukkan bahwa pada tahun
2014 jumlah penderita Diabetes Mellitus415 juta orang dewasa (1 dari 11
orang dewasa) dibandingkan dengan 108 juta (1 dari 10 orang dewasa)
pada tahun 1980. Hampir 80% orang DiabetesMellitusada di negara
berpenghasilan rendah dan menengah di dunia. Pada tahun 2012,
DiabetesMellitusmenyebabkan1,5 juta kematian. Tingkat glukosa darah di
atas optimal meneyababkan tambahan 2,2 juta kematian, dengan
meningkatkan resiko penyakit cardiovaskular. Diet sehat, aktivitas fisik
teratur, menjaga berat badan normal dan menghindari penggunaan
tembakau adalah cara untuk mencegah atau menunda timbulnya
DiabetesMellitus Tipe II. (WHO, 2016) Bedasarkan data International
Diabetes Federationtional (IDF, 2015) pada tahun 2040 diperkirakan
jumlahnya akan menjadi 642 juta. Indonesia tercatat menempati peringkat
ke tujuh dunia untuk prevelensi penderita DiabetesMellitustertinggi di dunia
bersama dengan China, India, Amerika Serikat, Brazil, Rusia dan Meksiko
dengan jumlah estimasi orang dengan DiabetesMellitussebesar 10 juta
(IDF, 2015).
Hasil pengkajian yang dilaksanakan pada tanggal 6-10 Oktober 2021
wilayah RT 02 Desa Paku Alam terdapat warga yang mengalami diabetes
mellitus diantaranya Ny .a di RT 02 yang mengalami gula darah tinggi pada
3

saat pengkajian adalah 288. Ny. A kadang-kadang suka memakan


makanan yang manis dan Ny. A suka mengkonsumsi minuman the manis.
Salah satu upaya mengurangi resiko penyakit diabetes melitus
adalah dengan konsumsi makanan yang sehat. Kondisi ini mengharuskan
memperhatikan asupan makanan ketika menjalankan diet. Diet mampu
mencegah komplikasi dari penyakit diabetes melitus yang tidak terkendali.
Makanan yang disajikan penderita diabetes melitus harus memenuhi
kebutuhan gizi, bervariasi dan mudah dicerna (Yan et al, 2018). Terapi non-
farmakologis yang dapat diberikan pada penderita diabetes melitus adalah
terapi nutrisi yang dilakukan dengan manajemen diet diabetes. Contohnya
dengan peran keluarga terhadap pengontrolan diet diabetes melitus dalam
pembatasan konsumsi makanan yang tinggi kadar gula serta membatasi
asupan kalori jika berat badan meningkat, untuk berhasilnya program
tersebut perlu adanya peran dari perawat untuk melakukan promosi
kesehatan terhadap keluarga dalam pengontrolan diet yang mengalami
diabetes melitus di Desa Paku alam khususnya RT 02.
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik melakukan
asuhan keperawatan keluarga pada Tn.A yang menderita diabetes melitus
dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang diabetes melitus dan
mengontrol kepatuhan diet.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini untuk mengetahui tentang
kesehatan keluarga Tn. A
2. Tujuan khusus
a. Melakukan pengkajian pada keluarga Tn. A
b. Melakukan diagnosis pada keluarga Tn. A
c. Melakukan intervensi pada keluarga Tn. A
d. Melakukan evaluasi pada keluarga Tn. A
e. Melakukan dokumentasi pada keluarga Tn. A

C. Rumusan masalah
1. Melakukan pengkajian pada keluarga Tn. A
2. Melakukan diagnosis pada keluarga Tn. A
4

3. Melakukan intervensi pada keluarga Tn. A


4. Melakukan evaluasi pada keluarga Tn. A
5. Melakukan dokumentasi pada keluarga Tn. A

D. Manfaat
1. Teoritis
Memperbaharui ilmu kesehatan tentang asuhan keperawatan
komunitas dan keluarga
2. Praktisi
Memberikan informasi terhadap penderita hipertensi dan tenaga
kesehatan dapat melaksanakan asuhan keperawatan komunitas dan
keluarga terhadap penderita hipertensi dengan mudah agar dapat
menekan kejadian hipertensi melalui pemantauan tekanan darah.
5

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Hipertensi
1. Pengertian Hipertensi
Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik yang
ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah(hiperglikemia) akibat
kerusakan pada sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya (smelzel dan
Bare,2015). Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit atau
gangguan metabolik dengan karakteristik hipeglikemia yang terjadi karena
kelainan sekresi urin, kerja insulin, atau kedua – duanya (ADA,2017).
Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit kronik yang terjadi ketika
pankreas tidak cukup dalam memproduksi insulin atau ketika tubuh tidak
efisien menggunakan insulin itu sendiri. Insulin adalah hormon yang
mengatur kadar gula darah. Hiperglikemia atau kenaikan kadar gula darah,
adalah efek yang tidak terkontrol dari diabetes dan dalam waktu panjang
dapat terjadi kerusakan yang serius pada beberapa sistem tubuh,
khususnya pada pembuluh darah jantung (penyakit jantung koroner),
mata (dapat terjadi kebutaan), ginjal (dapat terjadi gagal ginjal) (WHO,
2011).
2. Klasifikasi Hipertensi
Kategori Tekanan Darah Tekanan Darah
Sistolik Diastolik
A. Normal Dibawah 120 mmHg Dibawah 80 mmH
B. Normal Tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg
C. Stadium 1 (Ringan) 140-159 mmHg 90-99 mmHg
D. Stadium 2 (sedang) 160-179 mmHg 100-109 mmHg
E. Stadium 3 (Berat) 180-209 mmHg 110-119 mmHg
F. Stadium 4 (maligna) 210 mmHg atau lebih G. 120 mmHg atau lebih
(Triyanto,2014)

3. Etiologi Diabetes Melitus

Menurut Smeltzer 2015 Diabetes Melitus dapat diklasifikasikan kedalam 2


kategori klinis yaitu:
1. Diabetes Melitus tergantung insulin (DM TIPE 1)
6

a. Genetik
Umunya penderita diabetes tidak mewarisi diabetes type 1 namun
mewarisi sebuah predisposisis atau sebuah kecendurungan
genetik kearah terjadinya diabetes type 1. Kecendurungan
genetik ini ditentukan pada individu yang memiliki type
antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA ialah
kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen
tranplantasi & proses imunnya. (Smeltzer 2015 dan
bare,2015)
b. Imunologi
Pada diabetes type 1 terdapat fakta adanya sebuah respon
autoimum. Ini adalah respon abdomal dimana antibodi
terarah pada jaringan normal tubuh secara bereaksi terhadap
jaringan tersebut yang dianggapnya sebagai jaringan asing.
(Smeltzer 2015 dan bare,2015)
c. Lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang
menimbulkan destruksi selbeta. (Smeltzer 2015 dan
bare,2015)

2. Diabetes melitus tidak tergantung insulin (DM TIPE II)


Menurut Smeltzel 2015 Mekanisme yang tepat yang menyebabkan
resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe
II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan
dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
 Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di
atas 65 th)
 Obesitas

 Riwayat keluarga
4. Faktor-faktor resiko Diabetes Melitus
Faktor-faktor resiko hipertensi ada yang dapat di kontrol dan tidak dapat
dikontrol menurut (Sutanto, 2010) antara lain :
a. Faktor yang dapat dikontrol :
Berkaitan dengan gaya hidup dan pola makan.
7

a) Kegemukan (obesitas)
Dari hasil penelitian, diungkapkan bahwa orang yang
kegemukan mudah terkena hipertensi. Wanita yang sangat
gemuk pada usia 30 tahun mempunyai resiko terserang
hipertensi 7 kali lipat dibandingkan dengan wanita langsing pada
usia yang sama. Curah jantung dan sirkulasi volume darah
penderita hipertensi yang obesitas. Meskipun belum diketahui
secara pasti hubungan antara hipertensi dan obesitas, Namun
terbukti bahwa daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah
penderita obesitas dengan hipertensi lebih tinggi dibanding
penderita hipertensi dengan berat badan normal.

b) Kurang olahraga
Orang yang kurang aktif melakkukan olahraga pada
umumnya cenderung mengalami kegemukan dan akan
menaikan tekanan darah. Dengan olahraga kita dapat
meningkatkan kerja jantung. Sehingga darah bisa
dipompadengan baik keseluruh tubuh.
c) Konsumsi garam berlebihan
Garam merupakan hal yang penting dalam mekanisme
timbulnya hipertensi. Pengaruh asupan garam terhadap
hipertensi adalah melalui peningkatan volume plasma atau
cairan tubuh dan tekanan darah. Keadaan ini akan diikuti oleh
peningkatan ekresi (pengeluaran) kelebihan garam sehingga
kembali pada kondisi keadaan system hemodinamik
(pendarahan) yang normal. Pada hipertensi primer (esensial)
mekanisme tersebut terganggu, disamping kemungkinan ada
faktor lain yang berpengaruh.
1) Tetapi banyak orang yang mengatakan bahwa mereka tidak
mengonsumsi garam, tetapi masih menderita hipertensi.
Ternyata setelah ditelusuri, banyak orang yang mengartikan
konsumsi garam adalah garam meja atau garam yang
ditambahkan dalam makanan saja. Pendapat ini sebenarnya
kurang tepat karena hampir disemua makanan mengandung
8

garam natrium termasuk didalam bahanbahan pengawet


makanan yang digunakan.
2) Natrium dan klorida adalah ion utama cairan ekstraseluler.
Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsetrasi
natrium didalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk
menormalkannya kembali, cairan intreseluler harus ditarik
keluar sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat.
Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut
menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga
berdampak pada timbulnya hipertensi.
d) Merokok dan mengonsumsi alkohol
Nikotin yang terdapat dalam rokok sangat membahayakan
kesehatan selain dapat meningkatkan penggumpalan darah dalam
pembuluh darah, nikotin dapat menyebabkan pengapuran pada
dinding pembuluh darah. Mengonsumsi alkohol juga dapat
membahayakan kesehatan karena dapat meningkatkan sistem
katekholamin, adanya katekholamin memicu naik tekanan darah.
e) Stres
Stres dapat meningkatkan tekanan darah untuk
sementara. Jika ketakutan, tegang atau dikejar masalah maka
tekanan darah kita dapat meningkat. Tetapi pada umumnya,
begitu kita sudah kembali rileks maka tekanan darah akan turun
kembali. Dalam keadaan stres maka terjadi respon sel-sel saraf
yang mengakibatkan kelainan pengeluaran atau pengangkutan
natrium. Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui
aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja ketika beraktivitas)
yang dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap. Stres
berkepanjanngan dapat mengakibatkan tekanan darah menjadi
tinggi. Hal tersebut belum terbukti secara pasti, namun pada
binatang percobaan yang diberikan stres memicu binatang
tersebut menjadi hipertensi.
b. Faktor yang tidak dapat dikontrol
a) Keturunan (Genetika)
Faktor keturunan memang memiliki peran yang sangat
9

besar terhadap munculnya hipertensi. Hal tersebut terbukti


dengan ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak
terjadi pada kembar monozigot (berasal dari satu sel telur)
dibandigkan heterozigot (berasal dari sel telur yang berbeda).
Jika seseorang termasuk orang yang mempunyai sifat genetik
hipertensi primer (esensial) dan tidak melakukan penanganan
atau pengobata maka ada kemungkinan lingkungannya akan
menyebabkan hipertensi berkembang dan dalam waktu sekitar
tiga puluhan tahun akan mulai muncul tanda-tanda dan gejala
hipertensi dengan berbagai komplikasinya.
b) Jenis kelamin
Pada umumnya pria lebih terserang hipertensi
dibandingkan dengan wanita. Hal ini disebabkan pria banyak
mempunyai faktor yang mendorong terjadinya hipertensi seperti
kelelahan, perasaan kurang nyaman, terhadap pekerjaan,
pengangguran dan makan tidak terkontrol. Biasanya wanita akan
mengalami peningkatan resiko hipertensi setelah masa
menopause.
c) Umur
Dengan semakin bertambahannya usia, kemungkinan
seseorang menderita hipertensi juga semakin besar. Penyakit
hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya
interaksi dari berbagai faktor risiko terhadap timbulnya hipertensi.
Hanya elastisitas jaringan yang erterosklerosis serta pelebaran
pembulu darah adalah faktor penyebab hipertensi pada usia tua.
Pada umumnya hipertensi pada pria terjadi di atas usia 31 tahun
sedangkan pada wanita terjadi setelah berumur 45 tahun.

B. Keluarga
Menurut Harmoko (2012), banyak definisi yang diuraikan tentang
keluarga sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat. Keluarga adalah
kumpulan dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah,
perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota selalu berinteraksi satu
dengan yang lain.
10

Keluarga adalah unit terkecil dari masayarakat yang terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di
bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Setiadi,2008).
Keluarga adalah dua atau tiga individu yang tergabung karena hubungan
darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam
suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan di dalam peranannya
masing-masing, menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (Bailon
dan ( Maglaya, 1989 dalam Setiadi,2008).

Dari tiga difinisi diatas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa keluarga
adalah :
1. Unit terkecil dari masyarakat.
2. Terdiri atas dua orang atau lebih.
3. Adanya ikatan perkawinan dan pertalian darah.
4. Hidup dalam satu rumah tangga.
5. Di bawah asuhan seseorang kepala rumah tangga.
6. Berinteraksi diantara sesama anggota keluarga.
7. Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing.
8. Menciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan.

C. STRUKTUR KELUARGA
Dalam (Harmoko, 2012), struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam,
diantarannya adalah :
1. Patrilineal : adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara
sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun
melalui jalur garis ayah.
2. Matrilineal : adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak
saudara sedarah dalam beberapa generasi di mana hubungan
itu disusun melalui jalur garis ibu.
3. Matrilokal : adalah sepasang suami istri yang tingga bersama keluarga
sedarah istri.
4. Patrilokal : adalah sepasang suami istri yang tingga bersama keluarga
sedarah suami.
11

5. Keluarga kawinan : adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi


pembina keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian
keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.

D. Tipe Keluarga
Dalam (Harmoko, 2012 dalam Indra, 2015) tipe keluarga dibagi menjadi
dua macam yaitu :
1. Tipe Keluarga Tradisional
a. Keluarga Inti ( Nuclear Family ) , adalah keluarga yang terdiri dari
ayah, ibu dan anak-anak.
b. Keluarga Besar ( Exstended Family ), adalah keluarga inti di tambah
dengan sanak saudara, misalnya nenek, keponakan, saudara
sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
c. Keluarga “Dyad” yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari suami
dan istri tanpa anak.
d. “Single Parent” yaitu suatu rumah tangga yang terdiri dari satu
orang tua (ayah/ibu) dengan anak (kandung/angkat). Kondisi ini
dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.
e. “Single Adult” yaitu suatu rumah tangga yang hanya terdiri seorang
dewasa (misalnya seorang yang telah dewasa kemudian tinggal
kost untuk bekerja atau kuliah)
2. Tipe Keluarga Non Tradisional
a. The Unmarriedteenege mather
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak
dari hubungan tanpa nikah.
b. The Stepparent Family
Keluarga dengan orang tua tiri.
c. Commune Family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada
hubungan saudara hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan
fasilitas yang sama, pengalaman yang sama : sosialisasi anak
dengan melelui aktivitas kelompok atau membesarkan anak
bersama.
d. The Non Marital Heterosexual Conhibitang Family.
Keluarga yang hidup bersama dan berganti – ganti pasangan
12

tanpa melelui pernikahan.


e. Gay And Lesbian Family.
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama
sebagaimana suami – istri (marital partners).
f. Cohibiting Couple.
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan
karena beberapa alas an tertentu.
g. Group-Marriage Family.
Beberapa orang dewasa menggunakan alat – alat rumah tangga
bersama yang saling merasa sudah menikah, berbagi sesuatu
termasuk sexual dan membesarkan anaknya.
h. Group Network Family.
Keluarga inti yang dibatasi aturan atau nilai – nilai, hidup bersama
atau berdekatan satu sama lainnya dan saling menggunakan barang
– barang rumah tangga bersama, pelayanan dan tanggung jawab
membesarkan anaknya.
i. Foster Family.
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga atau
saudara didalam waktu sementara, pada saat orang tua anak
tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali
keluarga yang aslinya.
j. Homeless Family.
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang
permanent karena krisis personal yang dihubungkan dengan
keadaan ekonomi dan atau problem kesehatan mental.
k. Gang.
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang- orang muda
yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai
perhatian tetapi berkembang dalam kekerasan dan criminal dalam
kehidupannya.

E. PERAN KELUARGA DAN PERAWAT KELUARGA


1. Peran Keluarga

Dalam (Setiadi, 2008), peranan keluarga menggambarkan


seperangkat perilaku interpersonal, sifat, kegiatan yang berhubungan
13

dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Berbagai peranan


yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai berikut :
a. Peranan ayah : ayah sebagai suami dan istri dan anak-anak,
berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi
rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkunmgan.
b. Peranan ibu : sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu
mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai
pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah
satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota
masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat
berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarga.
c. Peranan anak : anak- anak melaksanakan peranan psiko-sosial
sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial
dan spriritual.
2. Perawat Keluarga

Tugas Kesehatan Menurut Friedman (1998), dalam (Nugroho,


2014) yaitu :
a. Mengenal masalah kesehatan.
b. Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat.
c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit.
d. Mempertahankan/menciptakan suasana rumah sehat.
e. Mempertahankan hubungan dengan menggunakan fasilitas
kesehatan masyarakat.

F. FUNGSI KELUARGA

Dalam (Suprajitno,2014) fungsi keluarga adalah beberapa fungsi yang


dapat dijalankan keluarga sebagai berikut :
1. Fungsi Biologis
a. Untuk meneruskan keturunan.
b. Memelihara dan membesarkan anak.
c. Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
d. Memelihara dan merawat anggota keluarga
2. Fungsi Psikologis
14

a. Memberikan kasih sayang dan rasa aman.


b. Memberikan perhatian diantara anggota keluarga.
c. Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.
d. Memberikan identitas keluarga.
3. Fungsi sosialisasi
a. Membina sosial pada anak.
b. Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat
perkembangan anak.
c. Menaruh nilai-nilai budaya keluarga.
4. Fungsi Ekonomi
a. Mencari sumber – sumber penghasilan untuk memenuhi
kebutuhankeluarga.
b. Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi
kebutuhan keluarga.
c. Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga di masa
yang akan datang, misalnya pendidikan anak-anak, jaminan hari tua
dan sebagainya.
5. Fungsi pendidikan
a. Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, ketrampilan
dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang
dimiliki.
b. Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang
dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa.
c. Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.
Menurut Effendy, (1998) dalam (Setiadi,2008) dari berbagai fungsi diatas ada 3
fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarganya, adalah :
a. Asih adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman,
kehangatan kepada anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka
tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya.
b. Asuh adalah memenuhi kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak
agar kesehatannya selalu terpelihara, sehingga diharapkan menjadikan
mereka anak-anak yang sehat baik fisik, mental, sosila dan spiritual.
15

c. Asah adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap


menjadi manusia dewasa yang mendiri dalam mempersiapkan masa
depannya.

G. Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan

Menurut Freedman (1981) dalam Nugroho (2014) membagi 5 tugas


keluarga dalam bidang kesehatan yang harus dilakukan, yaitu :
1. Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya .

Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara


tidak langsung menjadi perhatian dan tanggung jawab keluarga, maka
apabila menyadari adanya perubahan perlu segera dicatat kapan
erjadinya, perubahan apa yang terjadi dan beberapa besar
perubahannya.
2. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi
keluarga.

Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari


pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan
pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan
memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga maka segera
melakukan tindakan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau
bahkan teratasi. Jika keluarga mempunyai keterbatasan seyogyanya
meminta bantuan orang lain dilingkungan sekitar keluarga.
3. Memberikan keperawatan anggotanya yang sakit atau yang tidak dapat
membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu muda.
Perawatan ini dapat dilakukan tindakan dirumah apabila keluarga
memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan pertama
atau kepelayanan kesehatan untuk memperoleh tindakan lanjjutan agar
masalah yang lebih parah tidak terjadi.
4. Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan kesehatan dan
perkembangan kepribadian anggota keluarga.
5. Mempertahankan hubungan timbale balik antara keluarga dan lembaga
kesehatan (pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada)
16

H. Tahapan Perkembangan Keluarga

Menurut Duval (1985) dalam (Setiadi,2008), membagi keluarga dalam 8


tahap perkembangan, yaitu:
1. Keluarga Baru (Berganning Family)

Pasangan baru menikah yang belum mempunyai anak. Tugas


perkembangan keluarga tahap ini antara lain adalah :
a. Membina hubungan intim yang memuaskan.
b. Menetapkan tujuan bersama.
c. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok
social.
d. Mendiskusikan rencana memiliki anak atau KB.
e. Persiapan menjadi orang tua.
f. Memehami prenatal care (pengertisn kehamilan, persalinan dan
menjadi orang tua).
2. Keluarga dengan anak pertama < 30 bulan (Child Bearing).

Masa ini merupakan transisi menjadi orang tua yang akan


menimbulkan krisis keluarga. Studi klasik Le Master (1957) dari 46 orang
tua dinyatakan 17 % tidak bermasalah selebihnya bermasalah dalam hal :
a. Suami merasa diabaikan.
b. Peningkatan perselisihan dan argument.
c. Interupsi dalam jadwal kontinu.
d. Kehidupan seksusl dan social terganggu dan menurun.
Tugas perkembangan keluarga tahap ini antara lain adalah :
a. Adaptasi perubahan anggota keluarga (peran, interaksi, seksual dan
kegiatan).
b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
c. Membagi peran dan tanggung jawab (bagaimana peran orang tua
terhadap bayi dengan memberi sentuhan dan kehangatan).
d. Bimbingan orang tua tentang pertumbuhan dan perkembangan anak.
e. Konseling KB post partum 6 minggu.
f. Menata ruang untuk anak.
g. Biaya / dana Child Bearing.
h. Memfasilitasi role learning angggota keluarga.
17

i. Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin.


3. Keluarga dengan Anak Pra Sekolah

Tugas perkembangannya adalah menyesuaikan pada kebutuhan


pada anak pra sekolah (sesuai dengan tumbuh kembang, proses belajar
dan kotak sosial) dan merencanakan kelahiran berikutnya. Tugas
perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
a. Pemenuhan kebutuhan anggota keluarga.
b. Membantu anak bersosialisasi.
c. Beradaptasi dengan anak baru lahir, anakl yang lain juga terpenuhi.
d. Mempertahankan hubungan di dalam maupun di luar keluarga.
e. Pembagian waktu, individu, pasangan dan anak.
f. Merencanakan kegiatan dan waktu stimulasi tumbuh dan kembang
anak.
4. Keluarga dengan Anak Usia Sekolah (6 – 13 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
a. Membantu sosialisasi anak terhadap lingkungan luar rumah, sekolah
dan lingkungan lebih luas.
b. Mendoprong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual.
c. Menyediakan aktivitas untuk anak.
d. Menyesuaikan pada aktivitas komuniti dengan mengikut sertakan
anak.
e. Memenuhi kebutuhan yang meningkat termasuk biaya kehidupan dan
kesehatan anggota keluarga.
5. Keluarga dengan Anak Remaja (13-20 tahun).
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
a. Pengembangan terhadap remaja (memberikan kebebasan yang
seimbang dan brertanggung jawab mengingat remaja adalah seorang
yang dewasa muda dan mulai memiliki otonomi).
b. Memelihara komunikasi terbuka (cegah gep komunikasi).
c. Memelihara hubungan intim dalam keluarga.
d. Mempersiapkan perubahan system peran dan peraturan anggota
keluarga untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anggota
keluarga.
6. Keluarga dengan Anak Dewasa (anak 1 meninggalkan rumah).
18

Tugas perkembangan keluarga mempersiapkan anak untuk hidup mandiri


dan menerim,a kepergian anaknya, menata kembali fasilitas dan sumber
yang ada dalam keluarga, berperan sebagai suami istri, kakek dan nenek.
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
b. Mempertahankan keintiman.
c. Menbantu anak untuk mandiri sebagai keluarga baru di masyarakat.
d. Mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan menerima kepergian
anaknya.
e. Menata kembali fasilitas dan sumber yang ada pada keluarga.
f. Berperan suami – istri kakek dan nenek.
g. Menciptakan lingkungan rumah yang dapat menjadi contoh bagi anak
– anaknya.
7. Keluarga Usia Pertengahan (Midle Age Family).
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
a. Mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan dalam mengolah
minat social dan waktu santai.
b. Memuluhkan hubungan antara generasi muda tua.
c. Keakrapan dengan pasangan.
d. Memelihara hubungan/kontak dengan anak dan keluarga.
e. Persiapan masa tua/ pension.
8. Keluarga Lanjut Usia.
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah :
a. Penyesuaian tahap masa pension dengan cara merubah cara hidup.
b. Menerima kematian pasangan, kawan dan mempersiapkan kematian.
c. Mempertahankan keakraban pasangan dan saling merawat.
d. Melakukan life review masa lalu.

I. Keluarga Mandiri
Sikap mental dalam hal berupaya meningkatkan kepedulian masyarakat
dalam pembangunan, mendewasakan usia perkawinan, membina dan
meningkatkan ketahanan keluarga, mengatur kelahiran dan
mengembangkan kualitas dan kesejahteraan keluarga, berdasarkan
kesadaran dan tanggung jawab.
Secara singkat kemandirian mengandung pengertian suatu keadaan
19

dimana seseorang yang memiliki hasrat bersaing untuk maju demi


kebaikannya. Mampu mengambil keputusan dan inisiatif untuk mengatasi
masalah yang dihadapi.

Memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya,


bertanggung  jawab terhadap apa yang di lakukannya. Kemandirian
merupakan suatu sikapindi:idu yang diperoleh secara kumulatif selama
perkembangan dimana individuakan terus belajar untuk bersikap mandiri
dalam menghadapi berbagai situasi dilingkungan sehingga individu pada
akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak sendiri. Dengan kemandirian
seseorang dapat berkembang dengan lebih mantap untuk dapat mandiri
seseorang membutuhkan kesempatan, dukungan, dan dorongan dari
keluarga serta lingkungan di sekitarnya.
1. Indikator kemandirian keluarga dilihat dari tingkat kemandirian keluarga
(Depkes,2006).
a. Keluarga Mandiri Tingkat 1
1) Menerima petugas perawatan kesehatan komunitas
2) Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan
rencana keperawatan.
b. Keluarga Mandiri Tingkat II
1) Menerima petugas perawatan kesehatan komunitas
2) Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan
rencana keperawatan.
3) Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara
benar
4) Melakukan perawatan sederhana sesuai dengan yang
dianjurkan.
c. Keluarga Mandiri Tingkat III
1) Menerima petugas perawatan kesehatan komunitas
2) Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan
rencana keperawatan.
3) Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara
benar
4) Melakukan perawatan sederhana sesuai dengan yang
dianjurkan.
20

5) Memanfaatkan fasilitas layanan kesehatan secara aktif


6) Melaksanakn tindakan pencegahan secara aktif
d. Keluarga Mandiri Tingkat IV
1) Menerima petugas perawatan kesehatan komunitas
2) Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan
rencana keperawatan.
3) Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara
benar
4) Melakukan perawatan sederhana sesuai dengan yang
dianjurkan.
5) Memanfaatkan fasilitas layanan kesehatan secara aktif
6) Melaksanakn tindakan pencegahan secara aktif
7) Melaksanakan tindakan promotif secara aktif.

J. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga


1. Pengkajian
Menurut Mubarak (2009) dalam Suprajitno 2014, pengkajian
adalah tahapan seorang perawat mengumpulkan informasi secara
terus menerus terhadap anggota keluarga yang dibinanya. Secara
garis besar data dasar yang dipergunakan mengkaji status keluarga
adalah:
a. Data umum
1) Nama kepala keluarga, umur, alamat, pendidikan, pekerjaan,
komposisi keluarga, status imunisasi dan genogram 3
generasis
2) Tipe keluarga.
3) Suku bangsa.
4) Agama.
5) Status sosial ekonomi keluarga.
6) Aktifitas rekreasi keluarga dan waktu luang.
7)
b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini, ditentukan oleh anak
tertua dari keluarga inti.
21

2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi,


menjelaskan bagaimana tugas perkembangan yang belum
terpenuhi dan kendalannya.
3) Riwayat keluarga inti, menjelaskan riwayat kesehatan
keluarga inti meliputi: riwayat penyakit keturunan, riwayat
kesehatan masing-masing anggota keluarga dan sumber
pelayanan yang digunakan.
4) Riwayat keluarga sebelumnya, orang tua, dan hubungan masa
silam dengan kedua orang tua.
c. Pengkajian lingkungan
1) Karakteristik rumah
Meliputi: gambaran tipe tempat tinggal, denah rumah, sanitasi,
pengcahayaan, kerapian.
2) Karakteristik lingkungan dan komunitas tempat tinggal,
meliputi: tipe, keadaan, sanitasi, perusahaan, sarana sosial,
kejahatan.
3) Mobilitas geografi keluarga
Menjelaskan lama keluarga tinggal di daerah ini.
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
menjelaskan perkumpulan yang diikuti.
5) System pendukung keluarga, meliputi: jumlah anggota
keluarga yang sehat, fasilitas kesehatan, jaminan kesehatan
yang dimiliki.
d. Struktur keluarga
Menurut Suprajitno (2014), struktur keluarga sebagai berikut:
1) Struktur peran keluarga
Menjelaskan peran masing-masing anggota keluarga
secara formal maupun informal baik di keluarga atau
masyarakat.
2) Nilai atau norma keluarga
Menjelaskan nilai atau norma yang dipelajari dan dianut
oleh keluarga yang berhubungan dengan kesehatan.
3) Pola komunikasi keluarga
22

Menjelaskan bagaimana cara keluarga berkomunikasi,


siapa pengambil keputusan utama, dan bagai mana peran
anggota keluarga dalam mencapai komunikasi.
4) Struktur kekuatan keluarga
Menjelaskan kemampuan keluarga untuk memengaruhi dan
mengendalikan anggota keluarga untuk mengubah perilaku yang
berhubungan dnengan kesehatan.
e. Fungsi keluarga
Menurut Suprajitno (2014), struktur keluarga sebagai berikut:
1) Fungsi ekonomi
2) Fungsi mendapatkan status social.
3) Fungsi sosialisasi.
4) Fungsi pemenuhan kesehatan.
5) Fungsi religious.
6) Fungsi rekreasi.
7) Fungsi reproduksi.
8) Fungsi afeksi..
f. Stress dan koping keluarga
1) Stressor jangka pendek, stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang dari 6 bulan.
2) Stressor jangka panjang, stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian lebih 6 bulan.
3) Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi atau
stressor, mengkaji sejauh mana keluarga berespon terhadap
stressor.
4) Strategi koping yang digunakan, bila keluarga menghadapi
masalah.
5) Strategi adaptasi disfungsional, menjelaskan adaptasi
disfungsional yang digunakan keluarga bila menghadapi
masalah.
g. Pemeriksaan fisik
Dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode yang
dilakukan tidak beda pada pemeriksaan fisik di klinik.
h. Harapan keluarga
23

Pada akhir pengkajian perawat menanyakan harapan


keluarga terhadap petugas kesehatan yang ada.
2. Diagnosa keperawatan
Menurut Mubarak (2009) dalam Nugroho 2014, diagnosa
keperawatan adalah keputusan klinik mengenai individu, keluarga,
atau masyarakat, yang diperoleh melalui suatu proses pengumpulan
data dan analisis data secara cermat, memberikan dasar untuk
menetapkan tindakan dimana perawat bertanggung jawab untuk
melaksanakannya. Diagnosa keperawatan keluarga dirumuskan
berdasar data yang didapatkan pada pengkajian. Komponen
diagnose keperawatan meliputi Problem atau masalah, Etilogi atau
penyebab, dan Sign atau tanda yang dikenal dengan PES.Tipologi
dari diagnosa keperawatan :
a. Diagnosa aktual (terjadi defisit atau gangguan kesehatan)
Dari hasil pengkajian didapatkan tanda dan gejala dari
gangguan kesehatan, di mana masalah kesehatan memerlukan
bantuan untuk segera ditangani dengan cepat. Pada diagnosa
aktual, faktor yang berhubungan merupakan etiologi. Secara
umum faktor yang berhubungan atau etiologi dari diagnosa
keperawatan keluarga adalah adanya:
1) Ketidaktahuan (kurang pengetahuan, pemahaman, dan
kesalahan persepsi)
2) Ketidakmauan (sikap dan motivasi)
3) Ketidakmampuan (kurangnya ketrampilan terhadap suatu
prosedur atau tindakan, kurangnya sumber daya keluarga,
baik finansial, fasilitas, system pendukung, lingkungan fisik,
dan psikologis) terhadap tugas kesehatan keluarga.
b. Diagnosa risiko tinggi (ancaman kesehatan)
Sudah ada data yang menunjang namun belum terjadi
gangguan,tapi tanda tersebut dapat menjadi masalah aktual
apabila tidak segera mendapat bantuan pemecahan dari tim
kesehatan atau keperawatan.
c. Diagnosa potensial (keadaan sejahtera atau weelness)
24

suatu keadaan jika keluarga dalam keadaan sejahtera,


kesehatan keluarga dapat ditingkatkan, diagnose keperawatan
sejahtera tidak mencakup faktor-faktor yang berhubungan.
Diagnosa keperawatan keluarga yang mungkin muncul pada
hipertensi mengacu pada lima tugas keluarga, yaitu :
1) Adanya resiko tinggi terhadap penururnan curah jantung b/d
ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan
2) Intoleransi aktivitas b/d ketidakmampuan keluarga mengenal
masalah kesehatan keluarga
3) Sakit kepala, Nyeri akut b/d ketidakmampuan keluarga
merawat anggota keluarga yang sakit
4) Perubahan nutrisi b/d ketidakmampuan keluarga menegenal
masalah kesehatan
5) Kurang pengetahuan tentang hipertensi b/d ketidakmampuan
keluarga mengenal masalah kesehatan keluarga.

Tabel 2.4 Penentuan prioritas masalah dan skoring


No Kriteria Skor Bobot

1 Sifat masalah 1

 Tidak/kurang sehat 3
 Ancaman kesehatan 2

 Krisis/keadaan sejahtera 1

2 Kemungkinan masalah dapat diubah 2

 Dengan mudah 2
 Hanya sebagian 1

 Tidak dapat 0

3 Potensial masalah untuk di cegah 1

 Tinggi 3
 Cukup 2
25

 Rendah 1

4 Menonjolnya masalah 1

 Masalah berat harus segera 2


ditangani
 Ada masalah tetapi tidak perlu 1
Segera ditangani 0
 Masalah tidak dirasakan
Sumber: Mubarak (2009) dalam Suprajitno 2014

Proses skoring dilakukan untuk setiap diagnosa keperawatan


dengan cara berikut ini:

a. Tentukan skor untuk setiap kriteria yang telah dibuat


b. Selanjutnya skor dibagi dengan angka tertinggi yang dikalikan
dengan bobot.

Skor
X Bobot
Angka tertinggi
c. Jumlahkan skor untuk semua kriteria, skor tertinggi adalah 5,
sama dengan seluruh bobot empat kriteria yang dapat
mempengaruhi penentuan prioritas masalah.
1) Sifat masalah
Sifat masalah kesehatan dapat dikelompokkan kedalam
tidak atau kurang sehat diberikan bobot yang lebih tinggi,
karena masalah tersebut memerlukan tindakan yang segera
dan biasanya masalahnya dirasakan atau disadari oleh
keluarga. Krisis atau keadaan sejahtera diberikan bobot yang
paling sedikit atau rendah karena faktor kebudayaan biasanya
dapat memberikan dukungan bagi keluarga untuk mengatasi
masalah dengan baik.
2) Kemungkinan masalah dapat diubah
Keberhasilan mengurangi atau mencegah masalah jika
ada tindakan (intervensi). Faktor-faktor yang perlu
26

diperhatikan dalam menentukan skore kemungkinan masalah


dapat diperbaiki adalah:
a) Pengetahuan dan teknologi serta tindakan yang dapat
dilakukan untuk menangani masalah.
b) Sumber-sumber yang ada pada keluarga, baik dalam
fisik, keuangan, atau tenaga.
c) Sumber-sumber dari keperawatan, misalnya dalam
bentuk pengetahuan, ketrampilan, dan waktu.
d) Sumber-sumber dimasyarakat, misalnya dalam bentuk
fasilitas kesehatan, organisasi masyarakat.

3) Potensi masalah bila dicegah


Menyangkut sifat dan beratnya masalah yang akan timbul
dapat dikurangi atau dicegah. Faktor-faktor yang perlu
diperhatikan dalam menentukan skor kriteria potensi masalah
bisa dicegah adalah sebagai berikut:
a) Masalah yang berkaitan dengan beratnya penyakit atau
masalah, prognosis penyakit atau kemungkinan
mengubah masalah. Umumnya makin berat masalah
tersebut makin sedikit kemungkinan untuk mengubah
atau mencegah sehingga makin kecil potensi masalah
yang akan timbul.
b) Lamanya masalah Hal ini berkaitan dengan jangka waktu
terjadinya masalah tersebut. Biasanya lamanya masalah
mempunyai dukungan langsung dengan potensi masalah
bila dicegah.
c) Adanya kelompok resiko tinggi atau kelompok yang peka
atau rawan. Adanya kelompok tersebut pada keluarga
akan me nambah potensi masalah bila dicegah.
4) Menonjolnya masalah
Merupakan cara keluarga melihat dan menilai masalah
mengenai beratnya masalah serta mendesaknya masalah
untuk diatasi. Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan
skor pada kriteria ini, perawat perlu menilai persepsi atau
27

bagaimana keluarga tersebut melihat masalah. Dalam hal ini,


jika keluarga menyadari masalah dan merasa perlu untuk
menangani segera, maka harus diberi skor yang tinggi
(Suprajitno, 2014)

3. Intervensi
Menurut Mubarak (2009) dalam Suprajitno 2014, apabila masalah
kesehatan maupun masalah keperawatan telah teridentifikasi, maka
langkah selanjutnya adalah menyusun rencana keperawatan sesuai
dengan urutan prioritas masalahnya. Rencana keperawatan keluarga
merupakan kumpulan tindakan yang direncanakan oleh perawat
untuk dilaksanakan dalam menyelesaikan atau mengatasi masalah
kesehatan/keperawatan yang telah diidentifikasi. Rencana
keperawatan yang berkualitas akan menjamin keberhasilan dalam
mencapai tujuan serta penyelesaian masalah. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam mengembangkan keperawatan keluarga
diantaranya:
a. Rencana keperawatan harus didasarkan atas analisis yang
menyeluruh tentang masalah atau situasi keluarga.
b. Rencana yang baik harus realistis, artinya dapat dilaksanakan
dan dapat menghasilkan apa yang diharapkan.
c. Rencana keperawatan harus sesuai dengan tujuan dan falsafah
instansi kesehatan.
d. Rencana keperawatan dibuat dengan keluarga. Hal ini sesuai
dengan prinsip bahwa perawat bekerja bersama keluarga bukan
untuk keluarga.
e. Rencana keperawatan sebaiknya dibuat secara tertulis. Hal ini
selain berguna untuk perawat juga akan berguna bagi anggota
tim kesehatan lainnya. Selain itu dengan rencana tertulis akan
membantu mengevaluasi perkembangan masalah keluarga.
4. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan merupakan salah satu tahap dari proses
keperawatan keluarga di mana perawat mendapatkan kesempatan
28

untuk membangkitkan minat keluarga dalam mengadakan perbaikan


kearah perilaku hidup sehat. Guna membangkitkan minat keluarga
dalam berprilaku hidup sehat, maka perawat harus memahami
teknik-teknik motivasi. Tindakan keperawatan keluarga mencakup
hal-hal di bawah ini.
a. Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai
masalah dan kebutuhan kesehatan dengan cara memberikan
informasi, mengidentifikasi kebutuhan dan harapan tentang
kesehatan, serta mendorong sikap emosi yang sehat terhadap
masalah.
b. Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang
tepat dengan cara mengidentifikasi konsekuensi untuk tidak
melakukan tindakan, mengidentifikasi sumber-sumber yang
dimiliki keluarga, dan mendiskusikan setiap tindakan.
c. Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga
yang sakit dengan cara mendemonstrasikan cara perawatan,
penggunaan alat dan fasilitas yang ada di rumah dan mengawasi
keluarga melakukan perawatan.
d. Membantu keluarga untuk menemukan cara membuat lingkungan
menjadi sehat dengan menemukan sumber-sumber yang dapat
digunakan keluarga dan melakukan perubahan lingkungan
keluarga seoptimal mungkin.
e. Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan
dengan cara mengenalkan fasilitas kesehatan yang ada di
lingkungan keluarga dan membantu keluarga cara menggunakan
fasilitas tersebut.
5. Evaluasi
Sesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan,
tahap penilaian dilakukan untuk melihat keberhasilanya. Bila tidak atau
belum berhasil, maka perlu disusun rencana baru yang sesuai. Semua
tindakan keperawatan mungkin tidak dapat dilakukan dalam satu kali
kunjungan ke keluarga. Oleh karena itu, kunjungan dapat dilakukan
secara bertahap sesuai dengan waktu dan kesediaan keluarga.
29

Langkah-langkah dalam mengevaluasi pelayanan keperawatan yang


diberikan, baik pada individu maupun keluarga adalah sebagai berikut:
a. Tentukan garis besar masalah kesehatan yang dihadapi dan
bagaimana keluarga mengatasi masalah tersebut.
b. Tentukan bagaimana rumusan tujuan keperawatan yang akan
dicapai.
c. Tentukan kriteria dan standar untuk evaluasi. Kriteria dapat
berhubungan sumber-sumber proses atau hasil, bergantung pada
dimensi evaluasi yang diinginkan.
d. Tentukan metode dan teknik evaluasi yang sesuai serta sumber-
sumber data yang diperlukan.
e. Bandingkan dengan keadaan yang nyata (sesudah
perawatan) dengan kriteria dan standar evaluasi.
f. Identifikasi penyebab atau alasan penampilan yang optimal
atau pelaksanaan yang kurang memuaskan.
g. Perbaiki tujuan berikutnya. Bila tujuan tidak tercapai, perlu
ditentukan alasan kemungkinan tujuan tidak realistis, tindakan
tidak tepat, atau kemungkinan ada faktor lingkungan yang tidak
dapat diatasi.
6. Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi adalah bagian integral bukan sesuatu yang berbeda
dari metode problem-solving. Dokumentasi keperawatan mencakup
pengkajian, identifikasi masalah, perencanaan, intervensi. Perawat
kemudian mengobservasi dan mengevaluasi respon klien terhadap
intervensi yang diberikan dan mengkomunikasikan informasi tersebut
kepada profesi kesehatan lainnya. Kekurangan dalam
pendokumentasian proses keperawatan meliputi penggunaan
terminology dan cara pendokumentasian yang tidak standar yang tidak
menunjukkan adanya suatu perbedaan asuhan keperawatan yang
kompleks (Nursalam 2009).
30
BAB III

ASKEP KELUARGA

A. Data Umum Keluarga


1. Nama kepala keluarga : Tn. A
2. Umur : 41 Tahun
3. Agama : Islam
4. Pendidikan : SLTA
5. Pekerjaan : Wiraswasta
6. Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia
7. Alamat : Desa Paku Alam
8. Komposisi keluarga

Kesehatan
Nama Anggota

Keluarga
keluarga

Keterangan
Immunisasi
Pendidikan
Umur (thn)
Hubungan

Pekerjaan

Keadaan
No. / KB

Agama
P

1. Tn. A Kepala L 40 SL WirasaIslam seha Tida Tidak


Keluarga TA sta t k
2. Ny. A Istri P 37 SL IRT Islam Sakit Pak Tidak
TP ai
3. An. S Anak L 17 SL PelajarIslam Seh Tida YA
TA at k
4. An. H Anak L 12 SD PelajarIslam Seh Tida YA
at k

9. Tipe keluarga
Keluarga dengan tipe keluarga inti (nuclear family) yang terdiri dari ayah, ibu
dan anak.

32
33

10. Genogram

Ny. A
Umur 37

Keterangan:
: Laki-laki
: Perempuan
: Anggota keluarga yang sakit
: Meninggal perempuan
: Meninggal laki-laki
: Tinggal serumah

11. Sifat Keluarga


a. Pengambilan Keputusan
Apabila ada masalah di dalam keluarga Tn. A sering kali
memusyawarahkan bersama-sama dan yang sering berperan dalam
pengambilan keputusan adalah Tn. A.
b. Kebiasaan Hidup Sehari-hari
1) Kebiasaan tidur / istirahat
a) Tidur siang
Keluarga Tn. A memiliki jam tidur siang yang tidak menentu
biasanya sekitar pukul 14.00 – 15.30 WITA.
b) Tidur malam
Keluarga Tn. A waktu tidur malam sekitar pukul 00.30 – 05.00
WITA
2) Kebiasaan rekreasi
Keluarga sangat jarang rekreasi, jika mempunyai cukup
luang kebiasaannya cuma nonton televisi dirumah namun,
34

keluarga sering berkunjung ke keluarga yang lain, keluarga Tn. A


saling bercengkrama di ruang keluarga.

3) Kebiasaan makan keluarga


a) Jenis makanan
Nasi, lauk dan sayur
b) Frekuensi
2-3 kali sehari
c) Keseimbangan gizi

Normal
12. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Penghasilan keluarga perbulan adalah >Rp500.000,-. Penghasilan
berasal dari hasil pekerjaan sebagai pedagang buah. Anggota keluarga
yang bertanggung jawab terhadap perekonomian keluarga adalah Tn. A
bekerja sebagai karyawan swasta
13. Suku (kebiasaan kesehatan terkait suku bangsa)
Seluruh anggota keluarga adalah suku asli Banjar bangsa
Indonesia. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Banjar.
Tidak ada kebiasaan budaya banjar yang mempengaruhi kesehatan
keluarga. Kebiasaan budaya dan istiadat yang ada di masyarakat
setempat adalah berkumpul dalam satu acara di dalam wilayah RT 02.
14. Agama (kebiasaan kesehatan terkait agama)
Agama yang di pegang atau di anut keluarga Tn. A seluruhnya
agama islam. Seluruh keluarga selalu menunaikan shalat 5 waktu.
Persepsi keluarga tentang agama Islam yang di anut sangat menyakini
serta mempercayainnya. Kegiatan Ny. N dalam seminggu ada 1 acara
yaitu yasinan yang diikuti di wilayah RT 02. Menurut keluarga Islam
adalah agama yang sempurna dan akan di pegang hingga akhir hayat.

B. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga


1. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan keluarga Tn. A adalah pada tahap yaitu
keluarga dengan tahap perkembangan desawa muda, karena anak-anak
Tn. A masih sekolah.
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
35

Keluarga Tn.A memiliki 2 orang anak. Anaknnya belum menikah


dan tinggal serumah sebagai pelajar sehingga keluarga belum dapat
menjalankan tugas perkembangan secara maksimal.
3. Riwayat keluarga inti
Pasangan ini menikah pada tahun 2004 dan dikaruniai 2 orang
anak. Anak Tn. A belum bekerja dan belum menikah.
4. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya (pihak istri dan suami)
Penyakit yang pernah dialami sebelumnya adalah penyakit
Diabetes Melitus. Dalam keluarga Tn. A pernah mengalami sakit akut
yang kurang dari 6 bulan. Keluarga Tn. A tidak pernah mengalami
penyakit menular seperti TB paru. Keluarga Tn. A tidak ada yang
mengalami cacat fisik. Anggota keluarga jarang berobat kepelayanan
kesehatan karena mengobati penyakit dengan meminum obat yang ada
diwarung.
5. Riwayat kesehatan mental, psikologis, spiritual
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa/
dirawat di rumah sakit jiwa
6. Persepsi dan tanggapan keluarga terhadap layanan kesehatan
Pelayanan kesehatan yang ada sudah baik namun karena jarang
memeriksakan kesehatan sehingga tidak mengetahui perkembangan
pelayanan kesehatan

C. Lingkungan
1. Karakteristik rumah (tipe, ukuran, jumlah ruangan)
Luas rumah 8 x 15 m2. Status kepemilikan rumah saat ini adalah
rumah sendiri. Rumah yang dihuni sekarang adalah rumah permanen,
lantai kayu papan, atap rumah terbuat dari seng, rumah memiliki wc
sendiri, 2 kamar tidur, dapur, dan ruang tamu.
2. Ventilasi dan penerangan
Luas jendela > 10% luas ruangan rumah. Pencahayaan rumah
baik, terdapat ventilasi di atas jendela, jendela ada 7 dan selalu dibuka
setiap hari, lantai bersih sering disapu, tidak ada bau yang kurang enak,
keluarga merasa bahagia tinggal di rumah.
3. Persediaan air bersih
Keluarga mengambil dari sungai.
4. Pembuangan sampah
36

Tidak ada tempat pembungan sampah disekitar rumah.


5. Pembuangan air limbah
Air limbah yang dihasilkan keluarga yaitu air cucian, air memasak dan
mandi. Limbah tidak ditampung, tetapi langsung buang di belakang
rumah.
6. Jamban / WC (tipe, jarak dari sumber air)
Keluarga memiliki toilet jongkok dan septitank. Letak toilet jongkok dan
septitank ada di belakang rumah. Kondisi jongkok dan septitank cukup
bersih, tidak berlumut.
7. Denah Rumah

14 m
U

6m

Dapur Keterangan:
Ruang Keluarga
Pintu
rangan: : pintu Jendela

Kamar Kamar

8. Lingkungan sekitar rumah


Keluarga tidak memiliki halaman rumah. Rumah berada di pinggir
jalan, Jarak rumah dengan terangga ± 2 meter. Suasana rumah tenang,
nyaman dan sejuk.
9. Sarana komunikasi dan transportasi
Keluarga memiliki handphone dan memiliki 2 sepeda motor.
10. Fasilitas hiburan (TV, radio, dll.)
Keluarga memiliki 1 buah TV, kulkas, dan kompor gas
11. Fasilitas pelayanan kesehatan
Disekitar tempat tinggal keluarga ada terdapat pelayanan
37

kesehatan. Jarak antara rumah dan pelayanan kesehatan (puskesmas)


adalah sekitar ± 8 km.

D. SOSIAL
1. Karakteristik tetangga dan komunitas
Tetangga sekitar memiliki empati yang tinggi dan saling bergotong
royong dalam melakukan suatu kegiatan.
2. Mobilitas geografis keluarga
Keluarga Tn. A tinggal menetap dan memiliki kepemilikan rumah
sendiri.
3. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga sering berkumpul pada sore hari di teras rumah dan
pada siang hari mengadakan pengajian 1 minggu sekali
4. Sistem pendukung keluarga
Keluarga termasuk dalam system pendukung dengan keluarga
sejahtera 1 di tunjukan dengan rumah kepemilikan sendiri, mempunyai
sepeda motor.

E. STRUKTUR KELUARGA
1. Pola komunikasi keluarga
Bahasa yang digunakan sehari-hari oleh keluarga ialah bahasa
Banjar. Tidak ada waktu khusus untuk berkumpul dengan keluarga, jika
ada waktu kosong akan dimanfaatkan untuk berkumpul atau
mengunjungai keluarga yang tidak jauh dari tempat tinggal keluarga Tn.
A.
2. Struktur kekuataan keluarga
Anggota keluarga yang berperan mengambil keputusan adalah
Tn. A. Keputusan diambil dengan cara bermusyawarah terlebih dahulu
dengan anggota keluarga. Orang tua, suami, dan anak selalu terlibat
dalam pengambilan keputusan, namun yang paling berpengaruh adalah
Tn. A.
3. Struktur peran (formal dan informal)
Tn. A berperan sebagai kepala keluarga, pencari nafkah sebagai
wiraswasta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, serta bertanggung
jawab terhadap anak dan istri. Tn. A berperan sebagai suami dari Ny. A
yang membantu Ny. A dalam mendidik 2 anak. Tn. A juga memberi
38

contoh dan role model untuk anak-anaknya, menyayangi serta


melindungi. Sedangkan Ny. A berperan sebagai istri, sebagai pengambil
keputusan, dan berperan sebagai ibu rumah tangga mengurusi keluarga
dan mengasuh, mendidik dan merawat anak, dan membantu
berdagang. Pada anak-anak Tn. A berperan sebagai anak dan masih
bersekolah.
4. Nilai dan norma keluarga
Keluarga Tn. A hidup dalam nilai dan norma budaya banjar, yang
dimana Tn. A sebagai kepala keluarga dan Ny. A sebagai istri yang
membantu berjualan dan mengurus rumah. Tidak ada hal-hal budaya
yang diyakini dan aturan dikeluarga fleksibel.

F. Fungsi Keluarga
1. Fungsi Afektif
Anggota keluarga saling menyayangi satu sama lain, memiliki dan
mendukung. Persoalan dan masalah dalam keluarga selalu dibicarakan
bersama sehingga tidak memicu terjadinya masalah komunikasi.Maka
dari itu keluarga selalu melakukan komunikasi terbuka. Tidak ada
masalah dalam keluarga.
2. Fungsi Sosialisasi
Keluarga selalu mengajarkan dan menanamkan perilaku sosial
yang baik, sopan santun, disamping itu sebagai contoh konkrit orang tua
selalu berdiskusi dengan anak-anaknya terhadap suatu masalah yang
ada, memandirikan anak agar memberikan pendapat ataupun masukan,
jika itu bisa cukup membantu untuk menyelesaikan masalah yang ada.
3. Fungsi perawatan kesehatan
Pendapat dari keluarga Tn. A, sehat adalah keadaan dimana tidak
ada keluhan kesehatan yang mengganggu aktifitas sehari-hari dalam
keluarga, sedangkan sakit adalah saat ada salah satu anggota keluarga
yang mengalami gangguan kesehatan yang sudah mengganggu aktifitas
sehari-hari dan perlu pengobatan baik tradisional atau medis. Tn. A
mempunyai kebiasaan memakan makanan yang asin dan
mengkonsumsi makanan yang asin hampir setiap hari serta makan
makanan yang berlemak karena Ny. N memasak menggunakan
penyedap rasa (MSG) dan garam. Peran keluarga ketika ada keluarga
yang sakit ikut merawat dan membantu untuk mengantar ke pelayanan
39

kesehatan apabila sakitnya parah.


4. Fungsi Reproduksi
Keluarga sudah tidak lagi merencanakan akan menambah
anggota keluarga.
5. Fungsi Ekonomi

Pendapatan keluarga dipergunakan dengan baik untuk memenuhi


kebutuhan sehari-hari.

G. Stress dan Koping Keluarga


1. Struktur jangka pendek dan jangka panjang
a. Stressor jangka pendek
Koping dalam keluarga Tn. A tidak ada masalah. Keluarga Tn.A
selalu bersyukur apa yang telah dimiliki.
b. Stressor jangka panjang
Koping dalam keluarga Tn. A mengeluhkan yaitu kondisi
kesehatan yang di alalmi.
2. Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Situasi dan Stressor
Respon keluarga dalam menghadapi masalah dengan teknik
asertif, yaitu mengutamakan masalah anggota keluarga, mencari solusi
bersama tidak menyalahkan orang lain atau hal diluar dirinya.
3. Strategi Koping Yang Digunakan
Strategi kompensasi yaitu jika ada masalah keluarga selalu
berusaha ditutupi dengan jalan berunding bersama ataupun
berkonsultasi dengan orang yang lebih tahu serta tidak saling
menyalahkan justru saling mendukung satu sama lain.
4. Strategi Adaptasi Disfungsional
Bila keluarga sedang mengalami masalah kesehatan yang berat
mereka cenderung berdiskusi dan minta pendapat pada tetangga atau
keluarga dekat sebelum masalah menjadi lebih berat.

H. Riwayat Kesehatan Keluarga


1. Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga
a. Tn. A
Tidak ada memiliki riwayat penyakit sebelumnya
b. Ny. A
Mengalami riwayat Diabetes Melitus sejak 6 bulan yang lalu
40

c. An. S

Tidak ada memiliki riwayat penyakit sebelumnya

d. An. H

Tidak ada memiliki riwayat penyakit sebelumnya

2. Keluarga berencana
Ny. N Masih menggunakan KB (Pil)
3. Imunisasi
Tn. A dan Ny. A tidak pernah dan anaknya sudah imunisasi
lengkap.
4. Tumbuh Kembang
a. Pemeriksaan Tumbuh Kembang Anak
Keluarga memiliki anak dengan tumbuh kembang dengan anak
usia sekolah dan tidak mengalami keterlambatan tumbuh kembang
b. Pengetahuan Orang Tua Terhadap Kembang
Keluarga mengetahui tentang tumbuh kembang pada anak seperti
bermain dengan anak sebayanya.

I. Harapan Keluarga
Ny. N sangat berharap tekanan darah istirinya turun ke angka normal
dan berharap keluarganya sehat selalu.
41

J. Pemeriksaan Fisik Keluarga


Pemeriksaan Tn. A Ny. A An. S
No
1 2 3 4
Sering pakai kaos Sering pakai baju kaos
1 Penampilan Sering pakai daster
oblong oblong
2 Kesadaran Composmentis Composmentis Composmentis
3
Tanda-tanda vital
a. Tekanan darah 130/ 80 mmHg 140 / 90 mmHg 120/80 mmHg
b. Nadi
c. Respirasi 88x/menit 90x/menit 81x/menit
d. Suhu 21x/menit 20x/menit 20x/menit
e. Berat badan 36,4ºC 36ºC 36,3ºC
f. GDS 58 Kg 78 Kg 55 Kg
288 mg/dL
4 Kepala
a. Bentuk Bentuk normal Bentuk normal Bentuk normal
b. Rambut Rambut warna hitam Rambut warna hitam Rambut warna hitam.
c. Kulit kepala Kulit kepala normal Kulit kepala normal Kulit kepala normal
5
Mata
Bentuk normal Bentuk normal Bentuk normal
a. Bentuk
Konjungtiva tidak Konjungtiva tidak Konjungtiva tidak
b. Konjungtiva
anemis anemis anemis
c. Sclera
Sclera tidak ikterik Sclera tidak ikterik Sclera tidak ikterik
d. Fungsi
Fungsi penglihatan Fungsi penglihatan Fungsi penglihatan
penglihatan
normal normal normal
6 Hidung
a. Bentuk hidung Bentuk normal Bentuk normal Bentuk normal
b. Fungsi Fungsi penciuman Fungsi penciuman Fungsi penciuman baik
penciuman baik baik
7 Telinga
a. Bentuk Bentuk normal Bentuk normal Bentuk normal
b. Fungsi Fungsi pendengaran Fungsi pendengaran Fungsi pendengaran
pendengaran baik baik baik
42

8
Mulut
Bentuk normal Bentuk normal Bentuk normal
a. Bentuk
Bibir tidak kering Bibir kering Bibir tidak kering
b. Bibir
Gigi tidak lengkap Gigi tidak lengkap Gigi lengkap
c. Gigi

9
Bentuk normal Bentuk normal Bentuk normal
Leher
Tidak terdapat JVP Tidak terdapat JVP Tidak terdapat JVP
a. Bentuk
Tidak terdapat KGB Tidak terdapat KGB Tidak terdapat KGB
b. JVP
Tidak ada Tidak ada Tidak ada pembatasan
c. KGB
pembatasan gerak pembatasan gerak gerak
d. Pergerakan

10
Dada
Pergerakan dada Pergerakan dada Pergerakan dada
a. Pergerakan
simetris simetris simetris
b. Bunyi nafas
Bunyi nafas Bunyi nafas vesikuler Bunyi nafas vesikuler
c. Bunyi jantung
vesikuler Terdapat bunyi S1 dan Terdapat bunyi S1 dan
Terdapat bunyi S1 S2 S2
dan S2

11
Abdomen
Bentuk normal Bentuk normal Bentuk normal
a. Bentuk
Bising usus Bising usus 8x/menit Bising usus 11x/menit
b. Bising usus
10x/menit

12 Ekstrimitas Tidak ada Tidak ada Tidak ada pembatasan


a. Atas pembatasan gerak pembatasan gerak gerak
b. Pergerakan Pergerakan normal Pergerakan normal Pergerakan normal
c. Bawah Tidak ada Tidak ada Tidak ada pembatasan
d. Pergerakan pembatasan gerak pembatasan gerak gerak
e. Kekuataan otot Pergerakan normal Pergerakan normal Pergerakan normal
Kuat Kuat Kuat
43

K. Tipologi Masalah Kesehatan


No Daftar Masalah Kesehatan
1 Ancaman
a. Terlalu sering memakan yang asin dan serta makanan makanan
dan minuman yang manis atau tingggi gula menyebabkan gula
darah meningkat sehingga terjadinya diabetes melitus
2 Kurang/Tidak Sehat
a. Ny. A menderita gula darah yang tinggi (diabetes melitus)
b. Ny. A makan tidak teratur serta suka makanan yang asin dan
manis
c. Ny. A membuat teh untuk diminum dengan gula terlalu banyak
(setiap hari)
3 Defisit
Ny. A sangat jarang berobat ke puskesmas, tetapi hanya meminum
obat jika tidak parah

Pengkajian Khusus Berdasarkan 5 Tugas Keluarga

No Kriteria Pengkajian
H. Mengenal masalah Pengetahuan keluarga tentang
1
penyakit baik. Keluarga
menyatakan cemas dengan
penyakit diabetes yang di
derita Ny. A, tetapi apabila
pusing sudah terbiasa hanya
meminum obat yang ada di
warung, dan Ny. A.
J. Mengambil keputusan yang tepat K. Kebiasaan dalam keluarga,
2
jika penyakit yang diderita
dirasa tidak terlalu
mengganggu, keluarga
memilih obat warung, namun
saat penyakit dirasakan sangat
sakit barulah keluarga mencari
pertolongan terhadap tenaga
44

kesehatan.
L. Merawat anggota keluarga yangM. Keluarga Tn. A mengatakan
3
sakit atau punya masalah sudah mengetahui bagaimana
cara merawat anggota yang
sakit. Akan tetapi Ny. A sulit
dikasih tahu kalau makanan
yang manis dapat memicu
timbulnya gula darah tinggi.
N. Memodifikasi lingkungan O. Keluarga memodifikasi
4
lingkungan dengan cara
membersihkan rumah agar
tetap bersih.
P. Memanfaatkan sarana kesehatan Q. Keluarga Tn.A kurang
5
menggunakan fasilitas
kesehatan (POSKESDES)
dan merasa kesehatan baik-
baik saja, ketika sakit baru ke
puskesmas.

B. Daftar Masalah
No Data Problem Etiologi
1 Data Subyektif : Perilaku kesehatan Ketidakmampuan
-Ny. A menyatakan cenderung beresiko keluarga dalam
memiliki riwayat merawat keluarga
diabetes sejak tahun yang sakit
2021
-Ny. A menyatakan
mengetahui
makanan yang
menyebabkan
terjadinya diabetes
tetapi Ny. A tetap
memakan makanan
45

tersebut.
-Ny. A menyatakan
masih makan
makanan yang
menggunakan gula.
-Ny. A menyatakan
makan makanan
yang manis
Data obyektif:
- Ny. A tidak tahu
saat ditanya tentang
penyebab, tanda
dan gejala diabetes
- Keluarga kurang
tahu saat ditanya
tentang bagaimana
diet yang baik bagi
diabetes
- Keluarga masih
mengkonsumsi
makanan yang
tinggi kandungan
gula dan garam.
- TD: 140/90 mmHg
- Nadi: 90x/menit
- RR: 20x/menit
- T: 36ºC
- GDS : 288mg/dL
2 Data Subyektif: Ketidakefektifan Pendidikan rendah,
- Keluarga managemen kurangnnya terpapar
menyatakan jarang kesehatan informasi kesehatan
memeriksakan
kesehatan
dipelayanan
kesehatan karena
46

berobat sendiri

Data obyektif:
- Anggota keluarga
tidak mampu
menjelaskan
tentang obat-obatan
- Ny. A (TD : 140/90
mmHg)
- GDS :288mg/dL
- Tekanan dararh dan
gula darah Ny. A
diatas batas normal

Skoring
Diagnosa 1

No Kriteria Skor Bobot


R. Sifat masalah S.
1 1
 Tidak/kurang sehat
3 2/3x1=2/3
 Ancaman kesehatan
2
 Krisis/keadaan sejahtera
1
T. Kemungkinan masalah dapat diubah
2 2
 Dengan mudah
2 1/2x2=1
 Hanya sebagian
1
 Tidak dapat
0
U. Potensial masalah untuk di cegah
3 1
 Tinggi V. 2/3x1=2/3
3
 Cukup
2
 Rendah
1

4 Menonjolnya masalah 1
47

 Masalah berat harus segera


2 2/2x1=1
ditangani
 Ada masalah tetapi tidak perlu
Segera ditangani 1
 Masalah tidak dirasakan

TOTAL 3,4

Diagnosa 2

No Kriteria Skor Bobot

1 Sifat masalah 1
 Tidak/kurang sehat
3 2/3x1=2/3
 Ancaman kesehatan
2
 Krisis/keadaan sejahtera
1

2 Kemungkinan masalah dapat diubah 2


 Dengan mudah
2 1/2x2=1
 Hanya sebagian
1
 Tidak dapat
0

3 Potensial masalah untuk di cegah 1


 Tinggi
3 1/3x1=1/3
 Cukup
2
 Rendah
1

4 Menonjolnya masalah 1
 Masalah berat harus segera
2 2/2x1=1
ditangani
 Ada masalah tetapi tidak perlu
Segera ditangani 1
 Masalah tidak dirasakan
48

TOTAL 3

PRIORITAS MASALAH

1. Ketidakefektifan Manajemen Kesehetan Keluarga

2. Perilaku cenderung beresiko

3. Defisit pengetahuan b.d Ketidaktahuan menemukan sumber informasi

A. Rencana Tindakan Keperawatan

No Diagnosa Tujuan Tujuan Intervensi


Umum Khusus
Keperawa
tan
1. Selasa, 1 Februari TUM: TUK: Pengajaran:
2022 Proses Penyakit
Pukul 16.00 Wita Setelah dilakukan Pengetahuan : 1. Kaji tingkat
kegiatan selama1 Regimen pengetahuanke
Ketidakefktifan minggu diharapkan Perawatan luarga
manajemen manajemen mengenai
kesehatan kesehatan Setelah dilakukan penyakit
(00188) pada keluarga tindakan diabetes
efektif. keperawatan 2. Kenali
selama 3x24 jam pengetahuan
diharapkan pasien
Keluarga mampu mengenai
mengenal/memah kondisinya
ami tentang 3. Berikan
perawatan yang informasi
tepat bagi kepada
keluarga keluarga
mengenai
Kriteria Hasil: kondisi
49

1. Keluarga anggota
mampu keluarga yang
mengenal menderita
masalah diabetes
tentang 4. Berikan
pengetahuan informasi
dan perilaku terkait
kesehatan terapeutik dan
2. Keluarga pengobatan
mampu diabetes
memanfaatkan 5. Ajarkan proses
fasilitas penyakit yang
kesehatan dialami ajarkan
3. Pengetahuan : diet yang
proses tepat
penyakit 6. Ajarkan terapi
4. Pengetahuan non-
tentang farmakologis
sumber diabetes
kesehatan 7. Diskusikan
5. Pengetahuan : perubahan
regimen gaya hidup
pengobatan yang mungkin
diperlukan
untuk
mencegah
komplikasi
dimasa yang
akan datang
2. Selasa,1 oktober TUM: TUK: Memodifikasi
2022 Perilaku :
Pukul 16.15 Wita Setelah dilakukan Pengetahuan: 1. Indentifikasi
asuhan Perilaku target perilaku
keperawatan mempromosikan 2. Tentukan
Perilaku selama 1 minggu, kesehatan: motivasi
50

Kesehatan keluarga mampu keluarga untuk


Cenderung menunjukkan Setelah dilakukan berubah
Berisiko perilaku kesehatan tindakan 3. Berikan
(D. 0099) adaptif keperawatan dukungan pada
selama 3x24 jam keluarga
diharapkan 4. Ggantikan
Keluarga mampu perilaku yang
mengenal/memah tidak diinginkan
ami tentang dengan perilaku
perawatan yang yang diinginkan
tepat bagi 5. Gunakan jangka
keluarga waktu untuk
mengukur
Kriteria Hasil: perubahan
1. Keluarga perilaku
melakukan 6. Kembangkan
perilaku program
kesehatan perubahan
secara rutin perilaku
2. Keluarga 7. Diskusikan
mampu perubahan gaya
melakukan hidup yang
pemeriksaan mungkin
kesehatan diperlukan untuk
yang mencegah
dianjurkan komplikasi
3. Keluarga dimasa yang
mampu akan datang
menghindari
dari prilaku
merokok
3. Selasa, 1 Februari TUM: TUK: Edukasi
2022 Setelah dilakukanTingkat Kesehatan
Pukul 16.30 Wita tindakan Pengetahuan (I.12383)
keperawatan selama(L.12111) Observasi
51

3x24 jam masalah 1. Perilaku 1. Identifikasi


Defisit keperawatan defisit sesuai perilaku
pengetahuan b.d pengetahuan dapat anjuran kesehatan
Ketidaktahuan teratasi dengan meningkat 2. Identifikasi
menemukan kriteria hasil: 2. Perilaku kunjungan ke
sumber informasi sesuai pelayanan
(D.0111) dengan kesehatan
pengetahuan 3. Identifikasi
meningkat kesiapan dan
3. Pertanyaan menerima
tentang informasi
masalah Teraupetik
yang 1. Anjurkan untuk
dihadapi mengunjungi
menurun pelayanan
4. Persepsi kesehatan
yang keliru 2. Sediakan materi
terhadap dan media
masalah pendidikan
menurun kesehatan
5. Menjalani 3. Berikan
pemeriksaan kesempatan
yang tidak untuk bertanya
tepat Edukasi
menurun. 1. Jelaskan
tentang penyakit
Ajarkan perilaku
hidup bersih dan
sehat
52

B. Implementasi
No. No. Diagnosis Pukul Tindakan Paraf

Keperawatan Keperawatan
1. Ketidakefktifan Sabtu, 30 Oktober 1. Mengkaji tingkat
manajemen 2021 pengetahuankeluarga
kesehatan Keluarga mengenai penyakit
(00188) Pukul 10.00 WITA hipertensi Keluarga
kurang mengetahui
informasi tentang
hipertensi

2. Mengenali pengetahuan
pasien mengenai
kondisinya:
Keluarga diberikan
edukasi terkait penyakit
yang diderita saat ini.

3. Memberikan informasi
kepada keluarga
mengenai kondisi
anggota keluarga yang
menderita hipertensi:
Keluarga diberikan
edukasi Hipertensi Dari
definisi, etiologi, tanda-
gejala,komplikasi dan
penatalaksanaan.

4. Memberikan informasi
terkait terapeutik dan
pengobatan hipertensi
Keluarga diberikan
53

edukasi terkait control


kesehatan yang berkaitan
dengan penyakit yang
diderita.

5. Mengajarkan proses
penyakit yang dialami
ajarkan : diet yang tepat:
Keluarga diajarkan diet
rendah garam.

6. Mengajarkan terapi non-


farmakologis Hipertensi:
Keluarga di ajarkan
terkait cara menurunkan
tekanan darah dengan
mengkonsumsi 2 buah
pisang ambon
(140g/buah) / hari
2. Perilaku Kesehatan Sabtu, 30 Oktober 1. Mengindentifikasi target
Cenderung Berisiko 2021 perilaku:
(D. 0099) Perilaku keluarga terlalu
Pukul 10.10 WITA mengabaikan terkait
penyakit yang diderita.

2. Menentukan motivasi
keluarga untuk berubah:
Keluarga mengatakan
mempunyai keinginan
untuk merubah gaya
hidup menjadi lebih sehat
jika ada bimbingan
seperti ini.

3. Memberikan dukungan
54

pada keluarga:
Keluarga diberikan
dukungan dan semangat
terkait mengontrol
penyakit yang diderita.

4. Menggantikan perilaku
yang tidak diinginkan
dengan perilaku yang
diinginkan :
Keluarga diarahkan untuk
berperilaku hidup yang
sehat dari pola makan
yang sering
menngunakan kecap
untuk dikurangi,
memasak dengan garam
yang terlalu banyak dan
memakan ikan asin
karena itu merupakan
salah satu makanan
pemicu tekanan darah
naik.

5. Menggunakan jangka
waktu untuk mengukur
perubahan perilaku:
Keluarga diberikan waktu
jangka pendek dalam 3
hari dan panjang 1
minggu untuk merubah
perilaku.

6. Mengembangkan
program perubahan
55

perilaku:
Keluarga mengatakan
akan mengembangkan
program perubahan
perilaku yang sudah di
ajarkan.

7. Mendiskusikan
perubahan gaya hidup
yang mungkin diperlukan
untuk mencegah
komplikasi dimasa yang
akan datang:
Mahasiswa dan keluarga
mendiskusikan hal yang
perlu dicegah agar tidak
terjadi komplikasi pada
Ny.S
56

L. PERENCANAAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA INTEGRASI


DOKUMENTASI ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN
NANDA/INCP, NOC, NIC
Diagnosa NOC
NIC
Data Keperawatan
kode Diagnosa Kode Hasil kode Intervensi
Data Subyektif : 00188 Perilaku - Keluarga mampu 7560 a. Mengunjungi
-Ny. A menyatakan kesehatan mengenal masalah fasilitas
memiliki riwayat cenderung kesehatan kesehatan
diabetes sejak tahun beresiko 1803 a. Pengetahuan 5606 b.Pengajaran :
2021 1602 b. Kesehatan individu
-Ny. A menyatakan Pengetahuan 5602 c.Pengajaran :
mengetahui makanan 1603 c.Tentang proses proses
yang menyebabkan penyakit 7140 penyakit
terjadinya diabetes d.Perilaku peninkatan d.Dukungan
tetapi Ny. A tetap kesehatan 1120 keluarga
memakan makanan 1623 e.Keluarga mampu 1160 e.Terapi nutrisi
tersebut. merawat: f. Monitor nutrisi
-Ny. A menyatakan 1622 f.Perilaku patuh
masih makan terhadap pengobatan
makanan yang g.Perilaku kepatuhan:
menggunakan gula. diet yang dianjurkan
-Ny. A menyatakan
makan makanan
yang manis
Data obyektif:
- Ny. A tidak tahu saat
ditanya tentang
penyebab, tanda dan
gejala diabetes
- Keluarga kurang tahu
saat ditanya tentang
bagaimana diet yang
57

baik bagi diabetes


- Keluarga masih
mengkonsumsi
makanan yang tinggi
kandungan gula dan
garam.
- TD: 140/90 mmHg
- Nadi: 90x/menit
- RR: 20x/menit
- T: 36ºC
- GDS : 288mg/dL
Data Subyektif: 00080 Ketidakefekt - Keluarga mampu 5510 a. Pendidikan
- Keluarga menyatakan ifan mengenal masalah kesehatan:
jarang memeriksakan manajemen tentang pengetahuan mengajarkan
kesehatan kesehatan dan perilaku proses
dipelayanan kesehatan penyakit yang
kesehatan karena 1602 a.Pengetahuan: proses 5602 dialami
berobat sendiri penyakit b.Pengajaran:
1808 b.Pengetahuan: 5614 proses
Data obyektif: 1802 c.Pengobatan penyakit
- Anggota keluarga Pengetahuan: c.Pengajaran:
tidak mampu anjuran pengaturan 7040 diet yang tepat
menjelaskan tentang diet / dianjurkan
obat-obatan 1613 d.Pengetahuan: d.Dukungan
- Ny. A (TD : 140/90 regimen pengobatan 7140 memberi
mmHg) - Keluarga mampu perawatan
- GDS :288mg/dL memanfaatkan 7560 e.Dukungan
- Tekanan dararh dan fasilitas kesehatan keluarga
gula darah Ny. A 1806 e.Pengetahuan tentang f.Mengunjungi
diatas batas normal sumber kesehatan fasilitas
1603 f.Perilaku mencari kesehatan
pelayanan kesehatan
58

M. Implemntasi dan Evauasi Keperawatan Keluarga

Fasilitas Yankes : Puskesmas Sungai Tabuk 2 Register/Hari/Tanggal : 20 Januari 2022


Nama Perawat : Eka Shandika Ade Pratiwi Nama Penanggungjawab : Tn. A
Nama Individu/keluarga : Tn. A Alamat : Kelurahan Paku Alam
Diagnosis
Tgl/No Implementasi Evaluasi TTD Perawat
Keperawatan
20 Perilaku 1. Memotivasi pasien dan S:
Januari kesehatan keluarga untuk mengunjungi 1. Ny. A menyatakan memiliki riwayat
2022 cenderung fasilitas kesehatan hipertensi sejak tahun 2021
beresiko (puskesmas) jika mengalami 2. Ny. A menyatakan mengetahui
sakit makanan yang menyebabkan
2. Memberikan pendidikan terjadinya diabetes tetapi Ny. A tetap
kesehatan mengenai terapi memakan makanan tersebut.
komplementer (terapi air 3. Ny. A menyatakan masih makan
putih) untuk mengatasi makanan yang menggunakan gula
diabetes dan menjelaskan dan garam.
bahan-bahan yang dapat 4. Ny. A menyatakan sudah mengurangi
digunakan serta konsumsi makanan dan minuman
59

mempraktekkan cara yang manis


pengolahannya.
3. Memotivasi pasien dan O:
keluarga untuk mempertahan 1. Ny. A tahu saat ditanya tentang
derajat kesehatan keluarga penyebab, tanda dan gejala diabetes
dengan menjalani pola hidup 2. Keluarga sudah tahu saat ditanya
yang sehat dengan makan 3 tentang bagaimana diet yang baik
kali sehari. bagi diabetes
4. Memotivasi pasien atau 3. Keluarga mengurangi mengkonsumsi
keluarga untuk rutin makanan yang tinggi kandungan gula
mengosumsi terapi yang dan garam.
telah diberikan serta 4. TD: 140/90 mmHg
menganjurkan keluarga
Nadi: 87x/menit
untuk menghindari makanan
atau minuman yang dapat RR: 20x/menit

memicu terjadinnya penyakit T: 36,2ºC


diabetes, seperti kopi, teh
GDS :
manis ataupun yang lainnya.
A : Masalah belum teratasi
P : intervensi di lanjutkan
60

20 Ketidakefktifan 1. Memberikan pendidikan S:


Januari manajemen kesehatan tentang hipertensi 1. Keluarga menyatakan jarang
2022 kesehatan khususnya mengenai : memeriksakan kesehatan
pengertian, penyebab, tanda dipelayanan kesehatan karena
gejala, akibat, klasifikasi, berobat sendiri
dampak dari diabetes O:
2. Memberikan pendidikan 1. Anggota keluarga tidak mampu
mengenai diet yang tepat menjelaskan tentang obat-obatan
untuk mencegah kekambuhan 2. Ny. A (TD : 140/90 mmHg)
penyakit diabetes yang 3. Gula darah Ny. A masih diatas batas
dialami normal
3. Memotivasi keluarga dan A : Masalah teratasi sebagian
memberi dukungan dalam P : intervensi di lanjutkan
memenuhi kebutuhan yang
diperlukan pasien
4. Memotivasi pasien dan
keluarga untuk mengunjungi
fasilitas kesehatan
(puskesmas) jika mengalami
sakit
61

20 Perilaku 2. Memotivasi pasien dan S:


Januari kesehatan keluarga untuk mengunjungi 1. Ny. A menyatakan memiliki riwayat
2022 cenderung fasilitas kesehatan hipertensi sejak tahun 2021
beresiko (puskesmas) jika mengalami 2. Ny. N menyatakan masih makan
sakit makanan yang menggunakan
3. Memotivasi pasien dan penyedap rasa (MSG) dan garam.
keluarga untuk mempertahan 3. Ny. N menyatakan sudah mengurangi
derajat kesehatan keluarga makan makanan yang berlemak
dengan menjalani pola hidup O:
yang sehat dengan makan 3 1. Ny. N tahu saat ditanya tentang
kali sehari. penyebab, tanda dan gejala
4. Memotivasi pasien atau hipertensi
keluarga untuk rutin 2. Keluarga sudah tahu saat ditanya
mengosumsi terapi yang tentang bagaimana diet yang baik
telah diberikan serta bagi hipertensi
menganjurkan keluarga 3. Keluarga mengurangi mengkonsumsi
untuk menghindari makanan makanan yang tinggi kandungan
atau minuman yang dapat garam dan penyedap rasa.
memicu terjadinnya penyakit 4. TD: 130/90 mmHg
diabetes kambuh lagi, seperti
Nadi: 87x/menit
kopi, rokok ataupun yang
62

lainnya.
RR: 20x/menit

T: 36,2ºC
A : Masalah belum teratasi
P : intervensi di lanjutkan
30 Ketidakefktifan 1. Memotivasi keluarga dan S:
Oktober manajemen memberi dukungan dalam 1. Keluarga menyatakan jarang
2021 kesehatan memenuhi kebutuhan yang memeriksakan kesehatan
diperlukan pasien dipelayanan kesehatan karena
2. Memotivasi pasien dan berobat sendiri
keluarga untuk O:
mengunjungi fasilitas 1. Anggota keluarga tidak mampu
kesehatan (puskesmas) menjelaskan tentang obat-obatan
jika mengalami sakit 2. Ny. N (TD : 130/90 mmHg)
3. Tekanan darah Tn. S masih diatas
batas normal
A : Masalah teratasi sebagian
P : intervensi di lanjutkan
BAB IV

PEMBAHASAN

Tekanan darah tinggi (Hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan


darah di dalam arteri. Hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana
tekanan yang abnormal tinggi didalam arteri menyebabkan peningkatannya
resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan
kerusakan ginjal (Triyanto, 2014).
Pembahasan asuhan keluarga ini dimulai dari tahapan-tahapan seperti
yang ada dalam proses keperawata, yaitu pengkajian, intervensi, implementasi,
evaluasi dan dokumentasi. Tujuan dilakukan pembahasan dalam kasus ini
adalah untuk mengupas kembali pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga dan
membandingkannya dengan tinjauan pustaka pada BAB II, hal ini dilakukan
karena respon setiap manusia terhadap suatu masalah berbeda-beda.
Asuhan keperawatan keluarga ini saya melakukan kunjungan sebanyak 4
kali dalam 2 minggu, kunjungan pertama dimulai dari meminta persetujuan
kepada keluarga untuk dikelola serta membina hubungan saling percaya,
kunjungan kedua melakukan pengkajian keluarga, kunjungan ketiga menentukan
rencana keperawatan atau intervensi tentang penggunaan terapi komplementer
terhadap penyakit hipertensi, kunjungan keempat melakukan pendidikan
kesehatan tentang hipertensi dan melakukan terapi komplementer terhadap
penyakit hipertensi, kunjungan kelima dan keenam melakukan evaluasi kepada
pasien perkembangan terapi komplementer dan kepatuhan pasien
melaksanakan terapi komplementer terhadap penyakit hipertensi.
a. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahapan terpenting dalam proses perawatan,


mengingat pengkajian sebagai awal bagi keluarga untuk mengidentifikasi
data-data yang ada pada keluarga. mengingat begitu pentingnya pengkajian
maka diharapkan perawat keluarga memahami betul lingkup, metode, alat
bantu, dan format pengkajian yang digunakan.
Secara teori bahwa etiologi untuk penyakit Hipertensi ini terbagi
menjadi dua yaitu hipertensi primer atau esensial dan hipertensi sekunder,
ada beberapa faktor resiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit
hipertensi antara lain bertambahnya usia, jenis kelamin, keturunan,

56
kegemukan, kurang olahraga, konsumsi garam berlebihan, stress dan
merokok. usia, resiko terkena hipertensi lebih tinggi. Ny. N memiliki riwayat
sampai sekarang, Ny. N memakan makanan yang asin karena Ny. D suka
memasak menggunakan penyedap rasa (MSG) dan garam.
Tanda dan gejala Hipertensi secara teori yaitu tengkuk terasa pegal,
wajah merah, gejala ringan seperti pusing atau sakit kepala, mudah marah,
telinga berdengung, sukar tidur, sesak nafas, mudah lelah, mata berkunang-
kunang, dan mimisan. Namun yang ditemukan pada kasus keluarga Tn. A
khususnya Ny. N saat dilakukan pengkajian tidak ada mengeluh.
Pengkajian keperawatan keluarga menggunakan teori beuty neuman.
Secara teori tidak ada perbedaan dengan pengkajian yang dilakukan di
keluarga Tn. A adapun yang dikaji adalah data umum, riwayat dan tahap
perkembangan, lingkungan, struktur keluarga, fungsi keluarga, stres dan
koping keluarga, harapan keluarga, data tambahan dan pemeriksaan fisik . 5
tugas keluarga dalam menghadapi masalah diantaranya adalah kemampuan
keluarga dalam mengenal masalah kesehatan, kemampuan keluarga
mengambil keputusan, kemampuan keluarga dalam merawat anggota
keluarga, kemampuan keluarga dalam memodifikasi lingkungan, dan
kemampuan keluarga dalam memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan.
b. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah kumpulan pernyataan, uraian dari hasil
wawancara, pengamatan langsung dan pengukuran dengan menunjukan
status kesehatan mulai dari potensial, resiko tinggi sampai dengan masalah
aktual. Etiologi dari diagnosa keperawatan keluarga diambil dari 5 tugas
keluarga, maka kesenjangan antara teori dan kasus yang dijumpai pada
keluarga Tn. S berikut ini penulis akan membahas setiap masalah.
Diagnosa keperawatan secara tipologi dalam teori dapat dibedakan
menjadi 3 yaitu. Actual adalah masalah keperawatan yang sedang dialami
keluarga dan memerlukan bantuan dari perawat dengan cepat. Resiko tinggi
adalah masalah keperawatan yang belum terjadi, tetapi tanda untuk menjadi
masalah kesehatan actual yang dapat terjadi dengan cepat apabila tidak
segera mendapatkan bantuan perawat. Potensial adalah suatu keadaan
sejahtera dari keluarga ketika keluarga telah mampu memenuhi kebutuhan
kesehatannya dan mempunyai sumber penunjang kesehatan yang
memungkinkan dapat ditingkatkan. Sedangkan diagnosa yang ditemukan

57
pada kasus keluarga Tn. A yaitu aktual, ketidakefektifan manajemen
kesehatan dan potensial yaitu perilaku kesehatan cenderung beresiko.
c. Intervensi Keperawatan
Perencanaan yang pertama adalah penapisan masalah yang perlu
diperhatikan adalah kriteria yaitu sifat masalah, kemungkinan masalah untuk
diubah, potensial masalah untuk dicegah dan menonjolnya masalah. Secara
teori sifat masalah terbagi menjadi tiga yaitu aktual dengan nilai 3, resiko
dengan nilai 2, potensial dengan nilai 1 dan bobot dengan nilai 1. Namun
dikeluarga Tn. A pada diagnosa keperawatan aktual ketidakefktifan
manajemen kesehatan dan potensial yaitu perilaku kesehatan cenderung
beresiko. Intervensi yang bisa dilakukan sesuai dengan teori pengendalian
hipertensi menurut Ardiansyah (2012) yang menyatakan bahwa dengan
promosi kesehatan, preventif, kuratif, diharapkan meningkatkan
pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai perilaku hidup sehat
dalam perawatan serta pencegahan hipertensi. Intervensi yang dapat
dilakukan kepada Ny. N adalah memberikan pendidikan kesehatan tentang
hipertensi, penerapan diet, hipertensi manajemen, pengobatan terapi
komplementer yaitu hidroterapi rendam kaki di air hangat, menganjurkan
pasien dan keluarga untuk ikut berpartisipasi dalam membantu merawat
anggota keluarga. Pendidikan kesehatan juga diberikan untuk meningkatkan
kesehatan lingkungan dan anggota keluarga lain dalam hal mencegah
timbulnya penyakit atau penurunan status kesehatan.
d. Implementasi keperawatan
Pelaksanaan merupakan aktualisasi dari perencanaan yang telah
disusun sebelumnya. Pelaksanaan secara teori yaitu berdasarkan
pelaksanaan yang mengacu pada rencana keperawatan yang dibuat,
pelaksanaan dilakukan dengan tetap mempertahankan prioritas masalah,
dan kekuatan-kekuatan keluarga berupa financial, motivasi dan sumber-
sumber pendukung lainnya. Pelaksanaan yang dibuat pada kasus tidak ada
perbedaan dengan yang ada pada teori.
Tindakan keperawatan yang telah dilakukan kepada Ny. N adalah
menjelaskan pengertian, penyebab, tanda dan gejala dari hipertensi, diet
hipertensi, terapi komplementer yaitu hidroterapi rendam kaki menggunakan
air hangat dan memotivasi keluarga untuk menjelaskan kembali pengertian,
penyebab, tanda dan gejala dari hipertensi. Penerapan terapi komplenter

58
penurunan hipertensi yang dianjurkan kepada Ny. N untuk menurunkan
tekanan darah sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Irena Tela, dkk
(2016) tentang pengaruh terapi rendam kaki dengan air hangat terhadap
penurunan tekanan darah pada pasien dengan hipertensi di puskesmas
Baru Manado penelitian yang dilakukan oleh Solechah, et al (2017).
Hidroterapi rendam air hangat merupakan salah satu jenis terapi alamiah
yang bertujuan untuk meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi edema,
meningkatkan relaksasi otot, menyehatkan jantung, mengendorkan otot-
otot, menghilangkan stress, nyeri otot, meringankan rasa sakit,
meningkatkan permeabilitas kapiler, memberikan kehangatan pada tubuh
sehingga sangat bermanfaat untuk terapi penurunan tekanan darah pada
hipertensi, dan prinsip kerja dari hidroterapi ini yaitu dengan menggunakan
air hangat yang bersuhu sekitar 40,5- 43 C secara konduksi dimana terjadi
perpindahan panas dari air hangat ke tubuh sehingga akan menyebabkan
pelebaran pembuluh darah dan dapat menurunkan ketegangan otot, terapi
hidroterapi dilakukan selama 10 menit pada pagi dan sore hari dalam 6 hari
secara teratur (Solechah, et al, 2017).
e. Evaluasi keperawatan
Evaluasi merupakan tahapan terakhir dari proses keperawatan
keluarga. Evaluasi merupakan tahapan yang menentukan apakah tujuan
dapat tercapai sesuai yang ditetapkan dalam tujuan direncanakan
keperawatan. Tahapan evaluasi dapat dilakukan secara formatif dan somatif.
Evaluasi formatif bertujuan untuk menilai hasil implementasi secara bertahap
sesuai dengan kegiatan yang dilakukan secara kontrak pelaksanaan.
Evaluasi sumatif bertujuan menilai secara keseluruhan terhadap pencapaian
diagnosa. Hasil evaluasi kepatuhan Ny. N merendam kaki dengan air hangat
dan perkembangan kondisi Ny. N sebelum melakukan rendam kaki dengan
air hangat dan sesudah melakukan rendam kaki dengan air hangat adalah
Ny. N melakukan rendam kaki dengan air hangat 2 kali sehari pada pagi dan
sore hari selama 10 menit. Ny. N mengatakan badan terasa enak setelah
dilakukan rendam kaki dengan air hangat dan tekanan darah Ny. N
mengalami penurunan dari 140/100 mmHg menjadi 130/90 mmHg. Hasil
yang didapatkan adanya pengaruh terapi komplementer tentang rendam kaki
dengan air hangat terhadap penurunan tekanan darah pada penderita
hipertensi.

59
f. Dokumentasi keperawatan
Dokumentasi keperawatan merupakan suatu catatan yang memuat
seluruh data yang dibutuhkan untuk menentukan keperawatan,
perencanaan, tindakan keperawatan dan penilaian keperawatan yang
disusun secara sistematis, valid dan dapat dipertanggung jawabkan secara
moral dan hukum.
Pendokumentasian pada keluarga Ny. N selama 2 minggu dibagi
dalam 4 kali pertemuan. kunjungan pertama dimulai dari meminta
persetujuan kepada keluarga untuk dikelola serta membina hubungan saling
percaya, kunjungan kedua melakukan pengkajian keluarga, kunjungan
ketiga menentukan rencana keperawatan atau intervensi tentang
penggunaan terapi komplementer terhadap penyakit hipertensi, kunjungan
keempat melakukan pendidikan kesehatan tentang hipertensi dan
melakukan terapi komplementer terhadap penyakit hipertensi, kunjungan
kelima dan keenam melakukan evaluasi kepada pasien perkembangan
terapi komplementer dan kepatuhan pasien melaksanakan terapi
komplementer terhadap penyakit hipertensi.

60
57

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Lansia (lanjut usia) merupakan tahap lanjut dari suatu proses
kehidupan yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk
beradaptasi dengan strres lingkungan. Proses menua dapat mempengaruhi
perubahan fisik dan mental yang mengakibatkan timbulnya berbagai macam
penyakit, dan yang paling sering ditemukan pada lansia adalah penyakit
hipertensi.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menurunkan atau
mengontrol tekanan darah yaitu Hidroterapi (hydrotherapy) yang sebelumnya
dikenal sebagai hidropati (hydropathy) adalah metode pengobatan
menggunakan air hangat untuk mengobati atau meringankan kondisi yang
menyakitkan dan merupakan metode terapi dengan pendekatan “lowtech”
yang mengandalkan pada respon-respon tubuh terhadap air. Menggunakan
air hangat yang bersuhu sekitar 40,5- 43 C secara konduksi dimana terjadi
perpindahan panas dari air hangat ke tubuh sehingga akan menyebabkan
pelebaran pembuluh darah dan dapat menurunkan ketegangan otot, terapi
hidroterapi dilakukan selama 10 menit pada pagi dan sore hari dalam 6 hari
secara teratur

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan asuhan keperawatan keluarga diatas, beberapa
saran yang dapat penulis sampaikan:
1. Melaksanakan asuhan keperawatan keluarga, mahasiswa atau perawat
hendaknya tetap mempertahankan dan mengupayakan pendekatan
keluarga yang optimal baik secara pisikososial, spiritual dan tindakan
yang dilakukan perlu mempertahankan sumber daya dan sumber dana
yang ada pada keluarga
2. Memberikan asuhan keperawatan, mahasiswa hendaknya mampu
membina kerjasama dengan keluarga dari pengkajian sampai evaluasi
untuk lebih dipertahankan dan dipertimbangkan
58

3. Mahasiswa juga diharapkan dapat membantu masalah kesehatan yang


ada pada masyarakat yang mengalami masalah kesehatan.

Daftar Pustaka

Destia, Damayanti, Umi, Priyanto . 2014. Perbedaan tekanan Darah Sebelum


dan Sesudah Dilakukan Hidroterapi Rendam Hangat pada
Penderita Hipertensi. Jurnal Kesehatan Ngudi Waluyo Ungaran.

Inggrid, 2017. Efektivitas Hidroterapi Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada


Lansia Penderita Hipertensi Di Panti Wreda Al- Islah Malang. Vol 2
(3).

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Buletin Jendela Data dan Informasi


Kesehatan Penyakit Tidak Menular. Jakarta 2012.

Kemenkes RI. 2018. Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta:
Balitbang Kemenkes RI

Setiadi. 2008. Konsep & Proses Keperawatan Keluarga. Edisi; Pertama.


Yogyakarta: Graha Ilmu.

Setyowati Sri. S.Kep dkk.(2008).Asuhan Keperawatan Keluarga, konsep dan


apilkasi kasus; editor Handoko Riwidikdo, Skp dkk- Jogjakarta :
Mitra cendikia.

Tedjakusuma, P., 2012. Tatalaksana Hipertensi, Cermin Dunia Kedokteran,


Volume 39 no. 4 tahun 2012.

Triyanto, T. 2014. Pelayanan Keperawatan Bagi Penderita Hipertensi Secara


Terpadu. Yogyakarta: Graha Ilmu