Anda di halaman 1dari 87

TM6029

LAPORAN

OPTIMASI PRODUKSI

Nama : Deny Fatryanto Edyzoh Eko Widodo

Nim : 22215031

Dosen : Prof. Dr. Ir. Pudjo Sukarno

Dr. Amega Yasutra

Tanggal Penyerahan : 5 Januari 2017

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK PERMINYAKAN

FAKULTAS TEKNIK PERMINYAKAN DAN PERTAMBANGAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2016
INISIALISASI RESERVOIR DAN
CADANGAN
1. PENDAHULUAN
Dalam tugas 1 ini, model reservoir telah diberikan sehingga yang harus dilakukan
penulis adalah membuat sebaran permeability sebagai fungsi dari porositas. Persamaan
yang digunakan untuk melakukan penyebaran ini menggunakan data yang didapatkan
dari paper SPE 150189 “Rock Typing and Generalization of permeability-porosity
relationship for Iranian carbonate gas reservoir”. Nantinya, persamaan hubungan antara
permeabilitas dan porositas yang didapatkan didalam paper ini akan menjadi inputan
untuk penyebaran permeabilitas horizontal dalam model prosper yang digunakan
sedangkan untuk permeabilitas vertical menggunakan rule of thumb 0.1 x Permeabilitas
horizontal ( sumber : John R. Fanchi, “Applied Reservoir Simulation 3rd edition”).
Setelah sebaran permeability dilakukan, selanjutnya adalah menghitung cadangan pada
model reservoir tersebut.

2. DESKRIPSI MODEL
Model reservoir ini terdiri dari tiga zona yaitu zona 1, zona 2 dan zona 3. Zona 1
dan 3 sendiri adalah reservoir yang berisi hidrokarbon sedangkan zona 2 merupakan zona
sealing yang berupa batuan impermeable sehingga menjadi pembatas antara zona 1 dan
zona 3 dan tidak ada koneksi antara kedua zona tersebut.
Penyebaran tipe batuan juga terdiri dari 3 tipe yaitu sand 1, sand 2, dan sand 3
dimana masing masing tipe sand nantinya akan memiliki penyebaran permeabiltas yang
berbeda beda. Batuan ini terbagi menjadi tiga tipe diantaranya dikarenakan oleh
perlakuan yang diperoleh saat pengendapan, lingkungan pengendapannya serta faciesnya.
Penyebaran 3 tipe batuan ini tersebar di zona 1 dan 3
Porositas yang digunakan dalam model ini bervariasi mulai dari 15 % sampai
dengan 21 %. Nilai ini mengacu pada origin of porosity in carbonate reservoir dan
adanya mekanisme sekundari dalam porositas di carbonate reservoir.
Dari range porositas diatas lalu dilakukan penyebaran permeability menggunakan
persamaan dibawah ini :
.
= 17007 untuk sand 1
.
= 6942 untuk sand 2
.
= 2939 untuk sand 3

Tabulasi menyeluruh untuk persamaan hubungan antara permeability dan porosity dapat
dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 1 persamaan hubungan permeabilitas dan porositas pada beda tipe rock

Setelah selesai didistribusikan lalu dilihat penyebaran permeability pada model sehingga
didapatkan range permeability di model mulai dari kurang dari 50 mD sampai dengan
300 mD
Gambar 1, distribusi permeabilitas

3. HASIL SIMULASI DAN PERHITUNGAN CADANGAN


Setelah selesai dengan penyebaran permeabilitas, selanjutnya simulasi dijalankan
untuk mendapatkan jumlah cadangan pada model reservoir. Total pore volume pada
model ini adalah sebesar 1,444,619,911 rB yang terdiri dari 2 zona dan terisi oleh oil,
water dan gas.

Pada zona 1, total cadangan minyak adalah sebesar 663,996 rB , sedangkan


cadangan gas sebesar 7,493,521 rB dan 41,668 rB dalam bentuk dissolved gas. Untuk
initial water pada zona 1 sebesar 496,219,038 rB
Pada zona 3, total cadangan minyak sebesar 36,736,205 rB sedangkan cadangan
gas sebesar 1,194,408 rB dalam bentuk dissolved gas. Untuk initial water pada zona 2
sebesar 1,194,408 rB.

4. ANALISIS MODEL
Dari hasil simulasi terlihat bahwa sisa cadangan minyak dizona 1 sudah sangat
sedikit sehingga dan cukup besarnya cadangan gas dalam bentuk free gas di zona ini. Hal
ini dapat terjadi karena pada zona ini, tekanan reservoir telah dibawah pressure bubble
point sehingga gas telah keluar dari dalam minyak dan menjadi gas bebas. Hal ini juga
dapat dilihat dari kontak antar fasa dimana batas kontak oil dan water hanya 1 ft. Bila
ketebalan ini digunakan pada rumus volumetric, dengan luas reservoir tersebut maka
didapatkan volume minyak sebesar 663,996 rB.
Sedangkan untuk zona 3, tekanan reservoir masih diatas tekanan bubble point.
Hal ini dapat terlihat jelas pada cadangan gas pada zona ini masih berupa dissolved gas
tanpa adanya free gas.
Memahami kelakuan dan kondisi kedua zona ini menjadi penting dalam
menentukan langkah produksi selanjutnya, apakah akan langsung memproduksikan dari
kedua zona bersamaan ataukah menggunakan SSD untuk memisahkan produksi
keduanya. Resiko ketika memproduksikan kedua zona ini bersamaan adalah adanya cross
flow dari zona 3 ke zona 1 yang bisa berdampak oil menjadi residual dan menutup zona 1
sehingga gas tidak dapat diproduksikan atau dapat terjadi water block dikedua zona
tersebut.
Memproduksikan dari zona 1 juga tidaklah mudah. Terlihat dari hasil simulasi
bahwa total water inplace sangat besar. Kesalahan dalam menentukan rate produksi akan
mengakibatkan tingginya water cut yang diperoleh. Tingginya produksi water tidk hanya
berdampak pada fasilitas produksi yang dibutuhkan namun saat kolom air meningkat di
wellbore, hal ini akan mengakibatkan density campuran fluida diwellbore menjadi lebih
tinggi sehingga dibutuhkan tenaga yang lebih tinggi untuk memproduksikannya. Suatu
ketika, saat kolom air jatuh ke zona 3 atau menjadi kolom di depan perforasi zona 3, akan
terjadi water block yang berakibat oil dari zona 3 tidak dapat diproduksikan lagi (hilang
36 juta barrel).
Pemilihan metode produksi yang tepat dan meyeluruh terhadap system sangat
krusial agar dapat memproduksikan dari kedua zona dengan maksimal.
PENENTUAN ZONA INTEREST DAN
SUMUR
PENDAHULUAN

Analisa terintegrasi mulai dari Reservoir sampai ke fasilitas produksi di permukaan menjadi
hal yang sangat vital dalam industry migas. Dari analisa ini dapat ditentukan mulai dari kelakuan
Reservoir sampai pemilihan strategi produksi yang paling optimum untuk menghasilkan
produksi yang optimal. Untuk mencapai hal ini, diperlukan pemahaman yang luas dan meyeluruh
mengenai semua aspek yang berkaitan, termasuk aspek Reservoir, uji sumur, aliran fluida baik
dimedia berpori maupun media pipa sampai aspek fasilitas permukaan. Untuk itu, harus
diperhatikan mengenai disiplin disiplin ilmu yang berkaitan didalamnya seperti diantaranya:

1. Geologi dan geofisika, mengenai static model Reservoir yang akan dianalisa. Semakin
akurat bentuk static model yang dibuat semakin akurat simulasi Reservoir yang dilakukan
yang berdampak pada akurasi keselurahan system dan tentu saja analisa keekonomian.
2. Fluida Reservoir, mengenai kandungan fluida diReservoir yang tentu saja nantinya akan
diproduksikan. Pemahaman mengenai ini akan sangat mempengaruhi akurasi dari
simulasi yang dibuat.
3. Operasi pemboran, mengenai proses pembuatan sumur itu sendiri .
4. Operasi produksi dan komplesi, mengenai profil sumur yang diinginkan. Penentuan
metode komplesi yang tepat akan sangat berpengaruh terhadap produksi yang didapatkan.
terutama ketika memproduksi dari banyak layer harus mempertimbangkan perbedaan
tekanan diantara layer yang diproduksi. Perbedaan tekanan yang terlalu signifikan antara
layer tersebut dapat mengakibatkan cross flow sehingga rate yang diproduksikan lebih
kecil. Kasus lain ketika memproduksi dari dua zona berbeda fasa, satu zona
memproduksikan gas dan satu lagi memproduksikan liquid. Ketika terjadi cross flow dari
zona liquid ke zona gas akan berakibat pada kemungkinan pluging oleh liquid atau liquid
yang masuk ke zona gas menjadi residual sehingga gas tidak lagi dapat diproduksikan.
Batasan batasan produksi juga perlu diperhatikan seperti batasan fasilitas produksi,
kontrak dll. Metode secondary dan atau tertiary recovery juga harus menjadi
pertimbangan guna mendapatkan perolehan yang maksimal.

Integerasi aliran fluida mulai dari Reservoir sampai ke fasilitas permukaan seperti separator
menjadi sangat penting dan focus dari studi ini dikarenakan seringkali focus studi hanya pada
Reservoir dan aliran sampai ke dasar sumur yang mengakibatkan tidak maksimal perolehan dan
pendeknya umur suatu lapangan.

Dalam studi ini, penulis menggunakan simulator Petrel 2008 untuk memodelkan
Reservoir yang akan dijadikan acuan untuk analisa system lainnya. Langkah awal yang
dilakukan adalah melakukan penyebaran permeabilitas melalui hubungan permeabilitas dan
porositas. Kemudian setelah itu dihitung IOIP dan IGIP menggunakan simulator sehingga
didapatkan nilai IOIP dan IGIP.

Setelah IOIP dan IGIP didapatkan lalu dilakukan pengklasifikan zona sesuai skala
prioritas. Skala prioritas ini didasarkan pada Hidrocarbon pore volume , Permeability dan
tekanan. Dari skala prioritas ini didapatkan daerah-daerah mana yang menjadi prospek untuk
diletakkan sumur dan dilakukan pemboran.

Setelah proses pemboran selesai selanjunya dilakukan uji sumur untuk mendapatkan
kemampuan alir suatu sumur yang selanjutnya akan dibentuk inflow performance relationship
(IPR) dan ditentukan laju alir optimum berdasarkan pembagian 40-60 % AOF. Setelah itu
didapatkan komulatif produksi setiap sumur dan diplot komulatif produksi lapangan sehingga
dapat ditentukan plato rate dari setiap sumur dan jumlah sumur optimal untuk lapangan ini.
KARAKTERISASI RESERVOIR

Dalam analisa karakteristik Reservoir ini, akan dianalisa mengenai distribusi porositas, distribusi
permeabilitas, tipe batuan, serta analisa data PVT. Dengan menganalisa karakteristik Reservoir
diharapkan dapat mengoptimalisasi dalam pemilihan lokasi sumur, sehingga kedepannya dapat dilakukan
pengembangan lapangan yang lebih baik.

MODEL GEOLOGI

Studi GnG pada Lapangan telah dilakukan dan menghasilkan model geologi yang akan
digunakan sebagai model pada simulasi Reservoir. Model ini terdiri dari 9 zona dengan total grid
yang ada adalah 196 cells dengan rincian 14x14x9 untuk direksi i,j,k.
Model Reservoir berupa antiklin dengan patahan disebelah barat dan timur Reservoir.
Disebelah timur Reservoir terbentuk sesar minor akibat dari patahan disebelah timur Reservoir
seperti ditunjukkan gambar 1.

Gambar 1, Model Reservoir dengan patahan dibarat dan timur Reservoir


DISTRIBUSI POROSITAS
Model Reservoir yang digunakan telah memiliki persebaran porositas minimal 0.0591
dan porositas maksimal sebesar 0.3416 dengan mengikut distribusi normal. Penyebaran porositas
pada model dapat dilihat pada gambar 2 dibawah ini,

Gambar 2, Model Reservoir dengan penyebaran porositas

Agar dapat memudahkan untuk melihat penyebaran porositas, ditampilkan dalam bentuk
histogram property Reservoir ditunjukkan pada gambar 3,
Gambar 3, Histogram penyebaran porositas

DISTRIBUSI PERMEABILITAS

Penyebaran permeabilitas pada model Reservoir ini dapat dibagi menjadi 2, yaitu
penyebaran permeabilitas xy atau permeabilitas horizontal dan permeabilitas z atau permeabilitas
vertical. Penyebaran permeabilitas xy atau permeabilitas horizontal didapatkan dari hubungan
antara porositas dan permeabilitas. Hubungan ini diambil dari paper SPE 150189 “Rock Typing
and Generalization of permeability-porosity relationship for Iranian carbonate gas Reservoir”.
Dari paper tersebut didapatkan persamaan hubungan porositas dan permeabilitas sebagai berikut,
.
= 17007

Dari persamaan tersebut bisa didapatkan hubungan bahwa semakin besar porositasnya
semakin besar permeabilitas pada cell tersebut atau hubungan antara porositas dan permeabilitas
adalah berbanding lurus.

Ada asumsi penting yang harus diperhatikan dalam penyebaran permeabilitas xy ini yaitu
permeabilitas dengan arah horizontal akan memiliki nilai yang sama ke arah x dan y.
Penyebaran permeabilitas xy pada model dapat dilihat pada gambar 4 dibawah ini,
Gambar 4, Model penyebaran permeability xy arah horizontal

Penyebaran permeabilitas pada model dapat ditampilkan dalam bentuk histogram seperti gambar
5 dibawah ini,

Gambar 5, Histogram penyebaran permeability xy arah horizontal


Gambar 6, Kurva hubungan porositas dan permeability xy arah horizontal

Berdasarkan gambar 6, kurva hubungan porositas dan permeabilitas xy, penulis dapat
menyimpulkan bahwa porositas dan permeabilitas xy mempunyai hubungan yang berbanding
lurus. Dari kurva tersebut terlihat bahwa semakin besar nilai porositas suatu batuan semakin
besar juga permeabilitas arah horizontal dalam hal ini permeabilitas xy.

Dari penyebaran permeabilitas xy diatas didapatkan nilai minimum permeabilitas model


adalah 3 mD dan permeabilitas maksimum adalah 597 mD.

Selanjutnya dilakukan penyebaran permeabilitas z atau permeabilitas arah vertical.


Penyebaran permeabilitas z didapatkan dari rule of thumb Kz=Kxy/10. Permeabilitas arah
vertical atau permeabilitas z jauh lebih kecil dibandingkan dengan permeabilitas arah horizontal
atau permeabilitas xy dikarenakan oleh beberapa hal diantaranya pegaruh overburden stress dan
proses pengendapan sedimen. Permeabilitas vertical sangat terpengaruh oleh overburden stress
(1 psi/ft) sehingga menghasilkan nilai permeabiltas vertical yang lebih kecil. Selain itu, proses
pengendapa sedimen adalah ke arah horizontal sehingga menghasilkan permeabilitas arah
vertical yang sangat kecil.
Berdasarkan persamaan diatas sehingga didapatkan penyebaran permeabilitas z seperti
ditunjukkan pada model dibawah ini

Gambar 7, Model penyebaran permeability z arah vertikal

Penyebaran permeabilitas vertikal pada model dapat ditampilkan dalam bentuk histogram seperti
gambar dibawah ini

Gambar 8, Histogram penyebaran permeability xy arah horizontal


Gambar 9, Kurva hubungan porositas dan permeability z arah vertikal

Dari kurva hubungan porositas dan permeabilitas z terlihat seperti sebelumnya bahwa
porositas dan permeabilitas memiliki hubungan berbanding lurus. Permeabilitas z arah vertical
menjadi penting dalam aliran media berpori khususnya pada sumur horizontal. Section lateral
pada sumur horizontal sangat dipengaruhi oleh permebilitas vertical dalam performance aliran
media berporinya.

Dari penyebaran permeabilitas z diatas didapatkan nilai minimum permeabilitas vertikal


model adalah 0 mD dan permeabilitas maksimum adalah 60 mD. Dari nilai ini diketahui bahwa
pada grid tertentu nilai permeabilitas z sangat kecil bahkan tidak ada (=0) sehingga nantinya
pemilihan peletakkan sumur harus memperhatikan factor permeabilitas baik arah horizontal
maupun arah vertical.
ROCK TYPE

Tipe batuan Reservoir menjadi sangat penting dalam Reservoir management yang
terintegerasi. Hal ini dikarenakan beda tipe batuan Reservoir akan membutuhkan perlakuan yang
berbeda baik dari system produksi maupun optimisasi perolehan. Pada batuan pasir
unconsolidated, sangat disarankan untuk mempertimbangkan kemungkinan pasir ikut terproduksi
sehingga mekanisme penanggulangan pasir sangat dibutuhkan seperti gravel pack, screen liner
dsb.

Tipe batuan pada model ini adalah batuan pasir consolidated dengan kompresibilitas
batuan sebesar 1.94 x 10-6 psi-1 . Persamaan yang digunakan untuk menghitung kompresibilitas
batuan Reservoir pada model ini adalah korelasi yang dikembangkan oleh Newman (1973).
Newman menggunakan 79 sampel untuk batuan pasir consolidated dan limestone untuk
membangun korelasi hubungan antara kompresibilitas batuan dan porositas. Persamaan Newman
secara umum adalah seperti dibawah ini :

PVT ANALYSIS

Pemahaman mengenai PVT Analysis atau analisa fluida Reservoir merupakan salah satu
factor kunci dan penting dalam meramalkan kinerja suatu Reservoir beserta optimasi terintegrasi
untuk Reservoir tersebut. Dalam model ini penulis menggunakan model simulator black oil
sedangkan simulator untuk Reservoir, penulis menggunakan simulator Petrel dan Eclipse,
sedangkan untuk system produksinya penulis menggunakan Pipesim yang diintegerasikan
dengan Eclipse. Model Black Oil sendiri maksudnya adalah model ini tidak memperhatikan
komposisi dari fluida Reservoir serta perubahannya.

Tekanan Gelembung (Bubble Point Pressure) pada model ini adalah sebesar 1185 psi
dengan SG oil sebesar 36.28º API dan Rs sebesar 0.24794 MSCF/STB pada densitas minyak
sebesar 52.596 lb/cuft. Untuk properties gas sendiri, densitas gas sebesar 0.05345 lb/cuft. Water
properties sendiri terdiri dari densitas air sebesar 62.8 lb/cuft , salinitas air sebesar 10000 ppm
dengan visccositas 0.37 cp. Temperatur Reservoir sendiri adalah sebesar 170º F dengan Minimun
Reservoir pressure sebesar 1050 psi dan Maximum Reservoir pressure sebesar 3000 psi dengan
reference pressure 1185 psi. Hubungan antara property fluida dengan tekanan Reservoir
ditampilkan pada kurva dibawah ini

Gambar 10, Kurva Formation Volume Factor Oil Vs Pressure

Gambar 11, Kurva Solution gas oil rastio Vs Pressure


Gambar 12, Kurva viscositas Vs Pressure

Gambar 13, Kurva relative permeability oil-water vs saturasi air


Dari kurva kurva diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Untuk formation volume factor oil, saat tekanan diturunkan tetapi masih diatas pressure
bubble, akan terjadi peningkatan Bo sebagai akibat ekspansi gas didalam minyak namun
karena belum dibawah tekanan bubble maka gas belum bisa keluar sehingga
meningkatkan Bo, pada model ini Bo ketika bubble point pressure adalah sebesar 1.1603
bbl/stb. Ketika tekanan sudah dibawah tekanan gelembung, gas keluar dari solution
menjadi free gas dan menyebabkan Bo menurun.
b. Untuk solution gas oil ratio, saat tekanan masih diatas tekanan gelembung, gas masih
berupa solution dan tidak keluar dari dalam oil. Ketika tekanan sudah dibawah tekanan
bubble, menyebabkan gas keluar dari dalam minyak dan solution gas oil ratio menurun.
Rs pada bubble point pressure pada model ini adalah sebesar 0.2479 MSCF/STB
c. Viscositas minyak akan turun ketika tekanan diturunkan sampai batas tekanan
gelembung, hal ini disebabkan karena ekspansi gas didalam minyak sehingga membuat
minyak semakin encer dan viskositas turun. Ketika tekanan diturunkan dibawah tekanan
gelembung, gas keluar dari dalam solution membentuk gas bebas meninggalkan minyak
dengan fraksi berat sehingga viskositas minyak naik drastic. Dalam model ini viskositas
minyak ketika keadaan bubble point pressure adalah sebesar 1.1018 cp.
d. Kurva relative permeability oil-water vs saturasi water menunjukkan hubungan dari
perubahan saturasi water terhadap permeabilitas. Terlihat bahwa sedikit saja saturasi air
meningkat yang berarti menurunnya saturasi minyak (akibat produksi) akan membuat
permeabilitas relative minyak turun secara drastic.

Selanjutnya menampilkan property gas berupa formation volume factor gas, viskositas gas dan
kurva relative permeability gas-oil vs saturasi.
Gambar 14, Kurva Formation Volume Factor gas Vs Pressure

Gambar 15, Kurva viscositas gas Vs Pressure


Gambar 16, Kurva relative permeability gas-oil vs saturasi gas

Dari kurva kurva diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Dari Kurva Formation Volume Factor gas Vs Pressure terlihat bahwa dengan kenaikan
tekanan maka akan mengakibatkan turunnya nilai Bg. Hal ini dapat dijelaskan bahwa
dengan naiknya tekanan, maka gas sebagai fluida compressible akan semakin terkompres
dan ikatan antar molekul akan semakin rapat sehingga akan semakin sedikit jumlah in-
situ gas yang dibutuhkan untuk 1 SCF gas. Pada tekanan minimum 1050 psi, Bg bernilai
2.73 RB/MSCF sedangkan pada tekanan maksimum 3000 psi Bg bernilai 0.915
RB/MSCF
b. Dari Kurva Viscositas vs pressure didapatkan bahwa semakin tinggi tekanan maka
semakin tinggi nilai viskositasnya. Hal ini dapat dijelaskan bahwa dengan naiknya
tekanan , gaya tarik menarik antar molekul gas jg semakin meningkat mengakibatkan gas
semakin viscous. Ketika tekanan diturunkan, viskositas gas turun sebagai akibat dari
ekspansi gas sehingga ga lebih mudah mengalir. . Pada tekanan minimum 1050 psi,
viskositas gas bernilai 0.0142 cp sedangkan pada tekanan maksimum 3000 psi 0.0209
cp.
c. Dari kurva relative permeability oil-gas vs saturasi terlihat bahwa dengan kenaika sangat
sedikit saturasi gas saja mengakibatkan turunnya kro sangat besar. Hal ini terjadi karena
juga gas jauh lebih mobile dibanding oil. Harus dipertimbangkan kemungkinan terjadinya
gas conning.

FLUID CONTACT

Fluid contact adalah batas antara suatu fasa dengan fasa lainnya didalam Reservoir.
Kontak ini dapat berupa batas air dengan minyak (WOC) atau batas gas dengan minyak (GOC).
Batas ini menjadi penting karena dalam peletakan sumur harus mempehatikan letak batas ini.
Akan menjadi percuma ketika meletakkan sumur dibawah WOC yang berarti sumur tersebut
akan hanya memproduksikan air. Dalam model ini batas air dengan minyak (WOC) terletak pada
kedalaman 3200 ft sedangkan batas gas minyak (GOC) terletak pada kedalaman 2700 ft.
Tampilan dari kedua batas tersebut dapat ditunjukkan oleh gambar dibawah ini :

Gambar 17, fluid contact pada model

Batas hijau merupakan GOC sedangkan warna biru WOC.


AQUIFER

Akuifer merupakan salah satu support dan mekanisme pendorong pada Reservoir. Pada
model terlihatnya adanya aquifer yang ditandai dengan saturasi air yang besar pada zona-zona
Reservoir. Model aquifer ini harus dibentuk dalam model atau diaktifkan agar pressure support
dapat berjalan serta menvisualisasikan pola aliran diReservoir termasuk kemungkinan terjadinya
water conning dan data water cut yang didapat cukup valid. Model aquifer yang diaktifkan dalam
model Reservoir dapat ditampilkan seperti gambar dibawah ini :

Gambar 18, Aquifer

Dari gambar diatas didapatkan bahwa aquifer pada Reservoir ini adalah aquifer jenis
Peripheral yang mengelilingi keseluruhan Reservoir.
Gambar 19, Aquifer pada model (biru)

Aquifer dibuat dengan menggunakan model fetkovich dengan besaran yang sama dengan
pore volume Reservoir. Adapun persamaan fetkovich untuk model aquifer adalah sebagai
berikut :

Memahami aquifer menjadi penting dalam menentukan letak sumur. Sumur terletak
terlalu dekat dengan aquifer dapat lebih cepat conning dibanding yang jauh dari aquifer.
SEALING FAULT

Dari pembahasan sebelumnya sudah disebutkan bahwa adanya major fault di sisi barat
dan timur dari Reservoir ini. Ditimur Reservoir sendiri terbentuk sesar minor yang membentuk
sudut hampir 30º dari sesar major. Seperti yang telah diketahui bahwa salah satu jebakan
Reservoir adalah fault yang berarti fault ada zona impermeable. Sealing fault dibentuk dalam
model agar tidak ada aliran dari fault sehingga menggambarkan aliran pada Reservoir. Fault pada
model ini dapat ditunjukkan pada gambar dibawah ini :

Gambar 20, Fault (major&minor) pada model

HIDROKARBON PORE VOLUME (HCPV)

Hidrokarbon pore volume (HCPV) adalah suatu metode untuk menghitung jumlah
hidrokarbon yang menempati pori pada kondisi Reservoir. HCPV sendiri merupakan fungsi pore
volume dan saturasi.

Untuk menghitung HCPV sendiri sebelumnya harus menentukan volum pori (PV),
adapun kalkulasi untuk menghitung PV adalah sebagai berikut :
PV = Vb x NTG x ɸ

Sehingga HCPV dapat dihitung dari persamaan

HCPV Oil : PV x Soi

HCPV Gas : PV x Sgi

HCPV sendiri akan menjadi salah satu pertimbangan utam dalam menentukan letak
sumur produksi yang akan dikombinasikan dengan parameter lain seperti permeabilitas dan
tekanan. Hal ini dimaksudkan karena dari HCPV kita hanya mendapatkan jumlah hidrokarbon
pada satu cell model namun tidak mengetahui bagaimana performancenya dalam mengalirkan
fluida yang dalam hal ini di representasikan oleh permeabilitas dan tekanan. Kombinasi antara
parameter-parameter tersebut akan menentukan zona yang tidak hanya mengadung cukup
potensial hidrokarbon namun juga zona yang mampu mengalirkannya.

Hasil dari analisa HCPV pada model dapat ditampilkan pada gambar dibawah ini :

Gambar 21, HCPV OIL


Gambar 22, HCPV GAS

Dari hasil analisa HCPV diatas didapatkan hasil bahwa untuk HCPV Oil diperoleh nilai
minimum 0 dan nilai maksimum sebesar 1,053,886 Rb sedangkan untuk HCPV Gas diperoleh
nilai minimum sebesar 0 dan nilai maksimum 1,041,725 Rb.

Penyebaran HCPV pada model dapat digambarkan dengan histogram sebagai berikut :

Gambar 23, Histogram HCPV Oil


Gambar 24, Histogram HCPV Gas

Dari histogram terlihat bahwa penyebaran HCPV gas tidak cukup baik, hal ini
dikarenakan zona gas hanya terdiri dari 2 zona dari total 9 zona, sedangkan 7 zona lainnya
adalah zona minyak sehingga simulator membaca bahwa penyebaran HCPV gas sedikit sekali.
Berbanding terbalik dengan HCPV oil yang penyebarannya cukup merata karena sebagian besar
zona adalah zona minyak.

CADANGAN INISIAL RESERVOIR DAN RECOVERY FACTOR

Setelah semua data dimasukkan kedalam simulator, selanjutnya adalah menjalankan


simulator untuk mendapatkan IOIP dan IGIP. Secara volumetric IOIP dapat dihitung dengan
persamaan dibawah ini

Sedangkan untuk IGIP dapat dihitung dengan persamaan dibawah ini :


Dimana

dan

Dari simulator didapatkan cadangan secara lapangan seperti table dibawah ini

Tabel 1 cadangan lapangan


WATER IGIP (MSCF)
IOIP (STB)
(STB) DISSOLVED FREE
256,296,451 889,007,511 32,997,641 63,545,987

Seperti yang telah diketahui bahwa tidak semua cadangan dapat diproduksikan,
bergantung pada mechanism pendorong yang bekerja pada Reservoir tersebut.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa Reservoir ini memiliki peripheral aquifer
sehingga untuk menghitung RF Oil digunakan persamaan JJ.Arps untuk water drive. Adapun
persamaan tersebut adalah sebagai berikut :

0, 0422 0, 0770 0, 2519


 (1  Sw)   K   Pi 
RF  0.548x   x  wi  x(sw) 0,1903 x  
 Boi   oi   Pa 

Sedangkan untuk menghitung RF Gas, digunakan persamaan berikut :


Sedangkan data inputan untuk menghitung RF Oil adalah sebagai berikut

Tabel 2, Properties Reservoir


Parameter Value Unit
Ø 0.225 Fraction
Swi 0.2 Fraction
K 0.125 D
µwi 0.379961 cp
µoi 0.7201 cp
pi 1185 psi
pa 500 psi
Boi 1.1603 Rb/STB
Bgi 2.4 Rb/SCF
Bga 10.23 Rb/SCF
Sgr 0.1 Fraction

Sehingga dengan memasukkan parameter yang dibutuhkan dalam perhitungan kedalam


persamaa RF baik untuk oil dan gas sehingga didapatkan RF untuk masing masing serta
recovable hidrokarbon seperti ditunjukkan table 3 dibawah ini :

Tabel 3, RF dan Recovable HC


RECOVABLE RECOVABLE
RF OIL RF GAS
OIL (STB) GAS (MSCF)
45% 97% 115,303,997 61,639,607

Yang perlu digaris bawahi bahwa nilai RF dan Recovable HC diatas adalah nilai yang
didapatkan untuk natural depletion atau masih primary recovery. Nantinya dengan jumlah oil
yang masih cukup tinggi, perlu dipertimbangkan jenis recovery lainnya seperti sekundari
maupun tertiary recovery seperti EOR untuk mendapatkan RF yang lebih tinggi.

PENENTUAN ZONA PRIORITAS

Dalam menentukan letak sumur produksi perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya
HCPV, kemampuan alir pada zona tersebut yang direpresentasikan dengan permeabilitas dan
tekanan. Penentuan letak sumur menjadi sangat penting mengingat biaya untuk pengeboran
sumur sangat besar sehingga daerah yang direncanakan untuk diletakkan sumur harus benar
benar prospek dan sumur yang dibor dapat berumur panjang dan menghasilkan pengurasan yang
maksimal.

Jarak antar sumur juga harus diperhatikan, tidak boleh terlalu dekat. Jarak antar sumur
yang disarankan adalah berjarak 500 ft untuk sumur minyak dan 1000 ft untuk sumur gas
(Amega Yasutra, 2016) atau 250 meter untuk sumur minyak dan 750 meter untuk sumur gas
(SKK Migas). Jarak ini dimaksudkan agar pengurasan masing masing sumur dapat maksimal.

Dalam model ini, penulis menggunakan kombinasi antara HCPV dan Permeabilitas atau
tekanan untuk menentukan zona prioritas 1,2 atau 3. Adapun syarat syarat suatu zona dapat
dikatakan zona prioritas 1,2, atau 3 adalah sebagai berikut :

Tabel 4, Syarat prioritas Zona


PARAMETER
PRIORITAS
POROSITY PERMEABILITY PRESSURE HCVP
1291-
HIGH >0.24 >200 1350 >400000
0.12 - 1201- 200000-
MEDIUM 0.24 75 - 200 1290 400000
1170-
LOW <0.12 <75 1200 <200000

Dalam penyebaran hubungan HCPV dan Permeabilitas , didapatkan pembagian zona seperti
gambar dibawah ini
PRIORITAS 1
PRIORITAS 3

PRIORITAS 2

Gambar 25, Pembagian zona prioritas Gas dengan penyebaran HCPV dan Permeabilitas

PRIORITAS 3
PRIORITAS 1

PRIORITAS 2

Gambar 26, Pembagian zona prioritas oil dengan penyebaran HCPV dan Permeabilitas
PRIORITAS 3 PRIORITAS 2

PRIORITAS 1

Gambar 27, Pembagian zona prioritas Gas dengan penyebaran HCPV dan tekanan

PRIORITAS 3
PRIORITAS 2 PRIORITAS 1

Gambar 28, Pembagian zona prioritas Gas dengan penyebaran HCPV dan tekanan
Persyaratan untuk masing masing prioritas kemudia dimasukkan kedalam fasilitas kalkulator
dalm simulator sehingga didapatkan zona prioritas sebagai berikut :

Gambar 29 , Zona Prioritas 1 (Merah), Prioritas 2 (Kuning), Prioritas 3 (Hijau) untuk zona Oil
Gambar 30 , Zona Prioritas 1 (Merah), Prioritas 2 (Kuning), Prioritas 3 (Hijau) untuk zona Gas

Pemboran sumur diprioritasnya pada zona prioritas 1 (merah) baik untuk sumur minyak
maupun sumur gas. Sumur yang direncakan berjumlah 7 buah terdiri dari 5 sumur yang
diprioritasnya untuk memproduksi minyak ( 4 sumur vertical, 1 sumur horizontal) dan 2 sumur
yang diprioritasnya untuk memproduksi gas ( 1 sumur vertical 1 sumur horizontal). Sumur sumur
tersebut akan berproduksi secara commingle dimana setiap sumur akan berproduksi lebih dari
satu layer yang dimaksudkan untuk memaksimalkan produksi.

Untuk kepentingan Reservoir Engineering, untuk mengetahui rate per layer yang
diproduksi sumur, dapat diketahui dengan sedikit modifikasi saat running program atau
implementasinya dilapangan adalah menggunakan Production Logging (spinner log) sehingga
dalam perhitungan material balance Reservoir dapat dilakukan tanpa hambatan.
Untuk kebutuhan simulasi, semua sumur diasumsikan di buat pada bulan yang sama yaitu
bulan januari 2016 termasuk komplesi dan perforasi. Adapun Well section untuk sumur-sumur
dilapangan ini ditunjukkan pada gambar berikut :

Gambar 31 , Well Section pada lapangan

Semua sumur vertical adalah sumur cased hole, khusus untuk sumur horizontal dimana
vertical section berupa cased hole dan lateral section berupa open hole.
Adapun koordinat sumur serta kedalaman sumur ditunjukkan pada table berikut :

Tabel 5, Well detail


SURFACE
WELL SURFACE Y TVD MD
X
Gas 1 555374.6 6806232.25 3050 3050
Oil 1 556069.2 6801103.88 3250 3250
Oil 2 553585.1 6800325.89 3350 3350
Oil 3 554626.8 6800416.42 3350 3350
Oil 4 557019.8 6801910.39 3380 3380
Oil H 1 558652.4 6801227.435 2995.469 7788.68537
Gas H 1 557542.5 6802525.53 2726.4794 7269.403027

Letak sumur pada Reservoir dapat ditampilkan sebagai gambar dibawah ini ,

Gambar 32 , Letak Sumur Pada Reservoir


Masing masing sumur tersebut selanjutnya dites menggunakan uji sumur secara PBU dan
PDD. Pengetesan ini dilakukan bersamaan (satu waktu) sehingga hasilnya pasti akan berbeda
dibanding jika pengetesan dilakukan untuk masing masing sumur. Hal ini dikarenakan adanya
interfensi dari sumur sekitarnya. Tes berlangsung selama 20 hari dimana yang menjadi batasan
adalah ketika tekanan bottom hole 500 psi dan saat laju alir 0 sehingga didapatkan q tes pada pwf
tes dan tekanan Reservoir untuk masing masing sumur.

Hasil tes ini selanjutnya digunakan untuk membangun kurva IPR untuk masing-masing
sumur sehingga didapatkan grafik hubungan antara tekanan dasar sumur dengan laju alir.

Adapun hasil uji sumur dapat ditampilkan pada grafik dibawah ini :

Gambar 33 , Hasil Uji Sumur Oil 1 dan 2


Gambar 34 , Hasil Uji Sumur Oil 3 dan 4

Gambar 35 , Hasil Uji Sumur Oil H 1 dan Gas 1


Gambar 36 , Hasil Uji Sumur Gas H 1

Summary hasil pengetesan untuk masing masing sumur ditampilkan pada table dibawah ini :

Tabel 6, Summary Welltest


Q Test (
PWF Test STB/D for Oil
WELL PR
(psi) ; MSCF/D for
Gas)
Gas 1 500 102896 961.62
Oil 1 500 11069.071 1066.558
Oil 2 500 9421.355 1096.166
Oil 3 500 7992.11 1066.68
Oil 4 500 11857.42 1075.42
Oil H 1 500 71416.46 1078.52
Gas H 1 500 196566.187 829.36

Dari hasil uji sumur terlihat bahwa sumur horizontal menghasilkan hampir 7 kali lipat
dibanding sumur vertical. Hal ini disebabkan karena daerah pengurasan sumur horizontal jauh
lebih besar dibanding sumur vertical sehingga rate yang dihasilkan juga sangat besar.
Inflow Performance Relationship dibangun menggunakan hasil welltest. Dalam hal ini
penulis menggunakan software Prosper untuk membentuk IPR pada masing masing sumur.
Untuk sumur vertikal oil digunakan persamaan vogel karena pada kondisi inisial watercut <40%
(Amega Yasutra,2016), sedangkan untuk sumur vertical gas menggunakan persamaan
Forchheimer karena persamaan ini mempertimbangkan factor darcy dan non darcy flow dimana
pada gas aliran non darcy sangat mungkin terjadi sebagai akibat dari velocity gas yang tinggi dan
pola aliran yang turbulen.

Untuk sumur horizontal oil, penulis menggunakan metode PI Entry dimana PI dihitung
dengan persamaan vogel sedangkan untuk horizontal gas penulis menggunakan persamaan
Horizontal Well dengan non flow boundary. Adapun grafik IPR untuk masing masing sumur
ditampilkan pada gambar gambar berikut :

Gambar 37 , Kurva IPR Sumur Oil 1


Gambar 38 , Kurva IPR Sumur Oil 2

Gambar 39 , Kurva IPR Sumur Oil 3


Gambar 40 , Kurva IPR Sumur Oil 4

Gambar 41 , Kurva IPR Sumur Oil H 1


Gambar 42 , Kurva IPR Sumur Gas 1

Gambar 43 , Kurva IPR Sumur Gas H 1

Dari grafik grafik IPR diatas didapatkan summary AOF untuk masing masing sumur.
Selanjutnya ditentukan laju alir 40-60 % dari AOF untuk dijadikan acuan laju alir yang akan
digunakan. Hal ini dilakukan agar menghindari deplesi yang terlalu cepat dari Reservoir serta
menghindari masalah masalah produksi seperti water conning dan produksi pasir. Summary
setiap sumur ditampilkan pada table dibawah ini :

Tabel 7, Summary IPR


AOF ( STB/D 40% AOF (
60% AOF (
for Oil ; STB/D for Oil ;
WELL STB/D for Oil ;
MSCF/D for MSCF/D for
MSCF/D for Gas)
Gas) Gas)
Gas 1 146.017 58.4068 87.6102
Oil 1 15147.9 6059.16 9088.74
Oil 2 12686 5074.4 7611.6
Oil 3 10936.3 4374.52 6561.78
Oil 4 16145.8 6458.32 9687.48
Oil H 1 79041.1 31616.44 47424.66
Gas H 1 440.894 176.3576 264.5364
PENENTUAN JUMLAH SUMUR
OPTIMUM DAN PLATEU RATE
REVISI DARI LAPORAN SEBELUMNYA

Pada laporan sebelumnya , penulis menambahkan aquifer pada model reservoir sehingga
profil tekanan yang didapatkan sangat bagus sebagai akibat dari support aquifer. Namun disisi
lain, dengan adanya support ini, sense penulis terhadapat optimasi produksi akan berkurang dan
detail strategi yang ditawarkan akan tidak cukup mendalam karena reservoir memiliki support
tekanan, sehingga pada laporan ini penulis telah menghilangkan aquifer dari model reservoir.

Menghilangkan model aquifer dari model reservoir akan berdampak pada profil tekanan
dan produktivitas sumur, sehingga perlu dilakukan pengujian sumur ulang untuk mendapatkan
kemampuan sumur tanpa aquifer.

Hal kedua yang menjadi perhatian penulis adalah, jika pada laporan sebelumnya profil
pengujian sumur dari simulasi reservoir langsung digunakan sebagai data inputan untuk
produktivitas sumur tanpa diolah terlebih dahulu pada simulator uji sumur, sedangkan pada
laporan ini penulis mengolah hasil uji sumur yang menggunakan metode modified isocrhonal test
untuk sumur minyak dan back pressure test untuk sumur gas. Back pressure test dipilih untuk
menguji sumur gas dikarenakan potensi laju alir gas yang cukup tinggi dan tidak cocok
menggunakan modified isochronal test yang sebenarnya diperuntukan untuk sumur gas dengan
rate kecil.

Setelah menggunakan simulator uji sumur, dalam hal ini penulis mengunakan Saphire ,
diperoleh bahwa jika menggunakan data pengujian langsung dari simulator reservoir, log log plot
(derivstive pressure plot) yang dihasilkan tidak stabil dan tidak merepresentasikan kondisi aliran
sumur itu sebenarnya, sehingga yang digunakan untuk analisa build up adalah semi log plot.
Pada semi log plot karena sudah di build up 2 bulan, tekanan reservoir masih cenderung naik,
sehingga regresi diambil kira kira diakhir build up test untuk mendapatkan P* (P Reservoir), skin
dan permeability. Data back pressure test digunakan untuk membangun IPR dari sumur. Semi
log plot sebagai hasil uji sumur ditampilkan pada lampiran laporan ini.
INFLOW PERFORMANCE RELATIOSHIP

Selanjutnya dari test tersebut didapatkan Inflow Performance Relationship (IPR) untuk
masing masing sumur menggunakan metode Fetkovich atau yang biasa dikenal dengan metode
C&N. Berikut adalah IPR untuk masing masing sumur :

IPR OIL

Gambar 1, IPR OIL 1


Gambar 2, IPR OIL 2

Gambar 3, IPR OIL 3


Gambar 4, IPR OIL 4

Gambar 5, IPR OIL HORIZONTAL 1


IPR GAS

Gambar 6, IPR GAS 1

Gambar 7, IPR GAS HORIZONTAL 1


Summary dari hasil test dan IPR untuk masing masing sumur ditampilkan pada table berikut :

TABEL 1, SUMMARY HASIL TEST DAN IPR SUMUR OIL


AOF 40% 60% AOF
WELLL TYPE SKIN ∆P SKIN (psi) Pi (psi)
(STB/D) AOF(STB/D) (STB/D)
OIL H 1 OIL WELL/HORIZONTAL -4.33 -90.8612 1314.78 20477.1 8190.84 12286.26
OIL 4 OIL WELL/VERTICAL -3.33 -19.9869 1259.33 11084.3 4433.72 6650.58
OIL 2 OIL WELL/VERTICAL -4.28 -104.907 1268.32 8012.23 3204.892 4807.338
OIL 1 OIL WELL/VERTICAL -2.5 -14.6325 1257.18 17957.8 7183.12 10774.68
OIL 3 OIL WELL/VERTICAL -4.31 -48.689 1266.28 4262.24 1704.896 2557.344

TABEL 2, SUMMARY HASIL TEST DAN IPR SUMUR GAS


AOF 40% 60% AOF
WELLL TYPE SKIN ∆P SKIN (psi) Pi (psi)
(STB/D) AOF(MSCF/D) (MSCF/D)
GAS 1 GAS WELL/VERTICAL -0.02 -0.766819 1163.83 317618 127047.2 190570.8
GAS
GAS H 1 WELL/HORIZONTAL -4.47 -474.706 1184.24 292681 117072.4 175608.6

Data 40 % dan 60 % AOF yang ditampilkan pada kedua table diatas adalah batasan optimum
dari laju alir sumur dengan pertimbangan bahwa laju alir yang telalu besar akan menimbulkan
beberapa masalah misalnya efek kepasiran di sumur yang sangat tidak diinginkan karena sifat
pasir yang sangat abrasive dan merusak fasilitas produksi. Masalah ini timbul atau pasir ikut
terproduksi dari reservoir salah satunya sebagai efek tubulensi aliran yang terlalu tinggi terutama
pada formasi yang unconsolidated sand. Masalah kedua adalahnya cepat naiknya water cut
sebagai akibat dari water conning. Water conning terjadi karena mobility ratio antara oil dan air
yang lebih tinggi air sehingga air lebih mobile. Laju alir yang tidak dikontrol dikhawatirkan akan
menimbulkan masalah ini.

CUMMULATIVE PRODUKSI DENGAN 60 % AOF

Setelah didapatkan nilai AOF dan optimum rate, selanjutnya nilai rate sebesar 60 % dari AOF
tersebut dimasukkan kembali ke petrel untuk disimulasikan profil produksi selama kurun waktu
20 tahun masa kontrak. Namun sebelumnya ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dan
batasan dalam mensimulasikan profil produksi ini, diantaranya :
Bottom Hole Pressure

Tekanan dasar lubang menjadi batasan pertama dalam mensimulasikan profil produksi ini. Hal
ini dikarenakan nilai tekanan dasar lubang ini yang menjadi tenaga untuk mengalirkan fluida ke
permukaan dengan nilai tekanan kepala sumur yang tetap. Kehilangan tekanan disepanjang
tubing produksi akibat friksi, elevasi dan akselerasi harus diperhatikan guna keberlangsungan
produksi dari sumur. Jika tekanan dasar lubang sudah tidak cukup untuk mengatasi kehilangan
tekanan ditubing produksi atau dengan kata lain nilai tekanan dasar lubang lebih kecil dibanding
kehilangan tekanan yang dialami, maka sumur mencapai kondisi tidak ada aliran atau mati.
Untuk mengatasi hal ini maka diperlukan tenaga tambahan untuk mengangkat fluida ke
permukaan yaitu dengan metode pengangkatan buatan (artificial lift) berupa ESP atau gas lift
KEDALAMAN

∆P Pump

TEKANAN

Gambar 7, Profil tekanan dilubang sumur

Dalam laporan ini, penulis menentukan batas terbawah dari tekanan dasar lubang sebesar 100 psi
dengan asumsi bila dibutuhkan lebih dari ini itu untuk mengangkat fluida, maka kekurangan
tekanan akan diprovide oleh pompa (ESP) atau gas lift sehingga dapat dihasilkan recovery yang
lebih tinggi dari sumur tersebut. Bila tekanan sudah dibawah 100 psi, maka sumur akan otomatis
ditutup dan akan lanjutkan dengan tertiary recovery berupa EOR.
Water Cut

Nilai produksi air yang ditampilkan sebagai perbandingan jumlah produksi air dengan total
liquid (WC) menjadi batasan kedua dalam laporan ini. Dalam hal ini penulis menentukan batas
maksimal water cut adalah sebesar 0.95 atau 95 % dari total produksi liquid sumuran.

Nilai water cut menjadi batasan penting dalam pengembangan suatu lapangan dan sumur karena
hal ini memperngaruhi keekonomisan dari sumur tersebut. Tingginya produksi air akan
membutuhkan fasilitas pemisahan yang besar dipermukaan dan fasilitas pengkondisian
(treatment) air sebelum diputuskan apakah akan di buang ke lingkungan atau dinjeksikan
kembali ke reservoir sebagai pressure maintenance.

Jika nilai watercut sumuran telah mencapai 95 % maka sumur kan otomatis ditutup sebagai efek
pertimbangan dari keekonomisan sumur.

Setelah dengan pertimbangan diatas, selanjutnya dimasukkan nilai laju alir sebesar 60 % dari
AOF untuk masing masing sumur oil sehingga didapatkan hasil sebagai berikut :

Gambar 8, QO & NP Well oil 1 dan 2


Gambar 9, QO & NP Well oil 3 dan 4

Gambar 10, QO & NP Well oil horizontal 1


Gambar 11, Water cut untuk masing masing sumur oil

Gambar 12, Bottom hole pressure untuk masing masing sumur oil
Dari grafik bottom hole pressure dan water cut untuk masing masing sumur, didapatkan bahwa
belum ada sumur yang mencapai batasan yang ditentukan.

Sedangakan untuk grafik laju alir dan cumulative produksi oil, kita dapat simpulkan bahwa laju
alir oil turun seiring waktu sebagai akibat turrunya tekanan reservoir. Jika mengacu pada laju alir
maksimal (peak production rate) yaitu pada awal produksi sumur, maka yang sering terjadi
adalah kesalahan mendesain dari fasilitas produksi dimana akan terlalu overestimated sehingga
efisiensi fasilitas produksi akan menurun drastic seiring penurunan laju produksi serta investasi
awal untuk fasilitas produksi akan sangat besar. Disamping itu, bila mengacu pada peak
production rate, reservoir yang dimiliki akan “rusak” dimana air sudah menjalar ke seluruhan
bagian dari reservoir sehingga dalam pengembangan selanjutnya akan susah dilakukan. Untuk itu
diperlukan reservoir management yang baik dalam rangka memaksimalkan RF, produksi serta
meminimalisir investasi diawal sehingga berdampak pada kecilnya CAPEX dan secara tidak
langsung menurunkan OPEX.

Metode yang digunakan adalah plateu rate atau laju alir yang konstan seiring waktu. Pada
dasarnya metode ini hanya membagi cumulative produksi selama 20 tahun produksi dengan total
hari produksi sehingga didapatkan rate yang konstan setiap harinya. Berbeda dengan metode
peak production rate yang produksi diawal sangat tinggi namun turun secara drastic, metode
plateu rate memberikan rate yang konstan namun pada akhirnya menghasilkan cumulative
produksi yang sama dengan metode peak production rate. Kelemahan metode ini adalah nilai
Pay Out Time (POT ) yang lebih lama namun memiliki kelebihan yang lebih signifikan yaitu
tingkat investasi fasilitas produksi yang lebih rendah karena dasar penentuan dan desain fasilitas
produksi adalah laju alir yang konstan sehingga dari segi sizing lebih kecil dan effisiensi yang
dihasilkan lebih besar. Berbeda dengan metode peak production rate dimana desain fasilitas
produksi harus mampu memprovide produksi yang besar diawal tetapi turun drastic pada waktu
waktu berikutnya. Disamping itu, dari sisi reservoir, metode ini juga memberikan kelebihan
dimana kita lebih bisa menkontrol daerah penyebaran air direservoir selama proses produksi.
Adapun laju alir masing masing sumur oil dengan metode plateu rate adalah sebagai berikut :
TABEL 3, CUMMULATIVE PRODUKSI DAN PLATEU RATE SUMUR OIL

WELLL TYPE CUM PROD (STB) PLATEU RATE


(STB/D)
OIL H 1 OIL WELL/HORIZONTAL 19,721,670.00 2701.6
OIL 4 OIL WELL/VERTICAL 7,120,904.00 975.5
OIL 2 OIL WELL/VERTICAL 6,982,927.00 956.6
OIL 1 OIL WELL/VERTICAL 8,757,123.00 1199.6
OIL 3 OIL WELL/VERTICAL 4,279,762.00 586.3

Nilai plateu rate tersebut selanjutnya menjadi inputan dalam petrel sehingga dihasilkan grafik
laju alir setiap sumur oil sebagai berikut :

Gambar 13, Laju alir menggunakan plateu rate


Gambar 14, water cut dengan plateu rate

Gambar 15, Cummulative produksi dengan plateu rate


Dari grafik hasil simulasi menggunakan metode plateu rate, diperoleh bahwa nilai watercut pada
tahun ke 20 lebih kecil 10 % dibanding dengan metode peak production rate, adapun hasil
cumulative produksi minyak dengan metode plateu rate adalah sebagai berikut :

Tabel 4, CUMMULATIVE PRODUKSI DENGAN PLATEU RATE


WELLL TYPE CUM PROD (STB)
OIL H 1 OIL WELL/HORIZONTAL 18,783,950
OIL 4 OIL WELL/VERTICAL 6,273,022
OIL 2 OIL WELL/VERTICAL 6,497,485
OIL 1 OIL WELL/VERTICAL 7,789,554
OIL 3 OIL WELL/VERTICAL 4,013,523
TOTAL 43,357,534

Dari simulasi, diketahui bahwa total cumulative lapangan untuk sumur oil adalah sebesar
43,357,543 stb selama 20 tahun produksi. Nilai ini jika kita bandingan dengan total RF lapangan
ini yang sebesar 115,303,997 stb maka total cummuative ini baru sebesar 37.6 % dari Recovable
oil lapangan ini. Sedangkan bila mengacu pada nilai plateu rate lapangan ini sebesar 6419.5
stb/day sedangkan rate minimal yang dibutuhkan untuk mendapatkan cumulative produksi
sebesar recovable oil lapangan ini adalah sebesar 15795.1 stb/day sehingga bisa dikatakan bahwa
rate saat ini baru sekitar 41 % dari rate yang dibutuhkan untuk menguras recovable oil sehingga
dibutuhkan penambahan jumlah sumur atau infill drilling. Namun sebelum menyimpulkan untuk
menambah sumur ataub infill drilling, sebelumnya kita akan lakukan analisa grafis hubungan
jumlah sumur dengan cumulative produksi

Tabel 5, Num of well Vs NP


NUM OF WELL NP
1 18,783,950
2 26,573,504
3 33,070,989
4 39,344,011
5 43,357,534
50.000.000
45.000.000
NUM OF WELL VS NP
40.000.000
35.000.000
NP (STB) 30.000.000
25.000.000
20.000.000
15.000.000
10.000.000
5.000.000
-
0 1 2 3 4 5 6
NUM OF WELL

Gambar 16, Num of well vs NP

Dari grafik num of well vs NP terlihat bahwa NP masih menunjukkan tren naik seiring
penambahan sumur sehingga dapat disimpulkan dibutuhkan sumur tambahan untuk
meningkatkan produksi lapangan ini.

Selanjutnya adalah produksi gas yang ikut terproduksi bersama minyak sebagai dissolved
gas. Dari hasil simulasi didapatkan jumlah gas yang terproduksi melalui sumur minyak adalah
sebagai berikut :

Tabel 6, CUMMULATIVE PRODUKSI GAS PADA SUMUR OIL


WELLL TYPE CUM PROD (MSCF)
OIL H 1 OIL WELL/HORIZONTAL 6,517
OIL 4 OIL WELL/VERTICAL 959
OIL 2 OIL WELL/VERTICAL 243
OIL 1 OIL WELL/VERTICAL 1,903
OIL 3 OIL WELL/VERTICAL 556
TOTAL 10,177

Dari data inisialisasi didapatkan bahwa total dissolved gas adalah sebesar 32,997,641 Mscf
dengan total recovable gas termasuk free gas sebesar 61,639,607 Mscf sehingga nilai cumulative
produksi ini sangat kecil dan juga memang sumur ini diperuntukkan untuk minyak.
Sumur Gas

Dengan cara yang sama seperti digunkan pada sumur minyak, sumur gas juga menggunakan
plateu rate seperti tabel bawah ini :

Tabel 7, PLATEU RATE SUMUR GAS

WELLL TYPE CUM PROD (MSCF)


PLATEU RATE (MSCF/D)
GAS H 1 OIL WELL/HORIZONTAL 35,821,140 4907.005479
GAS 1 OIL WELL/VERTICAL 12,094,840 1656.827397

Nilai plateu rate tersebut dimasukkan kembali ke simulator sehingga didapatkan profil produksi
dan cumulative produksi dengan plateu rate sebagai berikut :

Gambar 17, Plateu rate sumur gas


Gambar 18, Water gas ratio

Gambar 19, Laju produksi air pada sumur Gas H 1 ( Sumur Horizontal)
Dari grafik water gas ratio, diketahui bahwa sumur gas 1 pada tahun 2027 mencapai batas yang
diijinkan sehingga sumur otomatis ditutup. Hal ini dikarenakan perforasi sumur ini terlalu dekat
kontak air. Sedangkan untuk sumur gas H 1 , water gas rasio mengalami kenaikan lalu pada
tahun 2031 mulai menurun.

Dilihat dari sisi laju produksi air, untuk sumur gas horizontal menampilkan profil penurunan laju
produksi air setelah mencapai peak production air pada tahun 2028. Hal ini dapat dijelaskan
dengan gambar berikut :

P1 P2 Pn

Gas
water
contact

Gambar 20, Fenomena produksi air disumur horizontal

Gambar 20 menunjukkan bahwa air akan cenderung terproduksi melalui daerah dengan
tekanan P1 atau didaerah end of build up pada sumur horizontal. Hal ini dikarenakan tekanan di
P1<P2<Pn, sehingga sebagian besar air akan menuju daerah P1 pada awal produksi. Hal ini
menyebabkan laju produksi air terus meningkat diawal produksi sampai pada satu titik tertentu,
produksi air mulai turun dan mulai datar (konstan rate). Hal ini dikarenakan beda tekanan antara
daerah daerah tersebut tidak lagi terlalu besar sehingga air yang terproduksi melalui daerah P1
akan cenderung sama dengan daerah daerah lainnya. Hal ini dapat dilihat pada grafik profil
produksi air diatas. Fenomena ini memang cenderung sering terjadi pada sumur sumur horizontal
Tabel 8, CUMMULATIVE PRODUKSI gas DENGAN PLATEU RATE
WELLL TYPE CUM PROD (MSCF)
GAS H 1 OIL WELL/HORIZONTAL 30,971,290.00
GAS 1 OIL WELL/VERTICAL 6,744,133.00
TOTAL 37,715,423.00

Dari hasil cumulative gas menggunakan metode plateu rate, didapatkan total cumulative gas
sebesar 37,715,423 Mscf. Nilai ini jika dibandingkan dengan recovable gas yang ada dilapangan
ini sebesar 61,639,607 Mscf maka total cumulative yang didapatkan selama 20 tahun produksi
adalah sebesar 61.2 % dari total recovable gas. Nilai ini cukup tinggi mengingat jumlah sumur
yang hanya 2 buah. Sama seperti sumur oil, sumur gas ini juga perlu ditambah untuk
memaksimalkan pengurasan.

NUM OF WELL VS GP
40.000.000,00
35.000.000,00
30.000.000,00
25.000.000,00
NP (MSCF)

20.000.000,00
15.000.000,00
10.000.000,00
5.000.000,00
-
0 0,5 1 1,5 2 2,5
NUM OF WELL

Gambar 21, Num of well vs GP

KESIMPULAN

1. Pada lapangan ini, jumlah sumur optimum belum ditemukan karena cumulative produksi
yang masih terus naik seiring dengan penambahan sumur, namun hal ini akan berbeda
jika dimasukkan unsur keekonomian sehingga dapat terlihat jelas cost expense setiap
sumur dibanding dengan revenue yang didapatkan untuk menentukan jumlah sumur. Jika
hanya mengacu pada produksi komulatif, hal ini kurang detail karena pada akhirnya
ekonomi lah yang menentukan apakah kita akan menambah sumur atau memaksimalkan
produksi dari sumur yang ada.
2. Metode plateu rate yang digunakan mempunyai beberapa kelebihan dibanding dengan
metode peak production rate diantaranya design fasilitas produksi yang optimum
sehingga nilai effisiensinya tinggi sepanjang masa produksi, permasalahan air direservoir
dapat diminimalisir dan nilai investasi yang tepat berdasarkan desain fasilitas produksi
yang optimum.
3. Kekurangan dari metode plateu rate adalah POT yang cenderung lebih lama dibanding
peak production rate namun hal ini harus dikaji lagi dari nilia investasi yang di berikan
4. Plateu rate sangat berguna untuks sumur gas karena seperti yang kita ketahui kontrak gas
adalah dengan rate tetap sepanjang masa kontrak.
5. Untuk memaksimalkan produksi sumur, perlu ditambahkan artificial lift agar sumur yang
sudah mencapai batasa bottom hole pressure dapat berproduksi lagi
C and N Vertical Well IPR (... Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

1200

800
Pf [psia]

400

0 40000 80000 1.2E+5 1.6E+5 2E+5 2.4E+5 2.8E+5 3.2E+5


Q [Mscf/D]

Q BHP Flowing (Pf)


Mscf/D psia
1E+5 992
2E+5 717
3E+5 330

IPR: C and N Vertical Well (Flow after flow)


Bottom Hole Pressures
Pavg 1172.92 psia
AOFP 3.17618E+5 Mscf/D
C (trans.) 0.6433 [Mscf/D]/[psia]**1.85502
N 0.92751
Test points 3

Saphir v3.20.10 - 11-2016 Gas 1.ks3


Semi-Log plot Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

9E+7

8E+7
m(p) [psi2/cp]

7E+7

6E+7

5E+7

-2.4 -2.2 -2 -1.8 -1.6 -1.4 -1.2 -1 -0.8 -0.6 -0.4 -0.2 0
Superposition time

Pressures 1 build-up #1 Semilog Line (Pressures 1 build-up #1)


Rate 0 Mscf/D From 30.9583 hr
Rate change 3E+5 Mscf/D To 44.125 hr
P@dt=0 742.341 psia Slope 4.28403E+7 psi2/cp
Pi 1163.83 psia Intercept 1.00108E+8 psi2/cp
Smoothing 0.1 M(p)@1hr 5.73302E+7 psi2/cp
PMatch 2.69E-8 [psi2/cp]**-1
Selected Model k.h 7220 md.ft
Model Option Standard Model k 50.9 md
Well Storage + Skin p* 1125.43 psia
Reservoir Homogeneous Skin -5.19
Boundary Infinite Delta P Skin -841.931 psi

Results
TMatch 4.99 [hr]**-1
PMatch 1.47E-7 [psi2/cp]**-1
C 167 bbl/psi
Skin -0.02
Delta P Skin -0.766819 psi
Pi 1163.83 psia
k.h 39500 md.ft
k 278 md
Rinv 1590 ft
Test. Vol. 4.58927E+7 Barrels

Saphir v3.20.10 - 11-2016 Gas 1.ks3


C and N Vertical Well IPR (... Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

1500

1000
Pf [psia]

500

0 40000 80000 1.2E+5 1.6E+5 2E+5 2.4E+5 2.8E+5


Q [Mscf/D]

Q BHP Flowing (Pf)


Mscf/D psia
1E+5 1129
2E+5 1038
3E+5 949

IPR: C and N Vertical Well (Flow after flow)


Bottom Hole Pressures
Pavg 1696.06 psia
AOFP 2.92681E+5 Mscf/D
C (trans.) 0.101753 [Mscf/D]/[psia]**2
N 1
Test points 3

Saphir v3.20.10 - 11-2016 GAS H1.ks3


Semi-Log plot Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

9E+7
m(p) [psi2/cp]

8E+7

-2.4 -2.2 -2 -1.8 -1.6 -1.4 -1.2 -1 -0.8 -0.6 -0.4 -0.2 0
Superposition time

Pressures 1 build-up #1
Rate 0 Mscf/D
Rate change 3E+5 Mscf/D
P@dt=0 974.652 psia
Pi 1184.24 psia
Smoothing 0.1

Results
TMatch 0.625 [hr]**-1
PMatch 5.06E-8 [psi2/cp]**-1
C 444 bbl/psi
k.h 13600 md.ft
k 4.91 md
Rinv 229 ft
Test. Vol. 1.8704E+7 Barrels

Semilog Line (Pressures 1 build-up #1)


From 33.5 hr
To 45.3333 hr
Slope 2.53262E+7 psi2/cp
Intercept 9.94707E+7 psi2/cp
M(p)@1hr 7.41813E+7 psi2/cp
PMatch 4.54E-8 [psi2/cp]**-1
k.h 12200 md.ft
k 4.41 md
p* 1121.83 psia
Skin -4.47
Delta P Skin -474.706 psi
Saphir v3.20.10 - 11-2016 GAS H1.ks3
Semi-Log plot Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

Saphir v3.20.10 - 11-2016 GAS H1.ks3


Fetkovich Vertical Well IPR... Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

1200

800
Pf [psia]

400

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 18000


Q [STB/D]

Q BHP Flowing (Pf)


STB/D psia
1000 1227
2000 1192
3000 1157

IPR: Fetkovich Vertical Well (Flow after flow)


Bottom Hole Pressures
Pavg 1264.58 psia
AOFP 17957.8 STB/D
C (trans.) 0.011231 [STB/D]/[psia]**2
N 1
Test points 3

Saphir v3.20.10 - 11-2016 OIL 1.ks3


Semi-Log plot Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

1255

1250
p [psia]

1245

1240

-2.4 -2.2 -2 -1.8 -1.6 -1.4 -1.2 -1 -0.8 -0.6 -0.4 -0.2 0
Superposition time

Pressures 1 build-up #1 Semilog Line (Pressures 1 build-up #1)


Rate 0 STB/D From 1084.33 hr
Rate change 3000 STB/D To 1087.87 hr
P@dt=0 1235.89 psia Slope 9.20315 psi
Pi 1257.18 psia Intercept 1256.41 psia
Smoothing 0.1 P@1hr 1247.22 psia
PMatch 0.125 [psia]**-1
Selected Model k.h 32500 md.ft
Model Option Standard Model k 136 md
Well Storage + Skin p* 1256.41 psia
Reservoir Homogeneous Skin -3.48
Boundary Infinite Delta P Skin -27.8003 psi

Results
TMatch 7.35 [hr]**-1
PMatch 0.171 [psia]**-1
C 3.51 bbl/psi
Skin -2.5
Delta P Skin -14.6325 psi
Pi 1257.18 psia
k.h 44400 md.ft
k 185 md
Rinv 434 ft
Test. Vol. 5.80864E+6 Barrels

Saphir v3.20.10 - 11-2016 OIL 1.ks3


Fetkovich Vertical Well IPR... Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

1200

800
Pf [psia]

400

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000


Q [STB/D]

Q BHP Flowing (Pf)


STB/D psia
800 1237
1600 1202
2500 1159

IPR: Fetkovich Vertical Well (Flow after flow)


Bottom Hole Pressures
Pavg 1342.77 psia
AOFP 8012.23 STB/D
C (trans.) 0.00444426 [STB/D]/[psia]**2
N 1
Test points 3

Saphir v3.20.10 - 11-2016 OIL 2.ks3


Semi-Log plot Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

1260
p [psia]

1250

-2.4 -2.2 -2 -1.8 -1.6 -1.4 -1.2 -1 -0.8 -0.6 -0.4 -0.2 0
Superposition time

Pressures 1 build-up #1
Rate 0 STB/D
Rate change 2500 STB/D
P@dt=0 1241.89 psia
Pi 1268.32 psia
Smoothing 0.1

Results
TMatch 1.32 [hr]**-1
PMatch 0.0705 [psia]**-1
C 6.72 bbl/psi
k.h 15300 md.ft
k 73.1 md
Rinv 273 ft
Test. Vol. 1.99833E+6 Barrels

Semilog Line (Pressures 1 build-up #1)


From 1095 hr
To 1111.5 hr
Slope 28.205 psi
Intercept 1270.52 psia
P@1hr 1242.61 psia
PMatch 0.0408 [psia]**-1
k.h 8830 md.ft
k 42.3 md
p* 1270.52 psia
Skin -4.28
Delta P Skin -104.907 psi
Saphir v3.20.10 - 11-2016 OIL 2.ks3
Semi-Log plot Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

Saphir v3.20.10 - 11-2016 OIL 2.ks3


Fetkovich Vertical Well IPR... Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

1200

800
Pf [psia]

400

0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000


Q [STB/D]

Q BHP Flowing (Pf)


STB/D psia
450 1232
900 1202
1400 1078

IPR: Fetkovich Vertical Well (Flow after flow)


Bottom Hole Pressures
Pavg 1291.78 psia
AOFP 4262.24 STB/D
C (trans.) 0.014793 [STB/D]/[psia]**1.75484
N 0.877419
Test points 3

Saphir v3.20.10 - 11-2016 OIL 3.ks3


Semi-Log plot Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

1264

1260
p [psia]

1256

-2.4 -2.2 -2 -1.8 -1.6 -1.4 -1.2 -1 -0.8 -0.6 -0.4 -0.2 0
Superposition time

Pressures 1 build-up #1
Rate 0 STB/D
Rate change 1400 STB/D
P@dt=0 1252.86 psia
Pi 1266.28 psia
Smoothing 0.1

Results
TMatch 2.87 [hr]**-1
PMatch 0.191 [psia]**-1
C 4.68 bbl/psi
k.h 23100 md.ft
k 118 md
Rinv 347 ft
Test. Vol. 3.02521E+6 Barrels

Semilog Line (Pressures 1 build-up #1)


From 1097.92 hr
To 1118.17 hr
Slope 13.0149 psi
Intercept 1267.27 psia
P@1hr 1254.38 psia
PMatch 0.0884 [psia]**-1
k.h 10700 md.ft
k 54.9 md
p* 1267.27 psia
Skin -4.31
Delta P Skin -48.689 psi
Saphir v3.20.10 - 11-2016 OIL 3.ks3
Semi-Log plot Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

Saphir v3.20.10 - 11-2016 OIL 3.ks3


Fetkovich Vertical Well IPR... Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

1200

800
Pf [psia]

400

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000 11000
Q [STB/D]

Q BHP Flowing (Pf)


STB/D psia
650 1234
1300 1215
2000 1189

IPR: Fetkovich Vertical Well (Flow after flow)


Bottom Hole Pressures
Pavg 1286.87 psia
AOFP 11084.3 STB/D
C (trans.) 0.00669417 [STB/D]/[psia]**2
N 1
Test points 3

Saphir v3.20.10 - 11-2016 OIL 4.ks3


Semi-Log plot Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

1258

1254
p [psia]

1250

1246

-2.4 -2.2 -2 -1.8 -1.6 -1.4 -1.2 -1 -0.8 -0.6 -0.4 -0.2 0
Superposition time

Pressures 1 build-up #1
Rate 0 STB/D
Rate change 2000 STB/D
P@dt=0 1242.59 psia
Pi 1259.33 psia
Smoothing 0.1

Results
TMatch 2.11 [hr]**-1
PMatch 0.129 [psia]**-1
C 6.14 bbl/psi
k.h 22300 md.ft
k 93.2 md
Rinv 308 ft
Test. Vol. 2.92062E+6 Barrels

Semilog Line (Pressures 1 build-up #1)


From 1082.83 hr
To 1086.08 hr
Slope 6.90774 psi
Intercept 1258.47 psia
P@1hr 1251.61 psia
PMatch 0.167 [psia]**-1
k.h 28800 md.ft
k 121 md
p* 1258.47 psia
Skin -3.33
Delta P Skin -19.9869 psi
Saphir v3.20.10 - 11-2016 OIL 4.ks3
Semi-Log plot Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

Saphir v3.20.10 - 11-2016 OIL 4.ks3


Fetkovich Vertical Well IPR... Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

1200

800
Pf [psia]

400

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 18000 20000
Q [STB/D]

Q BHP Flowing (Pf)


STB/D psia
1600 1302
3200 1286
4900 1267

IPR: Fetkovich Vertical Well (Flow after flow)


Bottom Hole Pressures
Pavg 1396.11 psia
AOFP 20477.1 STB/D
C (trans.) 0.0105069 [STB/D]/[psia]**2
N 1
Test points 3

Saphir v3.20.10 - 11-2016 OIL H1.ks3


Semi-Log plot Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

1315

1305
p [psia]

1295

-2.4 -2.2 -2 -1.8 -1.6 -1.4 -1.2 -1 -0.8 -0.6 -0.4 -0.2 0
Superposition time

Pressures 1 build-up #1
Rate 0 STB/D
Rate change 4900 STB/D
P@dt=0 1285.79 psia
Pi 1314.78 psia
Smoothing 0.1

Results
TMatch 1.83 [hr]**-1
PMatch 0.0649 [psia]**-1
C 8.77 bbl/psi
k.h 27500 md.ft
k 115 md
Rinv 342 ft
Test. Vol. 3.60617E+6 Barrels

Semilog Line (Pressures 1 build-up #1)


From 1092.5 hr
To 1109.29 hr
Slope 24.1372 psi
Intercept 1316.57 psia
P@1hr 1292.58 psia
PMatch 0.0477 [psia]**-1
k.h 20200 md.ft
k 84.5 md
p* 1316.57 psia
Skin -4.33
Delta P Skin -90.8612 psi
Saphir v3.20.10 - 11-2016 OIL H1.ks3
Semi-Log plot Analysis 1
Company Field
Well Tested well Test Name / #

Saphir v3.20.10 - 11-2016 OIL H1.ks3

Anda mungkin juga menyukai