Anda di halaman 1dari 33

REFLEKSI KASUS

GERD (Gastro Esofageal Reflux Disease)


Disusun untuk Memenuhi Syarat Kepaniteraan Klinik
di Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Bethesda
pada Program Pendidikan Dokter tahap Profesi
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana

Disusun Oleh:
Gusti Agung Sinta Shakuntala
42200216

Pembimbing Klinik:
dr. Margareta Yuliani, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT BETHESDA YOGYAKARTA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA
2021
BAB I
PEMAPARAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
1. Nama : An. A.P. W.
2. Tanggal Lahir : 29 November 2007
3. Usia : 13 tahun 11 bulan
4. Jenis kelamin : Perempuan
5. Alamat : Kulonprogo
6. Tanggal masuk RS : 1 November 2021, pukul 11.21 WIB
7. Tanggal periksa : 2 November 2021
8. Ruangan : PICU
9. No. RM : 01-90-XX-XX

II. ANAMNESIS
Data anamnesis diperoleh melalui alloanmnesis dengan Ibu pasien, pada hari
Selasa, 2November 2021 pukul 12.30 WIB, di ruang PICU.

A. Keluhan Utama
Nyeri Perut

B. Riwayat Penyakit Sekarang


 3 Hari Sebelum Masuk RS (29 Oktober 2021)
Pada hari jumat malam, pasien sedang bermain HP dengan
menggunakan headset kemudian pasien tampak gelisah dan bingung
kemudian pasien mengeluhkan kepala terasa pusing. Setelah itu, mata
pasien mendelik ke arah kanan atas dan tangan & kaki kaku kemudian
kepala pasien terlihat geleng-geleng dan akhirnya pasien kejang
kelonjotan seluruh tubuh. Saat kejang pasien mengeluarkan air liur.
Kejang berlangsung selama 5 menit. Setelah kejang, pasien tidak
sadarkan diri selama 15 menit. Kemudian pasien dibawa ke rumah sakit.
Pasien sadar saat perjalanan ke rumah sakit dimana pasien ingat
perjalanan ke rumah sakit. Kemudian Ketika berada di IGD Rumah Sakit
Charitas Klepu, pasien kembali kejang selama 5 menit. Tidak ada riwayat
demam. Setelah kejang, pasien mengeluhkan kepala pusing dan muntah 3
kali.
 Hari Saat Masuk RS (1 November 2021)
Pada hari senin, pasien datang ke RS Bethesda untuk melakukan
pemeriksaan EEG. Pada pasien, dilakukan swab terlebih dahulu sebelum
pemeriksaan EEG. Setelah di swab, ketika menunggu akan dilakukan
EEG, pasien tiba-tiba kejang kembali yang diawali mata melirik ke kanan
kemudian menggeleng-gelengkan kepala kemudian kejang kelonjotan
seluruh tubuh. Saat kejang pasien mengeluarkan air liur. Kejang
berlangsung selama 5 menit. Kemudian pasien dibawa ke IGD. Setelah
dilakukan CT scan kepala, pasien kejang kembali dengan jarak 1 jam
sejak kejang sebelumnya. Kejang berlangsung selama 5 menit. Tidak ada
riwayat demam

C. Riwayat Penyakit Dahulu


 Riwayat keluhan serupa : Pasien memiliki riwayat sering
bengong sejak kelas 3 SD. Bengong berlangsung selama kurang
lebih 10 detik dan dapat terjadi beberapa kali sehari setiap harinya.
Pasien bengong Ketika tidak ada aktivitas atau saat mendengarkan
orang lain berbicara.
 Riwayat kejang demam : (-)
 Riwayat rawat inap : Rawat inap saat usia 7 hari karena
diare (dirawat inap selama 5 hari)
 Riwayat alergi : Penicillin
 Riwayat asma : (-)
 Riwayat ISPA : (-)
 Riwayat cedera : Kecelakaan lalu lintas waktu kelas 6
SD kemudian mimisan. Ketika dibawa ke rumah sakit, hasil
rontgen wajah tidak ada masalah sehingga pasien dirawat jalan
D. Riwayat Penyakit Keluarga
 Riwayat penyakit serupa di keluarga : Adik laki-laki dari kakek
pernah kejang 1x pada saat masih kecil tanpa disertai demam
 Riwayat asma : (-)
 Riwayat alergi : Ibu alergi domperidon
 Riwayat hipertensi : (+), Nenek
 Riwayat DM : (-)
 Riwayat penyakit jantung : (+), Paman
 Riwayat kanker : (-)
E. Genogram

F. Riwayat Pengobatan
Sebelum dirawat di RS. Bethesda pasien berobat ke Rumah Sakit Charitas
Klepudan diberiinjeksi diazepam dan tablet diazepam. Pasien diberi obat
pulang yaitu paracetamol tablet dan hemafort. Tidak ada obat yang
dikonsumsi secara rutin.
G. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien merupakan anak pertama dari 2 bersaudara dan merupakan anak
dari pasangan yang sah. Pasien tinggal serumah dengan aya, ibu, dan adik
pasien. Ayah pasien bekerja serabutan sebagai kuli. Ibu pasien bekerja
sebagai ibu rumah tangga. Sehari-harinya pasien dirawat oleh ibu pasien.
Nenek pasien juga ikut membantu merawat pasien. Biaya pengobatan
ditanggung oleh BPJS.

Kesan: Keadaan sosial dan ekonomi pasien baik.


H. Gaya Hidup
 Aktivitas sehari-hari
Pasien bermain HP setelah bangun di pagi hari. Kemudian pasien
bersiap-siap sekolah. Sekolah berlangsung jam 8.00-10.00. Sekolah
offline baru di mulai pertengahan bulan Oktober dengan jadwal 1
minggu offline dan 1 minggu online. Ketika pulang sekolah, pasien
bermain HP dan terkadang mengerjakan tugas ketika ada tugas.
Ketika waktu selang pasien biasanya bermain HP atau menonton
televisi. Pasien dapat bermain HP hingga seharian untuk chatting
dengan teman sambil berbaring di tempat tidur. Terkadang pasien
bermain dengan sepupu pasien jika berkunjung ke rumah.
 Pola makan dan minum
Jadwal makan pasien tidak menentu. Menu makanan sehari-hari
adalah nasi dengan ayam goreng atau lele goreng. Pasien tidak suka
mengkonsumsi sayuran. Makanan dimasak oleh ibu pasien dengan
menjaga kebersihan makanan. Pasien minum air putih > 2,5 L per
hari.

 Kebersihan diri dan lingkungan


Pasien mandi dua kali sehari jika sekolah offline dan terkadang hanya
satu kali sehari jika sekolah online. Pasien ganti pakaian luar maupun
dalam dua kali per hari. Pasien terkadang tidak cuci tangan sebelum
makan. Pasien mencuci tangan setelah BAB dan BAK.
Pasien tinggal di rumah dengan lingkungan yang bersih dan ventilasi
yang cukup. Pasien tidur sekamar sendiri. Sumber air minum
keluarga menggunakan air galon dan untuk keperluan rumah tangga
menggunakan air sumur.
Kesan: Pasien sering menggunakan HP seharian. Pola makan sehari-hari
banyak gorengan dan kurang sayuran. Minum cukup.Kebersihan diri
sedikit kurang. Kebersihan lingkungan baik
I. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
 Antenatal care
- Usia ibu saat hamil adalah 20 tahun
- Kunjungan ANC ke bidan rutin dilakukan selama masa
kehamilan (≥ 3 kali)
- Tidak ada riwayat penyakit saat hamil seperti jatuh (-), muntah
berlebih (-), hipertensi (-), diabetes (-)
- Ibu sudah menerima vaksin TT sebelum menikah sebanyak 1 kali
 Natal care
- Penolong persalinan : Bidan
- Cara persalinan : Spontan
- Usia kehamilan : Aterm
- Keadaan bayi : Menangis kuat, kulit kemerahan, gerakan
aktif
- Berat badan lahir : 2.600 gram
- Panjang badan lahir : 45 cm
 Post-natal care
o Pasien mendapatkan suntikan Hepatitis B dan Vitamin K
setelah lahir
o Pasien rutin mengikuti program posyandu untuk keperluan
evaluasi tumbuh kembang anak serta imunisasi dasar yang
lengkap sesuai jadwal imunisasi IDAI 2006
o Pasien tidak memiliki riwayat kuning setelah persalinan
o Pasien tidak memiliki riwayat gangguan napas setelah lahir
Kesan: Selama kehamilan Ibu rutin kontrol kandungandan ibu tidak
memiliki penyulit saat kehamilan. Bayi lahir secara normal, cukup bulan,
berat badan lahir cukup, tidak asfiksia.
J. Riwayat Imunisasi
Tabel 1. Riwayat Imunisasi berdasarkan jadwal imunisasi IDAI 2006

USIA JENIS IMUNISASI SUDAH/BELUM


Lahir Hepatitis B, Polio-O, BCG Sudah
1 bulan Hepatitis B Sudah
2 bulan Polio, DTP Sudah
3 bulan Hepatitis B Sudah
4 bulan Polio, DTP Sudah
6 bulan Polio, DTP Sudah
9 bulan Campak Sudah
18 bulan Polio, DTP Sudah
5 tahun Polio, DTP Sudah
6 tahun Campak Sudah
12 tahun DTP Belum

Kesan: Imunisasi dasar kurang lengkap


K. Riwayat Menyusui dan MPASI
 Usia 0 – 2 bulan : ASI
 Usia 3 – 4 bulan : ASI dan Susu formula
 Usia 5 – 8 bulan : Susu formula, bubur bayi
 Usia 8 bulan – 3 tahun : Susu formula, makanan keluarga
Kesan: Pasien tidak mendapatkan ASI eksklusif dan pemberian MPASI
sesuai usia.
L. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan

 Riwayat Pertumbuhan
- Berat badan lahir : 2.600 gram
- Panjang badan lahir : 45 cm
- Usia saat ini : 13 tahun 11 bulan
- Berat badan saat ini : 45 kg
- Tinggi badan saat ini : 150 cm
Kurva Pertumbuhan (WHO CHILD GROWTH STANDARDS z-scores)
Kesan :
 TB/U: titik berada tepat pada -3 SD (Pendek)
 BB/U: titik berada diantara -2 SD sampai dengan 0 SD
(Normal)
 BB/TB : titik berada di antara 0 SD sampai dengan 1 SD
(Normal)

 Riwayat Perkembangan
Kesan: Tumbuh kembang sesuai waktu dan tidak ada keterlambatan.
III. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan di ruang G3 Anak pada hari Kamis, 2November 2021.
1. Keadaan Umum : Sedang
2. Kesadaran : Compos Mentis
3. GCS : E4V5M6
4. Vital Sign
 Nadi : 96 x/menit, teraba kuat, simetris
 Nafas : 20 x/menit, teratur
 Suhu : 36,2º C
5. Antropometri
 BB : 10 kg
 PB : 77 cm

STATUS LOKALIS
1. Kepala
 Ukuran : Normocephali
 Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), mata cekung
(-/-), pupil isokor, gerakan bola mata baik.
 Hidung : Deformitas dorsum nasi (-), deviasi septum (-), discharge
(-),napas cuping hidung (-).
 Mulut : Bibir kering (-), sianosis (-), mukosa bibir kering (-), lidah
kotor (-), faring hiperemis (-), tonsil T1/T1 tidak
hiperemis.
 Telinga : Nyeri tekan tragus (-), nyeri tekan mastoid (-),
discharge (-)
2. Leher
Tampak simetris, pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-),
nyeri tekan (-)
3. Thoraks
Paru
 Inspeksi : Gerakan dinding dada simetris, retraksi interkosta (-),
jejas (-)
 Palpasi : Nyeri tekan (-), massa (-), ketertinggalan gerak (-),
fremitus dalam batas normal (kanan & kiri)
 Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
 Auskultasi : Suara napas vesikuler (+/+), wheezing (-/-),
rhonki (-/-)
Jantung
 Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak
 Palpasi : Iktus cordis teraba di SIC V line mid clavicula sinistra
 Perkusi : Batas/kontur jantung dalam batas normal
 Auskultasi : Suara jantung S1/S2 regular, murmur (-)
4. Abdomen
 Inspeksi : Distensi abdomen (-), jejas (-)
 Auskultasi : Bising usus (+)
 Perkusi : Timpani di seluruh regio abdomen
 Palpasi : Nyeri tekan (+), massa (-), hepatomegali (-),
splenomegali (-),Scibala (+)
5. Ekstremitas
Ektremitas atas dan bawah : Akral teraba hangat, sianosis (-), ruam (-),
edem (-), nadi teraba kuat dan reguler, CRT < 2 detik.
IV. RESUME
Seorang anak perempian usia 13tahundibawa ke IGD RS Bethesda pada
hari Selasa tanggal 2 November 2021 dengan keluhan kejang. Kejang diawali
dengan tubuh kaku kemudian dilanjutkan dengan kelonjotan seluruh tubuh.
Kejang tanpa disertai demam. Sebelum masuk rumah sakit, kejang dapat
berlangsung hingga 2x dalam sehari. Kejang berlangsung selama 5
menit.Setelah pulang dari rumah sakit kejang dapat berlangsung 7-10x dalam
sehari dengan durasi 1 menit setiap kejangnya. Pasien juga memiliki riwayat
sering melamun sejak kelas 3 SD. Adik dari kakek pasien pernah mengalami
kejang tanpa demam saat kecil. Setelah pulang dari rumah sakit pada tanggal 5
November 2021, pasien kembali kejang karena terlambat minum obat,
kemudian pasien kembali datang ke IGD RS Bethesda pada tanggal 6
November 2021.
Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan KU sedang, kesadaran compos
mentis, tanda vital nadi 96 x/menit, napas 20 x/menit, suhu 36,2 ºC.
Didapatkan konjungtiva anemis. Pemeriksaan neurologis dalam batas normal.

V. DIAGNOSIS BANDING
Nyeri Abdomen :
 GERD
 ISK
 Appendicitis
 IBS (Irritable Bowel Disease)
Demam :
 ISK
 Bacterial Infection
 Dengue Fever
VI. PLANNING
1. Pemeriksaan Darah Lengkap
2. Pemeriksaan Feces Rutin
3. Pemeriksaan Urine Rutin
4. Pemeriksaan NS1
5. USG Abdomen
6. Pemeriksaan X-Ray Thorax
7. Pemeriksaan X-Ray Abdomen
VII.PEMERIKSAAN PENUNJANG
 Pemeriksaan Darah Lengkap (01 November 2021, pukul 11.52 WIB)

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan


Hemoglobin 10 (L) g/dL 11.7 – 15.5
Leukosit 9.80 ribu/mmk 4.5 – 11.5
Hitung Jenis
Eosinofil 1.3 (L) % 2-4
Basofil 0.3 % 0–1
Segmen neutrofil 65.0 % 50 - 70
Limfosit 28.5 % 18 - 42
Monosit 4.9 % 2-8
Limfosit total 2.8 103/L 1.5 – 3.7
Rasio Neutrofil Limfosit 2.29 <3.13
Hematokrit 32.8 (L) % 35.0 – 49.0
Eritrosit 4.71 juta/mmk 4.20 – 5.40
RDW 15.9 (H) % 11.5 – 14.5
MCV 69.6 (L) fL 80.0 – 94.0
MCH 21.2 (L) Pg 26.0 – 32.0
MCHC 30.5 (L) g/dL 32.0 – 36.0
Trombosit 373 ribu/mmk 150 – 450
MPV 10.6 fL 7.2 – 11.1
PDW 12.6 fL 9.0 – 13.0

 Pemeriksaan EEG (tanggal 3 November 2021)


Hasil :
o Rekaman EEG dalam keadaan bangun berirama dasar alfa,
simetris, regular, volt rendah-sedang
o Tampak perlambatan gelombang delta (FIRDA) di centro frontal
(terutama kiri)
o HV dan Photic perlambatan gelombang FIRDA tetap
tampak/photomiokimik +
o Brain mapping tak tampak adanyadominasi gelombang lambat.

Kesimpulan : EEG abnormal iritatif epileptiform di centro frontal


terutama kiri

 Pemeriksaan CT Scan kepala non kontras potongan axial(01


November 2021)
Hasil :
o Soft tissue extracranial tampak tenang
o Alignment tabula dan petrosum baik.
o Deferensiasi parenkimal cukup tegas
o Sulci korteks dalam batas normal,
o Sistema ventrikel lateral tidak prominen
o Struktur mediana tidak deviasi
o Tidak tampak adanya lrsi hipo-hiperdens parenkimal
o Cisterna: dbn

Kesan : Tidak tampak tegas adanya lesi pada brain parenkimal


ischaemic, perdarahan maupun SOL
VIII. DIAGNOSIS KERJA
Epilepsi, Anemia defisiensi besi

IX. TATALAKSANA
1. Antikonvulsan
Diazepam suppositoria
Dosis : 10 mg untuk BB ≥12 kg
R/Diazepam supp 10 mg Tube 1
S.1.d.d (bila kejang)

2. Obat anti epilepsi


Asam valproat per oral
Dosis : 10-15 mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis
: 10-15 mg/kg/hari x 45 kg
: 450-675 mg/hari dibagi dalam 2 dosis
: 225-337.5 mg/dosis
R/Asam valproate Tab 250 mg No. XIV
S.2.d.d . Tab 1

3. Vitamin dan mineral


Hemafort (Kandungan: Fe (II) fumarate 300 mg, Manganese sulfate 0,4
mg, Copper sulfate 0,4 mg, Vitamin C 100 mg, Folic acid 2 mg, Vitamin
B12 15 mcg, Intrinsic factor 25 mg) per oral
Dosis : 1 tablet per hari
R/Hemafort tab no X
S.1.d.d tab 1

X. EDUKASI
 Obat anti epilepsi harus rutin diminum
 Beberapa hal yang harus dilakukan bila anak kejang :
o Tetap tenang dan tidak panik
o Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher
o Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala
miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung.
Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan
sesuatu kedalam mulut.
o Observasi dan catat lama dan bentuk kejang.
o Tetap bersama pasien selama kejang
o Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang
telah berhenti.
o Bawa kedokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5
menit atau lebih

XI. PROGNOSIS
Quo ad vitam : Dubia ad bonam
Quo ad sanationam : Dubia ad bonam
Quo ad functionam : Dubia ad bonam
XII.FOLLOW UP HARIAN
Rabu, 3 November 2021
S Pusing (+), kejang (-)
O KU: Sedang, CM
TTV: Suhu 36,4ºC, HR 80x/menit, RR 20x/menit
Status Lokalis
 Kepala: Konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-), mata cekung (-), bibir
kering (-)
 Thoraks-paru: Dinding dada simetris, retraksi (-), suara paru vesikuler
(+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-)
 Thoraks-jantung: suara jantung S1S2 reguler, murmur(-)
 Abdomen : Distensi (-), bising usus (+), timpani di seluruh regio, nyeri
tekan (-)
 Ekstremitas: Akral teraba hangat, CRT <2 detik, nadi kuat dan reguler,
ruam (-), udem (-)
 Neurologis: Refleks fisiologis (+), refleks patologis (-), kekuatan otot
dbn, sensibilitas dbn, rangsang meningeal (-)
A Suspek Epilepsi, Anemia defisiensi besi
P  Pemeriksaan EEG
 Infus RL
 Inj Fenitoin 2x100 mg
 Vit B1 100 mg 1x1
 Hemafort 1x1

Kamis, 4 November 2021


S Pusing (-), kejang (-)
O KU: Sedang, CM
TTV: Suhu 36,6ºC, HR 90x/menit, RR 22x/menit
Status Lokalis
 Kepala: Konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-), mata cekung (-), bibir
kering (-)
 Thoraks-paru: Dinding dada simetris, retraksi (-), suara paru vesikuler
(+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-)
 Thoraks-jantung: suara jantung S1S2 reguler, murmur(-)
 Abdomen : Distensi (-), bising usus (+) normal, timpani di seluruh regio,
nyeri tekan (-)
 Ekstremitas: Akral teraba hangat, CRT <2 detik, nadi kuat dan reguler,
ruam (-), udem (-)
 Neurologis: Refleks fisiologis (+), refleks patologis (-), kekuatan otot
dbn, sensibilitas dbn, rangsang meningeal (-)
A Epilepsi, Anemia defisiensi besi
P  Infus RL
 Caps fenitoin 2x100 mg
 Vit B1 100 mg 1x1
 Hemafort 1x1

Jumat, 5 November 2021


S Pusing (-), kejang (-)
O KU: Baik, CM
TTV: Suhu 36,9ºC, HR 100x/menit, RR 20x/menit
Status Lokalis
 Kepala: Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), mata cekung (-), bibir
kering (-)
 Thoraks-paru: Dinding dada simetris, retraksi (-), suara paru vesikuler
(+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-)
 Thoraks-jantung: suara jantung S1S2 reguler, murmur(-)
 Abdomen : Distensi (-), bising usus (+), timpani di seluruh regio, nyeri
tekan (-)
 Ekstremitas: Akral teraba hangat, CRT <2 detik, nadi kuat dan reguler,
ruam (-), udem (-)
 Neurologis: Refleks fisiologis (+), refleks patologis (-), kekuatan otot
dbn, sensibilitas dbn, rangsang meningeal (-)
A Epilepsi
P  Infus RL
 Caps fenitoin 2x100 mg
 Vit B1 100 mg 1x1
 Hemafort 1x1

Senin, 8 November 2021


S Pusing (-), kejang (-)
O KU: Baik, CM
TTV: Suhu 36,8ºC, HR 106x/menit, RR 18 x/menit
Status Lokalis
 Kepala: Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), mata cekung (-), bibir
kering (-)
 Thoraks-paru: Dinding dada simetris, retraksi (-), suara paru vesikuler
(+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-)
 Thoraks-jantung: suara jantung S1S2 reguler, murmur(-)
 Abdomen : Distensi (-), bising usus (+), timpani di seluruh regio, nyeri
tekan (-)
 Ekstremitas: Akral teraba hangat, CRT <2 detik, nadi kuat dan reguler,
ruam (-), udem (-)
 Neurologis: Refleks fisiologis (+), refleks patologis (-), kekuatan otot
dbn, sensibilitas dbn, rangsang meningeal (-)
A Epilepsi
P  Infus RL
 Tab Asam valproat 2x500 mg
 Vit B1 100 mg 1x1
 Hemafort 1x1

Selasa, 9 November 2021


S Pusing (-), kejang (-)
O KU: Baik, CM
TTV: Suhu 36,9ºC, HR 102x/menit, RR 20 x/menit
Status Lokalis
 Kepala: Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), mata cekung (-), bibir
kering (-)
 Thoraks-paru: Dinding dada simetris, retraksi (-), suara paru vesikuler
(+/+), wheezing (-/-), rhonki (-/-)
 Thoraks-jantung: suara jantung S1S2 reguler, murmur(-)
 Abdomen : Distensi (-), bising usus (+) tidak meningkat, timpani di
seluruh regio, nyeri tekan (-)
 Ekstremitas: Akral teraba hangat, CRT <2 detik, nadi kuat dan reguler,
ruam (-), udem (-)
 Neurologis: Refleks fisiologis (+), refleks patologis (-), kekuatan otot
dbn, sensibilitas dbn, rangsang meningeal (-)
A Epilepsi
P  Infus RL
 Tab Asam valproat 2x500 mg
 Vit B1 100 mg 1x1
 Hemafort 1x1
A. DEFINISI

Refluks Gastroesofageal (RGE) sering disebut “chalasia”, yaitu suatu keadaan

yang sering dijumpai pada bayi, ditandai oleh regurgitasi berulang dari isi

lambung ke dalam esofagus. Jika sfingter esofagus bagian bawah (SEB) tidak

berfungsi dengan baik dapat timbul refluks yang hebat dengan gejala muntah

yang berlebihan. Makanan yang kembali dari lambung ke esofagus tersebut dapat

masuk kembali ke dalam lambung dan dikeluarkan lagi melalui mulut menyerupai

muntah.1,2

RGE dapat diklasifikasikan ke dalam 3 kategori yaitu RGE fungsional, RGE

patogen (Penyakit RGE = PRGE ) dan RGE sekunder. Fungsional RGE

menunjukkan kondisi yang tidak berbahaya dan tidak memerlukan evaluasi atau

pengobatan, tidak menyebabkan inflamasi, komplikasi, gangguan pertumbuhan

dan perkembangan. PRGE memerlukan interverensi medis karena berhubungan

dengan komplikasi, baik yang tipikal (gagal tumbuh, anemia, esofagitis) atau

atipikal (wheezing, apnea, pneumonia, sinusitis kronis).

RGE juga harus dibedakan dari: (a) “possetting” yaitu pengeluaran isi

lambung sehabis makan, biasanya meleleh keluar dari mulut, sering didahului

dengan bersendawa dan (b) “rumination” yaitu keluarnya isi lambung ke dalam

mulut, kemudian dikunyah dan ditelan kembali.1,3


B. Etiologi Refluks Gastroesofageal1,2,3

Meskipun dilaporkan bahwa tekanan intraabdominal yang meninggi dapat

menyebabkan refluks, tetapi mekanisme yang lebih penting adalah peran tonus

otot sfingter esofagus bawah yang berkurang, baik dalam keadaan akut maupun

menahun.

Pada keadaan normal, kenaikan tekanan intraabdominal oleh adanya

kontraksi pada lambung akan diimbangi oleh peningkatan tekanan pada SEB

sehingga mencegah terjadinya refluks. Beberapa peneliti menyatakan RGE

terjadi karena peningkatan tekanan intra abdominal disertai inkompetensi SEB.

C. Epidemiologi Refluks Gastroesofageal1,2,3

Angka kejadian refluks pada bayi baru lahir terjadi pada bulan pertama

kelahiran, puncaknya pada bulan ke-4 dengan lebih dari 1 kali episode

regurgitasi. Pada umur 6-7 bln gejala berkurang dari 61% menjadi 21% dan

hanya 5% pada bayi berumur 12 bulan yang masih mengalami RGE.

Penyakit RGE (PRGE) terjadi ketika RGE menimbulkan komplikasi seperti

esofagitis, striktura, dan pneumonia. Keadaan ini jarang terjadi tapi akan

meningkat pada anak dengan cerebral palsy, sindroma Down, cystic fibrosis dan

kelainan anatomi saluran cerna bagian atas (hiatus hernia, stenosis pilorus).

Tampaknya pada PRGE terdapat faktor predisposisi genetik.


D. Gejala Klinis Refluks Gastroesofageal2,3,4,5

Tanda dan gejala klinis berhubungan langsung dengan iritasi epitel esofagus

oleh isi lambung. Gejalanya antara lain:

1. Muntah yang berlebih terjadi pada 85% pasien selama minggu pertama

kehidupan, sedangkan 10% baru timbul sampai umur 6 minggu, sisanya

setelah umur lebih dari 6 minggu. Bila bayi muntah maka isi lambung dengan

pH yang rendah akan masuk ke esofagus sehingga menimbulkan esofagitis,

kemudian striktur dengan gejala disfagia atau perdarahan pada esofagus.

2. Gangguan lain yang sering ditemukan pada RGE adalah gagal tumbuh

kembang (failure to thrive). Hal ini terjadi karena muntah yang berat dan

terus menerus sehingga makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan bayi

terbuang percuma. Menurut Olsen et al.2, gagal tumbuh kembang terjadi

karena:

- muntah terus menerus sehingga asupan makanan tidak adekuat

- esofagitis dan perdarahan esofagus

- striktura akibat esofagitis sehingga menimbulkan disfagia, perut kembung

dan muntah pada saat tidur.

3. Aspirasi pneumonia, terdapat pada 1/3 kasus pada bayi dengan muntah hebat

dan dapat berlanjut sampai anak besar dengan akibat batuk kronis, mengi

atau pneumonia berulang

4. Gejala-gejala lain yang dapat terjadi:


- anemia defisiensi besi

- kematian mendadak pada bayi (sudden infant death syndrome =SIDS)

- ruminasi (regurgitasi kronik).

E. Diagnosis Refluks Gastroesofageal2,3,4

Diagnosis RGE dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan

laboratorium. RGE merupakan suatu peristiwa episodik, sehingga refluks yang

jelas tidak dapat diperlihatkan dengan pemeriksaan rontgen biasa pada

± 10% kasus. Pada kasus ringan suatu penilaian klinis yang cermat diperlukan

untuk menegakkan diagnosis. Pada kasus yang berat dan rumit diagnosis dapat

ditunjang dengan esofagogram yang dikerjakan dengan pengamatan fluroskopi.

Pemeriksaan laboratorium penunjang diagnosis RGE antara lain:

1. fluoroskopi dengan kontras barium

2. memeriksa pH esofagus; selama episode refluks pH menurun <4 (normal pH

esofagus 5-6)

3. esofageal manometer dipakai untuk mengevaluasi waktu pengosongan

lambung 3-4 jam setelah makan

4. biopsi esofagus menggunakan esofagoskopi, diperiksa jaringan secara PA;

pada RGE didapatkan proliferasi lapisan basal epitel esofagus yang

meningkat.
Gambar 1. Pendekatan Diagnosis RGE pada Bayi dan Anak4

F. Diagnosis Banding Refluks Gastroesofageal3,4,5

1. Hiatus hernia: kelainan yang terjadi sejak masa janin dengan insufisiensi bagian kardia

gaster.

2. Akhalasia: suatu keadaan dimana tidak terjadi relaksasi terminal esofagus, sehingga

menimbulkan sumbatan partial pada daerah perbatasan gaster-esofagus.

3. Stenosis pylorus hipertrofi congenital.

4. Obstruksi/atresia duodenum; gejala klinis yang sering terjadi adalah muntah-muntah

mengandung empedu: mekonium tidak keluar dalam waktu >24 jam.

5. Mekoneum ileus.

G. Penatalaksanaan Refluks Gastroesofageal1,3,5,6,7,8,9

Penatalaksanaan ditujukan terhadap gejala pengurangan refluks, menyembuhkan

esofagitis (jika terjadi) dan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Hasil pengobatan lebih
baik pada bayi dari pada anak yang lebih besar, karena sekitar 60-80% pasien, gejalanya

teratasi dengan intervensi minimal saja.

Terapi untuk RGE dapat dibedakan menjadi dua yaitu terapi nonfarmakologis dan

farmakologis.

Pada kasus yang ringan dan tidak rumit dapat diberikan terapi non farmakologis seperti

tidur dengan posisi kepala lebih tinggi, mencegah makan 2 jam sebelum tidur, mencegah

minum susu sebelum tidur, menjaga anak untuk tetap pada posisi telungkup selama 1 jam

sesudah makan, pemberian makanan yang lebih kental dengan tambahan sereal atau dengan

membuat bayi sendawa saja biasanya sudah cukup memadai. Pada kasus berat posisi

terlungkup harus dilanjutkan selama 24 jam dengan kepala terangkat bersudut ±300.

Untuk penanganan esofagitis yang berbahaya bagi pasien dapat diberikan terapi

farmakologis antara lain:

1. Antasida: untuk menetralisir asam lambung seperti obat sodium alginate atau sukralfat

(sukrosa sulfat) atau yang mengandung alumunium. Obat-obat ini tidak boleh dipakai pada

bayi dan anak.

2. Obat prokinetik: untuk meningkatkan tekanan SEB, memperbaiki peristaltik, dan

mempercepat pengosongan lambung. Obat prokinetik yaitu betanechol, metoklopramid,

domperidon, dan cisapride. Pemakaian pada anak dibatasi dan harus hati-hati.

3. Antagonis reseptor histamin H2: akan menghambat sekresi asam lambung yang

dihasilkan oleh reseptor histamin tetapi tidak memiliki efek pada sekresi asam yang

disebabkan oleh asetilkolin atau gastrin. Obat-obat yang termasuk golongan ini adalah

cimetidine, ranitidine, famotidine, nizatidine.

4. Inhibitor pump proton (pompa proton inhibitor = PPI) yang terikat dengan hidrogen
potassium adenosine triphosphat, merupakan suatu enzim yang berperan sebagai pompa

proton pada sel parietal, karena itu dapat menghambat pertukaran ion pada sekresi asam

HCl. Obat ini menghambat sekresi asam tanpa memandang apakah ada stimulasi oleh

histamine, asetilkolin atau gastrin. Oleh karena obat PPI ini dinonaktifkan oleh asam

lambung maka dibuat dalam bentuk enteric coating sehingga mampu melewati lambung

masuk ke usus dan akan diserap. Obat-obat PPI adalah omeprasol dan lansoprasol yang

penggunaannya telah diizinkan oleh FDA pada pasien anak-anak. Obat- obat PPI ini lebih

efektif dari pada obat-obat yang lain dalam mengurangi sekresi asam dan menyembuhkan

esofagitis. PPI yang diberikan sekali sehari dapat menghilangkan gejala dan

menyembuhkan esofagitis di atas 80% atau di atas 95% pada pemberian 2x/hari. Jika

dalam 6 minggu pengobatan konservatif maupun farmakologis tidak membawa perubahan,

maka hal ini merupakan indikasi tindakan operatif.


Daftar Pustaka

1. Sunoto S. Refluks gastroesophagus (Kalasia). In Markum, Ismael, Alatas, Akib,

Firmansyah, Sastroasmoro, ed. Buku ajar ilmu kesehatan anak. Jilid 1. Jakarta: Penerbit

FKUI, 1991; p.420-22.

2. Olsen M, Orenstein S, Peters J, John J Herbst, Azizkhan RG, Gershman G.

Gastroesophageal reflux. In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF, ed.

Nelson textbook of pediatrics 16 ed. Philadelphia: Elsevier Saunders, 2007; p.1124-25.

3. Pramita W, Suraatmaja, Reflux gastroesofageal. In Sudaryat S, ed. Kapita selecta

gastroenterologi anak ed 1. Jakarta: Sagung Seto, 2005; p.229-41.

4. Yezbek S. Gastroesophageal reflux. In Roy, Silverman, Alegile, ed. Pediatrics clinical

gastroenterology. 4th edition. St.Louise, Baltimore, New York, 2005; p.163-9.

5. Hartland WHS, Dudgeon DL, Colombeni PM and Beaver BL. Gastroesophageal reflux. In

Rudolf and Hoffman, ed. Pediatrics. 18th edition. Norwalk Conneticut, 2003; p.907-18.

6. Yudith M.S & Arnold S, Gastroesophageal reflux & chalasia. In William E. H, Jessie R.G

& John W.P, ed. Current pediatric diagnosis & treatment. ed.10. Denver Colorado, 1991;

p.538-41.

7. Ariyanto. Penggunaan proton pump inhibitor pada penderita gastroesophageal reflux. 2008

[cited 2010 April 8]. Available from http://yosefw.wordpress.com/2008/01/ 01

/penggunaan-proton-pump-inhibitor- pada-penderita-refluks-esofagus/

8. Farivar M. GERD in infants and children. 2006. [cited 2010 April 6]. Available from

http://www.webgerd.com/ gerdininfants.htm.

9. Marks JW. Gastroesophageal reflux disease (GERD, Acid Reflux, Heartburn). 2008.

[cited 2010 April 8]. Available from http://www.medicinenet.com/gastro esophageal-reflux-


disease-gerd/page2. htm#.