Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Katarak adalah perubahan lensa mata yang semula jernih dan tembus cahaya menjadi
keruh, sehingga cahaya sulit mencapai retina akibatnya penglihatan menjadi kabu
r. Katarak terjadi secara perlahan-lahan sehingga penglihatan penderita tergangg
u secara berangsur. Katarak tidak menular dari satu mata ke mata lain, tetapi ka
tarak dapat terjadi pada kedua mata pada waktu yang tidak bersamaan.Perubahan in
i dapat terjadi karena proses degenerasi atau ketuaan (jenis katarak ini paling
sering dijumpai), trauma mata, infeksi penyakit tertentu (Diabetes Mellitus).Kat
arak dapat terjadi pula sejak lahir (cacat bawaan), karena itu katarak dapat dij
umpai pada usia anak-anak maupun dewasa.
Data badan kesehatan PBB (WHO) menyebutkan penderita kebutaan di dunia mencapai
38 juta orang, 48% di antaranya disebabkan katarak. Untuk Indonesia, survei pada
1995/1996 menunjukkan prevalensi kebutaan mencapai 1,5% dengan 0,78% di antaran
ya disebabkan oleh katarak , dan yang terbesar karena katarak senilis/ ketuaan.
Selain penglihatan yang semakin kabur dan tidak jelas, tanda-tanda awal terjadin
ya katarak antara lain merasa silau terhadap cahaya matahari, perubahan dalam pe
rsepsi warna, dan daya penglihatan berkurang hingga kebutaan. Katarak biasanya t
erjadi dengan perlahan dalam waktu beberapa bulan. Daya penglihatan yang menurun
mungkin tidak disadari karena merupakan perubahan yang berperingkat (progresif)
. Menurut Istiantoro, katarak hampir tidak bisa dicegah karena merupakan proses
penuaan sel.
Meskipun tergolong penyakit menakutkan, operasi katarak membutuhkan waktu relati
f singkat yaitu 30-40 menit saja. Bahkan, teknologi kedokteran terbaru memungkin
kan pembiusan dilakukan melalui tetes mata saja. \"Sehingga banyak orang keliru
menganggap katarak bisa diobati hanya menggunakan obat tetes mata.
Operasi katarak merupakan operasi yang mudah dan aman bagi kebanyakan orang. Nam
un, sama seperti operasi lain, operasi katarak dapat menimbulkan komplikasi sepe
rti pendarahan dan kerusakan pada kornea atau retina yang memerlukan pembedahan
lebih lanjut.
1.2 Tujuan Penulisan
Setelah mempelajari makalah ini diharapkan dapat mengetahui tinjauan pustaka dar
i penyakit Katarak sehingga nantinya jika menemui kasus di tempat praktek dapat
melakukan tata laksana yang baik mengenai penyakit tersebut dan penyakit mata la
innya.
1.3 Batasan Masalah
Karya tulis ini membahas tentang katarak dan penatalaksanaannya.
1.4 Metode Penulisan
Karya tulis ini disusun berdasarkan tinjauan kepustakaan yang merujuk kepada ber
bagai literature.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. ANATOMI DAN FISIOLOGI LENSA


Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskuler, tak berwarna dan hampir transp
aran sempurna. Tebalnya sekitar 4 mm dan diameter 9 mm. Dibelakang iris lensa di
gantung oleh zonula yang menghubungkan dengan korpus ciliaris. Di anterior lensa
terdapat humor aquaeus; disebelah posteriornya, vitreus. Kapsul lensa adalah me
mbran yang semipermeabel(sedikit lebih
permiabel dari pada kapiler) yang menyebabkan air dan elektrolit masuk. Didepan
lensa terdapat selapis tipis epitel supkapsuler. Nucleus lensa lebih tebal darik
orteksnya. Semakin bertambahnya usia laminar epitel supkapsuler terus diproduksi
sehingga lensa semakin besar dan kehilangan
elastisitas1,2.
Lensa dapat membiaskan cahaya karena indeks bias - biasanya sekitar 1,4 pada sen
tral dan 1,36 pada perifer-hal ini berbeda dari dengan aqueous dan vitreus yang
mengelilinginya.Pada tahap tidak berakomodasi, lensa memberikan kontribusi sekit
ar 15-20 dioptri (D) dari sekitar 60 D kekuatan konvergen bias mata manusia rata
-rata4.Lensa terdiri dari 65% air dan 35% protein (tertinggi kandungan nya di an
tara seluruh tubuh) dan sedikit sekali mineral. Kandungan kalium lebih tinggi pa
da lensa dibanding area tubuh lainnya. Asam askorbat dan glutation terdapat dala
m bentuk teroksidasi maupun tereduksi. Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah, at
au saraf pada lensa2.
Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Untuk memfokuskan
cahaya yang datang dari jauh m. ciliaris berelaksasi, menegangkan serat zonula
dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukuran terkecil; dalam pos
isi ini daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas cahaya akan terfokus pada
retina. Sementara untuk cahaya yang berjarak dekat m.ciliaris berkontrasi sehin
gga tegangan zonula berkurang, artinya lensa yang elastis menjadi lebih sferis d
iiringi oleh peningkatan daya biasnya. Kerja sama fisiologis antara korpus silia
ris, zonula dan lensa untuk memfokuskan benda jatuh pada retina dikenal dengan a
komodasi. Hal ini berkurang seiring dengan bertambahnya usia2,4. Gangguan pada l
ensa dapat berupa kekeruhan, distorsi, dislokasi dan anomaly geometri. Keluhan y
ang di alami penderita berupa pandangan kabur tanpa disertai nyeri. Pemeriksaan
yang dapat dilakukan pada penyakit lensa adalah pemeriksaan ketajaman penglihata
n dan dengan melihat lensa melalui sliplamp, oftalmoskop, senter tangan, atau ka
ca pembesar, sebaiknya dengan pupil dilatasi1,2,4,5.
Merupakan jendela paling depan dari mata dimana sinar masuk dan difokuskan ke da
lam pupil . Bentuk kornea cembung dengan sifat yang transparan dimana kekuatan p
embiasan sinar yang masuk 80 % atau 40 dioptri ,dengan indeks bias 1, 38 .
2.2. Definisi Katarak
Katarak adalah kelainan pada lensa berupa kekeruhan lensa yang menyebabkan tajam
penglihatan penderita berkurang. Kata katarak berasal dari Yunani³katarraktes´ (air
terjun) karena pada awalnya katarak dipikirkan sebagai cairan yang mengalir dar
i otak ke depan lensa.
2.3. Etiologi Katarak
a. Penyebab paling banyak adalah akibat proses lanjut usia/ degenerasi, yang men
gakibatkan lensa mata menjadi keras dan keruh(Katarak Senilis)
b. Dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti merokok, sinar ultraviolet, alkoho
l, kurang vitaminE,radang menahun dalam bola mata, polusi asap motor/pabrik kare
na mengandung timbale
c. Cedera mata, misalnya pukulan keras, tusukan benda, panas yang tinggi, bahan
kimia yang merusak lensa(KatarakTrauatik)
d. Peradangan/infeksi pada saat hamil, penyakit yang diturunkan (Katarak Kongeni
tal)
e. Penyakit infeksi tertentu dan penyakit metabolik misalnya diabetes mellitus(K
atarakkomplikata
f. Obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid, klorokuin , klorpromazin, ergota
mine, pilokarpin)
2.4 Epidemiologi
Di Indonesia terdapat 0.70% dari penduduk (1.900.000) pasien buta akibat katarak
yang belum tertolong. Katarak merupakan penyebab utama berkurangnya penglihatan
pada usia 55 tahun atau lebih. Sesungguhnya 60 persen dari kebutaan di atas usi
a 60 tahun adalah diakibatkan katarak. Indonesia memiliki angka penderita katara
k tertinggi di Asia Tenggara. Dari sekitar 234 juta penduduk, 1,5 persen atau le
bih dari tiga juta orang menderita katarak. Sebagian besar penderita belum mampu
melakukan operasi yang membutuhkan biaya sekitar Rp 4-5 juta.
Secara umum dianggap bahwa katarak hanya mengenai orang tua. Katarak mengenai se
mua umur dan pada orang tua katarak seperti rambut beruban, yang merupakan bagia
n umum pada usia lanjut. Makin lanjut usia seseorang makin besar kemungkinan men
dapatkan katarak.
2.5 Patofisiologi
Dimulai dari masa kehidupan janin sampai kehidupan bayi dan dewasa sampa
i usia tua, maka lensa dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat mengganggu ke
jernihannya sehingga terjadi katarak. Duke Elder mencoba membuat ikhtisar dari p
enyebab-penyebab yang dapat menimbulkan katarak sbb. :
1. Sebab-sebab biologik :
(a) Karena usia tua.
Seperti jugapada seluruh makhluk hidup maka lensa pun mengalami proses tua diman
a dalam keadaan ini ia menjadi katarak.
(b) Pengaruh genetik.
Pengaruh genetik dikatakan berhubungan dengan proses degenerasi yang timbul pada
lensa.
2. Sebab-sebab imunologik :
Badan manusia mempunyai kemampuan membentuk antibodi spesifik terhadap salah sat
u dari protein-protein lensa. Oleh sebab-sebab tertentu dapat terjadi sensitisas
i secara tidak disengaja oleh protein lensa yang menyebabkan terbentuknya antibo
di tersebut. Bila hal ini terjadi maka dapat menimbulkan katarak.
3. Sebab-sebab fungsional
Akomodasi yang sangat kuat mempunyai efek yang buruk terhadap serabut-serabut le
nsa
dan cenderung memudahkan terjadinya kekeruhan pada lensa. Ini dapat terlihat pad
a keadaan-keadaan seperti intoksikasi ergot, keadaan tetani dan aparathyroidisme
.
4. Gangguan yang bersifat lokal terhadap lensa :
Dapat berupa
(a) Gangguan nutrisi pada lensa
(b) Gangguan permeabilitas kapsul lensa
(c) Efek radiasi dari cahaya matahari.
5. Gangguan metabolisme umum
defisiensi vitamin dan gangguan endokrin dapat menyebabkan katarak misalnya sepe
rti pada penyakit diabetes melitus atau hyperparathyroidea.
Pada Katarak pada usia lanjut terjadi melalui dua proses, yaitu 6
1 . Penumpukan protein di lensa mata
Komposisi terbanyak pada lensa mata adalah air dan protein. Penumpukan protein p
ada lensa mata dapat menyebabkan kekeruhan pada lensa mata dan mengurangi jumlah
cahaya yang masuk ke retina. Proses penumpukan protein ini berlangsung secara b
ertahap, sehingga pada tahap awal seseorang tidak merasakan keluhan/gangguan pen
glihatan. Pada proses selanjutnya penumpukan protein ini akan semakin meluas seh
ingga gangguan penglihatan akan semakin meluas dan bisa sampai pada kebutaan. Pr
oses ini merupakan penyebab tersering yang menyebabkan katarak yang terjadi pada
usia lanjut.
2. Perubahan warna pada lensa mata yang terjadi perlahan-lahan seiring dengan pe
rtambahan usia.
Pada keadaan normal lensa mata bersifat bening. Seiring dengan pertambahan usia,
lensa mata dapat mengalami perubahan warna menjadi kuning keruh atau coklat ker
uh. Proses ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan (pandangan buram/kabur) pa
da seseorang, tetapi tidak menghambat penghantaran cahaya ke retina.
Faktor risiko lain yang dapat menyebabkan katarak :
*Penderita diabetes melitus / kencing manis.
* Penggunaan beberapa jenis obat dalam jangka panjang.
* Kebiasaan buruk, seperti merokok dan mengonsumsi alkohol.
* Kurang asupan antioksidan, seperti vitamin A, C, dan E.
* Paparan / radiasi sinar ultraviolet.
katarak senilis katarak trauma katarak kongenital
Penggunaan jangka panjang obat penurun kolesterol, seperti obat-obat golongan st
atin dan squalene synthase inhibitor dapat meningkatkan risiko terjadinya kekeru
han lensa mata (katarak). Squalene merupakan enzim yang terdapat dalam tubuh dan
berperan dalam metabolisme kolesterol. Inhibisi atau penghambatan enzim squalen
e synthase akibat penggunaan obat penurun kolesterol dapat memicu terjadinya kat
arak. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan penambahan asupan squalene untuk me
ncegah terjadinya katarak pada penggunaan jangka panjang obat penurun kolesterol
.
Squalene dapat ditemukan pada makanan yang bersumber dari hewani dan nabati, sep
erti: ekstrak hati ikan ”hiu botol” (Centrophorus atromarginatus), minyak zaitun, mi
nyak kelapa sawit, minyak biji gandum, minyak amaranth dan minyak beras. Kadar s
qualene yang terbanyak terdapat di dalam ekstrak hati ikan ”hiu botol”
Dengan bertambah lanjut usia seseorang maka nucleus lensa mata akan menjadi lebi
h padat dan berkurang kandungan airnya, lensa akan menjadi keras pada bagian ten
gahnya( optic z one) sehingga kemampuan memfokuskan benda berkurang. Dengan bert
ambah usia lensa juga mulai berkurang kebeningannya.(Katarak Senilis) Penderita
kencing manis (diabetes mellitus) yang gagal merawat penyakitnya akan mengakibat
kan Kandungan gula dalam darah menjadikan lensa kurang kenyal dan bisa menimbulk
an katarak(Katarak Komplikata)
2.6. Klasifikasi 7
1. Katarak Perkembangan/pertumbuhan
Katarak Kongenital dan juvenil disebut juga katarak perkembangan/pertumbuhan kar
ena secara biologik serat lensa masih dalam perkembangannya. Kekeruhan sebagian
pada lensa yang sudah didapatkan pada waktu lahir umumnya tidak meluas dan jaran
g sekali mengakibatkan keruhnya seluruh lensa.Letak kekeruhan tergantung pada sa
at mana terjadi gangguan pada kehidupan janin. Katarak kongenital tersebut dapat
dalam bentuk katarak lamelar atau zonular, katrak polaris posterior (piramidali
s posterior, kutub posterior), polaris anterior (piramidalis anterior, kutub ant
erior), katrak inti (katarak nuklearis), dan katarak sutural.
a. KatarakLamelar atau Zonular
Di dalam perkembangan embriologik permulaan terdapat perkembangan serat lensa ma
ka akan terlihat bagian lensa sentral yang lebih jernih. Kemudian terdapat serat
lensa keruh dalam kapsul lensa. Kekeruhan berbatas tegas dengan bagian perifer
tetap bening. Katarak lamelar ini mempunyai sifat herediter dan ditransmisi seca
ra dominan, katarak biasanya bilateral
Katarak zonular terlihat segera sesudah bayi lahir. Kekeruhan dapat menutupi sel
uruh celah pupil, bila tidak dilakukan dilatasi pupil sering dapat mengganggu pe
nglihatan. Gangguan penglihatan pada katarak zonular tergantung pada derajat kek
eruhan lensa. Bila kekeruhan sangat tebal sehingga fundus tidak dapat terlihat p
ada pemeriksaan oftalmoskopi maka perlu dilakukan aspirasi dan irigasi lensa.
b. Katarak Polaris Posterior
Katarak polaris posterior disebabkan menetapnya selubung vaskular lensa. Kadang-
kadang terdapat arteri hialoid yang menetap sehingga mengakibatkan kekeruhan pad
a lensa bagian belakang. Pengobatannya dengan melakukan pembedahan lensa.
c. Katarak Polaris Anterior
Gangguan terjadi pada saat kornea belum seluruhnya melepaskan le
nsa dalam perkembangan embrional. Hal ini juga mengakibatkan terlambatnya pemben
tukan bilik mata depan pada perkembangan embrional. Pada kelainan yang terdapat
di dalam bilik mata depan yang menuju kornea sehingga memperlihatkan bentuk keke
ruhan seperti piramid. Katarak polaris anterior berjalan tidak progresif. Pengob
atan sangat tergantung keadaan kelainan. Bila sangat mengganggu tajam penglihata
n atau tidak terlihatnya fundus pada pemeriksaan oftalmoskopi maka dilakukan pem
bedahan.
d. Katarak Nuklear
Katarak semacam ini jarang ditemukan dan tampak sebagai bunga karang. Kekeruhan
terletak di daerah nukleus lensa. Sering hanya merupakan kekeruhan berbentuk tit
ik-titik. Gangguan terjadi pada waktu kehamilan 3 bulan pertama. Biasanya bilate
ral dan berjalan tidak progresif, biasanya herediter dan bersifat dominan. Tidak
mengganggu tajam penglihatan. Pengobatan, bila tidak mengganggu tajam penglihat
an maka tidak memerlukan tindakan
e.Katarak Sutural
Katarak sutural merupakan kekeruhan lensa pada daerah sutura fetal, bersifat sta
tis, terjadi bilateral dan familial. Karena letak kekeruhan ini tidak tepat meng
enai media penglihatan maka ia tidak akan mengganggu penglihatan. Biasanya tidak
dilakukan tindakan.
2. Katarak Juvenil
Katarak juvenil merupakan katarak yang terjadi pada anak-anak sesudah lahir yait
u kekeruhan lensa yang terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat
lensa sehingga biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai
soft cataract. Biasanya katarak juvenil merupakan bagian dari suatu gejala penya
kit keturunan lain. Pembedahan dilakukan bila kataraknya diperkirakan akan menim
bulkan ambliopia.
Tindakan untuk memperbaiki tajam penglihatan ialah pembedahan. Pembedahan dilaku
kan bila tajam penglihatan seduah mengganggu pekerjaan sehari-hari. Hasil tindak
an pembedahan sangat bergantung pada usia penderita, bentuk katarak apakah menge
nai seluruh lensa atau sebagian lensa apakah disertai kelainan lain pada saat ti
mbulnya katarak, makin lama lensa menutupi media penglihatan menambah kemungkina
n ambliopia.
3. Katarak Senil
Perubahan yang tampak ialah bertambah tebalnya nukleus dengan berkembangnya lapi
san korteks lensa. Secara klinis, proses ketuaan lensa sudah tampak sejak terjad
i pengurangan kekuatan akomodasi lensa akibat mulai terjadinya sklerosis lensa y
ang timbul pada usia dekade 4 dalam benuk keluhan presbiopia. Dikenal 3 bentuk k
atarak senil, yaitu katarak nuklear, kortikal, dan kupuliform.
a. Katarak Nuklear
Inti lensa dewasa selama hidup bertambah besar dan menjadi sklerotik. Lama kelam
aan inti lensa yang mulanya menjadi putih kekuningan menjadi cokelat dan kemudia
n menjadi kehitaman. Keadaan ini disebut katarak brunesen atau nigra.
b.Katarak Kortikal
Pada katarak kortikal terjadi penyerapan air sehingga lensa menjadi cembung dan
terjadi miopisasi akibat perubahan indeks refraksi lensa. Pada keadaan ini pende
rita seakan-akan mendapatkan kekuatan baru untuk melihat dekat pada usia yang be
rtambah.
c.Katarak Kupuliform
Katarak kupuliform dapat terlihat pada stadium dini katarak kortikal atau nuklea
r. Kekeruhan dapat terlihat di lapis korteks posterior dan dapat memberikan gamb
aran piring. Makin dekat letaknya terhadap kapsul makin cepat bertambahnya katar
ak. Katarak ini sering sukar dibedakan dengan katarak komplikata.
Katarak Senil dapat dibagai atas 4 Stadium :
1) Katarak Insipien
Kekeruhan yang tidak teratur seperti bercak-bercak yang membentuk gerigi dasar d
i perifer dan daerah jernih membentuk gerigi dengan dasar di perifer dan daerah
jernih di antaranya. Kekeruhan biasanya teletak di korteks anterior atau posteri
or. Kekeruhan ini pada umumnya hanya tampak bila pupil dilebarkan.
Pada stadium ini terdapat keluhan poliopia karena indeks refraksi yang tidak sam
a pada semua bagian lensa. Bila dilakukan uji bayangan iris akan positif.
2) Katarak Imatur
Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi tidak
atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang jer
nih pada lensa. Pada stadium ini terjadi hidrasi korteks yang mengakibatkan lens
a menjadi bertambah cembungPencembungan lensa ini akan memberikan perubahan inde
ks refraksi dimana mata akan menjadi miopik. Kecembungan ini akan mengakibatkan
pendorongan iris ke depan sehingga bilik mata depan akan lebih sempit. Pada stad
ium intumensen ini akan mudah terjadi penyulit glaukoma. Uji bayangan iris pada
keadaan ini positif
3) Katarak Matur
Pencembungan lensa ini akan memberikan perubahan indeks refraksi dimana mata aka
n menjadi miopik. Kecembungan ini akan mengakibatkan pendorongan iris ke depan s
ehingga bilik mata depan akan lebih sempit. Pada stadium intumensen ini akan mud
ah terjadi penyulit glaukoma. Uji bayangan iris pada keadaan ini positif Bila pr
oses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama-sama ha
sil disintegrasi melalui kapsul. Di dalam stadium ini lensa akan berukuran norma
l. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata depan akan mempunyai kedalaman n
ormal kembali. Kadang pada stadium ini terlihat lensa berwarna sangat putih akib
at perkapuran menyeluruh karena deposit kalsium. Bila dilakukan uji bayangan iri
s akan terlihat negatif.
4) Katarak Hipermatur
Marupakan proses degenerasi lanjut lensa sehingga korteks mengkerut dan berwarna
kuning. Akibat pengeriputan lensa dan mencairnya korteks, nukleus lensa tenggel
am ke arah bawah (katarak morgagni).Lensa yang mengecil akan mengakibatkan bilik
mata menjadi dalam. Uji bayangan iris memberikan gambaran pseudopositif. Akibat
masa lensa yang keluar melalui kapsul lensa dapat menimbulkan penyulit berupa u
veitis fakotoksik atau glaukom fakolitik.
Perbedaan Stadium Katarak Senilis
Katarak Kekeruhan
Cairan Lensa SSudut BilikMata
ShadowTes Iris BilikMata Depan Penyuli
Insipien Ringan Normal Normal Negatif
Normal Normal
-
Imatur
Sebagian Bertambah Sempit Positif
Terdorong Dangkal
Glaukoma
Matur
Seluruh
Normal
Normal Negatif
Normal
Normal
-
d. Katarak Komplikata
Penyakit intraokular atau penyakit di bagian tubuh yang lain dapat menimbulkan k
atarak komplikata. Penyakit intraokular yang sering menyebabkan kekeruhan pada l
ensa ialah iridosiklitis, glukoma, ablasi retina, miopia tinggi dan lain-lain. B
iasanya kelainan terdapat pada satu mata.
Pada uveitis, katarak timbul pada subkapsul posterior akibat gangguan metabolism
e lensa bagian belakang. Kekeruhan juga dapat terjadi pada tempat iris melekat d
engan lensa (sinekia posterior) yang dapat berkembang mengenai seluruh lensa.
Glaukoma pada saat serangan akut dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan caira
n lensa subkapsul anterior. Bentuk kekeruhan ini berupa titik-titik yang terseba
r sehingga dinamakan katarak pungtata subkapsular diseminata anterior atau dapat
disebut menurut penemunya katarakVogt. Katarak ini bersifat reversibel dan dapa
t hilang bila tekanan bola mata sudah terkontrol.
Ablasio dan miopia tinggi juga dapat menimbulkan katarak komplikata. Pada katara
k komplikata yang mengenai satu mata dilakukan tindakan bedah bila kekeruhannya
sudah mengenai seluruh bagian lensa atau bila penderita memerlukan penglihatan b
inokular atau kosmetik. Jenis tindakan yang dilakukan ekstraksi linear atau ekst
raksi lensa ekstrakapsula Iridektomi total lebih baik dilakukan dari pada iridek
tomi perifer. Katarak yang berhubungan dengan penyakit umum mengenai kedua mata,
walaupun kadang-kadang tidak bersamaan. Katrak ini biasanya btimbul pada usia y
ang lebih muda. Kelainan umum yang dapat menimbulkan katarak adalah diabetes mel
itus, hipoparatiroid, miotonia distrofia, tetani infantil dan lain-lain.
Diabetes melitus menimbulkan katarak yang memberikan gambaran khas yaitu kekeruh
an yang tersebar halus seperti tebaran kapas di dalam masa lensa.
Pada hipoparatiroid akan terlihat kekeruhan yang mulai pada dataran belakang len
sa, sedang pada penyakit umum lain akan terlihat tanda degenerasi pada lensa yan
g mengenai seluruh lapis lensa. Pengobatan pada katarak komplikatan dilakukan bi
la sudah mengganggu pekerjaan sehari-hari.
Katarak pada pasien diabetes mellitus dapat terjadi dalam tiga bentuk yaitu:
• Pasien dengan dehidrasi berat, asidosis dan hiperglikemia yang nyata. Pada lensa
akan terlihat kekeruhan berupa garis akibat kapsul lensa berkerut. Bila dehidra
si lama akan terjadi kekeruhan lensa, kekeruhan akan hilang bila terjadi rehidra
si dan kadar gula normal kembali.
• Pasien diabetes juvenille da tua tidak terkontrol. Katarak akanterjadi serentak
pada kedua mata dalam 48 jam, bentuk dapat snow flake atau bentuk piring subkaps
uler.
• Katarak pada pasien diabetes dewasa. Gambaran secara histologik dan biokimia sam
a dengan katarak pasien non diabetik.
Katarak Diabetes Sejati
Pada diabetes juvenillis yang parah kadang-kadang timbul katarak bilateral secar
a akut.Lensa mungkin menjadi opak total selama beberapa minggu.Pada lensa akan t
erlihat kekeruhan tebaran salju subkapsuler yang sebagian jernih dengan pengobat
an.
Katarak Senillis pada Pasien Diabetes
Pada pengidap diabetes, skelosis nuklear senillis, kelainan subkapsuler posterio
r, dan kekeruhan korteks terjadi lebih sering dan lebih dini.Terapi yang diberik
an pada pasien diabetes melitus dengan komplikasi katarak adalah kontrol kadar g
ula darah dan bedah katarak. Bedah katarak bertujuan untuk mengangkat lensa deng
an prosedur intrakapsular dan ekstrakapsular
e. Katarak Sekunder
Katarak sekunder atau sering disebut after cataract yaitu katarak yang timbul be
berapa bulan setelah ekstraksi katarak ekstakapsular atau setelah emulsifikasi f
ako; berupa penebalan kapsul posterior proliferasi sel-sel radang pada sisa-sisa
korteks yang tertinggal. Bila mengganggu tajam penglihatan penebalan tersebut d
ibuka dengan sayatan sinar laser, memakai alat Nd. YAG laser.
f. KatarakTrauma
Kekeruhan lensa akibat ruda paksa atau katarak traumadapat terjadi akibat ruda p
aksa tumpul atau tajam. Ruda paksa ini dapat mengkibatkan katarak pada satu mata
atau monokular katarak. Pengobatan pada katarak trauma bila tidak terdapat peny
ulit dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang. Penyulit yang dapat terjadi dapa
t dalam bentuk glaukoma lensa yang mencembung atau uveitis akibat lensa keluar m
elalui kapsul lensa. Definisi
Katarak traumatik merupakan katarak yang muncul sebagai akibat cedera pada mata
yang dapat merupakan trauma perforasi ataupun tumpul yang terlihat sesudah beber
apa hari ataupun beberapa tahun. Katarak traumatik ini dapat muncul akut, subaku
t, atau pun gejala sisa dari trauma mata.
Epidemiologi
Di Amerika Serikat diperkirakan terjadi 2,5 juta trauma mata setiap tahunnya. Ku
rang lebih 4-5% dari pasien-pasien mata yang membutuhkan perawatan komperhensif
merupakan keadaan sekunder akibat trauma mata. Trauma merupakan penyebab terting
gi untuk buta monokular pada orang kelompok usia di bawah 45 tahun. Setiap tahun
nya diperkirakan 50.000 orang tidak dapat membaca koran sebagai akibat trauma ma
ta.
Patogenesis
1. Luka memar/ tumpul
Jika terjadi trauma akibat benda keras yang cukup kuat mengenai mata dapat menye
babkan lensa menjadi opak. Trauma yang disebabkan oleh benturan dengan bola kera
s adalah salah satu contohnya. Kadang munculnya katarak dapat tertunda sampai ku
run waktu beberapa tahun. Bila ditemukan katarak unilateral, maka harus dicuriga
i kemungkinan adanya riwayat trauma sebelumnya, namun hubungan sebab dan akibat
tersebut kadang cukup sulit untuk dibuktikan dikarenakan tidak adanya tanda-tand
a lain yang dapat ditemukan mengenai adanya trauma sebelumnya tersebut.
Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular anterior ataupun posterior.
Kontusio lensa menimbulkan katarak seperti bintang, dan dapat pula dalam bentuk
katarak tercetak (imprinting) yang disebut cincin Vossius.
2.8. Gejala Klinis
Gejala utama dari katarak adalah penglihatan yang berangsur-angsur memburuk atau
berkurang dalam beberapa bulan atau tahun. Beberapa orang hanya merasakan pengl
ihatan redup pada satu mata. Dapat saja keluhan berupa seakan-akan melihat melal
ui film (tabir) yang menutupi mata, keluhan berupa silau di tempat terang, atau
penglihatan kurang bila mengendarai menghadapi sinar yang datang di malam hari.
Mata tidak merasa sakit, gatal, atau merah sedikitpun.
Secara umum dapat digambarkan gejala katarak adalah sebagai berikut:
• Berkabut, berasap, penglihatan tertutup film.
• Perubahan daya lihat warna.
• Gangguan mengendarai kenderaan malam hari, lampu besar sangat menyilaukan mata.
• Lampu dan matahari sangat menggangu.
• Sering meminta ganti resep kaca mata
• Lihat ganda
• Bisa melihat dekat pada pasien rabut dekat (hipermetropia)
• Gejala ini juga dapat terjadi pada kelainan mata lain.
Seorang pasien dengan katarak senilis biasanya datang dengan riwayat kemunduran
secara progesif dan gangguan dari penglihatan. Penyimpangan penglihatan bervaria
si, tergantung pada jenis dari katarak ketika pasien datang.
a. Penurunan visus, merupakan keluhan yang paling sering dikeluhkan pasien denga
n katarak senilis.
b. Silau, Keluhan ini termasuk seluruh spectrum dari penurunan sensitivitas kont
ras terhadap cahaya terang lingkungan atau silau pada siang hari hingga silau ke
tika endekat ke lampu pada malam hari.
c. Perubahan miopik, Progesifitas katarak sering meningkatkan kekuatan dioptrik
lensa yang menimbulkan myopia derajat sedang hingga berat. Sebagai akibatnya, pa
sien presbiop melaporkan peningkatan penglihatan dekat mereka dan kurang membutu
hkan kaca mata baca, keadaan ini disebut dengan second sight. Secara khas, perub
ahan miopik dan second sight tidak terlihat pada katarak subkortikal posterior a
tau anterio
d. Diplopia monocular. Kadang-kadang, perubahan nuclear yang terkonsentrasi pad
a bagian dalam lapisan lensa, menghasilkan area refraktil pada bagian tengah dar
i lensa, yang sering memberikan gambaran terbaik pada reflek merah dengan retino
skopi atau ophtalmoskopi langsung. Fenomena seperti ini menimbulkan diplopia mon
ocular yang tidak dapat dikoreksi dengan kacamata, prisma, atau lensa kontak.
e. Noda, berkabut pada lapangan pandang.
f. Ukuran kaca mata sering berubah.
Gejala Klinis katarak menurut tempat terjadinya sesuai anatomi lensa :
a. Katarak Inti/Nuclear
- Menjadi lebih rabun jauh sehingga mudah melihat dekat ,dan untuk melihat deka
t melepas kaca mata nya
- Penglihatan mulai bertambah kabur atau lebih menguning , lensa akan lebih cok
lat
- Menyetir malam silau dan sukar
b. Katarak Kortikal
- Kekeruhan putih dimulai dari tepi lensa dan berjalan ketengah sehingga mengga
nggu penglihatan
- Penglihatan jauh dan dekat terganggu
- Penglihatan merasa silau dan hilangnya penglihatan kontra
c. Katarak Subscapular
- Kekeruhan kecil mulai dibawah kapsul lensa, tepat jalan sinar masuk
- Dapat terlihat pada kedua mata
- Mengganggu saat membaca
- Memberikan keluhan silau dan´ halo´ atau warna sekitar sumber cahaya
- Mengganggu penglihatan
2.9. Diagnosis Pemeriksaan Rutin
1. Pemeriksaan visus dengan kartu Snellen atau chart projector dengan koreksiter
baik serta menggunakan pinhole
2. dengan slitlamp untuk melihat segmen anterior
3. Tekanan intraocular (TIO) diukur dengan tonometer noncontact, aplanasi atau S
chiotz
4. Jika TIO dalam dalam bata normal (kurangdari21mmHg) dilakukan dilatasi pupil
dengan tetesmata Tropicanamide 0.5%. Setelah pupil cukup lebar dilakukan pemer
iksaan dengan slitlamp untuk melihat derajat kekeruhan lensa apakah sesua idenga
n visus pasien
a.Derajat1:Nukleus lunak,biasanya visus masih lebih baik dari 6/12 ,tampak sedik
it kekeruhan dengan warna agak keputihan. Reflek fundus masih mudah diperoleh .U
sia penderita biasanya kurang dari 50 tahun
b.Derajat2: Nukleus dengan kekerasa nringan , biasanya visus antara 6/12– 6/30, ta
mpa nucleus mulai sediki berwarna kekuningan .Reflek fundu s smasih mudah dipero
leh dan palig sering memberikan gambaran seperti katarak subkapsularis posterior
.
c. Derajat3 : Nukleus dengan kekerasan medium , biasanya visus antara 6/30–3/60,ta
mpak nucleus berwarna kuning disertai kekeruhan korteks yang berwarna keabu-‐abuan.
d.Derajat4: Nukleus keras, biasanya visus antara 3/60 1/60, tampak nukleus berwa
rna kuning kecoklatan .Reflek fundus sulit dinilai.
e.Derajat5: Nukleus sangat keras,biasanya visus biasanya hanya 1/60 atau lebih j
elek. Usia penderita sudah datas 65 tahun. Tampak nucleus berwarna kecoklatan ba
hkan sampa ikehitamam.katarak ini sangat keras dan disebut juga sebagai Brunesce
nce cataract atau Black cataract.
Pemeriksaan penunjang
1. USG untuk menyingkirkan adanya kelainan lain pada mata selain katarak
Pemeriksaan tambahan
1. Biometri untuk mengukur power IOL jika pasien akan dioperasi katarak
2. Retinometri untuk mengetahui prognosistajam penglihatan setelah operasi
2.I0. Penatalaksanaan
a)Katarak Kongenital
Katarak kongenital merupakan katarak yang terjadi sejak bayi dalam kandungan dan
segera dapat terlihat sesudah bayi lahir. Korteks dan nukleus lensa mata bayi m
empunyai konsistensi yang cair. Bila kekeruhan lensa sudah demikian berat sehing
ga fundus bayi sudah tidak dapat dilihat pada funduskopi maka untuk mencegah amb
liopia dilakukan pembedahan secepatnya. Katarak kongenital sudah dapat dilakukan
pembedahan pada usia 2 bulan pada satu mata. Paling lambat yang lainnya sudah d
ilakukan pembedahan bila bayi berusia 2 tahun.
Sekarang dilakukan pembedahan lensa pada katarak kongenital dengan melakukan di
sisi lensa. Di sisi lensa ialah menyayat kapsul anterior lensa dan mengharapkan
masa lensa yang cair keluar bersama akuos humor atau difagositosis oleh makrofag
. Biasanya sesudah beberapa waktu terjadi penyerapan sempurna masa lensa sehingg
a tidak terdapat lensa lagi, keadaan ini disebut afakia.
Penyulit di sisi lensa
Masa lensa yang telah keluar dari kapsulnya merupakan benda asing untuk jaringan
mata sehingga menimbulkan reaksi radang terhadap masa lensa tubuh sendiri yang
disebut uveitis fakoanafilaktik. Kadang-kadang massa lensa yang keluat ini menga
kibatkan penyumbatan jalan keluar akuos humor pada sudut bilik mata sehingga ter
jadi pembendungan akuos humor di dalam bola mata yang akan mengakibatkan naiknya
tekanan bola mata yang disebut glaukoma sekunder. Bila sisa lensa tidak diserap
seluruhnya dan menimbulkan jaringan finrosis akan terjadi katarak sekunder. Kat
rak sekunder yang kecil walaupun terletak di depan pupil dapat tidak akan mengga
nggu tajam penglihatan. Kadang-kadang katarak sekunder ini sangat tebal sehingga
mengganggu perlihatan maka dalam keadaan demikian dapat dilakukan di sisi lensa
.
b)Pembedahan Katarak Senilis
Katarak hanya dapat diatasi melalui prosedur operasi. Akan tetapi jika gejala ka
tarak tidak mengganggu, tindakan operasi tidak diperlukan. Kadang kala cukup den
gan mengganti kacamata. Sejauh ini tidak ada obat-obatan yang dapat menjernihkan
lensa yang keruh. Namun, aldose reductase inhibitor, diketahui dapat menghambat
konversi glukosa menjadi sorbitol, sudah memperlihatkan hasil yang menjanjikan
dalam pencegahan katarak gula pada hewan. Obat anti katarak lainnya sedang ditel
iti termasuk diantaranya agen yang menurunkan kadar sorbitol, aspirin, agen glut
athione-raising, dan antioksidan vitamin C dan E
Penatalaksanaan definitif untuk katarak senilis adalah ekstraksi lensa. Lebih da
ri bertahun-tahun, tehnik bedah yang bervariasi sudah berkembang dari metode yan
g kuno hingga tehnik hari ini phacoemulsifikasi. Hampir bersamaan dengan evolusi
IOL yang digunakan, yang bervariasi dengan lokasi, material, dan bahan implanta
si. Bergantung pada integritas kapsul lensa posterior, ada 2 tipe bedah lensa ya
itu intra capsuler cataract ekstraksi (ICCE) dan ekstra capsuler cataract ekstra
ksi (ECCE). Berikut ini akan dideskripsikan secara umum tentang tiga prosedur op
erasi pada ekstraksi katarak yang sering digunakan yaitu ICCE, ECCE, dan phacoem
ulsifikasi.
1. Intra Capsuler Cataract Ekstraksi (ICCE)
Tindakan pembedahan dengan mengeluarkan seluruh lensa bersama kapsul. Seluruh le
nsa dibekukan di dalam kapsulnya dengan cryophake dan depindahkan dari mata mela
lui incisi korneal superior yang lebar. Sekarang metode ini hanya dilakukan hany
a pada keadaan lensa subluksatio dan dislokasi. Pada ICCE tidak akan terjadi kat
arak sekunder dan merupakan tindakan pembedahan yang sangat lama populer.
ICCE tidak boleh dilakukan atau kontraindikasi pada pasien berusia kurang dari 4
0 tahun yang masih mempunyai ligamen hialoidea kapsular.
Penyulit yang dapat terjadi pada pembedahan ini astigmatisme, glukoma, uveitis,
endoftalmitis, dan perdarahan.
2. Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE)
Tindakan pembedahan pada lensa katarak dimana dilakukan pengeluaran isi lensa de
ngan memecah atau merobek kapsul lensa anterior sehingga massa lensa dan kortek
lensa dapat keluar melalui robekan.
Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endote
l, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intra ocular posterior, perencana
an implantasi sekunder lensa intra ocular, kemungkinan akan dilakukan bedah gluk
oma, mata dengan prediposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, mata sebelahny
a telah mengalami prolap badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi retina, ma
ta dengan sitoid macular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada
saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca.
Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak se
kunder.
3. Phakoemulsifikasi
Phakoemulsifikasi (phaco) maksudnya membongkar dan memindahkan kristal lensa. Pa
da tehnik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3mm) di kornea. Get
aran ultrasonic akan digunakan untuk menghancurkan katarak, selanjutnya mesin PH
ACO akan menyedot massa katarak yang telah hancur sampai bersih. Sebuah lensa In
tra Okular yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Karena incisi
yang kecil maka tidak diperlukan jahitan, akan pulih dengan sendirinya, yang mem
ungkinkan pasien dapat dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari.
Tehnik ini bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik, dan kebanyakan katarak
senilis. Tehnik ini kurang efektif pada katarak senilis padat, dan keuntungan i
ncisi limbus yang kecil agak kurang kalau akan dimasukkan lensa intraokuler, mes
kipun sekarang lebih sering digunakan lensa intra okular fleksibel yang dapat di
masukkan melalui incisi kecil seperti itu.
4. SICS
Teknik operasi Small Incision Cataract Surgery (SICS) yang merupakan teknik pemb
edahan kecil.teknik ini dipandang lebih menguntungkan karena lebih cepat sembuh
dan murah ³.
Pengobatan pada katarak adalah pembedahan. Untuk menentukan waktu kapan katarak
dapat dibedah ditentukan oleh keadaan tajam penglihatan dan bukan oleh hasil pem
eriksaan.
Digunakan nama insipien, imatur, dan hipermatur didasarkan atas kemungkinan terj
adinya penyulit yang dapat terjadi. Bila pada stadium imatur terjadi glaukoma ma
ka secepatnya dilakukan pengeluaran lensa walaupun kekruhan lensa belum total. D
emikian pula pada katarak matur dimana bila masuk ke dalam stadium lanjut hiperm
tur maka penyulit mungkin akan tambah berat dan sebaiknya pada stadium matur sud
ah dilakukan tindakan pembedahan.
Ekstraksi lensa sebenarnya suatu tindakan yang sederhana, namun resikonya berat.
Kesalahan pada tindakan pembedahan atau terjadinya infeksi akan mengakibatkan h
ilangnya penglihatan tanpa dapat diperbaiki lagi. Pembedahan biasanya dengan ane
stesi lokal. Hanya orang-orang yang tidak tenang, neurosis atau takut dilakukan
dalam narkosa umum.
Pembedahan katarak senilis dikenal 2 bentuk yaitu intrakapsular atau ekstrakapsu
lar. Ekstraksi katarak intrakapsular merupakan tindakan umum pada katarak senil
karena bersamaan dengan proses degenerasi lensa juga terjadi degenerasi zonulaZi
nn sehingga dengan memutuskan zonula ini dengan menarik lensa, maka lensa dapat
keluar bersama-sama dengan kapsul lensa.
Katarak ekstraksi ekstrakapsular dilakukan dengan merobek kapsul anterior lensa
dan mengeluarkan dilakukan pada katarak senil bila tidak mungkin dilakukan intra
kapsular misal pada keadaan terdapatnya banyak sinekia posterior bekas suatu uve
itis sehingga bila kapsul ditarik akan mengkibatkan penarikan kepada iris yang a
kan menimbulkan perdarahan. Ekstrakapsular sering dianjurkan pada katarak dengan
miopia tinggi untuk mencegah mengalirnya badan kaca yang cair keluar, dengan me
ninggalkan kapsul posterior untuk menahannya. Pada saat ini ekstrakapsular lebih
dianjurkan pada katarak senil untuk mencegah degenerasi makula pasca bedah. sua
ra frekuensi tinggi (40.000 MHz), dan masa lensa yang sudah seperti bubur dihisa
p melalui sayatan yang lebarnya cukup 3.2 mm. Untuk memasukkan lensa intraokular
yang dapat dilipat (foldable IOL) lubang sayatan tidak selebar sayatan pada eks
traksi katarak ekstrakapsulat. Keuntungan bedah dengan sayatan kecil ini adalah
penyembuhan yang lebih cepat dan induksi terjadinya astigmatismat akan lebih kec
il.
Persiapan bedah katarak
Dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan, Uji Anel, Tonometri dari ada atau tidak
adanya infeksi di sekitar mata. Pemeriksaan keadaan umum penderita sebaiknya su
dah terkontrol gula darah, tekanan darah selain penderita sudah diperiksa paru u
ntuk mencegah kemungkinan batuk pada saat pembedahan atau pasca bedah
Perawatan pasca bedah
Jika digunakan tehnik insisi kecil, maka penyembuhan pasca operasi biasanya lebi
h pendek. Pasien dapat bebas rawat jalan pada hari itu juga, tetapi dianjurkan u
ntuk bergerak dengan hati-hati dan menghindari peregangan atau mengangkat benda
berat selama sekitar satu bulan, olahraga berat jangan dilakukan selama 2 bulan.
Matanya dapat dibalut selama beberapa hari pertama pasca operasi atau jika nyam
an, balutan dapat dibuang pada hari pertama pasca operasi dan matanya dilindungi
pakai kacamata atau dengan pelindung seharian. Kacamata sementara dapat digunak
an beberapa hari setelah operasi, tetapi biasanya pasien dapat melihat dengan ba
ik melui lensa intraokuler sambil menantikan kacamata permanen ( Biasanya 6-8 mi
nggu setelah operasi )2,5.
Selain itu juga akan diberikan obat untuk :
- Mengurangi rasa sakit, karena operasi mata adalah tindakan yang menyayat maka
diperlukan obat untuk mengurangi rasa sakit yang mungkin timbul benerapa jam set
elah hilangnya kerja bius yang digunakan saat pembedahan.
- Antibiotik mencegah infeksi, pemberian antibiotik masih dianggap rutin dan per
lu diberikan atas dasar kemungkinan terjadinya infeksi karena kebersihan yang ti
dak sempurna. 2,3,10
- Obat tetes mata streroid. Obat yang mengandung steroid ini berguna untuk mengu
rangi reaksi radang akibat tindakan bedah.
- Obat tetes yang mengandung antibiotik untuk mencegah infeksi pasca bedah.
Hal yang boleh dilakukan antara lain :
- Memakai dan meneteskan obat seperti yang dianjurkan
- Melakukan pekerjaan yang tidak berat
- Bila memakai sepatu jangan membungkuk tetapi dengan mengangkat kaki keatas.
Yang tidak boleh dilakukan antara lain :
- Jangan menggosok mata
- Jangan membungkuk terlalu dalam
- Jangan menggendong yang berat
- Jangan membaca yang berlebihan dari biasanya
- Jangan mengedan keras sewaktu buang air besar
- Jangan berbaring ke sisi mata yang baru
J. KOMPLIKASI
1. Komplikasi Intra Operatif
• Edema kornea, COA dangkal, ruptur kapsul posterior, pendarahan atau efusi suprak
oroid, pendarahan suprakoroid ekspulsif, disrupsi vitreus, incacerata kedalam lu
ka serta retinal light toxicity.
2. Komplikasi dini pasca operatif
• COA dangkal karena kebocoran luka dan tidak seimbangnya antara cairan yang kelu
ar dan masuk, adanya pelepasan koroid, block pupil dan siliar, edema stroma dan
epitel, hipotonus, brown-McLean syndrome (edema kornea perifer dengan daerah sen
tral yang bersih paling sering)
• Ruptur kapsul posterior, yang mengakibatkan prolaps vitreus
• Prolaps iris, umumnya disebabkan karena penjahitan luka insisi yang tidak adekua
t yang dapat menimbulkan komplikasi seperti penyembuhan luka yang tidak sempurna
, astigmatismus, uveitis anterior kronik dan endoftalmitis.
• Pendarahan, yang biasa terjadi bila iris robek saat melakukan insisi
3. Komplikasi lambat pasca operatif
• Ablasio retina
• Endoftalmitis kronik yang timbul karena organissme dengan virulensi rendah yang
terperangkap dalam kantong kapsuler
• Post kapsul kapacity, yang terjadi karena kapsul posterior lemah Malformasi len
sa intraokuler, jarang terjadi11,12

2.11.PENCEGAHAN2,
• 80 persen kebutaan atau gangguan penglihatan mata dapat dicegah atau dihindari.
Edukasi dan promosi tentang masalah mata dan cara mencegah gangguan kesehatan ma
ta. sebagai sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Usaha itu melipatkan berbagai
pihak, termasuk media massa, kerja sama pemerintah, LSM, dan Perdami2.
• Katarak dapat dicegah, di antaranya dengan menjaga kadar gula darah selalu norma
l pada penderita diabetes mellitus, senantiasa menjaga kesehatan mata, mengonsum
si makanan yang dapat melindungi kelainan degeneratif pada mata dan antioksidan
seperti buah-buahan banyak yang mengandung vitamin C, minyak sayuran, sayuran hi
jau, kacang-kacangan, kecambah, buncis, telur, hati dan susu yang merupakan maka
nan dengan kandungan vitamin E, selenium, dan tembaga tinggi.
• Vitamin C dan E dapat memperjelas penglihatan. Vitamin C dan E merupakan antioks
idan yang dapat meminimalisasi kerusakan oksidatif pada mata, sebagai salah satu
penyebab katarak. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 3.000 orang dewasa s
elama lima tahun menunjukkan, orang dewasa yang mengonsumsi multivitamin atau su
plemen lain yang mengandung vitamin C dan E selama lebih dari 10 tahun, ternyata
risiko terkena katarak 60% lebih kecil2.
DAFTAR PUSTAKA
1. Murril A.C, Stanfield L.D, Vanbrocklin D.M, Bailey L.I, Denbeste P.B, Dilomo
C.R, et all. (2004). Optometric clinical practice guideline. American optometric
association: U.S.A
2. Vaugan G. D, Asbury T, Eva R.P. (2000). Oftalmologi umum. Bab.20 lensa hal 40
1-406. Edisi
14. Widya medika : Jakarta.
3. Titcomb, Lucy C. Understanding Cataract Extraxtion, last update 22 November 2
010
4. Zorab, A. R, Straus H, Dondrea L. C, Arturo C, Mordic R, Tanaka S, et all. (2
005-2006). Lens and Cataract. Chapter 5 Pathology page 45-69. Section 11. Americ
an Academy of Oftalmologys : San Francisco.
5. Ilyas,Sidharta. Katarak lensa mata Keruh. Glosari Sinopsis. Cerakan Kedua. Ba
lai Penerbitan FKUI.Jakarta. 2007.
7. Ilyas, Sidharta; Mailangkay; Taim, Hilman; Saman,Raman; Simarmata,Monang
; Widodo,Purbo. Ilmu Penyakit Mata untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran. E
disi kedua. Sagung Seto.Jakarto. 2002.
8. Ilyas,Sidharta. Ilmu Penyakit Mata. Cetakan ketiga. Balai Penerbitan FKU
I.Jakarta. 2006.