Anda di halaman 1dari 41

1/22/2014

SISTEM MANAJEMEN
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
DALAM
STANDAR SUSTAINABILITY PALM OIL

HEALTH & SAFETY SECTION


DEPT. EHS PT. SMART TBK

MODUL PELATIHAN SPO OFFICER

OBJECTIVE

1. PIC mengetahui pengertian dasar-dasar K3.


2. PIC memahami aspek K3 dalam sertifikasi
SPO
3. PIC mampu menjelaskan tahapan
pemenuhan K3 dalam operasional
perusahaan

1
1/22/2014

Pokok Bahasan

1. Dasar - dasar K3
2. Prinsip K3 dalam SPO Standar

DASAR – DASAR K3

2
1/22/2014

Keselamatan dan Kesehatan


Kerja

Segala kegiatan untuk


menjamin dan melindungi
keselamatan dan kesehatan
tenaga kerja melalui upaya
pencegahan kecelakaan kerja
dan penyakit akibat kerja *)
* PP NO 50 TAHUN 2012

(ACCIDENT PREVENTION) 5

Safety Culture

3
1/22/2014

Piramida Kecelakaan

Data dilaporkan 1 Kematian/ Kec.Serius


dan tercatat

10 Kecelakaan Ringan

Kerusakan Properti /
30 Peralatan / Bangunan
Data tidak
dilaporkan dan Nyaris Celaka
tidak tercatat 600 • Perbuatan &
Kondisi Tidak
Aman
1.000
• Bahaya
7

GUNUNG ES - BIAYA KECELAKAAN


BIAYA KECELAKAAN DAN PENYAKIT
• Pengobatan/ Perawatan
• Gaji (Biaya Diasuransikan)
1X
• Kerusakan gangguan
• Kerusakan peralatan dan perkakas
• Kerusakan produk dan material
5X HINGGA 50X •

Terlambat dan ganguan produksi
Biaya legal hukum
BIAYA DALAM PEMBUKUAN:
• Pengeluaran biaya untuk penyediaan fasilitas
KERUSAKAN PROPERTI
(BIAYA YANG TAK dan peralatan gawat darurat
DIASURANSIKAN) • Sewa peralatan
• Waktu untuk penyelidikan

• Gaji terus dibayar untuk waktu yang hilang


1X HINGGA 3X • Biaya pemakaian pekerja pengganti dan/ atau
biaya melatih
BIAYA LAIN YANG
TAK DIASURANSIKAN • Upah lembur
• Ekstra waktu untuk kerja administrasi
• Berkurangnya hasil produksi akibat dari
sikorban
• Hilangnya bisnis dan nama baik

8
8

4
1/22/2014

Penyebab dan Akibat Kerugian

LEMAHNYA SEBAB PENYEBAB INSIDEN KERUGIAN


KONTROL DASAR LANGSUNG (Kontak)
PROGRAM
TAK SESUAI FAKTOR PERBUATAN <KEJADIAN> KECELAKAAN
PERORANGAN TAK AMAN KONTAK
STANDAR DENGAN ATAU
&
TAK SESUAI FAKTOR KONDISI ENERGI KERUSAKAN
KERJA TAK AMAN ATAU YANG TAK
KEPATUHAN BAHAN/ ZAT
PELAKSANAAN DIHARAPKAN

THE ILCI LOSS CAUSATION MODEL


Bird & German, 1985
9

PENGENDALIAN KERUGIAN

PRE CONTACT CONTACT POST


CONTROL CONTROL CONTACT
CONTROL
Pengembangan dan peninjauan sistem Subsitusi &
manajemen, pelatihan, penetapan minimisasi Menerapkan
program dan memeliharanya energi, Rencana
barricade, Penanggulangan
perbaikan Darurat
permukaan objek 10
penyebab

5
1/22/2014

PRINSIP-PRINSIP K3

1. Semua kecelakaan dan penyakit akibat kerja


dapat dicegah;
2. K3 adalah bagian integral dari budaya, nilai dan
operasi perusahaan;
3. Manajemen harus menetapkan kebijakan,
menyiapkan sarana/prasarana dan menjamin
sepenuhnya penerapan K3;
4. K3 adalah bagian integral dari perilaku,
tanggung jawab dan peran setiap tenaga kerja;
5. Setiap tenaga kerja harus mempunyai rasa
memiliki dalam pelaksanaan operasi
perusahaan;
11

PRINSIP-PRINSIP K3
Lanjutan

6. Setiap tenaga kerja harus memimpin,


mengatur dirinya sendiri dan mengoreksi satu
sama lain;
7. Semua potensi bahaya harus diidentifikasi
dan dikendalikan;
8. Semua kekurangan harus dilakukan koreksi;
9. Akuntabilitas K3 harus ditetapkan, kinerja
diukur dan diketahui;
10. K3 adalah “good for business success, vitality
and sustainability”.

12

6
1/22/2014

SISTEM MANAJEMEN K3
Bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi :

- Struktur organisasi,
- Perencanaan,
- Tanggung jawab,
- Pelaksanaan,
- Prosedur,
- Proses dan sumberdaya

yang dibutuhkan bagi :

Pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan


kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian
risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja
yang aman, efisien dan produktif *).
* PP NO 50 TAHUN 2012
13

SISTEM MANAJEMEN K3

Wajib
Dilaksanakan oleh perusahaan disemua
sektor dan terintegrasi dgn sistem
Manajemen Perusahaan
Harus Memenuhi Persyaratan Minimum :
- 5 prinsip dasar
- 12 elemen

Untuk perusahaan-2 di sektor kegiatan usaha tertentu dapat


menambah sesuai jenis dan tingkat resiko bahaya yg ada
atas persetujuan Menteri
14

7
1/22/2014

Sistem Manajemen K3

Peningkatan 1. Kebijakan K3
Berkelanjutan Penetapan
Kebijakan K3

2. Pemenuhan
Peraturan K3
Peninjauan&
Peningkatan Perencanaan 3. Organisasi K3
Kinerja SMK3 K3 4. ISBPR

5. Pelatihan K3
6. Pemeriksaan Kesehatan
•Monitoring 7. APD
•Audit Pemantauan &
Pelaksanaan 8. Pengendalian Kontraktor
Internal Evaluasi
Rencana K3 9. Rambu K3
Kinerja K3
10. Tanggap Darurat
11. Kecelakaan Kerja dan
* PP No. 50 Tahun 2012
Jamsostek 15

PENERAPAN SMK3 DALAM


SPO STANDAR

16

8
1/22/2014

Prinsip dan Kriteria Penerapan SMK3


dalam SPO
Kata Kunci ISPO RSPO ISCC 202
1. Kebijakan K3 4.1 4.7.1M 3.1.1m
2. Pemenuhan Peraturan K3 1.7 2.1.1M 5.2M
3. Organisasi K3 4.1 4.7.2M 4.7m, 4.9m
4. ISBPR 4.1 4.7.3m 3.1.1m
5. Pelatihan K3 4.1 4.7.4m, 4.7.7m 3.1.5m, 3.1.6M,
3.1.7m
6. Pemeriksaan Kesehatan 4.1 4.7.2m -
7. APD 4.1 4.7.6m 3.1.3M
8. Pengendalian Kontraktor 4.1 4.8.3m -
9. Rambu K3 4.1 - 3.1.4m
10. Tanggap Darurat 3.3 4.7.5m, 5.5.3M, 3.1.2m
5.5.1m
11. Kecelakaan Kerja & Jamsostek 4.1 4.7.1m, 4.7.8m -
12. P3K 4.1 4.7.6m, 4.7.7m 3.1.2m 17

1. Prinsip dan Kriteria Kebijakan K3

4.1. Pengelola perkebunan wajib


menerapkan Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3)

4.7.1. Bukti adanya dokumentasi


kebijakan program kesehatan dan
keselamatan kerja dan
implementasinya. (Major)

3.1.1. The farm has a health, safety and


hygiene policy and procedures
including issues of the risk assessment.
(Minor) 18

9
1/22/2014

Kebijakan K3 PT SMART Tbk


Penetapan kebijakan K3 harus :
• Disusun setelah melalui
konsultasi dengan wakil
tenaga kerja
• Mengkomunikasikan kpd
seluruh tenaga kerja, tamu,
kontraktor, pemasok, dan
pelanggan
• Ditinjau ulang secara berkala

* PP No. 50 Tahun 2012

19

2. Prinsip dan Kriteria Pemenuhan


Peraturan K3

1.7. Perkebunan harus memiliki


perencanaan jangka panjang untuk
memproduksi minyak sawit lestari

2.1.1. Bukti pemenuhan persyaratan


hukum yang berlaku dan terkait (Major)

5.2. There is awareness of, and


compliance with, all applicable regional
and national laws and ratified
international treaties (Major) 20

10
1/22/2014

Regulasi Terkait K3

 Hiperkes bagi Dokter Perusahaan (Permen


Kompetensi 1/1976)
1
Personil  Hiperkes bagi Paramedis (Permen 1/1979)
 Dokter Pemeriksa Naker (Permen 2/1980)
 Juru Las (Permen 2/1982)
 Ahli K3 (Permen 2/1992)
2 Organisasi  Operator Pesawat Uap (Permen 1/1988)
 Operator Pesawat Angkat Angkut (Permen
9/2010)
 Teknisi Listrik (Kepdirjen 311/BW/2002)
3 Pelayanan  Petugas P3K (Permen 15/2008)
 Pelatihan Pestisida Terbatas (Permentan
24/2011)
Mesin dan  Petugas Peran Kebakaran (Kepmen 186/1999)
4
Peralatan

21

Regulasi Terkait K3

Kompetensi
1
Personil

 P2K3 (Permen 4/1987)


2 Organisasi  Regu penanggulangan kebakaran (Kepmen
186/1999)

3 Pelayanan

Mesin dan
4
Peralatan

22

11
1/22/2014

Regulasi Terkait K3

Kompetensi
1
Personil

2 Organisasi

 Jamsostek (PP 14/1993, PP 53/2012)


 Pemeriksaan Kesehatan (Permen 2/1980)
3 Pelayanan  Jaminan Kecelakaan Kerja (Permen 4/1993)
 P3K (Permen 15/2008)

Mesin dan
4
Peralatan

23

Regulasi Terkait K3

Kompetensi
1
Personil

2 Organisasi

 Pesawat Uap (Peraturan Uap dan UU Uap)


 Bejana Tekanan (Permen 1/1982)
3 Pelayanan  Pesawat Tenaga Produksi (Permen 4/1985)
 Pesawat Angkat Angkut (Permen 5/1985)
 Instalasi Penyalur Petir (Permen 2/1989)
Mesin dan  Instalasi Listrik (Kepmen 75/2002)
4  Instalasi Hidrant (Ins.11/1997)
Peralatan

24

12
1/22/2014

3. Prinsip dan Kriteria Pemenuhan


Organisasi K3

4.1. Pengelola perkebunan wajib menerapkan


Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3)

4.7.2. Orang yang bertanggung jawab dalam


program kesehatan dan keselamatan kerja harus
diidentifikasi dan tersedia rekaman pertemuan
berkala untuk membicarakan masalah kesehatan,
keselamatan, dan kesejahteraan pekerja.(Major)

4.7. The person responsible for workers' health, safety and good social
practice and the elected individual(s) of trust have knowledge about and/or
access to recent national labour regulations/collective bargaining agreements
(Minor)
4.9. The management does hold regular two-way communication meetings
with their employees where issues affecting the business or related to worker
health, safety and welfare can be discussed openly (Minor)
25

Organisasi P2K3

* Permenaker No 4 / 1987

26

13
1/22/2014

Dokumentasi P2K3

Form Notulen Rapat P2K3

Laporan Triwulan P2K3

27

Surat Penunjukan & Sertifikat AK3

ISPO : 4.1.2
RSPO : 4.7.2. Major
ISCC : 4.7 Minor

28 28

14
1/22/2014

4. Prinsip dan Kriteria Pemenuhan


ISBPR
4.1. Pengelola perkebunan wajib
menerapkan Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3)

4.7.3. Rekaman analisis resiko untuk


program kesehatan dan keselamatan
kerja. (Minor)

3.1.1. The farm has a health, safety and


hygiene policy and procedures
including issues of the risk assessment
(Minor) 29

Definisi

 Bahaya adalah suatu kondisi yang telah teridentifikasi melalui


pemeriksaan/pengujian/analisis disimpulkan telah menunjukkan melampaui
batas aman.

 Insiden adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan, bilamana pada saat
itu sedikit saja ada perubahan maka dapat mengakibatkan terjadinya
accident.

 Accident adalah suatu kejadian yang tidak direncanakan, tidak diinginkan,


gangguan terhadap pekerjaan berakibat cedera pada manusia, kerusakan
barang, dan pencemaran lingkungan.

30

15
1/22/2014

Bahaya, Insiden, Accident

DANGER putus
INSIDENT
hampir putus

ACCIDENT
31

Identifikasi Bahaya

Harus mencakup :
 Kegiatan rutin dan non rutin
 Kegiatan seluruh personel yang mempunyai
akses ke tempat kerja termasuk kontraktor dan
tamu
 Fasilitas, prasarana, peralatan, material di tempat
kerja
 Rancangan area kerja, proses instalasi, mesin
 Perilaku

32

16
1/22/2014

Jenis Sumber Bahaya

• Hazard Gb. 1 Gb. 2

– Physical
– Chemical
– Electrical
– Mechanical
– Physiological
– Biological
– Ergonomic Gb. 3 Gb. 4

33

Definisi Risiko

Risiko adalah kombinasi dari kemungkinan dan keparahan


dari suatu peristiwa berbahaya yang terjadi
Risiko = Probability x Severity

Peluang (Probability) :
kemungkinan terjadinya suatu kecelakaan/ kerugian ketika
terpapar dengan suatu bahaya.
Keparahan (Severity) :
tingkat keparahan/kerugian yang mungkin terjadi dari suatu
kecelakaan/loss akibat bahaya yang ada.
AS/NZS 4360 : RISK MANAGEMEN

34

17
1/22/2014

Risk Management
PERSIAPAN M
O
KO N
MU I
IDENTIFIKASI BAHAYA
NI T
KA O
SI R
ANALISA RISIKO
& &

KON R
SUL E
EVALUASI/PENILAIAN RISIKO
TA V
SI I
E
PENGENDALIAN RISIKO W
35

Level Risk Value


Severity
1 2 3 4 5
SUMBER AS/NZS 4360 : RISK MANAGEMENT

RISK = Probability x Severity


Tidak Minor/ Sedang/ Fatal/
Major
Signifikan First aid Moderate Parah
A
Selalu terjadi/
almost certain
H H E E E
B
M H H E E
Probability

Sering terjadi / likely


C
Mungkin sering terjadi/ Possible L M H E E
D
Jarang terjadi/ unlikely L L M H E
E
Jarang sekali terjadi / Rare L L M H H
E (Extreme): Pertimbangkan untuk penghentian kegiatan
H (High) : Lakukan tindakan pengurangan RISIKO secepatnya
M (Moderate): Penjadualan dan penetapan tanggung jawab tindakan akan ditetapkan
L (Low) : Kendalikan dengan prosedur yang ada/ rutin
36

18
1/22/2014

hl 1

Form Analisa Risiko


ANALISA RESIKO

F/SMART/HESS-EHSD/SADV/002/002 FORMULIR Rev: 0.0

Unit Kerja :
Periode :
Identifikasi Bahaya Potensial Analisa Risiko Awal
No Aktifitas R NR E Kendali Yang Ada Tingkat Tingkat Tingkat
Sumber/Kejadian Dampak
Kemungkinan Keparahan Risiko
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)

Keterangan :
R : Rutin (normal)
NR : Non Rutin (abnormal)
E : Emergency (darurat)

……………………, ……………………
Dibuat Oleh Disetujui Oleh

Safety Officer Manager

37

Prinsip Dasar Pengendalian


Bahaya

Risk assessment Tindakan


identifikasi & Pengendalian
analisa potensi bahaya
bahaya

HAZARD CONTROL

38

19
1/22/2014

Hirarki Pengendalian Bahaya


 Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya
ELIMINASI

 Proses menyapu diganti dengan vakum


SUBTITUSI  Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen
 Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan

ENGINEERING  Pemasangan alat pelindung mesin (mechine guarding)


CONTROL  Pemasangan general dan local ventilation

ADMINISTRATIVE  Pergantian shift kerja


CONTROL  Pembentukan sistem kerja
 Pelatihan karyawan
 Pengaturan kerja dengan SOP, Instruksi kerja (IK) dll

PPE  Helmet, Safety Shoes, Ear plug/muff, Safety goggles

39

CONTOH PENERAPAN
PENGENDALIAN RISIKO

40

20
1/22/2014

Form Tindak Lanjut dan Tinjauan


Ulang Risiko
Unit Kerja :
Periode :
Identifikasi Bahaya Potensial Rencana Pengendalian Resiko Selanjutnya Analisa Risiko Selanjutnya
Tingkat
No Aktifitas Tingkat Tingkat
Sumber/ Kejadian Dampak Risiko Awal Eliminasi Substitusi Engineering Administratif APD Tingkat Risiko
Kemungkinan Keparahan

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13)

R : Rutin (normal)
NR : Non Rutin (abnormal)
E : Emergency (darurat)
…………………, ………………………….
Disusun/Di review Oleh Disetujui Oleh

Safety Officer Manager

41

Form Program K3

42

21
1/22/2014

5. Prinsip dan Kriteria Pemenuhan


Pelatihan K3

4.1. Pengelola perkebunan wajib menerapkan Sistem Manajemen


Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)

4.7.4. Rekaman training atau pelatihan program kesehatan dan


keselamatan kerja. (Minor)
4.7.7. Para pekerja yang telah mendapatkan pelatihan
pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) harus berada dalam
kegiatan operasional di lapangan dan pabrik. (Minor)

3.1.5. There are records kept for training activities and attendees (Minor)
3.1.6. All workers handling and/or administering chemicals, disinfectants, plant
protection products, biocides or other hazardous substances and all workers
operating dangerous or complex equipment as defined in the risk assessment have
certificates of competence, and/or details of other such qualifications. (Major)
3.1.7. All workers received adequate health and safety training and they are
instructed according to the risk assessment (Minor)
43

Pelatihan K3

Jenis Pelatihan

Eksternal Internal
(Kemenakertrans, Disnaker, PJK3, (Personal terlatih, dokter, safety
BNSP, Disbun) officer, SADV, & departemen terkait)
• AK3 U • Training ISBPR
• Hyperkes, • Tanggap Darurat
• Juru las • P3K
• Kompes • Instruksi Kerja
• Peran kebakaran • Resiko Bahaya
• P3K (lisensi Disnaker) • APD
• Operator pesawat uap • MSDS dll
• Operator PAA
• Teknisi listrik

Pelatihan kepada tenaga kerja baru, mutasi dan kenaikan jabatan


44

22
1/22/2014

6. Prinsip dan Kriteria Pemenuhan


Pemeriksaan Kesehatan
4.1. Pengelola perkebunan wajib
menerapkan Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3)

4.7.2. Pemeriksaan berkala bagi


karyawan yang bekerja di stasiun-
stasiun atau pekerjaan yang beresiko
tinggi oleh dokter. (Minor)

-
45

Prosedur Pemeriksaan Kesehatan


Pemeriksaan Kesehatan :
1. Sebelum bekerja
2. Berkala
3. Khusus

Hasil pemeriksaan kesehatan harus :


 Dievaluasi oleh dokter/paramedis → Rekomendasi
 Ditindaklanjuti rekomendasinya oleh manager
 Dilaporkan paling lambat 2 bulan ke Disnaker setelah
pemeriksaan

Dasar hukum :
Permenaker No 2/1980
46

23
1/22/2014

Form Program Pemeriksaan


Kesehatan

47

Form Rekap Hasil Pemeriksaan


Kesehatan

48

24
1/22/2014

7. Prinsip dan Kriteria


Pemenuhan Alat Pelindung Diri

4.1. Pengelola perkebunan wajib menerapkan Sistem


Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)

4.7.6. Bukti pemenuhan peralatan program kesehatan


dan keselamatan kerja dan peralatan pertolongan
pertama pada kecelakaan (P3K) di lokasi kerja.(Minor)

3.1.3. Workers (including subcontractors) are equipped


with suitable protective clothing in accordance with legal
requirements and/or label instructions or as authorised by
a competent authority. Protective clothing is cleaned after
use and stored so as to prevent contamination of clothing
or equipment (Major) 49

Prosedur Manajemen APD

Identifikasi kebutuhan APD

Distribusi APD

Sosialisasi APD

Monitoring kondisi APD

Inspeksi ketidakdisiplinan pemakaian APD

Punishment and reward

50

25
1/22/2014

Form Monitoring Kondisi APD

51

Form Inspeksi Kepatuhan


Penggunaan APD

52

26
1/22/2014

Contoh Pemakaian APD

53

8. Prinsip dan Kriteria Pemenuhan


Pengendalian Kontraktor
4.1. Pengelola perkebunan wajib
menerapkan Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3)

4.8.3. Bukti bahwa Perusahaan


menggunakan kontraktor yang terlatih
(Minor)

-
54

27
1/22/2014

Penerapan K3 pada Kontraktor

1. Terdapat klausul mengenai K3 dalam SPK


2. Identifikasi Sumber Bahaya sebelum dimulainya
pekerjaan

55

Penerapan K3 pada Kontraktor


3. Pengawasan K3 selama aktivitas kerja berlangsung

56

28
1/22/2014

Penerapan K3 pada Kontraktor


4. Evaluasi penerapan K3 setelah pekerjaan selesai

57

Contoh Kegiatan Kontraktor yang


Harus Dikendalikan

58

29
1/22/2014

9. Prinsip dan Kriteria Pemenuhan


Rambu K3
4.1. Pengelola perkebunan wajib
menerapkan Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3)

3.1.4. Potential hazards are clearly


identified by warning signs and placed
where appropriate (Minor)
59

Contoh Pemasangan Rambu K3

60

30
1/22/2014

Tanda Peringatan Bahaya


ditempat kerja

61

10. Prinsip dan Kriteria


Pemenuhan Tanggap Darurat
3.3. Pengelolaan perkebunanharus melakukan pencegahan
dan penanggulangan kebakaran.

4.7.5. Prosedur kesiapsiagaan dan tanggap darurat. (Minor)


5.5.3Prosedur dan rekaman Tanggap Darurat Kebakaran
Lahan (Mayor)
5.5.1. Sarana dan prasarana penanggulangan kebakaran
lahan sesuai tingkat kerawanannya. (Minor)

3.1.2. First Aid kits are present at all permanent sites and in
the vicinity of fieldwork (Minor)

62

31
1/22/2014

Alur Kesiapsiagaan Tanggap


Darurat

63

Struktur Tim Tanggap Darurat

64

32
1/22/2014

Alur Tanggap Darurat


Alur Kebakaran/Ledakan

Alur Kebakaran Lahan


65

Form Daftar Peralatan Tanggap


Darurat

66

33
1/22/2014

Form Monitoring Peralatan


Tanggap Darurat

67

Form Monitoring Peralatan


Tanggap Darurat

68

34
1/22/2014

Alur Simulasi Tanggap Darurat

69

Form Skenario Tanggap Darurat

70

35
1/22/2014

Form Evaluasi Simulasi Tanggap


Darurat

71

Dokumentasi Tanggap Darurat

72

36
1/22/2014

11. Prinsip dan Kriteria Pemenuhan


Kecelakaan Kerja dan Jamsostek

4.1. Pengelola perkebunan wajib menerapkan


Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (SMK3)

4.7.1 Tersedia asuransi kecelakaan kerja bagi


tenaga kerja (Minor)
4.7.8. Rekaman tentang kecelakaan kerja yang
terjadi harus disimpan dengan baik dan secara
berkala ditinjau kembali. (Minor)

73

Alur Penanganan Kecelakaan


Kerja
Penanganan Korban

Pelaporan ke Safety Officer

Investigasi

Pelaksanaan tindakan perbaikan, tindakan


pencegahan dan monitoringnya

Klaim ke Jamsostek dan Pelaporan ke Disnaker

Pencatatan kecelakaan kerja SR – FR

74

37
1/22/2014

Pencatatan Kecelakaan Kerja


FR-SR
• Frequency Rate (FR) adalah jumlah kecelakaan yang
menyebabkan terjadinya hari hilang yang dialami suatu
perusahaan.

• Severity Rate (SR) adalah jumlah hari hilang yang


dialami perusahaan karena karyawan tidak masuk kerja
akibat terjadinya kecelakaan kerja.

75

Statistik Kecelakaan Kerja

GRAFIK TINGKAT KECELAKAAN (Frequency Rate/FR)


SMART, Tbk (HOLDING)
TAHUN 2010-2013

70.00

60.00

50.00

40.00

30.00

20.00

10.00

0.00
Apr

Apr

Apr

Apr
Feb

Jun

Sep

Nop

Feb

Jun

Sep

Nop

Feb

Jun

Sep

Nop

Feb

Jun

Sep

Nop
Okt

Okt

Okt

Okt
Mei

Jul

Mei

Jul

Mei

Jul

Mei

Jul
Des

Des

Des

Des
Mar

Mar

Mar

Mar
Jan

Jan

Jan

Jan
Agust

Agust

Agust

Agust

TAHUN 2010 TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013

76

38
1/22/2014

12. Pertolongan Pertama Pada


Kecelakaan (P3K)

4.1. Pengelola perkebunan wajib menerapkan Sistem


Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)

4.7.6 Tersedia asuransi kecelakaan kerja bagi tenaga kerja


(Minor)
4.7.7. Para pekerja yang telah mendapatkan pelatihan
pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) harus berada
dalam kegiatan operasional di lapangan dan pabrik. (Minor)

3.1.2 First Aid kits are present at all permanent sites and in
the vicinity of fieldwork (Minor)

77

Design Emergency Shower

78

39
1/22/2014

Design Emergency Shower

79

P3K sesuai Permenaker No 15


Tahun 2008

ISPO : 3.3 ; 4.1


ISCC : 3.1
RSPO : 4.7
80

40
1/22/2014

81

Terima Kasih
Think Safety !

82

41

Anda mungkin juga menyukai