Anda di halaman 1dari 18

 Home

blognya farmasis muda


asam manis hidupku..
Stay updated via RSS

 Lhitasha

luruskan niat
sempurnakan ikhtiar
akhiri dengan tawakal

keep faith in what i dream about...

 TangGaL bERaPa?
October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
  1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31  
 Ada Apa Aja???
o about me/ tentang saya (14)
o biokimia (14)
o BIOLOGI (3)
o bioteknologi (5)
o cerita-cerita (3)
o farmakognosi (4)
o farmakologi (4)
o farmakoterapi (3)
o herbal (3)
o imunologi virologi (10)
o kesehatan (27)
o kimia medisinal (4)
o lain-lain (10)
o lingkungan kita (5)
o mikrobiologi (3)
o nutrasetikal (1)
o Parasitologi (8)
o politik (9)
o Sains (4)
o semisolid (2)
o tentang islam (33)
o Uncategorized (14)
o uneg-uneg (10)
o wilkommen (1)
 Komentar kamu

filzahazny on semogaa

filzahazny on Hipersensitivitas

filzahazny on PENGARUH POLA TIDUR BAGI …

miss. T on Teori Abiogenesis dan Bio…

Xadako on Ginjal


 Top Posts
o Antigen dan Antibodi
o Urin
o DI BALIK PERJANJIAN EKSTRADISI INDONESIA SINGAPURA
o Teori Masuknya Islam ke Indonesia
o SALEP
o KLORAMFENIKOL
o enzim
o Teori Abiogenesis dan Biogenesis
o karbohidrat
o Klasifikasi virus
 Yang tersesat disini
o 294,604 hits
 lomba blog depok

kunjungi : lomba blog depok

 Beat Blog Writing Contest-Green Mind-

 Blogroll
o Adit
o al-ikhwan
o alhamdulillah
o dudung.net
o era muslim
o facebook ku
o Farmasi UI
o Gama
o Gaul Islam
o ka adri
o ka hifdzi
o ka iyan
o ka nita
o ka zul
o kak ali
o kak tika
o mirzah
o mushola izzatul islam
o SALAM UI
o ummah
o WordPress.com
o WordPress.org

VIROLOGI
Posted: October 31, 2008 by filzahazny in imunologi virologi
Tags: VIROLOGI, VIRUS
2
 
5 Votes

1. A. Sifat-sifat Virus

Virus adalah agen infeksius terkecil (dengan diameter antara 20 nm sampai dengan
kira-kira 300nm) yang hanya mempunyai 1 jenis asam nukleat (RNA atau DNA saja)
sebagai genom mereka. Asam nukleat terbungkus mantel protein yang dikelilingi oleh
membran dari lipid. Unit infeksius secara keseluruhan disebut virion. Dalam lingkungan
ekstraseluler virus akan bersifat inert (pasif). Virus hanya akan mengalami replikasi di
dalam sel hidup dengan menjadi parasit pada tingkat gen. Asam nukleat virus
mengandung informasi penting untuk bisa menghasilkan keturunannya yaitu dengan cara
memprogram sel inang yang diinfeksinya agar mensintesis makromolekul virus-spesifik.

Setiap siklus replikasi menghasilkan asam nukleat dan mantel protein virus dalam
jumlah yang banvak. Mantel protein virus bergabung bersama-sama membentuk kapsid
yang berfungsi membungkus dan menjaga stabilitas asam nukleat virus terhadap
lingkungan ekstraseluler. Selain itu juga berfungsi untuk mempermudah penempelan
serta penetrasi virus terhadap sel baru yang dapat dimasukinya. Infeksi virus terhadap sel
inang yang dimasukinya dapat berefek ringan atau bahkan tidak berefek sama sekali
namun mungkin juga bisa membuat sel inang rusak atau bahkan mati.

Adapun sifat-sifat khusus virus menurut Lwoff, Home dan Tournier (1966) adalah:

1. Bahan genetik virus terdiri dari asam ribonukleat (RNA) atau asam
deoksiribonukleat (DNA), akan tetapi tidak terdiri dari kedua jenis asam nukleat
sekaligus.
2. Struktur virus secara relatif sangat sederhana, yaitu terdiri dari pembungkus yang
mengelilingi atau melindungi asam nukleat.
3. Virus mengadakan reproduksi hanya dalam sel hidup, yaitu di dalam nukleus,
sitoplasma atau di dalam keduanya dan tidak mengadakan kegiatan metabolisme
jika berada di luar sel hidup.
4. Virus tidak membelah diri dengan cara pembelahan biner. Partikel virus baru
dibentuk dengan suatu proses biosintesis majemuk yang dimulai dengan
pemecahan suatu partikel virus infektif menjadi lapisan protein pelindunng dan
komponen asam nukleat infektif.
5. Asam nukleat partikel virus yang menginfeksi sel mengambil alih kekuasaan dan
pengawasan sistem enzim hospesnya, sehingga selaras dengan proses sintesis
asam nukleat dan protein virus.
6. Virus yang menginfeksi sel mempergunakan ribosom sel hospes untuk keperluan
metabolismenya.
7. Komponen-komponen utama virus dibentuk secara terpisah dan baru digabung di
dalam sel hospes tidak lama sebelum dibebaskan.
8. Selama berlangsungnya proses pembebasan,beberapa partikel virus mendapat
selubung luar yang mengandung lipid protein dan bahan-bahan lain yang sebagian
berasal dari sel hospes.
9. Partikel virus lengkap disebut virion dan terdiri dari inti asam nukleat yang
dikelilingi lapisan protein yang bersifat antigenik yang disebut kapsid dengan atau
tanpa selubung di luar kapsid.

1.B. Prinsip-Prinsip Struktur Virus

Jenis-jenis Bentuk Tangkup Partikel Virus

Arsitektur virus dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis berdasarkan pada


susunan sub unit morfologi:

1. Bentuk tangkup kubus, contoh: adenovirus

2. Bentuk tangkup heliks, contoh: orthomyxovirus

1. Tangkup Berbentuk Kubus

Semua bentuk tangkup kubus yang terlihat pada virus binatang adalah
berpola icosahedral yaitu susunan sub unit yang paling efisien di dalam
mantel tertutup. Icosahedron mempunyai 20 muka (masing-masing sebuah
segitiga ekuilateral), 12 puncak, dan bentuk aksis rotasionalnya 5 lipatan,
3 lipatan, dan 2 lipatan. Unit puncak mempunyai 5 perbatasan
(pentatavalen), dan yang lain mempunyai 6 (heksavalen).
Ada 60 subunit identik yang nyata pada permukaan dari icosahedron.
Untuk membangun suatu ukuran partikel yang adekuat dalam
menyelubungi genom virus, mantel virus disusun multiple dari 60 struktur
unit. Pemakaian sejumlah besar sub unit protein yang identik secara
kimiawi, sambil menjaga aturan bentuk tangkup icosahedral, dikerjakan
oleh subtriangulasi masing-masing permukaan icosahedron.
Kebanyakan virus yang mempunyai tangkup icosahedral, tidak berbentuk
icosahedral; tampilan fisik partikelnya lebih berbentuk spheris.
Asam nukleat virus memadat di dalam partikel isometric, virus mengkode
inti protein atau di dalam kasus papovavirus, histone seluler terlibat di
dalam kondensasi asam nukleat ke dalam bentuk yang pantas untuk
pembungkusan. Terdapat pemaksaan ukuran molekul asam nukleat yang
bisa dibungkus ke dalam kapsid icosahedral tertentu. Kapsid icosahedral
terbentuk tidak tergantung dari asam nukleat. Kebanyakan preparasi virus
isometric akan berisi beberapa partikel kosong yang tidak berisi asam
nukleat virus. Baik kelompok virus DNA maupun RNA menunjukkan
contoh tangkup berbentuk kubus.

2. Tangkup Berbentuk Heliks

Pada kasus tangkup berbentuk heliks, protein subunit terikat terhadap asam
nukleat virus secara periodik, dan membelitnya ke dalam heliks. Kompleks
protein asam nukleat virus filamentosa (nukleokapsid) kemudian terlilit ke
dalam bungkus (amplop) yang mengandung lemak. Dengan demikian, tidak
seperti nada kasus struktur icosahedral, pada virus dengan tangkup berbentuk
heliks terdapat interaksi periodic, regular antara protein kapsid dan asam
nukleat. Partikel heliks kosong tidak mungkin terbentuk.

Pengukuran Partikel Virus

Sifat klasik dari virus adalah berukuran kecil dan mampu melewati suatu filter
yang tidak bisa dilewati oleh bakteri. Namun, karena ada beberapa bakteri yang
mungkin mempunyai ukuran lebih kecil dari virus yang terbesar, maka
kemampuan untuk dapat melewati sebuah filter menjadi tidak menggambarkan
ciri khas dari virus.
Berikut ini adalah metode yang digunakan untuk menentukan ukuran virus beserta
komponennya.
A. Melihat langsung dengan menggunakan mikroskop elektron

Untuk melihat virus dengan cara ini maka diperlukan preparat yang terbuat
dari ekstrak jaringan atau irisan ultra tipis dari sel yang terinfeksi. Mikroskop
elektron ini merupakan cara atau metode yang paling luas digunakan untuk
memperkirakan ukuran partikel.

B. Filtrasi melalui membran penyerapan bertingkat

Apabila preparat virus berhasil melalui membran yang sudah diketahui ukuran
pori-porinya, maka dapat diperkirakan ukuran dari virus tersebut yaitu dengan
cara menentukan membran mana yang bisa dilewati oleh unit infektif dan mana
yang menahannya. Namun demikian, masuknya virus ke dalam poripori membran
tersebut juga dipengaruhi oleh bentuk struktur fisik dari virus itu sendiri, maka
cara ini hanya bisa memperoleh perkiraan ukuran virus yang paling mendekati.

C. Sedimentasi dengan menggunakan ultrasentrifuge

Apabila partikel-partikel itu larut dalam cairan maka mereka akan mengendap
sesuai proporsi ukuran mereka. Jika dengan ultrasentrifuge dengan kekuatan
lebih dari 100.000 kali gravitasi mungkin bisa digunakan untuk menggiring
partikel agar mengendap di dasar tabung. Hubungan antara ukuran dan bentuk
partikel serta rata-rata pengendapannya bisa menentukan ukuran nartikel.
Sekali lagi, struktur fisik virus akan mempengaruhi perkiraan ukuran yang
diperoleh.

D. Pengukuran dengan perbandingan

Dengan membandingkan dengan ukuran bakteriofag, molekul protein, dan


sebagainya.

2. Komposisi Kimia Virus

Untuk dapat menganalisis komponen kimia virus, diperlukan virus murni. Untuk
pemurnian dipakai bahan-bahan yang mengandung virus dalam jumlah besar dari
jaringan atau biakan sel terinfeksi atau bahan ekstraselular seperti plasma, dan carian
alantois, medium biakan sel ataujaringan.
Adapun komposisi kimia virus adalah sebagai berikut:

1. Asam Nukleat

Virus-virus hewan dan tumbuhan mengandung DNA dan RNA, tetapi virion yang
sama tidak dapat mengandung kedua-duanya. Hal ini berbeda dengan semua
bentuk kehidupan selular tanpa terkecuali mengandung kedua tipe asam nukelat
dalam setiap sel. Ada empat jenis asam nukleat yang mungkin, yaitu:

● DNA berutasan tunggal

● RNA berutasan tunggal

● DNA berutasan ganda

● RNA berutasan ganda

Keempat tipe itu telah dijumpai pada virus hewan. Pada virus tumbuhan, telah
dijumpai RNA berutasan tunggal dan ganda serta DNA berutasan tunggal.
Disamping itu, struktur asam nukleat di dalam virion dapat lurus atau bundar.
Sebagai contoh, virus simian membentuk vakuola (SV 40). Yang dijumpai pada
sel-sel ginjal kera mempunyai DNA bundar berutasan ganda sedangkan virus
herpes mempunyai DNA lurus berutasan ganda. Pengertian tentang asam nukleat
virus mempunyai arti penting untuk memahami roses perkembang biakan virus,
sifat biologik, dan sebagainya.

Misalnya:

● Ukuran asam nukleat dihubungkan dengan jumlah informasi


genetik yang dibawanya.

● Segmentasi asam nukleat pada virus influenza dihubungkan


dengan terjadinya rekombinasi genetika yang menimbulkan
terjadinya antigenic shift, derajat homolog basa-basa asam
nukleat dihubungkan dengan taksonomi virus.

2. Protein

Protein ialah komponen kimiawi utama terbesar dari struktur virus dan merupakan
komponen tunggal dari kapsid, bagian terbesar dari selubung, dan dapat
merupakan bagian protein inti (core protein) pada beberapa virus ikosahedral.
Protein diatas disebut juga sebagai protein struktural karena mempunyai fungsi
membentuk rangka virion.

Banyak virus kini telah diketahui mengandung enzim-enzim yang berfungsi


dalam replikasi komponen-komponen asam nukleatnya. Beberapa virion dapat
mengandung suatu enzim khusus yang menggunakan RNA virus sebagai model
untuk mesintesis utasan RNA kedua yang dapat mengarahkan sel-sel inang untuk
membuat virus. Virus tumor RNA mengandung suatu enzim yang mensintesis
utasa DNA dengan menggunakan genom RNA virus sebagai acauan.

Beberapa virus yang mengandung enzim, dapat dikatagorikan ke dalam tiga


golongan:

1. Neuramisida yang menghidrolisis galaktosa N asetil neuraminat. Enzim ini


terdapat pada orthomyxovirus yaitu pada salah satu tonjolan
glikoproteinnya. Enzim ini berfungsi membantu penetrasi ke dalam sel.

2. Beberapa jenis virion mengandung RNA polomerasi. Jika genom birus


merupakan genom yang langsung dapat bertindak sebagai mRNA, maka
ekspresi gendom dapat terjadi secara langsung. Hal demikian ditemukan
pada picornavirus dan argovirus. Tetapi jika genom virus berupa DNA atau
RNA dengan polaritas negatif, maka sebelum genom tersebut diexpresikan
dalam bentuk protein, terlebih dahulu harus di traskipsikan menjadi RNA
dengan polaritas positif. Dalam hal yang disebut terakhir, terdapat dua jenis
sumber enzim polimerase. Pertama virus menggunakan polimerase yang
terdapat di dalam sel hospes, seperti pada herpes virus, adenovirus,
papofavirus. Kedua, virion mengandung polimerase sendiri seperti pada
poxvirus, myxsovirus, rhabdovirus. Retrovirus mempunyai enzim traskripsi
terbalik yang berfungsi membentuk DNA dari cetakan RNA.

3. Beberapa virion juga mengandung enzim yang bekerja pada asam nukleat.
Adenovirus, poxvirusm dan retrovirus misalnya mengandung enzim
nukleus.

3. Lipid

Berbagai ragam senyawa lipid (lemak) telah ditemukan pada virus. Senyawa-
senyawa ini meliputi fosfolipid, flikolipid, lemak-lemak alamiah, asam lemak,
aldehid lemak, dan kolesterol. Virus yang berselebung mengandung lipid netral,
fosfolipid, dan glikolipid pada selubungnya. Komposisi campuran ini tergantung
pada jenis sel yang diinfeksikan, median dimana sel tumbuh dan jenis virus yang
menginfeksi.

4. Karbohidrat

Semua virus mengandung karbohidrat karena asam nukleatnya itu sendiri


mengandung ribose dan deoksiribose. Beberapa virus hewan bersampul seperti
virus influensa dan mikro virus yang lain, pada umumnya terdapat duri-duri yang
terbuat dari glikoprotein. Unsur karbohidratnya terdiri dari monosakarida yang
dihubungkan dengan rantai polipeptida oleh ikatan glikosida.

3. Pembiakan Virus

Virus adalah parasit obligat intrasel, karenanya virus tidak dapat berkembang biak di
dalam medium mati. Ada tiga cara mengembangbiakan virus, yaitu: cara perbenihan
jaringan (in vitro) dan telur bertunas (in ovo).

1. Cara perbenihan jaringan (in vitro)


In vitro pada sel yang ditumbuhkan dalam bentuk potongan organ (biakan organ),
potongan kecil jaringan (biakan jaringan), sel-sel yang telah dilepaskan dari
pengikatnya (biakan sel). Biakan organ dan biakan jaringan hanya dapat bertahan
dalam beberapa hari sampai beberapa minggu saja. Sedangkan biakan sel dapat
bertahan beberapa hari sampai beberapa waktu yang tak terbatas, tergantung pada
jenis biakan. Biakan sel terbagi atas:

● Biakan sel primer

Sel diambil dalam keadaan segar dari binatang. Sel demikian mampu
secara terbatas membelah dan selanjutnya mati, misalnya biakan
primer berasal dari ginjal monyet, embrio ayam, dll.

Proses pembuatan biakan sel dimulai dengan pelepasan sel-sel dari


alat-alat tubuh dengan mengocok sepotong jaringan dengan larutan
tripsin. Sel-sel yang didapatkan dalam suspensi ini kemudian dibiakan
dalam larutan pembenihan tertentu. Sel-sel akan tumbuh melekat pada
dinding tabung sampai mebentuk selapis jaringan yang siap digunakan
untuk pembiakan virus. Sel-sel ini dapat dipindahbiakan dengan
membuat suspensi baru dan disebarkan dalam tabung-tabung lain
sehingga didapat biakan sekunder.

Tergantung pada asal sel, di dalam biakan jaringan akan didapatkan


sel-sel jenis tertentu. Misalnya biakan sel-sel jaringan yang berasal
dari ginjal monyet akan menghasilkan sel-sel jenis epitel. Biakan yang
berasal dari embrio ayam akan menghasilkan sel jenis fibroblas. Jenis
sel tertentu diperlukan untuk pembiakan virus-virus tertentu.

Virus yang dibiakan di dalam sel biakan jaringan dapat menimbulkan


ESP (Efek Sitopatogenik), seperti perubahan bentuk sel menjadi lebih
bulat, perubahan pada inti sel, kemungkinan pembentukkan jisim atau
sel sinsitia dan juga sel-sel akan melepas dari dinding tabung.infeksi
selanjutnya akan menyerang sel-sel disekitarnya dan bila pada tepat itu
sudah ada banyak sel yang terlepas, maka akan tampak sebagai tempat
yang berlubang dan tempat ini disebut plaque. Tiap virion infektif
dalam biakan sel dapat membentuk plaque dan ini dapat dipakai untuk
titrasi virus, sama halnya dengan pembentukkan koloni oleh kuman
pada permukaan perbenihan padat.

● Biakan sel haploid

Yaitu kumpulan satu jenis sel yang mampu membelah kira-kira 100
kali sebelum mati.

● Biakan sel letusan (continous cell lines culture)

Yaitu sel yang mampu membelah tak terbatas. Kromosomnya sudah


bersifat poliploid atau aneuploid. Dapat berasal dari sel tumor ganas
ataupun sel diploid yang telah mengalami transformasi. Diantaranya
adalah sel Hela, Hep-2, KB yang berasal dari manusia, BHK-21 yang
berasal dari binatang hamster, sel LLC-MK dari ginjal monyet, J-III
dari leukemia manusia dan sebagainya.

Cara pembiakan in vitro dapat bermanfaat untuk:

● Isolasi primer virus dari bahan klinis. Untuk itu, dipilih sel yang mempunyai
kepekaan tinggi, mudah dan cepat menimbulkan ESP

● Pembuatan vaksin. Untuk itu, dipilih sel yang mampu menghasilkan virus
dalam jumlah besar

● Penyelidikan biokimiawi, biasanya dipilih biakan sel terusan dalam bentuk


suspensi

1. Cara telur bertunas (in ovo)

Telur juga merupakan perbenihan virus yang sudah steril dan embrio telur yang
tumbuh di dalamnya tidak mebentuk zat anti yang dapat mengganggu
pertumbuhan virus. Karena telur merupakan sumber sel hidup yang relatif murah
untuk isolasi virus, maka cara in ovo ini sering digunakan dalam laboratorium.

Cara pertama: dengan mempergunakan lapisan luar (lapisan ektoderm) selaput


korioalantois telur berembrio 10 hari. Cara penanaman ini berguna untuk isolasi
virus yang menyebabkan kelainan pada kulit yang dulu digolongkan sebagai virus
dermatotrofik seperti virus variola, virus vaccinia, dan virus herpes. Tiap virion
yang infektif akan meyerang sel-sel di sekitarnya dan menibulkan reaksi inflamasi
yang dapat dilihat sebagai bercak putih yang disebut pock. Pock ini berlainan
ukurannya dan bersifat bergantung pada virus yang menyebabkannya. Cara
penanaman pada selaput korioalantois juga berguna untuk titrasi virus dan titrasi
antibodi terhadap virus dengan teknik menghitung jumlah pock.

Cara kedua: dengan menyuntikkan bahan ke dalam ruang anion terlur berembrio
yang berumur 10-15 hari. Cara ini terutama untuk isolasi virus influenza dan virus
parotitis karena virus ini tumbuh di dalam sel epitel paru-paru embrio yang
sedang berkembang. Adanya perkembangan virus dikenal dengan adanya reaksi
hemaglutinasi.

Cara ketiga: dengan menyuntikkan bahan pada kantung kuning telur berembrio 9-
12 hari. Teknik penanaman ini menggunakan penyuntikan langsung melalui lubang
kecil di kulit telur ke dalam kantung kuning telur. Dipakai untuk isolasi
mikroorganisme golongan Bedsonia dan Rickettsia. Untuk maksud pembiakan in
vivo suspensi virus diinfeksikan pada binatang percobaan yang cocok. Mencit yang
baru lahir misalnya digunakan untuk virus-virus golongan arbovirus, coxsackie
virus. Hamster banyak digunakan untuk golongan herpes virus tertentu. Adanya
pertubuhan virus dikenal oleh timbulnya gejala-gejala yang khas atau adanya
perubahan patologis lain.

Adapun perkembangbiakan virus dapat dikenal melalui:

1. Timbulnya efek sitopatogenik

Efek sitopatogenik adalah perubahan morfologis yang terjadi akibat infeksi oleh
virus sitopatogenik. Pada sediaan yang tak berwarna, tampak sel menjadi lebih
refraktil. Perubahan morfologis dari sel dapat berupa piknosis, karioreksis,
plasmolisis, pembentukkan sel raksasa, pembentukkan sel busa dan sebagainya.
Tenggang waktu untuk timbulnya efek sitopatogenik dan jenis perubahan yang
terjadi berbeda-beda untuk berbagai jenis virus. Karena itu ESP mempunyai arti
penting dalam diagnosis, misalnya virus morbilli, parainfluenza cenderung
menimbulkan sel raksasa, sedangkan adenovirus menimbulkan kelompok sel-sel
besar yang bulat. Untuk melihat perubahan lebih terinci diperlukan pewarnaan.

1. Hambatan metabolisme

Dalam metabolismenya, sel membentuk asam. Jika sel diinfeksi oleh virus, maka
pada berbagai tingkatan akan terjadi hambatan metabolisme, termasuk
pembentukan asam. Dengan memakai indikator tertentu, perubahan ini dapat
dikenal. Tes hambatan ini perlu dikembangkan antara lain untuk adenovirus,
arbovirus, echovirus, coxsackievirus, herpes simplex dan beberapa myxovirus.

1. Fenomena hemadsorpsi

Selain efek dari sitopatogenik dan hambatan metabolisme, adanya infeksi virus
dapat juga diketahui dari timbulnya fenomena hemadsorpsi. Misalnya pada
parainfluenza virus dan influenza virus; pembentukan antigen reaksi ikat
komplemen pada poliovirus, varicella zoter, adenovirus coxsackie, dan echovirus;
pembentukan antigen hemaglutinasi pada coxsackie virus; pertunjukkan antigen
dengan reaksi imunofluoresensi atau perubahan morfologik hospes akibat infeksi
virus onkogenik yang biasanya diikuti oleh adanya loss of contact inhibition dan
berkumpulnya sel-sel menjadi sel yang tak teratur.

4. Perhitungan virus

Dalam perhitungan virus terdapat metode titrasi virus. Titrasi virus dapat
dilakukan dengan cara menghitung jumlah partikel virus yang ada tanpa memandang
kemampuan menginfeksi dari virus tersebut dan cara yang lain adalah menghitung
jumlah virus yang infektif.

A. Metode Fisika
Pada suspensi virus murni yang berkonsentrasi tinggi, jumlah partikel virus dapat
dihitung mikroskop elektron. Salah satu caranya adalah dengan menambahkan
partikel latex yang berukuran sama dengan virus dan telah diketahui
konsentrasinya ke dalam suspensi virus dan kemudian dicampur sehingga
homogen. Dengan menghitung perbandingan antara latex dan virus yang tampak
di bawah mikroskop electron, dapat ditentukan titer virus.

Virus yang infektif maupun tidak, dapat menimbulkan aglutinasi sel darah merah,
maka sifat ini dapat digunakan untuk menghitung jumlah virus yang ada. Satu seri
larutan dengan konsentrasi virus tertentu, masing-masing ditetesi dengan sel darah
merah. Jika konsentrasi virus mencukupi, maka akan terjadi pengendapan virus-
cell complex di dasar tabung. Dengan metode pengenceran ini akan didapatkan
titer virus yang diukur dengan hemagglutination unit.

A. Metode Biologi

Metode biologi biasanya dilakukan dengan menentukan kemampuan infeksi virus.


Infektivitas virus ditentukan dengan berbagai cara antara lain dengan
menggunakan kultur jaringan.

1. Metode kultur tabung

Sejumlah 0,1 ml virus dari berbagai pengenceran, masing-masing


diinokulasikan pada kultur tabung. CPE (Cytopatogenik Effect) yang terjadi
pada pengenceran yang tertinggi dicatat dan dengan menggunakan metode
Reed dan Muench dapat ditentukan TCID50 (50% tissue culture infectious
dosis).

2. Plaque method atau Metode Plak

Sel-sel monolayer diinfeksi dengan virus yang sudah diencerkan kemudian


dieramkan selama satu jam agar cukup terjadi absorpsi virus ke dalam sel.
Kemudian lapisan sel yang terinfeksi tersebut dilapisi dengan aar atau
metilselulosa. Sesudah dieramkan selama beberapa hari, jumlah plaque yang
terjadi dihitung dan dengan memperhitungkan angka pengenceran, maka PFU
(Plaque Forming Unit) dapat ditentukan.

3. Tes Netralisasi

Dalam tes ini yang paling sering digunakan adalah sistem dengan penyediaan
virus dengan pengenceran tertentu dan berbagai tingkat pengenceran serum
yang diperiksa. Sejumlah volume tertentu virus dari 1000 TCID50 dan serum
dari pengenceran tertentu dengan volume yang sama dicampur dalam tabung
dan disimpan pada suhu 370C, selama satu jam. Masing-masing tabung kultur
sel diberi 0,2 ml campuran tersebut dan ditambahkan 1 ml medium pemelihara
lalu dieramkan dan diamati selama satu minggu.

4. Teknik Immunofluoresens

Prinsip dari cara ini adalah mengenal antigen virus yang terdapat dalam
hapusan atau irisan jaringan yang bereaksi dengan antibodi yang mengandung
zat warna fluoresens sehingga akan bersinar di bawah pengamatan mikroskop
fluoresens.

5. Metode Imuniperoksidase

Prinsip metode ini sana dengan immunofluoresens, namun sesudah terjadi


reaksi antigen–antibodi yang mengandung horse raddish peroksidase sebagai
pengganti zat warna fluoresens, dilakukan penambahan bahan substrat 3-3
diaminobenzidin tetrahidroklorida yang mengandung hydrogen peroksida.
Hasilnya dapat dilihat dengan mikroskop biasa.

6. ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)

Dengan metode yang baru ini, maka baik antigen maupun antibodi dapat
dideteksi dengan lebih mudah. Sesuai dengan prosedur dari Voller yang sudah
dimodifikasi, maka ELISA dapat dilakukan sebagai berikut:
Sumur-sumur microplate diisi dengan 100 mikroliter antigen yang telah
diencerkan dengan 0,05 M buffer karbonat-bikarbonat pH 9,6 dan dieramkan
semalam pada lemari es untuk melapisi microplate dengan antigen. Sisa
antigen dibuang dan sumur dicuci. Kemudian ke dalam sumur ditambahkan
100 mikroliter serum yang sudah diencerkan lalu dieramkan pada suhu 37 0C
selama satu jam. Sesudah dicuci dari sisa-sisa serum, tambahkan 100
mikroliter peroksidase konjugasi anti-human immunoglobulin yang sudah
diencerkan, lalu eramkan lagi 370C selama satu jam. Akhirnya ditambahkan
100 mikroliter larutan substrat yang mengandung 0,5 mg o-fenilen diamin per
ml dan 0,02% hydrogen peroksida dalan 0,05 M buffer sitrat-fosfat pH 5,0 ke
dalam masing-masing sumur dan dieramkan pada suhu kamar dalam ruang
gelap. Reaksi dihentikan dengan menambahkan 4N hydrogen sulfoksida
sebanyak 75 mikroliter dalam tiap-tiap sumur. Akhirnya optical density (OD)
pada panjang gelombang 500 nm dapat dicatat dengan menggunakan
mikrospektrofotometer.

7. Pock Assay

Beberapa macam virus membentuk kelainan (pock) yang berbatas jelas pada
membrane korioalantois telur berembrio. Dengan menghitung jumlah pock
yang terbentuk sesudah penambahan larutan virus yang diketahui
pengencerannya, maka jumlah partikel virus yang infektif dapat ditentukan.

8. Quantal Assay

Satu seri pengenceran virus dibuat dan sel-sel yang peka dieramkan sesudah
diinokulasi dengan virus. Sesudah beberapa waktu pengeraman, kultur, telur
atau hewan percobaan diperiksa untuk mengetahui akibat repliksi virus. Untuk
menentukan titik akhir titrasi quantal, digunakan kriteria:

a. Pembentukan CPE dalam kultur sel

b. Jumlah binatang yang mati atau yang menderita sakit akibat virus
c. Kelainan yang terjadi pada membrane telur berembrio atau kelainan pada
embrio, dan

d. Terjadinya kelainan yang dapat dideteksi dengan prosedur in vitro misalnya


tes hemaglutinasi dan hemadsorpsi.

Titer dinyatakan dalam ID50 (50 persen infectious dose), yaitu pengaruh
virus yang memiliki pengenceran tertinggi yang menimbulkan kelainan
pada 50 persen kultur sel, telur atau bintang yang telah diinokulasi dengan
virus.

5. Badan Inklusi

Secara umum, virus menginfeksi sel manusia dengan 2 cara, yaitu dengan cara :

1. Cytocydal

Infeksi virus yang terjadi dengan cara membunuh sel inangnya.

2. Cytopathic

Infeksi virus yang terjadi tidak dengan cara membunuh sel inangnya, tetapi hanya
menyebabkan kerusakan pada sel inangnya.

Anda mungkin juga menyukai