Anda di halaman 1dari 27

PBL

KELOMPOK 8
KASUS III
“ KEPERAWATAN DASAR “

NAMA : STEFANUS ADI WAHYU ARDANA


NIM : 2002071
KELAS :A
TUTOR : Antonius Yogi P.,S.Kep.,Ns.,MSN.
Kasus III KD II (perawatan luka DM)-PJ : Priyani Haryani
Seorang laki-laki usia 58 tahun dirawat diruang penyakit dalam dengan Diabetes Militus tipe II.
Keluhan pasien adalah rasa nyeri pada luka di bagian dorsalis pedis sinistra, skala 5, terasa
berdenyut, luka berdiameter 2x2 cm, berwarna hitam dan berbau, selain itu, pasien mengatakan
mengalami konstipasi. Hasil pemeriksaan GDS 220 mg/dl, T 37,8 °C, RR 25x/menit, HR 80x/
menit, BP 130/80 mmHg. Klien mengatakan luka terjadi sudah 1 bulan yang lalu akibat terjatuh
dari motor. Luka awalnya tidak lebar dan diobati sendiri namun tidak kunjung sembuh.
Program pengobatan pasien :
1. Perawatan luka setiap 2 hari sekali dengan diberikan salep antibiotic
2. Injeks insulin intracutan
3. Pemberian infus NaCl untuk menangani hiponatremi
4. Pemberian suppositoria untuk membantu pasien BAB
Apa pengkajian luka yang perlu anda lakukan untuk melengkapi data tersebut? Bagaimana cara
perawatan luka yang benar? Bagaimana cara pemberian obat yang benar? Jelaskan cara
pemberian obat kepada pasien?
Step 1 ( mencari kata sulit dan menjawab)
1. Vallen : Suppositoria : obat padat ( vina)
2. Vina : GDS : kadar gula darah dalam tubuh ( Gandhi)
3. Amer : hiponatremi : kondisi saat kadar natrium dalam darah terlalu rendah ( vallen)
4. Agnes : konstipasi : sembelit (Gandhi), gangguan pencernaan yang membuat seseorang
buang air besar kurang dari 3x dalam seminggu (Vallen)

step 2 ( membuat pertanyaan)


1. Agnes : apa yang dimaksud dengan dorsalis pedis sinistra?
2. Gandhi : berapa normal GDS
3. Adilson : mengapa penyakit diabetes mellitus bisa terjadi?
4. Vallen : apa saja factor resiko dari diabetes mellitus?
5. Amer : bagaimana cara menghitung GDS?
6. Vina : bagaimana cara perawatan luka yang benar?
7. Kasus : bagaimana cara pemberian obat yang benar?

Step 3 ( menjawab pertanyaan)


1. Pertanyaan no 3 : karena kadar gula darah dalam tubuh terlalu tinggi sehingga
mnyebabkan diabetes mellitus ( Gandhi)
2. Pertanyaan no 6 : bilas luka dengan air mengalir Perdarahan pada goresan dan luka
ringan biasanya akan berhenti sendiri. Jika tidak, beri tekanan lembut pada luka dengan
kain yang bersih. Posisikan luka menghadap ke atas, Bilas luka dengan air bersih dan
mengalir. Sekitar luka boleh dibersihkan dengan sabun, tapi tidak pada lukanya, untuk
menghindari iritasi. Jika masih ada kotoran atau benda yang tertancap pada luka setelah
dibersihkan, gunakan pinset steril (yang telah dibersihkan dengan alkohol) untuk
mencabutnya. Tidak perlu menggunakan cairan hidrogen peroksida, obat merah, atau
larutan antiseptik yang mengandung iodine, karena dapat menimbulkan iritasi pada luka.
Oleskan krim atau salep antibiotik untuk membantu menjaga permukaan kulit tetap
lembap. Obat ini bisa mencegah infeksi sehingga proses, Perban luka untuk menjaganya
tetap bersih dan terhindar dari bakteri. Jika luka atau goresannya kecil, tidak perlu
diperban. ( vallen)
3. Pertanyaan no 2 :
sebelum makan : 70-130 mg/dL.
Dua jam setelah makan: kurang dari 140 mg/dL
Setelah tidak makan (puasa) selama setidaknya delapan jam: kurang dari 100 mg/dL
Menjelang tidur: 100 – 140 mg/dL ( marta)
4. Pertanyaan no 5 : cara menghitung GDS adalah dengan kuisioner (agnes)
5. Pertanyaan no 4 : mengalami obesitas atau kelebihan berat badan, memiliki riwayat
keluarga dengan diabetes tipe 2, kurang aktif bergerak (adilson)
6. Pertanyaan no 7 : identifikasi/ pastikan pasien, perhatikan dosis, perhatikan waktu
penggunaan, perhatikan cara pemakaian minum/oles ( Gandhi)
7. Pertanyaan no 1 : infeksi jamur pada punggung sebelah kiri (vina)

Step 4 ( L0)

1. Mahasiswa mampu memahami dan melakukan pengkajian luka


2. Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui perawatan luka
3. Mahasiswa mampu memahami pemberian obat dengan prinsip 12 benar
4. Mahasiswa mampu memahami prosedur pemberian obat :
a. Oral
b. Parenteral
c. Topical
d. Suppositoria

Step 5 ( mapping)
Pengkajian Luka Perawatan Luka

SOP :
a. Oral
Pemberian Obat b. Parent
Dengan 12 Benar c. Topical
d. Supposit Oria

Step 6
1. Pengkajian Luka
Pengkajian merupakan bagian esensial dalam proses perawatan luka. Dalam perawatan
luka pengkjian bersifat Ongoing yakni berjalan secara simultan bersamaan dengan proses
perawatan luka itu sendiri.
Pada dasarnya ada dua tujuan utama dalam pengkajian luka :
 Memberikan informasi dasar tentang status luka , sehingga proses penyembuhan
luka dapat di monitor.
 Memastikan apakah pemilihan balutan sudah tepat dalam perawatan luka.
a. Tipe Luka
1. Luka akut
 Secara sederhana luka akut dapat didefinisikan sebagai luka
bedah yang sembuh melalui primary intention healing. (Kertln
Carville).
 Biasanya luka trauma. Dapat berbentuk irisan, abrasi, laserasi,
luka bakar atau luka traumatic lainnya. Luka akut biasanya
berespon terhadap perawatan dan sembuh tanpa komplikasi.
(Carol Dealay)
2. Luka kronis
 Luka kronis terjadi manakala proses penyembuhan luka tidak
sesuai dengan jangka waktu yang diharapkan serta sembuh
dengan disertai adanya komplikasi. (Kertln Carville).
 Luka yang membutuhkan waktu lama atau merupakan
kekambuhan dari luka sebelumnya (Fowler,1990). Contoh
pressure dan leg ulcer.

b. Tipe Penyembuhan
1. Primary Intention Healing
Terjadi manakala kehilangan jaringan minimal dan tepi luka dapat
direkatkan kembali dengan jahitan (suture), klip (clips) atau plaster
(tape).
2. Delayed Primary Intention Healing
Terjadi apabila luka terinfeksi atau mengandung benda asing (foreign
body) dan memerlukan Intensive cleaning sebelum penutupan 3-5 hari
kemudian.
3. Secondary Intention Healing
Proses penyembuhan tertunda dan memerlukan proses granulasi,
kontraksi dan epitelisasi, disertai dengan adanya scar.

c. Kehilangan jaringan
1. Superficial Thickness
 Kedalaman luka hanya melibatkan epidermis
 Luka ini ditandai masih utuhnya epidermis namun terjadi erythema
atau perubahan warna laiinya
 Tidak disertai adanya eksudat
2. Partial Thickness
 Kedalaman luka melibatkan epidermis dan dermis
 Kulit sekitar kadang erythema dan kadang menimbulkan nyeri,
panasdan edema
 Eksudat minimal hingga sedang
3. Full Thickness
 Kedalaman luka melibatkan epidermis,dermis, dan jaringan sub
cutan
 Dapat melibatkan otot, tendon dan tulang.
 Kadang disertai dengan eksudat yang sangat banyak

d. Penampilan klinis
1. Necrotic atau hitam
Tujuan : Rehydrate and Debridemen.
Contoh : surgical, Larval, Mechanical, Enztmatic, atau Chemical
2. Sloughy atau kuning
Tujuan : manajemen eksudat dan Lunakan (deslough).
Contoh : Hydrogel atau madu.
3. Granulating atau merah
Tujuan : pertahankan dan control terjadinya hipergranulasi.
Contoh : Alginates.
4. Epitelisasi atau pink
Tujuan : lindungi dan cegah dari cedera
Contoh : menimalkan manipulasi pada luka, lindungi dengan film.

e. Lokasi luka
Luka pada daerah lipatan cenderung aktif bergerak dan tertarik sehingga
memperlambat proses penyembuhan akibat sel-sel yang telah beregenerasi
dan bermigrasi trauma. Contohnya luka pada lutut, siku, dan telapak kaki.
Begitu juga dengan area yang sering tertekan atau daerah penonjolan tulang
seperti pada daerah sacrum. Selain itu proses penyembuhan luka sangat
bergantung pada baik tidaknya vascularisasi daerah yang terkena.

f. Pengukuran luka
1. Two dimensional assessment.
Pengukuran superficial pada luka dapat menggunakan penggaris/mistar
dengan mengukur panjang x lebar. Untuk mengukur lingkaran luka dapat
menggunakan plastic transparan yang diletakan diatas luka kemudian
dilakukan tracing mengikuti tepi luka. Yang perlu diperhatikan adalah
menjaga jaringan sampai alat ukur menjadi contaminated agent.
2. Three dimensional assessment.
Pada luka yang dalam, partial dan full thickneness atau adanya sinus
dan /atau undermining sebaiknya menggunakan pengkajian tiga dimensi.
Pengukuran diarahkan untuk mengetahui panjang, lebar dan kedalaman.
Panjang merupakan jarak terjatuh pada arah head to toe, lebar merupakan
jarak terjatuh antara sisi kiri dan kanan, sedangkan kedalaman merupakan
jarak terjauh antara bantalan luka dan permukaan kulit.
Untuk mengukur kedalaman luka dapat menggunakan kapas lidi kemudian
diletakan pada bantalan luka dan pada batas dengan permukaan kulit
ditandai dengan ibu jari pemeriksa.
Ada juga metode menggunakan cairan steril. Dimana cairan steril
dituangkan diatas luka hingga rata dengan kulit sekitar kemudian
diaspirasi lalu diukur volume cairan tersebut. Yang perlu diperhatikan
cairan yang digunakan tidak menimbulkan trauma dan “ wound-friendly”
pada luka.metode ini juga tidak cocok pada luka dengan fistula.
Seiring dengan kemajuan teknologi, maka saat ini telah berkembang banyak
metode untuk pengukuran luka, antara lain ;
 Photogtrafy (baik itu kamera konventional, polaroid ataupun digital).
 Wound tracing.
Menggunakan plastic transparan dan spidol transparan, kemudian
diletakkan diatas luka lalu tepu luka digambar (dijiplak).
 Stereophotgrammetry (SPG)
Kombinasi kamera video dan software. Luka direkam kemudian
didownload ke computer. Dengan menggunakan bantuan software
luas permukaan luka dapat dikalkulasi.
 Wound molds
Alginate diletakan pada permukaan luka, bila telah menebal maka
ditimbang beratnya. Hasil dari pengukuran berat alginate dapat
menggambarkan status penyembuhan luka.

g. Wound infection (infeksi luka)


Infeksi dapat didefinisikan sebagai “pertumbuhan organisme pada luka yang
disertai dengan adanya reaksi jaringan”. Rekasi jaringan ditentukan oleh
resistensi host terhadap organisme, sedangkan resistensi host dipengaruhi oleh
banyak faktor diantaranya status kesehatan, status nutrisi, pengobatan dan
derajat luka jaringan yang terkena.
Keberadaan bakteri pada luka akan mengakibatkan :
1. Kontaminasi
Jumlah bakteri tidak bertambah dan tidak menimbulkan tanda-tanda klinis.
2. Kolonisasi
Bakteri melakukan multiplikasi (bertambah banyak) namun jaringan luka
mungkin tidak terpengaruh
3. Infeksi
Bakteri mengalami multiplikasi, penyembuhan terhenti dan jaringan luka
rusak (infeksi local) bakteri dapat menimbulkan masalah pada daerah
sekitar luka (spread infection) atau menyebabkan penyakit infeksi
(sistematik infection).

2. Perawatan Luka
Luka adalah rusaknya integritas jaringan tubuh (Yasmara dkk, 2016). Perawatan luka
adalah membersihkan luka, mengobati dan menutup luka dengan memperhatikan teknik
steril (Ghofar, 2012). Sedangkan menurut Potter (2010), perawatan luka dilakukan
dengan cara menutup luka dengan balutan basah dan kering. Bagian yang basah dari
balutan secara efektif membersihkan luka terinfeksi dari jaringan nekrotik. Kassa lembab
dapat mengabsorbsi semua eksudat dan debris luka. Lapisan luar kering membantu
menarik kelembapan dari luka ke dalam balutan dengan aksi kapiler. Berdasarkan dari
beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa perawatan luka adalah suatu
tindakan yang dilakukan untuk membersihkan luka, mengobati luka serta menutup luka
dengan balutan basah dan kering sehingga terhindar dari resiko infeksi.
a. Tujuan perawatan luka
Menurut Ghofar (2012) tujuan perawatan luka adalah:
 Mencegah masuknya kuman dan kotoran ke dalam luka.
 Mencegah penyebaran oleh cairan dan kuman yang berasal dari luka ke
daerah sekitar.
 Mengobati luka dengan obat yang telah di tentukan.
b. Alat dan bahan perawatan luka
Menurut Ghofar (2012) alat dan bahan yang digunakan pada saat
perawatan luka :
a. Satu set perawatan luka steril/bak steril:
1) Sarung tangan
2) Pinset anatomis
3) Pinset chirurgis
4) Gunting jaringan
5) Kassa steril
6) Kom berisi larutan pembersih (normal salin 0,9%)
b. Alat non steril:
1) Sarung tangan non steril
2) Cairan Nacl 0,9%
3) Pengalas sesuai luas luka
4) Kapas alkohol
5) Korentang
6) Perlak atau penghalas
7) Bengkok
8) Kom berisi lysol 1%
9) Gunting verban/plester
10) Verban
11) Plester
12) Schort
13) Masker
14) Obat sesuai program terapi
15) Tempat sampah

c. Prosedur perawatan luka


Menurut Ghofar (2012), prosedur perawatan luka ialah:
a. Tahap pra interaksi
1) Melakukan pengecekan pada care plan pasien
2) Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
3) Mencuci tangan
4) Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar
b. Tahap orientasi
1) Memberikan salam dan menyapa pasien
2) Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/klien
3) Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan
c. Tahap kerja
1) Menjaga privacy
2) Mengatur posisi pasien sehingga luka dapat terlihat jelas
3) Membuka peralatan
4) Memakai sarung tangan5) Membasahi balutan dengan alkohol/swah bensin dan
buka dengan
menggunakan pinset
6) Membuka balutan lapisan terluar
7) Membersihkan sekitar luka dan bekas plester
8) Membuka balutan lapisan dalam
9) Menekan tepi luka (sepanjang luka) untuk mengeluarkan pus
10) Melakukan debridement
11) Membersihkan luka dengan menggunakan NaCl
12) Melakukan kompres desinfektan dan tutup dengan kassa
13) Memasang plester atau verband
14) Merapihkan pasien
d. Tahap terminasi
1) Melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan
2) Berpamitan dengan klien
3) Membereskan alat-alat
4) Mencuci tangan
5) Mencatat kegiatan dalam lembar/catatan keperawatan
5. Evaluasi
Menurut Supartini (2009) untuk melihat perkembangan pasien setelah
dilakukan tindakan keperawatan luka :
a. Tanda-tanda penyembuhan luka.
b. Karakteristik drainage.
c. Tanda-tanda inflamasi.
d. Tingkat nyeri.

d. Proses penyembuhan luka


Menurut Yasmara dkk (2016), saat terjadi luka, tubuh akan memberikan respons
melalui tiga fase proses penyembuhan luka. Proses tersebut adalah:
a) Fase Inflamasi (devensif)
Fase ini terjadi 3-4 hari, dengan adanya hemostasis dan inflamasi.
Hemostasis atau pengehentian perdarahan terjadi dengan adanya
vasokonstriksi pembuluh darah besar di daerah yang terkena. Trombosit
akan diaktivasi menjadi plug trombosit dan menghentikan perdarahan.
Selanjutnya akan terbentuk fibrin dan jaringan fibrinosa yang akan
menangkap tromsosit dan sel lainnya. Proses ini akan menghasilkan
pembentukan gumpalan fibrin yang akan menjadi penutup awal luka,
mencegah kehilangan darah dan cairan tubuh serta menghambat
kontaminasi luka oleh mikroorganisme.
Inflamasi merupakan reaksi adaptasi tubuh terhadap adanya cedera pada
tubuh dan melibatkan respon vaskuler dan sekuler. Pada respon vaskuler,
akan dikeluarkan histamin, serotonin, komplemen dan kinin. Zat-zat ini
merupakan substansi vasoaktif yang akan menyebabkan pembuluh darah
vasodilatasi dan lebih permeabel, sehingga aliran darah akan meningkat dan
cairan serosa akan keluar disekeliling jaringan. Peningkatan suplay darah ini
akan membawa nutrisi dan oksigen yang sangat diperlukan untuk proses
penyembuhan luka dan membawa leukosit ke daerah luka untuk melakukan
fagositosis untuk membuang mikroorganisme. Peningkatan aliran darah ini
juga akan membuang kotoran termasuk sel mati, bakteria, eksudat atau
materi dan buangan sel dari pembuluh darah. Daerah ini akan menjadi
merah, edema, dan hangat ketika disentuh. Pada fase selular, leukosit akan
bergerak ke luar pembuluh darah, masuk ke rongga interstisial. Neutrofil
datang pada sel yang terluka dan melakukan fagositosis. Mereka akan mati
dan digantikan oleh makrofag yang muncul dari monosit darah. Makrofag
ini akan berperan seperti neutrofil dan bekerja untuk jangka waktu yang
lebih lama. Makrofag ini juga sangat berperan dalam proses penyembuhan
luka karena mengeluarkan fibroblast activating factor (FAF) dan
angiogenesis factor (AGF). FAF membentuk fibroblast yang kemudian akan
membentuk kolagen atau prekusor kolagen. AGF akan menstimulasi
pembentukan darah baru.

b) Fase rekontruksi
Fase ini mulai hari ketiga tau keempat setelah terjadinya luka dan dapat
bertahan hingga 2-3 minggu. Fase ini terdiri dari proses deposisi kolagen,
angiogenesis, perkembangan jaringan granulasi, dan kontraksi luka.
Fibrolast akan bermigrasi ke dalam luka karena adanya mediator seluler.
Pada fase ini terbentuk sistesi dan sekresi dari kolagen. Kolagen ini akan
saling menyilang untuk membentuk jaring kolagen dan menguatkan tahanan
luka. Jika luka semakin kuat , risiko terjadinya luka terbuka akan semakin
kecil.
Angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru) dimulai beberapa jam
setelah terjadinya luka. Sel endotel mulai membentuk enzim yang akan
merusak membran dasar luka. Membran terbuka dan sel endoteliat baru
akan membentuk pembuluh darah baru. Kapiler ini akan menuju luka dan
meningkatkan aliran pembuluh darah. Yang akan meningkatkan suplai
nutrisi dan oksigenasi.
Proses penyembuhan dimulai dengan adanya jaringan granulasi atau
jaringan baru yang tumbuh dari sekeliling jaringan yang sehat. Jaringan
granulasi terdiri dari pembuluh darah kapiler yang rapuh dan mudah
berdarah, sehingga berwarna merah. Setelah jaringan granulasi terbentuk,
akan mulai terjadi epitelisasi atau pertumbuhan jaringan epitel. Sel epitel
akan berpindah dari sisi luar jaringan yang luka ke bagian dalam.
Kontruksi luka merupakan tahap akhir dari fase rekontruksi penyembuhan
luka. Kontruksi akan terjadi dalam 6-12 hari setelah terluka dan luka akan
ditutup.

c) Fase maturasi
Fase ini dimulasi pada hari ke-21 dan akan terus berlanjut hingga 2 tahun
atau lebih bergantung pada kedalaman dan kondisi luka. Selama fase ini
akan terbentuk jaringan parut.

KONSEP DASAR DIABATES MELILITUS


1. Pengertian
Diabetes Mellitus (DM) merupakan sekelompok kelainan metabolik yang
diakibatkan oleh adanya kenaikan kadar glukosa darah dalam
tubuh/hiperglikemia (Kumar, Abbas & Aster, 2013 dalam Yasmara, Nursiswati,
& Arafat, 2017). Diabetes Mellitus adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan
pada pankreas yang tidak dapat menghasilkan insulin sesuai dengan kebutuhan
tubuh (Maghfuri, 2016). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
diabetes mellitus adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan pada pankres
sehingga tubuh kekurang insulin yang ditandai dengan kadar glukosa melebihi
normal.

2. Klasifikasi
Menurut Yasmara, Nursiswati, & Arafat (2017), ada beberapa tipe diabetes
mellitus yang berbeda; penyakit ini dibedakan berdasarkan penyebab, perjalanan
klinik dan terapinya. Klasifikasi diabetes yang utama adalah:
a. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (insulin-dependent diabetes
mellitus [IDDM])
Penderita yang mengalami diabetes mellitus tipe I, yaitu diabetes yang
tergantung insulin. Pada diabetes jenis ini, sel-sel beta pankreas yang
dalam keadaan normal menghasilkan hormon insulin dihancurkan oleh
suatu proses otoimun. Sebagai akibatnya, penyuntikan insulin diperlukan
untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Diabetes tipe I ditandai oleh
awitan mendadak yang biasanya terjadi pada usia 30 tahun (Smeltzer &
Bare, 2001).

b. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insullin (non-insullindependent


diabetes mellitus [NIDD
Penderita yang mengalami diabetes mellitus tipe II yaitu, diabetes yang
tidak tergantung insulin. Diabetes mellitus tipe II terjadi akibat penurunan
sensitivitas terhadap insulin (yang disebut resistensi insulin) atau akibat
penurunan jumlah produksi insulin. Diabetes mellitus tipe II pada mulanya
diatasi dengan diet dan latihan. Jika kenaikan glukosa darah tetap terjadi,
terapi diet dan latihan tersebut dilengkapi dengan obat hipoglikemik oral.
Pada sebagian penyandang diabetes tipe II, obat oral tida mengendalikan
keadaan hiperglikemia sehingga diperlukan penyuntikan insulin. Di
samping itu, sebagian penyandang diabetes tipe II yang dapat
mengendalikan penyakit diabetesnya dengan diet, latihan dan obat
hipoglikemia oral mungkin memerlukan penyuntikan insulin dalam
periode stres fisiologik akut (seperti sakit atau pembedahan). Diabetes tipe
II paling sering ditemukan pada idividu yang berusia lebih dari 30 tahun
dan obesitas (Smeltzer & Bare, 2001).

c. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya


Menurut LeMone, P dkk (2016) dapat disebabkan oleh :
1) Kelainan genetika pada sel beta
Hiperglikemia terjadi pada usia muda (biasanya sebelum 25
tahun). Tipe ini disebut sebagai DM dengan awitan maturitas pada
anak-anak (maurity-onset DM of the Young, MODY).

2) Kelainan genetika pada kinerja insulin


Ditentukan secara genetika. Disfungsi dapat berkisar dari
hiperinsulinemia hingga DM berat.

3) Penyakit pankreas eksokrin


Proses dapatan yang menyebabkan DM mencakup
pankreatitis, trauma, infeksi, pankreatektomi, dan kanker pankreas.
Bentuk parah dari fibrosis kistik dan hemokromatosis juga dapat
merusak sel beda dan merusak sekresi insulin

4) Gangguan endokrin karena madu memiliki kandungan airnya


rendah, PH madu yang asam serta kandungan hidrogen peroxida-nya
mampu membunuh bakteri dan mikro-organisme yang masuk
kedalam tubuh kita.
Kelebihan jumlah hormon (mis., hormon pertumbuhan,
kortisol, glukagon, dan epinefrin) merusak sekresi insulin, yang
mengakibatkan DM pada orang yang mengalami sindrom Cushing,
akromegali, dan feokromositoma.
5) Diinduksi obat atau bahan kimia
Banyak obat-obatan meruska sekresi insulin, yang memicu
DM pada orang dengan predisposisi resisten insulin. Contohnya
adalah asam nikotinat, glukokortikoid, hormon tiroid, tiazid, dan
fenitoin.
6) Infeksi
Virus tertentu dapat menyebabkan kerusakan sel beta,
termasuk campak kongenital, sitomegalovirus, adenovirus, dan
gondong

d. Diabetes mellitus gestasional (gestational diabetes mellitus [GDM])


Diabetes gestasional ditandai dengan setiap derajat
intoleransi glukosa yang muncul selama kehamilan (trimester
kedua atau ketiga). Resiko diabetes gestasional mencakup obesitas,
riwayat personal pernah mengalami diabetes gestasional,
glikosuria, atau riwayat kuat keluarga pernah mengalami diabtese
(Brunner & Suddarth, 2018).

3. Etiologi
Menurut Hasdianah (2012), etiologi penyakit DM adalah :
a. Kelainan genetic
DM dapat diwarisi dari orangtua kepada anak. Gen penyebab DM
akan dibawa oleh anak jika orangtuanya menderita diabetes melitus.

b. Usia
Usia seseorang setelah >40 tahun akan mengalami penurunan
fisiologis. Penurunan ini yang akan beresiko pada penurunan fungsi
endokrin pankreas untuk memproduksi insulin.

c. Pola makan dan hidup


Makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang
dibutuhkan oleh tubuh dapat memicu timbulnya diabetes. Pola hidup juga
sangat mempengaruhi, jika orang malas berolahraga memiliki resiko lebih
tinggi untuk terkenan diabetes, karena olahrga berfungsi untuk membakar
kalori yang berlebihan di dalam tubuh.

d. Obesitas
Seseorang dengan berat badan >90 kg cenderung memiliki peluang
lebih besar untuk terkena penyakit diabetes mellitus.

e. Gaya hidup stress


Stress akan meningkatkan kerja metabolisme dan meningkatkan
kebutuhan akan sumber energi yang berakibat pada kenaikan kerja
pankreas sehingga pankreas mudah rusak dan berdampak pada penurunan
insulin.

f. Penyakit dan infeksi pada pankreas


Mikroorganisme seperti bakteri dan virus dapat menginfeksi
pankreas sehingga menimbulkan radang pankreas. Hal itu menyebabkan
sel β pada pankreas tidak bekerja secara optimal dalam mensekresi insulin.

g. Obat-obatan yang merusak pankreas


Bahan kimiawi tertentu dapat mengiritasi pankreas yang
menyebabkan radang pankreas. Peradangan pada pankreas dapat
menyebabkan pankreas tidak berfungsi secara optimal dalam
mensekresikan hormon yang diperlukan untuk metabolisme dalam tubuh,
termasuk hormon insulin.

4. Manifestasi klinis
Menurut Bararah dan Jauhar (2013), manifestasi klinis yang sering di
jumpai pada pasien Diabetes Mellitus adalah:
a. Poliuria
b. Polidipsia
c. Polifagia
d. Rasa lelah dan kelemahan otot
e. Peningkatan infeksi akibat penurunan protein
f. Kelainan kulit
g. Kesemutan rasa baal akibat terjadinya neuropati
h. Luka yang tidak sembuh-sembuh
i. Mata kabur yang disebabkan gangguan refraksi akibat perubahan pada
lensa oleh hiperglikemia.
5. Pemeriksaan penunjang
Menurut Maghfuri (2016), pemeriksaan penunjang untuk klien Diabetes
Mellitus adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksaan kadar glukosa darah. Pemeriksaan kadar gula darah
dilakukan dilaboratorium menggunakan metoda oksidasi glukosa atau
o-toluidin (kimia basah) memberikan hasil yang lebih akurat.

b. Pemeriksaan kadar glukosa urin, secara tidak langsung menggambarkan


kadar glukosa darah, dan nilainya bergantung pada batas ambang ginjal
Faktor genetik, infeksi virus, perusakan imunologi Kerusakan sel beta
Ketidakseimbangan produksi insulin Gula dalam darah tidak dapat
dibawa masuk Anabolisme protein menurun Kerusakan pada antibodi
Kekebalan tubuh menurun Neuropati sensori perifer Klien tidak merasa
sakit Nekrosis Luka Gangren Kerusakan integritas jaringan Resiko
infeksi(umumnya batas ambang glukosa ginjal adalah 180mg/dL).
Pemeriksaan kadar glukosa urin hanya dapat mendeteksi keadaan
hiperglikemi.

c. Tes untuk mendeteksi komplikasi


1) Mikro albumininuria: urin
2) Ureum, kreatinin, asam urat
3) Kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL dan Trigliserida:
plasma vena (puasa)

3. Pemberian Obat Dengan 12 Benar


Latar belakang
Seringnya terjadi kejadian tidak diinginkan (KTD) di rumah sakit salah satunya
ialah kecelakaan karena kesalahan pemberian obat yang disebabkan kurangnya ketelitian
dari ahli farmasis maupun perawat dalam mengecek kebenaran obat sebelum diberikan
kepada pasien. Ini merupakan kesalahan fatal yang dapat menyebabkan malpraktik bagi
perawat dan kematian bagi pasien
Ada 5 (lima) isu penting yang terkait dengan keselamatan (safety) di rumah sakit
yaitu : keselamatan pasien (patient safety), keselamatan pekerja atau petugas kesehatan,
keselamatan bangunan dan peralatan di rumah sakit yang bisa berdampak terhadap
keselamatan pasien dan petugas, keselamatan lingkungan (green productivity) yang
berdampak terhadap pencemaran lingkungan dan keselamatan “bisnis” rumah sakit yang
terkait kelangsungan hidup rumah sakit.
Salah satu sasaran keselamatan pasien dalam penerapannya ialah prinsip
pemberian 12 benar obat. Adapun 12 benar obat ialah :
 Benar pasien
Klien yang benar dapat dipastikan dengan memeriksa identitas klien, dan
meminta klien menuyebutkan namanya sendiri. Beberapa klien akan
menjawan dengan nama sembarangan atau tidak merespon, maka gelang
identfikasi harus diperiksa pada setiap klien. Perawat juga bertanggung
jawab secara tepat mengidentifikasi setiap orang pada saat memberikan
pengobatan, pada saat klien tidak menggunakan gelang identifikasi.
 Benar obat
Obat memiliki nama dagang dan nama generik dan pasien harus
mendapatkan informasi tersebut atau menghubungi apoteker untuk
menanyakan nama generik dari nama dagang obat yang asing. Jika pasien
meragukan obatnya, maka perawat harus memeriksanya lagi dan perawat
harus mengingat nama dan obat kerja dari obat yang diberikan. Sebelum
mempersiapkan obat ke tempatnya, perawat harus memperhatikan
kebenaran obat sebanyak 3 kali yaitu saat mengembalikan obat ke tempat
penyimpanan, saat obat diprogramkan, dan ketika memindahkan obat dari
tempat penyimpanan obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh
dipakai dan harus dikembalikan ke bagian farmasi.
 Benar dosis
Untuk menghindari kesalahan pemberian obat dan agar perhitungan obat
benar untuk diberikan kepada pasien maka penentuan dosis harus
diperhatikan dengan menggunakan alat standar seperti alat untuk
membelah tablet, spuit atau sendok khusus, gelas ukur, obat cair harus
dilengkapi alat tetes. Beberapa hal yang harus diperhatikan:

a. Melihat batas yang direkomendasikan bagi dosis obat tertentu.

b. Perawat harus teliti dalam menghitung secara akurat jumlah dosis yang
akan diberikan dengan mempertimbangkan berat badan klien
(mg/BB/hari), dosis obat yang diminta/diresepkan, dan tersedianya obat.
Jika ragu-ragu, dosis obat harus dihitung kembali dan diperiksa oleh
perawat lain.

c. Dosis yang diberikan dalam batas yang direkomendasikan untuk obat


yang bersangkutan.

d. Dosis yang diberikan kepada klien sesuai dengan kondisi klien.

 Benar cara pemberian


Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda dan rute obat
yang diberikan diantaranya inhalasi, rektal, topikal, parenteral, sublingual,
peroral. Faktor yang menentukan pemberian rute terbaik ditentukan oleh
tempat kerja obat yang diinginkan, sifat fisik dan kimiawi obat, kecepatan
respon yang diinginkan, dan keadaan umum pasien.

a. Inhalasi yaitu pemberian obat melalui saluran pernafasan yang memiliki


epitel untuk absorpsi yang sangat luas sehingga berguna untuk pemberian
obat secara lokal pada salurannya.

b. Rektal yaitu pemberian obat melalui rektum yang berbentuk enema atau
supositoria yang memiliki efek lebih cepat dibandingkan pemberian obat
dalam bentuk oral. Pemberian rektal dilakukan untuk memperoleh efek
lokal seperti pasien yang tidak sadar/kejang (stesolid supp), hemoroid
(anusol), konstipasi (dulcolax supp).

c. Topikal yaitu pemberian obat melalui membran mukosa atau kulit


misalnya tetes mata, spray, krim, losion, salep.

d. Parenteral yaitu pemberian obat yang tidak melalui saluran cerna atau
diluar usus yaitu melalui vena (perinfus/perset).

e. Oral adalah rute pemberian obat yang paling banyak dipakai karena
aman, nyaman, dan ekonomis dan obat juga dapat diabsorpsi melalui
rongga mulut seperti Tablet ISDN.
 Benar waktu
Untuk dapat menimbulkan efek terapi dari obat dan berhubungan dengan
kerja obat itu sendiri, maka pemberian obat harus benar-benar sesuai
dengan waktu yang diprogramkan. Beberapa hal yang harus diperhatikan
sesuai dengan prinsip benar waktu yaitu:

a. Perawat bertanggung jawab untuk memeriksa apakah klien telah


dijadwalkan untuk pemeriksaan diagnostik seperti tes darah puasa yang
merupakan kontraindikasi pemeriksaan obat.

b. Memberikan obat-obat yang dapat mengiritasi mukosa lambung seperti


aspirin dan kalium bersama-sama dengan makanan.

c. Pemberian obat juga diperhatikan apakah bersama-sama dengan


makanan, sebelum makan, atau sesudah makan.

d. Pemberian obat harus sesuai dengan waktu paruh obat (T ½). Obat yang
memiliki waktu paruh pendek diberikan beberapa kali sehari dengan
selang waktu tertentu, sedangkan obat yang memiliki waktu paruh panjang
diberikan sehari sekali.

e. Dosis obat harian diberikan pada waktu tertentu dalam sehari untuk
mempertimbangkan kadar obat dalam plasma tubuh. Misalnya dua kali
sehari, tiga kali sehari, empat kali sehari, atau enam kali sehari.

f. Pemberian obat harus sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan


 Benar dokumentasi
Pemberian obat harus sesuai dengan standar prosedur yang berlaku di
rumah sakit. Perawat harus selalu mencatat informasi yang sesuai
mengenai obat yang telah diberikan serta respon klien terhadap
pengobatan. Perawat harus mendokumentasikan kepada siapa obat
diberikan, waktunya, rute, dan dosis setelah obat itu diberikan.
 Benar pendidikan kesehatan benar medikasi klien
Perawat memiliki tanggungjawab untuk melaksanakan pendidikan
kesehatan khususnya yang berkaitan dengan obat kepada pasien, keluarga
pasien, dan masyarakat luas diantaranya mengenai perubahan-perubahan
yang diperlukan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari selama sakit,
interaksi obat dengan obat dan obat dengan makanan, efek samping dan
reaksi yang merugikan dari obat, hasil yang diharapkan setelah pemberian
obat, alasan terapi obat dan kesehatan yang menyeluruh, penggunaan obat
yang baik dan benar, dan sebagainya.

 Hak klien untuk menolak


Perawat harus memberikan “inform consent” dalam pemberian obat dan
klien memiliki hak untuk menolak pemberian obat tersebut
 Benar pengkajian
Sebelum pemberian obat, perawat harus selalu memeriksa tanda-tanda
vital (TTV).
 Benar evaluasi
Setelah pemberian obat, perawat selalu memantau atau memeriksa efek
kerja obat kerja tersebut.
 Benar reaksi terhadap makanan
Pemberian obat harus memperhatikan waktu yang tepat karena akan
mempengaruhi efektivitas obat tersebut. Untuk memperoleh kadar yang
diperlukan, ada obat yang harus diminum setelah makan misalnya
Indometasin dan ada obat yang harus diminum sebelum makan misalnya
Tetrasiklin yang harus diminum satu jam sebelum makan.
 Benar reaksi terhadap obat lain
Pada penyakit kritis, penggunaan obat seperti omeprazol diberikan
dengan chloramphenicol.
Pembahasan ;
Prinsip 12 benar obat ini merupakan salah satu poin penting sasaran
keselamatan pasien di rumah sakit. Jika terjadi kesalahan pemberian obat, dapat
dipastikan bahwa perawat tidak melakukan pengecekan prinsip 12 benar obat
sesuai prosedur,hal ini sangat fatal dan merugikan bagi pasien bahkan dapat
menyebabkan komplikasi atau kematian. Selain itu, pearawat juga akan terkena
tuduhan malpraktik dan terncam terkena hukuman penjara yang akan merusak
karir dan reputasi perawat.
PENERAPAN 12 BENAR OBAT SEBAGAI BENTUK REALISASI
MENDASAR SASARAN KESELAMATAN PASIEN.pdf
4. SOP :
a. Oral
A. Pengertian
Memberikan obat melalui mulut.

B. Tujuan
1. Penyediaan obat yang memiliki efek lokal atau sistematik melalui saluran
gastrointestinal
2. Menghindari pemberian obat yang dapat menyebabkan kerusakan kulit dan
jaringan
3. Menghindari pemberian obat yang dapat menyebabkan nyeri

C. Prosedur Tindakan
a. Persiapan Alat
1. Baki berisi obat-obatan pasien (kotak obat pasien)
2. Kartu atau buku rencana pengobatan
3. Mengkuk sekali pakai untuk tempat obat
4. Pemotong obat (jika diperlukan)
5. Martil dan lumpang penggerus (jika diperlukan)
6. Gelas pengukur (jika diperlukan)
7. Gelas dan air minum
b. Tahap Pelaksanaan
1. Siapkan peralatan dan cuci tangan
2. Kaji kemampuan klien untuk dapat minum obat per oral (kemampuan
menelan, mual atau muntah)
3. Periksa kembali order pengobatan (nama klien, nama dan dosis obat, waktu
dan cara pemberian), periksa tanggal kadaluarsa obat ada keraguan pada
order pengobatan laporkan pada perawat yang berwenang atau dokter.
4. Ambil obat sesuai keperluan (baca order pengobatan dan ambil obat dari
kotak obat pasien)
5. Siapkan obat-obat yang akan diberikan, siapkan jumlah obat sesuai dengan
dosis yang diperlukan tanpa mengkontaminasi obat (gunakan teknik aseptic
untuk menjaga kebersihan obat.
6. Berikan obat kepada pasien pastikan pasien meminum obat tersebut dengan
Benar
7. Catat obat yang telah diberikan meliputi nama dan dosis obat, setiap
keluhan dan tanda tangan perawat
8. Kembalikan peralatan yang dipakai dengan tepat dan benar
9. Lakukan evaluasi mengenai efek obat pada klien (biasanya 30 menit setelah
pemberian obat
b. Parental
Pemberian obat secara parenteral merupakan pemberian obat yang dilakukan dengan
menyuntikkan obat tersebut ke jaringan tubuh. Pemberian obat melalui parenteral
dapat dilakukan dengan cara : 
1. Subcutan (SC) yaitu menyuntikan obat ke dalam jaringan subcutan dibawah
kulit dengan menggunaksn spuit
2. Intramuscular (IM) yaitu menyuntikan obat ke dalam jaringan otot dengan
menggunakan spuit
3. Intravena (IV) yaitu menyuntikan obat ke dalam pembuluh darah vena 
Prosedur pemberian obat parenteral 
1. Subcutan (SC)
 Cuci tangan
 Jelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada pasien
 Bebaskan daerah yang akan disuntik bila mengenakan baju lengan
panjang terbuka dan keataskan
 Pasang perlak/pengalas dibawah bagian yang akan disuntik
 Ambil obat, untuk tes alergi kemudian larutkan/encerkan dengan
aquades. Kemudian ambil 0,5 cc dan encerkan lagi sampai kurang
lebih 1 cc dan siapkan 
 Tegangkan dengan lengan kiri daerah yang akan disuntik
 Lakukan penusukan dengan lubang jarum suntik menghadap ke atas
dengan sudut 45 derajat di permukaan kulit
 Tarik spuit dan tidak boleh dilakukan masase
 Cuci tangan dan catat hasil pemberian obat/tes obat, waktu, tanggal
dan jenis obat
2. Intramuscular (IM)
 Cuci tangan
 Jelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada pasien
 Ambil obat dan masukkan ke dalam spuit sesuai dengan dosisinya
 Periksa tempat yang akan di lakukan penyuntikkan (perhatikan
lokasi penyuntikan)
 Desinfeksi dengan kapas alcohol pada tempat yang akan dilakukan
injeksi
 Lakukan penyuntikan
 Pada daerah paha (vastus lateralis) : anjurkan pasien untuk berbaring
terlentang dengan lutut sedikit fleksi
 Pada ventrogluteal : anjurkan pasien untuk miring, tengkurep atau
terlentang dengan lutut dan pinggul pada sisi yang akan dilakukan
penyuntikan dalam keadaan fleksi
 Pada daerah dorsoluteal : anjurkan pasien untuk tengkurep dengan
lutut di puter kea rah dalam atau miring dengan lutut bagian atas dan
diletakkan di depan tungkai bawah
Pada daerah deltoid : anjurkan pasien untuk duduk atau berbaring

mendatar lengan atas fleksi
 Lakukan penusukan dengan posisi jarum tegak lurus (90 derajat)
 Cuci tangan
3. Intravena (IV)
 Cuci tangan
 Jelaskan prosedur kepada klien
 Pasang perlak/pengalas di bawah vena yang akan dilakukan injeksi
 Desinfeksi dengan kapas alcohol
 Lakukan pengikatan dengan karet untuk membendungg pada bagian
atas daerah yang akan dilakukan penyuntikan
 Ambil spuit yang berisi obat
 Lakukan penusukan dengan lubang yang menghadap ke atas dengan
memasukan ke pembuluh darah, sejajar dengan pembuluh darah
 Lepaskan karet pembendung dan langsung semprotkan dengan habis
 Setelah selesai ambil spuit dengan menarik secara perlahan – lahan
dan dengan membersihkan dengan kapas alcohol
 Cuci tangan

c. Topical
Tahap persiapan
a) Persiapan klien:
1. Memperkenalkan diri
2. Meminta pengunjung/keluarga menunggu di luar kamar
3. Menjelaskan tujuan
4. Menjelaskan langkah – langkah yang akan dilakukan
b) Persiapan lingkungan
Menutup tirai atau memasang sampiran
c) Persiapan alat
1. Troli
2. Perlak
3. Bengkok (nierbekken)
4. Air DTT dalam kom
5. Sarung tangan
6. Kassa kecil steril (sesuai kebutuhan)
7. Kassa balutan dan plester (sesuai kebutuhan)
8. Lidi kapasLampiran 11
9. Obat topikal sesuai yang dipesankan (krim, salep, lotion, lotion yang
mengandung suspensi, bubuk atau powder, spray aerosol)
10. Buku obat
B. Tahap Pelaksanaan
1. Cek instruksi dokter untuk memastikan nama obat, daya kerja dan tempat
pemberian.
2. Cuci tangan
3. Atur peralatan disamping tempat tidur klien
4. Tutup tirai
5. Identifikasi klien secara tepat
6. Posisikan klien dengan tepat dan nyaman, pastikan hanya membuka area
yang akan diberi obat
7. Inspeksi kondisi kulit.
8. Gunakan sarung tangan
9. Oleskan agen topical :
a) Krim, salep dan losion yang mengandung minyak
1) Letakkan satu sampai dengan dua sendok teh obat di telapak tangan
kemudian lunakkan dengan menggosok lembut diantara kedua tangan
2) Usapkan merata diatas permukaan kulit, lakukan gerakan memanjang
searah pertumbuhan bulu.
3) Jelaskan pada klien bahwa kulit dapat terasa berminyak setelah pemberian
b) Lotion mengandung suspensi
1) Kocok wadah dengan kuat
2) Oleskan sejumlah kecil lotion pada kassa balutan atau bantalan
kecilLampiran 11
3) Jelaskan pada klien bahwa area akan terasa dingin dan kering.
c) Bubuk (Powder)
1) Pastikan bahwa permukaan kulit kering secara menyeluruh
2) Regangkan dengan baik lipatan bagian kulit seperti diantara ibu jari atau
bagian bawah lengan
3) Bubuhkan secara tipis pada area yang bersangkutan
d) Spray aerosol
1) Kocok wadah dengan keras
2) Baca label untuk jarak yang dianjurkan untuk memegang spray
menjauhi area (biasanya 15-30 cm)
3) Bila leher atau bagian atas dada harus disemprot, minta klien untuk
memalingkan wajah dari arah spray.
4) Semprotkan obat dengan cara merata pada bagian yang sakit
5) Rapikan kembali peralatan yang masih dipakai, buang peralatan
yang sudah tidak digunakan pada tempat yang sesuai.
6) Cuci tangan
C. Tahap Akhir
1. Evaluasi perasaan klien
2. Kontrak waktu untuk kegiatan selanjutnya
3. Dokumentasikan prosedur dan hasil observasi
UEU-Undergraduate-9108-14. LAMPIRAN 11 SOP.pdf (esaunggul.ac.id)
d. Supposit Oria
1. Persiapan alat
a. Obat suppositoria
b. Sarung tangan
c. Bengkok

2. Petugas yang melaksanakan


a. Perawat
b.
3. Langkah-langkah
a. Perawat membaca instruksi tindakan dari dokter di rekam medis
b. Petugas menjelaskan tindakan yang akan dilakukan pada pasien
c. Petugas mengatur posisi pasien dengan posisi tidur miring dan 1 kaki di
tekuk kearah dada
d. Petugas menyiapkan alat dan bahan serta meletakan ke dekat pasien
e. Petugas mencuci tangan dan memakai sarung tangan
f. Buka kemasan otot
g. Gunakan ibu jari dan telunjuk tangan kiri untuk membuka area anus pasien
h. Masukan obat Suppositoria :
1) Untuk obat sup berupa cairan, ujung kemasan obat dimasukan ke dalam
anus sampai kurang lebih ujung kemasan, lalu tekan kemasan obat
supaya obat masuk ke dalam anus, setelah selesai Tarik kemasan obat
keluar dengan kondisi masih ditekan dalam bengkok

2) Untuk obat sup dalam bentuk padat, obat dimasukan seluruhnya dengan
mendorong obat ke dalam anus perlahan-lahan
i. Kembalikan pasien pada posisi yang nyaman
j. Tindakan selesai dan pasien dirapikan
k. Buang kemasan obat pada sampah medis
l. Petugas membersihkan peralatan yang digunakan
m. Petugas melepaskan sarung tangan dan membuangnya pada sampah medis
n. Petugas mencuci tangan
o. Petugas melakukan pencatatan pada rekam medis
4. Terminasi
a. Evaluasi perasaan klien
b. Pemberian pesan
c. Kontrak waktu selanjutnya
d. Dokumentasi
DAFTAR PUSTAKA

UEU-Undergraduate-9108-14. LAMPIRAN 11 SOP.pdf (esaunggul.ac.id)


PENERAPAN 12 BENAR OBAT SEBAGAI BENTUK REALISASI MENDASAR SASARAN
KESELAMATAN PASIEN.pdf
Pengkajian Luka (scribd.com)
Sop Pemberian Obat Supositoria (scribd.com)
Prinsip 12 Benar Pemberian Obat | Anterior88 (wordpress.com)
http://fk.unsoed.ac.id/wp-content/uploads/modul%20labskill/genap%20I/Genap%20I%20-
%20Pemberian%20Obat%20Secara%20Parenteral.pdf
Sop Obat Oral - PDFCOFFEE.COM