Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

CONGESTVE HEART FAILURE (CHF)

Disusun Oleh:

LANJAR TRI LESTARI


P17420208023

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2011
LATAR BELAKANG

Jantung merupakan organ dalam tubuh manusia yang termasuk dalam


sirkulasi. Jantung bertindak sebagai pompa sentral yang memompa darah untuk
menghantarkan bahan-bahan metabolism yang diperlukan keseluruh jaringan
dan megangkut sisa-sisa metabolism untuk dikeluarkan dari tubuh. (Wikipedia,
2008).
Penyakit jantung merupakan penyakit yang mematikan. Diseluruh
dunia, jumlah penyakit ini trus bertambah. Kategori penyakit ini tidak lepas dari
gaya hidup yang kurang sehat yang banyak dilakukan seiring dengan
berubahnya pola hidup yang semakin meningkat dan ditambah dengan
peningkatan golonga usia tua semakin memperbesar jumlah penderita penyakit
jantung yang sebagian besar diderita oleh orang tua. (Wikipedia, 2008).
Medkipun berbagai pendekatan terapi gagal jantungmeliputi terapi
farmakologis, prosedur intervensi dan pembedahan telah banyak ditawarkan,
namun kematian gagal jantung masih sangat tinggi apabila penyebabbya tidak
segera ditangani. Ketika diagnosa gagal jantung ditegakan, maka dapat
diramalkan beberapa lamakah seseorang akan bertahan hidup. Telah dilaporkan
bahwa ketahanan hidup seseorang penderita gagal jantung bahkan lebih buruk
dari penderita kanker ganas.
Gagal jantung adalah suatu keadaan yang serius, dimana jumlah darah
yang dipompa oleh jantung setiap menitnya (cardiac output, curah jantung)
tidak mampu emenuhi kebutuhan normal tbuh akan oksigen dan zat-zat
makanan.
Terkadang orang salah mengertikan gagal jantung sebagai berhentinya
jantung, namun sebenarnya istilag gagal jatung menunjukan berkurannya
kemampuan jantung untuk mempertahankan beban kerjanya. Masalah gagal
jantung merupakan salah satu penyakit kardiovaskuler yang menjadi masalah
serius di Amerika. Amerika Heart Assotiation (AHA) tahun 2004 melaporkan
5,2 juta penduduk amerika menderita gagal jantung, asuransi kesehatan
Medicare USA paliig banyak mengeluarkan biaya untuk diagnosis dan
pengobatan gagal jantung. Menurur AHA 2005 diperkirakan lebih dari 15 juta
kasus gagal jantung setiap tahunnya diseluruh dunia. (Cokat, 2008)
Faktanya saat ini 50% penderita gagal jantung akan meninggal dalam
waktu 5 tahun, sejak diagnose ditegakan. Begitu juga dengan resiko untuk
menderita gagal jantung, belum bergerak dari 10% untuk kelompok diatas 70
tahun, dan 5 % untuk kelompok sia 60-69 tahun serta 2 % untuk kelompok usia
40-59 tahun. (Merdikoputro, 2004)
CONGESTIF HEART FAILURE
(CHF)

PENGERTIAN

Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologis berupa kelainan fungsi


jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme jaringan / kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian volume
diastolic secara abnormal ( Arief Mansjoer, 2001 ).
Gagal jantung kongestif adalah suatu kegagalan yang terjadi sewaktu
kontraktilitas jantung berkurang dan ventrikel tidak mampu memompa keluar darah
sebanyak yang masuk selama diastolic. Hal ini menyebabkan volume diastolic – akhir
ventrikel secara progresif bertambah ( Corwin J. Elisabeth, 2000 ).
Gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa
jumlah darah yang adekuat ke dalam sirkulasi sistemik untuk memenuhi kebutuhan
tubuh ( Betz L. Cecily, 2002 ).
Gagal jantung kongestif adalah suatu sindrom klinis yang rumit yang ditandai
dengan adanya abnormalitas fungsi ventrikel kiri dan kelainan regulasi
neurohormonal disertai dengan intoleransi kemampuan kerja fisis (effon intolerance),
retensi cairan, dan memendeknya umur hidup (reduced longevity) (Sarwono
Waspadji, 1999 ).
Gagal jantung adalah suatu keadaan yang serius dimana jumlah darah yang
masuk dalam jantung setiap menitnya tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh akan
oksigen dan zat makanan.terkadang orang salah mengartikan gagal jantung dengan
henti jantung, jika gagal jantung adalah berkurangnya kemampuan jantung untuk
mempertahankan beban kerjanya.

PENYEBAB
Gagal jantung disebabkan karena meningkatnya beban kerja otot jantung,
sehingga bisa melemahkan kekuatan kontraksi otot jantung. Yang paling sering
adalah penyakit arteri koroner menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otot
jantung dan bisa menyebabkan suatu serangan jantung. Hal ini disebabkan karena
miokarditis yaitu suatu infeksi yang disebabkan karena virus ataupun bakteri,
diabetes maupun kegemukan. Penyakit lain yang bisa menyebabkan gagal jantung
adalah hipertensi yang bisa menyebabkan kerja jantung menjadi lebih berat karena
harus memompa darah di dalam rongga yang sempit. Penyebab yang lain adalah
kelainan pada jantung itu sendiri.
Penyakit katup jantung juga bisa menyumbat aliran darah diantara ruang-rung
jantung atau diantara jantung dan arteri utama. Selain itu juga dapat diakaibatkan
karena adanya kebocoran katup jantung karena dapat menyebabkan darah mengalir
balik ketempat asalnya. Keadaan ini akan meingkatkan beban kerja jantung yang pada
akhirnya melemahkan kekuatan kontraksi jantung.
Penyakit lainya secara primer menyerang sistem konduksi listrik jantung dan
menyebabkan denyut jantung yang lambat, cepat atau tidak teratur, sehingga tidak
mampu memompa darah secara efektif.
Penyebab lain yaitu kekakuatan pada perikardium ( lapisan tipis dan tranparan
yang menutupi jantung), kekakuan ini menghalangi pengembangan jantung yang
maksima sehingga pengisian jantung tidak maksimal.
Terdapat sejumlah besar factor yang berperan dalam perkembangan dan
beratnya gagal jantung. Meningkatnya laju metabolisme (missal : demam,
tirotoksikosis). Hipoksia dan anemi juga dapat menurunkan suplai oksigen ke
jantung. Asidosis respiratorik atau metabolic dan abnormalita elektronik dapat
menurunkan kontraktilitas jantung.
Grade gagal jantung menurut New York Heart Association, terbagi dalam 4
kelainan fungsional :
I. Timbul sesak pada aktifitas fisik berat
II. Timbul sesak pada aktifitas fisik sedang
III. Timbul sesak pada aktifitas fisik rimgan
IV. Timbul sesak pada aktifitas fisik sangat ringan/istirahat.
TANDA & GEJALA
a. Tanda dan gejala kegagalan yang disebabkan oleh penurunan oleh
penurunan cardiac out put :
- lelah - bunyi jantung S3
- angina - oliguri
- cemas - kulit dingin, pucat
b. Tanda dan gejala yang disebabkan oleh kongesti balik dari ventrikel kiri
- Dyspneu - Rales paru- paru
- Hasil X- ray memperlihatkan - Batuk
kongesti paru- paru - Orthopneu
c. Tanda dan gejala yang disebabkan oleh kongesti balik ventrikel kanan :
- Edema perifer
- Hati membesar
- Distensi vena
leher
- Peningkatan
central venous pressure
(CVP)
Pada gagal jantung pembangkakan juga menyebabkan berbagai gejala,
diantaranya lokasi dan efek pembengkakan juga dipengaruhi oleh sisi jantung
yang mengalami gangguan. Pada gagal jantung kanan cenderung mengakibatkan
pengumpulan darah yang mengalir kebagian kanan jantung. Hal ini menyebabka
pembengkakan dikaki, pergelangan kaki, tungkai, hati dan peru.
Pada gagal jantung kiri menyebabkan pengumpulan cairan didalam paru-
paru (edema pulmoner) yang dapat menyebabkan sesak nafas yang hebat.

PATOFISIOLOGI
• Respon kompensasi terhadap out put kardiac yang tidak adekuat.
Cardiac out put yang tidak adekuat memicu beberapa respon
kompensasi yang berusaha untuk mempertahankan perfusi organ- organ
tubuh yang vital.
Respon awal adalah stimulus kepada saraf simpati yang
menimbulkan dua pengaruh utama :
1. Meningkatkan kecepatan dan kekuatan kontraksi
myocardium.
2. Vasokontriksi perifer
Vasokontriksi perifer menggeser arus darah arteri ke organ-organ
yang kurang vital, seperti kulit dan ginjal dan juga organ-organ yang lebih
vital, seperti otak. Kontriksi vena meningkatkan arus balik dari vena ke
jantung. Peningkatan peregangan serabut otot myocardium memungkinkan
kontraktilitas.
Pada permulaan respon berdampak perbaikan terhadap cardiac out
put, namun selanjutnya meningkatkan kebutuhan oksigen untuk
myocardium, meregangkan serabut- serabut myocardium dibawah garis
kemampuan kontraksi. Bila orang tidak berada dalam status kekurangan
cairan untuk memulai peningkatan volume ventrikel dapat memperberat
preload dan kegagalan komponen- komponen.
Jenis kompensasi yang kedua yaitu dengan mengaktivkan sistem
renin angiotensin yang akhirnya berdampak pada peningkatan preload
maupun afterload pada waktu jangka panjang dan seterusnya.
Kompensasi yang ketiga yaitu dengan terjadinya perubahan
struktur micardium itu sendiri yang akhirnya lama- kelamaan miocrdium
akan menebal atau menjadi hipertropi untuk memperbaiki kontraksi
namun ini berdampak peningkatan kebutuhan oksigen untuk miocardium.
• Kegagalan ventrikel kiri
Kegagalan ventrikel kiri untuk memompakan darah yang
mengandung oksigen guna memenuhi kebutuhan tubuh berakibat dua hal :
1. Tanda- tanda dan gejala- gejala penurunan cadiac output.
2. Kongesti paru- paru.
• Dispnea
Pernafasan yang memerlukan tenaga merupakan gejala dini dari
kegagalan ventrikel. Bisa timbul akibat gangguan pertukaran gas karena
cairan di dalam alveoli. Hal ini bisa menjadi payah karena pergerakan
tubuh, misal menaiki tangga, berjalan mendaki dll. Karena dengan
kegiatan tersebut memerlukan peningkatan oksigen.
• Orthopnea
Timbul kesukaran bernafas pada waktu berbaring terlentang dan
orang harus tidur pakai sandaran di tempat tidur atau tidur duduk pada
sebuah kursi. Bila orang tidur terlentang ventilasi kurang kurang dan
volume darah pada pembuluh- pembuluh paru- paru meningkat.
• Kegagalan ventrikel kanan
Kegagalan ventrikel kanan terjadi bila bilik ini tidak mampu
memompa melawan tekanan yang naik pada sirkulasi pada paru- paru.
Kegagalan ventrikel kanan dalam memompakan darah akan
mengakibatkan oedema pada ekstrimitas. Pada hati juga mengalami
pembesaran karena berisi cairan intra vaskuler, tekanan di dalam sistem
portal menjadi begitu tinggi sehingga cairan didorong melalui pembuluh
darah masuk ke rongga perut (acites) akibatnya akan mendesak diafragma
yang akhirnya akan susah untuk bernafas.
DIAGNOSA
Untuk memperkuat diagnosa maka dlm pemeriksaan fisik akan
menunjukkan : denyut nadi lemah dan cepat, tekanan darah menurun, bunyi
jantung abnormal, pembesaran jantung, pembengkakan vena leher, cairan di
dalam paru, pembesaran hati, penambahan berat badan yang cepat,
pembengkakan perut dan tungkai.

PENGOBATAN
Pengobatan dilakukan agar penderita merasa lebih nyaman dalam
melakukan berbagai aktivitas fisik, dan bisa memperbaiki kualitas hidup serta
meningkatkan harapan hidupnya.
Pendekatannya dilakukan melalui 3 segi, yaitu :
1. mengobati penyakit penyebab gagal jantung.
2. menghilangkan faktor-faktor yang bisa memperburuk gagal jantung.
3. Mengobati gagal jantung.

Ad. 1. Mengobati penyebab gagal jantung


a. Pembedahan bisa dilakukan untuk :
▪ Memperbaiki penyempitan atau kebocoran pada katup jantung
▪ Memperbaiki hubungan abnormal diantara ruang-ruang jantung
▪ Memperbaiki penyumpatan arteri koroner yang kesemuanya bisa
menyebabkan gagal jantung.
b. Pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi.
c. Kombinasi obat-obatan, pembedahan dan terapi penyinaran terhadap
kelenjar tiroid yang terlalu aktif.
d. Pemberian obat anti-hipertensi.

Ad. 2. Menghilangkan faktor yang memperburuk gagal jantung


Merokok, garam, kelebihan berat badan dan alkohol akan
memperburuk gagal jantung. Dianjurkan untuk berhenti merokok, melakukan
perubahan pola makan, berhenti minum alkohol atau melakukan olah raga
secara teratur untuk memperbaiki kondisi tubuh secara keseluruhan. Untuk
penderita gagal jantung yang berat, tirah baring selama beberapa hari
merupakan bagian penting dari pengobatan. Penggunaan garam yang
berlebihan dalam makanan sehari-hari bisa menyebabkan penimbunan cairan
yang akan menghalangi pengobatan medis. Jumlah natrium dalam tubuh bisa
dikurangi dengan membatasi pemakaian garam dapur, garam dalam masakan
dan makanan yang asin.
Penderita gagal jantung yang berat biasanya akan mendapatkan
keterangan terperinci mengenai jumlah asupan garam yang masih
diperbolehkan.
Cara yang sederhana dan dapat dipercaya untuk mengetahui adanya
penimbunan cairan dalam tubuh adalah dengan menimbang berat badan setiap
hari.
Kenaikan lebih dari 1 kg/hari hampir dapat dipastikan disebabkan oleh
penimbunan cairan.
Penambahan berat badan yang cepat dan terus menerus merupakan
petunjuk dari memburuknya gagal jantung.
Karena itu penderita gagal jantung diharuskan menimbang berat
badannya setepat mungkin setiap hari, terutama pada pagi hari, setelah
berkemih dan sebelum sarapan.
Timbangan yang digunakan harus sama, jumlah pakaian yang
digunakan relatif sama dan dibuat catatan tertulis.

Ad. 3. Mengobati Gagal jantung


Prinsipnya adalah pencegahan atau pengobatan dini terhadap
penyebabnya.pengobatan tahap ini adalah secara medis dan dilakukan oleh
dokter.
Pathway

Disfungsi Beban tekanan Beban sistole Beban volume


miocardium berlebihan berlebihan berlebihan

Kontraktilitas Beban sistole Preload Gagal jantung kanan


berkurang meningkat meningkat

Hambatan
pengosongan ventrikel

Beban jantung meningkat

Kurang
pengetahuan
Gagal jantung kiri Gagal jantung kongestif

Gagal pompa ventrikel kiri Cemas

Forward failure Backward failure

COP LVED naik


Renal flow
turun
Suplai darah Tekanan kapiler Tekanan vena
Suplai O2
jaringan turun paru naik pulmo naik
otak menurun GFR

Nutrisi Metabolisme Oedema paru


an aerob Retensi Na + H2O

Metabolisme Cairan masuk


sel Timbunan asam dalam alveoli
laktat meningkat Kelebihan
volume cairan

Lemah Fatique Gangguan


pertukaran gas

Intoleransi aktivitas
Gangguan perfusi
jaringan
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS
CONGERTIVE HEART FAILURE

A. PENGKAJIAN
1. Pengkajian Primer
a) Airway
Menilai jalan nafas bebas. Apakah pasien dapat berbicara dan bernafas
dengan bebas. Jika ada obstruksi maka lakukan :
- Chin lift / jaw trust
- Suction / hisap
- Guedel airway
- Intubasi trakhea dengan leher ditahan ( imobilisasi) pada posisi netral
b) Breathing
Menilai pernafasan cukup, sementara itu menilai ulang apakah jalan
nafas bebas. Jika pernafasan tidak memadai lakukan:
- Dekompensasi rongga pleura
- Pernafasan buatan
- Berikan oksigen
c) Circulation
Menilai sirkulasi / peredaran darah. Sementara itu, nilai apakah jalan
nafas bebas dan pernafasan cukup. Jika sirkulasi tidak memadai lakukan:
- Hentikan peredaran darah eksternal
- Segera pasang 2 jalur infuse dengan jarum besar ( 14-16)
- Berikan infuse cairan
d) Disability
Menilai kesadarn dengan cepat, apakah sadar, hanya respon terhadap
respon tehadapnyeri atau sama sekali tidak sadar. Tidak dianjurkan untuk
mengukur GCS. Adapun cara yang cukup jelas dan cepat adalah:
Awake :A
Respon bicara :V
Respon Nyeri :P
Tidak ada respon :U
e) Eksposure
Lepaskan baju dan penutup tubuh pasien agar dapat dicari semua cidera
yang mungkin ada, jika ada kecurigaan cidera leher atau tulang belakang,
maka imobilisasi in line harus dikerjakan.
2. Pengkajian Sekunder
Pemeriksaan sekunder meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Anamnesis dapat menggunakan format AMPLE (Alergi, Medikasi, Post
illness, Last meal dan event/ environtment yang berhubungan dengan
kejadian). Pemeriksaan fisik dimulai dari kepala hingga kaki dan dapat pula
ditambahkan pemeriksaan diagnostik.
• Aktifitas/istirahat
Keletihan, insomnia, nyeri dada dengan aktifitas, gelisah, dispnea saat
istirahat atau aktifitas, perubahan status mental, tanda vital berubahsaat
beraktifitas.
• Integritas ego : Ansietas, stress, marah, takut dan mudah tersinggung
• Eliminasi
Gejala penurunan berkemih, urin berwarna pekat, berkemih pada
malam hari, diare / konstipasi
• Makanan / cairan
Kehilangan nafsu makan, mual,muntah, penambahan BB signifikan.
Pembengkakan ekstremitas bawah, diit tinggi garam penggunaan
diuretic distensi abdomen, oedema umum, dll
Hygiene : Keletihan selama aktifitas perawatan diri, penampilan
kurang.
• Neurosensori
Kelemahan, pusing, lethargi, perubahan perilaku dan mudah
tersinggung.
• Nyeri/kenyamanan
Nyeri dada akut- kronik, nyeri abdomen, sakit pada otot, gelisah
Interaksi social : penurunan Aktifitas yang biasa dilakukan
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN :
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya perpindahan
cairan kedalam alveoli sekunder Oedem paru.
2. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan cardiac
output.
3. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan suplai darah
menurun.
4. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit
jantung.
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan tubuh.

C. PERENCANAAN
1. DX I :Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
adanya perpindahan cairan kedalam alveoli sekunder Oedem paru.
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan

pertukaran gas lancar.

NOC : Respiratory status : gas exchange

Kriteria hasil :

a. Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigen yang adekuat.

b. Memelihara kebersihan paru dan bebas dari tanda-tanda distress

pernafasan .

c. Tanda-tanda vital dalam rentang normal.

Keterangan skala :

1 = Tidak pernah menunujukkan

2 = Jarang menunjukkan

3 = Kadang menunjukkan

4 = Sering menunjukkan
5 = Selalu menunjukkan

NIC : Airway management

Aktivitas :

1. Buka jalan nafas, gunakan teknik chin lift atau jaw thurst bila perlu.

2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi.

3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan.

4. Berikan bronkodilator bila perlu.

5. Monitor konsentrasi dan status oksigen.

6. Berikan oksigen seuai kebutuhan.

2. DX II : Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan


suplai darah menurun.
Tujuan : Tidak terjadi perubahan perfusi pada jaringan serebral
NOC : Status sirkulasi
a. Tekanan darah sistol normal
b. Tekanan darah diastole normal
c. Denyut nadi normal
d. Tekanan vena sentral normal
e. Tekanan paru paru normal
f. Denyut jantung normal
g. Irama jantung normal
h. Perbedaan oksigen darah di arteri dan vena normal
Keterangan Skala
1 = Tidak pernah menunjukan
2 = Jarang menunjukan
3 = Kadang menunjukan
4 = Sering menunjukan
5 = Selalu menunjukan
NIC
1. Awasi sirkulasi
a. Evaluasi adanya edema perifer dan nadi
b. Lihat / kaji kulit ada luka atau tidak
c. Kaji derajat ketidaknyamanan atau nyeri
d. Ekstermitas bawah direndahkan untuk meningkatkan
sirkulasi arteri
e. Ganti posisi pasien paling sedikit 2 jam
f. Monitor stress cairan, ternasuk cairan dan keluaran.
g. Kolaborsi pemberian antihipertensi dan glikosida jantung.

3. DX III : Kelebihan volume cairan berhubungan dengan


cardiac output.
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan status

cairan pasien dapat dipertahankan secara seimbang.

NOC: Keseimbangan Cairan


Kriteria hasil:
a. Pengeluaran urine 1-2 ml/KgBB/jam
b. Tekanan darah dalam batas normal
c. Tidak ada edema
d. Berat jenis urine normal
e. Berat badan stabil
Keterangan Skala:
1 = Tidak pernah menunjukkan
2 = Jarang menunjukkan
3 = Kadang menunjukkan
4 = Sering menunjukkan
5 = Selalu menunjukkan
NIC: Manajemen Cairan
1) Monitor intake dan output
2) Kaji edema
3) Timbang berat badan
4) Monitor tekanan darah setiap 4 jam
5) Pembatasan cairan dan sodium sesuai program
6) Kolaborasi pemberian diuretik

4. DX IV : Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan


tentang penyakit jantung.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan

cemas hilang.

NOC : Kontrol kecemasan

Kriteria hasil :

a. Klien mampu mengidentifikasikan dan mengungkapkan gejala

cemas

b. Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan teknik untuk

mengontrol cemas

c. Vital sign dalam batas normal

d. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan tingkat aktifitas

menunjukkan berkurangnya kecemasan.

Keterangan skala :

1 = Tidak pernah menunujukkan

2 = Jarang menunjukkan

3 = Kadang menunjukkan

4 = Sering menunjukkan

5 = Selalu menunjukkan

NIC : Penurunan kecemasan


Aktivitas :

1. Gunakan pendekatan yang menyenengkan

2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien

3. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur

4. Berikan informasi factual mengenai diagnosis, tindakan prognosis

5. Dorong keluarga untuk menemani

5. DX V: Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan tubuh.


Tujuan : Tidak terjadi intoleransi aktivitas
NOC :
a. Saturasi oksigen dbn dalam respon aktivitas
b. HR dbn dalam respon aktivitas
c. RR dbn respon aktivitas
d. TD dbn dalam beraktivitas
e. ADL telah dilakukan
Keterangan Skala
1 = Tidak pernah menunujukkan

2 = Jarang menunjukkan

3 = Kadang menunjukkan

4 = Sering menunjukkan

5 = Selalu menunjukkan

NIC
1. Tentukan penyebab intoleransi aktivitas
2. Tentukan periode aktivitas selama beraktivitas
3. Pantau respon kardiopulmonal sebelum dan setelah melakukan
aktivitas
4. Minimalkan kerja kardiovaskuler dengan meberikan posisi dari tidur
ke posisi setengah duduk.
5. Monitor dan catat kemampuan klien untuk mentoleransi aktivitas.
6. Ajarkan pada klien bagaimana menggumakan teknik mengontrol
pernapasan ketika beraktivitas.

D. EVALUASI
DX KRITERIA HASIL KETERANGAN SKALA
I NOC : Respiratory status : gas exchange
1. Mendemonstrasikan peningkatan 1 = Tidak pernah menunjukan
ventilasi dan oksigen yang adekuat. 2 = Jarang menunjukan
2. Memelihara kebersihan paru dan 3 = Kadang menunjukan
bebas dari tanda-tanda distress 4 = Sering menunjukan
pernafasan . 5 = Selalu menunjukan
3. Tanda-tanda vital dalam rentang
normal
II NOC : Status sirkulasi
1. Tekanan darah sistol normal
2. Tekanan darah diastole normal 1 = Tidak pernah menunjukan
3. Denyut nadi normal 2 = Jarang menunjukan
4. Tekanan vena sentral normal 3 = Kadang menunjukan
5. Tekanan paru paru normal 4 = Sering menunjukan
6. Denyut jantung normal 5 = Selalu menunjukan
7. Irama jantung normal
8. Perbedaan oksigen darah di
arteri dan vena normal

III NOC: Keseimbangan Cairan


1. Pengeluaran urine 1-2 1 = Tidak pernah menunjukan
ml/KgBB/jam 2 = Jarang menunjukan
2. Tekanan darah dalam batas 3 = Kadang menunjukan
normal 4 = Sering menunjukan
3. Tidak ada edema 5 = Selalu menunjukan
4. Berat jenis urine normal
5. Berat badan stabil
IV NOC : Kontrol kecemasan
1. Klien mampu mengidentifikasikan dan
mengungkapkan gejala cemas 1 = Tidak pernah menunjukan
2. Mengidentifikasi, mengungkapkan 2 = Jarang menunjukan
dan menunjukkan teknik untuk 3 = Kadang menunjukan
mengontrol cemas 4 = Sering menunjukan
3. Vital sign dalam batas normal 5 = Selalu menunjukan
4. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa
tubuh, dan tingkat aktifitas
menunjukkan berkurangnya
kecemasan.
V NOC :
1. Saturasi oksigen dbn dalam 1 = Tidak pernah menunjukan
respon aktivitas 2 = Jarang menunjukan
2. HR dbn dalam respon aktivitas 3 = Kadang menunjukan
3. RR dbn respon aktivitas 4 = Sering menunjukan
4. TD dbn dalam beraktivitas 5 = Selalu menunjukan
5. ADL telah dilakukan
DAFTAR PUSTAKA

APrice, Sylvia and M. Wilson, Lorraine. (2000). Pathophysiology Fourth Edition.


Mosby Year Book. Michigan.

Bakta, I Made dan I Ketut Swastika. (1999). Gawat Darurat di Bidng Penyakit
Dalam. Jakarta : EGC.

Doenges, Marylinn E. et al. (2002). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman


Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3,
Alih bahasa I Made Kariasa. Jakarta. EGC.

Ignatavicius, Dona D and Bayna, Marylen V. (2000). Medical Surgical Nursing


A nursing proces Aproach Edisi I. WB Saunders Company. Philadhelpia.

NANDA. (2005). Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA : Definisi dan


Klasifikasi 2005-2006 Alih Bahasa: Budi Santosa. Jakarta : Prima
Medika.

Soeparman. Et al. (2001). Buku Ajar Penyakit Dalam, Edisi Ketiga. Jakarta. Balai
Penerbit FKUI.