Anda di halaman 1dari 23

PRESENTASI KASUS PSIKOTIK

SEORANG PEREMPUAN 36 TAHUN DENGAN SKIZOFRENIA HEBEFRENIK (F20.1)

OLEH:

dr. Muhammad Rizky Huryamin

SUPERVISOR:

dr. Aliyah Himawati, Sp.KJ

PPDS PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2020

1
HALAMAN PERSETUJUAN

SEORANG PEREMPUAN 36 TAHUN DENGAN SKIZOFRENIA HEBEFRENIK (F20.1)


ini telah disetujui untuk dipresentasikan pada
tanggal ......... . . . 2020 jam . . . . . . . WIB

Supervisor Tanda tangan

dr. Aliyah Himawati Rizkiyani, Sp.KJ ...............................................

Pembimbing

1. ........................................... .................................................

2. ........................................... ................................................

Sie Ilmiah

1. ........................................... ............................................

2
HALAMAN PENGESAHAN

Presentasi : Kasus Psikotik

Nama : Muhammad Rizky Huryamin H.

PPDS PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET


RSJD Dr. ARIF ZAINUDIN
SURAKARTA

Telah disetujui dan disahkan pada

Tanggal___________Bulan______________2020
Oleh Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran UNS/RSJD Dr. ARIF ZAINUDIN
Surakarta

Supervisor

dr. Aliyah Himawati Rizkiyani, Sp.KJ

3
IDENTITAS PASIEN
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. S
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 36 Tahun
Alamat : Gotputuk, Ngawen, Blora
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Suku : Jawa
Agama : Islam
Tanggal Pemeriksaan : 25 November 2020 – 30 November 2020
II. RIWAYAT PSIKIATRI
Anamnesis diperoleh dari autoanamnesis dan alloanamnesis diperoleh dari:
1. Ny D, 62 tahun, Ibu kandung pasien, pedagang, tinggal serumah.
2. Tn. T, 50 tahun, Tani, Kepala Dusun.
A. Keluhan Utama
Bicara kacau
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Alloanamnesa:
Pasien dibawa ke IGD RSJD oleh ibu, adik pasien, kepala dusun, dan arahan dari
petugas Puskesmas N karena pasien dalam 2 hari ini teriak marah-marah dan tidak tidur
seharian penuh, selain itu juga pasien setiap makan selalu menendang piringnya dan tidak
mau makan.
Pasien sehari-hari hanya dirumah tidak bekerja dan dipasung sejak lama lebih dari
10 tahun lamanya, pasien dipasung menggunakan rantai di kaki dan jika gelisah tangan
pasien juga terkadang diikat oleh keluarganya karena keluarga sudah tidak bisa melarang
pasien untuk berbuat sesuatu yang tidak bertanggung jawab dan malu.
Awal pertama pasien berumur 18 tahun berprilaku aneh ketika pasien pulang dari
Jakarta bekerja selama 7 bulan sebagai asisten rumah tangga, menurut keterangan ibu
pasien sewaktu di Jakarta pasien setiap gajian selalu dipinjami uangnya oleh majikannya
setiap gajian dan saat berhenti bekerja dari Jakarta pasien hanya membawa uang

4
Rp.20.000 saja. Pasien sempat bercerita kepada ibunya sering mendapat kekerasan dari
majikannya selama bekerja.
Dua hari setelah pulang dari Jakarta ibu pasien sering melihat anaknya sering
tertawa dan berbicara sendiri terkadang juga pasien sering keluyuran pergi tanpa tujuan,
selain itu juga pasien terkadang bercerita kepada ibunya bahwa pasien terganggu oleh
suara bisikan yang membuatnya tidak nyaman untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
Awalnya pasien diajak berobat ke orang pintar sebanyak tiga kali karena diduga sakitnya
tersebut merupakan gangguan jin, namun tetap tidak ada perubahan dan akhirnya pasien
diajak berobat di RSJ Semarang sempat mondok 2 kali, yang pertama pada tahun 2002
selama 25 hari dan yang kedua selama 1 bulan. Namun keluarga merasa keluhan pasien
setelah dirawat justru seperti tambah parah, seperti orang yang bingung dan akhirnya
keluarga memutuskan untuk tidak melanjutkan pengobatannya dan alasanya juga
keluarga pasien merasa berobat ke Semarang sangat cukup jauh untuk kontrol,
selanjutnya pasien kontrol di Puskesmas N, karena dekat dengan rumahnya tetapi pasien
ujung-ujungnya tidak rutin control karena dirasa obat di Puskesmas N tidak manjur pasien
berobat kurang hanya control 5 kali saja dengan catatan bolong-bolong.
Pernah suatu ketika pasien tidak pulang seharian dan pasien ternyata ditemukan
tiduran digubuk di suatu persawahan, pasien juga sering buang air besar sembarangan di
rumah tetangga dan sering meminta rokok kepada pemuda di kampungnya. Karena
keluarga pasien cukup frustasi untuk mengatur dan mengurus pasien akhirnya pasien
dipasung dengan cara kakinya dirantai dan tangannya diikat. Ibu pasien bercerita pasien
dipasung di dalam kamarnya, terkadang juga di ruang keluarga, pasung dilepas hanya
ketika pasien hendak makan, dan keperluan kamar mandi saja. Selain itu pasien dipasung
dalam kamar.
Karena merasa iba, ibu pasien pernah beberapa kali melepas pasungnya namun
pasien malah kembali untuk buang air sembarangan di rumah tetangga dan meminta
rokok kepada pemuda di kampungnya, sejak kejadian tersebut pasien tidak pernah
dilepaskan lagi pasungnya karena keluarga malu kepada tetangga.
Pasien juga pernah mendapat program suntikan perbulan dari Puskesmas, namun
semenjak disuntik tersebut pasien sering melet-melet sendiri dan adik pasien melarang
petugas Puskesmas untuk menyuntiknya.

5
Menurut kepala dusun, keluarga pasien terlihat seperti membiarkan pasien dalam
keadaan seperti ini, saudara pasien juga semenjak pasien mengalami gangguan jiwa tidak
pernah menjenguk pasien. Dan tetangga juga sering melaporkan ada suara orang dipukul
pada malam hari dan kemungkinan itu adalah pasien. Sebenarnya kepala dusun dan
petugas puskesmas sudah lama membujuk keluarganya untuk membawanya untuk ke RSJ
namun keluarga pasien seperti tidak peduli tentang kedaan pasien.
Autoanamnesa:
Pasien bicara kacau, mengaku bernama Tun dan berusia saat ini 86 tahun. Pasien
mengaku saat ini berada di Bombay, pasien setiap ditanya selalu tersenyum. Pasien
menyangkal adanya suara-suara yang bisikin, pasien lebih cenderung pasif. Pasien
bercerita mempunya banyak pacar, namun pasien enggan menyebutkan nama pacarnya.
Pasien lebih senang di bangsal karena temannya banyak.
C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien sempat dirawat di RSJ Semarang sebanyak 2 kali, dan sempat berobat di Puskesmas
namun berhenti
2. Riwayat penyakit medis umum
a. Riwayat hipertiroid : Disangkal
b. Riwayat hipertensi : Disangkal
c. Riwayat diabetes melitus : Disangkal
d. Riwayat trauma kepala : Disangkal
e. Riwayat kejang : Disangkal
f. Riwayat Asma : Disangkal
3. Riwayat penggunaan alkohol dan zat – zat lain : Tidak
D. Riwayat kehidupan Pribadi
1. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien lahir normal dan merupakan anak yang diinginkan. Pasien lahir di rumah dengan
dukun beranak. Selama hamil pasien control ke puskesmas. Selama ibu pasien hamil,
ibu pasien tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan maupun sakit fisik yang berarti.

6
2. Riwayat Masa Anak Awal (0-3 tahun)
Pasien dirawat oleh kedua orang tua dan mendapatkan ASI namun tidak sampai 2 tahun.
Pasien tumbuh dan berkembang selayaknya anak pada umumnya diusia yang sama.
3. Riwayat Masa Anak Pertengahan (4-6 tahun)
Pasien merupakan anak yang pendiam dan pemalu, tumbuh kembang dalam batas
normal. Sudah tidak mengompol. Pasien sudah mulai sekolah dan tidak terjadi cemas
perpisahan.
4. Riwayat Masa Anak Akhir ( 7 – 12 tahun)
Pasien merupakan anak yang pintar. Ketika SD pasien pernah masuk 10 besar ketika
kelas 5. Pasien hanya memiliki sedikit teman dan lebih suka menyendiri.
5. Riwayat masa remaja (13-18 tahun)
Pasien tidak melanjutkan ke SMP karena pasien ingin bekerja agar cepat mendapat uang
untuk membatu perkonomian keluarga.
6. Masa dewasa
a. Riwayat pekerjaan
Setelah lulus SD pasien bekerja sebagai petani selama 5 tahun, pasien juga terkadang
bekerja sampingan sebagai pengumpul kayu bakar, karena menurut pasien
penghasilan masih sedikit selanjutnya pasien bekerja sebagai asisten rumah tangga
di Jakarta selama 7 bulan.
b. Riwayat pernikahan
Pasien belum menikah.
c. Riwayat pendidikan
Pasien sekolah hingga Tamat SD.
d. Riwayat Agama
Pasien beragama Islam, sebelum sakit pasien taat melakukan sholat lima waktu dan
ibadah wajib maupun ibadah sunah lainnya
e. Riwayat kemiliteran
Tidak pernah menjalani pendidikan kemiliteran.
f. Aktivitas sosial
Pasien merupakan orang yang pendiam dan tidak mudah bergaul, tertutup dan hanya
memiliki beberapa teman. Sepulang sekolah pasien lebih suka untuk langsung pulang

7
ke rumah. Saat lulus sekolah dan bekerja pun kehidupan pasien sibuk mencari uang
jarang berkumpul dengan remaja di kampungnya.
g. Riwayat hukum
Tidak pernah ada riwayat hukum
h. Riwayat psikoseksual
Tidak didapatkan data yang adekuat.
i. Persepsi keluarga tentang sakitnya
Keluarga pasien berpendapat bahwa pasien mengalami sakit pikiran yang berat serta
sulit untuk sembuh. Keluarga memahami bahwa sakit seperti ini memerlukan
pengobatan jangka panjang dan kurang mendukung upaya pengobatan pasien.
j. Persepsi pasien tentang dirinya
Pasien sulit di evaluasi

7. Riwayat keluarga
Genogram :

Keterangan gambar:
: tanda gambar untuk keluarga gangguan jiwa
: tanda gambar untuk pasien

8
: tanda gambar untuk jenis kelamin laki-laki
: tanda gambar untuk jenis kelamin perempuan
: tanda gambar yang menunjukkan meninggal
: tanda gambar yang menunjukkan tinggal serumah

I. EVALUASI KELUARGA
A. Susunan Keluarga
Pasien merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Saat ini pasien tinggal Bersama
bapak, ibu, dan adik pasien.
B. Keadaan Sosial Ekonomi Sekarang
Sumber pendapatan ekonomi pasien dari ayah ibu pasien saja yang bekerja sebagai
pedagang sayur dan ayahnya bekerja sebagai petani di sawah yang dimana pendapatan
sangat pas-pasan. Pasien berobat dengan menggunakan BPJS dari pemerintah.
C. Fungsi Subsistem
1. Subsistem orang tua-anak
Hubungan dengan ayah, pasien sering mendapat perlakuan kekerasan karena pasien
tidak mau patuh, hubungan dengan ibu cukup dekat, sebelum sakit pasien sering
dituruti keinginannya
2. Subsistem suami istri
Pasien belum menikah.
3. Subsistem saudara
Pasien kurang dekat dengan saudara-saudara pasien terlebih dengan kedua kakaknya
yang sudah menikah
4. Interaksi antar subsistem
Secara keseluruhan hubungan pasien dengan orang tua, saudara sebelum sakit kurang
baik.
II. PEMERIKSAAN STATUS MENTALIS
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Seorang perempuan lebih muda dari usianya, berpenampilan cukup rapi
2. Pembicaraan

9
Spontan intonasi kurang jelas, volume sedikit lemah, artikulasi kurang jelas,
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor : normoaktif, kontak mata adekuat, perilaku
halusinatorik, grimace, kadang menggigit jari kuku tangannya.
4. Sikap terhadap pemeriksa : kooperatif, kontak mata tidak adekuat
B. Kesadaran
1. Kuantitatif : GCS, E4V5M6
2. Kualitatif : Berubah
C. Alam Perasaan
1. Mood : Eutimik
2. Afek : Tumpul
3. Keserasian : Tidak Serasi
4. Empati : Tidak dapat diraba rasakan
D. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi : Sulit dievaluasi
2. Ilusi : Sulit dievaluasi
3. Depersonalisasi : Sulit dievaluasi
4. Derealisasi : Sulit dievaluasi
E. Proses Pikir
1. Bentuk pikir : non realistik
2. Isi pikir : sulit dievaluasi
3. arus pikir : inkoheren
F. Kesadaran Kognisi
1. Orientasi
a. Orang : sulit dievaluasi
b. Tempat : sulit dievaluasi
c. Waktu : sulit dievaluasi
d. Situasi : sulit dievaluasi
2. Daya Ingat
a. Jangka Segera : sulit dievaluasi
b. Jangka Pendek : sulit dievaluasi
c. Jangka Panjang : sulit dievaluasi

10
3. Kemampuan Abstrak : sulit dievaluasi
4. Kemampuan Visuospasial : sulit dievaluasi
5. Daya Konsentrasi dan Perhatian
a. Kosentrasi : terganggu
b. Perhatian : terganggu
6. Kemampuan Menolong Diri : tidak mampu menolong diri
sendiri
G. Daya Nilai dan Tilikan
1. Nilai Sosial : terganggu
2. Uji Daya Nilai : terganggu
3. Penilaian Realita : terganggu
4. Tilikan Diri : derajat I
H. Taraf Kepercayaan : dapat dipercaya
III. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT
A. Status Internus
Keadaan umum tidak tampak sakit, tekanan darah : 120/80 mmHg, frekuensi nadi : 80
kali/ menit dan reguler, suhu: afebris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
jantung paru dan abdomen dalam batas normal, extremitas akral hangat, tidak oedema.
B. Status neurologis : dalam batas normal
C. Laboratorium: Anemia Mikrositik hipokromik
WBC 6,74 RBC 4,4
NEU 4,56 HGB 9.8
LYM 1,37 HCT 31.3
MON 0.27 MCV 70.6
EO 0.08 MCH 22,2
BAS 0.06 MCHC 31.4
NEU% 72.0
LYM% 21,7
MON% 4.2
EO% 1.2
BAS% 0.9

11
IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Seorang perempuan berusia 36 tahun dibawa karena pasien dalam 2 hari ini marah-
marah,1 hari tidak tidur dan tidak mau makan. Pasien dipasung sejak lama lebih dari 10 tahun.
Pasien mulai sakit sejak usia 18 tahun, sering keluyuran bahkan pernah tidak pulang, tertawa
sendiri, BAB di rumah tetangga, merokok, dahulu pernah mendengar bisikan yang
mengganggu. Sebelum dipasung pasien sempat rawat inap 2 kali di RSJ Semarang, tidak rutin
kontrol, dan tidak mau berobat di Puskesmas bahkan injeksi obat per bulan pun tidak mau.
Dari riwayat keluarga terdapat keluhan dengan yang sama. Dari pemeriksaan fisik dalam batas
normal, laboratorium didapatkan anemia defisinsi besi. Pemeriksaan status mental didapatkan
perilaku dan aktivitas psikomotor: normoaktif, kontak mata tidak adekuat, perilaku seperti
anak-anak, terlihat mondar mandir tanpa tujuan. Mood eutimik, afek tumpul. Arus pikir
inkoheren. Tilikan derajat 1.

V. FORMULASI DIAGNOSTIK
Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan pola perilaku dan psikologis yang secara
klinis bermakna dan menimbulkan suatu penderitaan (distress) dan hendaya (disability)
dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari yang biasa dan fungsi pekerjaan. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa pasien ini menderita gangguan jiwa.
Pada anamnesa dan pemeriksaan internus dan neurologis saat ini tidak ditemukan
kelainan yang mengindikasikan gangguan medis umum yang secara fisiologis
mengakibatkan gejala gangguan mental yang dialami saat ini. Sehingga Gangguan Mental
Organik (F00 – F09) dapat disingkirkan.
Dari anamnesis tidak ditemukan riwayat penggunaan zat psikoaktif dan penggunaan
alkohol, sehingga diagnosis Gangguan Mental Terkait-Zat (Substance-Related Disorder)
dapat disingkirkan (F10 – F19).
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan status mental didapatkan adanya Reality
Testing Ability (RTA) yaitu awareness dan insight dan judgment terganggu, mood: eutimik,
afek : tumpul, arus pikir : inkoheren, perilaku seperti anak-anak, lebih menyukai aktifitas
sendiri. Sehingga berdasar PPDGJ III, diagnosa Skizofrenia, Gangguan Skizotipal, dan

12
Gangguan Waham (F20-F29), belum dapat disingkirkan. Maka diajukan Axis 1 Skizofrenia
Hebefrenik (F20.1)
Berdasarkan riwayat premorbid, pasien merupakan orang yang lebih suka sendiri.
Pasien tidak begitu memiliki banyak teman, ketika sekolah dan bekerja pasien tidak tampak
tertarik untuk bersosialisasi dengan tetangga. Sehingga berdasarkan PPDGJ III pada pasien
ini pada Aksis II diusulkan memiliki ciri kepribadian Skizoid.
Pada pasien ini didapatkan adanya masalah penelantaran oleh keluarganya dengan
dipasung, sehingga Aksis IV masalah dengan Primary Support Group.
Aksis V: skala GAF saat ini: 40-31 (beberapa disabilitas dalam hubungan dengan
realita dan komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi).

VI. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL


Aksis I : Skizofrenia Hebefrenik (F20.1)

Diagnosa banding:

Skizofrenia Tak Terinci (Undifferentiated)

Retardasi Mental

Aksis II : Ciri Kepribadian Skizoid


Aksis III : Anemia defisiensi besi
Aksis IV : Masalah dengan Primary Support Group
Aksis V : GAF Current 40-31
GAF HLPY 50-41
VII. DAFTAR MASALAH
A. Biologi : Ditemukan
B. Psikologik :
1. Gangguan pikiran
2. Gangguan alam perasaan
3. Perilaku
C. Sosial : Tidak Ditemukan

13
VIII. RENCANA PENGOBATAN
a. Psikofarmaka
Haloperidol 3dd 5mg
Trihexyphenidil 3dd 2mg
Clozapine 2 dd 25mg
Asam folat 1dd1
fondazen 1dd1
b. Non psikofarmaka
Psikoterapi Keluarga

Terapi komunitas

IX. PROGNOSIS
a. Hal yang memberatkan
No Keterangan Check List
1. Onset muda V
2. Faktor pencetus tidak jelas -
3. Onset tidak jelas -
4. Riwayat sosial, seksual dan pekerjaan pramorbid V
yang jelek
5. Perilaku menarik diri V
6. Tidak menikah, cerai, janda, duda V
7. Riwayat keluarga Skizofrenia V
8. Sistem pendukung yang buruk V
9. Gejala negatif V
10. Tanda dan gejala neurologis -
11. Tidak ada remisi dalam tiga tahun V
12. Banyak relaps V

14
b. Hal yang meringankan
Keterangan Check List
1. Onset lambat ( usia dewasa) -
2. Faktor pencetus jelas V
3. Onset akut -
4. Riwayat sosial, seksual dan pekerjaan, premorbid yang -
baik
5. Gangguan mood -
6. Mempunyai pasangan -
7. Riwayat keluarga gangguan mood -
8. Sistem pendukung yang baik -

9. Gejala positif V

Qua ad vitam : ad bonam

Qua ad sanasionam : dubia ad malam

Qua ad fungsionam : dubia ad malam

15
X. DISKUSI

PENATALAKSANAAN PEMASUNGAN PENDERITA GANGGUAN JIWA

Pemasungan penderita gangguan jiwa adalah tindakan masyarakat terhadap penderita


gangguan jiwa (biasanya yang berat) dengan cara dikurung, dirantai kakinya dimasukan kedalam
balok kayu dan lain-lain sehingga kebebasannya menjadi hilang. Pasung merupakan salah satu
perlakuan yang merampas kebebasan dan kesempatan mereka untuk mendapat perawatan yang
memadai dan sekaligus juga mengabaikan martabat mereka sebagai manusia.

Data menunjukan anggota keluarga yang pernah dipasung dengan gangguan jiwa, di
perkotaan sebanyak 10,7% dan di pedesaan sebanyak 17,7%, serta total keseluruhan Jumlah
gangguan jiwa dengan pernah dipasung di Indonesia sebesar 14,0% (Depkes RI, 2018)

Ketidaktahuan pihak keluarga, rasa malu pihak keluarga, penyakit yang tidak kunjung
sembuh, tidak adanya biaya pengobatan, dan tindakan keluaga untuk mengamankan lingkungan
merupakan penyebab keluarga melakukan pemasungan (Depkes, 2018). Biaya berobat yang harus
ditanggung pasien tidak hanya meliputi biaya yang langsung berkaitan dengan pelayanan medik
seperti harga obat, jasa konsultasi tetapi juga biaya spesifik lainnya seperti biaya transportasi ke
rumah sakit dan biaya akomodasi lainnya (Sadock, 2015). Faktor kemiskinan dan rendahnya
pendidikan keluarga merupakan salah satu penyebab pasien gangguan jiwa berat hidup terpasung.
Upaya Menanggulangi pasien pasung oleh keluarga:

• Dirawat sampai sembuh di Rumah Sakit Jiwa, kemudian dilanjutkan dengan rawat jalan.

• Untuk menghilangkan praktek pasung yang masih banyak terjadi di masyarakat perlu adanya
kesadaran dari keluarga yang dapat diintervensi dengan melakukan terapi keluarga. Salah satu
terapi keluarga yang dapat dilakukan adalah psikoedukasi keluarga (Family Psychoeducation
Therapy). Terapi keluarga ini dapat memberikan support kepada anggota keluarga. Keluarga dapat
mengekspresikan beban yang dirasakan seperti masalah keuangan, sosial dan psikologis dalam
memberikan perawatan yang lama untuk anggota keluarganya.

Family psychoeducation terapy adalah salah satu bentuk terapi perawatan kesehatan jiwa
keluarga dengan cara pemberian informasi dan edukasi melalui komunikasi yang terapeutik.

16
Program psikoedukasi merupakan pendekatan yang bersifat edukasi dan pragmatis (Sadock,
2009).

Family psychoeduction dapat dilakukan di rumah sakit baik rumah sakit umum maupun rumah
sakit jiwa dengan syarat ruangan harus kondusif. Dapat juga dilakukan di rumah keluarga sendiri.
Rumah dapat memberikan informasi kepada tenaga kesehatan tentang bagaimana gaya interaksi
yang terjadi dalam keluarga, nilai–nilai yang dianut dalam keluarga dan bagaimanan pemahaman
keluarga tentang kesehatan.

Selain terapi keluarga, terdapat beberapa jenis terapi lain yang dapat digunakan untuk
meningkatkan kemampuan keluarga dan klien di masyarakat yaitu dengan terapi individu, terapi
kelompok dan terapi komunitas. Intervensi tersebut diupayakan melalui penerapan program
kesehatan jiwa komunitas/masyarakat yang efektif yang dalam hal ini dilakukan melalui penerapan
Community Mental Health Nursing (CMHN). Pelayanan CMHN tersebut diwujudkan melalui
beberapa kegiatan, diantaranya kunjungan rumah oleh perawat CMHN dan Kader Kesehatan Jiwa
(KKJ), pendidikan kesehatan, pelayanan dari Puskesmas (termasuk pemberian psikofarmaka),
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) dan Terapi Rehabilitasi. Adapun intervensi yang dapat
diberikan untuk keluarga dengan gangguan jiwa menurut Sadock, 2015 adalah sebagai berikut:

1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat klien

2) Berikan penjelasan pada keluarga tentang pengertian, etiologi, tanda dan gejala, dan cara
merawat klien dengan diagnosa keperawatan tertentu (misalnya halusinasi, perilaku
kekerasan)

3) Demonstrasikan cara merawat klien sesuai jenis gangguan yang dialami

4) Berikan kesempatan pada keluarga untuk memperagakan cara merawat klien yang telah
diajarkan

5) Bantu keluarga untuk menyusun rencana kegiatan di rumah

Secara umum, program komprehensif dalam bekerjasama dengan keluarga terdiri dari
beberapa komponen berikut ini (Sarah, 2016) :

17
1) Didactic component, memberikan informasi tentang gangguan jiwa dan sistem
kesehatan jiwa. Pada komponen ini, difokuskan pada peningkatan pengetahuan bagi
anggota keluarga melalui metode pengajaran psikoedukasi.

2) Skill component, menawarkan pelatihan cara komunikasi, resolusi konflik, pemecahan


masalah, bertindak asertif, manajemen perilaku, dan manajemen stres. Pada komponen ini,
difokuskan pada penguasaan dan peningkatan keterampilan keluarga dalam merawat
keluarga dengan gangguan jiwa termasuk ketrampilan mengekspresikan perasaan anggota
keluarga sehingga diharapkan dapat mengurangi beban yang dirasakan keluarga.

3) Emotional component, memberi kesempatan keluarga untuk ventilasi, bertukar


pendapat, dan mengerahkan sumber daya yang dimiliki. Pada komponen ini, difokuskan
pada penguatan emosional anggota keluarga untuk mengurangi stress merawat anggota
keluarga dengan gangguan jiwa. Keluarga dapat saling menceritakan pengalaman dan
perasaannya serta bertukar informasi dengan anggota kelompok yang lain tentang
pengalaman merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa.

4) Family process component, berfokus pada koping keluarga dengan gangguan jiwa dan
gejala sisa yang mungkin muncul. Pada komponen ini, difokuskan pada penguatan koping
anggota keluarga dalam menghadapi kemungkinan kekambuhan klien di masa depan.

5) Social component, meningkatkan penggunaan jaringan dukungan formal dan informal.


Pada komponen ini, difokuskan pada pemberdayaan keluarga dan komunitas untuk
meningkatkan kerjasama yang berkesinambungan dan terus menerus.

Kelima komponen di atas sangat tepat diterapkan sebagai prinsip dasar dalam menjalin
kerjasama dengan keluarga dengan gangguan jiwa karena telah mencakup semua hal yang
diperlukan untuk sebuah kolaborasi antara keluarga klien dengan tenaga kesehatan.

Di RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta sendiri sejak tahun 2018 melahirkan suatu program
yaitu “Si Entos Pulang” Sistem Pengentasan ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) Pasung
Secara Paripurna Terintegrasi. Dimana program ini dengan tujuan yang sama yaitu mempercepat
pengentasan pasung di Karesidenan Surakarta yang bekerja di Pre Hospital, Intra Hospital, Pasca

18
Hospital. Data terakhir yang didapatkan bahwa pasien pasung dilaporkan pada tahun 2018
sebanyak 3 pasien, pada tahun 2019 didapatkan 15 pasien dan 7 orang sampai bulan September
2020.

19
Daftar Pustaka

Depkes RI, 2018. Situasi Kesehatan Jiwa di Indonesia. Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.

Sadock, B. J., Sadock V. A. (2009). Scizophrenia and Other Psychotic Disorder in


Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of Psychiatry 9 th Edition. USA:
Lippincott Williams & Wilkins

Sadock, B.J., Sadock, V.A., & Ruiz, P. (2015). Kaplan & Sadock’s Synopsis of
Psychiatry (11th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer.

Sarah C. Akerman, Sarah C, Mary F. Brunette Marry, F et al. Familytherapy of Co-


Occurring Schizophrenia and Substance Use Disorders. Department of Psychiatry,
Geisel School of Medicine at Dartmouth, Lebanon, NH 03756, USA. (PMC 2016)

20
Lampiran kronologis

21
Lampiran perkembangan pasien

FOLLOW UP

Tgl Subjective Objective Assesment Planning

25/11/2020 S/ TD: 111/64 Skizofrenia Haloperidol


pasien post pasung 10 tahun N:89 Hebefrenik dd 3dd 5mg
menggunakan rantai. jika RR: 20 Skizofrenia tak Trihexyphenidil
tidak dipasung pasien S: 36,5 terinci + 3dd 2mg
ngeluyur. pagi ini pasien jika Anemia Clozapine 2 dd
ditanya tampak bingung. tadi kesadaran : CM berubah Defisiensi Besi 25mg
malam pasien bisa tidur. Perilaku/psikomotor: (ADB) Asam folat
makan dan minum obat mau. hipoaktif 1dd1
Afek : tumpul fondazen 1dd1
Mood : eutimik
Gangguan Pikir
Bentuk pikir : non realistik
Isi : waham tidak
ditemukan
Arus : asosiasi longgar
Gg persepsi : halusinasi -
Insight : Derajat 1
26/11/2020 Pasien setiap ditanya selalu TD: 120/85 Skizofrenia Haloperidol
tersenyum, mekatakn saat ini N:100 Hebefrenik dd 3dd 5mg
di Bombay, tidur cukup, RR: 20 Skizofrenia tak Trihexyphenidil
mendengar suara bisikan S: 36,6 terinci + ADB 3dd 2mg
disangkal Clozapine 2 dd
KU baik, 25mg
-Kesadaran CM berubah Asam folat
-Psikomotor: normoaktif 1dd1
-Sikap kooperatif fondazen 1dd1
-Pembicaraan: artikulasi
kurang jelas, intonasi
cukup, volume lemah
Afek: tumpul
Mood eutimik
Bentuk pikir Nonrealistik
Arus pikir inkoheren
Tilikan derajat I

27/11/2020 Pasien masih bicara kacau, Td 110/70 Skizofrenia Haloperidol


pasien menunjukan giginya nadi 84 Hebefrenik dd 3dd 5mg
yang goyang dan tersenyum suhu 36.3 Skizofrenia tak Trihexyphenidil
rr20 terinci + ADB 3dd 2mg
Clozapine 2 dd
KU baik, 25mg
-Kesadaran CM berubah Asam folat
-Psikomotor: normoaktif 1dd1
-Sikap kooperatif fondazen 1dd1
-Pembicaraan: artikulasi
jelas, intonasi datar,
volume cukup
Afek: tumpul
Mood eutimik
Bentuk pikir Nonrealistik
Arus pikir inkoheren,
Tilikan derajat I

22
28/11/2020 Bicara masih kacau. Hanya Seorang wanita Skizofrenia Haloperidol
tiduran saja, penampilan lebih muda Hebefrenik dd 3dd 5mg
usia,perawatan diri cukup Skizofrenia tak Trihexyphenidil
O: terinci + ADB 3dd 2mg
TD: 110/90 Clozapine 2 dd
N : 88 25mg
RR : 20 Asam folat
T : 36.3 1dd1
KU baik, fondazen 1dd1
-Kesadaran CM berubah
-Psikomotor: normoaktif
-Sikap kooperatif
-Pembicaraan: artikulasi
kurang jelas, intonasi
datar, volume cukup
Afek: tumpul
Mood eutimik
Bentuk pikir Nonrealistik
Arus pikir inkoheren
Tilikan derajat I

30/11/2020 Bicara tidak nyambung, pasif Seorang wanita Skizofrenia Haloperidol


penampilan lebih muda Hebefrenik dd 3dd 5mg
usia,perawatan diri cukup Skizofrenia tak Trihexyphenidil
O: terinci + ADB 3dd 2mg
KU baik, Clozapine 2 dd
-Kesadaran CM berubah 25mg
-Psikomotor: normoaktif Asam folat
-Sikap kooperatif 1dd1
-Pembicaraan: artikulasi fondazen 1dd1
kurang jelas, intonasi
datar, volume cukup
Afek: tumpul
Mood eutimik
Bentuk pikir Non realistik
Arus pikir inkoheren
Tilikan derajat 4

23