Anda di halaman 1dari 25

PRESENTASI KASUS PSIKOTIK

SEORANG PEREMPUAN 36 TAHUN DENGAN SKIZOFRENIA HEBEFRENIK


(F20.1)

OLEH:

dr. Muhammad Rizky Huryamin

SUPERVISOR:

dr. Aliyah Himawati, Sp.KJ

PPDS PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2020
HALAMAN PERSETUJUAN

SEORANG PEREMPUAN 36 TAHUN DENGAN SKIZOFRENIA HEBEFRENIK


(F20.1)
ini telah disetujui untuk dipresentasikan pada
tanggal ......... . . . 2020 jam . . . . . . . WIB

Supervisor Tanda tangan

dr. Aliyah Himawati Rizkiyani, Sp.KJ ...............................................

Pembimbing

1. ........................................... .................................................

2. ........................................... ................................................

Sie Ilmiah

1. ........................................... ............................................

2
HALAMAN PENGESAHAN

Presentasi : Kasus Psikotik

Nama : Muhammad Rizky Huryamin H.

PPDS PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET


RSJD Dr. ARIF ZAINUDIN
SURAKARTA

Telah disetujui dan disahkan pada

Tanggal___________Bulan______________2020
Oleh Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran UNS/RSJD Dr. ARIF ZAINUDIN
Surakarta

Supervisor

dr. Aliyah Himawati Rizkiyani, Sp.KJ


3
I. IDENTITAS PASIEN
- Nama : Ny. L
- Umur : 36 tahun
- Jenis kelamin : Wanita
- Agama : Islam
- Suku : Jawa
- Pendidikan terakhir : tamat SMA
- Pekerjaan : Tidak bekerja
- Alamat : Karanganyar
- Tanggal pemeriksaan : 1 November 2020
- Tanggal masuk RS : 2 November 2020

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Riwayat psikiatri diperoleh dari autoanamnesis dan alloanamnesis yang dilakukan
terhadap
1. Tn. P, 42 tahun, Suami pasien, tamat SMP, Pekerja Pabrik di Sragen, tinggal
serumah.
2. Nn. A, 15 tahun, Anak pasien, SMK kelas 1, tinggal serumah
3. Tn. Y, 48 tahun, Kakak kandung pasien, tamat SD, pekerjaan pedagang di Pasar,
tinggal di sebelah rumah pasien

A. Keluhan utama: Mengamuk

B. Riwayat Penyakit Sekarang


1. Autoanamnesis
Pada saat pemeriksaan, seorang wanita, mengaku Ny. L, 36 tahun, mengatakan
pasien masuk ke RSJ disebabkan mengamuk sampai memukul anaknya karena
kemauannya tidak dipenuhi yaitu pasien menyuruh anaknya untuk menjual
kalung emasnya sejak 3 minggu yang lalu diamana uangnya nanti akan
digunakan untuk membeli barang-barang di kios, barang-barang seperti
makanan dan sembako tersebut nantinya akan dibagi-bagikan ke orang-orang
dan tetangganya. Pasien senang berbelanja jauh dari rumahnya karena tidak

4
ingin diketahui oleh keluarganya. Pasien senang berbelanja banyak seperti ini
pertama kali sejak setelah menikah dengan suaminya namun tidak setiap hari,
pasien bercerita jika ia membagikan barang-barang kepada orang lain
perasaanya menjadi senang dan merupakan sedekah serta mendapat pahala yang
besar dari Allah SWT. Perbuatan pasien ini juga tidak didukung oleh suaminya
sehingga menambah amarah pasien dengan cara membanting barang dirumah
dan berbicara dengan volume yang keras.

Pasien juga bercerita bahwa ia tidak suka dengan ibu kandung pasien yang
tinggal serumah karena ibu pasien suka banyak bicara, suka menjelek-jelekan
suami dan anaknya. Pasien juga sering berdebat dengan ibunya karena berbeda
pendapat, dan pasien sempat mengambil pisau di dapur untuk menodong ibunya
bahwa akan membunuh ibunya jika ibunya terus cerewet. Selain itu pasien juga
bercerita tentang lelahnya dunia ini karena harus menanggung beban semua
penderitaan seperti mengurus kakaknya yang cacat fisik mental dan sempat
keinginan untuk bunuh diri, ide bunuh diri ini dikatakan pasien atas kemauanya
sendiri bukan karena ada yang menyuruh pasien.

Selain itu pasien juga bercerita bahwa dirinya sulit tidur pasien biasanya tidur
diatas pukul 22.00 WIB dan bangun sekitar pukul 01.00 dini hari untuk solat
malam, membangunkan suaminya serta anaknya, setelah itu pasien tidak tidur
sama sekali kegiatannya menonton TV, kadang juga pasien sering
membangunkan anaknya jam 3 pagi untuk mandi.

Pasien sangat senang bercerita tentang prestasi anaknya yaitu anaknya selalu
masuk 10 besar di sekolah dan menjadi dirigen saat pentas seni disekolahnya,
dan menceritakan suaminya yang baik kepada pasien. Pasien juga bercerita
tetang dirinya merupakan keluarga terpadang di kampungnya, dia bahkan
memiliki banyak harta warisan yang diberikan oleh ibunya serta pasien pernah
bercerita bahwa dirinya pernah dipromosikan sebagai ketua RT.

5
Awal mula pasien bercerita bahwa sejak lulus SMP pada tahun 1999 pasien
tidak mau melanjutkan ke SMA karena pasien ingin bekerja untuk mencari uang
yang nanti ditabung untuk membeli mobil. Pertama kali pasien bekerja sebagai
pembantu rumah tangga di Jakarta, kata pasien majikannya sangat senang
melihat hasil kerja pasien dan sering memujinya namun hanya bertahan sekitar 3
bulan pasien rindu akan keluarganya di kampung, sempat sedih menangis
berhari-hari, tidak semangat bekerja dan akhirnya pulang ke Solo karena
semakin memberat sampai ada keinginan untuk bunuh diri pasien Rawat Inap di
RSJ. Setelah itu pasien pulih kembali, pasien ganti pekerjaan sebagai buruh
pabrik pemintalan textile selama 3 tahun selama itu juga pasien sempat masuk
RSJ lagi karena pasien suka marah-marah ketika mendengar suara mesin pabrik
yang berisik, dan saat itu pasien sempat dijenguk dengan supervisinya seorang
laki-laki yang mekatakan bahwa supervisinya suka dengan pasien dan
mengajaknya untuk kembali bekerja di pabrik textile tersebut, namun pasien
menolak karena tidak suka dengan suara mesin yang ada di pabrik tersebut.
Selanjutnya pasien sempat ikut pelatihan 3 Minggu di Jakarta karena akan
menjadi TKW di Taiwan, namun saat itu pikiran pasien tidak tenang dan tidak
tidur semalaman selam 3 hari, dan akhirnya pasien dipulangkan. Lanjut pasien
bekerja di Toko daerah palur selama 3 bulan, disana pasien bekerja dengan
orang Cina, katanya pekerjaannya bagus dan juga pasien bercerita dia adalah
karyawan yang paling rajin dan pembersih serta ramah dengan pembeli. Dan
Akhirnya pasien menikah dengan sumianya pada tahun 2004 dan mempunyai
anak pada tahun 2005. Dan terkhir pasien bekerja 1 tahun dengan mertuanya di
sebuah Mebel namun pasien berhenti bekerja karena focus mengurus suami dan
anaknya, setelah itu pasien hanya bekerja serabutan membantu menambah
penghasilan suami sebagai tani dan sempat meminum racun anti serangga.

2. Alloanamnesa
Berdasarkan keterangan Suami dan Anaknya, pasien masuk RSJ karena
memaksa anaknya untuk menjual kalung emas anaknya berkali-kali untuk
uangnya digunakan membeli barang-barang di kios, namun karena suami dan
anak pasien tidak menyetujuinya anaknya sampai dipukul. Barang-barang

6
tersebut untuk dibagi-bagi ke tetangga bahkan orang yang tidak dikenalnya.
Keluhan ini dirasakan oleh keluarga sejak 3 Minggu SMRS, selain itu kebutuhan
tidur pasien berkurang dalam sehari hanya tidur 4 jam saja. Pasien sering
membangunkan suaminya tengah malam disuruh solat malam dengan suara
yang keras dan anaknya disuruh mandi jam 03.00 dini hari. Pasien biasanya
setalah bangun tidak tidur lagi dengan melanjutkan menonton TV dan bersih-
bersih rumah. Pasien juga sering cekcok dengan Ibu kandungnya hampir setiap
hari karena menurut pengakuan suami pasien, ibunya apabila berbicara volume
sangat keras dan banyak bicara, untuk menjelek-jelekan suami dan anak pasien
menurut suaminya tidak benar, hanya saja ibu pasien sering bercerita tentang
kejahatan Zaman PKI dan sering mengatakan ada hantu di pekarangan belakang
rumahnya. Dan yang paling membahayakan yaitu ketika hari sabtu sore SMRS
ketika pasien mengambil pisau dirumah dan mengancam ibunya untuk berhenti
bicara. Sehingga pada hari Minggu keluarga memutuskan untuk membawa
pasien ke IGD RSJD Surakarta, selain itu juga pasien diperberat karena memang
obatnya habis sejak hari Rabu.

Saat pasien tidak kumat pasien adalah orangnya yang ramah kepada suami dan
mau mengurusi anaknya sering mengikuti pengajian di kompleknya, namun
ketika kumat pasien kadang-kadang berbicara cerewet dan menampar
tetangganya. Dan suami pasien bercerita pada awal-awal menikah pasien pernah
mendengar suara bisikian namun orangnya tidak ada, suara tersebut seperti
orang yang menakuti pasien namun hanya waktu itu saja selanjutnya tidak
pernah mendengar. Selain itu anak pasien juga bercerita bahwa pasien pada 3
minggu SMRS pasien bercerita kepada anaknya yang perempuan bahwa ia
pernah mendengar suara arwah kakaknya yang meninggal untuk ikut dengan
dirinya lompat ke sumur. Namun pasien tidak mau mengikuti perintah tersebut.

Dari pengakuan kakak kandungnya bahwa pasien sempat sangat sedih, tidak
mau makan dan malas bekerja ketika ayahnya meninggal pada tahun 2001.
Pasien sangat terpukul dengan kepergian ayahnya karena almarhum ayahnya
baik dan sayang kepada anak-anaknya, berbeda dengan pola asuh ibunya yang

7
kadang membiarkan apa saja yang anaknya lakukan, dan karena pasien anak
terakhir kemauan pasien waktu kecil selalu dituruti, sampai orangtua berhutang
demi menuruti kemauan anaknya, namun perilaku ibu pasien mulai berubah
sejak Ny. L menginjak usia remaja (saat awal masuk SMP). Ibu pasien sering
tampak lebih banyak bicara dan bahkan berbicara sendiri

C. Riwayat Penyakit Dahulu


1. Riwayat psikiatri :
a) 1999
Masuk RSJ karena sedih, tidak bersemangat bekerja dan ingin bunuh diri
b) 2002
Masuk RSJ karena sedih, pikiran tidak tenang dan tidak tidur
c) 2013
Masuk ICU 1 hari karena karena minum racun serangga
d) 2015
Berbelanja di Palur Plaza dalam jumlah yang sangat banyak, marah-marah
e) 2016
Sering belanja yang tak tekendali sampai marah-marah
f) Juli 2020
Mondok karena keinginan bunuh diri dan marah-marah
2. Riwayat keluarga dengan gangguan jiwa:
3. Riwayat Gangguan Medik
Riwayat cedera kepala : disangkal
Riwayat kejang : disangkal
4. Riwayat NAPZA
Riwayat penyalahgunaan obat : disangkal
Riwayat alkohol : disangkal

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien lahir normal, lahir di tolong bidan, cukup bulan, tidak ada masalah medis
selama masa kehamilan hingga persalinan.
2. Riwayat Masa Anak Awal (0-3 tahun)
8
Pasien mendapatkan ASI. Yang mengasuh ibu kandungnya. Pertumbuhan sesuai
anak seusianya.
3. Riwayat Masa Anak Pertengahan (4-11 tahun)
Pasien memiliki banyak teman, anaknya ramah, keinginan selalu dituruti karena
anak terakhir
4. Riwayat Masa Anak Akhir (12-18 tahun)
Pasien memiliki banyak teman dan pernah punya pacar.
5. Riwayat Masa Dewasa
a. Riwayat Pekerjaan
Bekerja sebagai ART di Jakarta, Pabrik Textile, dan Mebel keluarga
b. Riwayat Pernikahan
Pasien sudah menikah, dan memiliki satu anak perempuan.
c. Riwayat pendidikan
Pasien tamat SMP.
d. Riwayat Agama
Pasien pemeluk agama Islam dan sering mengikuti pengajian di Komplek
rumah, hafal beberapa surat pada Al-Quran dan Al hadist
e. Riwayat Aktivitas Sosial
Sebelum sakit pasien memang sering ikut aktivitas sosial di sekitar rumah.
f. Riwayat Hukum
Tidak pernah berurusan dengan hukum.
g. Situasi hidup sekarang
Pasien tinggal di Karanganyar bersama ibu kandung, suami, kakak kandung
dan anak perempuannya.
h. Riwayat Seksual
Pengakuan pasien tidak ada penyimpangan sex.

9
6. Riwayat keluarga

Keterangan:
: Laki-laki
: Perempuan
: Pasien
: Meninggal Dunia
: Gangguan Jiwa
: Tinggal serumah

III. EVALUASI KELUARGA


A. Susunan Keluarga

Pasien tinggal bersama ibu kandung, kakaknya yang sakit fisik dan mental , suami dan
anaknya
B. Keadaan Sosial Ekonomi Sekarang

Untuk kehidupan sehari-hari pasien cukup

C. Fungsi Subsistem

1. Hubungan dengan ibu


Hubungan pasien dengan ibunya dari dulu tidak harmonis, sering cekcok.
2. Hubungan dengan suami
Hubungan pasien dengan suami harmonis, bertengkar kadang-kadang saja, terlebih
saat pasien kumat, suami pasien sangat sayang dengan pasien bahkan suami sering
mengantrkan pakaian dan makanan ke RSJ unutk pasien
3. Hubungan dengan anak

10
Harmonis, pasien sangat sayang dengan anaknya dan membanggakan anaknya
4. Hubungan dengan Saudara
Biasa-biasa saja, terkadang pasien kasihan dengan keadaan kakaknya tersebut

IV. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL

A. Gambaran Umum
1. Penampilan: Seorang perempuan, tampak sesuai usia, perawatan diri baik
memakai lipstick dan bedakan.
2. Perilaku dan aktivitas psikomotor : Hiperaktif
3. Sikap terhadap pemeriksa: Kooperatif
4. Kontak mata: adekuat
B. Kesadaran :
1. Kuantitatif : compos mentis (GCS E4V5M6).
2. Kualitatif : berubah.
C. Pembicaraan :
Spontan, volume keras dan artikulasi cukup dan jelas.
D. Mood dan afek:
1. Mood : Iritable
2. Afek : Meningkat
3. Kesesuaian : Serasi
4. Empati : tidak dapat diraba rasakan
E. Proses Pikir :
1. Bentuk : non realistik
2. Isi : ide-ide kebesaran
3. Arus : Flight of Idea, Logorhea
F. Persepsi:
1. Halusinasi : Auditorik commanding
2. Ilusi : Tidak ditemukan
3. Derealisasi : Tidak ditemukan
4. Depersonalisasi : Tidak ditemukan
G. Kognisi dan Sensorium:
1. Orientasi: waktu/tempat/situasi/orang: baik

11
2. Daya ingat: baik

3. Konsentrasi dan perhatian: hipervigilant

4. Pikiran abstrak: tidak baik

5. Intelegensia dan kemampuan informasi: baik

6. Kemampuan menolong diri sendiri: baik

H. Daya Nilai dan Tilikan


1. Daya nilai sosial : terganggu
2. Penilaian Realita : terganggu
3. Tilikan diri : derajat 2
I. Pengendalian impuls : saat pemeriksaan tidak baik

J. Taraf dapat dipercaya : dapat dipercaya

V. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


A. Status Internus :
Keadaan umum baik, tekanan darah 120/90 mmHg. Frekuensi nadi 88x/menit,
regular, suhu : 36.4 C, pernafasan 20 x/menit, konjungtiva tidak anemis, sklera
tidak ikterik.
Laboratorium :
HB: 12,3
Trombosit : 237.000
Leukosit : 7,21
Anti SARS-CoV-2 IgG Non reaktif
Anti SARS-CoV-2 IgM Non reaktif
SGOT : 19
SGPT : 20
GDS : 94
B. Status Neurologis :
Pupil isokor, refleks cahaya +/+, fungsi sensorik dan motorik baik di keempat
ekstremitas, refleks fisiologis: tidak diperiksa, refleks patologis : tidak diperiksa.

12
VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
- Seorang Perempuan, Ny L 36 tahun dibawa ke RSJD karena akan mengamuk, dan
menyerang ibunya,sempat ingin bunuh diri,pernah bercerita dengan anaknya pernah
mendengar bisikan untuk bunuh diri
- CM/berubah, non realistis, mood Irritable/meningkat, halusinasi auditorik, halusinasi,
ide kebesaran, flight of idea,logorrhea, tilikan derajat 2.
- Pasien selalu menceritak hal-hal yang hebat tetang dirinya
- Pasien sudah pernah dirawat 6 kali di RSJD Surakarta.
- Ada riwayat sakit jiwa dikeluarga
- Setelah sakit pasien tampak sembuh seperti sebelum sakit.
- Pasien emosinya labil

VII. FORMULASI DIAGNOSTIK


Pada pasien ini didapatkan adanya gangguan pada perilaku dan psikososial yang
secara klinis bermakna, menggangu fungsi kehidupan sosialnya (deteriorasi) dengan
demikian dapat disimpulkan pasien menderita gangguan jiwa. Pada pemeriksaan
internus tidak didapatkan kelainan, hasil laboraturium dalam batas normal, dari
pemeriksaan fisik tidak ada kelainan dan tidak didapatkan riwayat trauma kepala,
riwayat kejang dan tidak didapatkan kondisi medis lainnya sehingga blok Gangguan
Mental Akibat Penyakit Fisik dapat disingkirkan (F00-F09). Riwayat penggunaan zat
narkotika saat ini tidak didapatkan, penggunaan minuman alkohol tidak didapatkan,
dan zat adiktif lainnya, sehingga diagnosis Gangguan Mental Terkait Zat dapat
disingkirkan (F10 – F19). Pada pasien ini didapatkan sindrom psikosis yaitu,
hendaya berat dalam Reality Testing Ability (RTA) yaitu berupa kesadaran kualitatif
yang berubah dan tilikan diri yang buruk, hendaya berat pada fungsi-fungsi mental,
yang bermanifestasi pada gejala yaitu, bentuk pikir non realistik, halusinasi auditorik,
ide kebesaran, hendaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari yang bermanifestasi
pada gejala : tidak mampu bekerja, menjalin hubungan sosial dan melakukan
kegiatan rutin. Gejala psikotik tersebut memenuhi kriteria diagnosis dengan onset

13
waktu hingga saat ini 1 bulan, sehingga diagnosis skizofrenia, gangguan skizotipal
dan gangguan waham belum dapat disingkirkan, dan didapatkan gejala afektif yang
menonjol berupa perubahan suasana perasaan kesenangan yang berlebihan, tidak
butuh tidur dan berfoya-foya, afek meningkat, prilaku agresif, peningkatan energi,
Sehingga berdasarkan PPDGJ III dapat ditegakkan diagnosa sebagai Gangguan
afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik (F31.2) dengan diagnosa
banding Skizoafektif tipe manik (F25.0), Mania dengan Gejala Psikotik (F30.2).
• Berdasarkan riawat premorbid, hubungan interpersonal, minat, emosional dan
penggunaan waktu luang, pasien adalah orang yang memiliki emosi yang labil,
impulsive tidak berfikir panjang, reaksi emosi yg intens dan sulit dikontrol, hingga
melakukan prilaku yg membahayakan diri sendiri, terdapat depresi, kecemasan
berlebihan dan kemarahan tidak pada tempatnya. sehingga berdasarkan PPDGJ III
dapat ditemukan ciri kepribadian tipe ambang pada aksis II. Pada pemerisaan fisik,
pemeriksaan interna, laboraturium tidak didapatkan kelainan.Sehingga pada Aksis III
nya tidak ada diagnosa. Keluhan yang dialami pasien dicetuskan dengan adanya
pasien sering dibuli temannya, sehingga pada aksis IV dapat ditegakkan masala
psikososial. Pada aksis V penilaian penyesuaian diri menggunakan skala Global
Asessment of functioning (GAF) menurut PPDGJ III di dapatkan saat pemeriksaan
GAF (current) 20-11 yaitu mengancam dan menyakiti orang lain, Disabilitas berat
GAF tertinggi pada tahun sebelumnya atau hight level past year (HLPY) 80-71
Gejala Sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam sosial, pekerjaan,dll.

VIII. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL


Aksis I : Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik
(F31.2) dengan diagnosa banding Skizoafektif tipe manik (F25.0), Mania dengan
Gejala Psikotik (F30.2)
Aksis II : Ciri kepribadian tipe ambang
Aksis III : Tidak Ada Diagnosa
Aksis IV : Masalah Psikososial
Aksis V : GAF awal masuk : 20-11
GAF HLPY : 80-71

14
IX. DAFTAR MASALAH
A. Organobiologik : Tidak ada
B. Psikologik :
1. Gangguan perasaan : Ada
2. Gangguan pikiran : Ada
3. Gangguan persepsi : Tidak ada
4. Gangguan Perilaku : Ada
5. Daya nilai realita yang buruk : Ada
C. Sosial ekonomi : Ada

X. RENCANA PENGOBATAN LENGKAP


A. Psikofarmaka
 Clozapine 1x 25 mg (Malam)
 Litium karbonat 1x500mg (Pagi)
 Inj. Haloperidol:Dipenhidramin amp 1:1 bila gaduh gelisah

B. Non Psikofarmaka
 Psikoterapi pasien dan keluarga
1. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa gangguan jiwa
membutuhkan pengobatan yang rutin dan tidak boleh putus obat,

2. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga indikasi dosis dan efek samping obat
seperti adanya gejala EPS sehingga bila ada gejala EPS segera kontrol lagi.

3. Menjelaskan kepada keluarga kalau pasien membutuhkan dukungan dari


keluarga karena dukungan keluarga sangat diperlukan untuk membantu
pemulihannya. Diperlukan dukungan dari keluarga untuk pengobatan pasien,
yakni mendukung pasien menjalankan fungsi sosialnya.

 Rehabilitasi
Psikoedukasi pasien dan keluarga

XI. PROGNOSIS
Qua ad vitam : bonam

15
Qua ad sanasionam : dubia ad bonam
Qua ad fungsionam : dubia ad malam

A. Hal-hal yang meringankan:


No Kerangan Check list
1 Onset lambat (usia dewasa) -
2 Faktor pencetus jelas V
3 Onset akut V
4 Riwayar sosial, seksual dan pekerjaan, premorbid -
yang baik
5 Ganggguan mood V
6 Mempunyai pasangan V
7 Riwayat keluarga gangguan mood V
8 Sistem pendukung yang baik -
9 Gejala positif V

B.Hal-hal yang memperberat:


No Keterangan Check List
1 Onset muda V
2 Faktor pencetus tidak jelas -
3 Onset tidak jelas -
4 Riwayat sosial, seksual dan pekerjaan premorbid V
yang jelek
5 Penarikan diri dan austistik -
6 Tidak menikah, cerai, janda, duda -
7 Riwayar keluarga Skizofrenia ?
8 Sistem pendukung yang buruk -
9 Gejala negatif -
10 Tanda dan gejala neurologis -
11 Tidak ada remisi dalam 2 tahun -
12 Banyak relaps V
16
13 Riwayat trauma perinatal -

XII. DISKUSI

Gangguan bipolar disebabkan oleh berbagai macam faktor. Secara biologis


dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di otak. Secara
psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kanak-kanak, stress yang menyakitkan,
stress kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan banyak lagi faktor lainnya.

Faktor genetika dianggap sebagai mekanisme gen yang saling bergantung.


Penelitian keluarga telah menemukan bahwa kemungkinan menderita suatu
gangguan mood menurun saat derajat hubungan kekeluargaan melebar. Sebagai
contoh, sanak saudara derajat kedua (sepupu) lebih kecil kemungkinannya dari pada
sanak saudara derajat pertama. Penurunan gangguan bipolar juga ditunjukkan oleh
fakta bahwa kira-kira 50 persen pasien Gangguan bipolar memiliki sekurangnya satu
orangtua dengan suatu Gangguan mood, paling sering Gangguan depresif berat Jika
satu orangtua menderita gangguan bipolar, terdapat kemungkinan 25 persen bahwa
anaknya menderita suatu Gangguan mood. Jika kedua orangtua menderita Gangguan
bipolar, terdapat kemungkinan 50-75 persen anaknya menderita Gangguan mood.

Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara Gangguan bipolar


dengan kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari
kromosom tersebut yang benar-benar terlibat. Beberapa diantaranya yang telah
diselidiki adalah 4p16, 12q23-q24, 18 sentromer, 18q22-q23, dan 21q22.

Penelitian terbaru menemukan gen lain yang berhubungan dengan penyakit


ini yaitu gen yang mengekspresi brain derived neurotrophic factor (BDNF). BDNF
adalah neurotropin yang berperan dalam regulasi plastisitas sinaps, neurogenesis dan
perlindungan neuron otak. BDNF diduga ikut terlibat dalam pengaturan mood. Gen
yang mengatur BDNF terletak pada kromosom 11p13. Terdapat 3 penelitian yang
mencari tahu hubungan antara BDNF dengan gangguan bipolar dan hasilnya positif

Suatu penelitian cohort di kolombia melakukan studi kohort campuran


observasional, dengan desain prospektif yang diikuti selama 4 tahun membandingkan
17
profil psikopatologis antar keturun bipolar (Bipolar offspring) dengan keturun
komunitas control (Community Control Offspring) menunjukan bahwa kelompok BO
memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan mental dibandingkan dengan
kelompok CCO. Gejala dan gangguan yang paling relevan yang dapat mendahului
timbulnya BD adalah depresi, bipolar tidak ditentukan lain, psikotik dan penggunaan
zat.

Penelitian lain juga menyebutkan bahwa tingkat morbiditas lebih tinggi pada
pasien dengan keturunan bipolar dibandingkan dengan pasien keturunan control,
penelitian ini difollow up anatara 2-8 tahun lamanya. Morbididitas yang dinilai ada 3
yaitu: adanya gangguan kejiwaan, fungsi psikososial rendah dan riwayat kekerasan
fisik atau seksual (Mendez,2019). Kedua penelitian diatas berhubungan dengan
morbditas dan prognosis pasien Ny. L dimana pasien sudah sering keluar masuk
rawat inap di RSJD Surakarta. Yang dimana setiap episode bipolar memunculkan
gejala yang cukup berat sepeti bunuh diri.

Sedangkan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitar


merupakan faktor dari segi psikososial biasanya mendahului episode awal dari
gangguan bipolar. Ada 10-12% kasus pada gangguan jiwa bipolar yang semakin
memburuk setelah mengkonsumsi NAPZA.

18
DAFTAR PUSTAKA

NIMH. Bipolar disorder. 2010. Diunduh dari


http://www.nimh.nih.gov/health/publicat ions/bipolardisorder/complete- index.shtml.
Price AL, Marzani-Nissen GR. Bipolar disorders: a review. Am Fam Physician. Mar
1 2012;85(5):483-93 Rusdi Maslim. 2003. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan
Ringkas PPDGJ III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.
Rusdi Maslim. 2007. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta: Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.

Soreff S. Bipolar affective disorder treatment & management. 2011. Diunduh dari:
http://emedicine.medscape.com/article/2 86342-Treatment.

Stemberg, R.J. and O’Hara, L.A. 1999. Creativity and intelligence. In R.J. Sternberg
(Ed.). New York: Cambridge: University Press. .

Watson, D.L. and Thaw, R.G. 2002. Self-directed Behavior: self-modification for
personal adjustment (8th ed.). Belmont, CA: Thomson/Wadsworth.

Weiten, W. and Halpem, D.F. 2004. Psychology: themes and variations (6th ed.).
Belmont, CA: Thomson/Wadsworth.

Juan, 2020. High Risk for Psychiatric Disorders in Bipolar Offspring. A Four
Years Prospective Study. Diunduh dari
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0034745020300482.

Mendez,2019. Psychotic-Like Experiences in Offspring of Parents With Bipolar


Disorder and Community Controls: A Longitudinal Study. Diunduh dari
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0890856718319609

19
Lampiran 1 : Grafik Kronologis

20
*Lampiran 2 : Follow up

Tgl S O A P
2/11 Pasien mengancam kesadaran: CM Axis I: F25.0 Risperidone 2 mg 2x1
/20 ibunya karena ibunya berubah Axis II: Belum ada
Trihexiphenidil 2 mg
tidak suka dengan prilaku: hiperkatif diagnosa
pasien dan semua pembicaraan: volume Axis III: Tidak 2x1
saudara dan suaminya cukup Ada Diagnosa
Chlorpromazine
merasa tidak suka kooperativ Axis IV: Belum
dengan pasien. mood: hipertimik ada diagnosa 100mg 1x1
semalam pasien hanya afek: meluas serasi Axis V:
inj lodo della 1amp/
tidur 3 jam karena waham: kebesaran GAF Current: 20-
im/ 12 jam
sering solat malam dan halusinasi: belum 11
menggu pasien lain, cukup data
pasien senang menulis arus: flight of idea,
diari karena merasa logorhea
tenang dan lega. tilikan derajat 1
Pasien mempertanykan
jati dirinya yang TD: 115/70
dimana cobaan ini N: 86
bertubi-tubi namun T: 36.5
pasien selalu bersabar rr: 20
3/11 pasien bicara sangat KU baik Axis I: F25.0 dd Risperidone 2 mg 2x1
/20 banyak, topiknya TD: 110/70 F31.2 Trihexiphenidil 2 mg
masih lompat-lompat, HR: 88 Axis II: Ciri 2x1
tetapi pasien banyak RR: 20 Kepribadian Tipe Chlorpromazine
bererita soal T: 36 Ambang 100mg 1x1
penderitaan hidupnya Axis III: Tidak inj lodo della 1amp/
dan perjuangannya Kesadaran: CM Ada Diagnosa im/ 12 jam
merawat saudara- berubah Axis IV: Masalah
saudaranya yang sakit. Afek: meningkat psikososial Diusulkan pindah sal
Pasien masih merasa Mood: disforik Axis V: subakut
jengkel kalau teringat Bentuk pikir Non- GAF Current: 40-
suara ibunya yang realistik 31
bicara jelek tentang Isi pikir: ide
dirinya, tapi mengaku kebesaran
kalau mengancam Gangguan persepsi:
ibunya dengan pisau halusinasi disangkal
cuma pura-pura. Pasien
juga mengaku pernah Tilikan: derajad II
ditunjuk jadi ketua RT
dan mengatakan
21
dirinya dermawan,
suka berbagi-bagi
sedekah biarpun
uangnya sedikit. Pasien
mengatakan dia kumat
kalau banyak pikiran
dan tak punya uang.
Pasien pernah mencoba
bunuh diri denga cara
menggantung 2x
karena merasa tidak
tahan dengan cobaan \\
hidup.
4/11 bicara masih banyak, TD : 120/80 Axis I: 31.2 DD Risperidone 2 mg 2x1
/20 masih sering nadi : 80 F25.0 Trihexiphenidil 2 mg
membicarakan pretasi T : 36,2 Axis II: Ciri 2x1
RR : 20 Kepribadian Tipe Chlorpromazine
anaknya dan masih
Kesadaran: CM Ambang 100mg 1x1
membenci ibunya, berubah Axis III: Tidak Depakote 1x500mg
pasien senang menulis pembicaraan: spontan Ada Diagnosa inj lodo della 1amp/
di buku diary tentang Afek: meningkat Axis IV: Masalah im/ 12 jam
apa yang dia pikirkan Mood: senang psikososial
Bentuk pikir Non- Axis V:
realistik GAF Current: 40-
Isi pikir: ide 31
kebesaran, waham
presekutorik
Gangguan persepsi:
halusinasi disangkal
perhatian:
hipervigilitas
Insgiht : Derajat 2

5/11 Pasien direstrain Kesadaran: CM Axis I: F31.2 Risperidine 2 mg 2x1


/20 karena mengganggu berubah Axis II: Ciri
Trihexiphenidil 2 mg
teman temannya dan pembicaraan: spontan Kepribadian Tipe
Afek: meningkat Ambang 2x1
bicara masih banyak,
Mood: senang Axis III: Tidak
Belum bisa BAB sejak Chlorpromazine
Bentuk pikir Non- Ada Diagnosa
8 hari, tidur malam realistik Axis IV: Masalah 100mg 1x1
kurang Isi pikir: ide psikososial
inj lodo della 1amp/
kebesaran Axis V:
arus: fight of idea, GAF Current: 40- im/ 12 jam
logorhea 31
depakote 500mg 1x1
Gangguan persepsi:
Pasien pindah ke
halusinasi disangkal
ruang akut
perhatian:
(Sembodro)
hipervigilitas
22
Insgiht : Derajat 2

6/11 Pasien tidak suka TD : 110/80 Axis I: F31.2 Risperidine 2 mg 2x1


/20 dengan pasien sujiyanti nadi : 80 Axis II: Ciri
Trihexiphenidil 2 mg
karena cerewet dan T : 36,2 Kepribadian Tipe
masih belum bisa RR : 20 Ambang 2x1
mengntrol emosinya, Axis III: Tidak
Chlorpromazine
tadi malam bangun jam Kesadaran: CM Ada Diagnosa
3 pagi dan tidak tidur, berubah Axis IV: Masalah 100mg 1x1
p pembicaraan: spontan psikososial
inj lodo della 1amp/
asien tidak suka Afek: meningkat Axis V:
mengingat masa lalu. Mood: Iritable GAF Current: 30- im/ 12 jam
mendengar bsisikan Bentuk pikir Non- 21
depakote 500mg 1x1
disangkal. Pasien realistik
menggap dirinya dari Isi pikir: ide
keluarga terpandang kebesaran
arus: fight of idea,
logorhea
Gangguan persepsi:
halusinasi disangkal
perhatian:
hipervigilitas
Insgiht : Derajat 2
7/11 Pasien membacakan TD : 110/80 Axis I: F31.2 Risperidone 2 mg 2x1
/20 buku diarinya, nadi : 80 Axis II: Ciri
Trihexiphenidil 2 mg
menyuruh pemeriksa T : 36,4 Kepribadian Tipe
untuk tidak ceritakan RR : 20 Narsistik 2x1
sama siapa siapa. Axis III: Tidak
Chlorpromazine
Pasien merasa senang Kesadaran: CM Ada Diagnosa
disini karena ada berubah Axis IV: Masalah 100mg 1x1
teman curhat. Pasien pembicaraan: spontan psikososial
depakote 500mg 1x1
menanyakan bu dokter Afek: meningkat Axis V:
punya tanah disini. Mood: Iritable GAF Current: 40- inj lodo della 1amp/
Pasien mengatakan Bentuk pikir Non- 31 im/ 12 jam
KDRT tidak ada realistik
halusinasi. Pasien bisa Isi pikir: ide
tidur, makan dan dapat kebesaran
diarahkan arus: asosiasi longgar,
logorhea
Gangguan persepsi:
halusinasi disangkal
perhatian:
hipervigilitas
Insgiht : Derajat 2
8 pasien perawatan hari TD : 110/80 Axis I: F31.2 Risperidine 2 mg 2x1
11/ ke 7. hari ini pasien nadi : 90 Axis II: Ciri
Trihexiphenidil 2 mg
20 masih terlihat banyak T : 36,4 Kepribadian Tipe
23
berbicara.dan terlihat RR : 20 Ambang 2x1
bersemngat. pasien Axis III: Tidak
Chlorpromazine
mengatakan kegiatan penampilan sesuai Ada Diagnosa
usia, perawatan diri Axis IV: Masalah 100mg 1x1
sehari-harinya dengan
baik psikososial
mengisi buku diary. depakote 500mg 1x1
sikap terhadap Axis V:
pasien saat wawancara pemeriksa kooperatif GAF Current: 60- inj lodo della 1amp/
membacakan apa yang Kesadaran: CM 51
im/ 12 jam
dia tulis, terkait berubah
KDRT. tidur cukup, pembicaraan: spontan, Pasien pindah ke sub
makan dan minum baik artikulasi dan intonasi
akut
jelas
Afek: meningkat
Mood: Iritable
Bentuk pikir Non-
realistik
Isi pikir: ide
kebesaran
arus: asosiasi
longgar , logorhea
Gangguan persepsi:
halusinasi disangkal
perhatian:
hipervigilitas
Insgiht : Derajat 2
9/11/ pasien meminta penampilan sesuai Axis I: F31.2 Advice dr Aliyah,
20 didengarkan isi usia, perawatan diri Axis II: Ciri
Sp.KJ
diarinya yang baik Kepribadian Tipe
mencertikan Psikomotor: Ambang Risperidine 2 mg 2x1
penderitaanya tidak hiperaktif Axis III: Tidak
Trihexiphenidil 2 mg
berhenti, bangun tidur sikap terhadap Ada Diagnosa
jam 3 pagi dan tidak pemeriksa kooperatif Axis IV: Masalah 2x1
tidur lagi, sempat Kesadaran: CM psikososial
Chlorpromazine
mimisan dan kedua berubah Axis V:
kaki pecah-pecah pembicaraan: spontan, GAF Current: 60- 100mg 1x1
artikulasi dan intonasi 51
depakote 500mg 1x1
jelas
Afek: meningkat inj lodo della 1amp/
Mood: hipertimik
im/ 12 jam 2 hari lagi
Bentuk pikir Non-
realistik (selasa)
Isi pikir: ide
kebesaran
arus: asosiasi
longgar , logorhea
Gangguan persepsi:
halusinasi disangkal
perhatian:
24
hipervigilitas
Insgiht : Derajat 2
11 Pasien kadang masih TD : 110/90 Axis I: F31.2 Risperidine 2 mg 2x1
11 merespon omongan nadi : 90 Axis II: Ciri
Trihexiphenidil 2 mg
20 temananya, T : 36,2 Kepribadian Tipe
membacakan diarynya RR : 20 Ambang 2x1
dan pasien senang Axis III: Tidak
Chlorpromazine
dibawakan baju dan Kesadaran : CM Ada Diagnosa
makanan oleh Axis IV: Masalah 100mg 1x1
suaminya Psikomotor / Prilaku : psikososial
depakote 500mg 1x1
Normoaktif Axis V:
Afek : Meningkat GAF Current: 60-
Mood : Hipertimik 51
GG pkir
Bentuk : non Realistik
Isi : ide kebesaran
Arus : koheren,
logorhea
Gangguan persepsi :
Halusinasi auditorik
(-)
Halusinasi visual (-)
Insight : Derajat 3

25