Anda di halaman 1dari 21

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. JI
Umur : 51 tahun
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pendidikan : SMEA
Status Perkawinan : Menikah
Pekerjaan : Serabutan
Alamat : Gajahan, Kelurahan Gajahan, RT 1/ RW 2, Kecamatan Pasar
Kliwon, Kabupaten/Kota Surakarta
Tanggal MRS : 9 November 2020
Tanggal Pemeriksaan : 10 November 2020

II. RIWAYAT PSIKIATRI

A. Riwayat penyakit pasien diperoleh dari autoanamnesis dan alloanamnesis dari:


1. Tn.A, 27 Tahun, anak pasien, suku Jawa, agama Islam, SMA, pekerjaan supir
Ojol, tinggal serumah
2. Ny.S, 48 Tahun, Istri pasien, suku Jawa, agama Islam, SD, pekerjaan IRT,
tinggal serumah

B. Keluhan Utama
Mengamuk
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Autoanamnesa
Pasien tidak mengerti kenapa dirinya masuk ke RSJ, pasien mengaku dirinya
tidak sakit jiwa, pasien merasa sehat. Pengakuan pasien, saat malam itu dirinya seperti
biasa sedang nongkrong di Roti bakar kaki lima milik anaknya namun tiba-tiba ada 12
satuan Polisi Pamong Praja menjemput paksa pasien dan sempat menolak namun
pasien akhirnya menyerah karena pasien yakin istrinya yang menyuruh
menangkapnya karena istrinya tidak suka dengan pasien. Pasien juga bercerita bahwa
ia juga benci sekaligus iba melihat istrinya karena pasien 1 minggu yang lalu
memergoki istrinya masuk hotel bersama laki-laki pasien lalu mendobrak pintu kamar
hotel tersebut dan melihat istrinya sedangan berhubungan badan dengan laki-laki dan

1
menggeret istri dan selingkuhannya ke tengah jalan untuk dipermalukan. Selain itu
pasien juga dulu pernah saat pulang bekerja, perasaan tidak enak bahwa ada seorang
laki-laki yang masuk ke dalam rumahnya, dan akhirnya pasien membawa tangga dari
Gudang rumahnya untuk memanjat genteng dan mengintip istrinya sedang
berselingkuh dengan laki-laki lain, saat itu juga pasien mengatakan kepada istrinya
bahwa dia wanita tua yang bernafsu besar dan tidak tau diuntung. Dan juga pasien
sempat memeriksa isi dompet saat istrinya mandi, dan menemukan kondom dan pill
KB yang dimana membuatnya semakin curiga. Saat itu pasien mau menceraikan
istrinya dengan mengambil kartu keluarga, KTP namun saat akan keluar rumah pasien
membatalkan niatnya karena kalau pasien cerai nanti anak-anaknya menjadi
berantakan. pasien sering berkelahi dengan istrinya bahkan pasien saat ini tidak mau
tidur bersama dengan istrinya. Pasien juga menceritakan bahwa kartu BPJS nya telah
dibuang oleh istrinya dan dibuang ke sungai agar pasien tidak bisa kontrol di RSJ dan
dengan itu pasien akan menjadi sengsara dan sulit sembuh.
Saat 1 minggu yang lalu pasien juga pernah menggagalakan aksi teroris di
Balai Kota Loji Gandrung dari sekelompok teroris yang berasal dari Magetan
menggunakan cadar dengan cara memberitahu satpam balaikota bahwa sebentar lagi
akan ada teroris menggunakan motor yang membawa 5 jerigen minyak untuk
membakar Balaikota pasien tahu akan peristiwa tersebut karena pasien merasa ada
kekuatan(informasi) yang masuk dari luar ke dalam kepalanya. Dan akhirnya pasien
diberikan uang oleh Bapak FX Hadi Rudiatno sebanyak dua juta rupiah sebagai
imbalannya menggagalkan aksi teroris tersebut. Uang tersebut telah digunakan dua
ratus ribu untuk keluarganya dan sisanya akan dibagikan kepada janda-janda serta
orang yang tidak mampu. Pasien sebelum masuk ke RSJ juga sangat bersemangat
bekerja walaupun hanya sebagai pencari rumput untuk makanan Kerbau Kyai Slamet
di Kraton. Pasien bercerita bahwa dirinya adalah keturunan Keraton yang dimana
pasien juga banyak memiliki ilmu Sakti seperti memiliki benda pusaka getah gaharu
yang dimana bisa memanggil makhluk goib untuk mendatangkan uang. Pasien juga
Sangat kenal dengan tokoh-tokoh Penting di negara ini seperti Wiranto, Presiden
Jokowi, Bapak FX Hadi Rudiatno, semua tokoh itu orang solo yang rumahnya semua
di dekat Keraton. Dan pasien juga bercerita setiap pemimpin ini semua memiliki
pegangan jimat sehingga terhindar dari malapetaka yang diberikan dari Keraton Solo
atas pemberian darinya. Dan terpilihnya semua orang penting tersebut adalah semata-
mata atas jasa Pasien.
2
Pasien juga pernah melihat seorang berjalan tanpa kepala di dekatnya, namun
pasien tenang karena pasien memiliki Ilmu yang tinggi, dan melihat semua orang gila
di Bangsal ini adalah gangguan dari makhluk halus. Kemampuannya melihat mahluk
halus ini sejak bekerja di Kraton.
Pasien sering keluar masuk RSJ karena ulah istrinya karena selalu
menggagalkan pasien untuk control, serta pasien dulu pernah ditipu oleh bosnya yaitu
pak Bambang Ketika bekerja di proyek pelebaran jalan, pasien dijanjikan diberikan
satu unit rumah karena pasien adalah pekerja yang ulet dan rajin, namun sampai akhir
ini janji itu tidak ditepatinya, pasien mengamuk di kantornya dan memukul pak
Bambang tersebut sehingga pasien dibawa ke RSJ.
Pasien mengaku dirinya tak pernah lelah. Menurut pasien, dirinya tidak perlu
tidur dan pernah tidak tidur sampai 1 minggu. Pasien juga senang berbelanja makanan
untuk memenuhi kulkas. Menurut pasien, isi kulkas harus diganti setiap 3 hari,
sehingga setelah 3 hari, semua isi kulkas akan dikeluarkan dan dibagikan pada
tetangga, lalu berbelanja lagi untuk kembali memenuhi kulkas.

Alloanamnesa
Aloanamnesis dilakukan dengan anak ketiga pasien pada 11 November 2020.
Tiga tahun yang lalu anak ketiga pasien berhenti dari pekerjaannya sebagai konsultan
tol dan kini bekerja sebagai supir ojek online agar dapat tinggal bersama pasien.
Pasien dibawa ke RSJD Surakarta karena berusaha membakar balai kota Surakarta
pada 9 November 2020 pukul 18.00 malam. Pasien juga sering mengamuk dan
membuang barang-barang di rumah, termasuk pakaian dan tas anggota keluarga ke
sungai sejak 1 minggu yang lalu; pasien juga jarang tidur dan selalu ribut saat malam
hari sehingga mengganggu anggota keluarga lainnya.
Keluhan baru diketahui oleh istri pasien pada 1993 - saat istri pasien sedang
mengandung anak ketiga dan pada tahun yang sama pasien pertama kalinya dibawa ke
RSJD Surakarta karena marah-marah dan membuang barang di rumahnya. Pasien
diduga sudah mengalami keluhan sebelum 1993, namun tidak ada yang
menyadarinya. Istri pasien mengatakan bahwa hal tersebut diawali saat pasien
diselingkuhi oleh mantan pacarnya sebelum bertemu dengan istrinya saat ini. Pasien
sering menuduh istrinya berselingkuh dan pernah meminta cerai pada tahun 2008,
namun pada hari persidangan pasien tidak datang sehingga persidangan dibatalkan.
3
Saat ini pasien tinggal bersama istri dan kedua anak paling muda, tetapi pasien
sudah pisah kamar dengan istri karena istri pasien takut dipukul. Pasien dahulu
bekerja sebagai kontraktor dan orang kepercayaan kraton, lalu pasien pensiun pada
tahun 2011.
Menurut cerita anak ketiga pasien, istri pasien tidak pernah membuang kartu
rumah sakit pasien, melainkan pasien sendiri yang membuangnya. Pasien menolak
minum obat setelah keluar dari RSJD Surakarta pada Mei 2020 karena merasa tidak
sakit dan malah kebingungan setelah minum obat.
Anak ketiga pasien mengkonfirmasi bahwa pasien kenal dengan FX Hadi
Rudiatno, Pak Jokowi dan Wiranto. Pasien hanya sekadar kenal dengan orang-orang
penting tersebut (bukan kenal secara dekat) karena pasien sering mengikuti
kampanye. Ayah pasien merupakan keturunan Kraton Singosari.
Kebiasaan pasien yang dirasa mengganggu oleh keluarga pasien adalah pasien
sering mandi antara jam 1-3 pagi, lalu tidak mematikan kran seusai mandi. Setelah
pensiun, sehari-hari pasien hanya mondar-mandir di rumah dan tidak pernah merasa
lelah. Pasien terkadang meminjam motor dan berhari-hari tidak kembali ke rumah
dengan alasan pergi bertapa untuk memperoleh ilmu. Selain itu, pasien juga sering
meminta uang ke tetangga serta menganggap orang-orang penting akan
meminjamkannya uang. Uang yang didapat dari pinjaman tetangga akan dibagi-
bagikan ke orang lain. Tidak hanya uang, pasien juga sering membagikan barang-
barang di rumah kepada tetangga tanpa persetujuan anggota keluarga terlebih dahulu.
Pasien juga sejak lama batuk karena pasien sangat sering merokok, jika pasien
tidak diberikan rokok pasien biasanya mengamuk.

C Riwayat Gangguan Sebelumnya


1. Riwayat gangguan psikiatri :
Gejala serupa sudah muncul sejak tahun 1993. Pasien dan keluarganya sudah tidak
ingat berapa kali pasien dirawat di RSJD Surakarta karena sangat sering keluar
masuk RSJD Surakarta. Sebelumnya pasien dirawat di RSJD Surakarta pada Mei
2020. Gejala sering kambuh karena ketidakpatuhan pasien dalam mengkonsumsi
obat.
2. Riwayat kondisi medis umum
Riwayat trauma kepala : Disangkal
Riwayat kejang : Disangkal
4
Riwayat medis umum : Disangkal

3. Riwayat penggunaan zat psikoaktif dan alkohol


Penggunaan zat psikoaktif dan alkohol : Disangkal

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Prenatal dan Perinatal
Belum cukup data
2. Masa anak awal (0-3 tahun)
Belum cukup data
3. Masa anak pertengahan (4–11 tahun)
Belum cukup data
4. Masa anak akhir (pubertas sampai remaja)
Pasien akrab dengan teman-temannya. Pasien pernah dekat dengan seorang wanita
sebelum menikah dengan istri yang sekarang, namun wanita tersebut berselingkuh.
5. Masa Dewasa
a. Riwayat pekerjaan.
Pasien dahulu bekerja sebagai kontraktor, pencari nasabah Bank BCA dan
orang kepercayaan kraton. Pasien dapat bekerja sebagai orang kepercayaan
kraton karena pasien merupakan keturunan Kraton Singosari.
b. Riwayat perkawinan.
Pasien memiliki 1 orang istri. Pasien sering menuduh istrinya selingkuh dan
memukul istrinya. Gugatan cerai sempat diajukan pasien pada 2008, namun
pasien tidak datang pada hari persidangan cerai, sehingga gugatan dibatalkan.
Pasien masih tinggal bersama istri dan kedua anak termuda, namun sudah pisah
kamar dengan istri.
c. Riwayat pendidikan.
Pendidikan terakhir pasien SMA.
d. Riwayat Kemiliteran.
Belum pernah menjalani pendidikan kemiliteran.
e. Agama.
Pasien beragama Islam dan taat menjalankan agamanya.
f. Aktivitas sosial.

5
Pasien rukun dengan tetangga sekitar, sering mengikuti kegiatan di komplek
rumahnya, senang bergaul dengan tetangga rumah dan sesekali sering
menggoda tetangganya, namun setelah sakit pasien tidak rukun dengan
anggota RT sebelah karena pasien meyakini anggota RT sebelah menganut
ajaran sesat dan selalu mendatangi ketua RT sebelah pada jam 10 pagi dan 1
malam. Pasien suka mengikuti kegiatan kampanye.
g. Riwayat Psikoseksual.
Pasien melakukan hubungan seksual saat menikah
h. Riwayat hukum.
Pasien pernah ditangkap polisi pada tahun 2019 karena membawa sepeda yang
dijual di Pasar Kliwon tanpa membayarnya, tetapi pasien tidak sampai ditahan.
i. Situasi hidup sekarang
Pasien tinggal bersama istri dan 2 orang anaknya.
j. Persepsi dan harapan keluarga pasien
Keluarga pasien berpendapat kalau sakitnya ini ada keinginan pasien yang
tidak kesampaian. Keluarga berharap perilaku pasien bisa normal kembali
seperti sebelum sakit.
k. Persepsi pasien tentang dirinya
Pasien merasa memiliki pengetahuan luas dan berilmu. Cita-cita pasien adalah
merekrut anak-anak jalanan dan memberikan mereka pekerjaan yang layak.

6. Riwayat keluarga

6
Keterangan:
: Laki-laki

: Perempuan

: Pasien

: Laki-laki, telah meninggal

: Perempuan, telah meninggal

: Tinggal dalam 1 rumah

III. EVALUASI KELUARGA


A. Susunan Keluarga
Pasien merupakan anak ke 7 dari 9 bersaudara, keluhan serupa tidak terjadi pada
keluarga.
Ayah dan ibu kandung pasien sudah meninggal dunia. Pasien memiliki 1 orang cucu
perempuan dan 1 orang cucu laki-laki. Pasien tinggal serumah dengan istri, anak
ketiga, dan anak keempat pasien.
B. Keadaan Sosial Ekonomi Sekarang
Kondisi ekonomi pasien dan keluarga termasuk keluarga kurang mampu. Pengobatan
pasien dibiayai oleh BPJS. Pasien tidak bekerja. Sumber penghasilan berasal dari
Anak-anaknya
Fungsi Subsistem
1. Subsistem anak-orang tua
Belum cukup data
2. Subsistem pasien-saudara
Belum cukup data
3. Subsistem pasien-istri
Pasien tidak rukun dan suka memukul istrinya. Tidak terdapat masalah antara
pasien dengan anggota keluarga lainnya.

7
IV. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
A. Diskripsi Umum
1. Penampilan : Seorang laki-laki, rambut beruban tersisir rapi, mengenakan seragam
RSJD Surakarta berwarna hijau, memakai masker berwarna merah, dan sandal
jepit berwarna merah. Pasien berpenampilan sesuai usia dan jenis kelaminnya.
2. Perilaku dan aktivitas psikomotor : normoaktif.
3. Pembicaraan : spontan, volume cukup, intonasi dan artikulasi jelas.
4. Sikap terhadap pemeriksa: kontak mata adekuat, dan kooperatif

B. Kesadaran
Kesadaran : Kuantitatif : CM, E4 V5 M6
Kualitatif : Compos mentis berubah
C. Alam Perasaan :
1. Mood : Hipertimik
2. Afek : Meningkat
3. Keserasian : Serasi
4. Empati : tidak dapat dirabarasakan

D. Pemikiran dan persepsi :


1. Bentuk pikir : Non realistik
2. Isi pikir : Thought insertion, waham Kebesaran, waham curiga
3. Arus pikir : Koheren, logorhea
4 Persepsi
a. Halusinasi : Visual
b. Ilusi : Tidak ada
c. Depersonalisasi : Tidak ada
d. Derealisasi : Tidak ada
5. Impian dan fantasi : Tidak ada
E. Kognisi dan Sensorium
1. Intelegensi dan kemampuan informasi : baik
2. Konsentrasi dan perhatian : baik
3. Orientasi
Waktu : baik
Tempat: baik
8
Orang : baik
Situasi : baik
4. Daya ingat: Jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek : baik
5. Pikiran abstrak : baik
6. Kemampuan visouspasial : baik
7. Kemampuan menolong diri sendiri : baik
F. Pengendalian Impuls
Tidak didapatkan gangguan pengendalian impuls
G. Daya Nilai dan Tilikan
1. Daya nilai sosial: baik
2. Uji daya nilai : baik
3. Penilaian realita : terganggu
4. Tilikan : derajat 1
H. Taraf dapat dipercaya
Secara keseluruhan informasi dapat dipercaya.

V. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


A. Status Internus:
Keadaan umum : Baik. Tekanan darah 131/87 mmHg, frekuensi nadi 98 x/menit,
respiration rate 20x/ menit, suhu 36,4. TB dan BB : tidak diukur. Konjunctiva anemis
-/-, pupil refleks cahaya normal, sklera tidak ikterik, cor terkesan normal, abdomen:
nyeri tekan epigastrik (-), hati dan limpa tidak teraba, ekstremitas : dalam batas
normal.

B. Status Neurologikus:
Gejala rangsang selaput otak tidak ada, pupil isokor, refleks cahaya +/+, N. Cranialis
baik, fungsi sensorik dan motorik baik di keempat ekstremitas, refleks fisiologis:
normal, refleks patologis : tidak ada, tremor pada ekstremitas tidak ada
C. Laboatorium
a) HB: 12,3
b) Trombosit : 237.000
c) Leukosit : 7,21
d) Anti SARS-CoV-2 IgG Non reaktif
e) Anti SARS-CoV-2 IgM Non reaktif

9
f) SGOT : 19
g) SGPT : 20
h) GDS : 94

VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Telah diperiksa seorang pasien Tn JI, 51 tahun, pendidikan SMA, bekerja
serabutan, menikah. Dari anamnesis didapatkan :
 Pasien bekerja sampai larut malam, sulit tidur, suka mengamuk, bingung, mudah
marah, membuang barang yang ada di rumah ke sungai, keluyuran hampir setiap
hari.
 Pasien mengalami gangguan jiwa sejak tahun 1993.
 Pasien sering bolak balik mondok di RSJ karena pasien tidak rutin minum obat
 Pasien Ingin membakar Balai Kota, namun pasien menyangkal Ketika ditanya hal
tersebut, pasien merasa hebat, orang yang penting, memiliki ilmu dalam , dan
selalu cemburu kepada istrinya
 Pasien bersemangat dan memiliki waktu tidur yang sedikit, selalu membagi-
bagikan makanan kepada orang lain
Pada pemeriksaan status mental didapatkan:
 Seorang laki-laki, tampak sesuai dengan umur, perawatan diri cukup.
 Mood hipertimik, afek meningkat, keserasian serasi, empati tidak dapat
dirabarasakan.
 Proses pikir bentuk non realistik, isi: tought insertion, waham kebesaran, waham
curiga, arus pikir logorhea, penilaian realita terganggu, halusinasi visual
 Insight derajat 1
VII. FORMULASI DIAGNOSTIK
Pada pasien ini ditemukan adanya gangguan psikologis yang secara klinis
bermakan dan menimbulkan suatu distress dan hendaya dalam melakukan aktivitas
kehidupan sehari-hari. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pasien ini
mengalami gangguan mental
Pada pasien ini didapatkan sindrom psikosis yaitu:
1. Hendaya berat dalam Reality Testing Ability (RTA): kesadaran kualitatif yang
berubah dan tilikan diri yang buruk.
2. Hendaya berat pada fungsi-fungsi mental, yang bermanifestasi pada gejala yaitu

10
mood disforik, afek terbatas, keserasian serasi, waham curiga empati tidak dapat
dirabarasakan
3. Hendaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari yang bermanifestasi pada
gejala: tidak mampu dalam bekerja, menjalin hubungan sosial dan melakukan
kegiatan rutin.
Pada anamnesa dan pemeriksaan status internus serta neurologis tidak ditemukan
adanya kelainan, maka Gangguan Mental Organik (F00 – F09) dapat disingkirkan.
Dari anamnesis tidak ditemukan riwayat penggunaan alkohol, sehingga diagnosis
Gangguan Mental Terkait Zat (Substance-Related Disorder) dapat disingkirkan (F10
– F19)
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan status mental yang di dapatkan, Oleh
karena itu saya mengusulkan Aksis I : Skizoafektif tipe manik F25.0 dan kami
ajukan diagnosa banding : F 31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik
dengan gejala psikotik dan F20.0 Skizofrenia Paranoid
Berdasarkan anamnesa didapatkan keterangan bahwa pasien adalah oarang yang
ramah, sering mengikuti kegiatan di komplek rumahnya, senang bergaul sesekali
sering menggoda tetangganya, pasien juga suka mengikuti kegiatan aktifitas sosial,
maka Aksis II : Ciri Kepribadian Narsisistik
Pada Aksis III : Belum ada diagnosa
Pada Aksis IV : Keteraturan minum obat
Pada Aksis V : Skala GAF saat ini 40-31
VIII. EVALUASI MULTIAXIAL
Aksis I : Skizoafektif tipe manik F25.0
Aksis II : Ciri Kepribadian Histrionik
Aksis III : Belum ada diagnosa
Aksis IV : Keteraturan minum obat
Aksis V : GAF sekarang 40-31
HLPY 70-61

IX. DAFTAR MASALAH


1. Organobiologik : tidak ada
2. Psikologik :
 Gangguan pikiran.

11
 Gangguan persepsi
 Hilangnya fungsi peran dan sosial.

X. RENCANA PENGOBATAN LENGKAP


A. Psikofarmaka
Haloperidol 3x5mg
Chlorpromazine 1x100 mg
Trihexyphenidyl 3x2 mg
OBH syr 3xC1

B. Intervensi psikososial
Psikoedukasi keluarga untuk meningkatkan pemahaman keluarga tentang
perjalanan penyakit, pengenalan gejala, pengelolaan gejala, pengobatan (tujuan
pengobatan, manfaat dan efek samping), peran pasien dan keluarga dalam
pengobatan.

XI. PROGNOSIS
Hal yang meringankan :
Keterangan Check List
1. Onset lambat ( usia dewasa) V
2. Faktor pencetus jelas V
3. Onset akut -
4. Riwayat sosial, seksual dan pekerjaan, -
premorbid yang baik
5. Gangguan mood V
6. Mempunyai pasangan V
7. Riwayat keluarga gangguan mood -
8. Sistem pendukung yang baik V

9. Gejala positif V

Hal yang memberatkan:

12
No Keterangan Check List
1. Onset muda -
2. Faktor pencetus tidak jelas -
3. Onset tidak jelas -
4. Riwayat sosial, seksual dan pekerjaan pramorbid -
yang jelek
5. Perilaku menarik diri dan autistik -
6. Tidak menikah, cerai, janda, duda -
7. Riwayat keluarga Skizofrenia -
8. Sistem pendukung yang buruk -
9. Gejala negatif -
10. Tanda dan gejala neurologis -
11. Tidak ada remisi dalam tiga tahun -
12. Banyak relaps V
13. Riwayat trauma perinatal -

Quo ad vitam : bonam


Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
Quo ad sanasionam : dubia ad bonam

XII. DISKUSI
PENATALAKSANAAN SKIZOAFEKTIF

Gangguan Skizoafektif mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun gangguan


afektif. Gangguan skizoafektif memiliki gejala khas skizofrenia yang jelas dan pada saat
bersamaan juga memiliki gejala gangguan afektif yang menonjol. Gangguan skizoafektif
terbagi dua yaitu, tipe manik dan tipe depresif.
Prevalensi seumur hidup gangguan skizoafektif kurang dari 1%, mungkin berkisar
antara 0,5% – 0,8%. Tetapi gambaran tersebut masih merupakan perkiraan. Gangguan
skizoafektif tipe depresif mungkin lebih sering terjadi pada orang tua daripada orang muda,
prevalensi gangguan tersebut dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibanding perempuan,
terutama perempuan menikah. Usia awitan perempuan lebih lanjut daripada laki-laki, seperti

13
pada skizofrenia. Laki-laki dengan gangguan skizoafektif mungkin memperlihatkan perilaku
antisosial dan mempuinyai afek tumpul yang nyata atau tidak sesuai (PPDGJ III).
Pada gangguan skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala gangguan
mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit yang sama, baik
secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila gejala skizofrenik dan
manik menonjol pada episode penyakit yang sama, gangguan disebut gangguan skizoafektif
tipe manik. Dan pada gangguan skizoafektif tipe depresif, gejala depresif dan skizofrenia
yang menonjol. Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi,
perubahan dalam berpikir, perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala gangguan
suasana perasaan baik itu manik maupun depresif.
Modalitas terapi yang utama untuk gangguan skizoafektif adalah perawatan di rumah
sakit, medikasi, intervensi psikoterapi serta edukasi keluarga.
A. Psikoterapi
Pasien dengan diagnosis skizoafektif dapat diberikan psikoterapi individual, jarang
dilakukan terapi kelompok, karena biasnaya mereka sering tidak nyaman atau kurang
mampu bertoleransi dengan terapi kelompok terutama bila dengan pasien yang beraneka
ragam diagnosisnya. Bila akan dilakukan, lebih baik pada saat pasien dirawat inap, bukan
di rawat jalan (Elvira & Hadisukanto, 2017).
Psikoterapi individual yang dapat diberikan berupa psikoterapi supportif, client
centered therapy atau terapi perilaku. Psikoterapi supportif sebaiknya yang relatif konkrit,
berfokus pada aktivitas sehari-hari. Dapat juga dibahas tentang relasi pasien dengan orang-
orang terdekatnya. Ketrampilan sosial dan okupasional juga banyak membantu agar pasien
dapat beradaptasi kembali dalam kehidupan sehari-harinya (Elvira & Hadisukanto, 2017).
B. Edukasi Keluarga
Psikoedukasi pada keluarga penting dilakukan agar keluarga siap menghadapi
deteriorasi yang mungkin dapat terjadi. Diskusi dapat tentang problem sehari-hari,
hubungan dalam keluarga, dan hal-hal khusus lainnya, misalnya tentang rencana
pendidikan atau pekerjaan pasien. Kurangnya pemahaman keluarga mengenai gangguan
yang diderita pasien merupakan salah satu faktor pendukung yang mendorong perawatan
kembali pada pasien. Pemahaman keluarga mengenai gangguan skizoafektif bisa diperoleh
melalui pendekatan psikososial terutama psikoedukasi (Elvira & Hadisukanto, 2017).

14
C. Pengobatan Farmakoterapi
Farmakoterapi antidepresan dan antimanik digunakan dengan dikombinasi
dengan pengobatan antipsikotik untuk mengontrol gejala psikotik dan gejala lainnya. Pasien
dengan gangguan skizoafektif tipe bipolar, harus mendapatkan percobaan lithium,
carbamazepine, asam valproate atau suatu kombinasi obat-obatan tersebut jika satu obat
saja tidak efektif (Sadock et al, 2017).
Obat antipsikotik biasanya diperlukan untuk perawatan akut dan pencegahan
kekambuhan. Tidak ada antipsikotik tunggal pilihan dalam mengobati gangguan
skizoafektif, tetapi antipsikotik atipikal harus dipertimbangkan karena mereka memiliki
aktivitas menstabilkan suasana hati. Antipsikotik harus digunakan dengan dosis minimum
yang diperlukan untuk mengendalikan gejala. Antipsikotik generasi pertama terbatas
penggunaannya karena perkembangan efek samping ekstrapiramidal dan tardif dyskinesia,
sehingga penggunaan antipsikotik generasi kedua untuk manajemen mania akut akan
semakin meningkat. Dalam sebuah meta analisis dari 16.000 lebih pasien risperidon dan
olanzapine adalah terapi dengan efek dan tolerabilitas terbaik. Haloperidol dan quetiapine
juga sangat efektif walaupun haloperidol dapat menyebabkan gejala sindom ekstrapiramidal
(Saunders and Geddes, 2010).
Pada PNPK Jiwa tahun 2015, tatalaksana skizoafektif tipe manik atau campuran
serta skizoafektif tipe depresif pada fase akut dapat diobati dengan injeksi olanzapine dosis
10 mg/ ml injeksi intramuskulus dapat diulang setiap 2 jam dosis maksimum 30 mg/hari
atau dengan diazepam 10 mg/2 ml injeksi intramuskulus atau intravena dosis maksimum
30mg/hari atau injeksi haloperidol dosis 5mg/ml IM dapat diulang tiap 30 menit, dosis
maksimum 20 mg/hari. Terapi oral kombinasi pada pasien skizoafektif tipe manik dapat
dipertimbangkan penggunaan olanzapine 1x-10-30 mg/hari atau risperidon 2x1-3 mg/ hari
atau quetiapin hari ke I (200mg), hari ke II (400 mg), hari III (600 mg) atau aripiprazol
1x10-30 mg/hari. Terapi dapat ditambahkan lithium karbonat 2x400 mg dinaikkan sampai
kisaran terapeutik 0,8-1,2 mEQ/L atau divalproat dengan dosis awal 2 x 250 mg/hari (atau
konsentrasi plasma 50-125 ug/L), bisa ditambah lorazepam 3x 1-2 mg/hari jika gaduh
gelisah atau insomnia, atau haloperidol 5-20 mg/hari (PNPK Psikiatri, 2015).
Terapi oral kombinasi pada pasien skizoafektif tipe depresif dapat
dipertimbangkan olanzapine 1x-10-30 mg/hari atau risperidon 2x1-3 mg/ hari atau
quetiapin hari ke I (200mg), hari ke II (400 mg), hari III (600 mg) atau aripiprazol 1x10-30
15
mg/hari. Terapi dapat ditambahkan lithium karbonat 2x400 mg dinaikkan sampai kisaran
terapeutik 0,8-1,2 mEQ/L atau divalproat dengan dosis awal 3 x 250 mg/hari (atau
konsentrasi plasma 50-125 ug/L), carbamazepine 300-800 mg/hari, haloperidol 5-20
mg/hari, lamotrigin dengan dosis 200-400 mg/hari atau dengan kombinasi antidepressant
SSRI misalnya fluoksetin 1x 10-20 mg/hari. Penggunaan antidepresan jangka panjang
untuk skizoafektif tipe depresi mayor tidak dianjurkan karena dapat menginduksi terjadinya
episode manik (PNPK Psikiatri 2015).
Clozapine dapat diberikan pada pasien refrakter. Lama pemberian obat untuk
fase akut adalah 2-8 minggu atau sampai remisi absolut yaitu YMRS ≤ 9 atau MADRS ≤
11 dan PANSS EC ≤ 3 untuk tiap butir PANSS EC. Lama pemebrian obat fase lanjutan 2-6
bulan sampai tercapai recovery yaitu bebas gejala selama 2 bulan (PNPK Psikiatri 2015).

D. Terapi Electroconvulsive Therapy


Electroconvulsive Therapy dapat diberikan pada pasien skizoafektif tipe depresi
atau skizoafektif tipe manik . ECT dapat dipertimbangkan sebelum pasien diputuskan tidak
responsif terhadap terapi (Sadock et al, 2017).

16
DAFTAR PUSTAKA

Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Departemen


Kesehatan RI, hal 103-118.

Association , America Psychiatric. Diagnosis And Statistic Manual Of Mental Disorders,


(2013) Fifth Edition (DSM5), America: Psychiatric Publishing.

Elvira, S.D dan Hadisukanto, G. Buku Ajar Psikiatri. Badan Penerbit FK UI. Jakarta,
2017, Hal. 224-227

Sadock, et all (2017). Kaplan and Sadock’s Comprehensive textbook of psychiatry


volume I. Tenth edition. New York. Hal 1169-1189

Saunders, K.E.A and Geddes, J. R. (2010). The Management of schizoaffective Disorder.


Hal 175-179

Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Jiwa/Psikiatri. 2015. Jakarta.

17
Lampiran 1 Kronologis

100 –91 25 tahun


9 bulan SMRS 1 minggu SMRS 3 hari SMRS 1 hari SMRS
90 – 81

80 – 71
70 – 61
60 – 51

50 – 41

40 – 31
Rawat inap Kabur Menggagu Keluarga tidak
30 – 21 karena dari tetangga sanggup
Pasien pertama kali sakit tahun
1995 perilaku pasien mulai menggangg Panti, dengan mengatur
20 – 11 u tetangga, tidak berteriak, dan prilaku pasien
berubah. pasien berobat di RSJ dan
minum obat tidak teratur. sulit tidur tidur mengganggu
dan banyak dan orang lewat
10 – 01 bicara keluyura
b
GAF

18
Lampiran 2 Follow up

FOLLOW UP
(30 November - 27 Desember 2020)

Tgl S O A P
30- Pasien kabur dari panti. penampilan: laki- axis I: F25.0 risperidon 2mg
11- pasien juga mengatakan laki sesuai usia, axs II: belum 2x1
20 bahwa semua ini omong perawatan diri ada diagnosa trihexyphenidil
kosong katanya buku RM kurang, ada 4 cincin axis III: 2mg 2x1
itu tulisannya rahasia tapi di tangan kanan dan belum ada chlorpromazin
semua orang tahu bahwa gelang dilengan diagnosa 100mg 1x1
dia sakit jiwa padahal tidak pembicaraan: axis IV: (malam)
ada yang ngomong. pasien spontan, volume masalah
mentakan bpjs juga omong tinggi, intonasi dan psikososial
kosong karena gratisnya di artikulasi baik, (family
depan karena nanti pasien logorhoe support
harus membayar ke BPJS. sikap: kurang group)
pasien juga mengatakan kooperatif axis V : 40-31
hanya tuhan yang tidak psikomotor:
bohong dan semua orang normoaktif
adalah penjilat ke tuhan. afek: terbatas
merokok ganja 1x. dan mood: elasi
minum beralkohol pada bentuk pikir: non
tahun 1995 realistik
isi: waham curiga,
riwayat mondok: bulan 2 waham kebesaran
tahun 2020 arus: sirkumstansial
terapi: gangguan persepsi:
risperidon 2x3mg halusinasi (-)
chlorpromazin 1x100mg insight: derajat 1
depakote ER 1x250 mg
trihexyphenidil 2x2 mg
11- Pasien tampak tenang Mood : hipertimik, Aksis I : Haloperidol
11- batuk pilek sudah afek: meningkat, F25.0 3x5mg
20 berkurang, Bicara masih bentuk : non skizoafektif Chlorpromazine
banyak, realistik, tipe manik 1x100 mg
pasien memiliki ilmu kebal isi : waham Aksis II: CK Trihexyphenidyl
dan bisa menyembuhkan kebesaran, Histrionik 3x2 mg
org sakit, pasie bisa melihat waham curiga , OBH syr 3xC1
hantu dan mengatakan arus : logorhea, DPJP acc pindah
bahwa corona tidak ada halusinasi visual, sub akut
Tilikan derajat l

19
12- Pasien bercerita ada nabi Mood : hipertimik, Aksis I : Haloperidol
11- khidir menasehati pasien, afek:meningkat, F25.0 3x5mg
20 pasien masih banyak bentuk : non skizoafektif Chlorpromazine
bicara, pasien masih sering realistik, tipe manik 1x100 mg
terbangun tengah malam isi : waham Aksis II: CK Trihexyphenidyl
kebesaran, waham Histrionik 3x2 mg
curiga , OBH syr 3xC1
arus : logorhea,
halusinasi visual,
Tilikan derajat l

13- Bicara masih banyak, batuk Mood : elasi, afek: Aksis I : Haloperidol
11- berkurang, pasien meningkat,Proses F25.0 3x5mg
20 mengatakan kakinya sakit, pikir : bentuk : non skizoafektif Chlorpromazine
Pasien berpesan untuk realistik, isi : ide ide tipe manik 1x100 mg
sholat 5 waktu, terbangun kebesaran, arus : Aksis II: CK. Trihexyphenidyl
tengah malam flight of idea, histrionik 3x2 mg
koheren, halusinasi
visual, Tilikan
derajat l
14- Bicara masih banyak, Mood : hipertimik, Aksis I : Haloperidol
11- pasien kadang afek: meningkat, F25.0 3x5mg
20 membicarakanPak Jokowi bentuk : non skizoafektif Chlorpromazine
yang kenal dekat dengan realistik, tipe manik 1x100 mg
pasien Isi : ide ide Aksis II: CK. Trihexyphenidyl
Pasien sering menggangu kebesaran, histrionik 3x2 mg
temannya arus :logorhea, Clozapine
koheren, halusinasi 2x25mg
-, Tilikan derajat l
16- Pasien bercerita bahwa Mood : hipertimik, Aksis I : Haloperidol
11- tahu beberapa surat di injil afek: meningkat, F25.0 3x5mg
20 yang dimana Bapak bentuk : non skizoafektif Chlorpromazine
Walikota solo membacanya realistik, tipe manik 1x100 mg
untuk kemenangan dalam Isi : ide ide Aksis II: CK. Trihexyphenidyl
pilkada kebesaran, histrionik 3x2 mg
arus :logorhea, Clozapine
koheren, halusinasi 2x25mg
-, Tilikan derajat l
17- Pasien meyakinkan Mood : eutimik, Aksis I : Haloperidol
11- sakitnya ini atas ulah afek: meningkat, F25.0 3x5mg
20 isrtinya yang suka bentuk : non skizoafektif Chlorpromazine
selingkuh, sudah tidak realistik, tipe manik 1x100 mg
melihat bayangan lagi, Isi : waham curiga, Aksis II: CK. Trihexyphenidyl
mendengar bisikan- arus :logorhea, Histrionic 3x2 mg
koheren, halusinasi - Clozapine
Tilikan derajat 3 2x25mg

20
18- Pasien tampak lebih Mood : eutimik, Aksis I : Haloperidol
11- tenang, teman di ruangan afek: normoafek, F25.0 3x5mg
20 baik dan ramah, pasien bentuk : non skizoafektif Chlorpromazine
mengajarkan beberapa realistik, tipe manik 1x100 mg
surat di Al-Quran untuk Isi : ide kebesaran, Aksis II: CK. Trihexyphenidyl
dibaca agar urusan arus :logorhea, Histrionic 3x2 mg
dipermudah koheren, halusinasi - Clozapine
Tilikan derajat 3 2x25mg

20- Jika sembuh pasien Mood : eutimik, Aksis I : Haloperidol


11- berencana mengajak orang- afek: normoafek, F25.0 3x5mg
20 orang untuk bermain ke bentuk : non skizoafektif Chlorpromazine
rumahnya untuk makan- realistik, tipe manik 1x100 mg
makan karena isi kulkasnya Isi : ide kebesaran, Aksis II: CK. Trihexyphenidyl
penuh dengan buah dan arus :logorhea, Histrionic 3x2 mg
makanan koheren, halusinasi - Tilikan derjat Clozapine
Tilikan derajat 3 3 2x25mg

22- Pasien tidur cukup, pasien Mood : eutimik, Aksis I : Haloperidol


11- senang bangun pagi, kepala afek: normoafek, F25.0 3x5mg
20 sudah tidak pusing, pasien bentuk : non skizoafektif Chlorpromazine
sudah tampak tenang realistik, tipe manik 1x100 mg
Isi : ide kebesaran, Aksis II: CK. Trihexyphenidyl
arus :koheren, Histrionic 3x2 mg
halusinasi - Tilikan derjat Clozapine
Tilikan derajat 3 3 2x25mg

21