Anda di halaman 1dari 23

PRESENTASI KASUS PSIKOTIK

SEORANG PEREMPUAN 30 TAHUN DENGAN SKIZOFRENIA TAK TERINCI


(F20.3)

OLEH:

dr. Muhammad Rizky Huryamin

SUPERVISOR:

dr. Betty Hidayati, Sp.KJ, M. Biomed

PPDS PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2020
HALAMAN PERSETUJUAN

SEORANG PEREMPUAN 30 TAHUN DENGAN SKIZOFRENIA TAK TERINCI


(F20.3)
ini telah disetujui untuk dipresentasikan pada
tanggal ......... . . . 2020 jam . . . . . . . WIB

Supervisor Tanda tangan

dr. Betty Hidayati, Sp.KJ, M. Biomed ...............................................

Pembimbing

1. ........................................... .................................................

2. ........................................... ................................................

Sie Ilmiah

1. ........................................... ............................................

2
HALAMAN PENGESAHAN

Presentasi : Kasus Psikotik

Nama : Muhammad Rizky Huryamin H.

PPDS PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET


RSJD Dr. ARIF ZAINUDIN
SURAKARTA

Telah disetujui dan disahkan pada

Tanggal___________Bulan______________2020
Oleh Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran UNS/RSJD Dr. ARIF ZAINUDIN
Surakarta

Supervisor

dr. Betty Hidayati, Sp.KJ, M. Biomed

3
I. IDENTITAS PASIEN
- Nama : Ny. K I
- Umur : 30 tahun
- Jenis kelamin : Wanita
- Agama : Islam
- Suku : Jawa
- Pendidikan terakhir : tamat SMP
- Pekerjaan : Tidak bekerja
- Alamat : Wayut, Jiwan, Madiun
- Tanggal pemeriksaan : 25 November 2020
- Tanggal masuk RS : 24 November 2020

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Riwayat psikiatri diperoleh dari autoanamnesis dan alloanamnesis yang dilakukan
terhadap
1. Tn T, 57 tahun, Ayah kandung pasien, tamat SD, bekerja sebagai petani, tinggal
serumah dengan pasien.
2. Tn. W, 32 tahun, Kakak kandung pasien, tamat S1, bekerja sebagai admin RS
Swasta, tidak tinggal serumah dengan pasien

A. Keluhan utama: Mengamuk

B. Riwayat Penyakit Sekarang


1. Autoanamnesis
Pada saat pemeriksaan, seorang wanita, mengaku Ny. K 36 tahun,
mengatakan pasien masuk ke RSJ karena dipaksa oleh pak lurah dan ayahnya,
pasien merasa dirinya tidak sakit saat itu dan pasien menyadari saat itu memarahi
ibu dan suaminya namun menyakal memukul keluarganya karena pasien merasa
kesal tidak diberikan uang. Pasien setiap ditanya oleh pemeriksa selalu menangis
karena pasien sudah kangen dengan anaknya dan ingin pulang saja. Pasien
bercerita bahwa pernah mendengar suara bisikan seorang laki-laki yang
membicarakan pasien dan merasakan bahwa pamannya yang sudah meninggal

4
masih hidup dan masuk ke dalam tubuh pasien yang membuat pasien suka
marah-marah. Namun saat sudah dirawat di RSJD Surakarta suara dan pikiran
tersebut sudah menghilang. Saat ini pasien hanya minta untuk dipulangkan saja.
Pasien bercerita dulu pernah bekerja sebagai karyawan di catering
makanan dan ditoko pakaian di pasar, namun pasien setelah sakit pasien tidak
bekerja dan setelah menikah kata pasien dilarang bekerja oleh suaminya untuk
fokus mengurus anaknya.
Pasien mengakui pernah mencoba untuk bunuh diri sekitar 10 tahun yang
lalu dengan cara menceburkan dirinya ke sungai. Menurut pasien hal tersebut
dilakukan karena merasa ada yang menyuruh pasien.
2. Alloanamnesa
Berdasarkan keterangan orang tua dan kakak kandung pasien, pada saat
itu pasien masuk RSUD Ngawi pada tanggal 4 November 2020 karena memukul
ibunya dengan kayu tidak ada masalah sebelumnya, karena ketakutan ibu lari ke
rumah tetangga untuk mencari pertolongan, dan akhirnya pasien ditangkap oleh
tetangga, petugas puskesmas dan pak lurah.
Sebelumnya pasien juga sering memarahi dan memukul orang yang ada
dirumahnya ketika keinginannya tidak terpenuhi dan terkadang juga sering
menangis tanpa sebab. Pasien juga sering cepat marah jika keinginan pasien
tidak sesuai dengan keinginannya, seperti pasien menyalakan TV dengan remot
pasien melempar remot tersebut kerena remotnya rusak. Pasien dua hari sebelum
masuk RSUD Ngawi juga tidak tidur dan mengacak-acak barang miliknya di
rumah.
Untuk perawatan diri seperti mandi, pasien kadang harus disuruh ayah
dan suaminya untuk mandi. Pasien memiliki sorang anak laki-laki umur 4 tahun
dan anaknya kadang-kadang tidak mau mengurusnya dan dalam 4 hari SMRS
pasien tidak mau sama sekali mengurus anaknya bahkan menyuruh suaminya
untuk menggantikan tugasnya. Menurut suami pasien pasien berbohong jika
keinginannya tidak dipenuhi.
Menurut keluarga, sebelum sakit, pasien adalah seseorang yang pekerja
keras, pantang menyerah dan memiliki banyak teman, namun kekurangan pasien
jarang bercerita kepada keluarga jika ada masalah.

5
Pasien di RSUD Ngawi dirawat 2 kali, pertama pada tahun 2018 dan
yang kedua saat ini selama 3 minggu, menurut rujukan disebutkan pasien selalu
menangis, marah-marah, tidak mau minum obat, sehingga pasien dirujuk RSJD
Surakarta karena alasan tidak ada perubahan mengarah ke arah perbaikan.
Awalnya pasien terlihat aneh pertama kali pada awal tahun 2011 saat
ibunya dirawat di Rumah sakit karena kena serangan stroke pasien diamati oleh
ayahnya saat itu terlihat seperti bicara sendiri, tertawa sendiri namun ketika
ditanya pasien hanya tersenyum dan sesekali pasien juga menangis tanpa sebab.
Keluhan ini terlihat 2 minggu namun pasien dibiarkan saja oleh keluarga,
kemudian pasien 4 bulan selanjutnya juga sempat berkeinginan bunuh diri
dengan cara menyeburkan dirinya ke sungai, saat itu pasien sudah berada di
pinggir sungai, namun digagalkan oleh warga dan keluarga. Akhirnya keluarga
pasien memutuskan membawa pasien ke orang pintar selama 2 tahun namun
tidak ada perubahan, kemudian sekitar tahun 2013 berobat RSUD Ponorogo
untuk berobat dengan Psikiater dan menurut kakak pasien didiagnosa
Skizofrenia oleh dokter, pasien berobat pertama kali yang minum sebanyak 3
macam, namun pasien tidak mau minum obat dan dirumah yang bisa mengawasi
minum obat hanya ayah dan ibunya sehingga pasien kontrol selanjutnya
diberikan obat suntik per bulan. Pasien kontrol di Ponorogo selama 2 tahun
sudah mulai bosan dan aksesnya jauh akhirnya pasien tidak pernah berobat lagi.
Sebelum menikah pasien juga sempat berobat 2 kali di dokter umum, mendapat
injeksi per 3 bulan dan 1 obat diminum sebelum tidur.
Karena tidak ada yang mengurus pasien akhirnya pasien dijodohkan oleh
ayahnya dengan suaminya yang sekarang agar ada yang mengurusi pasien. Dan
belakangan ini pasien terakhir hanya berobat ke Puskesmas. Keluarga
mengatakan sebenarnya jika pasien rutin minum obat pasien tidak mudah marah
dan melihat perubahan dari perilaku pasien.

C. Riwayat Penyakit Dahulu


1. Riwayat psikiatri :
a) 2011
Berobat pertama di dukun karena pasien diduga diguna-guna oleh seseorang

6
b) 2013
Berobat di RSUD Ponorogo selama 2 tahun tidak teratur
c) 2015
Berobat di dokter umum di Caruban mendapat obat injeksi per 3 bulan.
d) 2018
Rawat Inap di RSUD ngawi karena marah-marah dan mengamuk di rumah.
Dan melanjutkan berobat di Puskesmas
2. Riwayat keluarga dengan gangguan jiwa: disangkal
3. Riwayat Gangguan Medik
Riwayat cedera kepala : disangkal
Riwayat kejang : disangkal
4. Riwayat NAPZA
Riwayat penyalahgunaan obat : disangkal
Riwayat alkohol : disangkal

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien lahir normal, lahir di tolong bidan, cukup bulan, tidak ada masalah medis
selama masa kehamilan hingga persalinan.
2. Riwayat Masa Anak Awal (0-3 tahun)
Pasien mendapatkan ASI. Yang mengasuh ibu kandungnya. Pertumbuhan sesuai
anak seusianya.
3. Riwayat Masa Anak Pertengahan (4-11 tahun)
Pasien memiliki banyak teman, mudah bergaul, sering dimarahi orang tuannya
dan kadang sering mendapat pukulan, orang tua pasien adalah orang yang keras
dalam mendidik anaknya menurut pengakuan kakaknya
4. Riwayat Masa Anak Akhir (12-18 tahun)
Pasien memiliki banyak teman di sekolah bisa mengukuti pelajaran di sekolah
dan tidak pernah tidak naik kelas
5. Riwayat Masa Dewasa
a. Riwayat Pekerjaan

7
Bekerja sebagai pegawai katering dan pegawai pedagang pakaian di pasar
selama 6 tahun, dan 1 tahun terakhir pasien sudah mulai bermalas-malasan
bekerja dan pada tahun 2014 pasien sudah tidak bekerja.
b. Riwayat Pernikahan
Pasien sudah menikah, dan memiliki satu anak laki-laki.
c. Riwayat pendidikan
Pasien tamat SMP.
d. Riwayat Agama
Pasien pemeluk agama Islam kurang taat ibadah
e. Riwayat Aktivitas Sosial
Pasien sebelum sakit sering mengikuti kegiatan di desanya seperti kerja bakti,
serta berkumpul bersama teman-temannya di warung dekat rumahnya.
f. Riwayat Hukum
Tidak pernah berurusan dengan hukum.
g. Situasi hidup sekarang
Pasien tinggal di Madiun bersama Ayah kandung, ibu kandung suami dan
anaknya.
h. Riwayat Seksual
Pengakuan pasien tidak ada penyimpangan sex.

8
6. Riwayat keluarga

1. Riwayat keluarga

Keterangan:
: Laki-laki
: Perempuan
: Pasien
: Meninggal Dunia
: Tinggal serumah

III. EVALUASI KELUARGA


A. Susunan Keluarga

Pasien tinggal bersama orang tua, suami dan anaknya


B. Keadaan Sosial Ekonomi Sekarang

Untuk kehidupan sehari-hari penghasilan didapat dari suaminya yang bekerja sebagai
buruh bangunan, untuk makan pas-pasan dan berobat menggunakan BPJS dari
pemerintah

C. Fungsi Subsistem

1. Hubungan dengan orangtua


Hubungan pasien dengan orangtua saat kecil sering dimarahi dan dipukul.
9
2. Hubungan dengan suami
Hubungan pasien dengan suami harmonis, bertengkar kadang-kadang saja.
3. Hubungan dengan anak
Harmonis, pasien sangat sayang dengan anaknya namun dalam dekat ini pasien
jarang merawat anaknya
4. Hubungan dengan Saudara
Pasien dengan kakaknya baik-baik saja, dengan adiknya pasien terkadang iri karena
adiknya bekerja menjadi TKW di Taiwan

IV. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL

A. Gambaran Umum
1. Penampilan: Seorang perempuan, tampak sesuai usia, kuku hitam dan kotor,
rambut acak-acakan perawatan kurang bersih
2. Perilaku dan aktivitas psikomotor : normoaktif
3. Sikap terhadap pemeriksa: Kooperatif
4. Kontak mata: adekuat
B. Kesadaran :
1. Kuantitatif : compos mentis (GCS E4V5M6).
2. Kualitatif : berubah.
C. Pembicaraan :
Spontan, volume cukup dan artikulasi dan intonasi cukup jelas.
D. Mood dan afek:
1. Mood : Sedih
2. Afek : Terbatas
3. Kesesuaian : tidak serasi
4. Empati : tidak dapat diraba rasakan
E. Proses Pikir :
1. Bentuk : Non realistik
2. Isi : Delution of control, Preokupasi ingin pulang
3. Arus : poverty of speech
F. Persepsi:
1. Halusinasi : Auditorik commenting

10
2. Ilusi : Tidak ditemukan
3. Derealisasi : Tidak ditemukan
4. Depersonalisasi : Tidak ditemukan
G. Kognisi dan Sensorium:
1. Orientasi: waktu/tempat/situasi/orang: baik
2. Daya ingat: baik
3. Konsentrasi dan perhatian: baik
4. Pikiran abstrak: baik
5. Intelegensia dan kemampuan informasi: baik
6. Kemampuan menolong diri sendiri: baik
H. Daya Nilai dan Tilikan
1. Daya nilai sosial : baik
2. Penilaian Realita : terganggu
3. Tilikan diri : derajat 1
I. Pengendalian impuls: baik

J. Taraf dapat dipercaya: dapat dipercaya

V. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


A. Status Internus :
Keadaan umum baik, tekanan darah 120/90 mmHg. Frekuensi nadi 88x/menit,
regular, suhu : 36.4 C, pernafasan 20 x/menit, konjungtiva tidak anemis, sklera
tidak ikterik.
Laboratorium :
HB: 12,3
Trombosit : 237.000
Leukosit : 7,21
Anti SARS-CoV-2 IgG Non reaktif
Anti SARS-CoV-2 IgM Non reaktif
SGOT : 19
SGPT : 20
GDS : 94
B. Status Neurologis :
11
Pupil isokor, refleks cahaya +/+, fungsi sensorik dan motorik baik di keempat
ekstremitas, refleks fisiologis: tidak diperiksa, refleks patologis : tidak diperiksa.

VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


- Seorang Perempuan, Ny K 30 tahun dibawa ke RSJD karena akan mengamuk, dan
memukul ibunya, mendengar suara bisikan yang membicarakan pasien dan
merasakan arwah pamannya masuk ke badan pasien yang mengendalikan pasien.
- Riwayat Opname di RSUD Ngawi 2 kali, tidak patuh minum obat
- CM/berubah, non realistis, mood sedih, halusinasi auditorik comenting, delution of
control , tilikan derajat 1.
- Pasien berhenti bekerja saat sakit
- Sudah berobat sejak tahun 2013, tidak ada perubahan.

VII. FORMULASI DIAGNOSTIK


Pada pasien ini didapatkan adanya gangguan pada perilaku dan psikososial yang
secara klinis bermakna, menggangu fungsi kehidupan sosialnya (deteriorasi) dengan
demikian dapat disimpulkan pasien menderita gangguan jiwa. Pada pemeriksaan
internus tidak didapatkan kelainan, hasil laboraturium dalam batas normal, dari
pemeriksaan fisik tidak ada kelainan dan tidak didapatkan riwayat trauma kepala,
riwayat kejang dan tidak didapatkan kondisi medis lainnya sehingga blok Gangguan
Mental Akibat Penyakit Fisik dapat disingkirkan (F00-F09). Riwayat penggunaan zat
narkotika saat ini tidak didapatkan, penggunaan minuman alkohol tidak didapatkan,
dan zat adiktif lainnya, sehingga diagnosis Gangguan Mental Terkait Zat dapat
disingkirkan (F10 – F19). Pada pasien ini didapatkan sindrom psikosis yaitu,
hendaya berat dalam Reality Testing Ability (RTA) yaitu berupa kesadaran kualitatif
yang berubah dan tilikan diri yang buruk, hendaya berat pada fungsi-fungsi mental,
yang bermanifestasi pada gejala yaitu, bentuk pikir non realistik, halusinasi auditorik,
delution of control, hendaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari yang
bermanifestasi pada gejala : tidak mampu bekerja, menjalin hubungan sosial dan
melakukan kegiatan rutin. Gejala psikotik tersebut memenuhi kriteria diagnosis
dengan onset waktu hingga saat ini 1 bulan, sehingga diagnosis skizofrenia,
gangguan skizotipal dan gangguan waham belum dapat disingkirkan. Sehingga

12
berdasarkan PPDGJ III dapat ditegakkan diagnosa sebagai Skizofrenia Tak Terinci
(F20.3) dengan diagnosa banding Skizoafektif tipe deprresi (F25.1).
• Berdasarkan riawat premorbid, menurut keluarga, sebelum sakit, pasien adalah
seseorang yang pekerja keras, pantang menyerah dan memiliki banyak teman, namun
kekurangan pasien jarang bercerita kepada keluarga jika ada masalah pasien sebelum
sakit PPDGJ III dapat ditemukan ciri kepribadian tipe ambang pada aksis II. Pada
pemerisaan fisik, pemeriksaan interna, laboraturium tidak didapatkan
kelainan.Sehingga pada Aksis III nya tidak ada diagnosa. Keluhan yang dialami
pasien dicetuskan dengan pasien merasa sehat dan tidak rutin minum obat serta akses
untukk berobat pasien jauh, sehingga pada aksis IV dapat ditegakkan masalah
Primary support grup. Pada aksis V penilaian penyesuaian diri menggunakan skala
Global Asessment of functioning (GAF) menurut PPDGJ III di dapatkan saat
pemeriksaan GAF (current) 40-31 yaitu beberapa disabilitas dalam hubungan realita
dan komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi, Disabilitas berat GAF
tertinggi pada tahun sebelumnya atau hight level past year (HLPY) 60-51 Gejala
sedang, disabilitas sedang.

VIII. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL


Aksis I : Skizofrenia Tak Terinci (F20.3) dengan diagnosa banding Skizoafektif tipe
depresi (F25.1)
Aksis II : Ciri kepribadian tipe ambang
Aksis III : Tidak Ada Diagnosa
Aksis IV : Masalah primary support group, kepatuhan minum obat
Aksis V : GAF awal masuk : 40-31
GAF HLPY : 60-51

IX. DAFTAR MASALAH


A. Organobiologik : Tidak ada
B. Psikologik :
1. Gangguan perasaan : Ada
2. Gangguan pikiran : Ada
3. Gangguan persepsi : Ada
13
4. Gangguan Perilaku : Ada
5. Daya nilai realita yang buruk : Ada
C. Sosial ekonomi : Ada

X. RENCANA PENGOBATAN LENGKAP


A. Psikofarmaka
• Clozapine 1x 100 mg (Malam)
• Haloperidol 3x5mg
• Trihexyphenidil 3x2mg

B. Non Psikofarmaka
➢ Psikoterapi pasien dan keluarga
1. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa gangguan jiwa
membutuhkan pengobatan yang rutin dan tidak boleh putus obat seperti
sebelumnya.

2. Menjelaskan kepada keluarga kalau pasien membutuhkan dukungan dari


keluarga karena dukungan keluarga sangat diperlukan untuk membantu
pemulihannya. Diperlukan dukungan dari keluarga untuk pengobatan pasien,
yakni mendukung pasien menjalankan fungsi sosialnya.

➢ Rehabilitasi

XI. PROGNOSIS
Qua ad vitam : bonam
Qua ad sanasionam : dubia ad bonam
Qua ad fungsionam : dubia ad bonam

A. Hal-hal yang meringankan:


No Kerangan Check list
1 Onset lambat (usia dewasa) -
2 Faktor pencetus jelas V
3 Onset akut V

14
4 Riwayar sosial, seksual dan pekerjaan, premorbid -
yang baik
5 Ganggguan mood -
6 Mempunyai pasangan V
7 Riwayat keluarga gangguan mood -
8 Sistem pendukung yang baik -
9 Gejala positif V

B.Hal-hal yang memperberat:


No Keterangan Check List
1 Onset muda V
2 Faktor pencetus tidak jelas -
3 Onset tidak jelas -
4 Riwayat sosial, seksual dan pekerjaan premorbid -
yang jelek
5 Penarikan diri dan austistik -
6 Tidak menikah, cerai, janda, duda -
7 Riwayar keluarga Skizofrenia -
8 Sistem pendukung yang buruk V
9 Gejala negatif V
10 Tanda dan gejala neurologis -
11 Tidak ada remisi dalam 2 tahun -
12 Banyak relaps V
13 Riwayat trauma perinatal -

15
XII. DISKUSI
FAKTOR PENYEBAB KEKAMBUHAN SKIZOFRENIA

Kepatuhan mengkonsumsi obat pasien skizofrenia dipengaruhi oleh keluarga yang


tinggal satu rumah karena keluarga dapat mengingatkan jika pasien lupa minum obat,
pendampingan/pengawasan agar obat diminum sesuai dosis serta mengantar untuk kontrol
secara rutin yang bertujuan untuk mempertahankan kepatuhan. Keluarga juga dapat
memberikan dukungan dan membuat keputusan mengenai perawatan dari anggota yang
sakit, serta menentukan keputusan untuk mencari dan mematuhi anjuran pengobatan.
Selain itu, hubungan dengan pasien seperti bapak/ibu, anak, kakak/adik, suami dan,
istri lebih mempunyai ikatan keluarga yang sangat erat yang diketahui secara keseluruhan
sebanyak 58 orang (80,56%), sehingga untuk pemenuhan kebutuhan psikososial, terutama
yang berkaitan dengan kepatuhan minum obat pasien skizofrenia saat berada dirumah akan
lebih terkontrol. Hal ini senada dengan pernyataan Drennan & Graw (2000) bahwa adanya
dukungan dari pihak keluarga, teman dan orang-orang sekitarnya untuk selalu mengingatkan
pasien agar teratur minum obat demi keberhasilan pengobatan.
Dukungan sosial merupakan bantuan atau dukungan yang diterima individu dari
orang-orang tertentu dalam kehidupannya dan berada dalam lingkungan sosial tertentu yang
membuat individu merasa diperhatikan, dicintai, dihargai serta diberikan dukungan kearah
yang lebih baik. Individu yang menerima dukungan sosial memahami makna dukungan
sosial yang diberikan orang lain, dalam hal ini pemberi dukungan sosial terdekat dengan
individu penerima adalah keluarga. Hal demikian dijelaskan oleh Rodin dan Solovey (1994)
bahwa salah satu sumber dukungan sosial yang paling penting adalah perkawinan dan
keluarga.
Penyebab tidak patuh dari aspek klien dan keluarga adalah rendahnya insight akan
kondisi klien yang memerlukan obat dalam jangka waktu lama sebagai tindakan pencegahan
kekambuhan. Efek samping, rasa obat, dan kompleksitas penggunaan obat merupakan
penyebab ketidakpatuhan dari aspek obat. Adanya ungkapan yang bersifat menurunkan
motivasi dan penjelasan yang kurang jelas adalah penyebab ketidakpatuhan dari aspek
tenaga kesehatan.
Garcia(2006) mengungkapkan bahwa dukungan instrumental merupakan prediktor
kepatuhan klien saat di rumah. Dukungan instrumental yang diberikan meliputi seluruh
16
aktivitas yang berorientasi pada tugas perawatan klien dirumah. Berupa penyiapan obat,
melakukan pengawasan minum obat, mencari alternative pemberian obat apabila klien tetap
tidak mau minum obat, dan memenuhi kebutuhan finansial.
Dukungan emosional juga sangat penting, karena dengan kasih sayang yang
diberikan keluarga terhadap klien, klien akan merasa dihargai dan dicintai. Kondisi ini
membuat klien jadi lebih kooperatif untuk meminum obatnya. Kehangatan keluarga secara
tidak langsung meningkatkan kepatuhan minum obat. Dukungan informasional dipenuhi
partisipan dengan memberikan informasi pada anggota keluarga yang tidak mengerti tentang
pengobatan klien gangguan jiwa. Merawat anggota keluarga yang tidak patuh, terutama jika
klien mengalami kekambuhan dirasakan sebagai suatu beban keluarga (family burden).
Family burden merupakan suatu istilah untuk mengidentifikasi berbagai permasalahn,
kesulitan dan efek yang dialami keluarga sehubungan dengan adanya anggota keluarga yang
mengalami gangguan gangguan jiwa yang berkepanjangan (Magliano,2008).

17
DAFTAR PUSTAKA

Ringkas PPDGJ III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.
Rusdi Maslim. 2007. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta: Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya.

Soreff S. Schizofrenia disorder treatment & management. 2011. Diunduh dari:


http://emedicine.medscape.com/article/2 86342-Treatment.

Stemberg, R.J. and O’Hara, L.A. 1999. Creativity and intelligence. In R.J. Sternberg
(Ed.). New York: Cambridge: University Press. .

Watson, D.L. and Thaw, R.G. 2002. Self-directed Behavior: self-modification for
personal adjustment (8th ed.). Belmont, CA: Thomson/Wadsworth.

Weiten, W. and Halpem, D.F. 2004. Psychology: themes and variations (6th ed.).
Belmont, CA: Thomson/Wadsworth.

18
Lampiran 1 : Grafik Kronologis

19
*Lampiran 2 : Follow up

Tgl S O A P
24/11 Pasien kiriman dari RS Penampilan: seorang Axis I: F20.3 dd Haloperidol 3x5 mg
/20 ngawi karena tidak perempuan tampak F33.2 Thp 3x2 mg
perubahan sejak 3 sesuai usia, perwatan Axis II: ciri Cpz 1x100 mg
minggu dirawat. diri kurang rapi kepribadian
pembicaraan: ambang
Pasien saat ini tampk spontan, sering Axis III: Tidak
sedih, ingin pulang menangsi ketika Ada Diagnosa
karena ingin bertemu diajak bicara Axis IV:
dengan anaknya, psikomotor: hipoaktif kepatuhan minum
pasien mengeluhkan kesadaran CM obat
tidak nyaman tinggal mood: sedih Axis V:
disini. pasien mondok afek: terbatas GAF Current: 40-
2x ri RS ngawi dengan bentuk pikir: non 31
keluhan yang sama realistik
pasie mendengar suara isi: delution of control
bisikan namun arus: poverty of
bicaranya tidka jelas, speech
pasien dalam 1,minggu halusinasi: auditorik
ini malas beraktifitas commenting
hsnys tiduran saja, tilikan derajat 1
kadang menangis tiba2
. tidur cukup, namun TTV dan
makan hanya sedkit laboratorium dalam
batas normal
RPD: riwayat Bunuh
diri 10 tahun yang lalu.
26/11 Pasien baru pidah dari kesadaran: compos F20.3 dd F33.2 Haloperidol 3x5 mg
/20 larsati kemarin karena mentis Thp 3x2 mg
pasien merasa jijik dan pembicaraan: Clozapine 1x100 mg
sumpek, spontan, sering
tidur cukup, tadi pagi menangsi ketika
makanan dibuang diajak bicara
karena ingin pulang psikomotor:
normoaktif
kesadaran CM
mood: sedih
afek: terbatas
bentuk pikir: relastik
isi: waham -
arus: koheren
halusinasi: -
tilikan derajat 1

20
28/11 pasien tadi dalam kesadaran: compos F20.3 dd F33.2 Haloperidol 3x5 mg
/20 posisi di restrain dan mentis
teriak - teriak dan pembicaraan: Thp 3x2 mg
spontan, artikulasi
menangis.saat ini Clozapine 1x100mg
dan intonasi baik,
sudah dilepas dan volume keras
dalam kondisi tidur psikomotor: konsul dr. Betty.
setelah makan siang hiperaktif ketika di Sp.KJ
restrain saat ini tidur
setalah restrain advice:
dilepas
inj lodomer 1 amp;
kesadaran CM
mood: sedih deladryl 1 amp / 12
afek: terbatas jam ( untuk 24 jam)
bentuk pikir: non
realistik
isi: waham sde
arus: koheren
halusinasi: sde
tilikan derajat 1

29/11 Pasien saat ini TD 112/77 F203. Dd F33.2 Post injeksi lodomer :
/20 mengatakan dirinya N 84
della ampul/ 12 jam
sedih ingin pulang RR 20
t 36.5 Haloperidol 3x5 mg
karena merasa tidak
nyaman. pasien Thp 3x2 mg
kesadaran: compos
mengatakan dirinya mentis Clozapine 1x100mg
kangen anaknya di pembicaraa: spontan,
Usul pemberian
rumah. pasien juga artikulasi dan intonasi
bercerita dirinya sedih baik, volume keras antidepresan
karena ingin putus dari psikomotor:
Advice dr betty
hiperaktif
pacar tetapi pacarnya
kesadaran CM diberikan nopres
tidak mau. selama mood: depresif
wawancara, pasien 1dd20mg
afek: hipoafek
menangis terus. bentuk pikir: non
berdasarkan realistik
keterangan petugas, isi: waham sde
pasien sampai saat ini arus: koheren
halusinasi: sde
diarahkan terlebih
tilikan derajat 1
dahulu untuk
melakukan aktivitas.

21
30/11 Paasien mengatakan ku sedang F20.3 dd F33.2 Haloperidol 3X5 mg
/20 sedih karena kangen TD: 112/75 mmHg
Thp 3x2 mg
anak, sering merasa N: 90x/mnt
R : 20x/mnt Clozapine 1x100mg
gelisah. suara suara
S : 36.6
disangkal. kurang Nopres 1x 20 mg
kes cm berubah
kooperatif menjawab pembicaraan Usul pindah subakut
pertanyaan namun spontan, artikulasi
mulai bisa diarahkan dan intonasi baik,
volume cukup
kurang kooperatif
normoaktif
mood: hipotimik
afek: depresif
bentuk pikir: non
realistik
isi: waham sde
arus: koheren
halusinasi: sde
tilikan derajat 1
4/12 pasien masih menangis TD: 100/70 mmHg F20.3 dd F33.2 Haloperidol 3X5 mg
/20 jika ditanya. N: 84x/mnt
THP 3X2 MG
mendengar bisikan R : 20x/mnt
disangkal. S : 36.3 C Clozapine 1x100mg
Nopres 1x 20 mg
Status mentalis:
penampilan sesuai
usia, perawatan diri
kurang
sikap terhadap
pemeriksa :kooperatif
Psikomotor: hipoaktif
kesadaran Cm,
berubah
pembicaraan spontan,
aritkulasi dan intonasi
jelas, volume cukup
afek : menyempit
mood : hipotimik
bentuk pikir: realistik
isi preokupasi pulang
arus: koheren
gangguan persepsi :
halusinasi -
orientasi waktu
terganggu
insight derajat 1

22
7/12/ Keluhan sudah TD : 110/80 F20.3 haloperidol 3x5 mg
20 berkurang, sudah bisa nadi : 90
thp 3x2 mg
menahan tangis, tidur T : 36,4
RR : 20 clozapine 1x100mg
cukup
nopres 1x 20 mg stop
Status mentalis:
penampilan sesuai rehabilitasi
usia, perawatan diri
kurang
sikap terhadap
pemeriksa :kooperatif
Psikomotor: hipoaktif
kesadaran Cm,
berubah
pembicaraan spontan,
aritkulasi dan intonasi
jelas, volume cukup
afek : menyempit
mood : hipotimik
bentuk pikir: realistik
isi preokupasi pulang
arus: koheren
gangguan persepsi :
halusinasi -
orientasi waktu baik
insight derajat 3

23