Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

SUBJEK DAN OBJEK PAJAK

OLEH KELOMPOK 1:
1. Anis Nanda Mulyani (211004)
2. Adinda Elfira Sari (211000)

Mata kuliah Perpajakan


Fakultas Ekonomi
Universitas
Primagraha
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Sebelum ditetapkan sebagai wajib pajak, setiap pihak harus


memenuhi persyaratan sebagai subyek pajak terlebih dahulu. Untuk
setiap jenis pajak, terdapat perbedaan mengenai pengertian subyek
pajak  dan siapa saja pihak yang termasuk subyek pajak karena
didalam Ketentuan Umum Tata Cara Perpajakan (KUP) tidak
dijelaskan mengenai subyek pajak. Setelah ditentukan subyek
pajaknya, maka kita melihat obyek pajak. Apakah subyek pajak
tersebut patut atau tidak untuk dikenakan pajak.

Menurut Undang-undang Pajak Penghasilan yang disebut subyek


pajak dalam hal ini adalah segala sesuatu yang mempunyai potensi
untuk memperoleh penghasilan dan menjadi sasaran untuk dikenakan
pajak penghasilan. Secara garis besar, subyek PPN diantaranya,
Pengusaha Kena Pajak (PKP),  Pengusaha Kecil, Badan-badan
tertentu, yaitu PERTAMINA. Yang menjadi subyek pajak PBB adalah
orang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi,
dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau memiliki,
menguasai, dan/ atau memperoleh manfaat atas bangunan. Yang
menjadi subyek pajak BPHTB adalah orang pribadi atau badan yang
memperoleh hak atas tanah dan/bangunan. Bea Meterai terutang
oleh pihak yang memperoleh atau menerima manfaat  dari dokumen,
kecuali pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain.

Menurut Undang-undang yang menjadi objek pajak penghasilan


adalah penghasilan yaitu setiap Tambahan Kemampuan  Ekonomis
yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk
konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang
bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun. Yang
menjadi obyek PBB adalah bumi dan bangunan.

Demikian juga pengertian subjek dan objek pajak pada beberapa jenis
pajak lainnya. Dimana pengertian subjek dan objek pajak tergantung
pajak apa yang dimaksud. Di dalam makalah ini akan dibahas lebih
mendetail mengenai subjek dan objek pajak untuk beberapa jenis
pajak.

1.2 TUJUAN PEMBAHASAN


Setelah membaca makalah ini, mahasiswa diharapkan:
1.    Dapat menjelaskan pengertian subjek dan objek pajak dari beberapa
jenis pajak.
2.    Dapat menyebutkan subjek dan objek pajak dari beberapa jenis pajak.
3.    Dapat menjelaskan subjek dan objek yang terkena pajak ataupun tidak
terkena pajak.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.1 SUBYEK PAJAK
   
    Sebelum ditetapkan sebagai wajib pajak, setiap pihak harus
memenuhi persyaratan sebagai subyek pajak terlebih dahulu. Untuk
setiap jenis pajak, terdapat perbedaan mengenai pengertian subyek
pajak  dan siapa saja pihak yang termasuk subyek pajak karena
didalam Ketentuan Umum Tata Cara Perpajakan (KUP) tidak
dijelaskan mengenai subyek pajak.

2.1.2 SUBYEK PAJAK MENURUT UNDANG-UNDANG PPh


   
    Dari segi ekonomi penghasilan pada umumnya timbul karena
adanya tindakan ekonomi. Namun, dari segi undang-undang PPh
memiliki arti yang lebih luas. Yang disebut subyek pajak dalam hal ini
adalah segala sesuatu yang mempunyai potensi untuk memperoleh
penghasilan dan menjadi sasaran untuk dikenakan pajak
penghasilan. Menurut pasal 2 Undang-undang PPh No. 36 tahun
2008, merupakan perubahan ke empat dari Undang-undang PPh No.
7 tahun 1983, yang menjadi subyek pajak adalah:
1.    Orang pribadi
2.    Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan
menggantikan yang berhak
3.    Badan dan
4.    Bentuk Usaha Tetap (BUT)

Subyek pajak dibedakan menjadi subyek pajak dalam negeri dan


subyek pajak luar negeri.
a.    Subyek pajak dalam negeri

1.    orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi


yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua
belas bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada
di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di
Indonesia.
2.    Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia
kecuali unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria;
pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
udangan, pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja  Negara (APBN) atau belanja daerah (APBD), penerimaannya
dimasukkan dalam anggaran pemerintah pusat atau pemerintah
daerah, pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan nasional
negara.
3.    Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan
menggantikan yang  berhak.
b.    Subyek pajak luar negeri

1.    Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang


pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam
jangka waktu dua belas bulan dan badan  yang tidak didirikan dan
tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha
atau melakukan kegiatan melalui betuk usaha tetap di Indonesia.
2.    Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang
peribadi yang berada di Indesia tidak lebih dari 183 dalam jangka
waktu dua belas bulan dan badan  yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia, yang dapat menerima atau
memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.
       
    Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang
dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di
Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183
hari dalam jangka waktu 12 bulan, badan yang tidak didirikan dan
tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha
atau melakukan kegiatan usaha  di Indonesia, dapat berupa:
a.    tempat kedudukan manajemen
b.    cabang perusahaan
c.    kantor perwakilan
d.    gedung kantor
e.    pabrik
f.    bengkel
g.    gudang
h.    ruang untuk promosi dan penjualan
i.    pertambangan dan penggalian sumber alam
j.    wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi
k.    perikanan, peternakan, perkebunan, atau kehutanan
l.    proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan
m.    pemberian jasa dalam bentuk apa  pun oleh pegawai atau orang
lain, sepanjang dilakukan lebih dari 60 hari dalam jangka waktu 12
bulan
n.    orang atau badan yang bertindak selaku agen yang
kedudukannya tidak bebas
o.    agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan
dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi
asuransi atau menanggung resiko di Indonesia, dan
p.    komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki,
disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik
untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet.
Tempat kedudukan orang pribadi atau tempat kedudukan badan
ditetapkan oleh direktur jenderal pajak menurut keadaan sebenarnya.

    Yang tidak termasuk subyek pajak sebagaimana yang dimaksud


dalam pasal 2, menurut pasal 3 Undang-undang PPh tahun 2008
adalah:
a.    Kantor perwakilan negara asing
b.    Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejababat-
pejabat lain dari negara asing, dan orang-orang yang diperbantukan
terhadap mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-
sama mereka dengan syarat bukan WNI dan di Indonesia tidak
menerima atau memperoleh penghasilan dari luar jabatan atau
pekerjaannya tersebut serta negara bersangkutan memberikan
perlakuan timbal balik
c.    Organisasi-organisasi internasional dengan syarat:
1.    Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut, dan
2.    Tidak menjalankan usaha atau kegitan lain untuk memperoleh
penghasilan dari Indonesia selain memberikan pinjaman kepada
pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota
d.    Pejabat-pejabat pewakilan organisasi internasional sebagaimana
dimaksud dalam huruf c, dengan syarat bukan WNI dan tidak
menjalankan usaha kegiatan, atau pekerjaan lain untuk memperoleh
penghasilan di Indonesia

Badan-badan Internasional yang dibebaskan dari subyek pajak


penghasilan menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 574/
KMK.04/2000 tanggal 26 Desember 2000 yang telah diubah dengan
Keputusan Menteri Keuangan No. 69/KMK.03/2003, tanggal 17
Februari 2003.
1.    Badan-badan Internasioanl dari PBB,  misalnya ADB, IBRD, IDA,
IFC.
2.    Colombo Plan
3.    Kerjasama Teknik
4.    Kerjasama Kebudayaan
5.    Organisasi-organisasi Internasional lainnya
6.    Organisasi Swasta Internasional

2.1.3 SUBYEK PAJAK MENURUT UNDANG-UNDANG PPN


   
    Secara garis besar, subyek PPN dapat digolongkan sebagai berikut:
a.    subyek PPN karena lingkungan pekerjaannya, yaitu:
1.    Pengusaha Kena Pajak (PKP)
Yaitu orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun, termasuk
instansi pemerintah, yang dalam lingkungan perusahaan atau
pekerjaannya melakukan kegiatan:
-    menghasilkan Barang Kena Pajak (BKP),
-    mengimpor BKP, mengekspor BKP,
-    melakukan usaha perdagangan, termasuk pedagang eceran,
-    memanfaatkan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean
-    melakukan usaha Jasa Kena Pajak (JKP) akan memanfaatkan
JKP dari luar daerah pabean.
2.    Pengusaha Kecil
Adalah pengusaha yang peredaran brutonya selama satu tahun buku
tidak melebihi batas jumlah yang ditetapkan yaitu 600 juta.

3.    Pedagang Eceran/Pedagang Eceran Besar


Pengusaha yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya
melakukan usaha perdagangan dalam perdagangan dengan cara
sebagai berikut:
-    tidak bertindak sebagai penyalur kepada pedagang lainnya
-    menyerahkan Barang Kena Pajak melalui suatu tempat penjualan
eceran seperti toko, kios atau dengan cara penjualan yang dilakukan
langsung kepada konsumen akhir dari rumah ke rumah
-    menyediakan Barang Kena Pajak yang diserahkan di tempat
penjualan secara eceran tersebut
-    melakukan transaksi jual beli secara spontan tanpa didahului
dengan penawaran tertulis, pemesanan, kontrak atau lelang dan pada
umumnya bersifat tunai, dan pembeli pada umumnya datang ke
tempat penjualan tersebut langsung membawa sendiri Barang Kena
Pajak (BKP) yang dibelinya.
b.    Subyek PPN karena diwajibkan oleh perundang-undangan dalam
rangka membantu pemerintah untuk melakukan pemungutan PPN
Di dalam aturan perpajakan lebih dikenal dengan nama pemungut
pajak. Yang termasuk dalam kategori pemungut PPN adalah:
1.    Kantor Perbendaharaan Negara
2.    Bendaharawan yang ditunjuk sebagai pemungut pajak adalah:
a.    Pejabat yang ditunjuk oleh menteri atau ketua lembaga sebagai
bendaharawan/bendaharawan proyek sesuai ketentuan
sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 16 ayat 1 dan pasal 34
ayat 1 Keputusan Presiden Republik Indonesia tahun 1984
b.    Bendaharawan pemerintah daerah
c.    Badan-badan tertentu, yaitu PERTAMINA, Kontraktor Kontrak Bagi
Hasil dan Kontrak Karya dibidang minyak dan gas bumi dan
Pertambangan Umum lainnya Badan Usaha Milik Negaradan Daerah,
Bank pemerintah dan Bank daerah dan Perusahaan Operator Telepon
Seluler
d.    Subyek PPN karena melakukan suatu kegiatan tertentu diluar
lingkungan perusahaannya, yang termasuk dalam kategori ini adalah
Orang Pribadi atau Badan yang melakukan kegiatan membangun
sendiri.
2.1.4 SUBYEK PAJAK MENURUT UNDANG-UNDANG PBB

    Menurut Undang-undang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) nomor


12 tahun 1985 pasal 4:
1.    Yang menjadi subyek pajak adalah orang atau badan yang secara
nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh
manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/ atau
memperoleh manfaat atas bangunan.
2.    Subyek pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 yang
dikenakan kewajiban membayar pajak menjadi wajib pajak, menurut
undang-undang ini.
3.    Dalam hal atas suatu objek pajak belum jelas diketahui wajib
pajaknya, Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan subjek pajak
sebagaimana sesuai dengan ayat 1 sebagai wajib pajak.
4.    Subjek pajak yang ditetapkan sebagimana dmaksud dalam ayat 3
dapat memberikan keterangan secara tertulis kepada DJP bahwa ia
bukan wajib pajak terhadap objek pajak dimaksud.
5.    Bila keterangan yang diajukan  oleh wajib pajak sebagaimana
dimaksud dengan ayat 4 disetujui, maka DJP membatalkan sebagai
wajib pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat 3 dalam jangka
waktu satu bulan sejak diterimanya surat keterangan yang dimaksud.
6.    Bila keterangan yang diajukan itu tidak disetujui, maka DJP
mengeluarkan surat keputusan penolakan disertai alasan-alasannya.
7.    Apabila setelah jangka waktu satu bulan sejak tanggal
diterimanya keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat 4  DJP
tidak memberikan keputusan, maka keterangan yang diajukan
dianggap disetujui.

2.1.5 SUBYEK PAJAK MENURUT UNDANG-UNDANG BPHTB

    Menurut Undang-undang No. 21 tahun 1997 tentang Bea Perolehan


Hak atas Tanah dan Bangunan.
1.    Yang menjadi subyek pajak adalah orang pribadi atau badan yang
memperoleh hak atas tanah dan/bangunan.
2.    Subyek pajak sebagaimana dimaksud pada ayat 1 yang
dikenakan kewajiban membayar pajak menjadi waib pajak menurut
Undang-undang ini.
2.1.6 SUBYEK PAJAK MENURUT UNDANG-UNDANG BEA METERAI

    Bea Meterai terutang oleh pihak yang memperoleh atau menerima
manfaat  dari dokumen, kecuali pihak-pihak yang bersangkutan
menentukan lain. Dalam hal dokumen dibuat sepihak, misalnya
kwitansi, bea materai terutang kepada penerima kwitansi. Dalam hal
dokumen yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, misalnya surat
perjanjian di bawah tangan, maka masing-masing pihak terutang bea
meterai atas dokumen yang diterimanya.
    Surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan
untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan,
pernyataan, atau keadaan, yang bersifat perdata. Yang dimaksud
surat-surat lainnya pada ketentuan ini adalah Surat Kuasa,  Surat 
Hibah dan Surat  Pernyataan. Jika surat peranjian dibuat dengan Akta
Notaries maka Bea Meterai yang terutang baik atas asli sahih yang
disimpan oleh notaries maupun salinannya yang diperuntukkan
pihak-pihak yang bersangkutan terutang oleh pihak-pihak yang
mendapatkan manfaat dari dokumen tersebut, yang dalam contoh ini
adalah pihak-pihak yang mengadakan perjanjian. Pihak-pihak yang
memegang surat perjanjian atau surat-surat lainnya tersebut,
dibebani kewajiban untuk membayar Bea Meterai atas surat
perjanjian atau surat-surat yang dipegangnya. Jika pihak-pihak yang
bersangkutan menentukan lain maka Bea Meterai terutang oleh
pihak-pihak yang ditentukan oleh dokumen tersebut.

2.1.7 OBYEK PAJAK MENURUT UNDANG-UNDANG PPh 36 TAHUN


2008

Yang menjadi Objek Pajak adalah penghasilan yaitu setiap Tambahan


Kemampuan  Ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak,
baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang
dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib
Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun.

Undang-undang Pajak Penghasilan Indonesia menganut prinsip


pemajakan atas  penghasilan dalam pengertian yang luas, yaitu
bahwa pajak dikenakan atas setiap tambahan kemampuan ekonomis
yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak dari manapun asalnya yang
dapat dipergunakan untuk konsumsi atau menambah kekayaan Wajib
Pajak tersebut.
Pengertian penghasilan dalam Undang-undang PPh tidak
memperhatikan adanya penghasilan dari sumber tertentu, tetapi pada
adanya tambahan kemampuan ekonomis. Tambahan kemampuan
ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak merupakan
ukuran terbaik mengenai kemampuan Wajib Pajak tersebut untuk ikut
bersama-sama memikul biaya yang diperlukan pemerintah untuk
kegiatan rutin dan pembangunan.

Dilihat dari penggunaannya, penghasilan dapat dipakai untuk


konsumsi dan dapat pula ditabung untuk menambah kekayaan Wajib
Pajak. Karena Undang-undang PPh menganut pengertian penghasilan
yang luas maka semua jenis penghasilan yang diterima atau
diperoleh dalam suatu tahun pajak digabungkan untuk mendapatkan
dasar pengenaan pajak. Dengan demikian, apabila dalam satu Tahun
Pajak suatu usaha atau kegiatan menderita kerugian, maka kerugian
tersebut dikompensasikan dengan penghasilan lainnya (Kompensasi
Horisontal), kecuali kerugian yang diderita di luar negeri. Namun
demikian, apabila suatu jenis penghasilan dikenakan pajak dengan
tarif yang bersifat final atau dikecualikan dari Objek Pajak, maka
penghasilan tersebut tidak boleh digabungkan dengan penghasilan
lain yang dikenakan tarif umum.

Objek Pajak Penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun,


termasuk :
a.    Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa
yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan,
honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan
dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang
Pajak Penghasilan.
b.    Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan
penghargaan.
c.     Laba usaha.
d.    Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta
(capital gain) termasuk:
•    keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan,
persekutuan, dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau
penyertaan modal;
•    keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan dan badan
lainnya karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu,
atau anggota;
•    keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan,
pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha atau
reorganisasi dengan nama dan dalam bentuk apapun;
•    keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau
sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam
garis keturunan lurus satu derajat, dan badan keagamaan atau badan
pendidikan atau badan social termasuk yayasan, koperasi atau orang
pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil yang ketentuannya
diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang
tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau
penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan;
•    keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau
seluruh hak penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau
permodalan dalam perusahaan pertambangan.
e.    Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan
sebagai biaya dan pembayaran tambahan pengembalian pajak;
f.    Bunga termasuk premium,  diskonto, dan imbalan karena jaminan
pengembalian utang.
g.    Dividen, dengan  nama dan dalam bentuk apapun, termasuk
dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan
pembagian sisa hasil usaha koperasi.
h.    Royalti atau imbalan atas penggunaan hak;
i.    Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan
harta.
j.    Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala.
k.    Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan
jumlah tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
l.    Keuntungan selisih kurs mata uang asing.
m.    Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva.
n.    Premi asuransi.
o.    Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya
yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan
bebas.
p.    Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang
belum dikenakan pajak.
q.    Penghasilan dari usaha yang berbasis syariah;
r.    Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan;
dan
s.    Surplus Bank Indonesia

Yang Tidak Termasuk sebagai Objek Pajak Penghasilan


1.    Bantuan Sumbangan serta Harta Hibahan
a.    Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh
badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau
disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat
yang berhak atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi
pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga
keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang
diterima oleh penerima sumbangan yang berhak, yang ketentuannya
diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah;

b.    Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan,
badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang
menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur dengan
atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; sepanjang tidak ada
hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di
antara pihak-pihak yang bersangkutan;

2.    Warisan.

3.    Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b sebagai
pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal.

4.    Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau


jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau
kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang diberikan
oleh bukan Wajib Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak secara
final atau Wajib Pajak yang menggunakan norma penghitungan
khusus (deemed profit) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15;

5.    Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi


sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan,
asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa.

6.    Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan
terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, Badan Usaha
Milik Negara, atau Badan Usaha Milik Daerah, dari penyertaan modal
pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di
Indonesia dengan syarat:
•    dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
•    bagi perseroan terbatas, Badan Usaha Milik Negara dan Badan
Usaha Milik Daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada
badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua puluh lima
persen) dari jumlah modal yang disetor;

7.    Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang


pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang
dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai.
8.    Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun
sebagaimana dimaksud pada huruf g, dalam bidang-bidang tertentu
yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.
9.    Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham,
persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi.
10.    Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal
ventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang
didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan
syarat badan pasangan usaha tersebut :
•    merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang menjalankan
kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang ditetapkan dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan
•    sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.

11.    Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang


ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan;
12.    Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga
nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang
penelitian dan pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi
yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk
sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan
pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun
sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur lebih
lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan
13.    Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial kepada Wajib Pajak tertentu, yang
ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan.

2.1.8 OBYEK PAJAK MENURUT UNDANG-UNDANG PAJAK BUMI


BANGUNAN (PBB)

Yang menjadi obyek PBB adalah bumi dan bangunan. Bumi adalah
permukaan bumi atau tanah dan isi yang ada di bawahnya, termasuk
tanah pekarangan, sawah, empang dan perairan pedalaman (Pasal 1
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 JO Undang-Undang Nomor
12 Tahun 1994 ).
Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan
secara tetap pada bumi, tanah atau perairan untuk tempat tinggal,
tempat usaha maupun tempat yang diusahakan (Pasal 1 Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 1985 JO Undang-Undang Nomor 12 Tahun
1994 ).
     Termasuk dalam pengertian bangunan :
a.    Jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan,
seperti hotel, pabrik dan emplasemennya, yang merupakan satu
kesatuan dengan komplek bangunan tersebut;
b.    Jalan tol;
c.    Kolam renang;
d.    Pagar mewah;
e.    Tempat olah raga;
f.    Galangan kapal, dermaga;
g.    Tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak;
h.    Fasilitas lain yang memberikan manfaat (Penjelasan Pasal 1
angka 2 Undang-Undang Nomor 12 TAHUN 1985 JO Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 1994 ).

Dikecualikan dari pengenaan PBB (Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang


Nomor 12 Tahun 1985 JO Undang-Undang Nomor 12 TAHUN 1994 )
1.    Tanah atau bangunan yang digunakan semata-mata untuk
melayani kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, kesehatan,
pendidikan dan nasional, yang dimaksudkan untuk tidak memperoleh
keuntungan. Contoh objek yang dikecualikan atau tidak dikenai PBB
itu seperti : pesantren atau sejenisnya, sekolahan/madrasah, tanah
wakaf, rumah sakit pemerintah dan lain-lain .
2.    Tanah atau bangunan yang digunakan untuk kuburan umum,
peninggalan purbakala, atau sejenis dengan itu seperti museum.
3.    Tanah atau bangunan yang digunakan oleh perwakilan diplomatik
atau konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik.
4.    Tanah yang merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, taman
nasional, tanah pengembalaan yang dikuasai oleh desa dan tanah
negara yang belum dibebani sesuatu hak.
5.    Bangunan yang digunakan oleh perwakilan organisasi
internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.

2.1.9 OBYEK PAJAK MENURUT UNDANG-UNDANG  PAJAK


PERTAMBAHAN NILAI (PPN)

Dalam Undang-Undang PPN dan PPnBM ada tujuh poin yang


membuat objek pajak harus dikenakan atas PPN. Ketujuh jenis obyek
pajak tersebut adalah:
1.    Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang
dilakukan pengusaha,
2.    Impor Barang Kena Pajak,
3.    Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang
dilakukan oleh pengusaha,
4.    Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah
Pabean di dalam Daerah Pabean,
5.    Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean,
6.    Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak,
7.    Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena
Pajak dan
8.    Ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.

Selanjutnya, ketentuan mengenai batasan kegiatan dan jenis Jasa


Kena Pajak yang atas ekspornya dikenakan PPN tersebut, rinciannya
akan diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Tarif  PPN seperti disebut dalam UU PPN dan PPnBM ini adalah
sebesar 10 persen. Sedangkan tarif  PPN  sebesar nol persen
diterapkan atas ekspor Barang Kena Pajak Berwujud, ekspor Barang
Kena Pajak Tidak Berwujud dan ekspor Jasa Kena Pajak.
Dalam undang-undang ini juga dituliskan kalau tarif pajak sebesar 10
persen itu, masih dapat diubah menjadi paling rendah 5 persen dan
paling tinggi sebesar 15 persen. Perubahan tarif ini diatur dengan
Peraturan Pemerintah yang ditentukan kemudian.
Perubahan ini menimbang atas perkembangan ekonomi terkini
berdasarkan peningkatan kebutuhan dana untuk pembangunan.
Perubahan tarif sebagaimana dimaksud tersebut dikemukakan oleh
Pemerintah kepada DPR dalam rangka pembahasan dan penyusunan
Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

2.2.1 OBYEK PAJAK MENURUT UNDANG-UNDANG BEA METERAI

    Sesuai pasal 2 Undang-undang No. 13 tahun 1985 tentang Bea


Meterai, maka dokumen yang dikenakan Bea Meterai adalah:
1.    surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujua
untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan,
kenyataan atau keadaan yang bersifat perdata.
2.    Akta-akta notaris termasuk salinannya
3.    Akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah
termasuk rangkap-rangkapnya
4.    Surat yang memuat jumlah uang lebih dari satu juta rupiah :
a.    Yang menyebutkan penerimaan uang
b.    Yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang
dalam rekening di bank
c.    Yang berisi pemberitahuan saldo rekening dibank.
d.    Yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau
sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan
5.    Surat berharga seperti wesel, promes, aksep, dan cek yang harga
nominalnya lebih dari satu juta
6.    Efek dengan nama dan dalam bentuk apa pun, sepanjang harga
nominalnya lebih dari satu juta.
7.    Dokumen lain yang akan digunakan sebagai alat pembuktian di
muka pengadilan, antara lain :
a.    Surat-surat biasa dan surat-surat kerumahtanggaan
b.    Surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai
berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau
digunakan oleh orang lain, lain dari maksud semula
Dukumen-dokumen yang tidak dikenakan Bea Meterai, antara lain,
1.    Dokumen yang berupa:
a.    Surat penyimpanan barang
b.    Konosemen
c.    Surat angkutan barang
d.    Keterangan pemindahan yang dituliskan di atas dokumen
sebagaimana yang dimaksud dalam angka 1, 2, dan 3
e.    Untuk pengiriman dan penggunaan barang
f.    Surat pengiriman barang  untuk dijual atas tanggungan pengirim
g.    Surat-surat lainnya yang dapat disamakan dengan surat-surat
sebagaimana dimaksud dalam angka satu sampai enam
2.    Segala bentuk ijazah
3.    Tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan, dan
pembayaran lainnya yang ada kaitanya hubungan kerja serta surat-
surat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran itu
4.    Tanda bukti penerimaan uang negara dari kas negara, kas
pemerintah daerah, dan bank
5.    Kwitansi untuk semua jenis pajak, dan untuk penerimaan lainnya
yang dapat disamakan dengan itu  dari kas negara, kas pemerintah
daerah dan bank
6.    Tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern
organisasi
7.    Dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayarn uag
tabungan kepada penabung oleh bank, koperasi, dan badan-badan
lainnya yang bergerak dibidang tersebut.
8.    Surat gadai yang diberikan oleh perusahaan jawatan pegadaian
9.    Tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek, dengan
nama dan dalam bentuk apa pun.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1.    Untuk setiap jenis pajak, terdapat perbedaan mengenai
pengertian subyek pajak  dan siapa saja pihak yang termasuk subyek
pajak
2.    Subyek pajak penghasilan adalah segala sesuatu yang
mempunyai potensi untuk memperoleh penghasilan dan menjadi
sasaran untuk dikenakan pajak penghasilan.
3.    Secara garis besar, subyek PPN diantaranya, Pengusaha Kena
Pajak (PKP), Pedagang eceran, Badan-badan tertentu, yaitu
PERTAMINA, Kontraktor Kontrak Bagi Hasil.
4.    Yang menjadi subyek pajak PBB adalah orang atau badan yang
secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh
manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/ atau
memperoleh manfaat atas bangunan.
5.    Menurut Undang-undang No. 21 tahun 1997 tentang Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Yang menjadi subyek
pajak adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas
tanah dan/bangunan
6.    Bea Meterai terutang oleh pihak yang memperoleh atau
menerima manfaat  dari dokumen, kecuali pihak-pihak yang
bersangkutan menentukan lain. Dalam hal dokumen dibuat sepihak,
misalnya kwitansi, bea materai terutang kepada penerima kwitansi
7.    Yang menjadi Objek Pajak adalah penghasilan yaitu setiap
Tambahan Kemampuan  Ekonomis yang diterima atau diperoleh
Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah
kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam
bentuk apa pun.
8.    Yang menjadi obyek PBB adalah bumi dan bangunan. Bumi
adalah permukaan bumi atau tanah dan isi yang ada di bawahnya,
termasuk tanah pekarangan, sawah, empang dan perairan
pedalaman.
9.    Dalam Undang-Undang PPN dan PPnBM ada tujuh poin yang
membuat objek pajak harus dikenakan atas PPN, yaitu, Penyerahan
Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan
pengusaha, Impor Barang Kena Pajak,Penyerahan Jasa Kena Pajak di
dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha, Pemanfaatan
Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean, Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah
Pabean di dalam Daerah Pabean,Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud
oleh Pengusaha Kena Pajak, Ekspor Barang Kena Pajak Tidak
Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak dan Ekspor Jasa Kena Pajak
oleh Pengusaha Kena Pajak.
10.    Sesuai pasal 2 Undang-undang No. 13 tahun 1985 tentang Bea
Meterai, maka dokumen yang dikenakan Bea Meterai adalah surat
perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk
digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan
atau keadaan yang bersifat perdata, Akta-akta notaris termasuk
salinannya,Akta-akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah
termasuk rangkap-rangkapnya,Surat yang memuat jumlah uang lebih
dari satu juta rupiah, Surat berharga seperti wesel, promes, aksep,
dan cek yang harga nominalnya lebih dari satu juta, efek dengan
nama dan dalam bentuk apa pun, sepanjang harga nominalnya lebih
dari satu juta, Dokumen lain yang akan digunakan sebagai alat
pembuktian di muka pengadilan, antara lain, surat-surat biasa dan
surat-surat kerumahtanggaan, Surat-surat yang semula tidak
dikenakan Bea Meterai berdasarkan tujuannya, jika digunakan untuk
tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, lain dari maksud semula.

DAFTAR PUSTAKA

Saranta, Djaka. 2003. Dasar-dasar Perpajakan di Indonesia. Jakarta


Mansur, Muhammad,dkk. 2005. Pajak Terapan Brevet A & B.
Tangerang: TaxSys
Undang-undang Perpajakan Indonesia.
http://www.pajakonline.com/
http://www.wikipedia.org/

Anda mungkin juga menyukai