Anda di halaman 1dari 98

3 Modul Keterampilan Klinik Dasar 1

FK UNBRAH
2|K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Tim Penyusun

dr. Resti Rahmadika Akbar, M.Pd. Ked

dr. Dian Ayu Hamama Pitra, Sp.S, M.Biomed

dr. Debie Anggraini, Sp.PK

dr. Mutiara Anissa, Sp.KJ

dr. Dita Hasni, M.Biomed

dr. Yuri Haiga, Sp.N

dr. Rifkind Malik, M.Biomed

dr. Rahma Triyana, M.Biomed


3|K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa, karena dengan
bimbingan-Nya pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan Modul Keterampilan
Klinik Dasar 1 bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Semester 1. Modul
Keterampilan Klinik Dasar 1 ini disusun sebagai salah satu penunjang pelaksanaan Problem Based
Learning di FK UNBRAH
Tantangan pendidikan kedokteran serta berkembangnya teknologi kedokteran dan
meningkatnya kebutuhan masyarakat menyebabkan perlunya dilakukan perubahan dalam
kurikulum pendidikan dokter khususnya kedokteran dasar di Indonesia. Seorang dokter umum
dituntut untuk tidak hanya menguasai teori kedokteran, tetapi juga dituntut terampil dalam
mempraktekkan teori yang diterimanya termasuk dalam melakukan Pemeriksaan Fisik dan
Keterampilan Terapeutik yang benar terhadap pasiennya.
Dengan disusunnya buku ini penulis berharap mahasiswa kedokteran lebih mudah dalam
mempelajari dan memahami komunikasi, empati, patient safety, pemeriksaan jantung dan paru
dasar dan pemasangan elektroda pada keterampilan EKG 1 yang ditujukan agar bisa menjadi
bekal kelak saat belajar di rotasi klinik maupun setelah menjadi dokter. Dengan dasar
pemeriksaan yang mengutamakan komunikasi efektif dan mengedepankan empati, etika dan
profesionalitas yang benar harapannya mahasiswa kelak dapat melakukan keterampilan
diagnostik dan terapeutik dengan benar pula.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
penyusunan buku ini. Penulis menyadari bahwa buku ini masih banyak kekurangannya, sehingga
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan dalam
penyusunan buku ini.
Terima kasih dan selamat belajar.

Padang, Agustus 2020

Tim penyusun
4|K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

DAFTAR ISI

Table of Contents
Tim Penyusun ............................................................................................................................................... 2
KATA PENGANTAR ........................................................................................................................................ 3
DAFTAR ISI .................................................................................................................................................... 4
TATA TERTIB MAHASISWA DI SKILLS LAB ..................................................................................................... 5
KETENTUAN UMUM : ................................................................................................................................ 5
KETENTUAN IJIN ........................................................................................................................................ 5
Pengisian Log Book ................................................................................................................................... 6
KARAKTERISTIK MAHASISWA ....................................................................................................................... 7
METODE PEMBELAJARAN ............................................................................................................................. 8
EVALUASI ...................................................................................................................................................... 9
KETERAMPILAN KOMUNIKASI 1- SAMBUNG RASA ..................................................................................... 10
JOURNAL READING ..................................................................................................................................... 20
HAND WASHING ......................................................................................................................................... 24
PEMERIKSAAN TANDA VITAL (VITAL SIGN) ................................................................................................. 32
PEMERIKSAAN FISIK THORAKS.................................................................................................................... 52
PEMERIKSAAN FISIS PARU ...................................................................................................................... 58
PEMERIKSAAN FISIS JANTUNG ................................................................................................................ 73
EKG 1: PEMASANGAN ELEKTRODA ............................................................................................................. 85
5|K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

TATA TERTIB MAHASISWA DI SKILLS LAB

KETENTUAN UMUM :
a. Mahasiswa wajib hadir tepat waktu.
b. Mahasiswa yang datang terlambat lebih dari 15 menit tidak di ijinkan
mengikuti kegiatan skills lab pada hari itu.
c. Aturan berpakaian:
1) Mengenakan jas laboratorium sebelum masuk ruangan
2) Mahasiswa laki-laki memakai celana Panjang. Mahasiswa perempuan
memakai rok. Bahan bukan jeans.
3) Tidak boleh mengenakan pakaian ketat, kaos tanpa kerah atau sandal.
4) Tidak boleh berdandan berlebihan, berkuku panjang, rambut diikat rapi.
d. Dilarang makan dan minum dalam ruang latihan.
e. Berlaku tertib, tidak bersendau-gurau dan tidak membuat keributan yang
akan mengganggu kelompok lain serta dilarang mengaktifkan alat
komunikasi dan barang elektronik lainnya.
f. Sebelum kegiatan skills lab instruktur akan memberikan PRETEST. Pretes
dapat diberikan secara lisan/tertulis. Instruktur berhak menghentikan proses
pembelajaran dan mengeluarkan mahasiswa yang dianggap tidak siap.
g. Dalam menjalankan latihan keterampilan di Skills Lab, setiap mahasiswa
harus mau berlatih memeriksa dan diperiksa (menjadi probandus bagi
teman sekelompok).
h. Mahasiswa menyediakan Log Book untuk laporan Praktikum berupa buku
berukuran Folio yang disampul rapi dengan Warna Hijau.
i. Dalam kegiatan praktikum mahasiswa wajib menjaga keutuhan alat-alat
yang dipakai dan bila ada yang merusaknya baik sengaja atau tidak sengaja
harus diganti oleh yang bersangkutan dengan alat yang sama.
j. Bagi yang tidak mengindahkan peraturan ini diberi sangsi sesuai dengan
peraturan yang berlaku di Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah.

KETENTUAN IJIN
a. Mahasiswa wajib mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Skills Lab sesuai
jadwal, yang secara berurutan meliputi Kuliah Pengantar, Sesi Terbimbing,
dan ujian
b. Ijin untuk tidak mengikuti kegiatan Skills Lab hanya diberikan apabila :
1) Mahasiswa ybs sakit (disertai Surat Keterangan Dokter).
6|K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

2) Anggota keluarga inti meninggal (disertai bukti tertulis dan surat ijin
yang ditandatangani orang tua).
3) Mahasiswa ybs menikah (dibuktikan dengan undangan dan surat ijin
yang ditandatangani orang tua).
4) Menjadi utusan/wakil Fakultas atau universitas dalam suatu kegiatan
kemahasiswaan resmi (disertai surat tugas dan surat ijin yang
ditandatangani oleh PD3).

Pengisian Log Book


1. Setiap minggu sudah terjadwal judul yang akan dipraktikumkan
2. Sebelum praktikum dilakukan Log book telah diisi dengan hal-hal yang
terkait dengan praktikum pada hari ini,
3. Termasuk:
i. Pendahuluan ( dasar teori, dan tujuan praktikum )
ii. Metodologi ( prosedur, alat-alat yang digunakan, dan cara kerja ).
iii. Hasil, Kesimpulan dan saran dibuat setelah selesai praktikum.
4. Laporan praktikum yang telah selesai secara lengkap, dilaporkan kepada
pembimbing praktikum (fasilitator) untuk di periksa dan di paraf pada jadwal
praktek minggu berikutnya.
7|K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

KARAKTERISTIK MAHASISWA

Mahasiswa yang mengikuti modul Keterampilan Klinik I, merupakan:


1. Mahasiswa semester 1. Mahasiswa diharapkan sebelum memulai praktik
mempersiapkan diri terlebih dahulu dengan mempelajari modul, sehinga saat
pertemuan dengan pembimbing/instruktur bisa mengikuti dengan baik.
2. Mahasiswa yang mengikuti tata tertib skills lab
8|K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

METODE PEMBELAJARAN

Modul Keterampilan Klinik Dasar 2 diberikan beban sebanyak 1 sks, dan


dilaksanakan selama 16 minggu. Metoda pengajaran berbasis praktikum, bersifat
pembelajaran aktif, mandiri, dan terintegrasi.
Kegiatan Waktu Deskripsi
Peserta didik diminta untuk memahami dengan
baik elemen kognitif keterampilan tersebut yang
meliputi antara lain mengapa prosedur tersebut
1. Konseptualisasi perlu atau bahkan harus dilakukan, kapan harus
10 menit
dilakukan atau apa indikasinya, apa yang
menghalangi penerapan prosedur
(kontraindikasi), serta hal-hal yang harus
diperhatikan sebelum mengerjakannya.
Instruktur atau pembimbing skills lab
2. Visualisasi 10 menit melakukan demonstrasi prosedur, dan belum
melakukan penjelasan
Instruktur kembali melakukan demonstrasi
sambil menjelaskan prosedur yang dikerjakan.
3. Verbalisasi 10-20 menit Peserta didik pada tahap ini mampu
menjelaskan tahap demi tahap prosedur yang
akan dikerjakan
Setelah peserta didik melihat demonstrasi,
mendengarka narasi dan mengulang narasi
4. Latihan atau tersebut, selanjutnya ia melakukan prosedur
praktik 30-40 menit tersebut.
Mahasiswa dibagi menjadi berpasangan, dan
melakukan praktik secara bergantian.
5. Pemberian
umpan balik Pada tahap ini merupakan upaya koreksi atau
yang 10 menit kekeliruan dan peneguhan atau dorongan untuk
konstruktif meneruskan apa yang sudah benar atau baik.

6. Penguasaan Mahasiswa malakukan pengulangan prosedur


(mastery) 40-50 menit dalam situasi praktik tanpa melakukan
kesalahan.
Diharapkan pada tahap ini secara regular
7. otonomi mahasiswa mampu melakukan prosedur
tersebut dalam situasi yang sesungguhnya tanpa
kesalahan.
9|K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

EVALUASI

Modul Skills lab semester 1 berlangsung sepanjang semester, terdiri dari 16


minggu yang dibagi menjadi minggu pembelajaran dan minggu ujian. Pada modul
ini dinilai secara formatif dan sumatif.

Penilaian Frekuensi Bobot Batas lulus


Formatif Daftar hadir 16x -
Sumatif:
- Log book 8x 10% 70
- Proses 16x 10% 70
- Ujian Praktik 8x 80% 70 (B)
Total 100%
Setiap materi di Skills Lab mahasiswa wajib lulus
10 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

KETERAMPILAN KOMUNIKASI 1- SAMBUNG RASA

1. LATAR BELAKANG

Seorang dokter masa depan, di samping harus mampu mengikuti perkembangan


ilmu dan teknologi kedokteran yang sedemikian cepat, juga harus mempunyai
kemampuan komunikasi yang baik. Saat ini pilihan pasien terhadap dokter atau
pelayanan kesehatan adalah pada dokter yang ramah, mau menjelaskan dan menjawab
pertanyaan pasien serta menghargai pasien. Pasien akan merasa puas bila dokter mampu
berkomunikasi dengan baik. Bahkan terkadang kesembuhan seorang pasien dapat terjadi
karena ditunjang adanyakomunikasi yang baik antara dokter dengan pasien. Seorang
dokter juga mempunyai peran penting dalam mengubah perilaku masyarakat yang
kurang baik bagi kesehatan. Hal ini akan lebih mudah bila hubungan baik dokter dengan
pasien dan masyarakat sudah terbina.

Sebagai seorang dokter yang profesional, perlu ditumbuhkan hubungan yang baik antara
dokter dengan pasien. Bila orang menyukai, mempercayai dan merasa nyaman berhubungan
dengan dokter tersebut, maka akan lebih mudah bagi dokter tersebut untuk mendapatkan
informasi penting yang akan menunjang diagnosis dan penatalaksanaan medis. Contohnya,
karena budaya masyarakat Indonesia masih banyak hal-hal yang dianggap tabu, tanpa
komunikasi yang baik akan sulit bagi dokter untuk mendiagnosis penyakit yang dianggap
memalukan di mata masyarakat. Pasien pada awalnya akan malu berterus terang dan banyak
menyembunyikan informasi penting, misalnya pada penyakit menular seksual, pasien akan
menyembunyikan fakta riwayat berhubungan dengan pekerja seks komersial. Bila dokter
mampu berkomunikasi dengan baik maka pasien akan terbuka dan memudahkan dokter
mengambil kesimpulan medis.

Dengan komunikasi yang baik, pasien juga akan melaksanakan terapi dengan yakin dan
benar, sehingga menunjang kesembuhan pasien. Sebuah kejadian nyata, di sebuah
tempat pelayanan kesehatan minim komunikasi, seorang nenek yang sakit diberi 3
macam obat tanpa penjelasan lebih lanjut. Dokter dan petugas kesehatan tidak merasa
perlu untuk memberi penjelasan tentang aturan minum obat secara lisan karena sudah
tertulis dibungkus masing-masing obat diminum 3 x 1. Tiga hari kemudian pasien
11 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

tersebut kembali ke klinik dan mengatakan penyakitnya sama sekali tidak berkurang.
Setelah ditanya lebih lanjut, ternyata persepsi nenek tersebut dengan 3 x 1 adalah : obat A
diminum pagi, obat B diminum siang dan obat C diminum malam. Melihat ilustrasi ini
dapat kita lihat, komunikasi dokter-pasien yang kurang bisa berakibat tidak baik, bahkan
fatal.

2. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini, diharapkan mahasiswa mampu
membina sambung rasa dengan menerapkan prinsip komuniksi efektif, empati dan
etika. Adapun tujuan pembelajaran yang diharapkan adalah mahasiswa :
1) Mampu memberikan situasi yang nyaman bagi
responden/narasumber/pasien
2) Mampu menunjukkan sikap empati dan dapat dipercaya.
3) Mampu mendengar aktif.
4) Mampu memelihara dan menjaga harga diri responden/narasumber/pasien
5) Mampu memperlakukan responden/narasumber/pasien sebagai mitra
sejajar.
6) Mampu menyimpulkan kembali masalah responden/narasumber/pasien,
kekhawatiran dan harapannya.

3. TEORI DASAR KOMUNIKASI SAMBUNG RASA


Komunikasi berasal dari kata “communicare” yang berarti berpartisipasi atau
memberitahukan dan “communis” yang berarti milik bersama. Terdapat beberapa
pengertian komunikasi, yaitu:
1) Pertukaran pikiran atau keterangan dalam rangka menciptakan rasa saling
mengerti serta saling percaya demi terwujudnya hubungan yang baik antara
seseorang dengan orang lainnya.
2) Pertukaran fakta, gagasan, opini atau emosi antar dua orang atau lebih.
3) Suatu hubungan yang dilakukan melalui surat, kata-kata, simbol atau pesan
yang bertujuan agar tiap manusia yang terlibat dalam proses dapat saling
tukar menukar arti dan pengertian terhadap sesuatu.

Tujuan utama komunikasi adalah menimbulkan saling pengertian, bukan


persetujuan. Dalam suatu komunikasi seseorang bisa saja tidak menyetujui pesan
12 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

yang disampaikan, tetapi apabila orang tersebut dapat memahami pesan yang
disampaikan maka dikatakan komunikasi telah berjalan baik.

Unsur-unsur yang berperan dalam komunikasi adalah:


1) Sumber
Sumber (pengirim berita atau komunikator) adalah tempat asalnya pesan. Dalam
manajemen, sumber ini dapat berasal dari perorangan, kelompok dan atau
institusi atau organisasi tertentu.
2) Pesan
Pesan/ berita adalah rangsangan/ stimulasi yang disampaikan sumber pada
sasaran. Pesan tersebut pada dasarnya adalah hasil pemikiran atau pendapat sumber
yang ingin disampaikan pada orang lain. Penyampaian pesan banyak macamnya,
dapat dalam bentuk kata-kata atau dalam bentuk bukan kata-kata (simbol berupa
gerakan tubuh, gerakan tangan, ekspresi wajah atau gambar). Isi simbolik dari pesan
disebut Informasi, dan jika sifatnya sebagai sesuatu yang baru disebut Inovasi.
3) Media
Media (alat pengirim pesan, atau saluran pesan) adalah alat atau saluran yang
dipilih oleh sumber untuk menyampaikan pesan pada sasaran.

Ada 2 macam media, yaitu:


a. Media massa
Contoh media massa adalah surat kabar, majalah, film, radio dan televisi.
Keuntungan media massa adalah sasaran yang dicapai (coverage) cukup
banyak, sehingga lebih efisien dalam segi waktu, biaya dan tenaga. Kerugiannya
adalah sulit diketahui keberhasilan komunikasi yang dilakukan karena umpan
balik sulit diperoleh. Kerugian lain adalah tidak dapat menyampaikan semua
jenis pesan, misalnya pesan yang bersifat pribadi, tabu atau yang dinilai akan
mendatangkan akibat negatif pada masyarakat.
b. Media antar pribadi
Contoh media antar pribadi adalah interaksi antara sumber dan sasaran,
pembicaraan melalui telpon, surat menyurat dan pembicaraan perorangan lainnya.
Keuntungan dari cara ini adalah dapat disampaikan pesan secara lengkap dan
terperinci, dengan demikian keberhasilan komunikasi dapat diketahui melalui
umpan balik yang diterima. Pesan yang disampaikan dapat mencakup berbagai jenis
13 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

pesan, termasuk yang bersifat rahasia atau pribadi. Kerugiannya adalah jangkauan
sasaran terbatas serta membutuhkan waktu, tenaga dan biaya cukup besar,
apalagi bila jumlah sasaran yang dituju besar.
4) Sasaran
Sasaran (penerima pesan atau komunikan) adalah yang menerima pesan, artinya
kepada siapa pesan tersebut ditujukan. Komunikan bisa berupa orang-perorang,
sekelompok orang, satu organisasi, institusi atau masyarakat luas.
5) Umpan balik
Umpan balik (feedback) adalah reaksi dari sasaran terhadap pesan yang
disampaikan, yang dimanfaatkan oleh sumber untuk memperbaiki atau
menyempurnakan komunikasi yang dilakukan. Dengan adanya reaksi ini,
sumber akan mengetahui apakah komunikasi berjalan dengan baik atau tidak.
Jika hasilnya baik disebut positif dan jika hasilnya buruk disebut negatif.
6) Akibat
Akibat (impact) adalah hasil dari komunikasi, yakni terjadinya perubahan pada
diri sasaran. Perubahan dapat pada pengetahuan, sikap atau perilaku.
Terjadinya perubahan perilaku adalah tujuan akhir komunikasi.

Gambar 1. Bagan Hubungan Antar Unsur Komunikasi


14 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Macam-macam komunikasi:
1) Ditinjau dari media yang digunakan
a. Komunikasi visual, seperti surat kabar, majalah, pameran, poster, leaflet.
b. Komunikasi audio seperti radio, kaset, telepon.
c. Komunikasi audio-visual seperti film, televisi, drama, ceramah, sandiwara.
2) Ditinjau dari hubungan sumber dan sasaran
a. Komunikasi langsung atau tatap muka (face to face communication), seperti
wawancara, ceramah, konferensi, diskusi.
b. Komunikasi tidak langsung (indirect communication), seperti surat menyurat,
surat kabar, majalah, buku, leaflet dan poster.
3) Ditinjau dari umpan balik yang diperoleh
a. Komunikasi dua arah (two-way communication) di mana sasaran turut
mengemukakan pendapatnya.
b. Komunikasi satu arah (one-way communication) di mana sasaran hanya
sebagai pendengar saja.

Proses komunikasi bisa berlangsung secara primer dan sekunder. Komunikasi secara
primer adalah proses penyampaian paduan pikiran dan perasaan seseorang secara
langsung kepada orang lain dengan menggunakan lambang/ simbol. Lambang
tersebut dapat berupa lambing verbal dan non verbal. Bahasa non verbal meliputi
cara berbicara, penampilan, postur tubuh, gerakan tubuh, ekspresi wajah dan
kedekatan. Komunikasi sekunder adalah proses penyampaian paduan pikiran dan
perasaan seseorang pada orang lain dengan menggunakan suatu sarana sebagai
media, misalnya surat, radio, televisi, koran dll (Effendy, 2002).

Hambatan dalam proses komunikasi adalah:


1) Hambatan Fisiologis
2) Hambatan Psikologis
3) Hambatan Budaya
4) Hambatan Politik
5) Hambatan Ekonomi
6) Hambatan Teknologi
15 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Sambung rasa merupakan tahap dalam komunikasi yang harus diciptakan, supaya
hal-hal yang dapat menghambat kelancaran proses komunikasi dapat dihindari.
Apabila situasi yang menyenangkan kedua belah pihak sudah tercipta, diharapkan
informasi yang dibutuhkan akan diperoleh dengan memuaskan. Untuk menciptakan
sambung rasa, di samping perlu menumbuhkan rasa saling percaya, maka perlu
berkomunikasi dengan jelas.
Dalam sambung rasa yang dilakukan, perlu diingat bahwa pihak pertama sebaiknya
tidak seperti menginterogasi pihak kedua. Sikap yang hangat namun tidak
berlebihan, akan mempermudah pihak kedua untuk memberikan informasi yang
dibutuhkan.

Untuk itu ada 3 hal yang harus diperhatikan:


1. Berbicara dengan jelas:
Sangat penting dalam berkomunikasi untuk berbicara, menulis atau menyajikan
pesan dengan sederhana dan jelas. Bahasa yang dipakai hendaknya dapat
dimengerti. Kalimat yang diucapkan hendaknya tidak berbelit-belit, Bila perlu
dapat ditunjang alat bantu seperti gambar, poster dsb.
2. Mendengar aktif dan memberi perhatian:
Mendengar adalah salah satu cara menyatakan perhatian. Dengarkan baik-baik
apa yang dikatakan orang pada anda. Dorong agar orang tersebut mau berbicara
dengan bebas, namun demikian tetap harus diarahkan supaya tidak keluar dari
alur topik yang dibicarakan. Jangan menghentikan atau menyela pembicaraan
dan mendebat mereka, karena hal tersebut akan memutus komunikasi, sehingga
kemungkinan akan ada informasi yang hilang. Pada waktu mendengarkan orang
berbicara, jangan melihat hal lain atau menyibukkan diri dengan pekerjaan lain.
Bila hal ini terjadi orang akan menganggap anda tidak memberi perhatian pada
mereka.
3. Mendiskusikan dan menjelaskan
Setelah mendengarkan, anda harus meyakinkan diri bahwa sudah menangkap
pesan tersebut dengan benar. Caranya antara lain bisa dengan bertanya untuk
mendapatkan gambaran lebih jelas, atau membuat ringkasan tentang apa yang
sudah anda dengarkan.
16 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

4. PROSEDUR PELAKSANAAN
Lakukan sambung rasa dengan prosedur berikut ini:
1) Mengawali pertemuan
• Ucapkan salam dan perkenalkan diri.
• Tanyakan identitas responden/narasumber/pasien.
• Tanyakan maksud kedatangan responden/narasumber/pasien.
• Beri situasi yang nyaman bagi responden/narasumber/pasien.
• Tunjukkan sikap empati dan dapat dipercaya.
2) Mendengar aktif
• Berkonsentrasi pada pembicaraan
• Lakukan kontak mata
• Perlihatkan minat pada pembicaraan
• Perlihatkan sikap tubuh sesuai pembicaraan
• Dorong lawan bicara mengungkapkan isi pikirannya
• Tanyakan kejelasan
• Tanyakan secara detail
• Tinggalkan asosiasi dan opini
• Jaga emosi
• Tidak terburu-buru
• Beri jeda bila diperlukan
3) Menutup pertemuan
• Simpulkan kembali masalah pasien, kekhawatiran dan harapannya.
• Pelihara dan jaga harga diri responden/narasumber/pasien, hal-hal yang
bersifat pribadi dan kerahasiaan pasien sepanjang waktu.
• Perlakukan responden/narasumber/pasien sebagai mitra sejajar dan minta
persetujuannya dalam memutuskan suatu hal.

5. PETUNJUK PELAKSANAAN KEGIATAN


a. Sebelum mengikuti kegiatan sambung rasa, pelajari teori dasar-dasar
komunikasi dari referensi yang dianjurkan.
b. Untuk berlatih sambungrasa, setelah instruktur memberi contoh, cobalah berlatih
berpasangan dengan teman, satu orang sebagai dokter, satu orang sebagai pasien.
17 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

c. Gunakan prosedur pelaksanaan sebagai acuan. Lakukan bergantian, bila satu


pasang mahasiswa sedang berlatih, teman dalam kelompok menyaksikan dan
setelah itu memberi masukan.
d. Pada latihan terbimbing, waktu tiap pasang mahasiswa maksimal 7 menit
untuk sambung rasa, masukan dari anggota kelompok 2 menit.
e. Sisa waktu pada latihan terbimbing digunakan instruktur untuk memberi
feedback. Untuk latihan mandiri waktu latihan disesuaikan waktu yang ada.
f. Lakukan sambungrasa dengan situasi sesuai skenario yang dipilih. Antar
pasangan sebaiknya berlatih skenario yang berbeda. Karena waktu terbatas,
mahasiswa disarankan berlatih sendiri dengan skenario yang belum sempat
dicobanya di luar waktu pertemuan Skills Lab.

6. SKENARIO
a. Bapak Suryo, adalah penduduk di sebuah daerah di Dhamasraya yang
mempunyai sifat pemarah. Dia sangat kaya, namun kadang arogan, memandang
rendah orang lain karena menganggap dirinya paling terkenal dan disegani di
desa itu. Dia adalah penderita hipertensi. Apabila sakit dia selalu memeriksakan
diri ke dokter spesialis di Rumah Sakit Swasta di kota dengan alasan tidak mau
antri lama dan tidak percaya dengan obat-obat Puskesmas yang harganya
murah. Suatu ketika penyakit pak Suryo kambuh, dia merasakan sakit kepala
dan kuduknya kaku. Sopir pribadinya tidak masuk sehingga tidak ada yang
mengantar ke kota. Terpaksa pak Suryo mendatangi Puskesmas. Puskesmas saat
itu penuh dengan pasien. Pak Suryo tidak sabar dan terlihat gelisah,
berulangkali dia marah-marah pada petuga loket. Setelah 1 jam menunggu, tiba
giliran pak Suryo masuk ruang dokter dengan wajah emosi. Sebagai dokter di
Puskesmas tersebut, apa yang akan anda lakukan?
b. Ny Siyem, 40 tahun, adalah isteri seorang buruh bangunan, ibu rumah tangga yang
berasal dari desa dan tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Sudah setahun
ini Ny Siyem tinggal di kota kabupaten. Ny Siyem yang pada dasarnya sangat
pendiam dan rendah diri, jadi makin sulit bergaul dengan orang lain. Apabila
berbicara tergagap-gagap, sulit merangkai kalimat dengan benar dan berbicara
dengan suara sangat pelan. Selama ini setiap kali ke Puskesmas, Ny Siyem selalu
diantar suaminya. Suaminya yang akan mengurus administrasi dan menyampaikan
18 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

keluhan pada dokter. Suatu ketika Ny Siyem merasa ulu hatinya sangat perih
disertai pusing dan mual-mual. Suaminya tidak diperbolehkan ijin oleh mandor

bangunan. Karena sudah tidak bisa menahan sakit, ny Siyem pergi sendiri ke

Puskesmas. Dengan takut-takut, ny Siyem memberanikan diri mendaftar di


loket, kemudian duduk menunggu antrian. Saat namanya dipanggil masuk ke
ruang dokter, terlihat wajahnya semakin pucat.
c. Bapak X, seorang supir truk, usia 45 tahun, sudah berkeluarga dengan 3 anak yang
sudah berusia remaja. Karena pekerjaannya, bapak X sering pergi keluar kota
berhari-hari, dan mempunyai kebiasaan “jajan” di kota-kota yang disinggahinya.
Suatu ketika badannya merasa meriang dan dari alat kelamin keluar nanah. Bapak X
merasa cemas dan memutuskan periksa ke dokter Nana. Bapak X merasa malu
untuk mengemukakan kebiasaannya berkencan dengan PSK apalagi kepada dokter
wanita, sehingga bapak X memutuskan untuk tidak akan mengatakan hal yang
sebenarnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Azwar, A, 1996, Pengantar Administrasi Kesehatan, Binarupa Aksara, Jakarta.
2. Effendy, OU, 2002, Hubungan Masyarakat Suatu Studi Komunologis. PT
Remaja Rosdakarya, Bandung.
3. Gardner, H, 2006, Communications Skills and Competencies.
http://www.uwgbedu.clampitm.
4. Keiper, R, 2006, Coorporate Speaker Coach,
http://coorporatespeakercoach.com
5. Notoatmodjo, S, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-prinsip Dasar, PT
Rineka Cipta,Jakarta.
6. Noyes, J, 2004, The Presentation Advisor,
http://www.thepresentation.advisor.com
7. WHO, Pendidikan Kesehatan, Penerbit bersama ITB dan Universitas
Udayana, Bandung.
19 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

CHECK LIST PENILAIAN


KETERAMPILAN KOMUNIKASI SAMBUNG RASA
No Aspek Penilaian Skor
0 1 2
MENGAWALI PERTEMUAN
1 Mengucapkan salam pada awal pertemuan
2 Memperkenalkan diri
3 Menanyakan identitas pasien
4 Menanyakan maksud kedatangan pasien
5 Memberikan situasi yang nyaman bagi pasien
6 Menunjukkan sikap empati dan dapat dipercaya
MENDENGAR AKTIF
7 Mampu berkonsentrasi
8 Melakukan kontak mata
9 Memperlihatkan minat pada pembicaraan
10 Mendorong lawan bicara mengungkapkan isi pikirannya
11 Memperlihatkan sikap tubuh sesuai isi pembicaraan
12 Menanyakan kejelasan
13 Menanyakan secara detail
14 Meninggalkan asosiasi dan opini
15 Menjaga emosi
16 Tidak terburu-buru
17 Memberi jeda bila diperlukan
MENUTUP PERTEMUAN
18 Menyimpulkan kembali masalah pasien
19 Menjaga harga diri dan rahasia pasien
20 Memperlakukan pasien sebagai mitra sejajar dan meminta
persetujuannya dalam memutuskan suatu hal
JUMLAH SKOR
Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa, atau dilakukan tetapi salah
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario yang
sedang dilaksanakan).
Nilai Mahasiswa = (Jumlah Skor /40)x 100% = ...................

Instruktur
20 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

JOURNAL READING

I. PENDAHULUAN

Salah satu ciri seorang intelektual adalah selalu berusaha “memperbarui”


pengetahuan yang dimilikinya dengan membaca informasi terbaru tentang bidang
ilmu yang dikuasainya. Sumber informasi yang tersedia untuk mengikuti
perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan cukup banyak tersedia, antara lain:
review articles, original articles hasil suatu penelitian atau komentar seorang pakar di
bidang ilmu tertentu yang kesemua itu biasanya terangkum dalam suatu jurnal
ilmiah.

Membaca suatu artikel dalam jurnal secara lengkap sangatlah dianjurkan, namun
terkadang kendala waktu menjadi hambatan untuk membaca keseluruhan suatu
artikel, terlebih artikel tersebut bukan menjadi rujukan utama informasi yang
diinginkan. Dengan demikian diperlukan suatu teknik khusus untuk mengambil
informasi dari suatu jurnal. Teknik membaca artikel dalam suatu jurnal memerlukan
kemampuan untuk melakukan membaca cepat (speed reading) dan pemindaian
(scanning) disertai konsentrasi penuh terhadap artikel yang dibaca. Beberapa langkah
untuk memudahkan menarik informasi/kesimpulan dari suatu jurnal dapat
ditempuh sebagai berikut:

Pertama, membaca Abstrak, Pendahuluan dan Kesimpulan dari sebuah makalah


untuk mendapatkan gambaran umum yang jelas mengenai maksud, tujuan serta
hasil dari makalah. Abstrak yang baik memang mampu memberikan gambaran
umum mengenai isi dari makalah, namun ternyata tidak semua Abstrak ditulis
dengan baik. Beberapa abstrak dapat saja tidak memberikan gambaran dari isi
makalah, sehingga pada akhirnya untuk mendapat gambaran umum, dapat
dilakukan dengan membaca pendahuluan dan kesimpulan saja.
21 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Kedua, setelah mendapat ide umum dari makalah, hal yang dilakukan kemudian
membaca sepintas dan mencari ide‐ide umum dari setiap sub‐bab dalam makalah untuk
mencari alur pengambilan kesimpulan secara jelas dari makalah yang ditulis. Apabila

menemui detail‐detail makalah yang menarik perhatian ataupun yang diperkirakan


memiliki andil besar dalam pengambilan kesimpulan, kita dapat memilih untuk
membaca bagian tersebut terlebih dahulu. Diskusi yang mendahului pengambilan
kesimpulan terkadang juga sangat penting untuk disimak untuk mencari hubungan
antara penjelasan‐penjelasan sebelumnya dengan kesimpulan di akhir makalah.

Setelah semua itu dilakukan, selanjutnya kita dapat membaca kalimat per kalimat
pada makalah tersebut secara lengkap bila tersedia waktu cukup banyak atau
makalah tersebut merupakan sumber utama materi yang dicari.

II. TUJUAN UMUM


1. Area kompetensi: Pengelolaan informasi
a. Menggunakan teknologi informasi dan teknologi untuk membantu
menegakkan diagnosis, pemebrian terapi, tindkan pencegahan dan
promosi kesehatan, serta penjagaan dan pemantauan status kesehatan
pasien.
b. Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi
c. Memanfaatkan informasi kesehatan
2. Setelah mengikuti pembelajaran modul skill lab teknik membaca jurnal,
mahasiswa diharapkan mampu menarik kesimpulan dari artikel dalam jurnal
ilmiah yang dibacanya sehingga menunjang pembelajaran ilmu kedokteran
pada Program Studi Ilmu Kedokteran.

III. LEARNING OBJECTIVE


Setelah mengerjakan Skill Lab, mahasiswa mampu:
▪ Menyabutkan struktur suatu artikel ilmiah dalam suatu jurnal
▪ Membaca secara cepat suatu artikel ilmiah
▪ Menarik kesimpulan dari artikel yang dibacanya secara cepat
▪ Memahami secara lengkap hasil scanning terhadap suatu artikel ilmiah.
22 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Tabel. Alokasi Waktu


Waktu Aktivitas Belajar mengajar Keterangan
(menit)
10 menit Pendahuluan
30 menit Demonstrasi
40 menit Mahasiswa melakukan simulasi secara mandiri dengan Instruktur
pengawasan instruktur/ narasumber Mahasiswa
70 menit Self practice dan mahasiswa mengerjakan penugasan Mahasiswa
skill lab

V. SARANA DAN ALAT YANG DIPERLUKAN


▪ Laptop
▪ Artikel ilmiah yang akan direview

VI. PROSEDUR
1. Cetaklah artikel yang akan dibaca di rumah,
2. Telitilah struktur artikel, apakah memenuhi kriteria artikel suatu jurnal yang lazim
(Judul dan nama penulis serta alamat, abstrak, pendahuluan, metode, hasil,
diskusi, referensi)
3. Bacalah judul artikel yang ada ditangan saudara. Apa kesan saudara dari judul?
4. Bacalah abstrak. Apa kesan umum yang saudara dapat?
5. Bacalah pendahuluan. Informasi apa yang anda dapat?
6. Bacalah kesimpulan artikel. Bagaimana pendapat saudara?
7. Bacalah secara lengkap
8. Buatlah ringkasan isi jurnal, maksimal 1 halaman kertas A4 dengan spasi 1,5 dan
Times New Roman font 12
23 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Daftar Tilik Skill lab Teknik Memahami Journal Secara Cepat


Judul artikel :

Penulis Artikel :

Nama mahasiswa :

Langkah yang dilakukan 0 1 2

1. Meneliti struktur artikel dari suatu jurnal


Kesan ...........................................................................
2. Membaca judul artikel yang diberikan/dipilih
Kesan ..........................................................................
Membaca abstrak artikel yang diberikan
3. Kesan……………………
4. Membaca artikel jurnal secara lengkap
Kesan ..........................................................................
5. Membaca Pendahuluan artikel
Informasi yang didapat ..........................................
6. Membaca Metode
Ringkasan ..................................................................
7. Membaca Hasil Penelitian
.........................................................
8. Membaca Diskusi
......................................................................................
9. Membaca Kesimpulan

Menelaah Referensi
................................................................
10.
Merangkum hasil membaca artikel dalam suatu ringkasan dalam bentuk
11. narasi mulai dari pendahuluan sampai dengan kesimpulan,
Jumlah

Penilaian:
0: tidak terampil
1: kurang terampil
2: terampil
Nilai Mahasiswa = (Jumlah Skor /22)x 100% = ...................

Padang ,..........................2020
Instruktur

(............................................)
24 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

HAND WASHING

Masyarakat yang menerima pelayanan medis dan kesehatan, baik di rumah sakit
atau klinik, dihadapkan kepada risiko terinfeksi kecuali kalau dilakukan
kewaspadaan untuk mencegah terjadinya infeksi. Selain itu, petugas kesehatan yang
melayani mereka dan staf pendukung semuanya dihadapkan pada risiko infeksi.
Infeksi rumah sakit dan infeksi pekerjaan merupakan masalah penting di seluruh
dunia dan kejadiannya terus meningkat.

Sebagian besar infeksi ini dapat dicegah dengan strategi-strategi yang sudah ada dan
relative murah yaitu:
1. Menaati praktik-praktik pencegahan infeksi yang direkomendasikan
khususnya cuci tangan dan pemakaian sarung tangan
2. Memperhatikan proses-proses dekontaminasi dan pembersihan alat-alat kotor
3. Meningkatkan keamanan diruang operasi dan area-area lain yang berisiko
tinggi dimana perlukaan yang serius dan paparan terhadap infeksi sering
terjadi
4. Mengingat pentingnya strategi di atas dimiliki oleh seorang dokter, maka
salah satu kompetensi ketrampilan yang terkait dengan higines dan asepsis
diberikan dalam kurikulum ketrampilan pada mahasiswa kedokteran. Untuk
saat ini akan diberikan ketrampilan MENCUCI TANGAN (HANDWASHING).

Keterampilan ini terkait dengan semua ketrampilan yang harus dimiliki oleh seorang
dokter. Pada keterampilan komunikasi, mahasiswa di harapkan dapat
menyampaikan kepada masyarakat cara mencuci tangan yang benar. Pada
ketrampilan pemeriksaan fisik, mencuci tangan dilakukan sebelum dan sesudah
pemeriksaan pasien. Sama halnya dengan ketrampilan di atas, pada ketrampilan
prosedural, mencuci tangan dilakukan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
kepada pasien.
25 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

TUJUAN PEMBELAJARAN:
Tujuan Umum
Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan mahasiswa mengetahui dan mampu
mencuci tangan yang benar.

Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mengetahui prosedur cuci tangan yang benar
2. Mahasiswa mengetahui jenis-jenis prosedur cuci tangan
3. Mahasiswa mampu melakukan cuci tangan yang benar sesuai dengan urutan
prosedur
4. Mahasiswa mampu menerapkan prosedur cuci tangan dalam kehidupan
sehari-hari.

HAND WASHING
Dalam bidang kedokteran terdapat beberapa istilah yang sering digunakan dalam
hal shiegienisasi, yaitu:
1. Antisepsis: proses menurunkan jumlah mikroorganisme pada kulit dan
selaput lendir atau duh tubuh lainnya dengan menggunakan bahan
antimikrobial (antiseptik)
2. Asepsis dan teknik aseptik: upaya kombinasi untuk mencegah masuknya
mikroorganisme kedalam area tubuh manapun yang sering menyebabkan
infeksi. Tujuan asepsis adalah menurunkan sampai ketingkat aman atau
membasmi jumlah mikroorganisme pada permukaan hidup (kulit dan
jaringan) dan objek mati (alat-alat bedah dan barang-barang yang lain)
3. Dekontaminasi: proses yang membuat objek mati lebih aman ditangani
staf sebelum dibersihkan (umpama: menginaktifasi HBV (Hepatits B Virus),
HIV serta menurunkan tetapi tidak membasmi, jumlah mikroorganisme lain
yang mengkontaminasi)
4. Disinfeksi tingkat tinggi (DDT): proses menghilangkan semua mikroorganisme,
kecuali beberapa endospora bakteri pada benda mati dengan merebus,
mengukus atau penggunaan disinfektan kimia
5. Pembersihan: proses yang secara fisik menghilangkan semua debu, kotoran,
darah atau duh tubuh lain yang tampak pada objek mati dan membuang
26 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

sejumlah besar mikroorganisme untuk mengurangi risiko bagi mereka yang


menyentuh kulit atau menangani benda tersebut.
6. Sterilisasi: proses menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, virus,
jamur, parasit) termasuk endospora bakteri pada benda mati dengan uap
panas tekanan tinggi (otoklaf), panas kering (oven) atau radiasi.

Indikasi mencuci tangan


Mencuci tangan dengan baik merupakan unsur satu-satunya yang paling penting
dan efektif dalam mencegah penularan infeksi. Mencuci tangan dilakukan pada
sebelum dan setelah:
1. Memeriksa dan kontak dengan pasien
2. Memakai dan melepas sarung tangan bedah steril atau yang telah didisinfeksi
tingkat tinggi sebelum operasi atau ketika memakai dan melepas sarung
tangan pemeriksaan untuk prosedur rutin
3. Menyiapkan dan mengkonsumsi makanan
4. Pada situasi yang membuat tangan jadi terkontaminasi seperti:
• Memegang instrumen kotor atau barang-barang lainnya
• Menyentuh membran mukosa, darah atau cairan tubuh lainnya (sekresi
atau eksresi)
• Melakukan kontak intensif dan lama dengan pasien
• Mengambil sampel darah
• Mengukur tekanan darah atau memeriksa tanda vital pasien
5. Masuk dan meninggalkan unit isolasi

Mencuci tangan dengan sabun biasa dan air sama efektifnya dengan cuci tangan
menggunakan sabun anti mikrobial. Selain itu, iritasi kulit jauh lebih rendah apabila
menggunakan sabun biasa.
Idealnya air mengalir dan sabun yang digosok-gosokkan harus digunakan selama 15-
20 detik. Penting sekali untuk mengeringkan tangan setelah mencucinya. Pemakaian
sabun dan air tetap penting ketika tangan terlihat kotor. Untuk kebersihan tangan
rutin ketika tidak terlihat kototran atau debris, alternatif seperti handscrub berbasis
alkohol 70% yang tidak mahal, mudah didapat, mudah dijangkau sudah semakin
diterima di tempat di mana akses wastafel dan air bersih terbatas. Jika air kran
27 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

terkontaminasi, air yang telah didihkan selama 10 menit dan disaring guna
menghilangkan partikel kotoran (jika diperlukan), atau mendisinfeksi air dengan cara
menambahkan sedikit larutan sodium hipoklorit (pemutih komersial) agar
konsentrasi akhir mencapai 0,001%.

PROSEDUR KERJA
Persiapan
Alat dan Bahan:
• Air mengalir atau air dalam ember dilengkapi dengan gayung
• Sabun
• Handuk kertas/handuk bersih

Pelaksanaan:
Cuci Tangan
Teknik pencucian tangan rutin dengan sabun dan air mengalir harus dilakukan
sebagai berikut:
1. Basahilah tangan dengan baik
2. Oleskan sabun biasa
3. Gosok dengan teliti dan benar semua bagian tangan dan jari selama 5 menit
sesuai dengan langkah higiene tangan, perhatikan dengan teliti daerah di
bawah jari kuku dan di antara jari.
4. Bilas dengan menggunakan air
5. Keringkan tangan menggunakan handuk kertas dan gunakan handuk
tersebut untuk
6. Memutar kran sewaktu mematikan air.

Jika tidak ada handuk kertas, keringkan tangan dengan handuk yang bersih atau
keringkan dengan udara. Handuk yang digunakan bersama dapat dengan cepat
terkontaminasi dan tidak boleh digunakan. Membawa handuk atau sapu tangan
kecil pribadi dapat membantu anda untuk menghindari pemakaian handuk kotor.
Jika menggunakan handuk sendiri maka cucilah setiap hari.
28 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Gambar .Cara Mencuci Tangan

Keterangan Gambar:
1. Menggosok telapak tangan kiri ke telapak tangan kanan atau sebaliknya.
1. Menggosok punggung tangan yang satu dengan telapak tangan yang lain
2. Menggosok memutar jari-jari di telapak tangan
3. Menggosok kedua telapak tangan dengan jari-jari terjepit
4. Menggosok ibu jari memutar di telapak tangan
5. Menggosok tangan sampai pergelangan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:


• Dispenser sabun harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum pengisian ulang
• Jangan menambahkan sabun cair kedalam tempatnya bila masih ada isinya,
penambahan ini dapat menyebabkan kontaminasi bakteri pada sabun yang
dimasukkan
• Jangan menggunakan baskom yang berisi air. Meskipun memakai tambahan
antiseptik, mikroorganisme dapat bertahan dan berkembang biak dalam
larutan ini.
29 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

• Jika air mengalir tidak tersedia, gunakan wadah air dengan kran atau gunakan
ember dan gayung, tampung air yang telah digunakan dalam sebuah ember
dan buanglah di toilet.

Antisepsis Tangan
Tujuan antisepsis tangan adalah menghilangkan kotoran dan debu serta
mengurangi baik flora sementara atau tetap. Teknik antisepsis tangan sama
dengan teknik mencuci tangan biasa. Hal ini terdiri mencuci kedua tangan dengan
air dan sabun atau deterjen (jenis batangan atau cair) yang mengandung bahan
antiseptik (klorheksidin, iodofor atau triklosan selain sabun biasa.
Antisepsis tangan harus dilakukan sebelum:
• Memeriksa atau merawat pasien yang rentan (misalnya bayi prematur, pasien
manula atau penderita AIDS stadium lanjut)
• Melakukan prosedur invasif seperti pemasangan alat intravaskular
• Meninggalkan ruang pasien Kewaspadaan Kontak (misalnya hepatitis A atau
E) atau penderita infeksi yang kebal terhadap obat (misalnya S. aureus resisten
methisilin)

Penggosok Tangan Antiseptik


Penggunaan penggosok antiseptik lebih efektif membunuh flora sementara dan
tetap daripada mencuci dengan bahan antimikroba atau sabun biasa dengan air.
Lebih cepat dan lebih mudah dilakukan serta mengurangi flora tangan lebih besar.
Penggosok anti septik ini juga mengandung emolien yang lebih sedikit seperti
gliserin, propilen glikol atau sorbitol yang melindungi dan memperhalus kulit.

Teknik untuk melakukan penggosokan tangan antiseptik adalah:


1. Gunakan penggosok antiseptik secukupnya untuk melumuri seluruh
permukaan tangan dan jari jemari (kira-kira satu sendok teh)
2. Gosokkanlah larutan tersebut dengan cara menekan pada kedua belah
tangan, khususnya diantara jari jemari dan dibawah kuku hingga kering.
Oleh karena penggosok antiseptik tidak menghilangkan kotoran atau zat organik,
apabila kedua tangan terlihat kotor atau terkontaminasi darah atau duh tubuh,
maka pertama-tama harus dilakukan cuci tangan dengan sabun dan air.
30 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Penggosok Cuci Tangan Bedah


Tujuan cuci tangan bedah adalah menghilangkan kotoran, debu dan organisme
sementara secara mekanikal dan mengurangi flora tetap selama pembedahan.
Tujuannya adalah mencegah kontaminasi luka oleh mikroorganisme dari kedua
belah tangan dan lengan dokter bedah dan asistennya.

Langkah-langkah cuci tangan bedah adalah sebagai berikut:


1. Lepaskan cincin, jam tangan dan gelang
2. Basahi kedua belah tangan dan lengan bawah hingga siku dengan sabun dan
air bersih. (jika menggunakan sikat, sikat itu harus bersih disterilisasi atau DDT
sebelum digunakan kembali. Jika digunakan spon, harus dibuang setelah
digunakan)
3. Bersihkan kuku dengan pembersih kuku
4. Bilaslah tangan dan lengan bawah dengan air
5. Gunakan bahan antiseptik pada seluruh tangan dan lengan bawah sampai
bawah siku dan gosok tangan dan lengan bawah dengan kuat selama
sekurang-kurangnya 2 menit.
6. Angkat tangan lebih tinggi dari siku, bilas tangan dan lengan bawa seluruhnya
dengan air bersih
7. Tegakkan kedua tangan keatas dan jauhkan dari badan, jangan sentuh
permukaan atau benda apapun dan keringkan kedua tangan itu dengan lap
bersih dan kering atau keringkan dengan diangin-anginkan.
8. Pakailah sarung tangan bedah yang steril atau DTT pada kedua tangan

Penggunaan antiseptik meminimalkan jumlah mikroorganisme pada kedua belah tangan


dibawah sarung tangan dan meminimalisasi pertumbuhan flora selama pembedahan.

Kesalahan yang mungkin timbul dalam melakukan ketrampilan ini:


1. Berulangnya kontaminasi sisi tangan yang telah steril oleh sisi tangan lain yang
belum steril
2. Tidak tersterilisasi dengan baik bagian bawah kuku
31 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

DAFTAR TILIK HAND WASHING

No. Aspek Penilaian Skor


0 1 2
1. Membina rapport (mengucapkan salam, menyambut dengan ramah,
salam, menyilahkan duduk, perkenalan diri, sikap terbuka,
Kesejajaran
2. Pastikan kuku jari tangan tidak panjang. Lepaskan semua perhiasan
yang ada (cincin, gelang, jam tangan)
3. Singsingan lengan baju jika Anda menggunakan baju berlengan
Panjang
4. Putar kran air pada posisi ‘on’ sehingga air mengalir
5. Basahi tangan sampai dengan pergelangan tangan
6. Ambil sabun cuci tangan (mengandung antiseptic) atau alcohol 70%
7. Lakukan metode cuci tangan 6 langkah (dibawah air mengalir jika
menggunakan sabun cuci tangan dan air):
1. Telapak tangan kanan dengan telapak tangan kiri
2. Telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri dan telapak
tangan kiri di atas punggung tangan kanan
3. Telapak tangan kanan dan telapak tangan kiri dengan jari saling
Terkait
4. Punggung jari tangan kanan pada telapak tangan kiri dengan jari
saling mengunci dan sebaliknya
5. Ibu jari tangan kanan digosok memutar dengan telapak tangan
kiri dan sebaliknya
6. Jari-jari tangan kanan menguncup, gosok memutar ke kanan dan
ke kiri dan sebaliknya
8. Mengeringkan tangan dengan tisu/lap/handuk bersih
9. Memutar kran air pada posisi ‘off’ dengan meggunakan tisu
Keterangan
Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa, atau dilakukan tetapi salah
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa karena situasi
yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario yang sedang dilaksanakan).
Nilai Mahasiswa = (Jumlah Skor /18)x 100% = ...................

Instruktur
32 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

PEMERIKSAAN TANDA VITAL (VITAL SIGN)

A. PENDAHULUAN
Untuk menegakkan diagnosis, setelah dilakukan anamnesis berikutnya adalah
pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dimulai dengan pemeriksaan kesan umum,
tanda vital dan kemudian analisis sistem organ secara sistematis. Pemeriksaan ini
sangat penting dalam menilai sistem berbagai organ yang bekerja dalam tubuh
seseorang.
Pemeriksaan tanda vital terdiri dari pemeriksaan tekanan darah, nadi, laju
pernafasan (respiratory rate) dan suhu. Semua komponen tersebut harus dinilai pada
saat melakukan pemeriksaan fisik. Hasil yang didapat dari pemeriksaan ini dapat
mengarahkan dokter dalam melakukan pemeriksaan lebih lanjut, guna menegakkan
diagnosis pada seseorang penderita.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN
Diharapkan setelah melakukan kegiatan keterampilan pemeriksaan Tanda Vital ini,
mahasiswa mampu:
1. Melakukan pemeriksaan tekanan darah.
2. Melakukan pemeriksaan nadi.
3. Melakukan pemeriksaan respiratory rate.
4. Melakukan pemeriksaan suhu tubuh.
5. Menginterpretasikan data yang didapat untuk membuat langkah diagnostik
selanjutnya.

C. PEMERIKSAAN TANDA VITAL


Pemeriksaan tanda vital terdiri dari pemeriksaan: tekanan darah, frekuensi nadi,
respirasi dan suhu, yang secara lengkap diuraikan di bawah ini.
1. Pemeriksaan Tekanan darah
Metode klasik memeriksa tekanan ialah dengan menentukan tinggi kolom cairan
yang memproduksi tekanan yang setara dengan tekanan yang diukur. Alat yang
mengukur tekanan dengan metode ini disebut manometer. Alat klinis yang biasa
33 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

digunakan dalam mengukur tekanan adalah sphygmomanometer, yang mengukur


tekanan darah. Dua tipe tekanan gauge dipergunakan dalam sphygmomanometer.
Pada manometer merkuri, tekanan diindikasikan dengan tinggi kolom merkuri
dalam tabung kaca. Pada manometer aneroid, tekanan mengubah bentuk tabung
fleksibel tertutup, yang mengakibatkan jarum bergerak ke angka.

Prinsip Pengukuran
Tekanan darah diukur menggunakan sebuah manometer berisi air raksa. Alat itu
dikaitkan pada kantong tertutup yang dibalutkan mengelilingi lengan atas (bladder
& cuff). Tekanan udara dalam kantong pertama dinaikkan cukup di atas tekanan
darah sistolik dengan pemompaan udara ke dalamnya. Ini memutuskan aliran arteri
brachial dalam lengan atas, memutuskan aliran darah ke dalam arteri lengan bawah.
Kemudian, udara dilepaskan secara perlahan-lahan dari kantong selagi stetoskop
digunakan untuk mendengarkan kembalinya denyut dalam lengan bawah.

Gambar 1. Manometer merkuri dan manometer aneroid

Gambar 2.Pemeriksaan tekanan darah


34 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Jenis tekanan darah:


1. Tekanan darah sistolikTekanan darah sistolik yaitu tekanan maksimum dinding
arteri pada saat kontraksi ventrikel kiri.
2. Tekanan darah diastolic
Tekanan darah diastolik yaitu tekanan minimum dinding arteri pada saat
relaksasi ventrikel kiri.
3. Tekanan arteri atau tekanan nadi.
Tekanan nadi yaitu jarak antara tekanan sistolik dan diastolik. Pengukuran
tekanan darah merupakan gambaran resistensi pembuluh darah, cardiac output,
status sirkulasi dan keseimbangan cairan. Tekanan darah ini dipengaruhi
beberapa faktor, antara lain: aktifitas fisik, status emosional, nyeri, demam atau
pengaruh kopi dan tembakau.

Prosedur pemeriksaan :
1. Pemilihan sphymomanometer (blood pressure cuff)
Sphygmomanometer adalah alat yang digunakan untuk pengukuran tekanan
darah, yang terdiri dari cuff, bladder dan alat ukur air raksa. Dalam melakukan
pemeriksaan ini harus diperhatikan :
• Lebar dari bladder kira-kira 40 % lingkar lengan atas (12 - 14 cm pada
dewasa).
• Panjang bladder kira-kira 80 % lingkar lengan atas.
• Sphygmomanometer harus dikalibrasi secara rutin.

Gambar 3. Bagian-bagian manometer


35 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Gambar 4. Bagian-bagian stetoskop

2. Persiapan pengukuran tekanan darah


Pada saat akan memulai pemeriksaan, sebaiknya:
• Pasien dalam kondisi tenang.
• Pasien diminta untuk tidak merokok atau minum yang mengandung kafein
minimal 30 menit sebelum pemeriksaan.
• Istirahat sekitar 5 menit setelah melakukan aktifitas fisik ringan.
• Lengan yang diperiksa harus bebas dari pakaian.
• Raba arteri brachialis dan pastikan bahwa pulsasinya cukup.
• Pemeriksaan tekanan darah bisa dilakukan dengan posisi pasien berbaring,
duduk, maupun berdiri tergantung dari tujuan pemeriksaan. Hasil
pemeriksaan tersebut dipengaruhi oleh posisi pasien.
• Posisikan lengan sedemikian sehingga arteri brachialis kurang lebih pada
level setinggi jantung.
• Jika pasien duduk, letakkan lengan pada meja sedikit diatas pinggang dan
kedua kaki menapak di lantai.
• Apabila menggunakan tensimeter air raksa, usahakan agar posisi manometer
selalu vertikal, dan pada waktu membaca hasilnya, mata harus berada segaris
horisontal dengan level air raksa.
• Pengulangan pengukuran dilakukan beberapa menit setelah pengukuran
pertama.
36 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

3. Pengukuran tekanan darah


Tekanan sistolik, ditentukan berdasarkan bunyi Korotkoff 1, sedangkan diastolik
pada Korotkoff 5. Pada saat cuff dinaikkan tekanannya, selama manset menekan
lengan dengan sedikit sekali tekanan sehingga arteri tetap terdistensi dengan darah,
tidak ada bunyi yang terdengar melalui stetoskop. Kemudian tekanan dalam cuff
dikurangi secara perlahan. Begitu tekanan dalam cuff turun di bawah tekanan sistolik,
akan ada darah yang mengalir melalui arteri yang terletak di bawah cuff selama puncak
tekanan sistolik dan kita mulai mendengar bunyi berdetak dalam arteri yang sinkron
dengan denyut jantung. Bunyi-bunyi pada setiap denyutan tersebut disebut bunyi
korotkoff. Ada 5 fase bunyi korotkoff

Tabel 1. Bunyi Korotkoff

Adapun Prosedur Pengukuran Tekanan Darah terdiri dari 2 teknik :


1. Palpatoir
• Siapkan tensimeter dan stetoskop.
• Posisi pasien boleh berbaring, duduk atau berdiri tergantung tujuan pemeriksaan

• Lengan dalam keadaan bebas dan rileks, bebas dari pakaian.


• Pasang bladder sedemikian rupa sehingga melingkari bagian tengah lengan
atas dengan rapi, tidak terlalu ketat atau terlalu longgar. Bagian bladder yang
paling bawah berada 2 cm/ 2 jari diatas fossa cubiti. Posisikan lengan
sehingga sedikit membentuk sudut (fleksi) pada siku.
37 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

• Carilah arteri brachialis/arteri radialis, biasanya terletak di sebelah medial


tendo muskulus biceps brachii.
• Untuk menentukan seberapa besar menaikkan tekanan pada cuff, perkirakan
tekanan sistolik palpatoir dengan meraba arteri brachialis/arteri radialis
dengan satu jari tangan sambil menaikkan tekanan pada cuff sampai nadi
menjadi tak teraba, kemudian tambahkan 30 mmHg dari angka tersebut. Hal
ini bertujuan untuk menghindari ketidaknyamanan pasien dan untuk
menghindari auscultatory gap. Setelah menaikkan tekanan cuff 30 mmHg tadi,
longgarkan cuff sampai teraba denyutan arteri brachialis (tekanan sistolik
palpatoir). Kemudian kendorkan tekanan secara komplit (deflate).
• Hasil pemeriksaan tekanan darah secara palpatoir akan didapatkan tekanan
darah sistolik dan tidak bisa untuk mengukur tekanan darah diastolik.

2. Auskultatoir
• Pastikan membran stetoskop terdengar suara saat diketuk dengan jari.
• Letakkan membran stetoskop pada fossa cubiti tepat di atas arteri brachialis.

Gambar 5.Memasang bladder/ manset

Gambar 6.Memompa bladder/ manset


38 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

• Naikkan tekanan dalam bladder dengan memompa bulb sampai tekanan


sistolik palpatoir ditambah 30 mmHg.
• Turunkan tekanan perlahan, 2-3 mmHg/detik.
• Dengarkan menggunakan stetoskop dan catat dimana bunyi Korotkoff I
terdengar pertama kali. Ini merupakan hasil tekanan darah sistolik.
• Terus turunkan tekanan bladder sampai bunyi Korotkoff V (bunyi terakhir
terdengar). Ini merupakan hasil tekanan darah diastolik.
• Untuk validitas pemeriksaan tekanan darah minimal diulang 3 kali. Hasilnya
diambil ratarata dari hasil pemeriksaan tersebut.

Penilaian tekanan darah berdasarkan The Joint National Committe VII (JNC-VII)
adalah :
Tabel 2. Penilaian tekanan darah berdasarkan The Joint National Committe VII (JNC-VII)

Tabel 3. Penilaian tekanan darah berdasarkan JNC-VIII

Kesalahan yang sering terjadi pada saat pengukuran tekanan darah:


1. Ukuran bladder dan cuff tidak tepat (terlalu kecil atau terlalu besar). Bila
terlalu kecil, tekanan darah akan terukur lebih tinggi dari yang sebenarnya,
dan sebaliknya bila terlalu besar.
39 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

2. Pemasangan bladder dan cuff terlalu longgar, tekanan darah terukur lebih
tinggi dari yang seharusnya.
a. Pusat cuff tidak berada di atas arteri brachialis.
b. Cuff dikembangkan terlalu lambat, mengakibatkan kongesti vena,
sehingga bunyi Korotkoff tidak terdengar dengan jelas.
3. Saat mencoba mengulang pemeriksaan, kembali menaikkan tekanan cuff
tanpa mengempiskannya dengan sempurna atau re-inflasi cuff terlalu cepat.
Hal ini mengakibatkan distensi vena sehingga bunyi Korotkoff tidak
terdengar dengan jelas.

2. Pemeriksaan nadi/arteri
Jantung bekerja memompa darah ke sirkulasi tubuh (dari ventrikel kiri) dan ke paru
(dari ventrikel kanan). Melalui ventrikel kiri, darah disemburkan melalui aorta dan
kemudian diteruskan ke arteri di seluruh tubuh. Sebagai akibatnya, timbullah suatu
gelombang tekanan yang bergerak cepat pada arteri dan dapat dirasakan sebagai
denyut nadi. Dengan menghitung frekuensi denyut nadi, dapat diketahui frekuensi
denyut jantung dalam 1 menit.
a. Prosedur pemeriksaan nadi/arteri radialis :
• Penderita dapat dalam posisi duduk atau berbaring. Lengan dalam posisi
bebas dan
rileks.
• Periksalah denyut arteri radialis di pergelangan tangan dengan cara
meletakkan jari
telunjuk dan jari tengah atau 3 jari (jari telunjuk, tengah dan manis) di atas
arteri radialis dan sedikit ditekan sampai teraba pulsasi yang kuat.
• Penilaian nadi/arteri meliputi: frekuensi (jumlah) per menit, irama (teratur
atau tidaknya), pengisian, dan dibandingkan antara arteri radialis kanan dan
kiri .
• Bila iramanya teratur dan frekuensi nadinya terlihat normal dapat dilakukan
hitungan selama 15 detik kemudian dikalikan 4, tetapi bila iramanya tidak
teratur atau denyut nadinya terlalu lemah, terlalu pelan atau terlalu cepat,
dihitung sampai 60 detik.
40 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

• Apabila iramanya tidak teratur (irregular) harus dikonfirmasi dengan


pemeriksaan auskultasi jantung (cardiac auscultation) pada apeks jantung.

Gambar 7. Pemeriksaan nadi arteri radialis

b. Pemeriksaan nadi/arteri karotis


Perabaan nadi dapat memberikan gambaran tentang aktivitas pompa jantung
maupun keadaan pembuluh itu sendiri. Kadang-kadang nadi lebih jelas jika diraba
pada pembuluh yang lebih besar, misalnya arteri karotis.

Catatan : pada pemeriksaan nadi/arteri karotis kanan dan kiri tidak boleh
bersamaan.

Gambar 8. Pemeriksaan nadi (arteri karotis)

c. Pemeriksaan nadi/arteri ekstremitas lainnya


i. Pemeriksaan nadi/arteri brachialis (gambar 9a).
ii. Pemeriksaan nadi/arteri femoralis (gambar 9b).
iii. Pemeriksaan nadi/ arteri tibialis posterior (gambar 9c).
iv. Pemeriksaan nadi/arteri dorsalis pedis (gambar 9d).
41 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Gambar 9a. Pemeriksaan pulsasi arteri brachialis pada orang dewasa dan anak

Gambar 9b. Pemeriksaan pulsasi arteri femoralis

Gambar 9c. Pemeriksaan GGambar 9d. Pemeriksaan


pulsasi arteri tibialis pulsasi arteri dorsalis
posterior pedis
42 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Hasil pemeriksaan nadi/arteri:


• Jumlah frekuensi nadi per menit (Normal pada dewasa : 60-100 kali/menit)
• Takikardia bila frekuensi nadi > 100 kali/menit, sedangkan bradikardia bila
frekuensi nadi< 60 kali/menit
• Irama nadi: Normal irama teratur
• Pengisian : tidak teraba, lemah, cukup (normal), kuat, sangat kuat
• Kelenturan dinding arteri : elastis dan kaku

• Perbandingan nadi/arteri kanan dan kiri (Normal : nadi kanan dan kiri sama)
• Perbandingan antara frekuensi nadi/arteri dengan frekuensi denyut jantung
(Normal :tidak ada perbedaan).

Abnormalitas pemeriksaan nadi/arteri:


• Pulsus defisit: frekuensi nadi/arteri lebih rendah daripada frekuensi denyut
jantung
• (misalnya pada fibrilasi atrium).
• Pulsus seler (bounding pulse, collapsing pulse, water-hammer pulse,
Corrigan's pulse), disebabkan upstroke dan downstroke mencolok dari
pulsus, misalnya pada tirotoksikosis, regurgitasi aorta, hipertensi, Patent
Ductus Arteriosus (PDA), fistula arteriovenosus.
• Pulsus tardus (plateau pulse) : disebabkan karena upstroke dan downstroke
yang perlahan, misalnya pada stenosis katup aorta berat.
• Pulsus alternan : perubahan kuatnya denyut nadi yang disebabkan oleh
kelemahan jantung, misalnya pada gagal jantung, kadang-kadang lebih nyata
dengan auskultasi saat mengukur tekanan darah.
• Pulsus bigeminus : nadi teraba berpasangan dengan interval tak sama dimana
nadi kedua biasanya lebih lemah dari nadi sebelumnya. Kadang-kadang
malah tak teraba sehingga seolah-olah merupakan suatu bradikardia atau
pulsus defisit jika dibandingkan denyut jantung.
• Pulsus paradoksus : melemah atau tak terabanya nadi saat inspirasi. Sering
lebih nyata pada auskultasi saat pengukuran tekanan darah, di mana pulsus
terdengar melemah saat inspirasi, dan biasanya tak melebihi 10 mmHg. Bisa
pula disertai penurunan tekanan vena jugularis saat inspirasi, misalnya pada
43 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

gangguan restriksi pada effusi perikardium, tamponade perikardium,


konstriksi perikard, sindrom vena kava superior, atau emfisema paru.

3. Pemeriksaan Pernafasan
Bernafas adalah suatu tindakan involunter (tidak disadari), diatur oleh batang otak
dan dilakukan dengan bantuan otot-otot pernafasan, Saat inspirasi, diafragma dan
otot-otot interkostalis berkontraksi, memperluas kavum thoraks dan
mengembangkan paru-paru. Dinding dada akan bergerak ke atas, ke depan dan ke
lateral, sedangkan diafragma terdorong ke bawah. Saat inspirasi berhenti, paru-paru
kembali mengempis, diafragma naik secara pasif dan dinding dada kembali ke posisi
semula.

Persiapan pemeriksaan :
1. Pasien dalam keadaan tenang, posisi tidur.
2. Dokter meminta ijin kepada pasien untuk membuka baju bagian atas.

Cara pemeriksaan pernapasan:


1. Pemeriksaan inspeksi : perhatikan gerakan pernafasan pasien secara
menyeluruh (lakukan inspeksi ini tanpa mempengaruhi psikis penderita).
Pada inspirasi, perhatikan : gerakan iga ke lateral, pelebaran sudut
epigastrium, adanya retraksi dinding dada (supraklavikuler, suprasternal,
interkostal, epigastrium), penggunaan otot-otot pernafasan aksesoria serta
penambahan ukuran anteroposterior rongga dada.
Pada ekspirasi, perhatikan : masuknya kembali iga, menyempitnya sudut
epigastrium dan pengurangan diameter anteroposterior rongga dada.
2. Pemeriksaan palpasi : pemeriksa meletakkan telapak tangan untuk
merasakan naik turunnya gerakan dinding dada.
3. Pemeriksaan auskultasi : menggunakan membran stetoskop diletakkan pada
dinding dada di luar lokasi bunyi jantung.
44 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Interpretasi pemeriksaan pernapasan :


a. Frekuensi : Hitung frekuensi pernafasan selama 1 menit dengan inspeksi,
palpasi, atau dengan menggunakan stetoskop. Normalnya frekuensi nafas
orang dewasa sekitar 16 –24 kali per menit dengan pola nafas yang teratur
dan tenang.
b. Irama pernapasan : reguler atau ireguler

4. Pemeriksaan Suhu
Suhu merupakan gambaran hasil metabolisme tubuh.Termogenesis (produksi panas
tubuh) dan termolisis (panas yang hilang) secara normal diatur oleh pusat
thermoregulatory hipothalamus.

Gambar 10a. Bagian-bagian thermometer

Gambar 10b. Termometer oral/aksila

Gambar 10c. Termometer rektal


45 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Pemeriksaan suhu dapat dilakukan di mulut (gambar 11), aksila (gambar 12) atau
rektal (gambar 13), dan ditunggu selama 3–5 menit. Pemeriksaan suhu dilakukan
dengan menggunakan termometer baik dengan glass thermometer atau electronic
thermometer. Bila menggunakan glass thermometer, sebelum digunakan air raksa
pada termometer harus dibuat sampai menunjuk angka 350C atau di bawahnya.

Pengukuran suhu oral biasanya lebih mudah dan hasilnya lebih tepat, tetapi
thermometer air raksa dengan kaca tidak seyogyanya dipakai untuk pengukuran
suhu oral, yaitu pada penderita yang tidak sadar, gelisah atau tidak kooperatif, tidak
dapat menutup mulutnya atau pada bayi dan orang tua.

Prosedur Pemeriksaan Suhu secara


Oral : 1. Turunkan air raksa
sedemikian sehingga
air raksa pada termometer menunjuk
angka 350C atau di bawahnya
dengan cara mengibaskan
termometer beberapa kali.
2. Letakkan ujung termometer di
bawah salah satu sisi lidah. Minta
pasien untuk menutup mulut dan
bernafas melalui hidung.
3. Tunggu 3-5 menit. Baca suhu
pada termometer.
4. Apabila penderita baru minum
dingin atau panas, pemeriksaan harus
ditunda selama 10-15 menit agar suhu
minuman tidak mempengaruhi hasil
pengukuran.

Gambar 11. Pengukuran suhu oral


46 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Prosedur Pengukuran suhu


aksila : 1. Turunkan air raksa
sedemikian sehingga air raksa
pada termometer menunjuk
angka 350C atau di bawahnya.
2. Letakkan termometer di
lipatan aksila. Lipatan aksila
harus dalam keadaan kering.
Pastikan termometer
menempel pada kulit dan
tidak terhalang baju pasien.
3. Jepit aksila dengan
merapatkan lengan pasien ke
tubuhnya.
4. Tunggu 3-5 menit. Baca
suhu pada termometer.

Gambar 12. Pengukuran suhu aksila


47 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Prosedur pengukuran suhu secara rektal :


1. Pemeriksaan suhu melalui rektum ini biasanya dilakukan terhadap bayi.
2. Pilihlah termometer dengan ujung bulat, beri pelumas di ujungnya.
3. Masukkan ujung termometer ke dalam anus sedalam 3-4 cm.
4. Cabut dan baca setelah 3 menit
(Catatan : pada prakteknya, untuk menghemat waktu pemeriksaan, sambal
menunggu pemeriksaan suhu dilakukan pemeriksaan nadi dan frekuensi nafas).

Rata-rata suhu normal dengan pengukuran oral adalah 37 0C. Suhu rektal lebih
tinggi daripada suhu oral ± 0,4-0,50C. Suhu aksila lebih rendah dari suhu oral sekitar
0,50C-10C.

DAFTAR PUSTAKA
Bate’s Guide To Physical Examination And History Taking, electronic version
Cameron J.R., Skofronick J.G., Grant R.M. 2006. Fisika Tubuh Manusia. Ed. 2.
Jakarta : Sagung Seto, pp : 124-125
Guyton and Hall. 2007. Fisiologi kedokteran. Ed. 9. Jakarta : EGC, pp : 221-222
Robert M. S., William J. R., and Karen S. Q. Pshychophysiological recording,
electronic version
48 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

CHECKLIST PENILAIAN
KETERAMPILAN PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH

Nama Mahasiswa :
NPM :
Aspek Penilaian Skor
No 0 1 2
1. Mengucapkan salam dan membangun raport dengan pasien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan pada pasien.
3. Menyiapkan pasien dalam posisi duduk atau tidur telentang,
pemeriksa berada di samping kanan pasien.
4. Mempersiapkan tensimeter dan memasang manset pada lengan atas
pasien.
5. Meraba nadi arteri brachialis dan memompa tensimeter sampai tidak
teraba denyutan.
6. Menaikkan tekanan tensimeter 30 mmHg di atasnya, dan
melonggarkan cuff sampai teraba denyutan arteri brachialis (tekanan
sistolik palpatoir).
7. Mengosongkan udara pada manset sampai tekanan 0
8. Memasang membran stetoskop pada fossa cubiti dan memompa
bladder sampai tekanan sistolik palpatoir ditambah 30 mmHg
9. Melonggarkan kunci pompa perlahan-lahan dan menentukan
tekanan sistolik dan diastolik.
10. Melepas manset dan memberitahukan hasil pemeriksaan tekanan
darah pada penderita
JUMLAH SKOR

Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario yang
sedang dilaksanakan).

Nilai Mahasiswa = (Jumlah Skor/20) x 100% = ...............

Padang, 2020

Instruktur
49 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

CHECKLIST PENILAIAN
KETERAMPILAN PEMERIKSAAN NADI

Nama Mahasiswa :
NPM :
Aspek Penilaian Skor
No 0 1 2
1. Mengucapkan salam dan membangun raport dengan pasien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan
3. Meraba arteri radialis dengan cara meletakkan jari telunjuk dan jari
tengah atau 3 jari (jari telunjuk,tengah dan manis) di atas arteri
radial dan sedikit ditekan sampai teraba pulsasi.
4. Menilai frekuensi, irama, pengisian, kelenturan dinding arteri,
pada kedua pergelangan tangan kanan dan kiri
5. Memberitahukan hasil pemeriksaan nadi pada pasien
Jumlah Skor

Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan
mahasiswa karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan
dalam skenario yang sedang dilaksanakan).

Nilai Mahasiswa = (Jumlah Skor/10) x 100% = ...............

Padang, 2020

Instruktur
50 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

CHECKLIST PENILAIAN
KETERAMPILAN PEMERIKSAAN FREKUENSI PERNAFASAN

Nama Mahasiswa :
NPM :
Aspek Penilaian Skor
No 0 1 2
1. Mengucapkan salam dan membangun raport dengan pasien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan pada pasien
3. Melakukan pemeriksaan pernafasan dengan inspeksi dinding dada
atau dengan palpasi atau dengan auskultasi.
4. Menilai frekuensi pernafasan per menit dan irama pernafasan
5. Memberitahukan hasil pemeriksaan frekuensi pernafasan pada
pasien
Jumlah Skor

Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan
mahasiswa karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam
skenario yang sedang dilaksanakan).

Nilai Mahasiswa = (Jumlah Skor/10) x 100% = ...............

Padang, 2020

Instruktur
51 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

CHECKLIST PENILAIAN
KETERAMPILAN PEMERIKSAAN SUHU

Nama Mahasiswa :
NPM :
Aspek Penilaian Skor
No 0 1 2
1. Mengucapkan salam dan membangun raport dengan pasien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan pada pasien
3. Mempersiapkan termometer dan mengecek apakah air
raksa menunjukkan angka dibawah 350C.
4. Memasang termometer pada aksila, rectal atau oral.
5. Memasang termometer pada tempat tersebut selama
kurang lebih 3-5 menit.
6. Membaca hasil , interpretasi hasil, dan memberitahukan
hasil pemeriksaan suhu pada penderita
Jumlah Skor

Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan
mahasiswa karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam
skenario yang sedang dilaksanakan).

Nilai Mahasiswa = (Jumlah Skor/12) x 100% = ...............

Padang, 2020

Instruktur
52 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

PEMERIKSAAN FISIK THORAKS

TUJUAN PEMBELAJARAN:
1. Setelah mengikuti kegiatan ketrampilan ini diharapkan mahasiswa dapat
mengenali dan mengidentifikasi proyeksi organ pada dinding Toraks.
2. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik paru

3. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik jantung

TEORI PROYEKSI ORGAN


Rongga toraks dibentuk oleh :
- Clavicula
- Sternum
- Tulang iga (kostae)
- Scapula
- Vertebrae Thoracalis
- Otot-otot dinding Toraks
Besar rongga toraks bervariasi, pada orang dewasa diameter anterior – posterior lebih
kecil dari diameter transversal.

Anatomi Dan Fisiologi Toraks


Pelajarilah kembali anatomi dinding dada kenalilah struktur-struktur yang terdapat
pada gambar di bawah ini

Gambar 1. Proyeksi Rongga Thoraks


53 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Dalam mendeskripsikan hasil pemeriksaan toraks, anda perlu dapat


menghitung kosta beserta spatium interkostalis dengan benar. Angulus sternalis
adalah petunjuk yang baik. Untuk menemukannya, temukanlah dahulu fossa
suprasternalis, kemudian gerakkan jari anda ke bawah sejauh kurang lebih 5 cm,
untuk sampai pada tonjolan tulang horisontal yang menghubungkan antara
manubrium sterni dengan korpus sterni. Kemudian gerakkan jari anda ke lateral
untuk menemukan kosta kedua. Spatium interkostalis yang langsung berada di
bawahnya adalah spatium interkostalis ke dua. Dari sini, dengan menggunakan dua
jari anda dapat menyelusuri kosta ke bawah, secara miring ke lateral sesuai dengan
garis merah pada gambar. Jangan menyelusuri tepi sternum, karena di daerah ini
kosta sangat rapat. Kenalilah bahwa hanya 7 buah kartilago kosta yang melekat pada
sternum. Kartilago kosta ke 8, 9 dan ke 10 menempel pada kartilago kosta di atasnya,
sedangkan kartilago kosta ke 11 dan ke 12 berujung bebas (Gambar 2).

Pada dinding posterior dada, kosta ke 11 dan ke 12 dapat menjadi titik awal
untuk menghitung kosta dan spatium interkostalis. Biasanya ini menolong untuk
mendiskripsi kelainan pada dada bagian bawah, tetapi dapat menolong juga apabila
penghitungan dari depan tidak memuaskan atau meragukan. Mula-mula dengan
satu jari tangan, tekanlah tepi bawah kosta ke arah dalam dan atas, temukanlah kosta
54 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

ke 12. Kemudian merambatlah ke atas pada spatium interkostalis secara miring ke


atas dan melingkar ke dinding depan dada (gambar 3).

Selain itu, ada juga tanda-tanda tulang lain yang dapat dipakai sebagai
patokan. Angulus inferior scapulae biasanya terletak pada level yang sama dengan
kosta ke-7. Lokasi kelainan dapat juga disebutkan dengan menggunakan letak
prosesus spinosus dari vertebrae. Pada waktu seseorang menundukkan kepala, maka
prosesus spinosus yang paling menonjol adalah prosesus yang sama menonjol,
mereka adalah milik vertebra servikal 7 dan torakal. 1. Prosesus spinalis di bawahnya
dapat dikenali dan dihitung terutama apabila vertebra dalam keadaan fleksi.
Selain itu, hasil pemeriksaan dapat dilokalisir menurut garis imajiner (linea)
yang ditarik pada dinding dada (Gambar 3a ).
Perhatikan bentuk prekordial apakah normal, mengalami depresi atau ada
penonjolan asimetris (voussure cardiaque), yang disebabkan pembesaran jantung
sejak kecil. Hipertrofi dan dilatasi ventrikel kiri dan kanan dapat terjadi akibat
kelainan kongenital.
Garis (linea) imajiner pada permukaan badan yang penting pada permukaan
dada, ialah (Gambar 3) :
- Garis tengah sternal (mid sternal line/MSL)
- Garis tengah klavikular ( mid clavicular line/MCL)
55 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

- Garis anterior aksilar (anterior axillary line/AAL)


- Garis para sternal kiri dan kanan (para sternal line/PSL)

Garis-garis tersebut ini perlu untuk menentukan lokasi kelainan yang


ditemukan pada permukaan badan.

Selain itu terdapat istilah lain yang biasa dipakai misalnya supraklavikuler (di
atas klavikula), infraklavikuler (di bawah klavikula), interskapula (di antara dua
skapula), dan infra skapula (gambar 4).

Proyeksi Paru Pada Dinding Dada


Pada waktu memeriksa Toraks, ingatlah akan lokasi paru beserta lobus-lobusnya.
Lokasi ini dapat diproyeksikan pada dinding dada. Kunci proyeksi lokasi ini terletak
pada antara lain :
1. Apex paru terletak kurang lebih 2-4 cm di atas sepertiga medial klavikula
56 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

2. Batas bawah paru menyilang kosta ke 6 pada linea midclavikula, dan menyilang
kosta ke 8 pada linea midaxilaris.

3. Pada dinding belakang, batas bawah adalah pada level prosesus spinosus
vertebra thorakalis ke 10.
4. Batas ini dapat turun sampai ke vertebra thorakalis ke 12 pada inspirasi dalam
(Gambar 5).

Tiap paru secara garis besar dibagi dua oleh fisura yang obliq, menjadi lobus
superior dan lobus inferior. Pada dinding dada posterior,. lokasi fisura obliq ini kira-
kira sesuai dengan garis obliq yang ditarik dari prosesus spinosus thorakalis ke 3 ke
bawah lateral. Garis ini berdekatan dengan batas bawah skapula ketika lengan
diangkat ke atas kepala (Gambar 6 ).
57 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Paru kanan dibagi lagi oleh fisura horisontal menjadi lobus superior dan lobus
medius, Fisura ini melintang dari linea mid axilaris kanan setinggi kosta ke 5 ke
medial setinggi kosta ke 4 (Gambar 7).

Biasanya, anda harus mendeskripsikan hasil pemeriksaan dengan istilah: daerah


paru atas, tengah, atau bawah. Suatu kelainan pada daerah paru kanan atas,
misalnya, berarti berasal dari lobus kanan atas, sedangkan kelainan pada daerah paru
kiri bawah berasal dari lobus inferior kiri. Sedangkan pada pemeriksaan dinding
dada sisi lateral kanan, kelainan dapat berasal dari 3 lobi paru kanan.
Oleh karena hasil pemeriksaan toraks dipengaruhi oleh jarak antara dinding dada
dengan trakhea dan bronchi yang besar, maka lokasi dari organ-organ tersebut harus
dikenali. Perhatikan bahwa trakhea bercabang di daerah setinggi angulus strenalis
(di depan) atau prosesus spinalis vertebra thorakalis ke 4 (di belakang).
Bernafas adalah suatu aksi otomatik yang diatur oleh batang otak dan dilakukan
oleh otot-otot respirasi. Selama inspirasi, diafragma dan otot-otot interkostales
berkontraksi, membesarkan volume rongga toraks, dan memekarkan paru di dalam
rongga pleura. Dinding dada bergerak ke atas, depan, dan ke lateral. Selama
diafragma bergerak turun. Setelah inspirasi berhenti, paru mengempis, diafragma
58 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

secara pasif akan naik dan dinding 24 dada akan relax seperti semula. Apabila nafas
terpacu oleh karena olahraga atau penyakit, maka ada otot lain yang ikut bekerja,
yaitu otot trapezius, sternomastoid, dan otot scalenus di leher selama inspirasi, dan
otot-otot abdominal selama ekspirasi. Amatilah otot-otot leher anda di depan cermin
pada waktu anda menarik nafas sedalam mungkin.

Suara nafas berasal dari saluran nafas besar, yang melalui paru diteruskan ke dinding
dada, sehingga anda dapat mendengarnya dengan stetoscope. Jaringan yang dilalui oleh
udara pernafasan, meredam dan menyaring suara nafas ini. Sehingga yang anda dengar
pada waktu pemeriksaan auskultasi adalah suatu lembut dengan frekuensi rendah pada
waktu inspirasi, dan akan melemah dan kemudian meghilang pada awal ekspirasi.

PEMERIKSAAN FISIS PARU


Modul ini dibuat agar para mahasiswa dapat mencapai kemampuan tertentu di
dalam pemeriksaan sistem respirasi.

Tujuan Pembelajaran:
Tujuan pembelajaran Umum:
Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik sistem respirasi meliputi : inspeksi,
palpasi, perkusi dan auskultasi dari sistem respirasi (paru)
Tujuan Pembelajaran Khusus:
a. Mahasiswa mampu mempersiapkan pasien untuk dilakukan pemeriksaan
b. Mahasiswa mampu memberikan salam dan memperkenalkan diri.
c. Mahasiswa mampu menginformasikan kepada pasien tentang tujuan dari
pemeriksaan
d. Mahasiswa mampu menyuruh pasien dengan sopan untuk membuka bajunya
dan melakukan apa-apa yang disuruh oleh pemeriksa
e. Mahasiswa mampu meminta pasien dengan sopan untuk tidur terlentang dan
diikuti posisi duduk untuk dilakukan pemeriksaan sistem respirasi.
f. Mahasiswa dapat mengambil posisi berdiri disebelah kanan pasien
59 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

g. Mahasiswa mampu melakukan inspeksi toraks dalam keadaan statis dan


dinamis (untuk melihat bentuk toraks dan gerakan pernapasan), lokasi
palpasi, perkusi dan auskultasi

Waktu Dan Lokasi


Ruang skills lab dan 1 x pertemuan perminggu

Prasyarat
Mengetahui anatomi toraks dan sistem respirasi ( anatomi)

Sistem Respirasi
Saluran nafas bagian atas terdiri dari :
- Oropharynx
- larynx

Saluran nafas bagian bawah terdiri dari :


- Trakhea
- Bronkus utama kiri dan kanan
- Bronkus
- Bronkiolus terminalis
- Bronkiolus respiratorius
- Saccus alveolaius
- Alveoli

Pembagian Regio Paru Regio paru dapat dibagi mejadi :


60 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

1. Regio Apikal
2. Regio Medial
3. Regio Basal

PEMERIKSAAN FISIS PARU


A. PEMERIKSAAN INSPEKSI PARU
Pada pemeriksaan inspeksi Toraks harus dilakukan dalam 2 kondisi yaitu:
kondisi diam (statis) dimana pasien disuruh menahan napas untuk menilai
bentuk dinding toraks dan dalam kondisi bernapas (dinamis) untuk menilai
gerakan pernapasan. Dilakukan inspeksi dari depan, belakang, kiri dan kanan.
Dalam keadaan normal secara inspeksi bentuk dan gerakan toraks adalah
simetris baik dalam keadaan statis maupun dinamis.

Beberapa Kelainan Dinding Toraks :


a. Pigeon chest sternum ⅓ distal melengkung ke anterior, bagian lateral dinding
Toraks kompressi ke medial (seperti dada burung), etiologi ricketsia dan
kelainan congenital(gambar 12)

Gambar 12. Pigeon chest

b. Funnel chest bagian distal dari sternum terdorong kedalam/mencekung,


misalnya pada ricketsia/congenital (gambar 13)
61 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Gambar 13.Funnel chest


c. Flat chest Ø anterior – pasterior memendek etiologi bilateral pleuro
pulmonary fibrosis.(gambar 14)

Gambar 14. Flat chest

d. Barrel chest (Toraks emfisematous) (gambar 15)


- Ø ant-post memanjang
- Iga-iga mendatar
- Sela iga melebar
- Sudut epigastrium tumpul
- Diafragma mendatar
Terdapat pada Penyakit Paru Obstruktif menahun (PPOM)
62 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Gambar 15. Barrel chest

e. Scoliosis dari vertebra thoracalis, merupakan perubahan bentuk dari rongga


Toraks (Gambar 16 dan 17)

f. Kyphosis / gibbus dari vertebra thoracalis (gambar 18)

g. Unilateral Flattening : salah satu hemi Toraks menjadi lebih pipih, contoh
pada fibrosis paru atau fibrosis pleura (schwarte)
h. Unilateral prominence, contoh : Efusi Pleura yang banyak, Pneumo Toraks
Perlu diperhatikan bentuk badan serta tanda-tanda khas yang terdapat pada
seorang pasien, antara lain astenik, hipostenik, atau hiperstenik, berat badan normal,
kurus atau gemuk, tanda-tanda bekas trauma dan adanya deformitas di dada,
kelainan kongenital pada bentuk badan, dan lain-lain.

Gerakan Pernapasan (Respiratory Movement)


63 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Toraks ekspansi akibat aktivitas otot pernafasan dan secara pasif kemudian terjadi
ekspirasi, frekwensi pernafasan normal 16-24/mnt, pada bayi baru lahir normal
44x/menit dan secara gradual berkurang dengan bertambahnya umur.
Pada laki-laki dan anak diafragma lebih berperan, sehingga yang menonjol gerakan
pernafasan bagian atas abdomen dan Toraks bagian bawah. Pada laki-laki yang lebih
berperan adalah musculus interkostal, gerakan pernafasan yang menonjol adalah
gerakan rongga Toraks bagian atas.

Dalam kondisi normal gerakan pernapasan yang terlihat dari dinding toraks adalah
simetris kiri dan kanan. Sedangkan pada kondisi patologis misalnya bila terjadi
kelainan pada paru atau pleura seperti pada penyakit tumor paru, atelektasis, efusi
pleura, pneumotoraks dll. Maka akan terlihat gerakan pernapasan tertinggal pada sisi
paru yang sakit.

B. PEMERIKSAAN PALPASI PARU


Pada pemeriksaan palpasi sistem respirasi dapat dilakukan pemeriksaan Tactil
fremitus dinding toraks dengan cara :
• Menempelkan telapak dan jari jari tangan pada dinding dada. kemudian
pasien disuruh mengucapkan kata kata seperti 77, dengan nada yang
sedang. Bandingkan getaran yang timbul antara hemithorax kiri dan kanan
secara simetris dengan cara menyilangkan tangan pemeriksa secara
bergantian.

Gambar 19. pemeriksaan palpasi toraks dan lokasi penempatan


tangan pada pemeriksan fremitus.
64 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Pemeriksaan palpasi juga dapat menilai pengembangan dinding toraks.

Gambar 20. penilaian pengembangan dinding toraks depan dan belakang

C. PEMERIKSAAN PERKUSI PARU


Perkusi adalah jenis pemeriksaan fisik yang berdasarkan interpretasi dari suara
yang dihasilkan oleh ketokan pada dinding toraks. Metoda ini tetap penting
walaupun pemeriksaan radiologi toraks sudah makin berkembang, oleh karena
dengan pemeriksaan fisik yang baik bisa memprediksi kelainan yang ada dalam
rongga toraks sebelum pemeriksaan radiologi dilakukan.
Dengan pemeriksaan ketok/ perkusi pada dinding toraks akan menggetarkan
udara yang ada dalam dalam paru. Bunyi yang dihasilkan tergantung dari banyak
sedikitnya udara yang ada dalam rongga dada. Penilaiananya dapat dikelompokan
sebagai berikut;
• Sonor
• Hipersonor
• redup
• Pekak
65 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Gambar 21. Lokasi Perkusi Paru

Teknik dari perkusi


Pada pemeriksaan perkusi penderita bisa dalam posisi tidur dan bisa dalam
posisi duduk. Pemeriksa menggunakan jari tengah tangan kiri yang menempel pada
permukaan dinding toraks, tegak lurus dengan iga atau sejajar dengan iga disebut
sebagai flexi meter. Sementera jari tengah tangan kanan digunakan sebagai pemukul
(pengetok) disebut flexor.
Perkusi pada diding toraks depan dapat dilakukan pada posisi tidur
telentang, jika pasien duduk kedua tangan pada paha dengan flexi pada sendi siku.
Perkusi dimulai dari lapangan atas paru menuju ke lapangan bawah sambil
membandingkan bunyi perkusi antara hemi toraks kanan dan hemi toraks kiri.
Pemeriksaan perkusi dinding toraks belakang dilakukan pada posisi pasien
duduk membelakangi pemeriksa, jika pasien tidur oleh karena, tidak dapat duduk
maka untuk perkusi daerah punggung, posisi pasien dimiringkan kekiri dan kekanan
bergantian.
66 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Gambar 22. Perkusi Thoraks

Jenis bunyi perkusi dinding toraks:


a. Suara perkusi normal dari toraks pada lapangan paru disebut sonor ( resonance)
b. Perkusi pada infiltrat paru dimana parenkim lebih solid mengandung sedikit
udara) perkusi akan menghasilkan redup (dullness).
c. Perkusi pada efusi pleura masif atau massa tumor yang besar suara perkusi
pekak (flatness.)
d. Hiperinflasi dari paru dimana udara tertahan lebih banyak dalam alveoli atau
adanya udara didalam rongga pleura (pnemothorax) menghasilkan perkusi
(hipersonor).
e. Adanya udara dalam lambung menimbulkan suara perkusi ( timpani.)

D. PEMERIKSAAAN AUSKULTASI PARU


Auskultasi paru dilaksanakan secara indirect yaitu dengan memakai stetoskop.
Sebelum ditemukan stetoskop auskultasi dilakukan secara direct dengan
menempelkan telinga pemeriksa pada permukaan tubuh orang sakit. Ada dua tipe
67 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

dari stetoskop yaitu Bell type untuk mendengar nada-nada yang lebih rendah dan
Bowel atau membran type untuk nada-nada yang lebih tinggi. Umumnya setiap
stetoskop dilengkapi dengan kedua tipe ini. Posisi penderita sebaiknya duduk seperti
melakukan perkusi. Kalau pasien tidak bisa duduk, auskultasi dapat dilaksanakan
dalam posisi tidur. Pasien sebaiknya disuruh bernafas dengan mulut tidak melalui
hidung.
Pemeriksa memberikan contoh bernafas terlebih dulu sebelum memeriksa
pasien.
Yang diperiksa pada auskultasi paru adalah :
1. Suara nafas (breath sounds)
2. Ronchi (rales)
3. Pleura Friction (bunyi gesekan pleura)
4. Voice sounds (bunyi bersuara)

Pada orang sehat dapat didengar dengan auskultasi suara nafas :


1. Vesikuler
2. Trakeal
3. Bronkial
4. Bronkovesikuler

Untuk mendengar suara nafas perhatikan intensitas, durasi dan pitch (nada)
dari inspirasi dibandingkan dengan ekspirasi.
68 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Gambar 23. Auskultasi dan lokasi pemeriksaan auskultasi pada dinding toraks depan
dan belakang

Suara Nafas Vesikuler.


Pada suara nafas vesikuler, suara inspirasi lebih keras, lebih panjang dan pitchnya
(nada) lebih tinggi dari suara ekspirasi. Suara nafas vesikuler terdengar hampir
diseluruh lapangan paru, kecuali pada daerah supra sternal dan interscapula. Suara
vesikuler dapat mengeras pada orang kurus atau post “exercise” dan melemah pada
orang gemuk atau pada penyakit-penyakit tertentu.

Suara Nafas Bronkial / Trakeal


Pada suara nafas bronkial, suara nafas ekspirasi, intensitasnya lebih keras, durasinya
lebih panjang dan nadanya lebih tinggi dari suara inspirasi, terdapat pada daerah
supra sternal. Suara nafas trakeal hampir sama dengan suara nafas bronkial tetapi
durasi ekspirasi hampir sama antara ekspirasi dengan inspirasi, terdengar pada
daerah trakea. Ditemukanya bunyi nafas bronkial pada daerah yang seharusnya
suaran nafas vesikuler, hal ini dapat disebabkan oleh pemadatan dari parenkim paru
seperti pada pneumonia dan kompresive atelektase.
69 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Suara Nafas Bronkovesikuler


Pada bunyi nafas bronkovesikuler, suara yang timbul adalah campuran antara suara
nafas vesikuler dan bronkial. Jenis suara nafas ini ditandai dengan ekspirasi lebih
keras, lebih lama dan nadanya lebih tinggi dari inspirasi. Jenis pernafasan ini, normal
didapatkan pada pada daerah Ruang Inter Costal ( RIC) I & II kiri dan kanan di
bagian depan dan daerah interscapula
pada bagian belakang, dimana terdapat ovelap antara parenkim paru dengan
bronkus besar. Pernafasan broncovesikuler bila didapatkan pada daerah yang secara
normal adalah vesikuler ini menunjukkan adanya kelainan pada daerah tersebut.

Tabel. Resume Pemeriksaan Suara Nafas

Prosedur Pemeriksaan Fisis Paru :


a. Mahasiswa memberikan salam dan memperkenalkan diri.
b. Mahasiswa menginformasikan kepada pasien tentang tujuan dari pemeriksaan
dan minta kesediaan pasien.
c. Mahasiswa menyuruh pasien membuka bajunya dan menyuruh pasien agar
melakukan apa-apa yang disuruh oleh pemeriksa
d. Mahasiswa menyuruh pasien tidur terlentang dan diikuti posisi duduk untuk
dilakukan pemeriksaan sistem respirasi. Posisi penderita dapat duduk, berdiri
atau berbaring sesuai dengan pemeriksaan yang akan dilakukan
e. Mahasiswa mengambil posisi berdiri disebelah kanan pasien
70 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

f. Mahasiswa melakukan inspeksi trakea dan menujukkan linea-linea imajiner


pada toraks.
g. Mahasiswa melakukan inspeksi toraks dalam keadaan statis dan dinamis (untuk
melihat bentuk toraks dan gerakan pernapasan) dari depan, belakang, samping
kiri & kanan
h. Mahasiswa mapu melakukan palpasi thoraks depan dan belakang pada lokasi
yang tepat
i. Mahasiswa mampu melakukan perkusi thoraks depan dan belakang pada lokasi
yang tepat
j. Mahasiswa mampu melakukan auskultasi thoraks depan dan belakang pada
lokasi yang tepat
71 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

CHECKLIST
PEMERIKSAAN FISIK PARU

Nama mahasiswa :
NPM :

Aspek Penilaian Skor


No 0 1 2
1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri pada pasien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan pada pasien
3. Berdiri di sisi kanan pasien.
4. Meminta pasien untuk membuka pakaian (baju).
5. Meminta pasien untuk berbaring dengan posisi telentang
6. Meminta pasien dalam posisi relaks.
INSPEKSI
Melakukan Inspeksi dalam keadaan statis
7. Perhatikan bentuk dada dan bentuk dinding toraks bagian belakang (
adakah kelainan bentuk)
8. Posisi dari iga-iga ( mendatar atau tidak)
9. Perhatikan bentuk tulang belakang ( apakan ada kelainan
bentuk ; kiposis, skolisis, lordosis atau gibus)
10. Ruang sela iga ( bandingkan kiri dan kanan) dan bandingkan bentuk
dinding toraks belakang kiri dengan kanan
Melakukan inspeksi dalam keadaan dinamis
11. Bandingkan pergerakan dinding dada kiri dengan kanan apakah sama atau
ada pergerakan salah satu dinding dada yang tertinggal (depan/belakang)
PALPASI
12. Melakukan pemeriksaan pengembangan rongga toraks (pemeriksa
menempelkan tangan pada dinding torakas bagian bawah dengan kedua
ibu jari bertemu pada garis mid sternalis dan jari yang lain mengarah sisi
kiri dan kanan dinding toraks, pasien disuruh inspirasi dalam sambil
memperhatikan pergerakan dari kedua ibu jari pemeriksa apakah
pergerakan simetris atau ada yang tertinggal).
13. Melakukan palpasi pada permukaan dinding torak untuk menilai tactil
fremitus (stem fremitus) pada hemitorak kiri dan kanan mulai dari dinding
torak bagian atas ke bawah. Bandingkan kiri dengan kanan secara simetris
dan silangkan tangan pemeriksa, sambil pasien disuruh menyebut 77
(tujuh tujuh).
PERKUSI
72 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

14. Melakukan perkusi pada kedua hemithorax kiri dan kanan mulai dari
dinding toraks atas ke bawah, bandingkan kiri dengan kanan.
AUSKULTASI
Mendengar suara nafas, vesikuler pada kedua hemithorax kiri dan kanan,
15 mulai dari atas ke bawah.
Mendengar suara nafas trakeal ( normal) pada derah leher (trakea) dan
16 bronkial ( normal) pada daerah supra sternal.
Mendengar suara nafas bronkovesikuler (normal) pada daerah diatas
17 korpus sterni
Jumlah

Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan
mahasiswa karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam
skenario yang sedang dilaksanakan).

Nilai Mahasiswa = (Jumlah Skor/34) x 100% = ...............

Padang, 2020

Instruktur
73 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

PEMERIKSAAN FISIS JANTUNG

Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik jantung

Tujuan Khusus:
1. Mahasiswa mampu melakukan inspeksi dan mendeskripsikan bentuk
toraks: Normal /Abnormal
2. Mahasiswa mampu melakukan inspeksi dan mendeskripsikan apex
cordis: terlihat/tidak terlihat.
3. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan palpasi, perkusi dan
auskultasi sesuai dengan lokasi pemeriksaan jantung

Waktu Dan Lokasi


Ruang skills lab dan 1 x pertemuan perminggu

Prasyarat
a. Mengetahui anatomi sistem kardiovaskuler ( anatomi)
b. Mengetahui fisiologi sistem kardiovaskuler (fisiologi )
c. Mengetahui hemodinamik sirkulasi jantung ( fisika )

Teori Dasar PEMERIKSAAN FISIS JANTUNG


Pemeriksaan kardiovaskuler biasanya dimulai dengan pemeriksaan frekuensi
denyut jantung dan tekanan darah. Cara pemeriksaan frekuensi denyut jantung dan
tekanan darah dapat dilihat kembali pada teknik pemeriksaan fisik sebelumnya.

SIKLUS JANTUNG
1. Bunyi Jantung 1 dan 2
Katub trikuspidalis yang berada di antara atrium dan ventrikel kanan
serta katub mitralis yang berada di antara atrium dan ventrikel sinistra sering
disebut katub atrioventrikularis, sedang katub aorta dan katub pulmonal
sering sering disebut katub semilunaris.
74 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Gambar 24. Proyeksi Katub-katub Jantung di Dinding Dada Anterior

Tekanan sistolik menggambarkan tekanan saat ventrikel mengalami


kontraksi, sementara tekanan diastolik merupakan tekanan saat relaksasi
ventrikel. Selama sistolik, katub aorta terbuka, memungkinkan ejeksi darah
dari ventrikel kiri ke aorta. Sementara katub mitral menutup untuk mencegah
darah mengalir kembali ke atrium kiri. Sebaliknya, selama diastole katub
aorta menutup, mencegah darah mengalami regurgitasi dari aorta kembali ke
ventrikel kiri, sementara katub mitral terbuka sehingga darah mengalir dari
atrium kiri menuju ventrikel kiri yang mengalami relaksasi. Pemahaman
tentang tekanan di dalam atrium kiri, ventrikel kiri dan aorta serta posisi dan
gerakan katub sangat penting untuk memahami bunyi-bunyi jantung.
Selama fase sistolik, ventrikel kiri mulai berkontraksi, sehingga tekanan
dalam ventrikel kiri meningkat melebihi tekanan dalam atrium kiri,
menyebabkan katub mitral menutup. Penutupan katub mitral menghasilkan
bunyi jantung pertama (BJ1). Peningkatan tekanan dalam ventrikel kiri
menyebabkan katub aorta membuka. Pada kondisi patologis tertentu, pembukaan
75 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

katub aorta disertai dengan bunyi ejeksi (Ej) pada awal sistolik (terdengar segera
setelah BJ1).

Setelah volume darah dalam ventrikel kiri mulai berkurang, tekanan


intraventrikel mulai turun. Saat tekanan ventrikel kiri lebih rendah daripada
tekanan aorta, katub aorta menutup, menghasilkan bunyi jantung kedua
(BJ2).
Saat diastolik, tekanan ventrikel kiri terus menurun sampai di bawah
tekanan atrium kiri, mengakibatkan katub mitral terbuka. Terbukanya katub
mitral biasanya tidak menimbulkan bunyi yang terdengar pada auskultasi,
kecuali pada keadaan di mana terjadi kekakuan katub mitral, misalnya pada
mitral stenosis, di mana terbukanya katub mitral menimbulkan bunyi yang
disebut opening snap yang terdengar setelah BJ2. Siklus yang sama juga terjadi
pada atrium kanan, ventrikel kanan, katub trikuspidalis, katub pulmonalis
dan arteri pulmonalis.

PROSEDUR PELAKSANAAN KETERAMPILAN KLINIK


A. Alat dan bahan
Alat yang dibutuhkan adalah stetoskop
B. Tahap Persiapan
Secara umum sebelum melakukan pemeriksaan fisik pada pasien ada
beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu :
1. Pasien diminta untuk melepaskan pakaian bagian atas
2. Pasien diminta duduk pada pemeriksaan dada posterior dan berbaring
telentang pada bed pemeriksaan saat memeriksa dada anterior. Selain itu
untuk kelengkapan pemeriksaan jantung diperlukan pemeriksaan dengan
posisi pasien berbaring miring ke kiri (left lateral decubitus) dan posisi duduk
sedikit membungkuk ke depan.
3. Ruang pemeriksaaan harus sunyi untuk mendapatkan hasil perkusi dan
auskultasi yang adekuat
4. Pemeriksaan dilakukan setelah pasien beristirahat minimal 5 menit.
76 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

C. Tahap Pelaksanaan
Pemeriksaan dinding dada secara berurutan adalah inspeksi, palpasi, perkusi
dan auskultasi. Pemeriksaan dilakukan terhadap dinding dada posterior dan
anterior. Pemeriksaan dinding dada posterior dilakukan terlebih dahulu dengan
pasien dalam keadaan duduk. Pemeriksa duduk di belakang pasien.
Setelah semua pemeriksaan dinding dada posterior (inspeksi s/d auskultasi)
selesai, dilakukan pemeriksaan dinding dada anterior, pasien dalam keadaan
berbaring terlentang dengan kedua lengan dalam posisi sedikit abduksi. Pasien
dengan kesulitan bernapas diperiksa dalam keadaan duduk atau berbaring
dengan kepala lebih tinggi atau dalam posisi yang nyaman untuk pasien.
Jika pasien tidak dapat duduk sendiri, mintalah bantuan asisten untuk
memegangi pasien atau baringkan pasien dan gulingkan ke satu sisi. Lakukan
pemeriksaan fisik pada satu sisi dada, kemudian lakukan pemeriksaan di sisi
kontralateral dengan menggulingkan pasien ke sisi yang lain.

INSPEKSI
Ictus
Pada orang dewasa normal yang agak kurus, seringkali tampak dengan mudah
pulsasi yang disebut ictus cordis pada sela iga V, linea medioclavicularis kiri. Pulsasi
ini letaknya sesuai dengan apeks jantung. Diameter pulsasi kira-kira 2 cm, dengan
punctum maksimum di tengah-tengah daerah tersebut. Pulsasi timbul pada waktu
sistolis ventrikel. Bila ictus kordis bergeser ke kiri dan melebar, kemungkinan adanya
pembesaran ventrikel kiri. Pada pericarditis adhesive, ictus keluar terjadi pada waktu
diastolis, dan pada waktu sistolis terjadi retraksi ke dalam. Keadaan ini disebut ictus
kordis negatif.

PALPASI
Dengan pemeriksaan palpasi dada kita menilai :
1. Adanya kelainan/lesi pada kulit, massa, nyeri tekan lokal dan kemungkinan
adanya fraktur.
2. Letak iktus kordis
Dengan palpasi kita mencari iktus kordis (bila tidak terlihat pada inspeksi)
dan mengkonfirmasi karakteristik iktus kordis. Palpasi dilakukan dengan cara:
77 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

meletakkan permukaan palmar telapak tangan atau bagian 1/3 distal jari II, II dan IV
atau dengan meletakkan sisi medial tangan, terutama pada palpasi untuk meraba
thrill. Identifikasi BJ1 dan BJ2 pada iktus kordis dilakukan dengan memberikan
tekanan ringan pada iktus.
Bila iktus tidak teraba pada posisi terlentang, mintalah pasien untuk
berbaring sedikit miring ke kiri (posisi left lateral decubitus) dan kembali lakukan
palpasi. Jika iktus tetap belum teraba, mintalah pasien untuk inspirasi dan ekspirasi
maksimal kemudian menahan nafas sebentar.

Gambar 25. Pemeriksaan Palpasi Iktus Kordis (posisi left lateral


decubitus)

Pada saat memeriksa pasien wanita, mammae akan menghalangi


pemeriksaan palpasi. Sisihkan mammae ke arah atas atau lateral, mintalah bantuan
tangan pasien bila perlu.Setelah iktus ditemukan, karakteristik iktus dinilai dengan
menggunakan ujung-ujung jari dan kemudian dengan 1 ujung jari.
Pada beberapa keadaan fisiologis tertentu, iktus dapat tidak teraba, misalnya
pada obesitas, otot dinding dada tebal, diameter anteroposterior kavum thorax lebar
atau bila iktus tersembunyi di belakang kosta. Pada keadaan normal hanya impuls
dari apeks yang dapat diraba. Pada keadaan hiperaktif denyutan apeks lebih
mencolok. Apeks dan ventrikel kiri biasanya bergeser ke lateral karena adanya
pembesaran jantung atau dorongan dari paru (misalnya pada pneumotorak sinistra).
Pada kondisi patologis tertentu, impuls yang paling nyata bukan berasal dari apeks,
78 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

seperti misalnya pada hipertrofi ventrikel kanan, dilatasi arteri pulmonalis dan
aneurisma aorta.
Setelah iktus teraba, lakukan penilaian lokasi, diameter, amplitudo dan durasi
impuls apeks pada iktus.
- Lokasi : dinilai aspek vertikal (biasanya pada sela iga 5 atau 4) dan aspek horisontal
(berapa cm dari linea midsternalis atau midklavikularis). Iktus bisa bergeser ke atas
atau ke kiri pada kehamilan atau diafragma kiri letak tinggi. Iktus bergeser ke lateral
pada gagal jantung kongestif, kardiomiopati dan penyakit jantung iskemi.

Impuls
apeks/
iktus
Linea Linea
mids midkla
tern vikular

Gambar 26. Lokasi Impuls Apeks (Iktus kordis)


- Diameter : pada posisi supinasi, diameter impuls apeks kurang dari 2.5 cm dan
tidak melebihi 1 sela iga, sedikit lebih lebar pada posisi left lateral decubitus.
Pelebaran iktus menunjukkan adanya pelebaran ventrikel kiri.
- Amplitudo : amplitudo iktus normal pada palpasi terasa lembut dan cepat.
Peningkatan amplitudo terjadi pada dewasa muda, terutama saat tereksitasi atau
setelah aktifitas fisik berat, tapi durasi impuls tidak memanjang. Peningkatan
amplitudo impuls terjadi pada hipertiroidisme, anemia berat, peningkatan
tekanan ventrikel kiri (misal pada stenosis aorta) atau peningkatan volume
ventrikel kiri (misal pada regurgitasi mitral). Impuls hipokinetik terjadi pada
kardiomiopati.
79 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

- Durasi : untuk menilai durasi impuls, amati gerakan stetoskop saat melakukan
auskultasi pada apeks atau dengarkan bunyi jantung dengan stetoskop sambil
mempalpasi impuls apeks. Normalnya durasi impuls apeks adalah 2/3 durasi
sistole atau sedikit kurang, tapi tidak berlanjut sampai terdengar BJ2.

Dengan palpasi dapat ditemukan adanya gerakan jantung yang menyentuh


dinding dada, terutama jika terdapat peningkatan aktifitas ventrikel, pembesaran
ventrikel atau ketidakteraturan kontraksi ventrikel.

Jika pada posisi berbaring terlentang iktus kordis tidak teraba maka dapat
dilakukan dengan posisi pasien berbaring miring ke kiri (left lateral decubitus) atau
duduk membungkuk ke depan.

Gambar Daerah palpasi/Auskultasi jantung


PERKUSI
Kegunaan perkusi adalah menentukan batas-batas jantung. Pada penderita
emfisema paru terdapat kesukaran perkusi batas-batas jantung. Selain perkusi batas-
batas jantung, juga harus diperkusi pembuluh darah besar di bagian basal jantung.
Pada keadaan normal antara linea sternalis kiri dan kanan pada daerah
manubrium sterni terdapat pekak yang merupakan daerah aorta. Bila daerah ini
melebar, kemungkinan akibat aneurisma aorta. Pada pemeriksaan selalu bandingkan
kanan dan kiri.
80 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Gambar Daerah perkusi batas jantung

Pada pemeriksaan perkusi ditentukan batas-batas jantung, karena daerah


jantung terdengar pekak. Dengan demikian, dapat ditentukan ukuran jantung
apakah lebih besar dari pada batas-batas normal ataukah tidak membesar.
Pembesaran jantung yang dapat diperiksa dengan perrkusi adalah pembesaran
ventrrikel kiri, yaitu dapat membessar kekiri agak ke bawah.
Pembesaran ventrikel kanan kurang dapat ditentukan dengan perkusi karena
pembesarannya lebih ke arah antero posterior. Perkusi pada pasien gemuk atau
sangat berotot akan menyulitkan penetuan batas-batas jantung dengan baik.

AUSKULTASI
Auskultasi memberikan kesempatan mendengarkan perubahan-perubahan
dinamis akibat aktivitas jantung. Auskultasi jantung berguna untuk menemukan
bunyi-bunyi yang diakibatkan oleh adanya kelainan struktur jantung dan perubahan-
perubahan aliran darah yang ditimbulkan selama siklus jantung. Untuk dapat
mengenal dan menginterpretasikan bunyi jantung dengan tepat, mahasiswa perlu
mempunyai dasar pengetahuan tentang siklus jantung.
Bunyi jantung diakibatkan karena getaran dengan masa amat pendek. Bunyi
yang timbul akibat aktifitas jantung dapat dibagi dalam :
81 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

• BJ1 : disebabkan karena getaran menutupnya katup atrioventrikuler terutama


katup mitral, getaran karena kontraksi otot miokard serta aliran cepat saat katup
semiluner mulai terbuka. Pada keadaan normal terdengar tunggal.
• BJ2 : disebabkan karena getaran menutupnya katup semilunaris aorta maupun
pul-monalis. Pada keadaan normal terdengar pemisahan (splitting) dari kedua
komponen yang bervariasi dengan pernafasan pada anak-anak atau orang muda.
• BJ3 : disebabkan karena getaran cepat dari aliran darah saat pengisian cepat (rapid
filling phase) dari ventrikel. Hanya terdengar pada anak-anak atau orang dewasa
muda (fisiologis) atau keadaan dimana komplians otot ventrikel menurun (hiper-
trofi/ dilatasi).
• BJ4 : disebabkan kontraksi atrium yang mengalirkan darah ke ventrikel yang
kompliansnya menurun. Jika atrium tak berkontraksi dengan efisien misalnya
fibrilasi atrium maka bunyi jantung 4 tak terdengar.

• Bunyi jantung sering dinamakan berdasarkan daerah katup dimana bunyi


tersebut didengar. M1 berarti bunyi jantung satu di daerah mitral, P2 berarti bunyi
jantung kedua di daerah pulmonal. Bunyi jantung 1 normal akan terdengar jelas di
daerah apeks, sedang bunyi jantung 2 dikatakan mengeras jika intensitasnya
terdengar sama keras dengan bunyi jantung 1 di daerah apeks.

Auskultasi dimulai dengan meletakkan stetoskop pada sela iga II kanan di


dekat sternum, sepanjang tepi kiri sternum dari sela iga II sampai V dan di apeks.
Bagian diafragma stetoskop dipergunakan untuk auskultasi bunyi jantung dengan
nada tinggi seperti BJ1 dan BJ2, bising dari regurgitasi aorta dan mitral serta bising
gesek perikardium. Bagian mangkuk stetoskop (bell) yang diletakkan dengan tekanan
ringan lebih sensitif untuk suara-suara dengan nada rendah seperti BJ3 dan BJ4 serta
bising pada stenosis mitral. Letakkan bagian mangkuk stetostop pada apeks lalu
berpindah ke medial sepanjang tepi sternum ke arah atas.

Cara askultasi :
1. Lakukan auskultasi di seluruh prekordium dengan posisi pasien terlentang.
2. Pasien berbaring miring ke kiri (left lateral decubitus) sehingga ventrikel kiri lebih
dekat ke permukaan dinding dada (gambar 27).
- Tempatkan bagian mangkuk dari stetoskop di daerah impuls apeks (iktus).
82 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

- Posisi ini membuat bising-bising area katub mitral (misalnya pada stenosis
mitral) dan bunyi jantung akibat kelainan bagian kiri jantung (misalnya BJ3
dan BJ4) lebih jelas terdengar.

Gambar 27.Teknik Auskultasi pada Posisi Left Lateral Decubitus


3. Pasien diminta untuk duduk dengan sedikit membungkuk ke depan (gambar 28)

Gambar 28. Teknik Auskultasi dengan Posisi Duduk dengan Sedikit


Membungkuk ke Depan

- Mintalah pasien untuk melakukan inspirasi dan ekspirasi maksimal


kemudian sejenak menahan nafas.
- Bagian diafragma dari stetoskop diletakkan pada permukaan auskultasi
dengan tekanan ringan.
83 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

- Lakukan auskultasi di sepanjang tepi sternum sisi kiri dan di apeks, dengan
secara periodik memberi kesempatan pasien untuk mengambil nafas.
- Posisi ini membuat bising-bising yang berasal dari daerah aorta lebih jelas
terdengar.

Referensi:
1. Bate’s Guide to Physical Examination and History Taking, electronic version, 115-
208
2. Atlas Anatomi Sobotta
3. Fisiologi Guyton
84 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

CHECKLIST PEMERIKSAAN FISIK JANTUNG

Nama Mahasiswa :
BP : Kelompok:
No. Aspek Penilaian Nilai
0 1 2
1. Memberikan salam dan memperkenakan diri
2. Menginformasi kepada pasien tentang tujuan dari
pemeriksaan dan meminta kesedian pasien
3. Menyuruh pasien membuka baju, tidur terlentang atau
posisi duduk sesuai dengan pemeriksaan yang akan
dilakukan.
4. Mengambil posisi berdiri disebelah kanan pasien
INSPEKSI
5. Melakukan linea-linea imajiner pada toraks
6. Mendeskripsikan apex cordis: terlihat/tidak terlihat.
PALPASI
7. Meletakkan permukaan palmar telapak tangan atau
bagian 1/3 distal jari II, II dan IV atau dengan
meletakkan sisi medial tangan, terutama pada palpasi
untuk meraba thrill
PERKUSI
8 Mampu menentukan batas-batas jantung (dalam batas
normal atau tidak)
AUSKULTASI
9 Melakukan auskultasi di seluruh prekordium dengan
posisi pasien terlentang.
JUMLAH SKOR

Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario
yang sedang dilaksanakan).

Nilai Mahasiswa = (Jumlah Skor/18) x 100% = ..............

Padang, 2020

Intruktur
85 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

EKG 1: PEMASANGAN ELEKTRODA

PENDAHULUAN
Pemeriksaan elektrokardiografi merupakan salah satu pemeriksaan penunjang untuk
membantu mendiagnosis penyakit jantung. Bekal pengetahuan yang harus dimiliki
mahasiswa sebelum mempelajari keterampilan Pemeriksaan Elektrokardiografi
(EKG) adalah :
1. Anatomi dinding dada dan jantung (ruang jantung, katub jantung, dan pembuluh
darah besar).
2. Fisiologi jantung (siklus jantung, sistem konduksi jantung, dan listrik jantung).

A. ANATOMI JANTUNG

Gambar 1. Anatomi Jatung

Jantung merupakan organ muskular yang terletak di rongga dada. Jantung


terletak di bagian depan dan diapit oleh kedua organ paru. Jantung memiliki bagian
berbentuk meruncing yang disebut apeks jantung, yang pada umumnya mengarah
ke kiri bawah tubuh. Organ jantung dilapisi di bagian luar oleh suatu membran yang
disebut perikardium. Sedangkan jantung sendiri sebagian besar tersusun dari otot
jantung (miokardium). Jantung memiliki empat rongga yaitu atrium dextra, atrium
sinistra, ventrikel dextra dan ventrikel sinistra. Antara bagian kanan dengan kiri
86 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

dipisahkan oleh sekat/septum sehingga darah pada satu sisi tidak bercampur
dengan darah di sisi yang lain.

B. DASAR-DASAR FISIOLOGI
1. Sistem Konduksi Jantung
Secara umum jantung dibentuk oleh tiga jenis sel eksitasi :
- Sel pacemaker sebagai sumber biolistrik jantung
- Sel konduksi sebagai penghantar arus biolistrik jantung
- Sel otot jantung (miokardium) yang berfungsi untuk kontraksi

Komunikasi listrik pada jantung dimulai dengan potensial aksi pada sel
autoritmik. Denyut jantung bersumber dari sistem penghantar jantung khusus dan
menyebar ke semua bagian otot jantung melalui sistem ini. Struktur yang menyusun
sistem penghantar jantung yaitu nodus sinoatrial (nodus SA), nodus atrioventrikel
(nodus AV), berkas his (bundle of his) dan cabangnya, dan sistem purkinje. Pada
keadaan normal nodus SA merupakan pacemaker utama.
Depolarisasi dimulai di nodus SA, sel autoritmik di atrium kanan yang
berfungsi sebagai picu jantung utama. Kemudian depolarisasi menyebar dengan
cepat melalui sistem hantar khusus serat autoritmik non-kontraktil. Suatu jaras
internodal menghubungkan nodus SA dengan nodus AV, suatu kelompok sel
autorikmik di dekat dasar atrium kanan. Dari nodus AV, depolarisasi menjalar ke
ventrikel. Serat purkinje, sel hantar khusus, meneruskan sinyal listrik dengan cepat di
sepanjang berkas AV yang disebut berkas his pada septum ventrikel. Di bagian awal
septum, berkas AV terbagi dua menjadi berkas cabang kanan dan kiri. Kedua cabang
berkas berjalan menuju apeks jantung dan selanjutnya terbagi menjadi cabang
purkinje yang menyebar di antara sel-sel kontraktil (dapat dilihat pada gambar di
bawah ini)
87 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Gambar 2. Sistem hantar pada jantung

2. Siklus Jantung
Proses depolarisasi teratur pada jantung memicu suatu kontraksi yang
menyebar melalui miokardium. Di setiap serabut otot, kontraksi dimulai tepat setelah
depolarisasi. Jantung berkontraksi dan berelaksasi selama satu siklus jantung. Setiap
siklus jantung memiliki dua fase yaitu diastolik dan sistolik. Atrium dan ventrikel
tidak bersamaan ketika mengalami kontraksi dan relaksasi. Penjelasan siklus jantung
dapat dilihat pada gambar berikut :
88 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Gambar 3. Mekanis Siklus Jantung

3. Listrik Jantung dan Elektrokardiografi


Aktifitas listrik jantung merupakan potensial aksi serabut otot jantung. Dalam
teknik pemeriksaan klinik, kita tak dapat meletakkan suatu elektroda ekstraseluler
pada permukaan jantung, apalagi pemasangan mikroelektroda di dalam sel.
Potensial aksi yang ditimbulkan oleh aktifitas jantung cukup besar, sehingga dapat
dihantarkan oleh jaringan-jaringan sekeliling jantung sampai pada permukaan
badan. Sehingga potensial aksi tersebut dapat ditangkap oleh elektroda-elektroda
yang dipasang di permukaan badan. Jaringan sekitar jantung tersebut dinamakan
“volume conductor”.
Impuls jantung menjalar ke bagian-bagian jantung menurut urutan tertentu
secara teratur. Ada kalanya bahwa satu bagian jantung aktif bersifat elektronegatif
pada permukaannya, sedangkan bagian lain yang belum terpacu menjadi
elektropositif pada permukaannya. Selama repolarisasi beberapa bagian jantung
89 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

pulih sebagai sedia kala dan bersifat elektropositif pada permukaan, sedang bagian-
bagian lain masih dalam keadaan terpacu dan bersifat elektronegatif.
Elektrokardiografi (EKG) adalah grafik yang merekam potensial listrik pada jantung
yang dihantarkan ke permukaan badan dan tercatat sebagai perbedaan potensial
pada elektroda-elektroda pada kulit. Perbedaan potensial ini terjadi karena proses
eksitasi yang tidak terjadi simultan pada seluruh jantung. Elektrokardiografi
merepresentasikan aktivitas listrik total pada jantung yang direkam pada permukaan
tubuh. Hal yang harus diingat adalah bahwa elektrokardiografi merupakan
“gambaran” listrik suatu objek tiga dimensi.

4. Peristiwa Listrik pada Siklus Jantung


Setelah kita membahas listrik jantung dan siklus jantung, selanjutnya akan
membahas peristiwa listrik dalam hal ini gelombang listrik pada elektrokardiografi
dikaitkan dengan kontraksi atau relaksasi otot jantung secara umum. Peristiwa
mekanik pada siklus jantung sedikit tertinggal dibanding sinyal listrik jantung
(kontraksi otot jantung mengikuti potensial aksi). Hal ini menjadi alasan mengapa
digunakan banyak lead (sadapan). Siklus jantung dimulai saat atrium dan ventrikel
dalam keadaan istirahat. Sedangkan EKG diawali dengan depolarisasi atrium.
Gambar berikut menjelaskan keterkaitan peristiwa listrik (gelombang) EKG selama
satu siklus kontraksi-relaksasi otot jantung :
90 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Gambar 4. Peristiwa pada Siklus Jantung

C. CARA PEMASANGAN
ELEKTROKARDIOGRAFI 1. Persiapan
Persiapan probandus/pasien
a. Sebaiknya istirahat 15 mnt sebelum pemeriksaan.
b. Bila menggunakan perhiasan/logam supaya dilepas
c. Pasien diminta membuka baju bagian dada
d. Pasien dipersilakan tidur terlentang, posisi pemeriksa berada di sebelah kiri pasien
e. Pasien diusahakan untuk tenang, bernafas normal, selama proses perekaman
tidak boleh bicara
91 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

f. Bersihkan daerah yang akan dipasang elektroda dengan kapas beralkohol


g. Oleskan pasta EKG pada elektroda untuk memperbaiki hantaran listrik.
h. Sebaiknya tidak merokok/makan 30 mnt sebelumnya

Untuk membaca/ interpretasi sebuah EKG, paling sedikit kita harus mempunyai
data-data tentang hal-hal di bawah ini:
a. Umur penderita: karena bentuk EKG normal pada bayi dan anak-anak sangat
berbeda dengan EKG normal orang dewasa.
b. Tinggi, berat dan bentuk badan: orang yang gemuk mempunyai dinding dada
yang tebal, sehingga amplitudo semua komplek EKG lebih kecil, sebab
voltase berbanding berbalik dengan kuadrat jarak elektroda dengan sel otot
jantung.
c. Tekanan darah dan keadaan umum penderita: Hal ini penting apakah
peningkatan voltase pada komplek ventrikel kiri ada hubungannya dengan
kemungkinan hipertofi dan dilatasi ventrikel kiri.
d. Penyakit paru pada penderita: posisi jantung dan voltase dari komplek-
komplek EKG dapat dipengaruhi oleh adanya empisema pulmonum yang
berat, pleural effusion dan lain-lain.
e. Penggunaan obat digitalis dan derivatnya: akan sangat mempengaruhi
bentuk EKG. Maka misalnya diperlukan hasil EKG yang bebas dari efek,
digitalis, perlu dihentikan sekurang-kurangnya 3 minggu dari obat digitalis
tersebut.

Persiapan kertas dan alat EKG :


1. Kertas grafik garis horizontal dan vertikal dengan jarak 1 mm.
2. Garis lebih tebal terdapat pada setiap 5 mm.
3. Garis horizontal menggambarkan
waktu 1 mm = 0,04 detik
5 mm = 0,20 detik
4. Garis vertikal menggambarkan
voltase 1 mm = 0,1 milivolt
10 mm = 1 milivolt
5. Kecepatan perekaman 25 mm/detik.
92 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

6. Kalibrasi 1 milivolt yang menghasilkan defleksi setinggi 10 mm.

2. Lead (Sadapan)
Bila elektrokardiografi dihubungkan dengan dua titik pada tubuh, maka gambaran
spesifik dari tiap pasang hubungan ini disebut lead (sadapan). Jenis lead yang sering
digunakan pada EKG adalah:
a. Lead Ekstremitas Bipolar :
Einthoven, bapak EKG, pada th 1913 menerangkan bahwa dipol jantung dapat
digambarkan pada bidang frontal yang melalui jantung, dan seolah-olah terletak
dipusat daripada segitiga sama sisi, dimana dua sudut terletak sama tinggi di atas
dan puncak ada di bawah. Einthoven menggunakan tiga elektroda yang diletakkan
pada pergelangan tangan dan kaki (limb), sehingga terbentuk tiga lead ekstremitas
bipolar untuk merekam perbedaan potensial arus bioelektrik jantung.
Orientasi polaritas dari sumbu lead ekstremitas bipolar adalah sbb:
1) Lead I : dimana poll negatif dari elektrokardiografi dihubungkan dengan
pergelangan tangan kanan dan poll positif dihubungkan dengan pergelangan
tangan kiri.
2) Lead II : dimana poll negatif dari elektrokardiografi dihubungkan dengan
pergelangan tangan kanan dan poll positif dihubungkan dengan pergelangan
kaki kiri.
3) Lead III : dimana poll negatif dihubungkan dengan pergelangan tangan kiri dan
poll positif dengan pergelangan kaki kiri.

Dengan menggunakan tiga lead tersebut akan membentuk segitiga sama sisi
dengan posisi jantung di tengah. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa tubuh
merupakan volume konduktor yang baik. Jadi lead I sebenarnya mengukur
perbedaan potensial dari semua arus bioelektrik jantung yang merambat horizontal.
Demikian pula lead II dan III masing-masing akan mengukur perbedaan potensial
dari semua arus bioelektrik jantung yang membentuk sudut 60° dari kuadran kiri
atas ke kanan bawah, dan dari kuadran kanan atas ke kiri bawah.
93 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Gambar 5. Lead Ekstrimitas Bipolar

b. Lead Ekstremitas Unipolar


Pada pencatatan ini 2 anggota dihubungkan dengan terminal tahanan listrik negatif
elektrokardiografi, sedangkan anggota ke 3 dihubungkan dengan terminal tahanan
listrik positif sehingga terdapatlah 3 macam lead:
1) aVR = bila terminal positif dihubungkan dengan lengan kanan
2) aVL = bila terminal positif dihubungkan dengan lengan kiri
3) aVF = bila terminal positif dihubungkan dengan kaki kiri

Gambar 6. Lead Ekstrimitas Unipolar


94 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

c. Lead Prekordial
Pemeriksaan EKG juga memerlukan pemasangan lead pada dinding depan dada di
atas jantung. Lead ini dihubungkan dengan terminal positif pada elektrokardiografi,
dan elektroda negatif atau disebut pula elektroda indifferens biasanya dihubungkan
melalui tahanan listrik pada lengan kanan, lengan kiri dan kaki kiri bersamaan. Pada
elektroda indifferens ini dibuat selalu berpotensial nol (0).
Pemasangan lead hanya dengan satu elektroda yang aktif, dinamakan unipolar lead.
Dibedakan 6 macam lead prekordial, yaitu:
V1 = elektroda positif pada spatium intercostale (s.i.c) IV lateral linea sternalis kanan
V2 = elektroda positif pada s.i.c. IV lateral linea sternalis kanan
V3 = antara V2 dan V4
V4 = elektroda positif pada s.i.c V pada linea medio klavikularis kiri
V5 = elektroda positif pada s.i.c V pada linea aksilaris anterior kiri
V6 = elektroda positif pada s.i.c V pada linea aksilaris medialis kiri

Gambar 7. Lokasi pemasangan lead perikordial


3. Pemasangan dan Perekaman EKG
Setelah pasien dan mesin EKG dipersiapkan, selanjutnya dilakukan tahapan sbb:
1. Pasang elektroda sesuai dengan lead masing-
masing a. Lead ekstremitas bipolar dan unipolar
Lead I, II dan III dipasang pada pergelangan tangan kanan dan kiri serta
pergelangan kaki kanan dan kiri
95 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

b. Pergelangan tangan kanan dipasang elektroda yang berwarna merah.


Pergelangan tangan kiri dipasang elektroda yang berwarna kuning.
Pergelangan kaki kanan dipasang elektroda yang berwarna hitam.
Pergelangan kaki kiri dipasang elektroda yang berwarna hijau
c. Lead prekordial
1) Pasang lead V1 pada spatium intercostale IV lateral linea sternalis kanan
2) Pasang lead V2 pada spatium intercostale IV lateral linea sternalis kiri
3) Pasang lead V3 di antara V2 dan V4
4) Pasang lead V4 pada spatium intercostale V linea medio klavikularis kiri
5) Pasang lead V5 pada spatium intercostale V linea aksilaris anterior kiri
6) Pasang lead V6 pada spatium intercostale V linea aksilaris media kiri

2. Tekan tombol ID (Cardimax®)


a. Isian untuk nomer ID: arahkan kursor ke tulisan ID kemudian tekan enter
kemudian tekan ↑ atau ↓
b. Isian untuk umur: arahkan kursor pada tulisan umur kemudian tekan enter
kemudian tekan ↑ atau ↓
c. Isian untuk jenis kelamin: arahkan kursor pada tulisan SEX kemudian tekan
enter kemudian tekan → atau ←
d. Apabila tersedia komputer dan bisa disambungkan, isikan nama probandus.
e. Pilih mode auto/manual kemudian tekan enter kemudian tekan mode lagi
untuk keluar
1) Auto : tekan start tunggu sampai tercetak semua lead dan kesimpulan
interpretasi hasil EKG
2) Manual : tekan start untuk merekam satu persatu setiap lead secara
manual kemudian tekan stop
f. Hasil akan terekam pada kertas EKG. Lakukan interpretasi hasil EKG
tersebut

g. Lepas semua lead dan bersihkan sisa pasta EKG dengan kapas beralkohol
96 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

DAFTAR PUSTAKA
1. Baltazar, R.F., (2013). Basic and Bedside Electrocardiography. Baltimore,MD :
Lippincott Williams & Wilkins.
2. Guyton, A.C dan Hall. J.E (2008). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 11. Jakarta :
EGC.
3. Kabo, P dan Karim, S (2007). EKG dan Penanggulangan Beberapa Penyakit
Jantung untuk Dokter Umum. Jakarta : FK UI.
4. Netter, F.H (2014). Atlas of human anatomy. 6th ed: Elsevier.
5. Silverthorn, Dee Unglaub., (2013). Fisiologi Manusia. Jakarta : EGC.
97 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

CHECKLIST PENILAIAN KETERAMPILAN PEMERIKSAAN EKG

Nama :
NPM :

No Aspek Penilaian Nilai


0 1 2
1. Mengucapkan salam dan memperkenalkan diri
2. Menjelaskan pada pasien pemeriksaan yang akan dilakukan
3. Mencuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan
Persiapan probandus/pasien
4. Bila menggunakan perhiasan/logam supaya dilepas
5. Pasien diminta membuka baju bagian dada
6. Pasien disuruh tidur terlentang, posisi dokter di kanan pasien
7. Pasien diusahakan untuk tenang, bernafas tenang, selama proses
perekaman tidak boleh bicara
8. Bersihkan daerah yang akan dipasang elektroda dengan kapas
beralkohol
9 Oleskan pasta EKG pada elektroda untuk menghindari
kemungkinan terjadinya syok listrik
10. Memasang Lead ekstremitas bipolar dan unipolar
Memasang Lead prekordial
11. Pasang lead V1
12. Pasang lead V2
13. Pasang lead V3
14. Pasang lead V4
15. Pasang lead V5
16 Pasang lead V6
17. Melepas semua lead dan membersihkan sisa pasta EKG dengan
kapas beralkohol
18. Menutup sesi pemeriksaan
SKOR TOTAL
Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa
1 Dilakukan, tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna, atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa
karena situasi yang tidak memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam skenario
yang sedang dilaksanakan).

Nilai Mahasiswa = (Jumlah Skor/36) x 100% = ...............

Padang, 2020

Instruktur
98 | K e t e r a m p i l a n K l i n i k D a s a r 1

Anda mungkin juga menyukai