Anda di halaman 1dari 5

NAMA : PRIMARY MORALITY H

NIM : 201410260311076

HUBUNGAN PARAMETER KUALITAS AIR


DENGAN PERAIRAN BUDIDAYA

Dalam praktikum Menejemen Kualitas Air yang dilakukan terdapat 3


parameter yang diamati dalam kegiatan praktikum ini yaitu parameter kimia,
parameter fisika dan parameter biologi. Dalam lingkup parameter kimia terdapat
beberapa aspek yang di amati di antaranya yaitu Do, pH, BOD (jumlah kebutuhan
oksigen untuk biota perairan), TOM (bahan organik terlarut), dan Amonniak.
Sedangkan untuk parameter fisika aspek yang diamati ialah suhu, warna air dan
kecerahan. Kemudian untuk parameter biologi aspek yang di amati ialah
plankton.

1. Parameter kimia
a. Do
Do atau oksigen terlarut sangat penting bagi organisme
perairan juga jumlahnya dalam air tidak mencukupi maka segala
aktifitas dan proses pertumbuhannya akan mengganggu, karena
oksigen di butuhkan untuk respirasi. Kebutuhan DO dalam
perairan tergantung dari umur, aktifitas dan kondis perairan.
b. pH
PH yang ideal bagi kehidupan organisme akuatik pada
umumnya berkisar antara 7 sampai 8,5.Kondisi perairan yang
bersifat asam maupun basa akan membahayakan kelangsungan
hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan
metabolisme dan respirasi.Disamping itu PH yang sangat rendah
akan menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam berat yang
bersifat toksik semakin tinggi yang tentunya akan mengancam
kelangsungan hidup organisme akuatik.Sementara PH yang tinggi
akan menyebabkan keseimbangan antara ammonium dan
ammoniak dalam air akan terganggu, dimana kenaikan PH diatas
netralakan meningkat konsentrasi ammoniak yang jga sangat
toksik bagi organisme.
c. BOD
BOD atau Biochemical Oxygen Demand adalah suatu
karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang
diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya bakteri) untuk mengurai
atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik. Bahan
organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik
yang siap terdekomposisi (readily decomposable organic matter).
BOD dapat diartikan sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang
digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan
sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat
diurai. Berdasarkan pengertian ini dapat dikatakan bahwa
walaupun nilai BOD menyatakan jumlah oksigen, tetapi untuk
mudahnya dapat juga diartikan sebagai gambaran jumlah bahan
organik mudah urai (biodegradable organics) yang ada di perairan.
d. TOM
Tingginya kadar TOM karena habitat tersebut berupa rawa
dan ditumbuhi vegetasi air yang banyak memasok serasah.
Pergerakan air yang lemah serta adanya aliran inlet dari Sungai
lain, juga menunjang tingginya komponen debu dan liat pada
sedimen yang akan banyak menyimpan TOM. Sedimen dengan
ukuran partikel lebih halus umumnya memiliki kandungan bahan
organik lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran partikel yang
lebih besar. Semakin halus tekstur substrat semakin besar
kemampuannya menjebak bahan organic.
Kadar TOM dalam sedimen mencirikan tingkat
kesuburan suatu perairan.Kadar TOM <17% ( dari berat kering
sedimen) menunjukkan tipe oligotrof, sedangkan kadar TOM >30
% mencirikan type eutrofik.

e. Amoniak
Amonia di perairan bersumber dari pemecahan nitrogen
organik (protein dan urea) dan nitrogen anorganik (tumbuhan dan
biota perairan yang telah mati) oleh mikroba jamur (proses
amonifikasi). Amonia jarang ditemukan pada perairan yang
mendapat cukup pasokan oksigen. Kadar amonia di perairan alami
biasanya tidak lebih dari 0,1 mg/liter.
            Amonia banyak digunakan dalam proses produksi urea,
industri bahan kimia,serta industri bubur kertas. Kadar amonia
yang tinggi dapat merupakan indikasi adanya pencemaran bahan
organik yang berasal dari limbah domestik, industri, dan limpahan
pupuk (run off) pupuk pertanian .
Efendi (2000) dalam S.Y. Srie Rahayu, dkk(2007) mengatakan
bahwa, feses biota akuatik merupakan limbah aktivitas
metabolisme yang banyak mengeluarkan amoniak. Pescod(1973)
mengatakan bahwa batas toleransi maksimum fitoplankton
terhadap kandungan amonia di perairan adalah 0,2 mg/l.

2. Parameter fisika
a. Suhu
Selain itu suhu air sangat berpengaruh terhadap jumlah oksigen
terlarut didalam air. Jika suhu tinggi, air akan lebih lekas jenuh
dengan oksigen dibanding dengan suhunya rendah. Kisaran suhu
air yang sangat diperlukan agar pertumbuhan ikan ikan pada
perairan tropis dapat berlangsung berkisar antara 25 C – 32 C.
Suhu air sangat berpengaruh terhadap proses kimia, fisika dan
biologi di dalam perairan, sehingga dengan perubahan suhu pada
suatu perairan akan mengakibatkan berubahnya semua proses
didalam perairan. Hal ini dilihat dari peningkatan suhu air maka
kelarutan oksigen akan berkurang. Dari hasil penelitian diketahui
bahwa peningkatan 10 C suhu perairan mengakibatkan
meningkatnya konsumsi oksigen oleh organisme akuatik sekitar 2
– 3 kali lipat, sehingga kebutuhan oksigen oleh organisme akuatik
itu berkurang.
b. Warna air

Kriteria warna air kolam yang dapat dijadikan acuan standar dalam
pengelolaan kualitas air adalah sbb :

1. Warna air kolam hijau, menunjukkan adanya dominansi


fitoplankton chlorophyceae dengan sifat lebih stabil terhadap
perubahan lingkungan dan cuaca karena mempunyai waktu
mortalitas yang relatif panjang.

2. Warna air kolam kecoklatan menunjukkan adanya dominansi


zooplankton jenis diatomae. Jenis plankton ini dapat sebagai
penyuplai pakan alami bagi ikan, sehingga tingkat pertumbuhan
dan perkembangan ikan relatif lebih cepat, jika pengelolaannya
tidak cermat kestabilan kualitas perairan akan bersifat fluktuatif
dan akan mengganggu tingkat kenyamanan ikan di dalam kolam.

3. Warna air kolam kemerahan yang berarti menunjukkan


dominansi fotosintetic bacteria, semakin tingginya bahan organik,
disertai menurunnya kelarutan oksigen (DO) akibat BOD yg
meningkat, menurunnya pH air karena kelarutan asam organik yg
cukup tinggi menyebabkan tumbuhnya bakteri fotosintetik. Bakteri
Fotosintetik merupakan bakteri yang mempunyai kemampuan
melakukan fotosintesis tanpa membentuk molekul oksigen. Bakteri
ini dapat menggunakan donor electron dari senyawa sulphur
(H2S), disamping sumber nitrogen seperti amonia dan nitrit untuk
pertumbuhannya.
c. Kecerahan
Kecerahan atau tingkat kekeruhan air pada hakekatnya
menunjukkan populasi plankton dan kandungan material lainya
yang terlarut dalam air, biasanya diukur dengan menggunakan
secci disk atau Turbidity Meter. Kecerahan yang baik berkisar
antara 30 – 40 cm, karena pada kondisi itu populasi plankton cukup
ideal untuk pakan alami dan material terlarut cukup rendah. Pada
awal budidaya, biasanya kecerahan air tinggi (50 cm hingga dasar
kolam) karena populasi plankton masih rendah dan air masih
bersih. Semakin lama usia budidaya, kecerahan makin rendah
(hingga 10 cm).
Untuk mempertahankan kecerahan yang ideal, selalu
dilakukan ganti air baru secara rutin atau setiap ada indikasi
penurunan kecerahan dan dilengkapi dengan perlakuan bahan-
bahan pembuat stabil kondisi air (stabilizer). Kecerahan yang ideal
juga menunjukkan kondisi air yang baik, karena penurunan
kualitas air banyak disebabkan oleh tingginya kadar bahan organik
dan anorganik terlarut.  Disamping itu, plankton yang terlalu tinggi
populasinya menyebabkan tingginya pH pada siang hari dan
punurunan  drastis kadar DO pada malam hari terutama jika
plankton yang dominan adalah phytoplankton.

3. Parameter biologi
a. Plankton
Menurut Manza (2010), plankton adalah organisme yang
menyumbang 80% kebutuhan oksigen yang ada di bumi ini.
Dengan kemampuannya berespirasi, plankton (fitoplankton)
menghasilkan gelembung-gelembung oksigen, Selain sebagai
pakan alami yang sangat bermanfaat bagi ikan. Kelimpahan
plankton yang terlalu banyak juga dapat menimbulkan blooming
algae dan eutrifikasi perairan. Menurut Suryanto (2006), perairan
seringkali mengalami stratifikasi suhu akibat terhalangnya sinar
matahari untuk mencapai sampai ke dasar perairan. pH dilapisan
epilimnion (permukaan yang tertembus sinar) cukup bagus
sehingga dapat mendukung pertumbuhan fitoplankton. Unsur
fosfor dilapisan epilimnion sedikit sekali, karena unsur fosfor
digunakan secara besar-besaran oleh fitoplankton yang melimpah
di permukaan perairan.