Anda di halaman 1dari 49

TEKNIK PEMBESARAN LOBSTER PASIR (Panulirus homarus)

DI BALAI BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA


LAUT GONDOL (BBPPBL) GONDOL, BALI

LAPORAN
PRAKTEK KERJA LAPANG

UntukMemenuhiPersyaratan Salah SatuTugasAkhir

DisusunOleh :
MUHAMMAD ABDUL QODIR JAELANI
NIM: 201410260311084

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN – PETERNAKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
HALAMAN PENGESAHAN

USULAN PRAKTIK KERJA LAPANG

Nama : Muhammad Abdul Qodir Jaelani


NIM : 201410260311084
Jurusan : Perikanan
Fakultas : Pertanian–Peternakan
Judul : Teknik PembesaranLobster Pasir(Panulirus homarus) di Balai
Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut Gondol
(BBPPBL) Gondol, Bali

Laporan telah diterimasebagaipersyaratanuntuktugasakhir


Program StudiBudidayaPerairanFakultasPertanian – Peternakan
UniversitasMuhammadiyah Malang

Mengesahkan
Katua JurusanPerikanan Pembimbing

Riza Rahman Hakim, S.Pi., M.Sc. Anis Zubaidah, S.Pi., M.Si.


NIP :105.0501.0424

A.n. Dekan
PembantuDekan I

Dr.Ir. Aris Winaya, MM., M.Si.


NIP : 1964054 199003 1 002

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat, taufiq, serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Lapang ini dapat terselesaikan tepat waktu.
Dengan tersusunnya Laporan Praktek Kerja Lapang(PKL) ini, penulis
telah banyak mendapatkan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Riza Rahman Hakim, SPi., M. Sc selaku Ketua Jurusan Perikanan atas
petunjuk dan arahan yang telah diberikan dalam penyusunan Laporan praktek
kerja lapang (PKL) ini.
2. Ibu Anis Zubaidah, SPi., MSiselaku Dosen Pembimbing yang telah
meluangkan waktu, memberi bimbingan, petunjuk serta arahan kepada
penulis.
3. Orang tua beserta keluarga yang telah memberikan motivasi, do’a Selain itu
juga dengan memberikan material kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa penyusunan Laporan ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun dari pembaca demi kesempurnaan Laporanpraktek kerja lapang
(PKL) ini.

Malang, 22 Desember2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................i
USULAN PRAKTIK KERJA LAPANG..............................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
DAFTAR TABEL..................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................vi
BAB IPENDAHULUAN........................................................................................1
1.1. Latar Belakang..........................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah.....................................................................................2
1.3. Tujuan........................................................................................................2
1.4. Manfaat......................................................................................................3
1.5. Luaran........................................................................................................3
BAB IITINJAUAN PUSTAKA.............................................................................4
2.1. Klasifikasi..............................................................................................4
2.2. Morfologi...............................................................................................4
2.3. Jenis Kelamin.........................................................................................5
2.4. Karakteristik..........................................................................................5
2.5. Habitat....................................................................................................7
2.6. Reproduksi dan Daur Hidup..................................................................8
2.7. Parameter Kualitas Air........................................................................10
2.8. Kendala Pembesaran Lobster Pasir (Panulirus homarus)...................11
2.9. Penyakit yang menyerang Lobster Pasir (Panulirushomarus)............11
BAB IIIMateri dan Metode.................................................................................13
3.1. Waktu dan Tempat...........................................................................13
3.2. Alat dan Bahan.................................................................................13
BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN..............................................................16
4.1. Keadaan Umum Lokasi................................................................16
4.1.1. Sejarah Perkembangan.............................................................16

iii
4.1.2. Letak Geografis.......................................................................16
4.1.3. Struktur Organisasi..................................................................17
4.1.4. Visi dan Misi............................................................................18
4.2. Prasarana dan Sarana....................................................................19
4.2.1. Prasarana..............................................................................19
4.3. Biologi Lobster Pasir (Panulirus homarus).................................24
4.4. Teknik Pembesaran Lobster Pasir (Panulirus homarus)...............26
4.5. Analisa dan Pengembangan Usaha...............................................34
BAB VPENUTUP.................................................................................................36
5.1. Kesimpulan...................................................................................36
5.2. Saran…………………………………………………………….36
DAFTAR PUSTAKA
Lampiran

iv
DAFTAR TABEL

No Teks Halaman
1. Tabel Parameter Kualitas Air....................................................................... 12

2. Jadwal Kegiatan............................................................................................ 15

v
DAFTAR GAMBAR

No Teks Halaman

1.Morfologi Lobster air laut (Panulirus homarus)............................................. 5

2.Siklus Hidup Lobster (Panulirus homarus)..................................................... 11

vi
BAB I

PENDAHULUAN

5.1. Latar Belakang


Perikanan Indonesia terdiri dari perairan tawar, payau dan laut dimana dari
ketiga media tersebut sangat berpontensi untuk dilakukan kegiatan budidaya,
Salah satunya adalah pembesaran lobster pasir (Panulirus homarus). Lobster
mudah dikenal karena bentuknya lebih besar dibandingkan dengan udang-udang
lain. Selain bentuk tubuh yang lebih besar, kerangka kulit lobster kaku, keras dan
mempunyai zat kapur. Sedang udang kulitnya tipis, bening, tembus cahaya dan
terdiri atas zat khitin. Hampir seluruh tubuh lobster terdapat duri-duri besar-kecil
yang kokoh dan tajam-tajam, mulai dari ujung sungut kedua (second antena),
kepala bagian belakang badan dan lembaran ekornya.
Lobster atau dikenal sebagai udang raksasa merupakan sumber makanan
penghasil protein tinggi, yakni sebesar 28 gram. Dalam satu cangkir daging
lobster mengandung 129 kalori, selain itu terdapat karbohidrat, serat, juga
beberapa vitamin yang baik untuk tubuh. Salah satunya adalah vitamin B niasin,
B6, juga B12. Selain itu juga terdapat vitamin E, A serta vitamin C yang memiliki
kadar lebih sedikit dari kumpulan vitamin B.
Prospek kedepannya selain untuk impor dan juga ekspor, kebutuhan pasar
dalam negeri juga meningkat seiring dangan meningkatnya arus wisatawan manca
negara, mengingat sebagian besar konsumen lobster adalah orang asing.
Peningkatan permintaan lobster biasanya diikuti dengan peningkatan harga. Selain
itu, tingginya harga lobster juga disebabkan oleh terbatasnya volume produksi.
Penetapan harga lobster biasanya didasarkan pada jenis, ukuran, dan kondisi fisik
lobster itu sendiri.
Harga lobster tergolong tinggi baik di pasar domestik maupun pasar
ekspor.  Nilai lobster yang tinggi dan akses pasar yang lancar mendorong
penangkapan lobster di alam dilakukan secara intensif.Di Indonesia terdapat enam
jenis lobster, namun yang banyak dikenal oleh masyarakat hanya dua jenis, yaitu
lobster mutiara (Panulirus versicolor) dan lobster bambu (Panulirus penicillatus).
Harga lobster mutiara biasanya lebih tinggi, dapat mencapai 2-3 kali lipat

1
dibandingkan dengan lobster bambu. Kondisi fisik (morfologis) lobster pun sangat
menentukan tingakat harga. Lobster yang masih hidup, sehat, dan tidak cacat
cenderung lebih mahal. Sementara, lobster yang cacat atau mati, harganya jauh
lebih murah untuk semua jenis.
Harga lobster relatif stabil. Jika mengalami fluktuasi (pada musim lobster),
perubahannya relatif kecil. Mengingat permintaan negara-negara pengimpor
lobster yang hingga saat inibelum terpenuhi, serta harga lobster yang cenderung
meningkat. Hal ini merupakan peluang bagi para nelayan dan pembudidaya untuk
mengembangkan usaha budidaya lobster. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Budidaya Laut Gondol merupakan salah satu Balai yang saat ini
mengembangkan teknik pembesaran lobster air laut. Melihat nilai ekonomis
lobster yang tinggi maka penguasaan teknik pembesaran lobster ini dinilai
merupakan hal yang penting. Oleh sebab itu diusulkan Praktek Kerja Lapangan
dengan judul Teknik Pembesaran Lobster Pasir (Panulirushomarus) di Balai
Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL) Gondol Bali.

5.2. Rumusan Masalah


Mengacu pada latar belakang yang sudah diuraikan diatas dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana teknik pembesaran lobster pasir(Panalirus homarus) di BBPPBL
Gondol?
2. Sarana dan Prasarana apa saja yang di butuhkan dalam pembesaran lobster
pasir (Panulirus homarus) di BBPPBL Gondol?
3. Apa saja faktor yang mempengaruhi kegiatan pembesaran lobster
pasir(Panulirushomarus) BBPPBL Gondol?

5.3. Tujuan
Tujuan dari diadakannya Kegiatan Praktik Kerja Lapangan adalah sebgai
berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana teknik pembesaran lobster pasir(Panalirus
homarus) di BBPPBL Gondol
2. Untuk mengetahui Sarana dan Prasarana apa saja yang di butuhkan dalam
pembesaran lobster pasir(Panulirus homarus) di BBPPBL gondol.

2
3. Untuk mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi kegiatan pembesaran
lobster pasir (Panulirushomarus) BBPPBL Gondol

5.4. Manfaat
Manfaat dari pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan di balai besar penelitian
dan pengembangan budidaya laut gondol (BBPPBL) gondol, baliadalah:
1. Memperoleh gambaran tentang perusahaan budidaya lobsterdari segi proses
awal budidaya, sampai pemanenan.
2. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan menambah wawasan di bidang
perikanan, khususnya manajemen pembesaran lobster.
3. Membandingkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didapat dari
perkuliahan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diterapkan di
lapangan serta menelaah persamaan dan perbedaan yang ada.
4. Melatih mahasiswa untuk bekerja secara mandiri di lapangan dan sekaligus
melatih mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan
pekerjaan yang nantinya akan ditekuni apabila telah lulus.

5.5. Luaran
Proposal Usulan PKL ini dapat dijadikan sebagai sumber ilmu, dan
informasi tentang teknik pembesaran lobster pasir(Panalirus homarus) sehingga
meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman di lapangan sehingga
bisa menjawab permasalahan yang timbul dimasyarakat tentang teknik budidaya
lobster pasir(Panalirus homarus).

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

5.6. Klasifikasi
Menurut Moosa dan Aswandy. (1984), klasifikasi lobster dijelaskan
sebagai berikut : 
Super kelas : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Subkelas : Eumalacostraca
Superord : Eucarida
Ordo : Decapoda
Subordo : Reptantia
Superfamili : Scyllaridae
Famili : Palinuridae
Genus : panulirus
Spesies : Panulirus homarus

5.7. Morfologi
Lempeng antennule dengan empat buah duri terletak terpisah dan tanpa
tambahan duri-duri kecil. Permukaan bagian atas ruas abdomen tidak mempunyai
alur melintang dan tidak mempunyai rambut, kecuali pada bagaian tepi belakang
dan lekuk bagian sisi. Bagian belakang permukaan atas abdomen ditandai oleh
garis putih melintang yang bergerak dari tepi sebelah kiri ke tepi sebelah kanan.
Dalam priode pertumbuhan lobster selalu berganti kulit (molting). Antenna warna
merah muda. Warna lobster bambu ini bervariasi, warna dasar hijau terang dengan
garis putih melintang diapit oleh garis hitam. Udang muda mempunyai warna
dasar kebiruan atau keunguan. Panjang tubuh maximum dapat mencapai 40 cm
dan rata-rata panjang tubuh adalah kurang dari 30 cm(Latreille 2007).

4
Gambar 1. Morfologi Lobster air laut (Panulirus sp.) (Latreille 2007).

5.8. Jenis Kelamin


Jenis kelamin lobster bisa ditentukan dari letak alat kelaminnya. Alat
kelamin jantan terletak diantara kaki jalan kelima, berbentuk lancip, dan menonjol
keluar. Sementara, alat kelamin betina terletak diantara kaki jalan ketiga,
berbentuk dua lancipan. Lobster jantan biasanya berukuran lebih kecil
dibandingakan dengan lobster betina. Hal ini di perkuat oleh Carpenter & Niem
(1998), jenis kelamin lobster di tentukan dengan melihat letak gonopores.
Gonopores lobster jantan terletak pada kaki jalan kelima, sedangkan lobster betina
terletak pada kaki jalan ketiga. Selain dari letaknya, penentuan jenis kelamin
lobster juga dapat di lakjukan dengan memperhatikan ukuran badannya.
5.9. Karakteristik
Sifat dan kelakuan lobster perlu diketahui terlebih dahulu, sebelum
memulai usaha budidaya lobster di kolam secara terkontrol. Ketidaktahuan akan
sifat dan kelakuan lobster seringkali menjadi faktor yang menyebabkan kegagalan
budidaya. Sifat dan kelakuan lobster menurut Carpenter & Niem (1998) diuraikan
sebagai berikut:

1. Sifat Nokturnal
            Sifat nokturnal adalah sifat lobster yang melakukan aktivitasnya pada
malam hari, terutama aktivitas mencari makan. Sementara, pada siang hari lobster
beristirahat dan tinggal di tepi laut berkarang di dekat rumput laut yang subur,
bersama golongan karang. Diharapkan, para pembudidaya lobster memanfaatkan
sifat ini, yakni melakukan pemberian pakan pada malam hari dengan dosis yang
lebih besar dibandingkan dengan pemberian pakan pada siang hari.

5
            Dengan sifat nokturnal tersebut, tampak bahwa lobster senang
bersembunyi di tempat-tempat yang gelap. Di alam, lobster bersembunyi pada
lubang-lubang yang terdapat di sisi terumbu karang. Oleh karena itu, tempat
budidaya lobster perlu dilengkapi dengan tempat perlindungan atau tempat
persembunyian.
2. Sifat Ganti Kulit (Moulting/Ecdysis)
            Langkah awal pertumbuhan lobster ditandai dengan terjadinya
pergantingan kulit (moulting atau ecdysis). Peristwa moulting pada Crustacea
adalah pergantian atau penanggalan rangka luar untuk diganti dengan yang baru.
Proses ini biasanya diikuti dengan pertumbuhan dan pertambahan berat badan.
            Proses pergantian kulit pada lobster hampir sama dengan pergantian kulit
pada udang penaeid, misalnya udang windu. Sebelum moulting, lobster mencari
tempat pesembunyian terlebih dahulu tanpa melakukan aktivitas makan dan tidur.
Dua hari kemudian, bagian kepala sudah mulai retak, kemudian dilepaskan
dengan gerakan meloncat.
            Setelah berganti kulit, lobster akan mengisap air sebanyak-banyaknya
sehingga tubuhnya terlihat membengkak. Untuk mengeraskan kulit barunya,
lobster membutuhkan gizi yang cukup dan jumlah pakan yanglebih banyak.
Proses pengerasan kulit biasanya berlangsung selama 1-2 minggu.
3. Sifat Kanibalisme
Di alam, pakan yang disukai lobster adalah berbagai jenis kepiting,
moluska, dan ikan. Jika persediaan pakan tidak memadai, lobster akan memangsa
sesamanya. Sifat lobster yang saling memakan sesama jenisnya ini disebut sifat
kanibalisme. Peristiwa ini terjadi terutama jika ada lobster yang sedang dalam
kondisi lemah (sedang berganti kulit) atau pakan yang diberikan kurang tepat baik
jenis, jumlah, frekuensi, maupun waktu pemberian. Oleh karena itu, diperlukan
adanya manajemen pakan yang baik. Selain itu, pemasangan potongan pipa
paralon di dasar bak akan sangat akan membantu lobster yang sedang berganti
kulit untuk menghindari pemangsaan dari lobster lainnya.
4. Daya Tahan
  Pada umunya, jenis jenis udang mampu bertahan hidup pada perairan
dengan kondisi salinitas yang berubah-ubah (berfluktuasi). Sifat ini disebut

6
eurihaline. Akan tetapi, beberapa jenis udang, termasuk udang barong atau
lobster, merupakan biota laut yang sangat sensitif terhadap perubahan salinitas
dan suhu. Oleh karena itu, budidaya harus dilakukan di tempat yang beratap
sehingga air hujan tidak masuk ke dalam media budidaya. Hal ini diperlukan
untuk mencegah terjadinya fluktuasi salnitas dan suhu yang terlalu tinggi.
Jenis Panulirus homarus lebih toleran terhadap salinitas antara 25-45%.
            Lobster mencari makan pada malam hari, di sekitar karang yang
lebih dangkal. Lobster bergerak di tempat yang aman pada lubang-lubang karang,
merayap untuk mencari makan. Apabila terkena sinar lampu, lobster akan diam
sejenak, kemudian melakukan pergerakan mundur dan menghindar. 
         Pada saat tertentu, biasanya lobster berpindah ke perairan yang lebih dalam
untuk melakukan pemijahan. Lobster betina yang telah matang telur biasanya
berukuran (dari ujung telson sampai ujung rostrum) sekitar 16cm, sedangkan
lobster jantan sekitar 20cm. Seekor lobster jantan dapat membuahi banyak telur
yang kemudian disimpan di bagian bawah perut lobster betina.
5. Jenis Pakan
Pakan yang dibutuhkan dalam pembenihan lobster adalah pakan alami yang
berupa rotifer (Brachionus plicatilis). Selain rotifer, diperlukan jenis pakan lain
untuk melengkapi nutrisi yang tidak terkandung dalam rotifer, terutama protein.
Pakan yang dapat digunakan misalnya daging ikan rucah. Disamping pakan alami,
dapat juga diberikan pakan buatan, seperti flake yang sering dipakai sebagai pakan
dalam usaha pembenihan udang windu (Penaeus monodon Fabricius). Di perairan,
makanan untuk kebutuhan ikan sebenarnya sudah tersedia yaitu berupa makanan
alami yang banyak sekali macamnya, baik dari golongan hewan (zooplankton,
Invertebrate, dan Vertebrate), tumbuhan (Phytoplankton maupun tumbuhan air)
dan organisme mati (Detritus).Selama tiga bulan pertama masa pemeliharaan, ikan
atau kulitivan diberi pakan berupa ikan rucah, seperti tembang, selar, dan peperek
hingga kenyang. Tujuh bulan berikutnya pemberian pakan hanya dilakukan satu
hari sekali dengan dosis 4-6% bobot badan.

5.10. Habitat
Lobster atau udang barong memiliki dua fase dalam siklus hidupnya, yaitu
fase pantai dan fase lautan. Lobster akan memijah di dasar perairan laut yang

7
berpasir dan berbatu. Telur yang dibuahi akan menetas menjadi larva yang
kemudian bersifat planktonis, melayang-layang dalam air. Larva yang
disebut phylosoma ini memerlukan waktu sekitar tujuh bulan untuk menjadi
lobster kecil atau muda. Habitat alami lobster adalah kawasan terumbu karang di
perairan-perairan yang dangkal hingga 100 m di bawah permukaan laut. Di
Indonesia, terdapat perairan karang yang merupakan habitat lobster seluas 6700
km2 dan merupakan perairan karang terluas di dunia. Lobster berdiam di dalam
lubang-lubang karang atau menempel pada dinding karang. Aktivitas organisme
ini relatif rendah. Lobster yang masih muda biasanya hidup di perairan karang di
pantai dengan kedalaman 0,5-30 m. Menurut Chan (1998).
Habitat yang paling disukai adalah perairan dengan dasar pasir yang
ditumbuhi rumput laut (seagrass). Menurut Chan (1998), bahwa habitat udang
karang (lobster) pada umumnya adalah di perairan pantai yang banyak terdapat
bebatuan atau terumbu karang. Terumbu karang ini disamping sebagai barrier
(pelindung) dari ombak, juga tempat bersembunyi dari predator serta berfungsi
pula sebagai daerah pencari makan. Akibatnya daerah pantai berterumbu ini juga
menjadi daerah penangkapan lobster bagi para nelayan. Hal ini dapat dilihat dari
cara nelayan mengoperasikan alat tangkap (bintur) di daerah bebatuan di pantai.
Setelah menginjak dewasa, lobster akan bergerak ke perairan yang lebih dalam,
dengan kedalaman antara 7-40 m. Perpindahan ini biasanya berlangsung pada
siang dan sore hari.

5.11. Reproduksi dan Daur Hidup


Menurut Subani (1978), sistem pembuahan lobster terjadi di luar badan
induknya (external fertilization). Indung telurnya berupa sepasang kantong
memanjang terletak mulai dari belakang perut (stomach) di bawah jantung
(pericarduim) yang dihubungkan keluar oleh suatu pipa peneluran (oviduct) dan
bermuara di dasar kaki jalannya yang ketiga. Menurut Moosa M.K dan aswandy
(1984), ukuran panjang total lobster jantan dewasa kurang lebih 20 cm, dan betina
kurang lebih 16 cm, sedangkan umur pertama kali matang gonad yaitu ditaksir
antara 5–8 tahun. Pada waktu pemijahan lobster mengeluarkan sperma
(spermatoforik) dan meletakkannya di bagian dada (sternum) betina mulai dari
belakang celah genital (muara oviduct) sampai ujung belakang sternum.

8
Peletakan spermatoforik ini terjadi sebelum beberapa saat peneluran terjadi.
Masa spermatoforik yang baru saja dikeluarkan sifatnya lunak, jernih dan
kemudian agak mengeras dan warna agak menghitam dan membentuk selaput
pembungkus bagian luar atau semacam kantong sperma. Pembuahan terjadi
setelah telur-telur dikeluarkan dan ditarik kearah abdomen yaitu dengan cara
merobek selaput pembungkus oleh betina dengan menggunakan cakar (kuku)
yang berupa capit terdapat pada ujung pasangan kaki jalannya. Lobster yang
sedang bertelur melindungi telurnya dengan cara meletakkan atau menempelkan
dibagian bawah dada (abdomen) sampai telur tersebut dibuahi dan menetas
menjadi larva atau biasa disebut burayak atau tumpayak (Moosa dan Aswandy,
2006).
Menurut Hasrun (1996), lobster betina kadang-kadang dapat membawa telur
antara 10.000 -100.000 butir, sedangkan pada jenis-jenis yang besar bisa
mencapai 500.000 hingga jutaan telur. Banyak sedikitnya jumlah telur tergantung
dari ukuran lobster air laut tersebut. Menurut Prisdiminggo (2002), lobster
mempunyai periode pemijahan yang panjang puncaknya pada bulan November
sampai Desember. Setiap individu hanya sekali memijah setahun. Tetapi pada
musim perkembangbiakan, lobster dapat melakukannya lebih dari satu kali
pemijahan.

9
Gambar 2. Siklus Hidup Lobster (Panulirus sp.) (Sumber: Factor, 1995)

5.12. Parameter Kualitas Air


Menurut Effendi (2003), suhu dan salinitas memainkan peranan yang
penting dalam kehidupan organisme laut dan estuaria. Suhu sangat berperan
dalam mempercepat metabolisme dan kegiatan organ lainnya. Suhu yang tinggi
dapat meningkatkan konsumsi oksigen dan terjadinya pengeringan sel. Keasaman
air yang lebih dikenal dengan pH (Puissanee negatif de hidrogen) juga sangat
besar pengaruhnya bagi kehidupan ikan. Keasaman dihitung berdasarkan
logaritma negatif dari ion-ion hidrogen per liter air. Keasaman (pH) yang terlalu
tinggi atau rendah akan meracuni ikan dan hewan lainnya. Derajat keasaman suatu
perairan menunjukan tinggi rendahnya konsentrasi ion hidrogen perairan tersebut.

10
Kisaran parameter kualitas air untuk pemeliharaan lobster secara lengkap,
disajikan pada tabel1 berikut :
Tabel 1. Parameter Kualitas Air

No Kisaran
. Parameter Nilai Referensi

1. Suhu (oC) 11–29 (Cobb dan Phillips, 2008)


2. Salinitas (‰) 25-45 (Kanna, 2006)
3. DO (ppm) >5 (Kanna, 2006)
4. pH 7,8-8,5 (Effendi, 2003)
5. Kedalaman (m) 11-15 (Cobb dan Phillips, 2008)
6. Amoniak (ppm) < 0.1 (Kanna, 2006)

Menurut Phillips dan Kittaka (2000), pertumbuhan tercepat pada


juvenil Panulirus sp, dapat dicapai pada suhu sebesar 28 ºC, dengan panjang
karapas yang dicapai sebesar 60 mm dalam waktu 18 bulan. Beberapa jenis
lobster mempunyai toleransi suhu yang berbeda-beda untuk tumbuh pada kondisi
optimum, seperti Panulirus argus tumbuh optimum pada suhu berkisar 25-27
ºC, Panulirus ornatus (30 ºC), Panulirus cygnus (25-26 ºC), dan Panulirus
Interruptus (28 ºC). Menurut Boyd dan Tucker (1998), konsentrasi oksigen
terlarut yang disarankan untuk kegiatan perikanan adalah > 5 mg/L.
Menurut Mackereth (1989), nilai pH berkaitan erat dengan karbondioksida
dan alkalinitas. Semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas, dan
semakin rendah kadar karbondioksida bebas, demikian juga sebaliknya. Menurut
Boyd dan Tucker (1998), nilai pH yang disarankan untuk kegiatan akuakultur
berkisar antara 6,5-9, sedangkan pH yang optimum untuk biota laut berkisar
antara 7,5-8,5. Krustacea pada perairan payau umumnya mempunyai nilai
toleransi pH yang lebih luas. Penelitian pada udang panaeid menunjukkan pH
yang optimum untuk pertumbuhan berkisar antara 5,5-8,5.

5.13. Kendala Pembesaran Lobster Pasir (Panulirus homarus)


Kendala Pembesaran Lobster antara lain:Menurut(Junaidi dan Hamzah,
2014).

11
1. Pemilihan lokasi budidaya yang setidaknya dapat berjalan sepenjang tahun,
bebas dari pengaruh gelombang besar, sehingga menjamin penggunan keramba
jaring apung secara optimal.
2. Ketersediaan benih sampai saat ini masih mengandalkan dari alam dan sedikit
jumlahnya karena sangat dipengaruhi oleh musim. Penyediaan pakan berupa
ikan rucah masih terbatas dan penyediaannya bersaing dengan kebutuhan
konsumsi manusia.
3. Pengenalan kepada petani ikan dan nelayan yang mungkin saja masih
dihadapkan pada kendala-kendala sosial budidaya karena sudah terpaku
anggapan bahwa laut adalah tangkap menangkap bukan tempat budidaya.
5.14. Penyakit yang menyerang Lobster Pasir (Panulirushomarus)
Penyakit yang sering menyerang yaitu antara lain: Menurut(Junaidi dan
Hamzah, 2014).
1. Bintik Putih. Penyakit inilah yang menjadi penyebab sebagian besar kegagalan
budidaya lobster. Disebabkan oleh infeksi virus SEMBV (Systemic Ectodermal
Mesodermal Baculo Virus). Serangannya sangat cepat, dalam beberapa jam saja
seluruh populasi lobster dalam satu kolam dapat mati. Gejalanya : jika lobster
masih hidup, berenang tidak teratur di permukaan dan jika menabrak tanggul
langsung mati, adanya bintik putih di cangkang (Carapace), sangat peka terhadap
perubahan lingkungan. Virus dapat berkembang biak dan menyebar lewat inang,
yaitu kepiting dan lobster. Belum ada obat untuk penyakit ini, cara mengatasinya
adalah dengan diusahakan agar tidak ada kepiting dan udang-udang liar masuk ke
kolam budidaya. Kestabilan ekosistem tambak juga harus dijaga agar lobster tidak
stress dan daya tahan tinggi. Sehingga walaupun telah terinfeksi virus, lobster
tetap mampu hidup sampai cukup besar untuk dipanen.
2. Bintik Hitam/Black Spot. Disebabkan oleh virus Monodon Baculo Virus
(MBV). Tanda yang nampak yaitu terdapat bintik-bintik hitam di cangkang dan
biasanya diikuti dengan infeksi bakteri, sehingga gejala lain yang tampak yaitu
adanya kerusakan alat tubuh lobster.
3. Insang Merah. Ditandai dengan terbentuknya warna merah pada insang.
Disebabkan tingginya keasaman air tambak, sehingga cara mengatasinya dengan
penebaran kapur pada kolam budidaya. Pengolahan lahan juga harus ditingkatkan
kualitasnya.

12
BAB III

MATERI DAN METODE

5.15. Waktu dan Tempat


Kegiatan Praktek Kerja Lapang ini telahdilaksanakan pada tanggal 16
Januari 2017 sampai 16 Februari 2017 di Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Budidaya Laut Gondol (BBPPBL) Gondol, Bali.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Adapun alat-alat yang digunakan dalam kegiatan Praktek Kerja Lapang
adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Alat-alat
No Nama alat Fungsi

1 Camera Mendokumentasi

2 Alat tulis Mencatat hasil di lapangan

3.2.2 Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan Praktek Kerja Lapang
adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Bahan-bahan
No Nama bahan Fungsi

1 Buku tulis Untuk menulis kegiatan

2 Lembaran questioner Untuk di ajukan pertanyaan

3.3 Metode Praktik Kerja Lapangan

             Metode yang digunakan dalam pengumpulan data yakni dengan metode


deskriptif dimana pengumpulan data dilakukan dengan cara :
1. Observasi
Praktek Kerja Lapang dilakukan dengan cara observasi langsung terhadap
kegiatan-kegiatan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut

13
Gondol (BBPPBL) Gondol, Bali tentang Pembesaran Lobster Air Laut .
Diharapkan dari observasi ini dapat diperoleh gambaran mengenai cara
Pembesaran lobster air laut dengan baik.
2. Partisipasi
Praktek Kerja Lapang dilakukan dengan ikut berpartisipasi langsung pada
setiap kegiatan yang berkaitan dengan tujuan dari pelaksanaan Praktek Kerja
Lapang. Partisipasi ini mulai dari mengikuti kegiatan pembesaran lobster air laut
sampai panen dan pemasaran.
3. Wawancara
Wawancara dilakukan kepada pimpinan BBPPBL Gondol berserta staf,
Koordinator teknisi, teknisi lapangan, teknisi lab serta semua pihak yang
berkompeten secara langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan
Praktek Kerja Lapang (PKL) yang dilakukan. Wawancara ini bertujuan untuk
mengumpulkan data primer terkait dengan materi kegiatan Praktek Kerja Lapang.
4. Studi Literatur
Studi literatur diperlukan untuk mendukung kegiatan selama berlangsungnya
kegiatan PKL. Meliputi data primer dan data sekunder yaitu:
1). Data Primer
Data Primer diperoleh melalui pengamatan (observasi) langsung di
lapangan dan melakukan wawancara secara mendalam (interview) dengan
pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan kegiatan pembenihan tersebut.
2). Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari berbagai majalah, jurnal,
data statistik, artikel, dan lain-lain yang merupakan data pendukung
pelaksanaan kegiatan Praktek Kerja Lapangan.
3.4 Jadwal Pelaksanaan
3.3 Jadwal Pelaksanaan
Berikut ini adalah tabel jadwal kegiatan selama pelaksanaan kegiatan Praktek
Kerja Lapang (PKL) di sajikan sebagai berikut :

14
Tabel. 4. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan PKL
KEGIATAN MINGGU KE -
NO 1 2 3 4
1. Survei lapangan dan persiapan 
2. Pengumpulan data dan partisipasi    
3. Penyusunan laporan  

15
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.16. Keadaan Umum Lokasi


5.17. Sejarah Perkembangan
BBPPBL Gondol merupakan lembaga riset di bawah Kementerian
Kelautan dan Perikanan Indonesia dengan tugas utamanya adalah melakukan
penelitian dan pembudidayaan beberapa komoditas laut yang terdapat di
Indonesia. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut Gondol
didirikan pada tahun 1985 dengan nama Sub Balai Penelitian Perikanan Pantai
(Sub Balitkandita) yang berada di bawah Departemen Pertanian dengan mandat di
bidang perbenihan. Sejak tanggal 1 April 1995 berubah nama menjadi Loka
Penelitian Perikanan Pantai berdasarkan SK Menteri Pertanian No.
797/Kpts/OT.210/12/1994 dengan posisi sebagai unit pelaksana teknis pusat
peneliti dan pengembangan (Puslitbang) Perikanan Jakarta, dibawah koordinasi
Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan dan secara administrasi di bawah
koordinasi Kantor Wilayah Departemen Pertanian.
Pada tanggal 31 Juli 2000 beralih dari Departemen Pertanian ke
Departemen Kelautan dan Perikanan dengan SK Menteri Eksplorasi Laut dan
Perikanan nomor 73 tahun 2000. Berdasarkan SK. Menteri Kelautan dan
Perikanan No.Kep. 26 A/Men/2001, Tgl. 1 Mei 2001 promosi menjadi Balai
Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, dengan mandat melaksanakan riset
budidaya laut termasuk pembenihan, produksi benih dan pembesaran. Kemudian
pada tahun 2011 berdasarkan Permen KP RI No. PER 26/MEN/2011 Tanggal 26
September 2011, Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut (BBPPBL) berubah
nama menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut
(BBPPBL), dengan mandat melaksanakan penelitian dan pengembangan budidaya
laut.

16
5.18. Letak Geografis
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL)
terletak di Dusun Gondol, Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten
Buleleng, Provinsi Bali. Lokasi BBPPBL Gondol berjarak ±30 km dari pelabuhan
Gilimanuk dan ±50 km dari kota Singaraja. Secara geografis daerah ini berada
pada posisi 114-115˚ BT dan 7-8˚ LS dengan ketinggian 0-2 meter di atas
permukaaan laut. BBPPBL Gondol didirikan di atas areal seluas 6,7 hektar. Dari
luas ini yang digunakan untuk bangunan di BBPPBL Gondol adalah 11.910 m²
sedangkan sisa lahan seluas 55.090 m² digunakan untuk lahan hijau. Gambar
BBPPBL Gondol dapat dilihat pada gambar 2.
Lokasi Balai sebelah barat dan utara berbatasan langsung dengan Laut
Bali, sebelah timur berbatasan dengan pemukiman penduduk yang masuk dalam
wilayah Desa Penyabangan dan sebelah selatan berbatasan dengan jalan raya antar
kota Singaraja – Gilimanuk. Letak bangunan di BBPPBL Gondol diatur menurut
keterkaitan fungsional, artinya bangunan-bangunan yang berkaitan dengan usaha
pembenihan seperti tempat pemeliharaan induk, tempat penyimpanan pakan,
tempat kultur pakan alami dan tempat perawatan larva secara berdekatan. Hal ini
bertujuan agar semua yang berkaitan dengan pembenihan dan penelitian dapat
berjalan dengan lancar. Daerah pemanfaatan lahan BBPPBL Gondol mempunyai
lahan yang digunakan sebagai tambak yang berada di Desa Pejarakan dengan luas
lahan 50 hektar dan di Desa Budeng/Perancak, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten
Jembrana dengan luas lahan 21,21 hektar.

Gambar 3. A) Identitas BBPPBL B) Kantor BBPPBL Gondol

17
5.19. Struktur Organisasi
BBPPBL Gondol dipimpin oleh seorang Kepala Balai yang membawahi
tiga bagian, yaitu bagian tata usaha, bidang pelayanan teknis dan bidang program
dan kerjasama serta beberapa kelompok peneliti dan jabatan fungsional lainnya.
Bagian tata usaha bertugas menyelenggarakan pengelolaan administrasi keuangan
dan pengelolaan adinistrasi kepegawaian, serta urusan persuratan, perlengkapan
dan rumah tangga. Kepala bagian tata usaha membawahi sub bagian keuangan
dan sub bagian umum. Bidang program dan kerjasama bertugas
menyelenggarakan penyusunan program dan anggaran, menyelenggarakan fungsi
pemantauan dan evaluasi hasil penelitian serta penyusunan bahan kerjasama riset.
Kepala bidang program kerjasama membawahi sub bidang kerjasama.
Bidang pelayanan teknis bertugas menyelenggarakan fungsi pengelolaan
dan pemeliharaan sarana lapangan dan laboratorium, penyiapan bahan
dokumentasi, promosi dan komunikasi hasil riset, pelayanan jasa riset dan
informasi seta pengelolaan perpustakaan. Kepala bidang pelayanan teknis
membawahi sub bidang sarana dan sub bidang pelayanan jasa dan informasi.
Kelompok jabatan fungsional terdiri dari peneliti dan teknisi yang
memiliki tugas melaksanakan kegiatan riset dan kegiatan lain sesuai dengan tugas
masing-masing jabatan fungsional berdasarkan perundang-undangan yang
berlaku. Struktur organisasi BBPPBL Gondol disajikan pada gambar 3.

Gambar 4. Struktur

18
5.20. Visi dan Misi
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL),
Gondol-Bali, adalah salah satu lembaga penelitian dan pengembangan yang
berada di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang memiliki mandat
bidang pembenihan dan pembesaran ikan - ikan laut.

Visi

Terwujudnya lembaga penelitian yang terkemuka dalam penyediaan data,


informasi, dan teknologi budidaya laut sebagai komponen andalan pembangunan
nasional kelautan dan perikanan

Misi

1. Melaksanakan penelitian bagi pengembangan perikanan budidaya laut

2. Menciptakan teknologi unggulan dalam bidang pembenihan dan pembesaran


ikan laut.

3. Meningkatkan pelayanan jasa penelitian dan mengembangkan kerjasama


penelitian perikanan budidaya laut

4. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengembangkan IPTEK perikanan


budidaya laut

Dalam era globalisasi, sumberdaya perikanan yang dimiliki perlu


dimanfaatkan secara optimal guna mendukung pertumbuhan ekonomi,
peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya pembudidaya ikan / nelayan.
Informasi mengenai kegiatan penelitian dan pengembangan serta teknologi yang
telah dihasilkan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut
(BBPPBL) disebarluaskan kepada pengguna agar informasi tersebut dapat
diadopsi dan diterapkan. Lebih lanjut informasi yang tersedia dijadikan dasar bagi
pengambil kebijakan dalam pembangunan di sektor perikanan

19
5.21. Prasarana dan Sarana
5.22. Prasarana
1. Transportasi

Lokasi Balai Besar Penelitan dan Pengembangan Budidaya Laut Gondol-


Bali terletak di tepi jalan raya yang menghubungkan Gilimanuk-Singaraja, dengan
kondisi jalan beraspal yang cukup bagus dan cukup memadai. Jenis transportasi
yang di gunakan untuk kegiatan budidaya di BBPPBL Gondol adalah : 11
kendaraan roda empat, 4 kendaraan roda dua, 1 kendaraan roda enam, 3 speed
boat sebagai alat transportasi menuju KJA di Teluk Pegametan.

Gambar 5. A) Truk BBPPBL B) Mobil BBPPBL

2. Laboratorium

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut Gondol-Bali


memiliki beberapa laboratorium yang dapat menunjang kebutuhan penelitian di
balai tersebut. Laboratorium tersebut adalah : Laboratorium Biologi,
Laboratorium Bioteknologi, Laboratorium Basah, Laboratorium Patologi,
Laboratorium Kimia dan Nutrisi, Laboratorium Pakan, Labolatorium Processing
Pakan dan Laboratorium Plankton.

3. Tanah Lokasi

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut Gondol-Bali.


didirikan di atas areal seluas 6,7 ha yang kemudian penempatan prasarana dan
sarana di tempatkan pada satu area berdasarkan fungsinya. Untuk kegiatan
penelitian maupun pembesaran ikan terdapat pula tambak yang berada di desa

20
Pejarakan dengan luas area 14,5 ha yang selanjutnya di bagi menjadi petakan
tambak budidaya.
Pembesaran Lobster Pasir (Panulirus homarus) ada 2 ruangan. Untuk
ruangan 1 di dalamnya terdapat 9 kolam beton yang masing-masing berukuran
4x4 berkapasitas 18 ton dan untuk ruangan 2 terdapat 2 kolam beton 3x4
berkapasitas 10 ton. Lay out kolam-kolam di BBPPBL. Kolam pembesan Lobster
disajikan pada gambar 5.

Gambar 6. Kolam Pembesaran Lobster

4. Fasilitas

Fasilitas umum yang ada di Balai Besar Penelitan dan Pengembangan


Budidaya Laut Gondol-Bali antara lain, Gedung Adminitrasi, Auditorium,
Bengkel Peralatan, Perpustakaan, Guest House, Asrama dan sarana peribadatan
serta sarana oalahraga (Lapangan Tenis, Volly Ball, Footsal dan Tenis Meja).
Untuk sarana komunikasi di BBPPBL Gondol ini terdapat tiga unit telepon dan
satu facsimile. Fasilitas penunjang yang dipergunakan untuk penelitian adalah a)
Enam ruang hatchery yang terdiri dari ruang hatchery udang, ikan tuna sirip
kuning, multi Spesies Hatchery (MSH), Marine Fish Seed Production (MSP),
biosecurity dan hatchery finfish, b) Lima labolatorium, yaitu labolatorium
patologi, labolatorium nutrisi dan kimia, labolatorium biologi, labolatorium
plankton, dan labolatorium bioteknologi, c) Ruang prosesing makanan yang
terdiri dari ruang pembuatan pakan, ruang pengeringan, ruang pencetakan pakan,
dan ruang Cold Storage, d) bak beton dengan berbagai ukuran untuk pemeliharaan

21
induk, plankton dan larva, pakan alami, e) Tambak uji coba di Pejarakan dan, f)
Keramba Jaring Apung untuk pembesaran di pantai Pegametan.

5. Sarana
 Sistem Penyediaan Tenaga Listrik

Energi listrik merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam suatu usaha
pembesaran. Penggunaan listrik sangat dibutuhkan untuk pengoperasian pompa
air, blower, perawatan lainnya termasuk penerangan untuk proses produksi
maupun penerangan jalan dan fasilitas bangunan yang ada. Sumber tenaga listrik
yang digunakan berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) Kabupaten
Buleleng, yaitu sebuah unit instalasi listrik dengan daya 197 Kw. Selain itu
kebutuhan ketersediaan tenaga listrik juga dipenuhi dengan menggunakan sumber
tenaga listrik yang berasal dari dua generator yang masing-masing berkekuatan
100 Kw dan 200 Kw

Gambar 7. Sumber Listrik BBPPBL Gondol

 Sumber Air

22
a. Sistem Penyediaan Air Laut.
Air laut merupakan unsur paling pokok dalam kegiatan budidaya laut.
Sebelum mendirikan bangunan pembenihan, disarankan meninjau lokasi dimana
akan di bangun panti benih. Pemilihan lokasi hendaknya dekat dengan sumber air
laut dan memungkinkan pengambilannya dengan menggunakan pompa. Selain itu
juga mempertimbangkan kualitas air dan pasang surut air laut untuk memasang
pipa di bawah permukaan air pasang terendah. Teknik pengambilan air laut di
BBPPBL Gondol dilakukan dengan memompa air tersebut dari Laut Bali dengan
menggunakan tiga pompa yang masing-masing berkapasitas 24 Kw yang
digunakan secara bergantian. Pompa dihubungkan dengan pipa berdiameter 40 cm
yang dipasang di lepas pantai berjarak ± 50 meter dari batas minimum surut air
laut terendah. BBPPBL Gondol terletak di tempat yang strategis sehingga
memungkinkan penempatan pengambilan dan pembuangan air laut berada pada
sisi yang berlawanan, sehinggakualitas air laut lebih terjaga. Gambar sistem
penyediaan air laut dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 8. (A) Pompa Air Laut , (B)

b. Sistem Penyediaan Air Tawar


Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Buleleng merupakan
sumber penyediaan air tawar di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Budidaya Laut (BBPPBL) Gondol. Air yang dialirkan berasal dari PDAM
Kabupaten Buleleng Kemudian di tampung terlebih dahulu pada tangki
penampungan yang berkapasitas 20 m2yang berada pada ketinggian sepuluh
meter. Setelah di tamping, air dialirkan ke seluruh area BBPPBL Gondol dengan

23
pompa yang bertujuan untuk memenuhi keperluan seperti taman, kantor, mushola,
hatchery, dan lainnya. Air tawar yang digunakan dalam kegiatan pembesaran
lobster pasir antara lain untuk pencucian peralatan dan digunakan untuk
keseluruhan kegiatan di balai.

6. Sumber Aerasi

Pemberian aerasi pada pembesaran lobster pasir merupakan upaya dalam


hal peningkatan oksigen terlarut dalam air yang berguna untuk proses respirasi
dan metabolisme tubuh. Sumber aerasi ini menggunakan mesin pompa udara
(blower)yang berukuran besar dengan daya 7 KW dengan kapasitas 2,2 m 3/menit.
Penyaluran udara dari mesin pompa udara menggunakan pipa PVC yang
kemudian pada bak pemeliharaan disalurkan dengan selang aerasi yang dilengkapi
dengan pengatur tekanan udara dan diujung selang aerasi dipasang pemberat atau
batu aerasi.

Gambar 9. Sumber Aerasi (Blower).

5.23. Teknik Pembesaran Lobster Pasir (Panulirus homarus)


1. Persiapan Kolam Pembesaran

Persiapan kolam pembesaran dimulai dari membersihkan kolam sebanyak


tiga buah. Sebelumnya volume air laut dikurangi terlebih dahulu kurang lebih
tersisa 20%, kemudian angkat rumah losbster dan bersihkan, rumah lobster terbuat
dari batu bata dan di atasnya di kasih asbes bekas yang di potong potong yang
gunanya untuk tempat persembunyian lobster. Selanjutnya kolam beton di

24
bersihkan dengan Clorin sebanyak 1 liter campur dengan air kemudian gosokan
clorin pada kolam beton dengan menggunakan sapu dan sikat kemudian kotoran
akan akan mudah terangkat. Fungsi clorin yaitu untuk mematikan bakteri atau
virus dan membersihkan kolam beton. Kemudian diamkan kolam beton yang
sudah di bersihkan dengan menggunakan clorin tersebut selama kurang lebih satu
hari, kemudian buang sisa air dengan menggunakan pompa air yang ada di dalam
kolam beton sampai kering.

Selanjutnya kolam beton diisi air hingga mencapai setengah dari total
volume kolam beton, maksimal air untuk pembesaran lobster pasir yaitu 1m,
kemudan susun rumah lobster yang sudah bersih tadi sesuai dengan kemauan.
berikan aerasi setiap kolamnya. Pengkondisian kolam pemeliharaan ini adalah
dengan diisi air dan di berikan aerasi selama satu hari sebelum benih lobster pasir
di tebar.
Menurut Kanna (2006), klorin (Cl2) diberikan dengan dosis 150 ppm.
Seluruh permukaan dinding dan dasar bak dibasuh secara merata dan dibiarkan
selama1-2 jam. Kemudian dinetralkan dengan larutan Natrium Thiosulfat 50 ppm,
kemudian dikeringkan 1-2 hari. Setelah bersih kolam diberi shelter dan diisi air
untuk kegiatan pembesaran lobster.

Gambar 10. Persiapan

Shelter merupakan suatu alat yang digunakan lobster untuk bersembunyi


dari predatornya. Shelter juga berfungsi sebagai tempat persembunyiaan dari
lobster yang telah berganti kulit dalam hal menekan kanibalisme. Tubuh lobster
akan sangat mudah terluka dan lemah saat lobster melepas cangkang tubuhnya,
dan pada keadaan inilah kesempatan bagi lobster lain untuk menyerang lobster

25
yang sedang moulting. Keberaan shelter harus tepat jumlah dan penepatannya
sesuai dengan jumlah lobster dalam kolam.
Shelter terbuat dari batu bata yang disusun rapi di dalam kolam kemudian
diatasnya diberi asbes sebagai tutup. Pada setiap kolam terdapat 6 shelter,
dimanasetiap shelter tersusun dari 6 batu bata dan 1 asbes.

2. Penebaran Benih

Penebaran benih di mulai dari pengadaan benih yang didapat dari nelayan
yang berasal dari Lombok. Proses pengangkutan dengan menggunakan air yang
dimasukkan ke dalam kantong plastik dan di beri oksigen dan kemudian
dimasukkan kedalam sterefom, kemudian di angkut menggunakan pesawat dan
ada juga yang menggunakan darat yaitu seperti mobil atau kendaraan bermotor
yang menuju ke BBPPBL Gondol.
Kepadatan penebaran benih lobster yaitu 100 ekor/wadah dengan volume
1m3, lobster di berikan pakan pellet kering sebanyak 5% biomassa/hari 2 kali/hari
(pagi dan sore hari), denganukuran benih yang di tebar antara 0,8 → 1cm dengan
berat kurang lebih 0,3 gram. Ciri – ciri benih yang baik antara lain : Benih
bergerak aktif/lincah, ukuran benih seragam, bentuk tubuh ideal, memiliki respon
yang baik terhadap ransangan, warna tubuh bening transparan.
Pemeliharaan
Pertumbuhan benih di ketahui dengan melakukan pengambilan contoh
(sampling)satu bulan sekali, untuk menghitung panjang dan berat benih. Setiap
kolam di ambil 10 ekor benih. Kegiatan pemeliharaan yang di lakukan setiap hari
meliputi: pembersihan dasar kolam (sipon), pergantian air dan pemberian pakan
setiap pagi dan sore. Pemantauan kondisi Lobster, dilakukan untuk mengetahui
apakah ada gejala terserang hama dan penyakit atau tidak. Selanjutnya di lakukan
pengukuran panjang dan berat selama pemeliharaan.
Menurut kakam, Sulmartiwi dan Arif (2008), rumus laju pertumbuhan (Growth
rate) sebagai berikut:
Growth Rate = Wt – Wo / t
Keterangan :

26
G = pertumbuhan
Wt = berat rata rata pada waktu ke-t
Wo = berat rata rata awal
t = waktu (hari)

Tabel 5. Data Sampling


Bak Lobster Berat rataan Berat rattan GR
awal (gr) akhir (gr)

A 51,5 gr 69,5 gr 0,6

B 76 gr 86 gr 0,33

C 110 gr 126 gr 0,53

Hasil Growth Rate yang didapatkan selama kegiatan pembesaran lobster ialah
pada bak A sebesar 0,6, pada bak B sebesar 0,33, pada kolam C sebesar 0,53.
3. Pakan

Lobster merupakan hewan pemakan segala baik organisme hidup maupun


mati. Pakan lobster seluruhnya berupa pelet yang diproduksi sendiri oleh Balai
tersebut. Pelet yang diberikan berupa pelet tenggelam, pelet memiliki kandungan
protein 46,51%, lemak 7,07%, abu 14,82%, dan kadar air 7,57%.Pemberian pakan
dilakukan dua kali sehari yaitu pada pada pagi hari dan sore hari. Pada pagi hari
diberi pakan pada jam 08.00 setelah dilakukan penyiponan dan pada sore hari
diberi pada pukul 15.00. Pemberian pakan sebanyak 100gram pada pagi hari dan
pada sore hari 150gram, karena lobster bersifat nocturnal sehingga di sore hari
pemberian pakan pada lobster lebih banyak jumlahnya dibandingkan pada pagi
hari. Jumlah pemberian pakan sebanyak 10% dari berat tubuh lobster. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Kanna (2006) menyatakan bahwa, jumlah pakan yang
diberikan perhari antara 10-15% dari berat total lobster. Pemberian pakan
dilakukan 2 kali sehari tergantung pada kebutuhan dan biasanya diberikan
pagi/siang, dan sore atau malam hari.

27
Gambar 11. Pelet Lobster
Kecepatan laju pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh jenis dan kualitas
pakan yang diberikan serta kondisi lingkunngan hidupnya. Apabila pakan yang
diberikan berkualitas baik, jumlahnya mencukupi, dan kondisi lingkungan
mendukung dapat dipastikan laju pertumbuhan akan menjadi sesuai dengan yang
diharapkan. Sebaliknya, apabila makanan yang diberikan berkualitas jelek,
jumlahnya tidak mencukupi, dan kondisi lingkungan tidak mendukung, maka
pertumbuhan akan terhambat (Khairuman dan Amri, 2002).
Penyimpanan pakan lobster berupa pelet disimpan di tempat pendingin
(kulkas), agar kandungan dan kualitas pelet tetap terjaga.

Manajement pakan yang baik akan menghasilkan pertumbuhan lobster


optimal FCR rendah. Pada balai BBPPBL Gondol Bali didapatkan nilai FCR
kisaran antara 0,9 – 1,4. Dengan perhitungan :

pakan :250 x 30 hari=7500


= 0,947.
bobot :120 x 66 ekor=7920

Menurut Khairuman dan Amri, (2002), Feed Convertion Ratio adalah


suatu ukuran yang menyatakan ratio jumlah pakan yang dibutuhkan untuk
menghasilkan 1 kg ikan. Nilai FCR=2 artinya untuk memproduksi 1 kg daging
ikan dalam sistem akuakultur maka dibutuhkan 2 kg pakan. Semakin besar nilai
FCR, maka semakin semakin banyak pakan yang dibutuhkan untuk memproduksi
1 kg ikan daging. FCR seringkali dijadikan indikator kinerja teknis dalam
mengevaluasi suatu usaha akuakultur. Dengan menguunakan rumus:

jumlah pakan
FCR =
bobot

28
4. Penyiponan

Sifon / Shift Pondmerupakan kegiatan untuk menyedot/membuang kotoran


yang mengendap di dasar bak pembesaran lobster. Sifon wajib dilakukan untuk
mengurangi konsentrasi Amonia dan Nitrit yang ditimbulkan oleh penumpukan
kotoran lobster dan sisa pakan di dasar kolam. Penyifonan bak harus dilakukan
secara teratur, penyifonan harus dilakukan minimal 1 kali dalam sehari yaitu pagi
hari sebelum pemberian pakan.
Alat yang digunakan yaitu alat sederhana yang terbuat dari pipa berdiameter
3 cm dengan panjang 2 m yang ujungnya disambung dengan pipa bentuk T yang
telah dilubangi.

Gambar 12. Penyiponan Bak Lobster

5. Pencegahan Hama dan Penyakit


Pada kegiatan budidaya tidak lepas dari sesuatau yang dapat merugikan
pelaksaannya salah satunya ialah hama dan penyakit. Hal ini dapat mengakibatkan
kematian pada lobster. Namun selama pelaksanaan kegiatan pembesaran lobster
ini, belum ditemukannya penyakit yang menyerang pada lobster. Sampai saat ini
masih dilakukan penelitian mengenai penyakit yang menyerang pada lobster.
Menurut Yusnaini (2009), penyakit yang biasanya menyerang lobster ialah
White Spot Disease. Virus ini telah teridentifikasi menginfeksi sejumlah jenis
udang-udangan seperti lobster air laut maupun air tawar. Penyakit yang
disebabkan oleh virus ini dikenal dengan penyakit maut yang dapat membunuh
seisi kolam dalam waktu singkat dan penularannya pun sangat cepat atau singkat.

29
Cara yang dilakukan untuk mencegah penyakit pada kegiatan pembesaran
lobster ialah dengan pemberian antibiotik pada pakan dan pemberian formalin
pada kolam yang bertujuan membunuh bakteri yang ada di kolam. Pencegahan
penyakit juga dapat dilakukan dengan cara manipulasi lingkungan,pembersihan
kolam, pemberian pakan yang cukup dan melakukan pergantian air secara terus
menerus.
6. Pengelolaan Kualitas Air

Pengelolaan atau manajemen kualitas air yang di terapkan adalah sistem


terbuka yang mana air langsung dari laut yang disedot melalui pompa yang ada di
BBPPBL Gondol tanpa menggunakan tandon dan penyaringan yang mana pada
pembesaran lobster terdapat Sembilan kolam dengan ukuran masing-masing yaitu
4x4 dengan kapasitas 18 ton per kolamnya. Dari Sembilan kolam tadi hanya ada
tiga yang digunakana untuk pembesaran. Pada setiap satu unit kolam pembesaran
lobster terdapat inlet sebagai tempat masukknya air dan autlet sebagai tempat
keluarnya air yang sudah terdapat feses lobster dan sisa pakan. Salah satu kegiatan
yang di lakukan setiap hari adalah menyifon kolam pemeliharaan agar kotoran di
dasar kolam dapat terbuang keluar wadah pemeliharaan, kemudian dilakukan
pengurangan air sebanyak 80-90% yang mana setiap kolamnya terisi air 1/5 m,
dan dilakukan penggantian air seperti semula. Fungsi dari penyifonan selain untuk
membersihkan kotoran, sisa sisa pakan dan pergantian air juga dapat mencegah
timbulnya penyakit karena akumulasi feses dan sisa pakan.

Pengawasan atau controlingkualitas air dilakukan agar kualitasnya tidak


mengalami penurunan pada tingkatan tertentu. Sehingga dalam kegiatan
pemeliharaan lobster dapat berjalan dengan lancar. Pengawasan kualitas air yang
perlu dilakukan setiap minggunya atau setiap dua minggu sekali adalah terhadap
DO (kadar oksigen terlarut), suhu, pH dan salinitas. Pengukuran DO pada minggu
ke dua diperoleh hasil pagi hari 5,6 mg/L dan pada sore hari 7,3 mg/L, sedangkan
pada minggu ke empat diperoleh hasil pada pagi hari 5,4 mg/L dan pada sore hari
7,1 mg/L. Untuk pengukuran pH minggu ke dua yaitu 7,8-8,2, sedangkan pada
minggu ke empat diperoleh hasil 7,9-8,2. Untuk pengukuran salinitas pada
minggu ke dua diperoleh hasil yaitu 33,8-34,2 ppt, dan pada minggu ke empat

30
diperoleh hasil 33,8-34,8 ppt. Sedangkan pada pengukuran suhu diperoleh hasil
pada minggu ke dua yaitu 28,4 – 29,4 OC, untuk minggu ke empat diperoleh hasil
28,4 – 29,4 o

Menurut Phillips dan Kittaka (2000), pertumbuhan tercepat pada


juvenil Panulirus sp, dapat dicapai pada suhu sebesar 28 ºC, dengan panjang
karapas yang dicapai sebesar 60 mm dalam waktu 18 bulan. Beberapa jenis
lobster mempunyai toleransi suhu yang berbeda-beda untuk tumbuh pada kondisi
optimum, seperti Panulirus argus tumbuh optimum pada suhu berkisar 25-27
ºC, Panulirus ornatus (30 ºC), Panulirus cygnus (25-26 ºC), dan Panulirus
Interruptus (28 ºC). Menurut Boyd dan Tucker (1998), konsentrasi oksigen
terlarut yang disarankan untuk kegiatan perikanan adalah > 5 mg/L.
Menurut Mackereth (1989), nilai pH berkaitan erat dengan karbondioksida
dan alkalinitas. Semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas, dan
semakin rendah kadar karbondioksida bebas, demikian juga sebaliknya. Menurut
Boyd dan Tucker (1998), nilai pH yang disarankan untuk kegiatan akuakultur
berkisar antara 6,5-9, sedangkan pH yang optimum untuk biota laut berkisar
antara 7,5-8,5. Krustacea pada perairan payau umumnya mempunyai nilai
toleransi pH yang lebih luas. Penelitian pada udang panaeid menunjukkan pH
yang optimum untuk pertumbuhan berkisar antara 5,5-8,5.
7. Pemanenan

Metode atau cara pemanenan adalah mempersiapkan alat yang di gunakan


untuk panen antara lain ember plastik untuk penampung lobster, seser untuk
menangkap lobster pasir dan sterofom untuk packing penjualan, kemudian air di
dalam kolam di kurangi hingga mencapai 20% dari ketinggian awal kolam 2
meter dan lebar kolam 4X4 dengan muatan sekitar 18 ton,yaitu dengan cara
membuka outlet kemudian lobster di tangkap dengan seser atau jaring kemudian
lobster di taruh dalam bak plastik dan selanjutnya di timbang, setelah itu lobster
masuk pada proses pemackingan.
Pemackingan yaitu dengan cara packing kering dimana pada proses
packing kering menggunakan pasir, dengan tujuan agar lobster dapat bertahan
hidup cukup lama di bandingkan packing dengan air karena badan lobter tajam

31
dan berduri maka sebab itu di lakukan packing kering. Pemackingan yang pertama
kali dengan menggunakan pasir basah selanjutnya di kasih pasir kering pada
bagian tubuh lobster, selanjutnya lobster di masukkan pada bok sterofom
secukupnya. Lobster dapat tahan hidup pada bok sterofom sekitar 12 jam., lobster
yang siap jual berukuran 150-200gram/ekor dengan masa budidaya 1/5 tahun.
Proses panen dapat di lihat pada gambar 13.

Gambar 13, Pemanenan Lobster


Menurut Ahdiyah (2011), transportasi sistem kering adalah sistem
pengangkutan ikan hidup dengan media pengangkutan bukan air.Sistem tranpotasi
ini menggunakan prinsip hibernasi untuk menekan metabolisme suatu organisme
dalam lingkungan yang minimum sehingga organisme tersebut dapat bertahan.
Bahan pengisi yang umum digunakan dalam transportasi kering diantaranya pasir,
serbuk gergaji dan sekam padi. Serbuk gergaji dan sekam padi memiliki
karakteristik yang berbeda dalam mempertahankan suhu. Grafik perbandingan
media pasir, serbuk gergaji dan sekam padi dalam mempertahankan suhu selama
tranportasi kering.

5.24. Analisa dan Pengembangan Usaha


1. Analisa Usaha

32
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL)
Gondol merupakan lembaga riset yang bergerak dalam bidang pengembangan
teknologi. Dalam melakukan suatu kegiatan produksi balai ini tidak mengambil
keuntungan. Produksi yang di lakukan BBPPBL berfungsi sebagai penelitian dan
lebih lanjut diaplikasikan untuk pengembangan teknologi di masyarakat.

2. kendala

Kendala atau hambatan yang sering terjadi di dalam usaha pembesaran


lobster (Panulirus homarus)yaitu pada harga benih yang mahal dan masih belum
ada penelitian untuk pembenihan lobster, adapun kendala lain yaitu pada saat
moultingatau pergantian kulit pada lobster terjadinya kanibalisme karena pada saat
moulting tubuh lobster lembek dan diam tanpa ada gerak sedikitpun. Kendala
yang sering terjadi yaitu pada penyakit yang menyerang lobster dan penyakit
tersebut masih belum bisa di temukan.
Menurut Slamet dan Imanto, 1989 menyatakan bahwa Kendala usaha
budidaya lobster adalah kematian yang tinggi karena kanibalisme saat pergatian
kulit akibat kondisi yang sangat lemah sehingga mudah dimangsa oleh lobster lain
dan serangan penyakit akibat faktor nutrisi dan strees selama budidaya. Faktor
lain yang menjadi kendala adalah harga benih yang sangat mahal karena di ekspor
ke Vietnam. Pertumbuhan lobster pasir cenderung lambat karena digunakan
untukpertumbuhan cangkangnya dan masih sedikitna minat pembudidaya untuk
melakukan pembesaran lobster juga merupakan kendala.

3. Pengembangan Usaha

Pengembangan usaha yang sudah dilakukan adalah teknologi hasil


penelitian melalui progam diseminasi, temu usaha dan seminar untuk
pembudidaya karena BBPPBL Gondol merupakan lembaga riset yang bergerak
dalam bidang pengembangan teknologi yang kemudian diaplikasikan untuk
pengembangan teknologi di masyarakat.

Prospek usaha ini cukup baik mengingat dimana lobster masih belum bisa
di lakukannya usaha pembenihan, maka dari itu tahun ini masih di lakukannya

33
penelitian tentang budidaya lobster dimana mengingat benih masih
mengambildari alam dan masih belum bisa pembenihan secara buatan. Mengingat
bahwa benih lobster di alam sudah mulai punah. Maka dari itu prospek kerja ii
cukup baik untuk di apresikan kepada masyarakat.

34
BAB V

PENUTUP

5.25. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat di tarik dari kegiatan PKL yang telah di
laksanakan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut
Gondol (BBPPBL) Gondol, Bali adalah sebagai berikut:
1. Teknik pembesaran lobster yang diterapkan di BBPPBL gondol
Bali adalah menggunakan kolam beton yang berukuran 4X4 dengan
ketinggian 2m dan volume air bisa mencapai 18 ton. Adapaun
pengolahan air langsung menggunakan air dari laut tanpa di adakan
penyaringan atau tandon, pakan yang di gunakan untuk pembesaran
lobster pasir yaitu menggunakan pakan pellet tenggelam yaitu
berjenis Global Feed 3B yaitu pellet buatan BBPPBL Gondol Bali.
Suplai oksigen dengan menggunakan aerasi yang di hidupkan setiap
hari. Bahan obat obatan yang di gunakan adalah labolatorium yang
berupa antibiotik dan lain – lain.
2. Sarana dan Prasarana pendukung dalam melaksanakan budidaya
pada kolam ini sangat mendukung proses budidaya. Adapun Sarana
dan Prassarana tersesbut meliputi petakan budidaya dan tandon,
kantor, mobil, mess karyawan, kantin, mess mahasiswa,
labolatorium, dapur, gudang pakan, obat - obatan dan lain – lain.
3. Faktor yang mempengaruhi kegiatan pembesaran lobster pasir atau
kendalanya yaitu harga benih yang mahal, benih susah untuk di
dapat, tingkat kanibalisme yang tinggi, dan terutama kendala yang
sulit untuk di hindari yaitu penyakit yang menyerang lobster.

5.26. Saran

Penerapan bioscurity perlu di terapkan dalam pembesaran lobster yang


berguna untuk mencegah terjadinya penularan penyakit yang dapat merugikan
kegiatan pembesaran lobster.

35
DAFTAR PUSTAKA

Ahdiyah UL. 2011. Penggunaan pasir, jerami dan serbuk gergaji sebagai media
pengisi pada penyimpanan udang galah (Macrobrachium rosenbergii)
tanpa media air. [skripsi] Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor.

Boyd CE.dan Tucker CS. 1998. Pond Aquaculture Water Quality Management.
New York (US): Springer Science+Business Media.

5.27. Carpenter & Niem. 1998.The Living Marine Resources of the Western
Central Pacific.Department of Biological SciencesOld Dominion
UniversityNorfolk, Virginia. USA

Chan TY. 1998. Lobster. In the Living Marine Resources of the Western Central
Pacific. Volume 2 Cephalopods, crustaceans, holothurians and sharks.
FAO Species Identification Guide for Fishery Purposes. FAO-UN,
Norwegian
Cobbsdan Philips.2008. The Biology and Management of Lobster. Vol. I.
Physiology and Behaviour. Chapter 7. Spiny Lobster. Pattern of
Movement. 349-407 pp.
Effendi H. 2003. TelaahKualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.
Factor JR. 1995. Biology of the Lobster Homarusamericanus. Academic Press,
545p.
Hasrun. 1996. KajianBeberapa Parameter PopulasiUdangKarang
(Panulirushomarus L) BerdasarkanHasilTangkapanJaringInsangDasar di
PerairanPangandaranJawa Barat. Tesis. Program
PascasarjanaInstitutPertanian Bogor.
Kanna I. 2006. Lobster. Kanisius. Yogyakarta.
Khairuman, A dan K. Amri. 2002. Membuat Pakan Ikan Konsumsi. Agromedia
Pustaka. Jakarta
Latreille PA. 2007. Des langoustes du Muséum National d'HistoireNaturelle.
AnnalesMuséum Histoire naturelle Paris, 3:388-395.
Mackereth. 1989. Spiny Lobster. Species Profiles : Life Histories and
Environmental Requirement of Coastal Fishes and 44 Invertebrata (South

36
Florida). Bio. Rep. 82 (11.61), August 1986. www. Nwrc. Usgs.
Gov/wbd/pub/species_profiles/82_11-061 pdf.
Moosa MK. danAswandy I. 2006. UdangKarang (Panulirus spp.) dariPerairan
Indonesia. LembagaOseanologiNasional. LembagaIlmuPengetahuan
Indonesia. Jakarta.
Phillips BF and Kittaka J. 2000. General Biology. In the biology and management
of lobster. Vol.1 (Ed. By J. S. Cobb and B. F. Phillips. Academic Press.
New York. Pp 1-82.
Prisdiminggo.2002. BudidayaIkanKerapuBebek (Cromileptesaltivelis) dan
Lobster (Panulirussp) dalamKarambaJaringApung (KJA) di TelukEkas,
Lombok Timur.
Slamet B dan PT Imanto 1989. Pengamatan pemeliharaan udang karang Panulirus
homarus di labolatorium. Jurnal Penelitian Budidaya Pantai Vol.5 No.2
Subani. 1978. Status PerikananUdangKarang Di PerairanPangandaran, Jawa
Barat. JurnalPenelitianPerikananLaut
Yusnaini MN. NessaMD. danTrijuno. 2009. Ciri Morfologi Jenis
Kelamin Dan Kedewasaan Lobster Mutiara (Panulirus ornatus). Jurnal
Ilmu Kelautan Dan Perikanan. Vol 19 (3): 166-174.

37
Lampiran 1 Denah Lokasi

38
Lampiran 2 Foto Kegiatan Praktek Kerja Lapang

Persiapan kolam Sikat

Klorin Klorin

Frezer Jaring

Bak plastik Penangkapan lobster

39
Batu Bata/ Rumah Lobster Bak Pastik

Alat Ukur Refraktometer

Sampling Timbangan

Timbangan Digital Thermometer

Antibiotik Pakan Lobster

40
Lobster Terserang Penyakit Inlet

outlet

41
Foto Bersama Teknisi BBPPBL Gondol Bali

Foto Bersama Teknisi dan Teman – Teman PKL

42