Anda di halaman 1dari 14

Efron & Partner

Jl. Titiran No 19, Kota Bandung


Telp/Fax : 02177577577 Email : efronandpartner@lawyer.com
Http://www.efron-partner.com
Bandung, 1 April 2011

Hal : Nota Pembelaan (Pledoi) dalam Perkara Pidana No PDM-089/B/III/2010/BDG


Atas Nama Terdakwa Seli Sulistiyawati di Pengadilan Negeri Tingkat I Bandung
Timur

Kepada Yth.
Majelis Hakim Yang Memeriksa dan Mengadili
Perkara Pidana No : PDM-089/B/III/2010/BDG
Pada Pengadilan Negeri Bandung Timur
Jln. L.L.R.E Martadinata No. 67
Di Bandung Timur

Dengan Hormat,

Yang bertanda tangan di bawah ini,

1. Mega Fitriya, S.H., M.H.


2. Frans L., S.H., M.H.

Advokat/Penasihat Hukum berkantor di :

MEGA & ASSOCIATES, BII Jl. Titiran No 19, Kota Bandung berdasarkan Surat Kuasa
Khusus tertanggal 5 Maret 2011 bertindak untuk dan atas nama serta sah mewakili Terdakwa
Seli Sulistiyawati yang telah dihadapkan di muka persidangan ini pada persidangan tanggal 14
Maret 2011 berdasarkan Surat Dakwaan Penuntut Umum tertanggal 21 Maret 2011.

Majelis Hakim yang mulia,


Jaksa Penuntut Umum, dan hadirin persidangan yang kami hormati.

Pertama-tama, pada kesempatan ini, perkenankanlah kami, atas nama Kantor Hukum
Efron and Partner, untuk menyampaikan rasa terima kasih kami yang sungguh dalam datang
dari lubuk hati kami, atas segala kebijaksanaan yang telah Majelis Hakim tempuh di dalam
memimpin serta memeriksa perkara pidana yang dituduhkan terhadap saudara TERDAKWA
Seli Sulistiyawati binti Sunardi sehingga, berkat kebijaksanaan, ketekunan, serta ketelitian
Bapak dapatlah diungkapkan berdasarkan kenyataan mana, pada tujuan kita bersama dapatlah
terjamin suatu peradilan yang obyektif yang memberi landasan yang kokoh dan kuat bagi
putusan perkara ini.

Bertalian dengan itu kami menaruh kepercayaan bahwa Majelis Hakim serta Jaksa
Penuntut Umum akan menaruh perhatian terhadap isi nota pembelaan kami, sehingga Majelis
Hakim dapat mengambil putusan yang seadil-adilnya dalam perkara ini.

Nota Pembelaan (Pledoi) ini bukanlah suatu cara yang hendak membela kesalahan
Terdakwa agar bebas di luar pertimbangan-pertimbangan hukum, tetapi suatu ikhtiar hukum
agar sebelum Majelis Hakim yang terhormat memberi putusan telah mendapatkan keterangan,
gambaran, bukti- bukti dan segala sesuatunya atas perbuatan yang dituduhkan oleh Saudara
Penuntut Umum kepada Terdakwa. Jadi, Nota Pembelaan (Pledoi) ini adalah suatu alat
peradilan untuk membantu Majelis Hakim sampai pada suatu keyakinan, dan dengan keyakinan
ini, kesalahan atas suatu perbuatan dapat ditentukan, secara benar, adil, dan baik bagi
Terdakwa maupun bagi masyarakat, agar melalui proses persidangan, semua pihak dapat
mengungkap kebenaran materiil dari perkara ini.

Surat dakwaan JPU menurut penjelasannya dalam persidangan disusun secara


campuran (subsidair dan kumulatif). Untuk jelasnya perbuatan in concreto didakwakan kepada
diri terdakwa adalah sebagau berikut :

DAKWAAN PERTAMA :

1. PRIMAIR : Pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana


2. SUBSIDAIR : Pasal 354 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

DAKWAAN KEDUA : Pasal 406 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Sebagaimana telah kita ketahui bersama-sama bahwa surat dakwaan merupakan dasar dari
suatu proses perkara pidana. Karena itu kami muat ulang selengkapnya bunyi surat dakwaan
yang telah dibacakan pada tanggal 14 Maret 2011, sebagai berikut :

DAKWAAN PERTAMA, PRIMAIR Pasal 338 KUHPidana atau SUBSIDAIR Pasal 354
ayat (1) KUHPidana dan DAKWAAN KEDUA Pasal 406 ayat (1) KUHPidana
sebagaimana telah dibacakan pada hari Senin 14 Maret 2011 Terdakwa
Seli Sulistiyawati binti Sunardi yang sekarang ada di hadapan kita,
telah kami dakwa denan dakwaan:

DAKWAAN KESATU

PRIMAIR :

------------ Bahwa ia terdakwa Seli Sulistiyawati binti Sunardi pada


hari Selasa tanggal 11 bulan Januari tahun 2011 sekitar pukul 23.30
WIB atau sekitar waktu itu setidak-tidaknya pada suatu waktu masih
dalam tahun 2011 bertempat di Jalan Gagak Raya No. 101 RT 04/05 Kota
Bandung setidak-tidaknya disuatu tempat yang masih termasuk dalam
wilayah hukum Pengadilan Negeri Bandung bahwa telah dengan sengaja
merampas nyawa orang lain, perbuatan tersebut dilakukan oleh terdakwa
dengan cara sebagai berikut :

– Berawal pada hari Selasa tanggal 11 januari 2011 sekitar


jam 23.30 WIB, bertempat di kediaman terdakwa dan korban di
Jalan Gagak Raya No. 101 Rt 04/05 Kota Bandung. korban
pulang kerumahnya dalam keadaan mabuk,

– Bahwa pada saat korban mengetuk pintu rumahnya, terdakwa


terlalu lama membukakan pintunya sehingga menyulut emosi
korban yang sedang mabuk. Kemudian korban marah-marah
dengan memaki sambil mendorong dan memukul terdakwa.

– Bahwa mendengar keributan antara terdakwa dan korban, Usi


(anak terdakwa dan korban) yang masih kurang lebih berumur
1 (satu) tahun dan menangis.
– Bahwa korban tidak tahan mendengar tangisan usi, korban
kemudian menghampiri Usi di dalam kamarnya lalu membentak
dan memukul usi sampai berdarah.

– Bahwa terdakwa yang tidak tahan melihat perlakuan korban


terhadap Usi, terdakwa mengambil gunting yang terdapat di
atas meja riasnya dan kemudian gunting tersebut ditusukan
kearah perut korban berkali-kali sehingga korban mengalami
pendarahan hebat dan menyebabkan kematian pada korban.

------------ Berdasarkan pengakuan terdakwa dan atas dasar Visum Et


Repertum Dokter Stella Richi bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran pada Rumah
Sakit dr. Hasan Sadikin Bandung dan tim No. 2010033/IKFM/II/2011
tertanggal Februari 2011 pada korban korban Jusin Bieber terjadi luka-
luka berat pada organ tubuh yaitu ginjal yang diakibatkan adanya luka
tusukan dengan menggunakan benda tajam -------

------------ Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana


dalam Pasal 338 KUHPidana -----------

ATAU

SUBSIDAIR :

------------- Bahwa ia terdakwa Seli Sulistiyawati binti Sunardi pada


hari Selasa tanggal 11 bulan Januari tahun 2011 sekitar pukul 23.30
WIB atau sekitar waktu itu setidak-tidaknya pada suatu waktu masih
dalam tahun 2011 bertempat di Jalan Gagak Raya No. 101 RT 04/05 Kota
Bandung setidak-tidaknya disuatu tempat yang masih termasuk dalam
wilayah hukum Pengadilan Negeri Bandung bahwa telah dengan sengaja
melukai berat orang lain hingga mengakibatkan kematian orang lain,
perbuatan tersebut dilakukan oleh terdakwa dengan cara sebagai
berikut:

– Berawal pada hari Selasa tanggal 11 januari 2011 sekitar


jam 23.30 WIB, bertempat di kediaman terdakwa dan korban di
Jalan Gagak Raya No. 101 Rt 04/05 Kota Bandung. korban
pulang kerumahnya dalam keadaan mabuk,

– Bahwa pada saat korban mengetuk pintu rumahnya, terdakwa


terlalu lama membukakan pintunya sehingga menyulut emosi
korban yang sedang mabuk. Kemudian korban marah-marah
dengan memaki sambil mendorong dan memukul terdakwa.

– Bahwa mendengar keributan antara terdakwa dan korban, Usi


(anak terdakwa dan korban) yang masih kurang lebih berumur
1 (satu) tahun dan menangis.

– Bahwa korban tidak tahan mendengar tangisan usi, korban


kemudian menghampiri Usi di dalam kamarnya lalu membentak
dan memukul usi sampai berdarah.

– Bahwa terdakwa tidak tahan melihat perlakuan korban


terhadap Usi, terdakwa segera mengambil gunting yang berada
di atas meja riasnya dengan maksud untuk melukai korban,
terdakwa menusukan gunting tersebut kea rah perut korban
berkali-kali sehingga menyebabkan luka sobek di ginjal
korban.

– Bahwa luka sobek diginjal korban mengakibatkan pendarahan


hebat sehingga korbn tidak lama kemudian meninggal.

------------ Berdasarkan pengakuan terdakwa dan atas dasar Visum Et


Repertum Dokter Stella Richi bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran pada Rumah
Sakit dr. Hasan Sadikin Bandung dan tim No. 2010033/IKFM/II/2011
tertanggal Februari 2011 pada korban korban Jusin Bieber terjadi luka-
luka berat pada organ tubuh yaitu ginjal yang diakibatkan adanya luka
tusukan dengan menggunakan benda tajam ----

------------ Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana


dalam Pasal 354 ayat (1) KUHPidana -----------

DAN
DAKWAAN KEDUA

------------- Bahwa ia terdakwa Seli Sulistiyawati binti Sunardi pada


hari Selasa tanggal 11 bulan Januari tahun 2011 sekitar pukul 23.30
WIB atau sekitar waktu itu setidak-tidaknya pada suatu waktu masih
dalam tahun 2011 bertempat di Jalan Gagak Raya No. 101 RT 04/05 Kota
Bandung setidak-tidaknya disuatu tempat yang masih termasuk dalam
wilayah hukum Pengadilan Negeri Bandung bahwa telah dengan sengaja dan
melawan hukum menghancurkan, merusakan, membikin tak dapat dipakai
atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik
orang, perbuatan tersebut dilakukan oleh terdakwa dengan cara sebagai
berikut :

– Bahwa melihat korban sudah tidak bernyawa, terdakwa


mengambil pisau dan karung beras yang ada di dapur rumah
korban.

– Bahwa terdakwa memotong-motong tubuh korban menjadi


beberapa bagian dengan menggunakan pisau.

– Bahwa terdakwa membungkus seluruh potongan-potongan bagian


tubuh korban kedalam karung beras yang berwarna coklat.

– Bahwa karung yang berisi seluruh potongan-potongan bagian


tubuh korban dibawa oleh terdakwa dan kemudian karung
tersebut dibuang ke sungai cikapundung yang berada tidak
jauh di belakang rumah korban.

------------ Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana


dalam Pasal 406 ayat (1) KUHPidana ------------

Perbuatan-perbuatan tersebut di atas telah didakwakan kepada diri terdakwa, maka menurut
hukum acara pidana yang berlaku, hal-hal tersebut harus dapat dibuktikan berdasarkan alat-alat
bukti yang sah menurut KUHAP.
ANALISIS YURIDIS

Setelah kami paparkan surat dakwaan JPU, ijinkanlah kmai membahas dakwaan JPU
sebagaimana termuat dalam surat dakwaan tertanggal 14 Maret 2011

PRIMAIR : Pasal 338 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, yaitu : “Barangsiapa sengaja
merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan pidana penjara
paling lama lima belas tahun”

Unsur-unsur esensial pada pasal tersebut :

• Barangsiapa
Unsur ini terlalu luas untuk ditafsirkan pada terdakwa Seli Sulistiyawati karena Secara
teknis, Terdakwa tidak dapat dikualifikasi telah memenuhi unsur “barangsiapa” sepanjang
belum dibuktikan perbuatan pidana apa yang dilakukan oleh Terdakwa, bagaimana mungkin
Saudara Penuntut Umum dapat menyimpulkan bahwa Terdakwa adalah pelaku dalam tindak
pidana ini tanpa membuktikan terpenuhinya unsur-unsur tentang ada atau tidaknya tindak
pidana yang didakwakan kepada Terdakwa. Fakta di persidangan yang menerangkan bahwa
Korban pulang dalam keadaan mabuk dapat dimungkinkan bahwa korban dibunuh oleh orang
lain dalam perjalanan pulang kerumah keesokan harinya.
Apabila kita mengikuti definisi terpenuhinya unsur barang siapa versi Saudara Penuntut
Umum maka siapa saja termasuk Penasihat Hukum, Hakim dan Saudara Penuntut Umum
langsung secara serta merta memenuhi unsur barang siapa ini sepanjang jelas alamat dan
identitasnya.
• Dengan Sengaja
Menurut Memorie van Toelichting (MvT), kata sengaja dimengerti sebagai “ WILLEN”
dan “WETTEN” yaitu sebagai menghendaki dan mengetahui. Dalam doktrin ilmu
pengetahuan Hukum Pidana, dikenal adanya jenis kesengajaan, yakni Kesengajaan sebagai
Maksud (Opzet als Oogmerk), Kesengajaan sebagai Kepastian (Opzet als Zakerheids
Bewustzijn), Kesengajaan sebagai kemungkinan ( Opzet bij Mogelijkheids Bewustzijn).
Sengaja sebagai niat (Opzet als oormeerk), yakni bila orang sengaja melakukan suatu
tindak pidana dengan maksud untuk mencapai tujuan yang dikehendakinya. Sengaja dengan
kesadaran Pasti terjadi (Opzet bij zekerheids bewijzijn), yaitu bila orang melakukan suatu
perbuatan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, sedang ia menyadari bahwa suatu hal lain
yang tidak dimaksudkan sebagai tujuan pasti akan terjadi. Sengaja dengan kesadaran akan
kemungkinan (Dolus eventualis), yaitu bila orang melakukan suatu perbuatan, sedang ia
mengetahui bahwa mungkin perbuatan yang dilakukannya itu akan menimbulkan akibat lain
yang tidak dimaksudkan.
Dalam kasus ini Terdakwa Seli Sulistiyawati diduga melakukan perbuatan menusuk
korban dengan mengunakan gunting dalam keadaan Noodweer exces atau Pembelaan
terpaksa dan tidak sadar bahwa perbuatannya itu dapat mengakibatkan hilangnya nyawa orang
lain dan/atau pihak lain. Dalam membuat surat tuntutan nampaknya Saudara Penuntut Umum
telah terburu-buru dan keliru menyimpulkan bahwa Terdakwa Seli Sulistiyawati berdasarkan
fakta yang dibuat secara subjektif tanpa melihat fakta-kata hukum yang bertentangan bahwa
Terdakwa Seli Sulistiyawati melakukan perbuatan tersebut secara “tidak dengan sengaja”,
karena apabila kita melihat dan menganalisis fakta-fakta yang muncul di persidangan secara
lebih mendalam maka dapat terlihat Terdakwa Seli Sulistiyawati tidak melakukan perbuatan
tindak pidana seperti apa yang dituntut oleh Saudara Penuntut Umum. Hal ini karena :

Menurut terdakwa, pada awalnya ia sama sekali tidak memiliki niat untuk melakukan
pembunuhan, namun karena melihat anaknya Usi dibentak, dipukuli dan dibanting oleh korban
hingga berdarah membuat terdakwa ketakutan, khawatir, bingung dan marah yang sangat
hebat sehingga membuat keguncangan jiwa yang hebat pada diri terdakwa.

Bela paksa lampau batas (noodweer exces) merupakan istilah yang diberikan doktrin
kepada ketentuan Pasal 49 ayat (2) KUHP yaitu : “pembelaan terpaksa yang melampaui
batas,yang langsung disebabkan oleh kegoncangan jiwa yang hebat karena serangan
atau ancaman serangan”

Jadi untuk adanya bela paksa lampau batas (noodweer exces) menurut bunyi Pasal
tersebut adalah :

1. Melampaui batas pembelaan yang diperlukan

2. Pembelaan dilakukan sebagai akibat yang langsung dari keguncangan jiwa yang hebat

3. Keguncangan jiwa yang hebat itu diakibatkan oleh adanya serangan atau ancaman
serangan, jadi antara keguncangan jiwa yang hebat itu dengan serangan atau ancaman
serangan harus ada hubungan kasual

Menurut Prof. Simons : “ dalam hal ini, syarat-syarat dari suatu noodweer (bela paksa),
itu harus tetap terpenuhi, yakni bahwa untuk melakukan suatu noodweer itu perlu adanya suatu
serangan yang bersifat melawan hukum. Hanya saja orang yang melakukan pembelaan itu
dapat menjadi tidak dihukum, yaitu baik apabila perbuatan melakukan suatu pembelaan itu
sebenarnya adalah tidak perlu, maupun apabila batas-batas dari cara-cara yang dapat
dibenarkan itu telah ia langgar”.

Pendapat dari Prof. Simons di atas sama dengan pendapat daro Hoge Raad di dalam
arrestnya tanggal 24 Juni 1895, W. 6699 yang telah mengatakan antara lain bahwa :

“ hebatnya kegoncangan hati itu hanya membuat seseorang tidak dapat dihukum, yaitu dalam
hal melampaui batas-batas yang diizinkan untuk melakukan sesuatu pembelaan itu telah
dilakukan terhadap suatu serangan yang bersifat melawan hukum yang telah terjadi seketika
itu juga ”

Kemudian menurut Hazewinkel-Suringa, Pasal 49 ayat (2) KUHP itu hanya dapat
diberlakukan yaitu apabila orang yang berada didalam suatu noodweer itu telah memberikan
suatu pukulan yang terlalu keras, dan bukan karena kemarahan atau karena ketakutan telah
menyerang orang yang telah melakukan penyerangan, yakni setelah penyerangan itu sendiri
berakhir. Dan untuk dapat memberlakukan ketentuan pidana seperti yang telah diatur di dalam
Pasal 49 ayat (2) KUHP itu adalah merupakan suatu syarat bahwa seseorang itu harus berada
dalam suatu noodweer.

Jadi, pada Pasal 49 ayat (2) KUHP dapat terpenuhi apabila sudah memenuhi syarat dalam
pasal 49 ayat (1) terlebih dahulu. Sesuai dengan Pasal 49 ayat (1) KUHP :

“ Barangsiapa terpaksa melakukan perbuatan untuk pembelaan, karena ada serangan


atau ancaman serangan ketika itu yang melawan hukum, terhadap diri sendiri maupun
orang lain: terhadap kehormatan kesusilaan (eerbatheid) atau harta benda sendiri
maupun orang lain, tidak dipidana “

Menurut Memorie van Toelichting mengenai noodweer atau bela paksa itu sendiri yaitu :

Tidaklah terdapat suatu noodweer tanpa adanya suatu :

1. Serangan yang bersifat melawan hukum


2. Bahaya yang bersifat langsung bagi tubuh, kehormatan atau benda milik sendiri atau
milik orang lain
3. Keperluan untuk melakukan perbuatan yang bersangkutan untuk meniadakan bahaya
yang nyata yang telah tidak dapat ditiadakan dengan cara yang lain.

Perkataan “nood” itu artinya “darurat”, sedang perkataan “weer” itu artinya “pembelaan”,
hingga secara harfiah perkataan “noodweer” itu dapat diartikan sebagai suatu “ pembelaan yan
dilakukan di dalam keadaan darurat”. Menurut Prof. van Bemmelen telah mengatakan bahwa di
dalam suatu noodweer itu “de wet staat hier eigen richting toe” atau bahwa di dalam suatu
noodweer itu “undang-undang telah mengizinkan orang untuk main hakim sendiri”.

Untuk menentukan adanya noodweer menurut bunyi Pasal 49 ayat (1) KUHP itu harus dipenuhi
tiga syarat, yaitu :

1. Perbuatan harus terpaksa untuk pembelaan yang sangat perlu


2. Pembelaan itu hanya dapat dilakukan untuk kepentingan hukum, kepentingan hukum
yang ditentukan secara limitative yaitu :
a. Diri sendiri maupun orang lain
b. Kehormatan kesusilaan sendiri maupun orang lain
c. Harta benda sendiri maupun orang lain
1. Harus ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu (yang
dating seketika) yang melawan hukum

Dari syarat-syarat yang telah dikemukakan dimuka tindakan yang dilakukan oleh
terdakwa yaitu menusuk korban dengan menggunakan gunting kearah perut korban dalam
keadaan bela paksa atau noodweer. Karena perbuatan terdakwa dilakukan atas dasar adanya
serangan sebelumnya dilakukan oleh korban terhadap anak terdakwa yaitu Usi. Serangan yang
dilakukan oleh korban yaitu dengan membentak, memukul dan membanting Usi hingga
berdarah. Sesuai dengan syarat yang harus dipenuhi dalam noodweer apabila adanya
serangan yang bersifat melawan hukum. Menurut Prof. van Hamel, suatu serangan itu bersifat
melawan hukum, apabila orang yang mendapat serangan itu mengalami suatu penderitaan atau
dapat mengalami suatu penderitaan, padahal menurut hukum orang tersebut tidak mempunyai
kewajiban untuk mendapatkan penderitaan semacam itu. Serangan yang dilakukan oleh korban
terhadap Usi merupakan serangan yang bersifat melawan hukum, karena serangan tersebut
tidak seharusnya dilakukan terhadap Usi dan menyebabkan penderitaan terhadap Usi berupa
lebam disekujur tubuh dan mengalami luka sobek dibagian mulut Usi. Sehingga pembelaan
yang dilakukan oleh terdakwa terpaksa dilakukan dan sangat perlu karena untuk
menyelamatkan nyawa Usi yang masih berumur 1 tahun dan belum bisa membela dirinya
sendiri. Jadi, syarat yang kedua pun juga telah terpenuhi yaitu pembelaan terhadap
kepentingan hukum orang lain.

Syarat yang ketiga yaitu serangan tersebut harus bersifat seketika. Menurut Prof van
Hamel, suatu serangan itu dapat disebut sebagai bersifat seketika, yaitu bukan saja jika
serangan itu telah benar-benar dimulai, melainkan juga apabila serangan itu telah mengancam
secara langsung walaupun serangan itu sendiri belum dimulai. Pendapat ini sesuai dengan
Memorie van Toelichting yang mengatakan antara lain bahwa tidak terdapat suatu noodweer
tanpa adanya suatu “bahaya yang bersifat seketika bagi tubuh, kehormatan atau benda
kepunyaan sendiri atau kepunyaan orang lain”. Tindakan yang dilakukan oleh terdakwa
terhadap korban dilakukan seketika pada saat korban melakukan serangan terhadap Usi, hal ini
dapat dilihat dari keterangan korban yang menyatakan bahwa pada saat korban membentak
dan memukul usi, terdakwa seketika itu pula mengambil gunting yang berada tidak jauh dari
terdakwa dan seketika itu pula terdakwa menusukan gunting tersebut ketubuh korban.

Setelah penjelasan fakta-fakta diatas perbuatan terdakwa yang menusuk korban telah
memenuhi syarat noodweer dan karena bela paksa yang dilakukan oleh terdakwa terlampau
batas hingga menyebabkan korban meninggal hal ini disebabkan adanya keguncangan jiwa
yang sangat hebat pada diri terdakwa. Karena pada saat terdakwa melakukan penusukan
kearah perut korban, terdakwa dalam kondisi yang tidak normal yaitu perasaan takut, khawatir,
bingung dan marah yang sangat melihat anaknya yang masih berumur 1 tahun dipukulin oleh
korban.

Sesuai dengan ketentuan dalam hukum pidana noodweer exces harus diputus bebas
karena sifat dari noodweer exces sebagai alasan pemaaf karena menghapuskan kesalahan,
tetapi perbuatannya tetap melawan hukum. Menurut Prof. van Bemmelen : “ tindakan yang
telah dilakukan di dalam suatu noodweer exces itu tetap bersifat melanggar hukum dan
pelakunya hanyalah tidak dapat dihukum oleh karena ia tidak mempunyai suatu schuld, dalam
arti bahwa ia tidaklah dapat dipersalahkan karena tindakannya itu”.

Maka dari itu unsur “dengan sengaja” dalam pasal ini kiranya tidak terpenuhi karena
sejak semula tidak ada niat di dalam diri terdakwa untuk melakukan penusukan hingga
menyebabkan seseorang mati melainkan hanya berniat untuk membela anaknya dari serangan
korban yang sewenang-wenang.

• Merampas nyawa orang lain

Dalam perbuatan menghilangkan nyawa (orang lain) terdapat 3 syarat yang harus
dipenuhi, yaitu:
1. Adanya wujud perbuatan:

2. Adanya suatu kematian (orang lain)

3. Adanya hubungan sebab dan akibat (causal verband) antara perbuatan


dan akibat kematian (orang lain)

Antara unsur subyektif sengaja dengan wujud perbuatan menghilangkan terdapat syarat
yang juga harus dibuktikan, ialah pelaksanaan perbuatan menghilangkan nyawa (orang lain)
harus tidak lama setelah timbulnya kehendak (niat) untuk menghilangkan nyawa orang lain itu.
Unsur tingka laku sebagai “menghilangkan nyawa” orang lain menunjukan bahwa kejahatan
pembunuhan adalah suatu tindak pidana meateriil. Tindak pidana materiil adalah suatu tndak
pidana yang melarang meimbulkan akibat tertentu (akibat yang dilarang atau akibat konstitutif).
Untuk dapat terjadinya atau timbulnya tindak pidana materiil secara sempurna, tidak semata-
mata digantungkan pada selesainya perbuatan, melainkan apakaah dari wujud perbuatan itu
telah menimbulkan akibat yang terlarang ataukah belum/tidak.

Perbuatan yang dilakukan terdakwa seperti yang telah dinyatakan sebelumnya dimuka,
tidak ada unsur niat atau kesengajaan untuk menghilangkan nyawa orang lain melainkan hanya
suatu pembelaan paksa lampau batas yang menyebabkan terdakwa meninggal dunia. Pada
saat korban ditusuk dengan gunting oleh terdakwa tidak seketika itu pula menyebabkan korban
meninggal melainkan setelah beberapa menit kemudian terdakwa meninggal diakibatkan
adanya pemdarahan hebat pada perut korban. Jadi belum tentu maksud dari niat terdakwa
untuk merampas nyawa korban.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Penuntut Umum telah terburu-buru
menyimpulkan bahwa Terdakwa Seli Sulistiyawati sebagai pelaku tindak pidana pembunuhan
murni tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan adanya fakta-fakta dalam persidangan yang
jelas bertentangan dengan fakta-fakta yang dikemukakan oleh Saudara Penuntut Umum serta
dengan tidak dapat dibuktikannya unsur-unsur yang sebelumnya telah kami uraikan, dengan
demikian unsur mengakibatkan dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain tidak
terpenuhi.

Hal-hal yang meringankan terdakwa

Berdasarkan penjelasan kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa Seli Sulistiyawati,


perkenankanlah kami menyampaikan beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan bagi
Majelis Hakim untuk memutus perkara ini berdasarkan hal-hal yang melekat pada diri Terdakwa
Husni Imancakra, antara lain:

• Terdakwa belum pernah dihukum


• Terdakwa berterus terang selama di persidangan, jujur dan mengakui kesalahanya serta
menyesali perbuatannya.
• Terdakwa adalah tulang punggung bagi keluarganya karena terdakwa yang mencari
nafkah untuk menghidupi anaknya
• Terdakwa masih muda dan masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kelakuannya
di masa depan.
• Terdakwa seorang ibu yang masih dalam kondisi menyusui untuk kepentingan ASI
anaknya

Majelis Hakim yang arif dan bijaksana

Jaksa Penuntut umum yang kami hormati,

Pada akhirnya perkenankanlah kami sesuai dengan fakta yang telah diperoleh
dipersidangan menurut hukum acara pidana, mohon agar Majelis Hakim yang arif dan bijaksana
memutus :

1. Menetapkan bahwa Dakwaan Kesatu dan Dakwaan Kedua Jaksa Penuntut Umum
tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.
2. Membebaskan Terdakwa dari Dakwaan Kesatu dan Dakwaan Kedua atau setidak-
tidaknya membebaskan terdakwa Seli Sulistiyawati dari segala tuntutan hukum.
3. Membebaskan Terdakwa dari Rumah Tahanan
4. Mengembalikan nama baik dan martabat Terdakwa Husni Imancakra.
5. Membebankan biaya perkara kepada Negara

Atau

Jika majelis hakim berpendapat lain, mohon putusan yang dipandang patut dan adil (Ex
Aequo Et Bono).

Demikian nota pembelaan (pledoi) ini kami sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya.
Hormat Kami,

Penasehat Hukum Terdakwa Seli Sulistiyawati

EFRON & PARTNER

(Mega Fitriya S.H., M.H.)

(Frans L. S.H., M.H.)