Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

PERPAJAKAN

DOSEN PENGAMPU
EKO TAMINA, S.H., M.Kn.

DISUSUN OLEH
DANI IRAWAN (2021201010)

INSTITUT MARITIM PRASETIYA MANDIRI


PRODI D3 AKUNTANSI
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga
makalah ini dapat tersusun sampai dengan selesai. Tidak lupa kami mengucapkan terima
kasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan
baik pikiran maupun materinya.

Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi pembaca. Bahkan kami berharap lebih jauh lagi agar makalah ini bisa
pembaca praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi kami sebagai penyusun merasa bahwa masih banyak kekurangan dalam
penyusunan makalah ini karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman Kami. Untuk itu
kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Bandar Lampung, 13 maret 2022

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Sebelum ditetapkan sebagai wajib pajak, setiap pihak harus memenuhi persyaratan sebagai
subyek pajak terlebih dahulu. Untuk setiap jenis pajak, terdapat perbedaan mengenai
pengertian subyek pajak dan siapa saja pihak yang termasuk subyek pajak karena didalam
Ketentuan Umum Tata Cara Perpajakan (KUP) tidak dijelaskan mengenai subyek pajak.
Setelah ditentukan subyek pajaknya, maka kita melihat obyek pajak. Apakah subyek pajak
tersebut patut atau tidak untuk dikenakan pajak.
Menurut Undang-undang Pajak Penghasilan yang disebut subyek pajak dalam hal ini adalah
segala sesuatu yang mempunyai potensi untuk memperoleh penghasilan dan menjadi sasaran
untuk dikenakan pajak penghasilan. Secara garis besar, subyek PPN diantaranya, Pengusaha
Kena Pajak (PKP), Pengusaha Kecil, Badan-badan tertentu, yaitu PERTAMINA. Yang
menjadi subyek pajak PBB adalah orang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak
atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/ atau
memperoleh manfaat atas bangunan. Yang menjadi subyek pajak BPHTB adalah orang
pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan/bangunan. Bea Meterai terutang oleh
pihak yang memperoleh atau menerima manfaat dari dokumen, kecuali pihak-pihak yang
bersangkutan menentukan lain.
Menurut Undang-undang yang menjadi objek pajak penghasilan adalah penghasilan yaitu
setiap Tambahan Kemampuan Ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik
yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi
atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam
bentuk apa pun. Yang menjadi obyek PBB adalah bumi dan bangunan.

1.2 TUJUAN PEMBAHASAN


Setelah membaca makalah ini, mahasiswa diharapkan:
1. Dapat menjelaskan pengertian subjek dan objek pajak dari beberapa jenis pajak.
2. Dapat menyebutkan subjek dan objek pajak dari beberapa jenis pajak.
3. Dapat menjelaskan subjek dan objek yang terkena pajak ataupun tidak terkena pajak.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.1 SUBYEK PAJAK


Sebelum ditetapkan sebagai wajib pajak, setiap pihak harus memenuhi persyaratan sebagai
subyek pajak terlebih dahulu. Untuk setiap jenis pajak, terdapat perbedaan mengenai
pengertian subyek pajak dan siapa saja pihak yang termasuk subyek pajak karena didalam
Ketentuan Umum Tata Cara Perpajakan (KUP) tidak dijelaskan mengenai subyek pajak.

2.1.2 SUBYEK PAJAK MENURUT UNDANG-UNDANG PPh


Dari segi ekonomi penghasilan pada umumnya timbul karena adanya tindakan ekonomi.
Namun, dari segi undang-undang PPh memiliki arti yang lebih luas. Yang disebut subyek
pajak dalam hal ini adalah segala sesuatu yang mempunyai potensi untuk memperoleh
penghasilan dan menjadi sasaran untuk dikenakan pajak penghasilan. Menurut pasal 2
Undang-undang PPh No. 36 tahun 2008, merupakan perubahan ke empat dari Undang-
undang PPh No. 7 tahun 1983, yang menjadi subyek pajak adalah:
1. Orang pribadi
2. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak
3. Badan dan
4. Bentuk Usaha Tetap (BUT)

Subyek pajak dibedakan menjadi subyek pajak dalam negeri dan subyek pajak luar negeri.
a. Subyek pajak dalam negeri

1. orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di
Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan, atau orang pribadi yang
dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di
Indonesia.
2. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia kecuali unit tertentu dari
badan pemerintah yang memenuhi kriteria; pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-udangan, pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) atau belanja daerah (APBD), penerimaannya dimasukkan dalam
anggaran pemerintah pusat atau pemerintah daerah, pembukuannya diperiksa oleh aparat
pengawasan nasional negara.

3. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak.
b. Subyek pajak luar negeri

1. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di
Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu dua belas bulan dan badan yang tidak
didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui betuk usaha tetap di Indonesia.
2. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang peribadi yang berada di
Indesia tidak lebih dari 183 dalam jangka waktu dua belas bulan dan badan yang tidak
didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, yang dapat menerima atau
memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau melakukan
kegiatan melalui BUT di Indonesia.

Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi
yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih
dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan usaha di
Indonesia, dapat berupa:
a. tempat kedudukan manajemen
b. cabang perusahaan
c. kantor perwakilan
d. gedung kantor
e. pabrik
f. bengkel
g. gudang
h. ruang untuk promosi dan penjualan
i. pertambangan dan penggalian sumber alam
j. wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi
k. perikanan, peternakan, perkebunan, atau kehutanan
l. proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan
m. pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain, sepanjang
dilakukan lebih dari 60 hari dalam jangka waktu 12 bulan
n. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas
o. agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung resiko di Indonesia,
dan
p. komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, atau digunakan
oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet.
Tempat kedudukan orang pribadi atau tempat kedudukan badan ditetapkan oleh direktur
jenderal pajak menurut keadaan sebenarnya.

Yang tidak termasuk subyek pajak sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 2, menurut
pasal 3 Undang-undang PPh tahun 2008 adalah:
a. Kantor perwakilan negara asing
b. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejababat-pejabat lain dari negara asing,
dan orang-orang yang diperbantukan terhadap mereka yang bekerja pada dan bertempat
tinggal bersama-sama mereka dengan syarat bukan WNI dan di Indonesia tidak menerima
atau memperoleh penghasilan dari luar jabatan atau pekerjaannya tersebut serta negara
bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik
c. Organisasi-organisasi internasional dengan syarat:
1. Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut, dan
2. Tidak menjalankan usaha atau kegitan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia
selain memberikan pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para
anggota
d. Pejabat-pejabat pewakilan organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf c,
dengan syarat bukan WNI dan tidak menjalankan usaha kegiatan, atau pekerjaan lain untuk
memperoleh penghasilan di Indonesia

Badan-badan Internasional yang dibebaskan dari subyek pajak penghasilan menurut


Keputusan Menteri Keuangan No. 574/ KMK.04/2000 tanggal 26 Desember 2000 yang telah
diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 69/KMK.03/2003, tanggal 17 Februari
2003.
1. Badan-badan Internasioanl dari PBB, misalnya ADB, IBRD, IDA, IFC.
2. Colombo Plan
3. Kerjasama Teknik
4. Kerjasama Kebudayaan
5. Organisasi-organisasi Internasional lainnya
6. Organisasi Swasta Internasional

2.1.3 SUBYEK PAJAK MENURUT UNDANG-UNDANG PPN


Secara garis besar, subyek PPN dapat digolongkan sebagai berikut:
a. subyek PPN karena lingkungan pekerjaannya, yaitu:
1. Pengusaha Kena Pajak (PKP)
Yaitu orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun, termasuk instansi pemerintah, yang
dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya melakukan kegiatan:
- menghasilkan Barang Kena Pajak (BKP),
- mengimpor BKP, mengekspor BKP,
- melakukan usaha perdagangan, termasuk pedagang eceran,
- memanfaatkan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean
- melakukan usaha Jasa Kena Pajak (JKP) akan memanfaatkan JKP dari luar daerah
pabean.
2. Pengusaha Kecil
Adalah pengusaha yang peredaran brutonya selama satu tahun buku tidak melebihi batas
jumlah yang ditetapkan yaitu 600 juta.

3. Pedagang Eceran/Pedagang Eceran Besar


Pengusaha yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya melakukan usaha
perdagangan dalam perdagangan dengan cara sebagai berikut:
- tidak bertindak sebagai penyalur kepada pedagang lainnya

- menyerahkan Barang Kena Pajak melalui suatu tempat penjualan eceran seperti toko, kios
atau dengan cara penjualan yang dilakukan langsung kepada konsumen akhir dari rumah ke
rumah
- menyediakan Barang Kena Pajak yang diserahkan di tempat penjualan secara eceran
tersebut
- melakukan transaksi jual beli secara spontan tanpa didahului dengan penawaran tertulis,
pemesanan, kontrak atau lelang dan pada umumnya bersifat tunai, dan pembeli pada
umumnya datang ke tempat penjualan tersebut langsung membawa sendiri Barang Kena
Pajak (BKP) yang dibelinya.
b. Subyek PPN karena diwajibkan oleh perundang-undangan dalam rangka membantu
pemerintah untuk melakukan pemungutan PPN
Di dalam aturan perpajakan lebih dikenal dengan nama pemungut pajak. Yang termasuk
dalam kategori pemungut PPN adalah:
1. Kantor Perbendaharaan Negara
2. Bendaharawan yang ditunjuk sebagai pemungut pajak adalah:
a. Pejabat yang ditunjuk oleh menteri atau ketua lembaga sebagai
bendaharawan/bendaharawan proyek sesuai ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam
pasal 16 ayat 1 dan pasal 34 ayat 1 Keputusan Presiden Republik Indonesia tahun 1984
b. Bendaharawan pemerintah daerah
c. Badan-badan tertentu, yaitu PERTAMINA, Kontraktor Kontrak Bagi Hasil dan Kontrak
Karya dibidang minyak dan gas bumi dan Pertambangan Umum lainnya Badan Usaha Milik
Negaradan Daerah, Bank pemerintah dan Bank daerah dan Perusahaan Operator Telepon
Seluler
d. Subyek PPN karena melakukan suatu kegiatan tertentu diluar lingkungan perusahaannya,
yang termasuk dalam kategori ini adalah Orang Pribadi atau Badan yang melakukan kegiatan
membangun sendiri.

2.1.4 SUBYEK PAJAK MENURUT UNDANG-UNDANG PBB


Menurut Undang-undang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) nomor 12 tahun 1985 pasal 4:
1. Yang menjadi subyek pajak adalah orang atau badan yang secara nyata mempunyai suatu
hak atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/
atau memperoleh manfaat atas bangunan.
2. Subyek pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 yang dikenakan kewajiban membayar
pajak menjadi wajib pajak, menurut undang-undang ini.
3. Dalam hal atas suatu objek pajak belum jelas diketahui wajib pajaknya, Direktur Jenderal
Pajak dapat menetapkan subjek pajak sebagaimana sesuai dengan ayat 1 sebagai wajib pajak.
4. Subjek pajak yang ditetapkan sebagimana dmaksud dalam ayat 3 dapat memberikan
keterangan secara tertulis kepada DJP bahwa ia bukan wajib pajak terhadap objek pajak
dimaksud.
5. Bila keterangan yang diajukan oleh wajib pajak sebagaimana dimaksud dengan ayat 4
disetujui, maka DJP membatalkan sebagai wajib pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat 3
dalam jangka waktu satu bulan sejak diterimanya surat keterangan yang dimaksud.
6. Bila keterangan yang diajukan itu tidak disetujui, maka DJP mengeluarkan surat
keputusan penolakan disertai alasan-alasannya.
7. Apabila setelah jangka waktu satu bulan sejak tanggal diterimanya keterangan
sebagaimana dimaksud dalam ayat 4 DJP tidak memberikan keputusan, maka keterangan
yang diajukan dianggap disetujui.
2.1.5 SUBYEK PAJAK MENURUT UNDANG-UNDANG BPHTB
Menurut Undang-undang No. 21 tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan.
1. Yang menjadi subyek pajak adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh hak atas
tanah dan/bangunan.
2. Subyek pajak sebagaimana dimaksud pada ayat 1 yang dikenakan kewajiban membayar
pajak menjadi waib pajak menurut Undang-undang ini.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Untuk setiap jenis pajak, terdapat perbedaan mengenai pengertian subyek pajak dan
siapa saja pihak yang termasuk subyek pajak
2. Subyek pajak penghasilan adalah segala sesuatu yang mempunyai potensi untuk
memperoleh penghasilan dan menjadi sasaran untuk dikenakan pajak penghasilan.
3. Secara garis besar, subyek PPN diantaranya, Pengusaha Kena Pajak (PKP), Pedagang
eceran, Badan-badan tertentu, yaitu PERTAMINA, Kontraktor Kontrak Bagi Hasil.
4. Yang menjadi subyek pajak PBB adalah orang atau badan yang secara nyata mempunyai
suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai,
dan/ atau memperoleh manfaat atas bangunan.
5. Menurut Undang-undang No. 21 tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan. Yang menjadi subyek pajak adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh
hak atas tanah dan/bangunan
6. Bea Meterai terutang oleh pihak yang memperoleh atau menerima manfaat dari
dokumen, kecuali pihak-pihak yang bersangkutan menentukan lain. Dalam hal dokumen
dibuat sepihak, misalnya kwitansi, bea materai terutang kepada penerima kwitansi
7. Yang menjadi Objek Pajak adalah penghasilan yaitu setiap Tambahan
Kemampuan Ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk
menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa
pun.
8. Yang menjadi obyek PBB adalah bumi dan bangunan. Bumi adalah permukaan bumi
atau tanah dan isi yang ada di bawahnya, termasuk tanah pekarangan, sawah, empang dan
perairan pedalaman.
9. Dalam Undang-Undang PPN dan PPnBM ada tujuh poin yang membuat objek pajak
harus dikenakan atas PPN, yaitu, Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean
yang dilakukan pengusaha, Impor Barang Kena Pajak,Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam
Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha, Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak
Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean, Pemanfaatan Jasa Kena Pajak
dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean,Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud oleh
Pengusaha Kena Pajak, Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena
Pajak dan Ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.
10. Sesuai pasal 2 Undang-undang No. 13 tahun 1985 tentang Bea Meterai, maka dokumen
yang dikenakan Bea Meterai adalah surat perjanjian dan surat-surat lainnya yang dibuat
dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan atau
keadaan yang bersifat perdata, Akta-akta notaris termasuk salinannya,Akta-akta yang dibuat
oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah termasuk rangkap-rangkapnya,Surat yang memuat jumlah
uang lebih dari satu juta rupiah, Surat berharga seperti wesel, promes, aksep, dan cek yang
harga nominalnya lebih dari satu juta, efek dengan nama dan dalam bentuk apa pun,
sepanjang harga nominalnya lebih dari satu juta, Dokumen lain yang akan digunakan sebagai
alat pembuktian di muka pengadilan, antara lain, surat-surat biasa dan surat-surat
kerumahtanggaan, Surat-surat yang semula tidak dikenakan Bea Meterai berdasarkan
tujuannya, jika digunakan untuk tujuan lain atau digunakan oleh orang lain, lain dari maksud
semula.

3.2 SARAN
Pajak merupakan hal yang wajib dilaksanakan oleh seluruh warga negara. Sebagai penduduk
warga negara indonesia kita wajib mengetahui apa saja yang termasuk kedalam objek pajak.
Sehingga kita dapat melakukan tindakan terhadap harta dan kekayaan yang sudah wajib
pajak.
DAFTAR PUSTAKA

Saranta, Djaka. 2003. Dasar-dasar Perpajakan di Indonesia. Jakarta


Mansur, Muhammad,dkk. 2005. Pajak Terapan Brevet A & B. Tangerang: TaxSys
Undang-undang Perpajakan Indonesia.
http://www.pajakonline.com/
http://www.wikipedia.org/
https://mediaindonesia.com/humaniora/431439/contoh-kata-pengantar-untuk-tugas-makalah-
karya-ilmiah-dan-laporan

Anda mungkin juga menyukai