Anda di halaman 1dari 31

MATA KULIAH

PERENCANAAN JARINGAN IRIGASI DAN BANGUNAN AIR

DOSEN: DR.IR. ROSMINA ZUCHRI, MT

TUGAS BESAR 1 (SATU)

KEBUTUHAN AIR IRIGASI UNTUK TANAMAN

KUMPULKAN PADA WAKTU KULIAH 7 (TUJUH)

NAMA MAHASISWA:……………………
NIM:………………………

JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKSI


UNIVERISTAS MERCUBUANA
FEBRUARI 2022

1
DAFTAR ISI

SOAL DAN PERTANYAAN


BAB I. PENDAHULUAN
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
BAB III. ANALISA KEBUTUHAN AIR UNTUK TANAMAN
MENGGUNAKAN CARA MANUAL/KONVENSIONAL
BAB IV ANALISA KEBUTUHAN AIR IRIGASI UNTUK TANAMAN
MENGGUNAKAN PROGRAM CROPWAT
DAFTAR PUSTAKA

2
SOAL DAN PERTANYAAN:
DIKETAHUI:
Lokasi disajikan dan luas 3500 hektar.
Data curah Hujan dari stasiun hujan SBB:
Data Iklim ( temperatur/suhu, kelembaban, tekanan udara dan penyinaran matahari) sbb:
Sumber air dari sungai X.
NB. Semua data tambahkan dengan 2 angka belakang dari NIM anda.

Tabel Rosmina Zuchri 1. Data Hujan di Stasiun Hujan Rossy dari tahun 1991
sampai Tahun 2020. Ada 30 tahun data Hujan.

Lanjutan Tabel 1.

3
Lihat Tabel Rosmina Zuchri 1. Kemudian data hujan ini diolah, dijumlahkan setiap bulan pada
tahun setiap tahunnya. Misal pada Tahun 1991 diperoleh data hujan dari BMKG atau data Hujan gs
satelite. Yaitu 289 mm, Feb = 268 dst sampai Des diperoleh 284 mm. sedangkan Tahun 2008 bulan
Januari yaitu 251 mm. dst sampai desember 263 mm.

Untuk Hujan setengah Bulanan, anda bagi 2 data hujan bulan tersebut.

Data Iklim Daerah Penelitian.

DITANYA:

4
I.A. Berapa Kebutuhan air Irigasi yang kita butuhkan untuk tanaman menggunakan
cara Manual./ KP-01
Untuk menjawab soal no. I. maka harus dijawab Perhitungan setiap bulannya tentang :
1). Perhitungan Evapotranspirasi Metode Penmann Modifikasi setiap bulannya.

2). Kebutuhan Air Konsumtif (CWR)


dst
3). Kebutuhan Air Untuk Satu Petak Sawah
3a). Perkolasi
3b). Penggenangan
3c). Kebutuhan Air Untuk Satu Petak Sawah (FWR)
dst
4). Kebutuhan Air Untuk Seluruh Area Persawahan
4.a.). Efisiensi Penyaluran air
dst
5). Curah Hujan Efektif
dst
6). Evaluasi FWR dengan Hujan Efektif
dst
7). Kebutuhan Air Untuk Seluruh Area Persawahan (PWR).
Dst

5
8. Pola Tanam
9. Rotasi Tanaman
10. Kebutuhan Irigasi Untuk Tanaman

I.B. Rencanakan Dimensi Saluran Primer, Sekunder dan Tersier.


Jika Diketahui :
Luas Area seluruhnya yaitu 3500 ha. Kebutuhan Air …l/det/ha (sudah anda Hitung Pada Soal
I A diatas).
Ditanya: Menghitung dan Menggambar tentang :
1B a). Debit atau Q.
b). Kecepatan aliran (V).
c). Perbedaan dimensi b/h atau n.
d). Nilai Koefisien Strikler (k).
e). Tinggi jagaan saluran (w).
f). Luas Penampang saluran (A’).
g). Tinggi Muka Air (h’).
h). Menghitung Lebar Dasar Saluran (b’).
i). Menghitung Tinggi Saluran rencana (h).
j). Menghitung keliling Basah (P).
k). Menghitung Penampang basah (A)
l). Menghitung jari-jari Hidrolis ( R ).
m). Menghitung Kecepatan yang direncanakan (V).
n). Menghitung Kemiringan dasar Saluran (I).

II. Berapa Kebutuhan air Irigasi untuk tanaman menggunakan Software CROPWAT
2.1. Perhitungan Curah Hujan Efektif (Rain)
2.2. Perhitungan Climatologi/Evapotranspirasi (Eto)
2.3. Perhitungan Data tanaman Untuk Padi (Crop)
2.4. Perhitungan Data Tanah Daerah Irigasi (Soil)
6
2.5. Perhitungan Water Requirements / Neraca Air (CWR).
2.6. Perhitungan Jadwal Pada Tata Tanam (Crop Pattern Dan Scheme).

JAWABAN:

7
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan dan pembuangan air irigasi untuk
menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, iirgasi rawa, irigasi air bawah
tanah, irigasi pompa dan irigasi tambak. Tujuan irigasi adalah untuk memanfaatkan air irigasi
yang tersedia secara benar yakni seefisien dan seefektif mungkin agar produktifitas pertanian
dapat meningkat sesuai yang diharapkan. Dalam memenuhi kebutuhan air khususnya untuk
kebutuhan air di persawahan maka perlu didirikan system irigasi dan bangunan bendung.
Kebutuhan air di persawahan ini kemudian disebut dengan kebutuhan air irigasi.
Penduduk selalu bertambah, seiring dengan pertambahan penduduk, maka tuntutan
pemenuhan air berdasarkan waktu, ruang, jumlah dan mutu akan semakin meningkat. Selain
peningkatan jumlah atau volume air yang dibutuhkan, terjadi pula peningkatan permintaan
terhadap kuantitas air maupun kualitas pelayanannya terutama di bidang pertanian.
Di Indonesia untuk bidang pertanian, air irigasi bersumber dari sungai, waduk, air tanah
dan system pasang surut. Salah satu usaha peningkatan produksi pangan khususnya padi adalah
tersedianya air irigasi di sawah-sawah sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan air yang diperlukan
pada areal irigasi besarnya bervariasi sesuai keadaan. Kebutuhan air irigasi adalah jumlah
volume air yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan evaporasi, kehilangan air, kebutuhan air
untuk tanaman dengan memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam melalui hujan dan
konstribusi air tanah. Besarnya kebutuhan air irigasi juga bergantung kepada cara pengolahan
lahan.
Jika besarnya kebutuhan air irigasi diketahui maka dapat diprediksi pada waktu tertentu,
kapan ketersediaan air dapat memenuhi dan tidak dapat memenuhi kebutuhan air irigasi sebesar
yang dibutuhkan. Jika ketersediaan tidak dapat memenuhi kebutuhan maka dapat dicari solusinya
bagaimana kebutuhan tersebut tetap harus dipenuhi. Kebutuhan air irigasi secara keseluruhan
perlu diketahui karena merupakan salah satu tahap penting yang diperlukan dalan perencanaan
dan pengelolaan system irigasi.
Terganggunya atau rusaknya salah satu bangunan-bangunan irigasi akan mempengaruhi
kkinerja system yang ada, sehingga mengakibatkan efisiensi dan efektifitas irigasi menjadi
menurun. Apabila kondisi ini dibiarkan terus dan tidak segera di atasi, maka akan berdampak
pada penurunan produksi pertanian.
Curah hujan merupakan salah satu sumber air bagi penduduk. Curah hujan merupakan
hasil dari proses sirkulasi air yang disebut siklus hidrologi. Menurut Suyono dan Takeda (1977),
air di permukaan bumi mengalami siklus terus-menerus mulai dari proses penguapan, presipitasi
dan pengaliran keluar. Air menguap ke udara dari permukaan tanah dan laut, berubah menjadi
awan setelah melalui beberapa proses dan kemudian jatuh sebagai hujan atau salju. Sebagian air
hujan yang jatuh pada permukaan tanah akan masuk ke dalam tanah untuk mengisi lengas tanah

8
dan menjadi cadangan airtanah. Sebagian lagi yang merupakan kelebihan, akan mengisi lekuk-
lekuk permukaan tanah dan kemudian mengalir ke daerah yang lebih rendah.
Air hujan yang jatuh dan mengalir pada permukaan tanah, merupakan air tersedia yang
diolah dan digunakan oleh penduduk untuk berbagai kebutuhan. Kebutuhan air masyarakat akan
meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Selain itu, konsekuensi dari
bertambahnya jumlah penduduk adalah semakin meningkatnya kebutuhan pangan. Pemenuhan
kebutuhan pangan masyarakat salah satunya diupayakan dengan peningkatan produktivitas lahan
pertanian. Peningkatan produktivitas suatu lahan pertanian didukung oleh beberapa faktor, salah
satunya adalah tersedianya jumlah air yang cukup pada masa pertumbuhan tanaman.
Air yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan tanaman dapat diperoleh dari berbagai
sumber. Menurut Hansen dkk (1986), air yang diperlukan tanaman agar dapat tumbuh dan
berkembang diperoleh dari lima sumber, yaitu : (1). Presipitasi, (2). Air atmosfer selain
presipitasi, (3). Air permukaan, (4). Airtanah, dan (5). Air irigasi. Salah satu sumber air yang
paling sering digunakan untuk mencukupi kebutuhan air tanaman diperoleh dari irigasi.
Irigasi dipergunakan untuk menyediakan kelembapan tanah yang cukup sebagai media
pertumbuhan tanaman (Foth, 1984). Menurut Hansen dkk (1986), irigasi secara umum
didefinisikan sebagai penggunaan air pada tanah untuk keperluan penyediaan cairan yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Ketersediaan air untuk irigasi harus secara kontinyu
karena jumlah air yang tepat dan mencukupi sangat mendukung keberhasilan panen.
Jumlah air yang dialirkan menuju petak-petak sawah harus disesuaikan dengan kebutuhan
tanaman. Kebutuhan air untuk tanaman dapat diartikan sebagai total volume air yang diperlukan
tanaman agar dapat hidup. Kebutuhan air tanaman menurut Hansen dkk, (1986) adalah air yang
memasuki daerah akar tanaman untuk pembentukan jaringan tanaman dan air yang menguap dari
tanah serta tubuh genangan air pada petak sawah. Berdasarkan pengertian tersebut diketahui
bahwa kebutuhan air tanaman sebagian digunakan untuk mengganti air yang hilang akibat
transpirasi dan sebagian lagi digunakan untuk mengganti air irigasi yang hilang akibat evaporasi.
Pengembangan sistem irigasi merupakan bentuk jawaban dari pengelolaan dan
pemanfaatan sumber daya air di bidang pertanian. Pembagian air dalam saluran irigasi harus
merata dan disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan tanaman. Pembagian dan kecukupan air
tersebut dilakukan agar air dapat dimanfaatkan secara efektif, efisien dan merata. Permasalahan
yang timbul adalah kebutuhan tanaman pada sawah yang akan dialiri dapat tercukupi.

9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. HIDROLOGI
Ditinjau dari segi hidrologi, sungai mempunyai fungsi utama menampung curah hujan
dan mengalirkannya sampai ke laut. Daerah dimana sungai memperoleh air merupakan daerah
tangkapan hujan yang disebut Daerah Aliran Sungai (DAS). Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah
suatu unit kesatuan wilayah tempat air hujan mengalir menjadi aliran permukaan dan
mengumpul ke sungai menjadi aliran sungai. DAS dibatasi oleh punggung permukaan bumi
sehingga memisahkan air hujan menjadi 4 aliran permukaan ke masing-masing DAS (Soewarno,
1991). Pengertian tersebut bermakna bahwa Daerah Aliran Sungai merupakan satu kesatuan
hidrologis, yang menjadi tempat terjadinya seluruh proses hidrologi.
Total air hujan yang menjadi aliran akan tereduksi akibat proses-proses hidrologis dan
meteorologis yang terjadi, semisal oleh infiltrasi, perkolasi, intersepsi dan evapotranspirasi.
Proses-proses tersebut menyebabkan aliran permukaan yang berasal dari curah hujan tidak
seluruhnya menjadi aliran permukaan. Daur atau sirkulasi yang menjelaskan terjadinya
perputaran air dalam DAS disebut siklus hidrologi yang tersaji pada Gambar 1.1

Siklus hidrologi menggambarkan perputaran air di bumi. Sumber air dalam wujud cair
ataupun es akan mengalami penguapan (evaporation) membentuk uap air akibat pengaruh radiasi
matahari. Uap air akan terbawa angin dan mengalami kondensasi sebagai akibat penurunan suhu.

10
Kondensasi akan menyebabkan uap air berubah wujud menjadi titik-titik air yang terkumpul
membentuk awan hujan dan akhirnya jatuh sebagai curah hujan atau salju.
Air hujan yang jatuh pada permukaan tanah sebagian akan menjadi aliran permukaan
(overland flow) dan terkumpul menjadi aliran sungai (stream flow/ runoff). Sebagian lagi akan
meresap ke dalam tanah melalui proses infiltrasi dan perkolasi untuk mengisi lengas tanah (soil
moisture) dan menjadi aliran air tanah (groundwater flow). Air yang menjadi lengas tanah akan
dimanfaatkan oleh tanaman dan keluar menuju atmosfer akibat proses transpirasi tanaman.
Siklus hidrologi adalah gerak air tanpa henti dari atmosfer ke bumi dan kembali lagi ke
atmosfer melalui proses kondensasi, presipitasi, evaporasi, dan transpirasi. Siklus hidrologi dapat
juga berarti lebih sederhana yaitu peredaran air dari laut ke atmosfer melalui penguapan,
kemudian akan jatuh pada permukaan bumi dalam betuk hujan, yang mengalir di dalam tanah
dan diatas permukaan tanah sebagai sungai yang menuju laut. Panasnya air laut didukung oleh
sinar matahari karena matahari merupakan kunci sukses dari siklus hidrologi sehingga mampu
berjalan secara terus menerus kemudian dalam terjadinya air berevoporasi, lalu jatuh ke bumi
sebagai presipitasi dengan bentuk saluju, gerimis atau kabut, hujan, hujan es dan salju, dan hujan
batu. Setelah presipitasi, pada perjalanannya ke bumi akan berepoporasi Kembali ke atas atau
langsung jatuh yang diinterepsi oleh tanaman disaat sebelum mencapai tanah. Apabila telah
mencapai tanah maka siklus hidrologi akan terus bergerak secara terus menerus dengan beberapa
cara yang berbeda meliputi: Evaporasi, Infiltrasi, dan air permukaan.
Curah Hujan
Menurut Soewarno (2000), yang dimaksud dengan hujan adalah bentuk tetesan air yang
mempunyai garis tengah lebih dari 0,5 mm atau lebih kecil dan terhambur luas pada suatu
kawasan. Pengertian hujan dibedakan dengan curah hujan. Curah hujan adalah banyak air yang
jatuh ke permukaan bumi dan dinyatakan dalam ketebalan hujan (rain fall depth) dengan satuan
mm. Curah hujan merupakan total tetesan air yang terhambur luas dalam suatu kawasan. Curah
hujan diamati diukur pada stasiunstasiun pengamat curah hujan. Stasiun-stasiun hujan tersebut
akan mencatat data hujan secata periodik guna dimanfaatkan untuk analisis lebih lanjut.
Menurut Suyono dan Takeda (1977), data hujan dan pengolahannya penting untuk
diketahui dalam hidrologi. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar suplai air permukaan
maupun airtanah adalah hujan. Hujan yang jatuh di permukaan bumi diukur dengan penakar
hujan, sehingga dapat diperoleh data hujan pada suatu titik. Tebal curah hujan yang tercatat pada
stasiun hujan kemudian diolah untuk mengetahui nilai curah hujan wilayah. Curah hujan wilayah
digunakan untuk penyusunan suatu rancangan pemanfaatan air pada daerah yang bersangkutan.
Soewarno (2000), menyebutkan bahwa terdapat tiga metode pendekatan yang dianggap
dapat digunakan untuk menentukan tebal hujan rata-rata pada periode tertentu (jam; harian;
bulanan; tahunan) dari suatu DAS, yaitu metode rerata aritmatik, metode poligon Thiessen dan
metode isohyet.

11
2.2. IRIGASI
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 2001 menjelaskan bahawa Irigasi adalah usaha
manusia di dalam menyediakan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian yang jenisnya
meliputi irigasi permukaan, iirgasi bawah tanah, irigasi pompa dan iirgasi tambak. Merupakan
pengembangan dan pemantapan dari PP Nomor: 22 tahun 1982 dimana iirgasi di maksudkan
sebagai usaha penyediaan air dan pengaturan air menunjang pertanian. Menurut UU RI No
11/1974 menjelaskan tentang pengairan meliputi :
1). Irigasi;
2). Pengembangan daerah rawa;
3). Pengendalian dan pengairan banjir serta usaha untuk perbaikan sungai, waduk, bendung, dll.
4). Pengaturan penyediaan air minum, air perkotaan, air industry dan pencegahan terhadap
pencemaran atau pengotoran air dan lainnya.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 23/1982 bahwa:
a). Penyediaan air irigasi pada dasarnya untuk mengairi tanaman, tetapi perlu di perhatikan
keperluan, untuk pemukiman, peternakan dan perikanan air tawar.
b). Penggunaan air irigasi hanya diperkenankan dengan mengambil air dari saluran tersier atau
saluran kuarter pada tempat pengambilan yang telah ditetapkan pihak yang berwenang.
c). Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) , sangat ditekankan agar memperhatikan
perkembangan daerah irigasi dan pemerintah daerah (pemda) setempat.
Irigasi secara umum didefinisikan sebagai cara-cara pengelolaan dan pemanfaatan air
yang ada pada tanah untuk keperluan mencukupi pertumbuhan tanaman terutama bagi tanaman
pokok (padi dan palawija). Lebih umum lagi diartikan sebagai pemanfaatakan keberadaan air
yang ada di dunia ini tidak saja untuk pertanian tapi untuk kebutuhan dan keperluan hidup dan
kelestarian dunia itu sendiri.
Menurut Hansen, dkk (1986), definisi umum tentang irigasi adalah penggunaan air pada
tanah untuk setiap kegunaan seperti : (1). Menambahkan air ke tanah untuk menyediakan cairan
yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, (2). Menyediakan jaminan panen pada saat musim
kemarau, (3). Mencuci atau mengurangi garam dalam 3 tanah, (4). Mengurangi bahaya erosi
tanah, (5). Melunakkan gumpalan tanah guna mempermudah pembajakan, (6). Air yang
dibutuhkan untuk pembentukan tunas.
Foth (1991) mengemukakan bahwa irigasi menyalurkan atau mendistribusikan air
sepanjang garis atau kedalaman selokan-selokan dan areal yang sama yang dikelilingi oleh
pematang-pematang. Penyaluran dan pemberian air yang ideal bila kuantitasnya mencukupi dan
sesuai dengan kebutuhan tanaman. Pengairan atau pemberian air irigasi menuju petak-petak
12
sawah merupakan salah satu upaya yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan tanaman akan
air. Hansen, dkk (1986), mengemukakan bahwa pemberian air irigasi dapat dilakukan dalam
lima cara, yaitu : (1) dengan penggenangan, (2) menggunakan air di bawah permukaan tanah
melalui sub irigasi, (3) menggunakan alur, besar ataupun kecil, (4) penyiraman, atau (5) dengan
sistem cucuran.
Menurut Linsley dan Franzini (1985), ketersediaan air irigasi dipengaruhi oleh
pertimbangan-pertimbangan: (1) curah hujan, (2) lereng dan keadaan alam permukaan tanah, (3)
penyediaan air dan bagaimana pemberiannya, (4) penggiliran tanaman dan (5) laju kecepatan
infiltrasi. Pemberian air yang ideal bila kuantitasnya mencukupi hingga tanah dalam kondisi
kapasitas lapang hingga kedalaman daerah perakaran. Air yang berlebih dapat menyebabkan
genangan air pada tanah permukaan. Pada beberapa daerah basah, pemberian air irigasi adalah
berlebih karena wilayah tersebut telah jenuh dengan air. Irigasi diberikan kepada wilayah yang
tidak memiliki sumber air yang cukup untuk keperluan pemenuhan kebutuhan tanaman
pertanian.

2.2.1. Sistem Irigasi


Sistem irigasi adalah …………………………..
Jelaskan…………….

2.2.2. Jaringan Irigasi


Jaringan irigasi adalah ……………
Jaringan utama meliputi ………………….
Menurut cara pengaturan, pengukuran, serta kelengkapan fasilitas, jaringan irigasi
diklasifikasikan menjadi 3 kelompok yaitu:
1). ………………
2). ………………..
3). …………………….
Gambar jaringan irigasi disajikan pada gambar 2.2.

13
Gambar 2.2. Klasifikasi Jaringan Irigasi

Tabel 2.1.Klasifikasi Jaringan Irigasi


14
dst

2.3. KETERSEDIAAN AIR IRIGASI


Ketersediaan air pada dasarnya terdiri dari tiga bentuk yaitu : air hujan, air permukaan,
dan air tanah.
Analisis ketersediaan air menghasilkan perkiraan persediaan air di suatu wilayah sungai, analisis
ini terdiri atas langkah-langkah:
(1). Analisis data debit aliran.
(2). Analisis data hujan dan iklim.
(3). Pengisian data debit yang kosong.
(4). Analisis distribusi frekuensi.

jelaskan

2.4. ANALISIS KEBUTUHAN AIR IRIGASI


Kebutuhan air irigasi adalah jumlah volume air yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan evaporasi, kehilangan air, kebutuhan air untuk tanaman dengan
memperhatikan jumlah air yang diberikan oleh alam melalui hujan dan kontribusi air tanah.
Jumlah kebutuhan air untuk irigasi pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu:
1). Curah hujan 2). Evapotranspirasi, 3). jenis dan umur tanaman 4). Sistem pemberian air dan
system irigasi yang diguankan dan dinyatakan dalam liter/det/hektar.
Dalam menentukan kebutuhan air irigasi perlu diperhitungkan besarnya curah hujan
efektif. Sedangkan factor lain yang menentukan adalah jenis tanah dan sifat fisik tanah serta
factor iklim dan keadaan topografi setempat.
Kebutuhan air di sawah ditentukan oleh beberapa factor yaitu:

15
1). Kebutuhan air untuk penyiapan lahan. 2). Penggunaan air tanaman 3). Perkolasi 4).
Penggantian lapisan air 5). Curah hujan efektif. 6). Selain itu efisiensi juga mempengaruhi
besarnya kebutuhan air irigasi.
Jumlah kebutuhan air terbagi 3 (tiga) yaitu:
1). Kebutuhan air tanaman.(Crop water requirment)
2). Kebutuhan air untuk suatu lahan usaha tani (Farm requirment)
3). Kebutuhan air untuk suatu daerah Iirgasi (Irrigation requirment
Kebutuhan air irigasi untuk padi sawah meliputi:
1). Kebutuhan air untuk pengolahan tanah
2). Pembibitan
3). Pertumbuhan tanaman hingga panen.
Untuk tanaman palawija, nilai perkolasi tidak diperhitungkan karena tidak membutuhkan
penggenangan.
Penggantian lapisan air (water layer requirement (WLR) dijadwalkan setelah pemupukan
dan dilakukan penggantian lapisan mnurut kebutuhan. Jika tidak ada penjadwalan seperti itu,
dilakukan pemberian air sebanyak 2 (dua) kali, masing-masing 50 mm selama 0,5 bulan atau
sekali pemberian sebanyak 100 mm selama 1 bulan (3,3 mm/hari). Penggantian lapisan air
dilakukan setelah satu atau dua bulan masa transplantasi.
Analisis kebutuhan air irigasi merupakan salah satu tahap penting yang diperlukan dalam
perencanaan dan pengelolaan system irigasi. Kebutuhan air tanaman didefinisikan sebagai
jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman pada suatu periode untuk dapat tumbuh dan produksi
secara normal. Kebutuhan air nyata untuk areal usaha pertanian meliputi beberapa factor.

2.4.1. Evapotranspirasi
Evapotranspirasi adalah …………………………….
Evapotranspirasi merupakan …………………………….

Beberapa Rumus Evapotraspirasi meliputi:


1). Rumus Penmann Modifikasi
2). Rumus ….

16
3). Rumus
4). Rumus…..

dst
2.4.2. Penggunaan Konsumtif (Etc)
Kebutuhan air untuk kumulatif tanaman merupakan kedalaman air yang dierlukn untuk
memenuhi evapotranspirasi yang bebas penyakit, tumbuhan diareal pertanian yang cukup air dari
kesuburan tanah dengan potensi pertumbuhan yang baik dan tingkat lingkungan pertumbuhan
yang baik.
Etc = Kc * Eto
2.4.2.a. Kebutuhan air untuk tanaman

dst
2.4.2.b. Kebutuhan air untuk persiapan lahan

dst

2.4.3. Perkolasi atau Rembesan


Perkolasi adalah …………………

Jelaskan beserta rumus


17
18
Jelaskan beserta rumus

19
20
2.5. PROGRAM KOMPUTER CROPWAT
CROPWAT dimaksudkan sebagai alat praktis untuk menghitung laju evapotranspirasi
standar, kebutuhan air tanaman dan pengaturan irigasi tanaman.
CROPWAT adalah alat pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Divisi
Pengembangan Tanah dan Air FAO. Cropwat ini merupakan sebuah program computer untuk
perhitungan kebutuhan air tanaman dan kebutuhan irigasi berdasarkan data tanah, iklim dan
tanaman. Selain itu, program ini memungkinkan pengembangan jadwal irigasi untuk kondisi
manajemen yang berbeda dan perhitungan penyediaan air untuk berbagai skema pola tanaman.
CROPWAT juga dapat digunakan untuk mengevaluasi praktek-praktek irigasi petani dan untuk
menilai kinerja tanaman di bawah kedua kondisi tadah hujan dan iirgasi.
Pada Program Cropwat versi 8.0 merupakan suatu versi yang didalamnya mengandung
data karakteristik tanah standar dan karakteristik tanaman standar dalam perhitungan kebutuhan
air, irigasi ini cukup menggunakan 4 featur yaitu:
a). Climate/Eto yang berisi data klimatologi dengan model analisis dengan menggunakan
metode Penmann Monteith.
b). Rain yang berisi analisis data curah hujan dengan metode kalkulasi effective rain.
c). Soil yang berisi data tanah untuk menghitung infiltrasi max, rooting depth max.
d). Crw yang berisi data kc, Etc, dan effective rain untuk menghitung ketersediaan air
irgasi (irigation requiment).
Keuntungan Metode Cropwat:
1). Sangat mudah digunakan dibandingan dengan metode manual/konvensional.
2). Perhitungan kebutuhan air tanaman menjadi lebih praktis.
3). Semua jenis tanaman ( 30 ) dapat diketahui kebutuhan airnya secara tepat dan teliti.
Dan data yang disajikan lengkap.
4). Dapat mengetahui kapan waktu penanaman, jadwal irigasi, dan kebutuhan air tanaman
setiap bulannya.
5). Mampu mendesain, memanajemen, serta mampu menampilkan hasil dalam bentuk
grafik dan form.
6). File-file jadwal irigasi dapat disimpan sehingga dapat digunakan di kemudian hari.
Kelemahan Program CROPWAT:

21
1. Hanya digunakan oleh kalangan yang mengetahui program CROPWAT saja.
(karena Bahasa yang digunakan bukan Bahasa Indonesia ).

22
BAB III KEBUTUHAHAN AIR IRIGASI MENGGUNAKAN CARA MANUAL
3.1. PERHITUNGAN EVAPOTRANSPIRASI METODE PENMANN MODIFIKASI

3.2. PERHITUNGAN CURAH HUJAN


a). Curah hujan bulanan dan setengah bulanan.
b). Curah Hujan Andalan
c). Curah Hujan Effektif.

3.3. KEBUTUHAN AIR

3.4. POLA TANAM


Sistem Pola Tanam disajikan pada Tabel:

Dst

3..5. PERHITUNGAN DAN GAMBARKAN DIMENSI SALURAN IRIGASI


Dst

23
BAB IV KEBUTUHAN AIR IRIGASI MENGGUNAKAN PROGRAM CROPWAT

4.1. Perhitungan Curah Hujan Efektif (Rain)


4.2. Perhitungan Climatologi/Evapotranspirasi (Eto)
4.3. Perhitungan Data tanaman Untuk Padi (Crop)
4.4. Perhitungan Data Tanah Daerah Irigasi (Soil)
4.5. Perhitungan Water Requirements / Neraca Air (CWR).
4.6. Perhitungan Jadwal Pada Tata Tanam (Crop Pattern Dan Scheme).

24
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

//////////////////========///////////////

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Kriteria Perencanaan (KP-01 – 9) Dirjen Irigasi Pekerjaan Umum.


2. Panduan Penggunaan CROPWAT.
3. Dr. Ir. Rosmina Zuchri, MT. Modul Perencanaan Jaringan Irigasi dan Bangunan Air.
Universitas Mercu Buana.
4. www.google.com
5. www.youtube.com
6. Putu Perdana Kusuma Wiguna, S.Si, MSc, 2019. Metode Perhitungan Kebutuhan Air
Irigasi.

26
27
28
29
30
31

Anda mungkin juga menyukai