Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN

DIAGNOSA MEDIS TB PARU DIRUANG GARDENIA RSUD dr. DORIS


SYLVANUS PALANGKARAYA

Disusun Oleh :

Oleh : Desri Handayani

NIM. 2019.C.11a.1004

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

PRODI S1 KEPERAWATAN

TAHUN 2021/2022
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan ini disusun oleh :

Nama : Desri Handayani

NIM : 2019.C.11a.1004

Program Studi : S1 Keperawatan

Judul : Laporan pendahuluan dan Asuhan Keperawatan dengan diagnose


medis TB PARU di Ruang Gardenia RSUD dr. Doris Sylvanus
Palangka Raya.

Telah melakukan asuhan keperawatan sebagai persyaratan untuk mneyelesaikan


Praktik Pra Klinik Keperawatan III Program Studi S-1 Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Eka Harap Palangka Raya.

Laporan Keperawatan ini telah disetujui oleh:

Pembimbing Akademik, Pembimbing Lahan,

Rimba Aprianti, S. Kep., Ners Erika Sihombing, S.Kep.,Ners

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan Rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan Studi Kasus TB paru ini
dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Penyusunan Laporan Pendahuluan ini bertujuan untuk memenuhi tugas Praktik
Praklinik Keperawatan III (PPK III) pada Program Studi S-1 Keperawatan.

Penulis menyadari bahwa pelaksanaan dan penyusunan Laporan Pendahuluan ini


tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun
tidak langsung. Untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Maria Adelheid Ensia, S.Pd., M.Kes, selaku Ketua STIKes Eka Harap Palangka
Raya.
2. Ibu Meilitha Carolina, Ners, M.Kep, Selaku Ketua Prodi S1 Keperawatan STIKes Eka
Harap Palangka Raya.
3. Ibu Ika Paskaria S.Kep., Ners , Selaku Koordinator PPK III
4. Ibu Rimba Aprianti, S.Kep.,Ners ,Selaku Pembimbing Akademik yang telah banyak
memberi arahan, masukan dan bimbingan dalam penyelesaian Studi Kasus ini.
5. Ibu Erika Sihombing, S.Kep., Ners selaku pembimbing lahan di RSUD dr. Doris
Sylvanus Palangkaraya yang telah memberikan uji ditempat.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan laporan pendahuluan ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun, untuk
perbaikan dimasa yang akan mendatang. Akhir kata penulis mengucapkan sekian dan
terima kasih.

Palangka Raya, 27 Maret 2022

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Sampul...............................................................................................
Lembar Pengesahan.......................................................................................... i
Kata Pengantar.................................................................................................. ii
Daftar Isi........................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................

1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 2
1.3 Tujuan penulisan................................................................................... 2
1.4 Manfaat................................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................
2.1 KONSEP DASAR TB PARU
2.1.1 Definisi ............................................................................................ 4
2.1.2 Etiologi ............................................................................................ 4
2.1.3 Manifestasi Klinis............................................................................ 5
2.1.4 Klasifikasi TB.................................................................................. 6
2.1.5 Patofisiologi .................................................................................... 7
2.1.6 Penularan TB.................................................................................... 8
2.1.7 Komplikasi....................................................................................... 8
2.1.8 Pemeriksaan penunjang.................................................................... 9
2.1.9 Penatalaksanaan............................................................................... 9
2.1.10 Pathway......................................................................................... 13
2.2 KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN.................................... 12
2.2.1 Pengkajian........................................................................................ 14
2.2.2 Diagnosa........................................................................................... 16
2.2.3 Intervensi.......................................................................................... 16
2.2.4 Implementasi.................................................................................... 21
2.2.5 Evaluasi............................................................................................ 21
BAB III PENUTUP.........................................................................................
3.1 Kesimpulan ............................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 24

iii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari


Mycobacterium tuberculosis, yang mempengaruhi paru-paru. TB merupakan salah satu
penyakit tertua yang diketahui mempengaruhi manusia menjadi penyebab utama kematian
di seluruh dunia (Kasper, 2017).
TB adalah salah satu dari 10 penyebab kematian di seluruh dunia. Pada tahun 2017, 10
juta orang jatuh sakit dengan TB (WHO,2018). Prevalensi TB di Indonesia pada tahun
2013 sebesar 0,4%, dan tidak mengalami peningkatan pada tahun 2018 (Riskesdas, 2018).
Di Jawa Tengah prevalensi penderita TB pada tahun 2016 sebesar 118 per 100.000
penduduk dan terjadi peningkatan pada tahun 2017 yaitu 132,9 per 100.000 penduduk
(Dinkes Jateng, 2017). Menurut Laporan Kinerja RSUD Dr. Moewardi terakhir pada bulan
Mei (2017), pada pelayanan pemeriksaan laboratorium mikrobiologi klinik terdapat 310
kasus TB. Penurunan imunitas merupakan resiko salah satu yang menyebabkan seorang
untuk menderita TB.
TBC di Indonesia merupakan salah satu jenis penyakit penyebab kematian nomor
empat setelah penyakit stroke, diabetes dan hipertensi. Kasus penyakit TBC di Indonesia
masih terbilang tinggi yakni mencapai sekitar 450 ribu kasus setiap tahun dan kasus
kematian akibat TBC sekitar 65 ribu orang. Penyakit TBC lebih banyak menyerang orang
yang lemah kekebalan tubuhnya, lanjut usia, dan pasien yang pernah terserang TBC pada
masa kanak-kanaknya. Penyebab penyakit TBC adalah infeksi yang diakibatkan dari
kuman Mycobaterium tuberkulosis yang sangat mudah menular melalui udara dengan
sarana cairan yang keluar saat penderita bersin dan batuk, yang terhirup oleh orang
sekitarnya. Seseorang yang terinfeksi TB paru akan menimbulkan berbagai dampak di
kehidupannya, baik secara fisik, mental, maupun sosial. Secara fisik, seseorang yang telah
terinfeksi TB paru akan sering batuk, sesak nafas, nyeri dada, berat badan dan nafsu
makan menurun, serta berkeringat di malam hari. Semua hal itu tentunya akan
mengakibatkan seseorang tersebut menjadi lemah. Secara mental, seseorang yang telah
terinfeksi TB paru umumnya akan merasakan berbagai ketakutan di dalam dirinya, seperti
ketakutan akan kematian, pengobatan, efek samping dalam melakukan pengobatan,
kehilangan pekerjaan, kemungkinan menularkan penyakit ke orang lain, serta ketakutan
akan ditolak dan didiskriminasi oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.

1
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana asuhan keperawatan Dengan Diagnosa Medis TB Paru Diruang
Gardenia RSUD dr. Doris Sylvanus Palangkaraya?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan dan memberikan Asuhan Keperawatan Dengan
Diagnosa Medis TB Paru Diruang Gardenia RSUD dr. Doris Sylvanus Palangkaraya.

1.3.2 Tujuan Khusus


1.3.2.1 Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar Penyakit
1.3.2.2 Mahasiswa mampu menjelaskan Manajemen Asuhan Keperawatan Pada pasien
dengan diagnosa medis TB Paru
1.3.2.3 Mahasiswa mampu melakukan pengkajian keperawatan pada Dengan Diagnosa
Medis TB Paru Diruang Gardenia RSUD dr. Doris Sylvanus Palangkaraya
1.3.2.4 Mahasiswa mampu menentukan dan menyusun intervensi keperawatan Dengan
Diagnosa Medis TB Paru Diruang Gardenia RSUD dr. Doris Sylvanus
Palangkaraya.
1.3.2.5 Mahasiswa mampu melaksanakan implementasi keperawatan Dengan Diagnosa
Medis TB Paru Diruang Gardenia RSUD dr. Doris Sylvanus Palangkaraya.
1.3.2.6 Mahasiswa mampu melakukan evaluasi keperawatan Dengan Diagnosa Medis TB
Paru Diruang Gardenia RSUD dr. Doris Sylvanus Palangkaraya.
1.3.2.7 Mahasiswa mampu menyusun dokumentasi keperawatan Dengan Diagnosa Medis
TB Paru Diruang Gardenia RSUD dr. Doris Sylvanus Palangkaraya.
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Mahasiswa
Diharapkan agar mahasiswa dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan
dengan menerapkan proses keperawatan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang
diperoleh selama menempuh pendidikan di Program Studi S1 Keperawatan Stikes Eka
Harap Palangka Raya.

1.4.2 Bagi Klien dan Keluarga


Klien dan keluarga mengerti cara perawatan pada penyakit dengan dianosa medis
TB Paru secara benar dan bisa melakukan keperawatan di rumah dengan mandiri.

2
1.4.3 Bagi Institusi
1.4.3.1 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai sumber bacaan tentang TB Paru dan Asuhan Keperawatannya.

1.4.3.2 Bagi Institusi Rumah Sakit


Memberikan gambaran pelaksanaan Asuhan Keperawatan dan Meningkatkan mutu
pelayanan perawatan di Rumah Sakit kepada pasien dengan diagnosa medis TB Paru
melalui Asuhan Keperawatan yang dilaksanakan secara komprehensif.

1.4.4 Bagi IPTEK


Sebagai sumber ilmu pengetahuan teknologi, apa saja alat-alat yang dapat
membantu serta menunjang pelayanan perawatan yang berguna bagi status kesembuhan
klien

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep TB paru


2.1.1 Definisi
TB paru adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh kuman TB
(mycobacterium tuberculosis). Kuman tersebut masuk ke dalam tubuh manusia melalui
udara ke dalam paru-paru,dan menyebar dari paru-paru ke organ tubuh yang lain melalui
peredaran darah seperti kelenjar limfe, saluran pernapasan atau penyebaran langsung ke
organ tubuh lainnya (Hariadi, Slamet, dkk.2018).
TB merupakan penyakit infeksi kronis yang sering terjadi atau ditemukan di tempat
tinggal dengan lingkungan padat penduduk atau daerah urban, yang kemungkinan besar
telah mempermudah proses penularan dan berperan terhadap peningkatan jumlah kasus
TB (Hasan, Helmia dkk ,2018).
2.1.2 Etiologi
Penyebab tuberkulosis adalah mycobacterium tuberculosis. Basil ini tidak berspora
sehingga mudah dibasmi dengan sinar matahari, pemanasan dan sinar ultraviolet.
Terdapat 2 macam mycobacterium tuberculosis yaitu tipe human dan bovin. Basil tipe
human berada di bercak ludah (droplet) di udara yang berasal dari penderita TB paru dan
orang yang rentan terinfeksi bila menghirup bercak ludah ini (Hariadi, Slamet, dkk.2018).
Menurut (Junaidi, Iskandar. 2017) Faktor resiko TB paru sebagai berikut:
2.1.2.1 Kontak dekat dengan seseorang yang memiliki TB aktif.
2.1.2.2 Status imunocompromized (penurunan imunitas) misalnya kanker, lansia, HIV.
2.1.2.3 Penggunaan narkoba suntikan dan alkoholisme.
2.1.2.4 Kondisi medis yang sudah ada sebelumnya, termasuk diabetes, kekurangan gizi,
gagal ginjal kronis.
2.1.2.5 Imigran dari negara-negara dengan tingkat tuberkulosis yang tinggi misal Asia
Tenggara, Haiti.
2.1.2.6 Tingkat di perumahan yang padat dan tidak sesuai standart.
2.1.2.7 Pekerjaan misalnya petugas pelayanan kesehatan.
2.1.2.8 Orang yang kurang mendapat perawatan kesehatan yang memadai misalnya
tunawisma atau miskin.

4
2.1.3 Manifestasi klinis
Tanda dan gejala pada TB paru yaitu batuk >3 minggu, nyeri dada, malaise, sesak
nafas, batuk darah, demam. Tanda dan gejala pada TB paru dibagi menjadi 2 bagian yaitu
gejala sistemik dan respiratorik (Junaidi, Iskandar. 2017).
2.1.3.1 Gejala sistemik yaitu :
a. Demam
Adanya proses peradangan akibat dari infeksi bakteri sehingga timbul gejala demam.
Ketika mycobacterium tuberculosis terhirup oleh udara ke paru dan menempel pada
bronkus atau alveolus untuk memperbanyak diri, maka terjadi peradangan (inflamasi)
,dan metabolisme meningkat sehingga suhu tubuh meningkat dan terjadilah demam.
b. Malaise
Malaise adalah rasa tidak enak badan, penurunan nafsu makan, pegal-pegal,
penurunan berat badan dan mudah lelah.
2.1.3.2 Gejala respiratorik yaitu :
a. Batuk
Batuk dimulai dari batuk kering (non produktif) kemudian muncul peradangan
menjadi produktif atau menghasilkan sputum yang terjadi lebih dari 3 minggu
(Junaidi, Iskandar. 2017).
b. Batuk darah
Batuk darah atau hemoptisis merupakan batuk yang terjadi akibat dari pecahnya
pembuluh darah. Darah yang dikeluarkan bisa bervariasi, berupa garis atau bercak
darah, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah yang banyak.
c. Sesak nafas
Pada awal TB sesak nafas tidak ditemukan. Sesak nafas ditemukan jika penyakit
berkelanjutan dengan kerusakan paru yang meluas atau karena adanya hal lain seperti
efusi pleura, pneumothorax dan lain-lain
d. Nyeri dada
Gejala nyeri dada dapat bersifat bersifat lokal apabila yang dirasakan berada pada
tempat patologi yang terjadi, tapi dapat beralih ke tempat lain seperti leher,abdomen
dan punggung. Bersifat pluritik apabila nyeri yang dirasakan akibat iritasi pleura
parietalis yang terasa tajam seperti ditusuk-tusuk pisau.

5
2.1.4 Klasifikasi TB
2.1.4.1 Klasifikasi berdasarkan lokasi anatomi dari penyakit
a. Tuberkulosis paru
TB yang terjadi pada parenkim (jaringan) paru. Milier TB dianggap sebagai
TB paru karena adanya lesi pada jaringan paru.
b. Tuberkulosis ekstra paru
TB yang terjadi pada organ selain paru misalnya kelenjar limfe, pleura,
abdomen, saluran kencing, kulit, selaput otak, sendi dan tulang
2.1.4.2 Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya:
a. Klien baru TB: klien yang belum pernah mendapatkan pengobatan TB paru
sebelumnya atau sudah pernah menelan OAT namun kurang dari satu bulan
(< 28 dosis).
b. Klien yang pernah diobati TB: klien yang sebelumnya pernah menelan OAT
selama satu bulan atau lebih (≥ 28 hari).
1) Klien berdasarkan hasil pengobatan TB terakhir, yaitu:
(a) Klien kambuh: klien TB paru yang pernah dinayatakn sembuh dan
saat ini didiagnosis TB berdasarkan hasil pemeriksaan bakteriologi
(b) Klien yang diobati kembali setelah gagal: klien TB paru yang pernah
diobati dan gagal pada pengobatan terakhir.
(c) Klien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up):
klien TB paru yang pernah diobati dan dinyatakan lost to follow-up
(dikenal sebagai pengobatan klien setelah putus berobat).
(d) Lain-lain: klien TB paru yang pernah diobati tetapi hasil akhir
pengobatan sebelumnya tidak diketahui.
2.1.4.3 Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan uji kepekaan obat:
Pengelompokkan penderita TB berdasarkan hasil uji kepekaan contoh uji
dari mycobacterium tuberculosis terhadap OAT:
a. Mono resisten (TB MR): resisten terhadap salah satu jenis OAT lini pertama
saja.
b. Poli resisten (TB PR): resisten terhadap lebih dari satu jenis OAT lini
pertama selain Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) secara bersamaan.
c. Multidrug resisten (TB MDR): resisten terhadap Isoniazid (H) dan
Rifampisin (R) secara bersamaan.

6
d. Extensive drug resistan (TB XDR): TB MDR sekaligus resisten terhadap
salah satu OAT golongan fluorokuinolon dan minimal salah satu dari OAT
lini kedua jenis suntikan (Kanamisin, Kapreomisin, Amikasin).
e. Resisten Rifampisin (TB RR): resisten terhadap Rifampisin dengan atau
tanpa resistensi terhadap OAT lain yang terdeteksi.
2.1.4.4 Klasifikasi penderita TB berdasarkan status HIV:
a. Klien TB dengan HIV positif
b. Klien TB dengan HIV negatif
c. Klien TB dengan status HIV tidak diketahui

2.1.5 Patofisiologi
Individu terinfeksi melalui droplet nuclei dari pasien TB paru ketika pasien batuk,
bersin, tertawa. Droplet nuclei ini mengandung basil TB dan ukurannya kurang dari 5
mikron dan akan melayang-layang di udara. Droplet nuclei ini mengandung basil TB.
Saat Mikrobacterium Tuberkulosa berhasil menginfeksi paru- paru maka dengan segera
akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular. Biasanya melalui serangkaian
reaksi imunologis, bakteri TB paru ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan
dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu
membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TB paru akan menjadi
dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang sebenarnya terlihat sebagai
tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen. Sistem imun tubuh berespon dengan melakukan
reaksi inflamasi. Fagosit (neutrofil dan makrofag) menelan banyak bakteri; limpospesifik-
tuberkulosis melisis (menghancurkan) basil dan jaringan normal. Reaksi jaringan ini
mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli, yang menyebabkan
bronkopneumonia dan infeksi awal terjadi dalam 2-10 minggu setelah pemajanan (Hasan,
Helmia. 2018)
Massa jaringan paru yang disebut granulomas merupakan gumpalan basil yang
masih hidup. Granulomas diubah menjadi massa jaringan -jaringan fibrosa, bagian sentral
dari massa fibrosa ini disebut tuberkel ghon dan menjadi nekrotik membentuk massa
seperti keju. Massa ini dapat mengalami klasifikasi, membentuk skar kolagenosa. Bakteri
menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif. Setelah pemajaman dan infeksi
awal, individu dapat mengalami penyakit aktif karna gangguan atau respon yang
inadekuat dari respon sistem imun. Penyakit dapat juga aktif dengan infeksi ulang dan
aktivasi bakteri dorman. Dalam kasus ini, tuberkel ghon memecah melepaskan bahan

7
seperti keju dalam bronki. Bakteri kemudian menjadi tersebar di udara, mengakibatkan
penyebaran penyakit lebih jauh. Tuberkel yang menyerang membentuk jaringan
parut.Paru yang terinfeksi menjadi lebih membengkak, mengakibatkan terjadinya
bronkopneumonia lebih lanjut.

2.1.6 Penularan TB
Daya penularan dari seorang TB paru ditentukan oleh: (Hasan, Helmia. 2018)
2.1.6.1 Banyak nya kuman yang terdapat dalam paru penderita.
2.1.6.2 Penyebaran kuman di udara.
2.1.6.3 Penyebaran kuman bersama dahak berupa droplet yang berada disekitar TB paru.
Kuman pada penderita TB paru dapat terlihat oleh mikroskop pada sediaan dahaknya
(BTA positif) dan infeksius. Sedangkan penderita TB paru yang kumannya tidak dapat
dilihat langsung oleh mikroskop pada sediaan (BTA negatif) dan kurang menular. Pada
penderita TB ekstra paru tidak menular kecuali pada penderita TB paru. Penderita TB BTA
positif mengeluarkan kuman di udara dalam bentuk droplet pada saat batuk atau bersin.
Droplet ini mengandung kuman TB dan dapat bertahan di udara selama beberapa jam. Jika
droplet ini terhirup oleh orang lain dan menetap dalam paru yang menghirupnya maka
kuman ini akan berkembang biak dan terjadi infeksi. Orang yang serumah dengan
penderita TB paru BTA positif adalah orang yang kemungkinan besar terpapar kuman TB.

2.1.7 Komplikasi
Komplikasi yang muncul pada TB paru menurut (Alsagaff, Hood & Abdul Mukty. 2019),
2.1.7.1 Pneumothorak (adanya udara di dalam rongga pleura) spontan : kolaps spontan
karena kerusakan jaringan paru.
2.1.7.2 Bronki ektasis (peleburan bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan
ikat pada proses pemulihan atau reaktif) di paru.
2.1.7.3 Penyebaran infeksi keorgan lainnya seperti otak,tulang, persendian, ginjal dan
sebagainya.
2.1.7.4 Insufisiensi kardiopulmonal (Chardio Pulmonary Insufficiency).
2.1.7.5 Hemoptisis berat (pendarahan pada saluran nafas bawah) yang mengakibatkan
kematian karena terjadinya syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan
pernafasan.

8
2.1.8 Pemeriksaan Penunjang
(Menurut Kemenkes,2018) pemeriksaan pada penderita TB paru yang perlu
diperhatikan adalah sebagai berikut:
2.1.8.1 Pemeriksaan dahak mikroskopis langsung
a. Untuk diagnosis dilakukan pemeriksaan dahak mikroskopis langsung, penderita TB
diperiksa contoh uji dahak SPS (sewaktu- pagi-sewaktu).
b. Ditetapkan sebagai penderita TB apabila minimal satu dari pemeriksaan hasilnya
BTA positif.
2.1.8.2 Pemeriksaan dahak
Pemeriksaan dahak mikroskopis langsung Pemeriksaan dilakukan dengan cara
mengumpulkan 3 contoh uji dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan
berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS) :
S (sewaktu) : Dahak ditampung saat pasien TB datang berkunjung pertama kali ke
pelayanan kesehatan. Saat pulang pasien membawa sebuah pot dahak untuk
menampung dahak pagi pada hari kedua.
P (pagi) : Dahak ditampung pasien pada hari kedua,setelah bangun tidur. Pot
dibawa
dan diserahkan kepada petugas pelayanan kesehatan.
S (sewaktu) : Dahak ditampung pada hari kedua setelah saat menyerahkan dahak
pagi.
2.1.8.3 Pemeriksaan biakan
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi mycbacterium tuberculosis.

2.1.8.4 Pemeriksaan uji kepekaan obat


Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan ada tidaknya resistensi
mycobacterium tuberculosis terhadap OAT. Pemeriksaan uji kepekaan obat harus
dilakukan oleh laboratorium yang telah lulus uji pemantapan mutu atau quality
assurance. (Kemenkes,2018).

2.1.9 Penatalaksanaan
2.1.9.1 Pengobatan TB paru menurut Kemenkes RI (2018):
pengobatan TB diberikan dalam dua tahap yaitu tahap awal (intensif) dan tahap
lanjutan.

9
a. Tahap awal : Pada tahap awal, penderita mendapatkan obat setiap hari dan perlu
diawasi secara langsung guna mencegah terjadinya resisten obat.
b. Tahap lanjutan : Pada tahap lanjutan, penderita mendapatkan jenis obat yang
lebih sedikit tetapi dalam jangka waktu lebih lama.
2.1.9.2 Obat anti tuberkulosis
a. Isoniazid (H)
Isoniazid diberikan melalui oral atau intramuskular. Obat ini memiliki dua
pengaruh toksik utama yaitu neuritis perifer dan hepatotoksik. Tanda dari
neuritis perifer yaitu mati rasa dan rasa gatal pada tangan dan kaki. Sedangkan
hepatotoksik jarang terjadi, mungkin terjadi pada anak dengan TB berat dan
remaja
b. Rifampisin (R)
Efek samping obat ini yaitu terjadi perubahan warna orange pada urine dan air
mata dan gangguan saluran pencernaan.
c. Etambutol (E)
Etambutol bertujuan untuk mencegah resistensi terhadap obat yang lain.
d. Pirazinamid (Z)
Obat ini bersifat bakterisid dan memiliki efek samping rasa mual yang disertai
nyeri ulu hati dan muntah.
e. Streptomisin
Efek samping dari obat streptomisin yaitu rasa kesemutan didaerah mulut dan
muka setelah obat disuntikan.

10
2.1.9.3 Panduan OAT di Indonesia
a. Kategori 1 : 2(HRZE)/4H3R3
Obat diberikan selama dua bulan 2 (HRZE). Kemudian dilanjutkan pada tahap
lanjutan yang diberikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan (4H3R3).
Tabel Panduan dosis OAT untuk kategori 1 :2(HRZE)/4H3R3

Tahap lanjutan 3
Tahap intensif tiap hari kali seminggu
Berat selama 50 hari RHZE selama 16 minggu
badan (150mg/75mg/400mg/275mg) RH

( 150mg/150mg)
30-37kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT

38-54kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT

55-70kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT

71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT

Sumber : Kemenkes,2018
Keterangan :
H = Isoniasid
R = Rifampisin
Z = Pirasinamid
E = Etambutol
S = Streptomisin
b. Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3
Obat ini diberikan pada pasien BTA positif yang pernah diobat sebelumnya.

Tabel Panduan OAT kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3

Tahap lanjutan 3
Tahap intensif tiap hari RHZE
Berat kali seminggu RH
(150/75/400/275)+S
(150/150)+ E (400)

11
Badan 56 hari 28 hari 20 minggu

2tab 4KDT + 500 mg 2tab 2tab 2KDT + 2 tab


30-37 kg
streptomisin inj. 4KDT Etambutol
3tab 4KDT+750 mg 3tab 3tab 2KDT + 3 tab
38-54 kg
streptomisin inj. 4KDT Etambutol
4tab 4KDT+1000 mg 4tab 4 tab 2KDT + 4 tab
55-70 kg
streptomisin inj. 4KDT Etambutol
5 tab 4KDT+1000 mg 5tab 5 tab 2KDT + 5 tab
71 kg
streptomisin inj. 4KDT Etambutol
Sumber : Kemenkes,2018
c. Obat sisipan (HRZE)
Paket sisipan KDT merupakan paduan paket tahap intensif atau kategori 1
yang diberikan selama 28 hari (Kemenkes,2018).
Tabel KDT sisipan
Tahap intensif tiap hari selama 28 hari
Berat badan RHZE

(150/75/400/275)
30-37 kg 2 tablet 4KDT

38-54 kg 3 tablet 4KDT

55-70 kg 4 tablet 4KDT

71 kg 5 tablet 4KDT

12
2.1.10 Pathway

13
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan

2.2.1 Pengkajian
2.2.1.1 Identitas pasien menurut (Gusti,2019).
Identitas pasien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, pendidikan, status
perkawinan, suku bangsa, no. register, tanggal MRS, dan diagnosa keperawatan

2.2.1.2 Umur
Pada penderita TB paru ditemukan pada usia produktif sekitar 15- 50 tahun. Usia lebih
dari 55 tahun sistem imunologis menurun sehingga membuat rentan terhadap berbagai
penyakit termasuk TB paru.

2.2.1.3 Jenis kelamin


Penyakit TB paru cenderung lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan, karena pada
laki-laki cenderung merokok dan minum alkohol sehingga menurunkan sistem
pertahanan tubuh.

2.2.1.4 Faktor sosial ekonomi


Faktor sosial ekonomi berkaitan dengan tempat tinggal, lingkungan rumah dan sanitasi
tempat kerja yang buruk memudahkan penularan TB paru.

2.2.1.5 Suku bangsa


Penderita TB paru sering diderita di daerah beriklim tropis.

2.2.1.6 Keluhan utama


TB paru dijuluki sebagai the great iminator yaitu suatu penyakit yang memiliki
kemiripan gejala dengan penyakit lain seperti lemah dan demam. keluhan pada penderita
TB paru yaitu:

a. Batuk Keluhan batuk timbul pada awal dan merupakan gangguan yang sering
dikeluhkan oleh klien.
b. Batuk darah Batuk darah Keluhan batuk darah pada klien TB paru selalu menjadi
alasan utama unt meminta pertolongan kesehatan
c. Sesak nafas
Keluhan sesak nafas ditemukan apabila kerusakan parenkim sudah luas atau ada
hal-hal lainnya seperti efusi pleura, pneumothoraks dan lain-lain.
d. Nyeri dada
Nyeri dada pada klien dengan TB paru termasuk nyeri pleuritik ringan.

14
e. Demam
Demam biasanya timbul pada sore atau malam hari mirip demam atau influenza
yang hilang timbul.
2.2.1.7 Keluhan sistemis lainnya
Keluhan yang muncul biasanya keringat malam, anoreksia, malaise, penurunan berat
badan.

2.2.1.8 Riwayat penyakit sekarang


Pengkajian ini dilakukan untuk mendukung keluhan utama. Jika keluhan pada pasien
adalah batuk maka perawat harus menanyakan berapa lama batuk muncul. Jika yang
menjadi alasan pasien meminta pertolongan kesehatan adalah sesak nafas maka perawat
harus mengkaji dengan menggunakan PQRST agar memudahkan perawat dalam
pengkajian.
a. Provoking incident: apakah ada peristiwa penyebab sesak nafas, apakah
sesak nafas berkurang saat istirahat?
b. Quality of pain: seperti apa rasa sesak nafas yang dirasakan pasien apakah
rasanya seperti tercekik atau sulit dalam melakukan inspirasi?
c. Region: dimana rasa berat dalam melakukan pernafasan? Harus ditunjukan
oleh pasien.
d. Severity (scala) of pain: seberapa jauh sesak nafas yang dirasakan klien,
seberapa jauh sesak nafas mempengaruhi aktivitas klien.
e. Time: berapa lama rasa nyeri berlangsung, kapan dan apakah bertambah
buruk pada malam hari atau pada siang hari. Apakah sesak nafas timbul
mendadak atau perlahan

2.2.1.9 Riwayat penyakit dahulu


Perawat menanyakan apakah sebelumnya pernah menderita TB paru, keluhan batuk lama
saat masih kecil, TB dari orang lain, atau penyakit lain seperti diabetes militus. Tanyakan
pada pasien apakah ada obat-obatan yang diminum pada masa lalu, tanyakan adanya
alergi obat serta reaksi alergi yang timbul (Muttaqin,2018).

2.2.1.10 Riwayat penyakit keluarga


Tanyakan apakah penyakit TB paru pernah dialami oleh anggota keluarga lain sebagai
faktor predisposisi penularan di dalam rumah (Muttaqin,2018).

2.2.1.11 Riwayat Psiko-Sosio dan Spiritual


Pengkajian psikologis meliputi beberapa dimensi yang memungkinkan perawat untuk

15
memperoleh persepsi mengenai status emosi,status kongnitif, dan perilaku pasien. Data
ini penting untuk menentukan tingkat perlunya pengkajian psiko-sosio-spiritual yang
seksama (Muttaqin,2018).

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa Keperawatan yang muncul yaitu: (Gusti,2019).
2.2.2.1 Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya
penumpukan sekret
2.2.2.2 Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses
peradangan
2.2.2.3 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia
2.2.2.4 Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi

2.2.3 Intervensi Keperawatan


Intervensi keperawatan merupakan bentuk penanganan yang dilakukan oleh perawat
berdasarkan pertimbangan dan pengetahuan klinis yang bertujuan meningkatkan hasil
perawatan klien. (Dermawan, 2019) Intervensi keperawatan mencakup :

a. Perawatan Langsung
Yaitu penanganan yang dilaksanakan setelah berinteraksi dengan klien. Misal klien
menerima intervensi langsung berupa pemberian obat, pemasangan infus intravena,
dan konseling saat berduka.
b. Perawatan Tidak Langsung
Yaitu penanganan yang dilakukan tanpa adanya klien, namun tetap representatif
untuk klien. Misal pengaturan lingkungan klien.

16
17
No Tujuan dan Kriteria Hasil Rencana Rasional
Diagnosa
Diagnosa 1 Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji fungsi pernapasan (bunyi napas, a. Ronkhi, mengi menunjukkan akumulasi
keperawatan, diharapkan kecepatan, irama, kedalaman, dan sekret/ ketidakmampun untuk
bersihan jalan napas dengan penggunaan otot bantu aksesori) membersihkan jalan napas
kriteria hasil : Pasien dapat b. Pengeluaran sulit bila sekret sangat
mengeluarkan sekret tanpa 2.Catat kemampuan pasien mengeluarkan tebal, sputum berdarah kental/ darah cerah
bantuan, Pasien berpartisipasi dahak, catat karakter, jumlah dahak, adanya (misal infeksi, Atau tidak kuatnya
dalam program pengobatan hemoptisis hidrasi)
c. Posisi membantu memaksimalkan
3.Ajarkan pasien posisi semi ekspansiparu dan menurunkan
Fowler tinggi Dan latihan napas dalam upaya pernapasan
d. Pemasukan tinggicairan untuk
4. Anjurkan pasien untuk banyak Minum mengencerkan sekret, membantu agar
air sedikitnya 2500ml perhari dahak mudah dikeluarkan
e. Antibiotik spectrum luas, membunuh
5.Kolaborasi Pemberian terapi OAT 3 kuman TBC
tablet/hari dan injeksi cefotaxim 1gr

18
Diagnosa 2 Setelah dilakukan tindakan 1. Pantau suhu tubuh a. Sebagai
keperawatan diharapkan suhu 2. Anjurkan untuk banyak minum air indikator untuk mengetahui status
tubuh kembali normal dengan putih untuk mencegah dehidrasi hipetermi
kriteria hasil : suhu tubuh 3. Anjurkan istri pasienagar b. Dalam kondisi demam terjadi
dalamrentang (36oC – 37oC) memberikan kompres hangat pada peningkatan evaporasi yang memicu
lipatan ketiak dan femur timbulnya dehidrasi
4. Anjurkan pasienuntuk memakai c. Mengurangi suhu tubuh dan memberikan
pakaian yang menyerap keringat kenyamanan pada pasien dengan
5. Kolaborasi : Pemberian faktor konduksi
paracetamol 500mg d. Untukmeningkatkan pengeluaran
panas melalui radiasi
e. Mengurangi panas dengan
farmakologis

19
Diagnosa 3 Setelah dilakukan tindakan a. Catat status nutrisi pasien dari turgor a. Berguna dalam mendefinisikan
keperawatan diharapkan kulit dan berat badan derajat/luasnya masalah dan pilihan intervensi
kebutuhan nutrisi pasien b. Kaji adanya anoreksia, yng tepat
terpenuhi dengan mual,muntah, dan catat kemungkinan b. Dapat mempengaruhi pilihan diet dan
criteria hasil : Menunjukkan hubungan dengan obat mengidentifikasi area pemecahan masalah
peningkatan berat badan dan c. Motivasi pasien untuk makan sedikit untuk meningkatkan pemasukan
melakukan perubahan pola tapi sering c. Menurunkan iritasi gaster dan
makan d. Dorong pasien meningkatkan status nutrisi
untuk sering beristirahat d. Membantu menghemat energy
e. Kolaborasi : Pemberian injeksi e. Membantu mengurangi mual dan membantu
ranitidine 50mg, antacid 500 mg dan
nafsu makan secara farmakologis
curcuma 50mg

20
Diagnosa 4 Setelah dilakukan tindakan a. Kaji kemampuan pasien untuk a. Belajar
keperawatan diharapkan belajar mengetahui masalah, tergantung kepada emosi dan kesiapan fisik
pasien mengetahui kelemahan, lingkungan, media b. Dapat menunjukkan kemajuanatau
informasi tentang yang terbaik bagi pasien pengaktifan ulang penyakit atau efek
penyakitnya,dengan b. Identifikasi gejala yang obat yang memerlukan evaluasi berlanjut
criteria hasil :Pesien harus dilaporkan keperawatan, c. Meningkatkan kerja sama
memperlihatkan contoh hemoptisis, nyeri dada, dalamprogram
peningkatan pengetahuan demam, kesulitan bernapas pengobatan dan mencegah penghentian obat
mengenai perawatan diri c. Jelaskan dosis obat, frekuensi sesuai perbaikan kondisi pasien
pemberian, kerja obat yang
diharapkan dan alasan pengobatan d. Mencegah dan menurunkan
lama, kaji potensial interaksi ketidaknyamana n sehubungan dengan
dengan obat lain terapi dan meningkatkan
d. Kaji potensial efek kerjasama dalam program
samping pengobatan dan pemecahan e. Memberikan kesempatan untuk
masalah memperbaiki kesalahan
e. Dorong pasien atau orang f. Informasi tertulis menurunkan hambatan
terdekat untuk menyatakan takut pasien untuk mengingat sejumlah besar
atau masalah, jawab informasi
pertanyaan secra nyata
f. Berikan
instruksi dan informasi tertulis khusus
pada pasien untuk rujukan.
Contohnya jadwal obat

21
2.2.4 Implementasi keperawatan
Implementasi adalah pelaksanaan dari intervensi untuk mencapai tujuan spesifik.
Pada tahap ini implementasi dimulai setelah intervensi disusun dan ditunjukan pada
nursing order untuk membantu klien dalam mencapai tujuan yang di harapkan. Intervensi
dilaksanakan untuk memodifikasi faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan pada
klien. Menurut (Dermawan, 2019) Beberapa pedoman dalam pelaksanaan implementasi
keperawatan adalah sebagai berikut:
2.2.4.1 Berdasarkan respon pasien.
2.2.4.2 Berdasarkan ilmu pengetahuan, hasil penelitian keperawatan, standar pelayanan
profesional hukum dan kode etik keperawatan.
2.2.4.3 Berdasarkan penggunaan sumber-sumber yang tersedia.
2.2.4.4 Sesuai dengan tanggunkeperawatan.
2.2.4.5 Mengerti dengan jelas pesanan-pesanan yang ada dalam rencana keperawatan.
2.2.4.6 Harus dapat menciptakan adaptasi dengan klien sebagai individu dalam upaya
meningkatkan peran serta untuk merawat diri sendiri (self care).
2.2.4.7 Menekankan pada aspek pencegahan dan upaya peningkatan status kesehatan.
2.2.4.8 Dapat menjaga rasa aman, harga diri dan melindungi klien.
2.2.4.9 Memberikan pendidikan, dukungan dan bantuan.
2.2.4.10 Bersifat holistik.
2.2.4.11 Kerjasama dengan profesi lain.
2.2.4.12 Melakukan dokumentasi.

2.2.5 Evaluasi
Tahap evaluasi keperawatan ini dapat menilai sejauh mana keberhasilan yang
dicapai dan seberapa besar kegagalan yang terjadi. Dari hasil evaluasi, tenaga kesehatan
dapat menilai pencapaian dari tujuan serta dari hasil evaluasi ini, tenaga kesehatan akan
menjadikan hasil evaluasi ini sebagai bahan koreksi dan catatan untuk perbaikan tindakan
yang harus dilakukan (Prabowo, 2018).
Evaluasi keperawatan disusun dengan menggunakan SOAP yang operasional, seperti :
a. S (Subjektif) adalah ungkapan perasaan maupun keluhan yang disampaikan pasien
b. O (Objektif) adalah pengamatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan melalui
sikap ibu ketika dan setelah dilakukan tindakan keperawatan

22
c. A (Assesment) adalah analisa tenaga kesehatan setelah mengetahui respon
subjektif dan objektif yang dibandingkan dengan tujuan dan kriteria hasil yang ada
pada rencana keperawatan
d. P (Planning) adalah perencanaan untuk tindakan selanjutnya yang akan dilakukan
oleh tenaga kesehatan setelah melakukan analisa atau assesmen

23
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
TB (Tuberkulosis) merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis yang menyerang paru-paru. Mycobacterium tuberculosis ini pertama kali
ditemukan pada tahun 1882 oleh Roberth Koch dan akhirnya seiring berjalannya waktu
penyakit ini mulai menyebar ke berbagai belahan dunia, salah satunya di Indonesia.
Dimana Indonesia merupakan negara ketiga setelah India dan China yang memiliki
persentase penderita TB terbesar didunia. Di Indonesia sendiri isu TB merupakan penyakit
yang banyak diderita oleh masyarakat indonesia. Hal ini disebabkan kurangnya akses
kesehatandan juga tingkat angka kemiskinan di indonesia yang masih tinggi. Pada awalnya
dalam mengurangi tingkat penderita TB, indonesia hanya menangani penderita TB dari
sektor domestik yang langsung ditangani oleh Kementerian Kesehatan dengan upaya
memberikan pelayanan secara menyeluruh dari pusat kota hingga ke daerah-daerah
(Kemenkes, 2011: 18). Akan tetapi, upaya tersebut tidak mengurangi angka penderita TB
Kerjasama yang dilakukan antara Indonesia dan USAID dalam menanggulangi TB di
Indonesia diimplementasikan melalui program CEPAT. Program CEPAT dilaksanakan
pada tahun 2013 – Mei 2016. Dimana pada dasarnya CEPAT dibentuk untuk
meningkatkan jumlah fasilitas kesehatan terutama dalam menanggulangi TB di Indonesia
alam pelaksanaannya program CEPAT ini didukung oleh 4 komponen, yakni Supply side
of health services, Health promotion, Management, dan Sustainability.Komponen-
komponen ini didukung melalui beberapa kegiatan seperti mentoring, evaluasi, hingga
penilaian infrastruktur pada fasilitas layanan kesehatan yang terdapat di Indonesia untuk
menunjang program CEPAT dalam menanggulangi TB di Indonesia

24
DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff, Hood & Abdul Mukty. 2019. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya :
Airlangga University Press.

Budiono & Pertami, 2019. Respirologi (Respiratory Medicine). Edisi 1. Jakarta:EGC


pp.136-143

Gusti, 2019. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba

Hariadi, Slamet, dkk.2018. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya : Departemen Ilmu
Penyakit Paru FK Unair – RSUD Dr. Soetomo.

Hasan, Helmia, Wibisono M, Winariani, Hariadi S, editors. 2018. Tuberkolosis Paru.


Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Departemen Ilmu Penyakit Paru FK
UNAIR – RSUD Dr. Soetomo.

Junaidi, Iskandar. 2017. Penyakit Paru dan Saluran Napas. Jakarta : Buana Ilmu Populer

Kemenkes RI. 2018. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta :


Gerdunas TB.

Sarah Ulliya,2018. Rencana Asuhan Keperawatan & Pedoman Untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi III. Alih Bahasa: I Made
Kriasa.EGC.Jakarta

25